
"Mirip ya njirr, mukanya pak Andre sama lu."
"Sya, gue kan anaknya. Anak kandungnya. Anak dibuat dengan usaha dan jerih payahnya sendiri, ya jelas mirip la begoooo!" Asya tertawa pelan.
"Tadi tu beliau kok.. kayak gak kenal sama lu?"
"I don't know and i don't care!"
"Pembahasan itu sensitif kali, ya?"
"Banget"
"Btw, sen. Pak Andre kan, Andre Harisson. Otomatis nurun ke lu juga Harisson, kok jadi William?"
"Lu pikir gue sudi make nama Harisson? Sejak dia pergi dari gue dan nyokap, gue ngikut nama bokapnya nyokap, William"
"Nama akhir doang diganti?" Arsen menggeleng.
"Nama awal gue, Rayarrsen Harisson. Biasa dipanggil Ray, bukan Arsen"
"Terus berganti jadi Arsen Shafwan William, om gue yang saranin tu nama"
"Gue panggil awan aja gimana?"
"Gak usah nyeleneh, gue tabok ntar jidat jenong lu" Asya tertawa.
"Mata gede, jidat lebar, lesung pipi.. cakep banget sih lu, sumpah gak bohong"
"Bacottttt!!"
Arsen tertawa pelan, "gue serius. Lu can--"
"Asyaaa." Mereka berdua menoleh.
"Ehh kak Vernon"
"Dari mana, sya?"
"Abis dari ruangan pak Andre, kakak dari mana?"
"Kantin." Vernon cengengesan.
"Bolos yaaa?"
"Nggak bolos, cuma jamkos doang"
"Kamu mau kemana?? Ngapain di ruangan pak Andre?"
"Asya min--" Arsen menarik tangannya.
"Eh anak laknat!! Lepassinn, gue masih ngobrol, Arsen!"
"Time is money."
"Aihss, pengen di jambak lu yaa!!"
"Kak Vernon, Asya duluann" Vernon mengangguk santai sambil menatap Asya yang ditarik.
"Lu apaaan si narik narik mulu?!"
"I'm jealous, you know?!"
"I know now, but, to me it's bullshit"
"Bullshit? Sya, gue--"
"Humans don't change in one night!"
"Lu gak percaya sekarang it's okay, gue bakal tunjukin kalau gue beneran cinta sama lu"
"Bagus dramanya, cocok kok jadi aktor. Dah ya, ayok keruangan osis, udah di tunggu pasti" Asya langsung pergi.
"Apa yang salah sama otak nya Asya?!"
▪▪
Setelah pertengkaran di kelas tadi, Azril mendapat julukan baru.
Yaitu..
Badboy junior!
"Junior taiii! Gak tau aja mereka kalau lo senior level tinggi"
Azril tertawa, "bacot lu mata gede."
"Lagian, lu kenapa jadi goblokkk bangett?! Kenapa harus cewek orang lu rebut?!"
"Au tuh kayak gak laku aja!" cibir Dino.
"Yaa gimana lagi, gue udah terlanjur punya rasa sama dia"
"Lu suka darimana sih? Gue yang lebih dulu di kelas kagak demen sama dia, sedikit pun kagak. Malah gue bilang, lu lebih bagus sama Viona"
"Nah cakeppp, cal!! Gue juga setuju kalau lu sama Viona."
"Apaaan lu pada, kok jadi comblangin gue?! Viona itu pacarnya Dino"
__ADS_1
"Ngarang lu babii, selera gue gak ada di sma"
"Dih dihh, kentang banyak tingkah" ledek Haikal.
"Kentang kentang, mata kau sliweran! Kalau gue yang ganteng gini dikata kentang, yang kentang dikata apa?"
"Tomato" jawab Asya.
"Temennya potato itu kan?"
"Ini kenapa jadi bahas tomato potato sih?!" Asya dan Dino tertawa.
"Potato gak salah, Azril yang salah, dia ingin menempatkan diri di hati yang sudah terisi."
"Anjirrr anjirrr, salah makan ya lo pada?" protes Azril. Bukannya menjawab, mereka bertiga malah tertawa.
"Udah jam segini, gue turun ya. Hukuman gue belum selesai"
"Ini hampir jam pulang."
"Makanya itu gue selesein dikit lagi."
"Gue tunggu di parkiran"
"Balik duluan aja lo sama Arsen!" Azril sedikit berteriak karena sudah jauh dari jangkauan temannya.
"Ogah ogah!!!" Azril pergi tanpa membalas.
"Lu makin deket sama Arsen?" tanya Haikal.
"Nggak juga."
"Nipu lu, makin deket pasti. Yang di snap waktu itu Arsen, kan?"
Asya mengangguk santai, "emang Arsen. Gue sama dia cuma keluar bentaran doang."
"Bentar dari mana, gue kerumah lu dari tengah delapan sampe setengah sebelas. Setengah sebelas juga lo belum pulang-pulang." ujar Dino.
"Kagak usah beralesan, kemana aja sampe selama itu?"
"Keliling kota doang, terus kemaren ke pasar tradisional."
"Terus gimana sama abangnya Tara? Lu suka sama siapa sih?"
"Dino, Ical, gue udah netapin hati. So, gue pilih cari sugar daddy"
Asya berlari menuju pintu ke kelas, dia berusaha kabur setelah menjawab dengan jawaban nyeleneh.
"Sugar daddy untuk apa? Dimakan?" Haikal menatap Dino sinis.
