Barbar Generation

Barbar Generation
1/1


__ADS_3

Pagi pertama kali ini terlihat sangat cerah.


Aska dan Zia yang pulang pukul sepuluh pagi dikejutkan dengan keberadaan Asya bersama teman-temannya sedang tertidur di ruang keluarga tanpa alas.


Iyaa.


Pukul sepuluh pagi mereka masih tertidur pulas karena tidur sehabis sholat subuh tadi. Melihat anaknya masih tidur, Zia mengalihkan pandangan dan menatap mata Aska, "ngopoo?" tanya Aska heran.


"Ini udah jam sepuluh lhoh, mereka kok belum bangunn?"


"Ya nggak tau, mom, kan aku sama kamu dari kemarinn. Lagipula yang jadi permasalahannya disini tu bukan karena belum bangun, tapi kenapa malah tidur disiniii? Pegel-pegel ntar tu badan mereka."


"Iyaa bener kamu. Kita bangunin aja gak sih, terus suruh pindah ke kamar??" tanya Zia.


"Biarin aja deh, ntar susah tidur lagi. Kalau kurang tidur malah pada sakit. Mending kita ke kamar sekarang, aku pengen kelonan."


"Jiekhh!! Masih pagi gak usah macem-macem!" Zia langsung pergi ke dapur, meninggalkan Aska dan anak-anaknya yang tertidur pulas.


"Padahal cuma satu macem," gumam Aska sembari menaiki tangga.


Baru beberapa anak tangga yang Aska injak, tiba-tiba saja... "AAAAAAAA!!" teriakan Zia menggelegar.


Aska langsung berbalik lalu menuju sumber suara. Anak-anak yang tadinya tidur pun akhirnya terbangun dan ikut menghampiri Zia.


"Kenapa, sayangg??"


"Kenapa, mommm??"


"Ada apa, tantee??"


Zia menoleh ke belakang kemudian memeluk Aska. "Kenapa?? Ada apa tiba-tiba teriak?"


"Ada hantuuu," jawab Zia ragu-ragu. "Hantu apaan? Ngaco banget kamu tuh. Ini masih pagii, sayangg."


"Ya tapi emang ada hantuu, hantunya kelaparan. Liat lah dapur jadi super berantakan," mereka memperhatikan setiap sudut di dapur. Benar saja, banyak yang berubah-ubah.


"Tadi malam udah kami beresin lhoh ini. Sama sekali gak ada berserak, om, tante," kata Ara meyakinkan.


"Berarti ada hantu beneran dongg??!" tanya Asya ketakutan. Dirinya sudah bersembunyi di balik badan Arsen.


"Nggak usah ngacoo daddy bilang. Mana ada hantu pagi-pagii," jawab Aska menenangkan mereka. "Eh tapi ada juga lahh, om. Namanya hantugi, hantu pagi-pagii."


"Om sembelih nanti kamu, Dino!" Dengan santainya Dino cengengesan.


"Mommy disini dulu sama anak-anak, biar aku check," suruh Aska sambil melepas pelukannya Zia. "Nggak, nggak, nggak. Aku ikut sama kamu!" Aska menghela nafas panjang lalu membiarkan Zia ikut menelusuri dapur.


Alangkah terkejutnya Aska dan Zia ketika melihat suatu makhluk berbaju hitam sedang jongkok di bawah dekat area wastafel. Jujur saja, Aska merinding.


"Momm, beneran adaa?!"


Zia hanya menganggukkan kepala.


Aska mencoba untuk memberanikan diri untuk mendekat. "Saha eta?"


Hening...


Tidak ada jawaban sama sekali.


"Saha etaa?!"


"Woii! Saha etaaa?!"


"AING MACANN! RAWRRR!!"


"AAAAAAAAA~ AAAAAA~ AAAAA~~ KAN BENER HANTUUU!!" teriak Zia berlari menghampiri Asya dan yang lain.


"Hantu bener, momm? Sumpahh?"


Zia mengangguk lagi.


"KOK JADI HORRORRR?!"


"Ck, bukan hantu lahh. Ini kembaran kamu, Sya. Makhluk hidup kurang kerjaan," ujar Aska dengan tatapan datar sambil menarik tangan Azril.


Azril keluar dari persembunyiannya dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Ini sih lebih horror dari hantu," ledek Alvin.


