
Di sisi lainn, Arsen dan Asya berjalan santai keluar dari rumah sakit. Tangan mereka masih bergenggaman.
"Permisi, mass."
Tiba tiba seorang wanita menghampiri.
"Iya, kenapa?" Tanya Arsen.
"Boleh minta fotoo? Buat ini...."
"Buat apa?" Tanya Arsen lagi.
"Buat.. em..."
"Buat foto prewedding." Asya melepas genggaman lalu pergi.
"Suka ngaco kalau ngomong." Ujar Arsen sambil menatap kesal Asya.
"Eh iya. Maaf, gak bisa."
"Gak bisa kenapa, mas?"
"Ya gak bisa. Saya gak suka foto. Kecuali sama tunangan saya." Setelah senyum segaris, Arsen pergi menyusul Asya.
"Weyyyy. Kenapa pergi duluann?"
"Lah, kan mau foto. Males banget liatinnya."
"Ceileehh, jealousss. Gak jadi foto laahh. Mending foto sama kamu ekan, foto prewedding, terus photoshoot, abistu ntar foto maternity. Eumm, mantepp."
"Widihhh, jauh banget sampe foto maternity." Ledek Asya.
"Loh, kan benerrr. Aamiin-in aja gituu kekk."
"Aamiin. Tapi kalau nyatanya kamu foto prewed sama orang lain gimana?"
"Foto prewed sama orang lain, tapi foto maternity nya sama kamu."
"Ngacoo banget jadi manusiaa!!"
Drrt.. Drtt..
Asya meraih ponselnya.
π "Lu bedua dimana? Gue sama yang lain gak jadi liburann."
^^^"Salam duluuu, pinterrr!"^^^
π "Oiyaa. Assalamu'alaikum, nunaa."
^^^"Wa'alaikumussalam. Kenapa gak jadii?"^^^
π "Rumahnya disewa lagi sama orang lain."
^^^"Wahhh, mantep sekali. Terus sekarang dimanaa?"^^^
π "Gue sama Nai masih diijalannn, tadi telat berangkat. Kalau yang lain udah duluan."
^^^"Yoda yoda, tiatiii."^^^
π "Hmm. Lu ke rumbu aja sekaranggg."
^^^"Rumbu apaann?!"^^^
π "Rumah abu abuu."
^^^Asya tertawa.^^^
^^^"Iya yaa, bentar lagi gue otw."^^^
π "Yasudaa. Assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumussalam."^^^
Azril mematikan panggilannya.
"Kenapaa?" Tanya Arsen yang sedari tadi diam, mereka didalam mobil.
"Izin pamit gak balik lagi yukk ke Pak Andre."
"Whyy?"
"Mereka taunya kita mau makannn," jawab Asya.
"Kan emang mau makan, Cill."
"Iyaa, tapi abis makan ke rumah abu abuu. Yang lain gak jadi liburan."
Arsen berfikir sejenak lalu menganggukkan kepala.
"Gak usah pamitt lah. Ntar lewat watsap aja." Arsen mulai menghidupkan mobilnya.
"Gak sopann kek gitu tuuu. Ayok, ntar kecariann."
"Buka pintunya, Arseenn."
"Iya iyaaa."
Arsen dan Asya pun keluar dari mobil.
"Aku mah tau kalau kamu masih ada dendam dendamm dikit sama mereka. Tapi gak boleh gituu. Mereka kan udah minta maafff. Allah aja Maha Pemaaf, masa iya kamu nggak."
"Aku udah maafinn."
"Keliatan kurang ikhlas."
"Mereka fine fine aja tuhh."
"Nggakk. Mereka cuma berusaha sabar dan nunggu waktu yang tepat biar kamu bisa sepenuhnya berdamai sama mereka. Maksud lainnya, mereka sekarang maklumi kamuu karena mereka ngertii, jadi kamu itu susahh."
Arsen menatap Asya dengan senyumannya.
"Kalau aku gak mau damai?"
"Gak mau damai itu hak kamu. Tapi sama aja kamu merusak tali silaturahmi. Coba sekarang bayangin kalau kamu diposisi mereka. Udah minta maaf, tapi kesannya gak dihargai gitu. Sakitkann?"
"Asya.."
Asya berhenti berjalan dan berbalik.
"Apβ"
Cup!
"I lovee you so muchh!"
