
"Pagi ku cerahku, matahari bersinar. Ku gendong beban hidup, yang berattt"
"Selamat pagi semua, ku tunggu contekanmu. Tolong lah bantu aku.. jawab soall"
"Temanku yang baikk, temanku yang ketjeh bantulah aku mengisi soal. Beri aku contekan, beri aku jawaban, temanku kalian sangat baaiiikk"
"Ngode gak usah pake nyanyi lu anying" protes Arsen menatap sinis kedua sahabatnya.
Irgi dan Rafy tertawa.
"Kantin kuyy, laper gue liat orang pada belajar" ajak Irgi.
"Ntar ulhar matematika lho anjirr, gak segampang ulhar bahasa Indonesia" sahut Rafy.
"Lah teruss? Disini juga kita konser, cuma jadi bebaan"
"Ntah iyaa"
"Senn, yuklah kantin. Si Rafy sok betul dia" Arsen langsung bangkit dari duduknya.
"Gue ikottt"
"Rasa ingin menamparrr"
"Eh gue mau nanya" Mereka menatap Rafy.
"Sapi kan punya susu, kok gak dipakein yang kek cewek itu ya?"
"Diam kau Rafy diamm!! Mau di tabokk?!!" Rafy cengengesan.
"Gue kan nanyaa"
"Gue juga mau tanya" Rafy dan Irgi menatap Arsen.
"Pohon pisang yang berjantung, kalau di kagetin jantungnya copot gak??"
"Anjinggglaaa, kenapa kawan gue gini semua siihh?!"
Rafy dan Arsen tertawa.
"Sennn, lu liat Asyaa??" Arsen menggeleng.
"Gue nunggu di kelas juga belom berangkat, Azril udah datangg??" tanya Arsen balik.
"Belomm, Racksa juga belom datang kann??"
"Ck, ada yang gak beres ni"
"Gue ke rumah Asya dulu" Arsen langsung pergi menuju parkiran.
"Siaga satu banget ya tu anak" gumam Irgi.
"Dia serius keknya sama Asya" sahut Viona.
"Menang gak ya kira-kira, kalau dia ngelawan polisi itu?"
▫▫▪▪▫▫
Ting tong..
"Asyaaa"
Ceklekk...
"Loh sen, kenapa?"
Arsen terheran melihat Azril yang hanya memakai boxer tanpa baju. "Kenapa apanya? Ini seninn, lu baru bangun? Asya Racksa mana?"
"Tunggu, tadi lu bilang apa? Senin??" Arsen mengangguk santai.
"Anjinggggg, kesiangannn"
Azril masuk terbirit-birit, "ASYAAA BANGUN LU SETANN SEKOLAHHH" teriak Azril sambil menggebrak pintu kamar Asya.
"Cal callll, Dinnnn, Saasaa bangun!!"
"Apasih, masih jam lima"
"Jam tujuh anjrittt" sahut Arsen yang baru masuk.
"HAHH?!"
"Is cepat la, gue mandi di kamar gue. Sa, lu di kamar luuu. Ical kamar tamu, Dino kamar mandi umum. Cepatt"
"Asyaa mana??" tanya Haikal.
"Gue yang bangunin, udah buruan besiap lu pada" Mereka langsung masuk ke kamar mandi sesuai yang disuruh Azril.
Arsen menuju kamar Asya.
Tok tok..
"Syaa bangun!!"
"Lima menitt lagii" jawab Asya.
__ADS_1
"Ini udah jam tujuh lewat, ntar telat upacara"
"Upacara apaa? Kan libur"
Arsen terkekeh pelan, "ini senin".
"Hah? Anjrit, yang benerr?!?" Asya di dalam kamar membuka ponselnya.
"Matiiik guaa" Ia lompat dari tempat tidur langsung masuk ke kamar mandi.
Asya mandi bersih secara cepat kilat. Selesai mandi, ia memakai baju putih abu-abunya.
"Woilaa, hari ini pelajaran apaa?"