"True, Pin. Ini lebih menakutkan," sahut Haikal.


"Kamprettt lu beduaa!"


"Tapi tu lu emang macem hantu, Azril!! Pake baju item semua, mulut cemong-cemong, rambut berantakan. Kek gembel sumpah," kata Cia ikut mengejek.


"Gembel ganteng gue mah."


"Pedean! Ngapain sih kamu disitu? Nakut-nakutin mommy ajaa," dumel Zia super duper kesal. Azril nyengir, "itu tadi karena Azril kelaparan, mom. Jadii Azril cari makanan yang bisa Azril makan."


"Terus yang di bibir lu merah-merah apaa? Bukan darah, kan?" tanya Arsen bingung.


"Ya bukannn! Gile kali gue minum darah. Itu tadi gue makan buah naga, sekalian minum-minuman bersoda juga, makanya jadi beginii."


"Yaudah ah yaudah. Pada mandi aja sanaa, abis mandi ntar sarapan bareng," perintah Aska tegas. Mereka sama sekali tidak membantah dan langsung masuk ke kamar atau kamar tamu.


"Bik! Biikkk!!" teriak Aska.


Asisten rumah tangga Aska pun datang.


"Ada apa, tuan?"


"Beresin ke kacauan ini ya, bik, saya mau ke kamar dulu. Oya, sekalian masak."


"Gak usah masak, ntar Zia aja yang masak," sahut Zia. Aska mendekat, ia menggendong Zia ala bridal style lalu pergi. "Daripada kamu masak, mending kita kelonan aja di kamar."


"Aku yakin ini lebih dari sekedar kelonan!" Aska tersenyum menggoda. "Ya Allah, bantu hamba-Mu yang kiyowo inii...."


"Woiiittt!" Serempak, Aska dan Zia menoleh ke arah teriakan. "Ezakk??"


"Yowww haii!" sapa Eza dengan senyuman lebar yang mempesona. Just for information, Eza adalah teman SMA Aska dan Zia.


"Siapa yang bukain lu pintu njirr?" tanya Aska sinis.


"Lah itu tadi, pembantu lu yang lu panggilin."


"Lu mencet bell? Kok gue gak dengerrr??" tanya Aska lagi, masih sinis.


"Pada bolot sii! Lagian tadi gue denger ributt banget, ada apa emang?"


"Kepo luu. Sono pulang dah, gue gak terima tam— aghh!!" Aska teriak karena tiba-tiba dicubit. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Zia.


Zia diturunkan usai cubitan itu mendarat di perut Aska. Istri yang sangat berbudiman itu malah tertawa melihat suaminya kesakitan. "Kamu bener-bener deh yaaaa! Sakitt, sayaangggg."


"Maapp, hihihi. Kamunya juga jahat sih sama akuu. Btw kamu kalau mau kelonan, kelonannya sama guling aja ya, aku mo ngobrol sama Ezak. Byee!!" Zia mendekati Eza lalu menarik tangannya menuju dapur.


"Lakik lu marah jangan salahkan gue ya anjritt!"


"Aman!"


Zia membantu asistennya membersihkan sisa-sisa kekacauan. Setelah itu ia mengambil bahan-bahan makanan dan bersiap-siap untuk masak.


"Lu udah sarapan, Zakk?"


"Alhamdulillah, belum. Makanya gue kesini mo numpang makan."


"Beban ya lu." Eza auto mengacungkan jari tengahnya ke arah Aska. Aska tadi ikut ke dapur, dan sekarang berada di belakang Eza dan Zia.


"Apaan si kamu, ay?! Sinis banget dari tadi," dumel Zia kesal. "Ya abisnya kamu malah lebih care ke diaa, kan aku iri."


"Sama lu sering ya bangsul. Pengen gue tendang muka lu, sumpah dah!" Aska cengengesan.


"Bicara-bicara, lu mo masak apa, Zi?"


"Sesuatu yang bisa dimakan. Dari pada lu di samping gue ntar nanya mulu, mending lu ngobrol sama Aska. Udah lama kan lu gak ngobrol sama manusia satu itu?"


"Ya tadinya mau begitu, tapi lakik lu itu lagi pms. Mood swingg swingg~ gue jadi takut ngadepinnyaaa." Zia menghentikan pergerakannya karena tertawa.