Asya menutup pipinya lalu pergi duluan sambil berlari menuju kamar bunda Arsen. Arsen sendiri tertawa melihat Asya yang malu malu. Arsen mengejar Asya.
"Huaaaa. Assalamu'alaikum, om, tanteee." Asya masuk sambil ngos-ngosan.
"Wa'alaikumussalam, udah selesai makan?"
Asya menggeleng. "Belum, tantee."
"Kenapa ngos-ngosan."
"Asya dikejer... buayaa." Pak Andre dan istrinya tertawa. Arsen datang sambil mengucapkan salam.
"Kalian berdua kejar-kejaran?"
Asya menggeleng lagi, "Asya dikejar buaya, om. Udah gitu ajaa."
Arsen menatap Asya dengan tawa, "Asya tawanan Arsen. Jadi kudu ditangkapp."
"No no!! Jangan mendekattt, sayaa phobia buayaa!!" Mereka terkekeh melihat ekspresi Asya.
"Ada apa sebenernya?? Kalian udah makan belumm?"
"Belum, bunda. Niii, Asya sibuk mau pamitt."
"Iyalah mau pamit, tadi aja digeret muluu." Arsen cengengesan.
"Asya pamit dulu ya, om, tantee. Hari ini gak balik lagi keknyaa, karenaa mo langsung pulang ke rumah."
Pak Andre dan istrinya mengangguk paham, "sekalian istirahat ya, Asyaa. Biar gak kecapekan."
"Hehe, iya, om."
"Anaknya siapa, yang diperhatiin siapaa." Sindir Arsen secara halus.
"Ngode minta diperhatiin?" Tanya Pak Andre sedikit meledek.
"Ahh gak pekaa!" Pak Andre tertawa.
"Arsen juga balik ke apartemen?"
"Nggak, bundaa. Arsen nginep dibasecamp squad." Mama Alex menganggukkan kepalanya.
"Yaudahh kalau gituuu. Jangan lupa istirahat juga kamuu. Pasti capek, nyetir seharian. Jangan lupa makann biar gak makin kurusss." Omel Pak Andre.
"Iya, papaa. Biar gemuk nanti Arsen makan batu bata." Mereka terkekeh.
"Daripada batu bataa, bagus batako, Cenn!" Ujar Asya.
"Ide baguss, sayangg. Nanti kita belii!"
"Hahaha, ngawur bangett kalian berduaa."
βββ
"Asyaa.. cill.. bangun dulu yuukk."
"Hmm?"
"Bangunn bentarr. Kamu mau makan apa?"
Asya menoleh kearah luar mobil. "Loh, ini dimanaa? Perasaan dari RS ke rumah cuma setengah jammm." Asya kebingungan.
"Tadi Shaka telponn, Ara lagi gak enak badan. Minta seblak yang di luar kotaa. Yaudahlah, dibeliinn." Asya berohria.
"Kamu mau seblak atau apaa?"
"Eumm.. aku mauu bakso beranak."
"Anaknya manusia atau orang?"
"Orang aja."
Arsen tertawa mendengarnya, Asya masih belum sadar dari tidurnya.
"Ehh, manusia sama orang kan samaa!" Asya tersadar sambil cengengesan.
"Ya emang samaa, kamu aja yang bilang beda. Mau makan disini?" Asya mengangguk.
"Ayok, turunn."
Keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke warung bakso.
Setelah memesan, Arsen menghampiri Asya yang masih ngantuk. "Kamu baru bangun loh tadii. Masih ngantuk ajaa."
"Hehee, gak tau kenapa ngantuk muluuu. Ntar biar gak ngantuk aku aja yang nyetir."
"Apaan? Gak. Biar aku aja gapapa."
"Whyy?" Tanya Asya keheranan.
"Selagi aku bisa nyetir, ngapain kamu yang nyetir? Ratu duduk aja disamping."
Asya tertawa kecil mendengarnya, "tapi nanti rajanya kecapekan gimana dong??"
"Liat ratu senyum, raja gak kecapekan." Arsen tersenyum lebar.
"Lebay bangett aseliiiikkk!" Keduanya terkekeh.
Asya mengeluarkan ponselnya dari saku karena terus bergetar. Ternyata chat dari Azril yang bilang kalau dirinya mampir sebentar kerumah Naina.