"Ck, gak belajar ni anak. Matematika Biolo--"
"Oke! Udahhh" Asya membuka pintu, ia langsung maju tanpa melihat depan.
Dia pun menabrak Arsen, Arsen yang melihat Asya hampir jatuh menarik tangannya lalu memeluk Asya.
"Gak bisa pelann?" Asya langsung melepas pelukan.
"Ya namanyaa buru-buruu, ohya thanks and sorry"
Asya beranjak pergi, namun Arsen menahan tangannya.
"Rambut lo berantakann, bentar gue rapikan" Arsen merapikan rambut Asya.
Asya menatap mata Arsen sekilas lalu menunduk, ia melihat dasi Arsen yang tidak rapi. Tangannya terulur merapikan dasinya.
Setelah sama-sama selesai, mereka bertatapan.
"JAM TUJUH DUA PULUH MENITT WOI, SEPULUH MENIT LAGI UPACARAAA" teriak Racksa.
"Aishhh" Asya mendorong Arsen pelan.
"Naik mobil gue aja" tawar Dino.
"Asya sama gue" Arsen menarik tangan Asya menuju mobilnya.
"Azrilll jangan lupa kunci pintuuuuu"
▪▪▫▪▪
"Lu pada ngapain? Kenapa pada kesiangan??" tanya Arsen sambil mengemudi, ia terlihat sedikit santai ketika hujan turun.
Arsen juga sudah menghubungi penjaga gerbang untuk tidak menutup pintu. Mamang itu mengiyakan permintaan Arsen. Kenapa??
Karena Arsen selalu berbuat baik ke mamangnya, permintaan Arsen kali ini, permintaan pertamanya.
"Tidur aja cantik bangett" gumam Arsen sumringah.
"Gue gak pernah sesuka ini sama cewek selain mama. Gimanapun, caranya gue bakal jadiin lu istri gue!" gumam Arsen lagi sambil mengelus pipi Asya.
"Astaghfirullah, Arsen. Gak muhrim lu anjimm" Arsen fokus ke mobilnya.
"Asyaaa"
"Hey keboo!! Bangunnn"
"Eh gue ketiduran?? Udah sampee??" Arsen terkekeh pelan.
"Belum kok"
"Lu pada kenapa kesiangan??"
"Kemaren tu main full day, pagi sarapan di McD, terus nongkrong ke kafe. Bosen di kafe kita keliling kota, ntah kemana ajaa gitu di dalam satu mobil. Kita ke basecamp je-el terus ke puncak di villanya bokap Ical. Perjalanan dua setengah jam, di puncak cuma sejam. Balik ke rumah itu udah jam setengah dua belas malemmm. Udah gituu, pulang bukan langsung tidur malah ngegame lagi sampe jam setengah dua pagi"
"Anjirrr yang bener ajaa??" Asya mengangguk.
"Sama sekali gak inget kalau hari ini senin"
"Mantep betulll"
"Terus lu gak kenapa-kenapa kan?? Gue liat Azril tadi pake boxer doang gak pake baju pula"
"Itu anak kalau tidur emang gak pernah pake bajuu, dan ya selalu pake boxer."
"Lu gak pernah takut apa? Lu cewek sendiri diantara mereka"
"Ketakutan pasti ada, gue yakin mereka pria normal yang punya nafsu. Tapi gue yakin mereka pria berpendidikan. Dan menurut gue, pria berpendidikan gak bakal bikin seorang wanita berkata ahhh sebelum terdengar kata sahh"
"Wahh, good banget gilaa" Asya terkekeh pelan.
"Gue mau tanya, sen. Soal Adinda, gue udah lama gak liat dia, Alex sama Jun juga, mereka kemana?"
"Oh itu, gue lupa ntah hari apa. Mereka berdua berantem gitu, berantemm besar pokoknya. Terus ketahuan pak Jarwo sama bu Ica. You know lah bu Ica gimana kan, jadi mereka di skors sekitar semingguan. Kalau soal Adinda-nya, gue rasa dia ikut sama Alex"
"Ikut sama Alex??"