"Bilang aja lu mo deket-deket ama bini gue. Pasti lu mau jadi orang ketiga, ya kan?"


"Gue bunuh juga ntar lu, Ka. Su'udzon mulu anying dari tadiii!"


"Ya makanya sinii setann. Yang mo lu temuin gue atau Zia sebenernya ini?!"


"Asya sih," jawab Eza tersenyum lebar.


"Pedopil anjirr. Jauh-jauh lu dari anak gue!!"


"Aska sialan!"


Zia dan Aska sama-sama tertawa melihat mimik wajah Eza yang terlihat sangat kesal. "Coba jawab yang betul, Zaa. Lu nyari siapaa?"


"Cari makanan."


"Miskin ya? Makanya lu makan disini?"


"ASKA JABINGAN!!!"


Aska terkekeh lagi.


"Kawasan anak-anak ini, gak boleh cakap kasar."


"Lu kan tadi juga ngomong kasar, anying!!"


"Lah, ya suka-suka gue dong. Kan ini di rumah gue," jawab Aska santai makin memancing emosi. "Kalah deh gue, Ka. Gak sanggup gue lawan makhluk hidup kek lu."


"Yahh cemen!!"


"As—"

__ADS_1


"MOMMMM... Mommyy ta— lhohh? Sejak kapan ada om Ejaa?" tanya Asya kebingungan.


"Sejak tadi. Anyway, morning, Asya!!" sapa Eza sambil mengangkat telapak tangannya. Asya mendekat lalu menepuk pelan telapak tangan Eza, "morning too, om Eja."


"Gemess bangett. Kamu udah sarapan? Mau om masakin apaa?"


Pletak!!


"Gak usah modus lu anying!" dumel Aska kesal. Eza cengengesan sembari mengelus kepala. "Namanya juga usaha, Ka."


"Tapi usaha om Eja mah sudah pasti sia-sia. Asya itu punya Arsenn," sahut Arsen muncul tiba-tiba. "Lhoh? Belum tentu ntar jadi beneran sama kamu. Kan masih tunangan," jawab Eza meledek.


"Punya Arsen beneran kokk. Bulan depan Arsen nikah sama Asya."


"Nggak-nggak. Kamu masih bocil gak boleh nikah cepet."


"Bocil apaan? Udah kepala dua ini yaaa."


"Ya kan baruu kepala duaa. Kecepetan itu kecepetan!"


"Terus kalau gak kepala dua, kepala berapa? Kepala empat gitu? Jadi bujang lapuk dongg kayak om."


"Kamprett kamu yaaaa!" Aska, Zia dan Asya tertawa melihat perdebatan keduanya. "Udah, Ja. Mundurrr. Dari segimanapun lu kalah sama calon mantu gue yang handsome itu," ujar Zia melerai.


"Kalah darimananye? Menang gue pastii."


"Oke kita jabarin. Dari segi keuangan, banyak Arsen karena Arsen hemat. Dari segi kesehatan, Arsen menang karena dia gak nge-vape. Dari segi kemandirian, Arsen menang lagi karena dia bisa masak sendiri bahkan bisa masakin Asya. Terus, dari segi stamina, keliatan lebih kuat Arsen sih."


"Sialund. Tau darimana lu? Belom di test lagi yang terakhir tu."


"Gak-gak. Udah yakin seratus persen gue mah, Arsen lebih kuat." Eza tersenyum kesal, "gak ada yang mo dukung gue gitu disini?"


"Gak ada, om," sahut teman-teman Asya yang lainnya. "HAHAHAHAHA. Arsen menang lhohh, om!"


"Iya, Sen, iyaa. Om ngalah sama yang lebih mudaa."


"Kalah sok ngalah om Eja mah. Btw, makasih ya yang lebih tua."


"Minta di smekdon juga ya si Arsen!"


...◕◕◕ ͡°з ͡° ◕◕◕...


"Cantik banget yaa cuaca hari ini," kata Asya sembari melihat keluar kaca mobil. Ia dan Arsen sekarang sedang keluar untuk jalan-jalan.


"Iya cantik. Tapi secantik-cantiknya cuaca hari ini, lebih cantik kamu sih."


Asya menyipitkan mata menatap Arsen, "masih awal tahun lhoh ini. Masa mau bikin aku salting terusss?!" Arsen tertawa sekilas.


