Barbar Generation

Barbar Generation
Tenggennn


__ADS_3

Jarangg saya kasih bonus, kann? Niii, saya bonusiiin.


Like coment dua duanya yee, vote jugaa hehe. Lop sekebonnn buat kaliaannn-! ♡♡


H A P P Y R E A D I N G 🌻


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


"Kok ngamok betulll?" Tanya Alex sinis.


"Bacot lu, diem!"


Asya menoel-noel tangan Arsen. Arsen menoleh kearahnya.


Asya berbisik, "kalau lu ngamuk terus gue pulang." Arsen menatapnya dengan puppy eyes.


Jujur, Asya gemas melihatnya!!


"Jangann ishh. Jangaan pulangg duluaann." Bisik Arsen.


"Jangan ngamukkk muluu!"


"Iya iyaa."


"Ehmm, apaan kalian bedua ni?" Tanya Mikko sebal.


"Om Mikko sendiri yang jomblo, yaa??" Ledek Alex.


"Sstt! Kamu juga sendiri, Adinda kan gak disini."


"Adinda di kamar Alex, lagi tidurr. Wlee!" Mikko mengelus dada, mereka pun tertawa.


"Bisik bisik apa kalian?" Tanya Pak Andre.


"Bisik-bisiknya agak mencurigakan sih, Pa. Arsen auto kalemmm tuhh." Jawab Alex.


"Diem lu!" Omel Arsen.


"Wakakakak, ngamuk lagii. Lagi pula siapa si yang mau di jodohin sama lu?" Tanya Alex meledek.


"Helooo, banyak yang ngantri woiii. Tapi pilihan gue tetep Asyaa!"


"Ngantri apaan sii? Salah antrian mereka tuh."


"Syirik mulu dah lu!!"


"Nggak syirik. Tapi gue bicara sesuai fakta, kan lu jelekkk. Gantengan guee."


"Mirror goblougg. Gantengan gue daripada lu."


"Hahahahalu, gantengan gueee!" Alex nyolot.


"Gu–"


"Asya pulang, Om, Tante."


"Aaaa iya iya iya, gak gelut gak gelut." Arsen menahan tangannya.


"Gapapa, gelut aja sana."


"Nggak, byy. Nggak jadii, nanti ya pulangnyaaa."


Mereka tertawa melihat Arsen sekarang, benar-benar bucinn pakboy tobat satu ini.


"Bucin akut ya dia." Cibir Mikko.


"Daripada Om Mikko, jomblo akut."


"Eii, ponakan kurang ajar!" Arsen cengengesan.


"Duduk ya, byy. Kita pulang nantii." Asya pun kembali duduk di sebelah Arsen.


"Padahal kamu tadi di rumah omaa juga gelut muluu." Lirih Arsen.


"Apaa? Iya sih. Asya pulang ya, Om, Tan–"


"Apaan? Jangan, yaa, jangaaan."


"Syaaaa, Asyaaa!" Asya tetap berjalan menuju pintu.


"Oooh, kalau kamu pulang gak jadi beli seblak." Asya terhenti.


"Bisa beli sendirii, wlee!"


"Hyaaa!" Arsen mengejarnya.


"Huuuu, dasarrr bucenn!"


Beberapa menit drama pembujukan, akhirnya Asya mau kembali. Mereka tertawa ngakak melihat Arsen membujuk tadi.


Biasanya Arsen yang selalu di bujuk wanita, namun sekarang kebalikannya.


"Di makan kue nya, Asya." Suruh Mama Alex pada Asya yang duduk santai.


"Iya, Tantee." Jawab Asya tersenyum.


"Positif vibes liat Asya, semoga anak tante cewek cantik seperti kamu, yaa." Asya nyengir kuda.


"Aamiin, Tan."


"Mirip mukanya aja mending, Ma. Jangan sifatnya, dia kea singaa." Cibir Alex.


"Tampoll mauu?!" Alex cengengesan.


"Kalau di pikir pikir, Sya. Lu tuh gak cocok sama Arsen, mending sama gue aja."


"Makin gak cocok sama lu, begooo! Bagus Asya sama gue, secara gantengan gue daripada lu."


"Kalian berdua kenapa pede banget sih dari tadii?! Jelas gantengan om daripada kalian!"


"Yaaa percuma ganteng kalau sendiri terus." Ledek Pak Andre.


"Kamprett!"


◕◕◕


"Kalian yakin mau pulang sekarang?? Gak mau makan malam sekalian?" Tanya Mama Alex sedikit memohon.


"Ngga bisa, Bundaa. Ada yang mau Arsen kerjain lagii," jawab Arsen mewakili.


"Yaudah kalau gitu, kapan-kapan mampir lagi loh, ya!!"