"Ngeliatin apaa?" Tanya Arsen.
"Chat Azrill, katanya mampir dulu." Arsen mengangguk paham.
__ADS_1
"Dia juga bilang sama kuu."
"Bilang apa??"
"Yaa bilang kalau mau mampir duluu. Mampir ke rumahnya Nai, kan?" Asya mengangguk.
"Katanya sih gituu."
"Ehh, cill, aku main game dulu boleh gak?"
"Eum? Ya terserah."
"Kok terserah sii??"
"Terus? Maunya dilarangg?"
"Yaa, nggak juga sii."
"Tuhkan, serba salahhh!" Arsen cengengesan.
"Aku main bentarr yaa."
Asya berdehem sebagai jawaban.
Kalian kira Arsen main game online? No no, dia main pou.
"Aku kira main game apaaaannn kamu mahh!!"
"Males main game yang onoo, ntarr ada yang spam ngajak mabarrr."
"Sahaaa? Cewek cantik mestii." Goda Asya.
"Kagakkk!"
"Jujur aja kamuuu. Tau akutuu, gak usah boong gituu." Ujar Asya memojokkan.
"Sesungguhnya yang selalu ada di dunia nyata akan kalah dengan yang di dunia virtual."
"Kebalek, peaa!" Asya tertawa mendengarnya.
"Kamu sendiri ngapain cobaa ngarsipin foto foto di instagram?" Tanya Arsen keheranan.
"Tadi aku baca kata kata bagusss banget di video orang. Kata katanya gini, βjika auratmu sudah jadi pencuci mata dan bahan halusinasi laki laki. Lalu dimana letak ke istimewaanmu untuk suami mu kelak?β Mantep kann? Makanya mau arsipin potoo."
"Good girl. Tapi, kamu juga gak pake hijab, sayang. Dalam potongan ayat suci Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat lima puluh sembilan, dijelaskan tentang kewajiban perempuan mukmin untuk menutup auratnya. Batasan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan."
[ps; correct me if i'm wrong, saya tau dari guru agama saya. Kalau salah, mohon diluruskan <3 ]
Asya terpukau, benar-benar terpukau.
Saat itu juga ia memasukkan rambutnya ke dalam tudung hoodie. Ia memakai tudung hoodie itu dan mengikatnya. Rambut Asya benar-benar tidak terlihat sekarang.
"MasyaAllah, gemoy bangett kamuuuu!"
"Gausaaa modusss!!"
"Astaghfirullah, serius akuu tuu." Asya tertawa.
"Kenapa gak kasih tau aku dari duluu?"
"Tentang?"
"Yang kamu bilang tadii."
"Eeum.. aku nunggu kesadaran kamu aja sih. Karena status kita juga cuma gini, jadi aku gak mau maksa. Lain cerita kalau aku suami kamu, gak pake hijab? Ku cambuk."
"Serem ya, pakk?" Arsen tertawa. "Bercanda, sayangg."
"Aku pengen berubah, pengen patuhi aturan Allah dan jauhi larangannya. Kamu mau bantu aku, kannn?"
Arsen menatap Asya sambil tersenyum, "pasti aku bantu." Asya ikut tersenyum mendengarnya.
"Hyahh.. kalau gituu, kitaa masuk ke jenjang lebih serius aja gimana?"
"Maksud kamu?"
"Yaaaa, jenjang lebih seriuss. Ikatan pernikahan?"
Asya tertawa, "ngacoo kamu mahh!"
"Lohh, aku seriuss inii. Daripada berduaan muluu padahal bukan mahram, kan malah nabung dosaa."
Asya menatap mata Arsen, terlihat sangat seriuss.
"Yakin?"
"Yess. Seratus persen yakin."
"Menghadap daddy sonoo, berani nggakk?"
"Ntar malem aku langsung menghadap."
"IHH SERIUSS??" Asya langsung menutup mulutnya karena jadi pusat perhatian.
Arsen sendiri tertawa melihat ekspresi Asya, "serius lah yakali bongak. Tunggu aja ntar malemm."
"Jangan ngada ngada kamuu! Belum masuk kuliah tauuu, masih delapan belas taun jugaaa."
"Heh, sembilan belass!"
Asya nyengir. "Biar lebih muda dikitt."
"Jadi mau umur berapaa?"
"Dua puluh or dua puluh satu?"