"Kamu ada yang mau dibeli nggak?" tanya Arsen mengalihkan pembicaraan.


"Em.... nggak adaa. Pulang aja yukk, istirahat bentar, abistu ntar sore kita olahraga. Mau ndak??"


"Mauu kalau sama kamu mah. Jadi kita pulang nih?" Asya mengangguk. "Okee, let's go back home, tuan putriii."


"Btw, kamu kok gak banyak tanya sih tentang aku sama Darren semalam?"


"Males aku, ntar kita malah bertengkar. Tau sendiri kan kamu, gimana aku kalau cemburu?"


"Tauu, tau banget malah. Kek cacing kesurupan!" Arsen tertawa lagi. "Baru denger aku, ada cacing kesurupan."


Asya nyengir. "Skip Darren deh yaa. Aku lagi pengen makan sesuatu tau, tapi pengennya kamu yang masak. Boleh?"


"Anything for u, babyy. Mau ke apart aku kah?"


"Di apart ada siapaa?"


"Art maybe. Gak tau juga aku, kan dari kemarin sama kamu terus."


"Kalau di apart kamu mah aku takuttt. Mending gak jadi aja deh ya, atau mungkin di rumah utama ajaa?"


Arsen diam sejenak, "kamu takut apa?"


"Takut... takut hantuu."


"Alesan kamu, sayang. Pasti takut aku nya macem-macem, benar begitu bukan?"


Asya cengengesan, "gimanapun juga aku harus waspada, Cen. Kita belum nikah."


"Iya, iya. Aku ngertii. Jadi mau di mana?" tanya Arsen lagi. "Rumah utama? Ehh ehh, gimana kalau di rumah abubu? Aku kangen ke sana dehh," jawab Asya.


"Boleh juga tuh. Tapi apa nggak sama aja kita berduaan doang di sana?"


"Eum.. panggil bodyguard aja gimana? Kalau ada bodyguard kan jadi rame, yaaa walaupun bodyguardnya di luar."


"Daripada bodyguard, mending suruh anak yang lain nyusul aja. Biar ada temen ceweknya kamu," usul Arsen. Asya pun mengangguk setuju, "deall deh."


"Okayy, let's goooooo!"


Arsen lanjut mengemudi dengan santai. Asya menoleh ke arah Arsen, ia cukup bingung melihat aura bahagianya Arsen. "Kamu kenapa dah kek seneng banget harini?"


"Kan aku selalu seneng kalau sama kamu," jawab Arsen dengan senyuman.


"Tujuan apa, sayang? Aku cuma seneng aja, kita masih bisa barengan walaupun banyak masalah yang menerjang."


"Itu berkat kamu sih, kamu selalu ada buat aku kapanpun itu," ujar Asya ikut tersenyum.


"Berkat kamu juga sih, kalau gak ada kamu, mungkin aku udah gak hidup lagi karena capek ngadepin kejamnya dunia."


"Wlee alesan! Buktinya, sebelum aku datang juga kamu masih hidup tuhh."


"Misalnya nih, aku sama Alex masih sering berantem kek dulu, kan bakal cepet mati akunya karena babak belur."


"Ya yaudah deh ah yaudah. Gak usah bahas-bahas mati, aku gak mauuu dengarrrr!" Arsen tertawa kecil, "takut kehilangan aku?"


"Takut bangettt!"


Arsen tersenyum senang, tangannya terulur menggenggam tangan Asya. "Kalau gitu ntar kita mati sama-sama aja."


"Kok gitu??"


"Karena aku gak mau lihat kamu nangis pas aku mati, dan aku sendiri gak bakal kuat kalau seandainya kamu pergi lebih dulu. Jadi, adilnya sama-sama, gimana?"


"SETUJU!!!"


"Hahaha.. lucu bangett kamuu, gemes aku liatnya!" kata Arsen sembari mengelus rambut Asya. Asya diam sambil tersenyum tipis. "Btw, Cen, aku baru inget. Keknya di rumah abubu gak ada bahan makanann."


"Lahh? Ya terus gimana dong? Supermarket udah lewat jauh banget tadi."


"Ohh, gimana kalau ditunda aja kamu masaknya. Ntar kan mereka nyusul tuh, minta bawain ajaa makanan ringan gitu."


