Barbar Generation

Barbar Generation
Membagongkan


__ADS_3

06.45


"Lahh, jadi lu pulang naik taksi semalamm? Terus gak makaan?" tanya Racksa di sela-sela sarapan.


"Nggakk, gue yang nolak karena udah capeek banget jalan" jawab Asya santai.


"Terus mobilnya dia cemana?" tanya Arsen gantian. Arsen ikut sarapan bersama karena ajakan Racksa dan Azril tadi malam setelah bermain game.


"Gak tau, katanya sih kak Fauzi masang pelacak di mobil. Jadi ntar di lacak sama temennya"


"Kenapa jalann? Kan mobil yang mogok bisa di pakee buat pulang" sahut Azril.


"Masalahnya kunci mobil yang katanya mogok itu kagak adaa, setaaaann. Nyari taksi aja susaah bangett tadi malem" Mereka berohria.


"Btw... Lu tau gak kenapa dinner nya gagal kenapa?" tanya Racksa.


"Ngga tau, emang kenapa?"


"Karena gak Allah restui!! Lu tuh cocok nya sama Arsen, dari pada sama polisi itu. Lu gak cocok buat dia, dia terlalu subhanallah untuk lu yang astaghfirullah."


"Anjjj--"


"Sedangkan, kalau sama Arsen tuh jadinya pass gituu. Sama sama astaghfirullah" sahut Azril memotong umpatan Asyaa.


"Eummhh.. abang ipar lu debes bangett," puji Arsen bangga. Ia tidak sadar dengan kata 'sama-sama astaghfirullah' di akhir tadi.


"Dih dih.. ngapain juga g---" Ucapan Asya terhenti ketika melihat Arsen yang menatapnya.


Asya bisa merasakan ketulusan dari tatapan Arsen. "Ngapain juga apa??" tanya Racksa.


"Ng-nggak, gajadi" Asya langsung menyudahi makannya lalu menuju pintu luar.


"Ebussetttt jantung guaaa. Arsen kenapa natap gue gituu siii, tatapannya melemahkan imann!" cuman Asya sambil memegangi dadanya di balik pintu.


"Ehemm.. ada yang salting karena di tatap" ledek Azril yang sudah berada di samping Asya.


"Hehh bujang lapuk! Bisa ga sii gak usah ngagetinn!" Azril tertawa kecil.


"Ya kalii gue salting di tatap sama Arsen! Arsen b aja, gak ganteng ngapain juga gue salting" Arsen yang disana tersenyum manis, ia tau Asya bohong karena suara Asya menunjukkan kegugupan.


"Bacottt lu bacottr" balas Racksa.


"Au ahh, ayoo sekolahh. Kunci pintuuu" Asya masuk ke mobil nya.


"Sya, lu sama Arsen! Jangan sumpek-sumpekin mobil guee" ujar Azril.


"Diam kau nak setann!" Azril tertawa.


"Udah cepat pindaaahh!!"


"Gak!"


"Katanya gak salting, kenapa gak mau semobil sama gue?" tanya Arsen.


Asya terdiam, "lu gak bisa boong ya maymunahhh" ledek Azril.


"Apaan sih ahh" Asya pindah ke mobil Arsen.


Azril, Arsen dan Racksa terkekeh melihat ekspresi wajah Asya. "Gemoy banget demi apaa" kata Arsen tanpa sadar.


"Nyimpang aja sana lu!"


"Matamuu cookk!!"


❃❃❃


"Sa, gue mau tidurrr" bisik Asya pelan di kelasnya.


"Tidur lahh tidurr, ntar kalau ada guru gue laporinn"


"Heh bangsatttt" Racksa tertawa kecil. Asya menoleh sekelilingnya.


Arsen terlihat sedang tidur, mukanya tertutupi tas yang dijadikan bantal. Asya terpesona melihatnya, "apaa apaan.. jangan kreji Asyaa!" gumam Asya tersadar.


Bruk!!


Alex datang tiba-tiba, ia baru saja menendang meja nya Arsen.


"Aiss.. bajingann" umpat Arsen sambil mengangkat kepalanya.


"Lu mau apa sih, bajingann?! Gak usah cari gara-gara!!" ujar Arsen geram.


Alex tersenyum smirk, ia mendekat kemudian menarik kerah baju Arsen. "Heh, lu duluan yang cari gara-gara sama gue! Kenapa lu chat pacar gue, hahh?!"


"What the fuckk!! Kapann gue ngechat jingan?!" tanya Arsen sedikit emosi.


Asya dan yang lain terus memperhatikan mereka berdua, "gak usah ngelakk!"


Bugh!!


"Gue ngantuk, lu cari gara-gara terus, cari emosi terus, mau lu apa sih hah?! Lu kalau mau ngajak kelahi gak usah pake fitnah gue!" cerocos Arsen mulai emosi.


"Sen.." Arsen menoleh ke Asya.


"Lu bisa di skors kalau berantem sama dia! Lu bisa di pandang buruk, dan itu kemauannya. Jadi, stop ya. Tahan emosii" bisik Asya.