"Kelamaaaan." Asya cengengesan.
"Permisi, mas, mbak." Bakso pesanan mereka datang. Keduanya pun mulai makan dengan tenang.
Tumben tenang? Itu karena Asya lagi bergelut dengan pikirannya, begitu juga dengan Arsen.
Setelah baksonya abiss, Arsen menoleh kearah Asya. "Gak usah dipikirin banget yang tadii."
"Gimana gak dipikirinn, kamu ngomongnya seriusss gituu. Jadinya kepikirannn!"
"Yakalii hal begituan dibuat becandaa. Kan gak lucuu."
"Tawar opo meneh toh, yangg?"
"Tawar umurr!"
"Mau di umur berapa?" Tanya Arsen.
"Dua puluh!" Jawab Asya.
"Okee, dua puluhh."
"Nego lagi deh, dua satu yaa?"
"Dua sembilan aja lah, Cill!"
Asya tertawa, "ngaco bangettt astaghfirullah!!"
"Kamunya sihh, umur ditawarr." Asya cengengesan.
"Btw, udah siap kan? Biar ku bayar?"
"Aku ajaa."
Asya berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi.."
"Kan kamu udah setir mobil, jadi aku yang bayar makan." Asya langsung pergi untuk membayar.
Seusai membayar, ia kembali.
"Seblaknya Ara gimanaa??" Tanya Asya.
"Tadi aku dah pesann, tinggal ambil ajaa."
"Yaudahh ayokk!" Mereka berdua pun berpindah ke sebelah. Ternyata seblaknya udah siap, lagi lagi Asya yang membayar.
"Mari pulang~~"
Keduanya sudah di dalam mobil. Tanpa sepatah kata Arsen memutar mobilnya dan pergi dari sana.
"Jadi..."
Asya menatap Arsen.
"Jadi apaan?"
"Maunya diumur berapaa?"
"Ih, nggak tauuu. Pengen kerja duluuu, terus pengen keliling duniaaa."
"Tinggal bilang kemana, otewe kita."
"Thailand!"
"Mau kapan?"
Asya mengangakan mulutnya, sedikit terkejott. "Yang betul, ishh!"
"Udah betull, mau kapan ke Thailand nya?"
"Aaa gak gakk. Gak jadii." Arsen tertawa melihat ekspresinya.
"Kenapa ngomongin nikah mulukk dah?"
"One, aku gak mau kamu diambil orang. Two, aku gak mau nabung dosa muluu. Three, aku mau kita serumah. Fourβ"
"Oke cukup. Cukuuppp miskahh!" Arsen tertawa lagi.
"Jadi? Gimana, sayang?"
Asya menatap heran Arsen.
"Apanya lagi gimana?"
"Hadiah usai akad mau Ar-Rahman atau Al-Mulk?"
Pipi Asya memerah.
"MOMMMYYY TOLOOONGG, ASYA NGEFLY!!"
βββ
Hampir sejam perjalanan berlalu, Asya dan Arsen pun tiba di rumah abu-abu.
"Tunggu sini bentar!" Asya mengangguk. Arsen keluar dari mobil lalu berlari menuju depan, mendekati salah satu bodyguard.
"Assalamu'alaikum, om. Cuma mau minta tolong, perketat keamanan ya. Dari tadi saya ngerasa diikutin sama orang. Depan belakang tolong tambah penjaganya."
"Wa'alaikumussalam. Nanti ditambah ya, mass. Makasih sarannya." Arsen membalas dengan senyuman lalu pergi.
"Ayo turunn."
"Ngomong apaann?"
"Gapapaa." Asya pun berohria, ia keluar dari mobil sembari membawa seblak Ara.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka kompak, Asya menuju tempat Ara.
"Sakit ape lu, nyett?"
"Kit atii." Jawab Ara santai.
"Ical poligami?"
"Matamui cokk!" Asya cengengesan.
"Azril mana?"
"Bentar lagi nyamβ"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Panjang umur lu, Zrill." Ujar Dino.
"Apa? Kenapa? Lu pada abis gosipin gue pasti? Haha, udah ketebak."
"Najis banget astaghfirullah. Kok bisa ada manusia modelan begini?!" Sindir Shaka alus.
"Gak boleh gitu, Pakcak. Berdosa banget, orang tua." Cibir Azril.
"Mangasu!!" Mereka terkekeh.