"Terus kamu gak jadi makan berat?" Asya menggelengkan kepala. "Yakin gak jadi? Nanti ayang sakit perut," ujar Arsen.


"Nggak-nggaakk. Makan cemilan kan kadang juga bikin kenyang."


"Yadeh yaudahh. Kamu hubungin aja mereka sekarang," Asya langsung mengambil ponsel dan menghubungi Azril, menyuruhnya untuk menyusul.


Usai menelepon, Asya menatap Arsen yang sedang mencari ponsel. Dan ternyata berada tepat di bawah kakinya.


Asya pun berinisiatif mengambil. "Kok bisa jatuh sih?" tanya Asya heran. "Akupun bingung, ay. Kamu pegang aja dulu hp nya yaa," Asya mengangguk setuju.


Baru beberapa menit ponsel itu di tangan Asya, kini ponselnya berdering keras. "Siapa??"


"Om Mike, angkat kah?"


"Iyaa. Angkat aja, sekalian di loudspeaker ya, sayang." Asya pun menggeser panel hijau.


📞 "HALOO! AYO RAPAT PAK!"


^^^"Allahu akbar. Cenn, telinga aku..."^^^


Arsen malah tertawa lalu mendekat untuk mengembus dan mengelus telinga Asya sekaligus mengambil ponselnya.


^^^"Santai ajaa kali, om. Sakit telinga^^^


^^^Asya karena om Mikko."^^^


📞 "Lhoh? Aduhh... mampuss om kalau gini.


Bisa bangkrut kita nih, Senn, gara-gara melukai aset berharga tuan Aska."


^^^"Busettt, apaan dahhh?^^^


^^^Om Mikko lebayy!"^^^


Mikko tertawa mendengar protesannya Asya.


📞 "Maaf, Sya. Om gak sengaja.


Tadi tu mau nyuruh Arsen."


Asya kembali mengambil ponsel Arsen karena terlihat mengganggu Arsen mengemudi.


^^^"Iya, om, gapapa. Emang ada rapat apa, om?^^^


^^^Baru awal tahun lhoh ini, masih satu Januari."^^^


📞 "Rapat berdua doang kok ini, bukan rapat sama client. Rapatnya meluruskan yang salah di tahun lalu dan kupas tuntas sesuatu yang menjanggal. Om boleh kan ya, pinjam Arsen dulu?"


^^^"Boleh kok, hehehe."^^^


📞 "Ya udah, bilangin Arsen.


Om nunggu di kafee biasaa."


^^^"Okay, nanti Asya bilang."^^^

__ADS_1


📞 "Sipp. Makasih calonnya Arsen."


Asya malah tersipu.


"Lucu bangett gak kuatt!!" kata Arsen gemas.


📞 "Pasti lagi salting si Asya.


Om tutup aja deh kalau gitu, males jadi nyamuk.


Oiya, jangan lupa ya, Arsen!"


^^^"Aman, om."^^^


Setelah mengucapkan salam, panggilan terputus.


"Kamu aku tinggal beneran gapapa nih nanti?" tanya Arsen. "Iya gapapa, kan ada yang lain. Nanti kalau kenapa-kenapa pasti aku kabarin kamu," jawab Asya dengan senyuman.


"Good girl. Love you, baby."


...◕◕◕^ω^◕◕◕...


Sore hari pun tiba, Asya mengambil ponsel untuk menghubungi Arsen. Menanyangkan kepastian tentang olahraga sore yang akan mereka lakukan.


acenn my biawakk! ♡♡


last seen today at 12.37


^^^hlaw mazz, km p kabarnya?^^^


Itu yang Asya ketikkan di ponselnya. Karena Arsen tidak aktif, Asya meletakkan ponsel dan menuju dapur rumah untuk mengambil susu.


"Lu bedua ngapain su di dapur?" tanya Asya pada Haikal dan Alvin.


"Main petak umpet! Make nanya lagi kenapa, kan tadi lu pada yang suruh gue sama Ical masakk."


"Oh iya," Asya cengengesan lalu pergi. "Agak kurang ajar ya, mau ditabok takutnya ditabok balik pake duit."