"Bener kata Asya, sen. Tenang, atur emosi" ujar Rafy.


"Waktunya tepat baru gasrakkk" kata Irgi. Arsen menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan.


Bugh!!


Bola basket melayang, menghantam kepala Arsen.


"Apalagi ini, ya Allah?" tanya Arsen menahan amarahnya.


"Gue tantang lu basket, tukang selingkuh!"


Arsen menghela nafas panjang sambil memijat pelan pelipisnya.


"Rumorr darimana lagi ini?! Gue emang fuckboy, tapi gue bukan tukang selingkuh!!"


"Halaaah, bacot lu! Jelas jelas lu dulu selingkuhin Laila sama cewek yang di sebelah lu!" Ia menunjuk Asya.


Arsen tersenyum smirk, "lu boleh cibir gue.. fitnah gue sesuka lu. Tapi lu gak boleh lakuin itu sama wanita kesayangan gue!"


Bugh!!

__ADS_1


Arsen langsung memukul ketua basket itu.


"Lebih jelas, lu yang tukang selingkuh! Laila yang selingkuh dari gue bukan gue yang selingkuh dari Laila!"


"Bacot lu bajingann junior!!" Alex hendak memukul Arsen, Arsen menghindar kemudian menendang kaki Alex.


"Yan, kalau lu mau tanding basket gua jabanin sekarang."


"Oh yaa lex, kalau lu bukan pengecut. Lu juga lawan gue main basket!" tantang Arsen.


"Deal!!" Alex dan Ryan --ketua basket dan pacar baru Laila-- keluar dari kelas mereka.


"Lu mau ngajak siapa?" tanya Racksa.


"Irgi, Rafy"


"Gue ikut" kata Racksa.


"Gue juga!" sahut Asya.


"Lu.. jangan sya. Ryan licik, gue gak mau lu kenapa-kenapa!"


"Tenang ajaa, santuyy" jawab Asya.


"Lu pake rok"


Asya membuka resleting rok nya kemudian di jatuhkan begitu saja, "gue selalu double-an."


"Gue nawarin diri, dan gue gak suka di tolak. Ayo berantas manusia songong!" Asya keluar kelas dengan baju dan celana yang dia kenakan.


Asya menyimpang terlebih dahulu, ia masuk ke kelas Azril.


"Lu mau ngapain peakk?" tanya Dino.


"Asrennn di tantang basket, gue mo ikutt"


"Arsenn goblkkk, kenapa jadi Asreenn?!" tanya Racksa yang masuk bersama dengan Arsen, Rafy dan Irgi. Asya cengengesan.


"Siapa yang nantangin??"


"Ryan, ada Alex juga. Dan gue yakin, Ryan ajak anggota nya yang super" jawab Racksa.


"Gue ikut!" kata Azril dan Haikal bersamaan.


"Gue juga ikuttt!" Dino menyahut.


"Gue, Arsen, Rafy, Irgi, Racksa, Dino, Haikal. Tujuh orang, udah lebih dua. Lu gak usah ikut sya" suruh Azril.


"Loh, loh. Kok gituuuu?!"


"Gak usah betingkah kauuu, kenapa-kenapa nanti cemanaa??!" tanya Haikal galak. Asya memanyunkan bibirnya kesal.


"Duduk manis di pinggiran sambil makan pop corn, nanti gue yang beli" tawar Racksa.


"Oke deal!" Asya menuju lapangan basket.


"Sogokan makanannn langsung deal."


Ting.. ting.. ting.. ting..


Azril merogoh ponselnya di saku.


...online...


Gue mohon, jangan ikut tanding basket


Ada Alex, Alex gak pernah sportif main apapun itu


Dan juga ada Ryan, Ryan sebelas duabelas kayak Alex.


Mereka licik!


Gue gak mau lu kenapa-kenapa


Jadi plis jangan ikut:)


"Ini siapaa?" gumam Azril keheranan.


"Apaa?" tanya Haikal.


"Nggak" Azril memasukkan kembali ponselnya ke saku.


"Oh jadi gitu yaa? Rahasiaaan" kata Dino.


"Bukann, tadi tu gue menang undian seratus juta"


"Ngapusii kui cokkk" sahut Irgi. Mereka tertawa mendengar ucapan Irgi.


"Yaudah ayoo ke lapangan" ajak Arsen.


Bersamaan, mereka menuju lapangan basket. Racksa dan Asya menyimpang ke kantin terlebih dahulu.


Lain halnya dengan Azril yang berjalan masih sambil berpikir keras.


'Gue yakin itu bukan Asya, kalaupun Asya kenapa harus dari chat? Dia bisa aja ngomong langsung. Dan lagi, kenapa Asya bisa tau Ryan sama Alex licik mainnya? Fiks, bukan Asya! Tapi siapaaa?'


✡✡✡


Sesuai perintah, Asya duduk di samping dengan berbagai jenis cemilan. Asya duduk bersama dengan Tara, ia juga saling berbagi makanan dengan Tara.