"Kan papa gula, oooh ada ya makanan papa gula?"
▪▪▪
Azril berjalan santai menuju toilet, hukuman yang di beri Ica tadi membersihkan perpustakaan dan toilet.
Ketika Azril baru keluar dari satu toilet, ia menemukan roti dan air mineral di atas wastafel. Azril mengambil kertas yang ada di selipan roti.
“Semangat master exoticdevil”
Azril tersenyum hambar, 'gue di phpinn doang apa gimana sih?! Gue udah niat mundur, tapi dia malah.. Ah bodo amatt' batin Azril kesal
Azril lanjut mengepel lantai.
"Semangatt, pakk!!" Azril menoleh lalu tersenyum.
"Lu gak balik?"
"Gue nungguin lu"
"Omong kosong!" Viona tertawa.
"Lu serem tau kalau ngamuk, gue gak ngeliat lu sebagai Azril tadi."
"Kalau gue ngamuk kek tadi, gue memang bukan Azril. Tapi Kenzi."
"Alter ego??" Azril menggeleng.
"Asya seringnya panggil gue Ken kalau dia marah, dan panggil gue Ken kalau gue marah juga."
"Kok Ken??"
"Vionaaa, nama gue Azril Kenzi Stevano. Di tengah ada Ken-nya, maka dari itu di panggil Ken."
"Kalau gitu gue panggil pano gimana?"
"Kagak kagak, mau digeplak lu?" Viona tertawa.
"Nama lo panjang banget, Azril Kenzi Stevano Kusuma."
"Nama lu??"
"Cuma dua kata, Viona Nabila."
"Cakep ya, secakep orangnya."
"Aahh buaya junior" Azril tertawa disusul Viona.
__ADS_1
"Opsss maapp, ganggu orang pdkt pula"
"Sejak kapan lu di pintu, syaa??"
"Sekitar satu detik yang lalu"
"Satu menit bambang" Asya tertawa pelan.
"Lu udah selese, jril? Ayok balikk"
"Gue ada latihan futsal hari ini, lu sama Racksa aja sana balik"
"Latihan apa anjirrr?!" tanya Racksa kaget.
"Ini contoh manusia yang kudet, buka hp lu" Racksa merogoh sakunya lalu membuka grup chat tim futsal mereka.
"Lah iya, lu sama Arsen aja lah, sya"
Asya menatap sinis Racksa lalu mengambil ponselnya, "kan jam tiga. Sekarang masih jam duaa, balik dulu kek"
"Lagian latihan buat apa sih?" tanya Viona.
"Nah iya, buat apaa?"
"Buat sparing sama sma lain"
"Alah sok sok sparing, endingnya kalah yang ada gelut"
"Nggak lah, kami sportif"
"Taii!! Ahh gak mau tau gue, pokoknya kalian pulang dulu!!"
"Aw aww, bawel bangett mata gede" Asya menatap datar Azril.
"Btw vi, lu kagak balik??"
"Balik bentar lagi, gue nunggu kak Vernon"
"Kak Vernon atau kak Jodii" goda Asya.
"Kak Vernonnn."
"Yah vii, sayang banget lu jadinya sama kak Jodi. Padahal gue mau lu sama Azril"
"Hah?!" keduanya terkejut.
"Ni anak ngomongnya asal teros" Asya tertawa.
"Gue tunggu di mobil, gue mau cari Tara sekalian. Gak ada alasan, pokoknya balik dulu!!!"
Asya pergi meninggalkan mereka bertiga, "syaaaa tungguu!!"
▪▪
"Sya, kata kak Fauzi. Hari ini dia pulang"
"Hari ini? Tapi katanya tiga hari"
"Ntah tuh, gak jelas."
"Jadi nanti malem lo balik ke apartemen?" Tara mengangguk.
"Ehh, itu kak Fauzi" Asya menoleh, Fauzi bersandar di mobilnya dengan pakaian santai.
Tara berlari menuju Fauzi, ia memeluk Fauzi tanpa perduli tatapan siswa siswi lainnya. Begitupun dengan Fauzi, dia membalas pelukan sang adik.
"Katanya tiga hari kak?" tanya Asya.
"Saya percepat biar bisa ketemu kamu."
'Tolongin tolong, GUA BAPER!!!' batin Asya menjerit. Dia menunduk karena pipinya yang memerah. Fauzi tersenyum gemas melihatnya.
"Asya pulang sama siapa?"
"Asya lagi nunggu Racksa sama Azr--"
"Syaa" Azril muncul.
"Eh pak Fauzi udah balikk" Fauzi tersenyum.
"Asya mau pulang sama saya?" tawar Fauzi.
"Oh tidak bisa, Asya pergi sama saya dan harus pulang sama saya" Arsen tiba-tiba muncul.
Racksa dan Azril bersidekap dada, "tontonan gratis sa" bisik Azril.
"Siapa yang menang kira-kira?"
"Gak ada" Azril dan Racksa terkekeh pelan.
"Siapa yang mengharuskan Asya pulang sama kamu? Bukan orang tuanya, kan?"
Arsen terdiam, "lebih baik sekarang anda pergi, Asya pulang sama saya"
"Saya tidak yakin Asya mau pulang sama kamu"
"Anda pikir Asya mau pulang sama anda? Hahaha jangan harap, PAK!"
__ADS_1
Asya yang berada di sana dan menjadi topik perdebatan memegangi kepalanya, "aku benci keributan."