Asya kembali melihat ke ponselnya karena Arsen sudah menjawab pesannya. Sangat cepat, padahal tadinya sedang offline. Inilah yang dinamakan prioritas. Ya kan?


acenn my biawakk! ♡♡


Online


maz baik dx, adah aphh?


kmoe btuh duit ych?


^^^ACENNN! KNP KAMU LEBIH JAMET SIH?!^^^


^^^lelah bgt ak bacanyaaa^^^


kan kamu yang ngajarin ayangieeee


oya, kenapa chat aku? udh kangen?


^^^gr! olahraga nya jdi gasie?^^^


yntkts


^^^gsh plg aja dh km!^^^


lah kok ngamuk ayangiee?


jangan ngambek dong, muach!


^^^gelii!!^^^


HWAHAHAHA!


bentar lagi aku kesana


^^^gsh gsh. selingkuh aja sana kamu^^^


^^^ak tau km pnya selingkuhan.^^^


singkat betul typingnya


selingkuhan apalagi coba?


aku baik gini kokk, mana ada selingkuh


^^^trs, LYDIA DANIRA ITU SIAPA MAZZZ?!!!^^^


yntkts


ngaco bener ayang


^^^GSH BOHONG MAZZ!^^^


^^^KM BAWA DIA KE CAPPADOCIA.^^^


^^^IT'S MY DREAM MAZZZ, NOT HERR!^^^


Cappadocia dimana?


kesono aje kaga pernah


kamu gak usah ngacoo, cuma kamu yg aku cinta.


eh aku tau ni, sbnrnya kamu lagi ngode kan?


pengen ke Cappadocia? mau kapan?


^^^bulan depan gimana cenn?^^^


boleh, sekalian honeymoon aja ya


^^^g ngeri.^^^


^^^OH YA, BKN CM ITU!^^^


^^^KM BELIIN DIA PENTHOUSE SEHARGA 5M.^^^


^^^IT'S A FCKING PENTHOUSE!!!^^^


ngode lagi pasti ini


mau penthouse seharga 5M?


yang 10M aja gimana ayangiee?


^^^cen, aku tu marah sama kamu^^^


^^^tapi kalau kamu mau beliin aku penthouse 5M si^^^


^^^aku gjdi marah^^^


oke ayangiee, aku jual ginjal dulu


^^^GA GITU JUGAAA ACEENN^^^


^^^udh ah lelahh^^^


^^^kmu buruan kesinii kan mo olahraga^^^


bentar lagi aku kesana, kamu duluan


jgn sendirian, ajak yg lain


^^^aku brgkt sendiri krna mereka mager^^^


^^^kamu susul aku yaa?^^^


iyaa.


bentar lagi aku susul


hati-hati yaa, jangan macem-macem


^^^Y^^^


ayangiee tau tdk?


pntat aku sudah besar krna terlalu sabar menghadapi tingkah ayangiee yg menggemaskan


Asya benar-benar tertawa membaca chat Arsen barusan. Terlihat tidak lucu, tapi lucu. Ya begitulah! Asya tidak ingin membalasnya lagi dan memilih pergi ke kamar.


By the way, yang lain sedang menikmati udara di halaman belakang. Jadi di dalam rumah agak sepi.


Seusai mengganti pakaian, Asya keluar dan kembali ke dapur. "Gue mo pergi ke taman buat olahraga."


"Sendiri?"


"Sama ini temen gue di sebelah," Haikal dan Alvin sedikit ketar-ketir karena di sebelah Asya tidak ada siapapun. "Lu indigo beneran, Sya?"


"Lebih keee indigilo si sebenernya," Haikal dan Alvin tertawa sekilas. "Sama siapa dah lu? Kalau sendiri gak usah."


"Ya ini sendirian masih, nanti Arsen nyusul katanya."


"Yaudah, yaudah terserah deh ah. Hati-hati di jalan, kalau ada ap—"


"Iya, gue kabarin. Bosen gue denger kalimat itu terus. Gue pergi, assalamu'alaikum!" Asya langsung pergi begitu saja.


"Agak kurang ajar memang, minta ditampol pake talenan. Oh iya, wa'alaikumsalam."

__ADS_1


...----------------...


......Hi! Maaf banget baru bisa up, InsyaAllah kedepannya lebih sering up hehe. Terimakasih banyak yang masih setia menunggu kelanjutannya 💘💘💘......


__ADS_2