Arsen dan Asya tersenyum lalu berjalan menuju mobil.


"Hati-hati di jalan, Arsenn!"


"Jangan kebut-kebutan!"


"Iya, Paa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Mereka pun pergi dari kediaman Pak Andre.


"Aaahhh, capeeek." Keluh Asya sambil bersandar.


Arsen tersenyum melihatnya, "besok-besok gitu aja penampilannya. Cantik banget tauu."


"Ribett tapii."


"Kamunya aja yang belum terbiasaa."


Asya menatap Arsen yang mengemudi, "sok kamu-kamuann."


Arsen tertawa kecil, "enak panggil kamu kamuann daripada lu gue gituu."


"Enaknya?"


"Ya pokoknya enak. Lebih enak dari kiko."


Asya tertawa mendengarnya, "random banget sampe ke kikoo."


"Jadi mau beli seblak?"


"Nggak ada yang buka keanyaa."


"Iyaa sih, bisa jadii. Udah malem jugaa, kann. Kamu makan di rumah Omaa Hitler aja." Asya mengangguk setuju.


"Kam– ehm, lu mau makan dimana?"


"Eum.. dii apartemen maybe. Why?"


"Beneran ada yang mau di kerjakan??"


"Nggak juga sih, kenapa emang?"


"Yaaa, gapapaa."


"Ehh, ini deket kuburan nyokap. Lu berani nggak kalau gue ajak kesana sekarang?"

__ADS_1


"Beranii kokk, lu belum kesana?"


"Belumm."


"Yaudahh, ayokk kesituu."


"Ehh, berhentiii!" Arsen langsung berhenti.


"Kenapa??"


"Ada yang jual bunga tuhh." Arsen meliriknya.


"Yok belii," Arsen memundurkan mobil lalu membeli buket bunga. Setelah membeli bunga mereka kembali ke mobil.


Dua menit kemudian, Arsen membelokkan mobil ke tempat pemakaman umum. Mereka berdua turun bersamaan.


Arsen mendekati Asya dan menggenggam tangannya, bukan takutt, tapi ia tidak mau Asya menjauh darinya.


Mereka berdua jalan menuju makam nyokap Arsen. Asya meletakkan buket bunganya di dekat batu nisan.


"Assalamu'alaikum, Maa. Arsen datang lagi sama Asya." Arsen mengelus gundukan tanah di makam mamanya.


"Maaa, maaf lahir batin, yaa. Maafin Arsen kalau dulu Arsen banyak salah sama mama. Maafin Arsen dulu suka ngelawan mama.. ma-maafin Arsen, Ma."


Arsen meneteskan air mata, Asya yang berada di sampingnya mengelus punggung Arsen lembut dan penuh kasih sayang.


Arsen menghapus air matanya.


"Gak boleh, Arsen gak boleh nangis kan, Ma. Masa iya Arsen nangis di depan calon istri Arsen."


"Oiyaa, Ma, Arsen sama papa udah akur. Yaaa, awalnya mah Arsen gak mau akur sama papa. Tapi karena calon mantu mama ini baik banget hatinya, jadi yaa Arsen maafin papa lahh."


"Terus kalau aku gak ada?" Tanya Asya penasaran.


"Gak bakal mau sih."


"Pe'aa!!" Arsen cengengesan.


"Mama yang tenang ya disana. Arsen disini selalu do'ain mama, mama gak usah khawatir Arsen kenapa-kenapa. Arsen sekarang punya Asya. Asyaa sama kea mama, tapi bedanya Asya lebih cerewet lebih bawell."


Asya menatapnya kesal, Arsen nyengir kuda.


"Arsen sayang sama mamaa." Arsen mengecup nisan mamanya.


Setelah itu ia menatap Asya, "lu mau bilang sesuatu?"


Asya menggeleng pelan, "bingung mau bilang apaa."


"Yaaaa bilang ajaa tanteee anaknya ganteng tapi gantengnya gak manusiawii gituu."


"Pedean lu!" Arsen tertawa kecil.


"Yaudahh, Arsen pulang ya, Ma. Arsen bakal sering-sering kemarii."


"Arsen pergi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Asya yang menjawabnya.


"Yok." Ajak Arsen.


Asya mengikuti perkataan Arsen, bahkan ia membalas genggaman tangan Arsen.


"Nyokap lu pasti bangga deh punya lu." Kata Asya setelah berada di dalam mobil.


"Ntahlah, bisa iya bisa nggak."


"Gue yakin sih, dia bangga banget punya lu."


"Kenapa yakin bangett?"


"Karena gue juga bangga banget punya lu."


Arsen menatap lekat Asya, ia tersenyum mengecup punggung tangan Asya lagi.