Asya terus memperhatikan permainan mereka. Sebenarnya Asya sudah emosi melihat permainan tim Ryan dan Alex, namun ia masih menahan emosinya.


Krekk!


"Aaaahh.."


"Aaaahsuu!" Asya menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. "What the fuckk!"


Ia memberikan ciki-nya pada Tara kemudian berdiri menghampiri Alex dan Ryan. Ia murkaa, Alex dan Ryan berulah.


Alex baru saja menginjak kaki Azril yang tadi terjatuh, dan Ryan melakukan hal yang sama pada Arsen.


Asya tidak bisa tinggal diam.


Ia datang langsung menarik tangan Alex kemudian menendang lutut belakangnya. Alex terjatuh, Asya membantingnya kemudian berdiri diatas tubuh Alex.


"Syaa, peakk... tolilll jangan gituuu" Ujar Azril sambil memegangi kakinya yang sakit.

__ADS_1


Asya yang melompat-lompat diatas tubuh Alex tidak perduli.


Salah satu teman Alex menarik Asya. Asya langsung melepas cengkraman dan menendang perutnya.


Teman Alex terjatuh sambil meringis kesakitan.


Di depan mata Asya sekarang ada Ryan yang menatap nya remeh. "Mau apa lu?"


Tanpa aba-aba Asya menendang perut Ryan, mendorongnya kemudian mencengkram kuat pundak kanan Ryan yang kini terduduk di tengah lapangan.


"Mau patah tulang?? Pengen jadi kidall??" tanya Asya sambil tersenyum smirk.


"Syaa"


"Shut up!!" bentak Asya ketika Arsen memanggilnya. Spontan Arsen terdiam.


Arsen mengode Racksa, Dino dan Haikal. Haikal menarik tangan Asya.


"Udah tenang!" protes Haikal.


"Ck, diam. Urusan gue belum selesai"


"Syaa"


"KAKI AZRILL! KAKI ARSEN JUGAA! LU DENGER TADI KAANN BUNYINYAAA?!"


"Iya denger, tapi tenang dulu tenang"


"GUE GAK BISAAA!"


"Sstt.. sabar sabarr.. tenangg" Haikal memeluk Asya. Asya memberontak, pelukan terlepas.


Ia langsung menghampiri Ryan lagi.


Alex yang tenaga nya pulih menarik pundak Asya yang tadi nya ingin menghampiri Ryan.


Asya langsung meroda dan berakhir menendang kepala Alex.


"Ahhh.. lu bukan Asya. Gue yakin lu bukan Asya" Azril dengan terpincang berdiri, memegang pundak Asya.


"Lu siapa?"


Semua terheran-heran, benar-benar terkejut.


Asya alter ego??


Asya yang menjadi pusat perhatian tertawa. Tawanya berbeda, bukan seperti biasa.


"Sya, lu bukan Asya?" Haikal maju memegang pundak Asya juga.


Asya menoleh sinis Haikal, Haikal melepas tangannya.


"Seriously? Asya alter ego?"


"Wah.. jadi creepy gini"


"Asya bukaan woiii?"


"Gue butuh klarifikasi!"


"Ayo klarifikasi!!"


Asya tertawa lagi.


"Lu siapaa??"


"Gue Asya la peakk!"


"Wahh... membagongkann"


"Tunggu, coba tebak, warna favorit gua?" tanya Racksa.


"Abu-abu!"


"Sya, warna mata Caka?" tanya Haikal gantian.


"Hitam rada coklat"


"Syaa, warna sempakk Dino?"


"Pink!"


"HEHH!! Astaghfirullah... malu-maluin!!!"


✾✾✾


"Membagongkan sekali manusia satu ini. Ada berapa sih luu?!" tanya Dino masih parno dekat dengan Asya.


"Ada setres-setressnya si Dino kurasa. Berapa taun lu berteman sama Asya? Kek gak tau aja Asya sifatnya setengah gilaa" sahut Haikal blak-blakan.


Asya cengengesan mendengarnya.


"Gue bersyukur lu gak ikut tadi" ujar Arsen sambil menatap Asya yang sedang duduk di sofa uks.


"Gagaga, kalau gue ikut gak bakal kek gini sih"


"Gak bakal kek gini maksudnya bukan kaki lu bedua yang retak, tapi kaki dia!" jawab Racksa sinis.


"Nggak juga" lirih Asya.


"Ingin menggetok kepala Asya, geraam kali ah"


"Gue tau gue imut, santai aja"


"Tuhkan, astaghfirullah banget kelakuannya" mereka terkekeh kecil.


"Kasyan kali adekkku, kakinya patah mana otaknya tinggal setengah"


"Mending gue setengah daripada lu seperempat" jawab Azril.


"Mending gue seperempat daripada Racksa gak ada"


"Nah kan, gue diem gue kena" Asya cengengesan.


"Kagak ada yang mending sebenernya" ujar Haikal.


"Iyain aja biar seneng"

__ADS_1


"Anjjj!!"


__ADS_2