"Dahlah, gerah. Pengen mandi." Asya menggeret kopernya kekamar. Azril juga melakukan hal yang sama.
"AAAAAAAAA, DEMI APAZI TWINGG!" Asya berlari keluar kamar.
"Happy birthday to youu. Happy birthday to youu. Happy birthday happy birthday, happy birthday to youu!!"
"Barakallah fii umrikk, cantiknya jeeell." Shaka memeluk Asya.
Mata Asya berkaca-kaca melihatnya, ia juga membalas pelukan Shaka.
"Ehh, broo, pibesdey jugaa! Makin bagus kedepannya, kurangi main gamee!" Alvin memeluk Azril ala-ala pria.
"Sumpah ye, baru kali ini gue terharu gara-gara disurpresinnn."
"Alay bangettt, syalandd!" Azril tertawa mendengarnya.
Asya juga tertawa, ia baru melepas pelukannya dengan Shaka. "Makasihh banyakkk."
"Kita gak tau mau ngasih apaann, Syaaa, Zrill. Lu bedua punya segalanya. Jadi kita cuma bisa kasihh hoodie yang bergambarkan liburan kemaren." Ujar Racksa.
"Hehh, nggak cuma ituu anjrittt. Tempat tidur gue penuh sama coklaatttt." Balas Asya.
"Gue jugaa. Fulll kasur coklat, kecuali ditengahnya yang ada baju hoodie." Sahut Azril.
Mereka tertawa kecil, "itu pemanisnyaa. Yaa semoga kalyan suka sii."
"Iii suka bangett!!"
"Tapi kenapa gue dikasih coklat anyingg?!" Tanya Azril kesal.
"Daripada boneka pink, pilih mana lu?!" Tanya Dino.
"Ah iya sii, bagusan coklat. It's okay. Makasih banyak braderrrr!!" Mereka pelukan bersama-sama.
"Ehh, the last dari aku." Arsen keluar dari rumah dan membawakan boneka cukup besar untuk Asya.
"Gemoy bangett sumpaaahhh." Asya langsung mengambilnya.
"Ishh, tapii, gedekan bonekanya dari akuuu."
Mereka tertawa melihat ekspresi Asya.
"Gapapaaa, kan mantepp."
"Xixii. Makasiii, Cenn!" Asya mendorong bonekanya kearah Arsen lalu memeluk erat.
Jadinya tu saling pelukan tapi kehalang sama boneka.
"Kamu suka, kan?"
"Heemm."
"Jangan didonasiin ya ini boneka!" Omel Arsen.
"Gak didonasiin, paling dijual."
"Kamprett!"
Mereka tertawa lagi.
"Dahh ahh."
"Btww, tadi Bang Frizy kerumah nganterin kelinci."
"Seriously?!!" Haikal mengangguk.
"Ada dibelakang noh, kandangnya udah dibuatin tadi."
"Cepat sekaliii."
Asya dan Azril berlari ke halaman belakang.
Dan ternyata benar, kelinci abu-abu berada di dalam kandangnya. "Ahh gemayyyyy."
"Bener bener abu abu loversss. Kelinci abu-abu, rumah abu abu, kucing abu-abu, apalagi?"
"Semuaaa abu-abuu." Asya, Azril tertawa mendengarnya.
"Kucingnya buat gue aja gimana, kak?" Tanya Kei.
"Oh, tidak. Jangan mengadi-ngadii!" Keiji cengengesan.
"Kucing lu namanye siapa sii, Syaa?" Tanya Alvin.
"Gak tau juga gue. Belum punya namaaa."
"Tadi Arsen bilang Arrsya namanya."
"Menurut guee, bagusan Willkuss." Sahut Azril.
"Mengkecee. Kusswil aje bagusss!" Protes Haikal.
"Kucing kucing siapa, yang besibuk cari nama kalian." Cibir Naina.
"Sianjirrr, betul pulakk!" Naina tertawa kecil.
"Gue mo nanya serius dahh. Lu jidaddd lebar squad, ga ada yang pernah suka sama Asya?" Tanya Ara.
"Nahh, iyaaa. Kagak ada yang pernah suka??"
"Suka si sukaa, tapi dalam artian suka sebagai keluarga. Karena kami anggep Asya adek kandung gituu. Jadi gak logiss dong kalau diantara kita suka sama adek kandung sendirii." Shaka mewakili.