Matanya kembali fokus menatap jalanan, ia mengemudi dengan satu tangan karena tangan satunya masih tetap menggenggam tangan Asya.


"Senn."


Arsen berdehem.


"Seenn."


Arsen masih berdehem.


Ia sedikit salting karena kalimat yang di lontarkan Asya tadi.


"Kenapaa, sayangg?"


Asya menatapnya kesal.


"Sennn!"


"Iya, kenapaa? Ada apa, hmm?"


"Gapapa sii. Lu jadinya makan dimana?"


"Apartemen, kenapa?"


"Masak sendiri?" Arsen mengangguk.


"Kenapa emang?"


"Eum... gue gak mau pulang."


"Lah??" Arsen menatap heran Asya.


"Gue mau... mau makan di apartemen lu."


"Seriuss?"


Asya berdehem. "Gak boleh?"


"Boleh kok, bolehh bangetttt. Tapi nantii.."


"Gue yang bilang ke mommy daddy." Arsen mengangguk paham.


"Kalau gue nginep sekalian gimana?"


❃.✮:▹●◃:✮.❃


19.30


"Woii. Lamaa bangett lu padaa, ini udah eraya ketigaa!"


"Baru sampe tadi pagii, Syaa." Jawab Shaka santai.


"Oh gitu, yoda duduklahh!" Mereka duduk bersamaan.


Tapi bukan di rumah abu-abu, melainkan rumah utama. Di rumah abu-abu gak ada kue apapun. Bahkan, selama lebaran, Asya tidak pernah kembali ke rumah abu-abu.


"Siiiii.. Ara mana?" Tanya Asya.


"Ara nanti datang, barengan sama Arsen, Alex, Yuna." Asya berohria.


Oiyaa, tentang nginap kemarin? Asya gak jadi menginap. Jangankan menginap, ke apartemen Arsen aja nggak jadi karena larangan dari Zafran.


Abang sepupunya yang satu itu emang overprotective. Bukan hanya Zafran sih, Aska juga melarangnya karena takut hal yang tidak-tidak terjadi.


"Uring uringan bangettt sihh?! Kenapa luu?" Tanya Alvin.


"Dia tu keselll, lu pada kelamaan datang." Racksa mewakili.


"Yaa maapp. Kan istirahat dulu, Bukkk." Asya hanya berdehem.


"Yaudahh yaudahh, sebagai gantinya lu mau diajak kemana?" Tanya Haikal.


"Tunggu yang lain datang dulu lah, yaaa."


Beberapa menit kemudian, yang lain pun muncul.


"Heiooo, Kak Asyaa."


"Annyeong!" Sapa Asya sambil mengangkat satu tangan.


"Keliatan gimana gitu ni anakk, kenapaa?" Tanya Arsen keheranan.


"Merajukk." Dino yang menjawab.


"Merajuk kenapaa?" Tanya Ara gantian.


"Kalian kelamaan datang. Gabut banget dia dari kemarenn, sangking gabutnya para sepupu gue di kerjain muluk." Jelas Azril.


"Kasian, pasti mereka depresoot." Ujar Alvin.


"Oh ya jelas."


"Taiii!" Mereka tertawa melihat Asya.

__ADS_1


"Lu pasti rindu banget sama gue makanya ngambek. Yaudah peluk sini pelukk!" Alvin merentangkan tangannya.


Asya hanya menatap sinis Alvin.


"Buruannn. Mau peluk, gak??" Asya bangkit lalu menabrak tubuh Alvin.


"Nah kan, benerr. Dia tu rindu sama gue!" Alvin membalas pelukannya.


"Awas, pawangnya ngamuk tuhh." Bisik Shaka keras. Arsen malah tertawa mendengarnya.


Alvin melepas pelukan lalu mengacak pucuk rambut Asya gemas. "Dahhh, jangann ngambek mulu!"


"Mana oleh oleh gue??"


"Ah iyaaa, lupaaa!!"


"Dahlah, maless!" Asya pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Ngambek lagii, parahhh. Ini hehhh, mau gakk? Gak mau gue kasihkan Azrill!" Asya balik lagi mengambil oleh olehnya.


"Gemoy bangett sih diaa! Padahal udah tuaa." Cibir Alvin.


"Aihh, berisik luuu!" Alvin tertawa mendengarnya.


"Oiyaaa, ini yangg waktu itu di vc?" Tanya Alvin menunjuk Ara dan Yuna.


"Hmm."


"Oleh oleh buat gue mana, Pin?"


"Gue beli cuma buat Asya."


"Minta di smekdon kauu?!" Alvin cengengesan.


"Gue beli cuma buat Asyaa, seriuss."