Arsen mengangguk, "Alex tipe cowok pemaksa. Apa yang dia mau harus ter-iya-kan. Kalau nggak, pasti dia punya apa pun untuk ancaman"
"Gue jadi kasian ke Adinda nya, dia masih suci kan?" Arsen mengangguk lagi.
"Mungkin udah beberapa kali terancam, tapi ya gitu lah. Alex lebih muasin hasrat sama lacur daripada nge-rusak Adinda"
__ADS_1
"Adinda-nya kok mauuu gitu diatur?? Mereka udah berapa lama barengan??"
"Sejak smp kalau gue gak salah sih, ntah, gak tau juga kenapa Dinda mau."
"Lu gak pernah gitu, suka sama Dinda??"
"Jawaban jujur atau bohong??"
"Jujur la nyett!!"
"Haha, pernah. Gue pernah suka sama dia"
Degg!!
Ada yang aneh di benak Asya.
"Tapi sekedar suka biasa, gak kayak ke lu sih. Kalau ditanya, gue suka gak sama lu.. guee bakal jawab suka, suka banget malahh. Sangking sukanya jadi ngebet nikah sama lu"
"Astaghfirullah, kenapa buaya berkeliaran seperti inii?!"
Arsen tertawa pelan, "gue udah tobat sya. Serius, gak boong"
"Taiiiii"
Tingg ting...
"Bukain hape gue tolong"
"Kok manjaaa?"
"Gue nyetirr, mana ujan lagi. Kalau kenapa-kenapa gimana?"
"Diiiwww, mana hape luu?"
"Di saku celana"
"Senn, plis. Jangan aneh-anehh"
"Istighfar heehh, aneh-anehh darimanaa?"
"Lu yang ambil gue yang bukaa" Arsen pun mengambilnya.
"Password?"
"Seribu dua"
"Untung pinter gue, ehh.. anjiayyy, homescreen nya masih muka guee dongg. Kok gak lu gantii?"
"Lu imut banget disitu, ngapain gue ganti. Lagian, kalau gue rindu lu malem kan gampang tinggal mandangin homescreen"
Pipi Asya memerah, "apaan sih" Arsen tertawa pelan.
"Pak Jarwo nih, dia nyariin lu. Mau bicarain soal ekstrakurikuler. Telat banget gak sih? Udah mau ujian semester satu gue rasa"
"Emang gitu seringnya. Iyain aja kasiann"
"Goblokkk bangett anjritt!!"
▪▫▪▫▪
13.45
"Sya, pulang sama gue kan??" ajak Arsen.
"Asya, pulang bareng saya mauu?" Fauzi tiba-tiba muncul.
"Kak Fauzii?? Gak sama Tara?"
"Tadinya jemput Tara, tapi udah pulang duluan dia. Kamu maukan pulang sama saya? Tapi saya cuma bawa motor" ajak Fauzi sambil menunjuk ke arah motor sport nya.
"Balik sama gue aja, bisa aja lu ditinggal sama dia di jalan karena panggilan dadakann"
"Saya sedang cutii"
"Sama gue aja deh sya, gue bawa mobil"
"Sama saya aja Asya, imam itu di depan bukan di samping"
"Sama gue aja sya, ijab kabul itu disamping bukan di depan"
"Ijab kabul kalau cuma sementara untuk apa? Imam berguna untuk bekal kamu di akhirat" sahut Fauzi.
Asya bingung pilih yang mana.
"Kamu pilih siapa?" "Lu pilih siapaa?"
Asya menghela nafasnya.
"Perkara balik pake imam pake ijab kabul segala, mo balik doang woilahhhh" sahut Azril yang baru tiba bersama dengan Racksa.
"Haaa mantepp ada lu, zril"
"Kak Fauzi depan, Arsen samping, dan Asya pilih diatas" Asya langsung lompat keatas bahu Azril.
Azril menghela nafasnya lalu memegang kaki Asya agar tidak terjatuh, Asya yang sudah santai dengan posisinya memasang headphone, "gelut aja teruss yaaa sampe bapak je-el gak emosian. Bye bye!!"
__ADS_1