"Kerenn betull. Gak ada yang terjebak prenjonn."
"Lu, Sya? Gak ada suka sama mereka?"
"Suka sama gembel kek mereka? HAHA, nggak."
"Anjirrr lu, blasteran surga gini dikata gembell!" Asya terkekeh mendengar Alvin protes.
Mereka pun sibuk berbincang ria, tapi tidak dengan Arsen dan Asya. Arsen sedang telponan dengan client-nya, sedangkan Asya fokus dengan kelinci.
Kelincinya keluar kandang dan lompat kesana kemari, Asya mengikutinya.
Tiba-tiba...
"Wwoβ" Asya tidak bisa teriak karena mulutnya disumpel kain.
'Anjirr, ni kain bau bangetttt. Gak dicuci tujuh tahun pasti!' batin Asya. Ia malah fokus dengan kain bukan dengan situasi diculiknya dia.
Asya dimasukkan kedalam mobil hitam lalu dibawa pergi.
Arsen yang baru selesai menelepon kembali, "Asya mana?"
"Itβ loh manaaaa?!"
"M-mass, m-mbakk, nona Asya diculik."
"WTFF!"
βββ
Asya POV.
"Haloo, cantikk."
Najis goblokkk, ah ilahh.
"Geli kali bah dengarnyaa. Gak usah gitu kali lah, om. Malu sama uban!"
Plak!
"Sopan kamu!"
Gue menghela nafas, tamparannya mayan sakitt. "Sendirinya ngambil saya tanpa izin. Sopan begini?!"
"Kamu gak ada takutnya, yaa?!"
"Saya takut sama pencipta saya, bukan ciptaannya pencipta saya." Penculik itu terdiam.
"Terserah, kenalan dulu perlu kali ya?"
"Gak!"
Langsung tanpa basa basi, skak-in ajaa.
Daddy pernah bilang, kalau diculik coba buat kesal penculiknya. Hasil yang didapat ada dua kemungkinan.
Yang pertama, bakal dilepasin karena tu orang males buat ngurusin lagi. Dan yang kedua, bakal ditampar atau dikasarin karena tu orang emosi.
But, jangan dicoba kalau belum pro. Hahahaaaa!
"Kamu.. Jangan asal menjawab! Saya tampar lagi mau kamu?!"
"Tesss!"
Plak!
Plak!
Terdengar sangat nyaring dan teramat sangat menyakitkan teman teman.
"Jangan uji amarah sayaa!" Gue diam.
"Kenalin, saya musuh papa mu dari Jepang."
"Sangat tidak penting. Anda musuh papa saya, apa hubungannya sama saya?!"
"Kamu anaknya, kamu tumbalnya."
Pura pura gak takut aja kali yaa.
"Ooo, tumbel. Anda juga mau jadi tumbel pelet saya?"
Typo bibir gue.
Harusnya tumbal jadinya tumbel:')
Tapi gapapa, keren.
"Wahhh, kamu benar-benar tidak punya takut, ya?"
"Udah saya bilang tadiβ"
"Iya saya tau!"
Dipotong bah, mari buat makin emosi.
"Bacot muluu, udah tua padahal."
Tangan pria itu mau nampar lagi, tapi gue langsung tendang bagian anunya dengan tenaga ekstra.
Setelah menendang, anak buahnya bakal terfokus dengan boss yang kesakitan. Ini kesempatan buat gue kabur.
Lagi lagi gue main kaki. Tangan gue masih diikat, jadi cuma bisa ngandelin kaki. Gue terus nendangin pintu sampai pintu itu kebukaa.
Pintu kebuka.
Gue berlari sejauh mungkin dari sana. Tapi baru beberapa meter, anak buah pria itu udah ngejer gue.
Demi apapun gue keteteran, hal yang harus gue lakukan pertama kali sekarang adalah ngelepass ikatan tangan.
Ketika guee sibuk lari sambil lepas ikatan ditangan. Tiba-tiba ada yang narik gue. Gue hampir teriak, tapi mulut gue ditutup.
Gue dibawa ke balik gedung, buat sembunyi.
__ADS_1
"Sstt, jangan berisik. Nanti ketauan."
Woiii, gue tanda ini suara. Buat mastiin gue noleh kesamping. Dan ternyata bener, dia...