"Mampusss lah, pigi lu sana!" Usir Azril.


"Anjayyy, sadisss sadisss."


"Btw, gue Shaka. Can be called Caka."


"Gue Arallya, panggil aja Ara."


"Aaahh, ini yang biasa di aduin Ical ke guee." Ujar Shaka.


"Buka aib bah, parahnyaa!" Shaka cengengesan.


"Nice to meet you, Ara." Ara membalas dengan senyuman.


"Ini saha? Ini pasti yang mau sama Dino?"


"Iyaa, itu yang mau sama Dino." Jawab Asya sambil mengunyah coklat dari Alvin.


"Kok lu mau sama Dino?"


"Anjirrr!" Alvin terkekeh pelan.


"Nama lu siapa?"


"Gue Yuna, Bangg."


"Adkel, yaa? Salken, gue Alvin." Yuna mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Nahh, yang iniii gue aja yang kenalin." Asya berdiri dari tempatnya.


"Iniii Alex gaiss, diaaa yang buat patah kaki Azril dulu."


"Seriously, diaaa?" Asya mengangguk antusias.


"Tapi dah tobat. Abis gue jampi-jampi." Alvin yang tadinya bersiap untuk menghajar Alex kembali mundur dan menatap sinis Asya.


"Lu minta di tabok apa gimana?" Asya cengengesan.


"Udah gak ngambek lagii lu?" Tanya Ara.


"Yang bilang gue ngambek siapa?" Tanya Asya gantian.


"Lah tadi?"


"Nggak tau juga gue mah."


"Keknya ada setan dalam tubuh dia."


Asya tidak memperdulikan mereka, ia menatap Arsen di sebelahnya.


"Kenapa?" Tanya Arsen lembut.


"Tunggu tunggu! Luu.. lu mabuk ya, Sya??"


Asya menggeleng pelan.


"Masa iya mabuk?" Tanya Azril.


"Baunya kea bau bauu alkoholl anjirrr gue lupa apaaa. Gue pernah nyium bau ginian jugaa dari orang mabukkk. Pasti mabukk anakk iniii!"


"Ahh cemen dong, padahal tadi katanya nggak bakal mabuk."


"Kaliann...."


"Iya, hehee."


"Pantesan tadi ada bau anehh gituu dari Asyaa pas meluk guee." Mereka menatap Asya.


Bruk!


Asya tertidur di lantai.


"Tenggen, kann. Hadeuhhh!"


"Beneran mabukk?" Tanya Yuna heran.


Racksa mengeluarkan botol yang mereka sembunyikan.


"Astaghfirullah! Kenapaa kalian mabuk mabukannnn?! Begooo banget sumpahh!" Shaka auto murka.


"Ini tuh nemu tadii, cuma sebotoll itupun di bagi tigaa." Ujar Azril.


"Asya doang yang mabuk, gue sama Azril nggak kokk." Sahut Racksa.


"Kenapa lu ajak minum si Asyaaaa?!" Tanya Alvin.


"Dia yang mauu tadii."


"Ya kenapa gak di larangg?" Tanya Haikal.


"Mana sempattt, keburu di tenggak."


"Gilaa emang lu bedua." Arsen menggendong Asya menuju kamarnya.


"Kenapa ngikut mabuk sii, cantikk kuu?" Tanya Arsen sambil membenahi selimut Asya.


"Arseeenn."


Asya berbicara sambil menutup matanya. Arsen hanya menatap tanpa menjawab.


"Seenn, lu boong kan sama gueee?!"


Arsen mengerutkan dahinya.


"Katanyaa lu cuma suka, cuma sayang sama gueee. Tapii tadi pagi gue liat lu sama cewek lainn di mall! Sorenyaaa gue liat lu duduk berdua di taman sama cewek laeenn lagii!"


"Pasti lu boong kannn sama gueee!!"


Arsen tertawa mendengarnya.


"Jahat lu mahh! Gue gak mau ketemu sama lu lagiii!!"


"Ishhh, tapii.. tapi gak bisaaalaaahhh!"


"Gak bisa kenapa?" Tanya Arsen.


"Ahhh.. gatauuu, bodoamatt!" Arsen tertawa lagi sambil memandangi Asya.


"Cemburuu yaa ternyataa."


Asya menghela nafas, matanya masih tetap terpejam.


"Oke gugellll.. gimana cara bikin Arsen jelekk!"


"Cara bikin gue jelek?"


"Kalau lu jelekk, kan gak diambil cewek laeeenn!!" Jawab Asya seolah mendengar pertanyaan Arsen.


"Emang kenapa kalau gue diambil cewek lainn?"


"Gatauuuu, bodoamaaattt!"

__ADS_1


__ADS_2