Barbar Generation

Barbar Generation
Prankk~


__ADS_3

06.07, pagi ini mereka tidak kesiangan lagi.


"Hwaahhh!! Morning, world." Sapa Asya sambil meregangkan otot.


Ia mengintip ke luar, yang lain sedang menikmati indahnya air terjun. Asya pun keluar dari tenda dan ikut bergabung.


"Tumben udah bangun?" Tanya Shaka sedikit meledek.


"Nyenye!" Shaka tertawa lalu merangkulnya.


"Enak bangettt pagi pagi disinii," kata Alvin.


"Ademmm."


"Gak pengen pulaang!" Sahut Shaka.


"Mau lanjut hari?" Tanya Alex.


"Gue nggak bisaa. Ada urusan," jawab Alvin.


"Nah, samaa."


"Oke fix. Ini hari terakhir."


Mereka kembali menatap air terjun.


"Pulang besok aja dehh yaa." Rengek Asya.


"Besok pagi?" Asya mengangguk.


"Iya, besok pagi ajaaa." Pinta Ara.


"Yaudah kalau mau besok, ya besokk."


"Yess!" Asya dan Ara bertos ria.


"Arsen manaa?" Tanya Asya.


"Ke rumah tadi."


Asya mengangguk paham. Satu menit setelahnya, ia masuk ke rumah.


"Senn?"


"Hm??"


Asya melihat Arsen yang sedang memegangi perut diatas sofa.


"Lu kenapaaa?"


"Perut aku sakitt." Asya mendekat menatap Arsen.


"Udah minum obat??" Arsen menggeleng.


"Ishh! Harusnya minum obat duluuu!"


"Obat apa? Aku gak tau mau minum obat apaa."


Asya berdecak kesal. Ia sedikit khawatir melihat Arsen.


"Udahh, tenang ajaa. Beberapa menit lagi sembuh kokkk." Kata Arsen sambil senyum.


Asya duduk di sebelah Arsen.


"Aku panggil Onty Febby, yaa?"


"Nggak usahh. Udah ku bilang bentar lagi ilang sakitnyaa."


"Sakit mau pms, yaa?"


Pletak!


"Aku cowokkk!" Asya cengengesan sambil mengelus jidatnya. Di sentilnya nggak kuat sii, tapi buat jidat Asya merahh.


"Sakitt?" Tanya Arsen.


"Nggaaa."


Arsen mendekat ke Asya dan mengelus jidatnya. "Maaff ya, cill."


"Cal cil muluk, heran bangett!!"


Arsen tertawa, "kamu tu tua tua gemesinn. Udah tua masi keliatan bayikkk, makanya aku panggil cill."


"Iya deh iyaa. Terserah Pak Biawak ajaaa." Arsen menatap sinis Asya. Asya tertawa kecil melihatnya.


"Masih sakit perut, Pak Biawak??"


"Ishhh, yang bagusan gitu kenapaa siii."


"Eumm... kamu panggil aku cill, aku panggil kamu coll."


Arsen tertawa, "jangan ituuu! Otaknya travelling nanti kalau yang gak pahamm."


"Ya apa dong jadinyaa?"


"Cenn ajaa ni cen. Gimana?"


"Terserah kamuu dahh, Cilll." Asya cengengesan.


"Masih sakit gakk?" Arsen menggelengkan kepala.


"Lah bisa tiba-tiba ngilang??"


"Karena liatin kamuuu makanya bisa ngilang."


"Bacott bangett siiiii!"


"Wihhh, serius padahal."


"Bodo amaattt, ga denger ga dengerrrr." Asya beranjak pergi.


"Eitss..." Arsen menarik tangannya. Asya terjatuh di pangkuan Arsen. Mereka bertatapan.


"ASTAGHFIRULLAHALAZIM. ISTIGHFAR WAHAI ANAK MUDA!" Asya langsung bangun dan pergi.


Arsen sendiri tertawa melihat ekspresinya.


"Lu apain kakak gueee, cabangparr?!"


"Cabangparr?"


"Calon abang ipar."


"Sianjirr, sabisanyaaa." Azril tertawa.


"Ayoo keluarr. Senammm!" Ajak Azril.


"Senam apaan begee?"


"Gak tau guee. Naina sama Ara ngajakin senam tadi. Bodyguard juga ikuttt," jawab Azril sambil beranjak keluar rumah.


Arsen mengikutinya.


"CEPAAAAAAATTTT!" Teriak Asya.


"Rasa pengen penggal palanya!" Asya cengengesan mendengar ucapan Azril.


"Teriak teruss, sakit tenggorokanmu nanti cill." Omel Arsen.


"Bacot dihh."


"Ribut terusss. Udahhh ayok, senamm!"


"Hana dul dul dul set." Alvin kumat sintingnya :`


"Lu ngomong pake bahasa Swisss cepetan!" Titah Ara.


"Jangan gituu. Malu guee!"


"Malu apaaan? Punya lu?" Tanya Naina.


"Paakk.. Pak Caakk, anakmu ni dibullyy."


"Najiss!"


"Gak ada yang bela, mampusssss kauu!" Ledek Asya sambil tertawa puas.


"Astaghfirullah...." Alvin mengelus dada melihatnya.


"Cup cuppp!" Azril menghampiri Alvin.


"Lap ingusnya duluu yaa, pake baju Alex ajaa."


"Gue diem dari tadi anjeerrrr. Gue juga yang kenaaaa," Mereka terkekeh mendengarnya.


"Para bodyguard udah nunggu la begokk, jadi apa nggaa?!" Tanya Dino sinis.


"Bodyguard aja kekeh liat lu pada, gak terasa nunggu mereka mah. Yekan om bodyy?" Mereka menanggapi dengan anggukan kepala.


"Om body?"


"Bodyguard, body."


"Semerdeka lu, Cill. Semerdeka luuu!" Asya tertawa kecil.


Setelah lama bacot dan drama yang terjadi, mereka pun senam. Shaka melihat dari laptopnya Azril yang lain pun mengikuti Shaka.


Seusai senam, mereka lesehan di rerumputan.


Para pria --kecuali bodyguard-- melihat ke arah Asya, Naina, Ara dan Yuna secara bergantian.


"Apaaa?!" Tanya mereka yang tiba-tiba kompak. Pria pria itu tidak merespon dan tetap menatap.


"Lempar permen yuuu!" Ajak Asya.


Mereka mengambil permen yang ada di depan.


"Tu.. waaa.. gaaa!"


Mereka berempat melemparnya juga secara bersamaan. Ada yang mengenai hidung, pipi, mulut, kening, leher dan lain sebagainya.


Pria pria itu meringis kesakitan.


"Ganass banget lu padaa." Keluh Azril.


"Salah siapa natapp?! Ngapain natap natap?" Tanya Naina.


"Ngetes doangg. Kalau gini kan lumayan amann." Jawab Azril.


"Ngetes apaa? Aman apaa?"


"Kalian di tatap aja ngamuk, gimana kalau dia sentuh?"


"Yakin gue, yang nyentuh badannya auto remuk." Mereka tertawa.


"Astaghfirullahalazim..."


Asya beranjak dari tempat duduknya. Tiba tiba, kaki Azril menahannya berjalan.


Asya berusaha menendang kaki Azril, tapi tidak bisa. Azril tersenyum miring.


"Abis ilmu lu?" Ledek Azril.

__ADS_1


"Hah? Nggaaa." Azril menarik kakinya membuat Asya terjatuh. Azril kembali tersenyum miring ketika melihat Asya kesakitan.


"Lapor daddy ahhh, ilmunya abis karna kebanyakan bucinnn."


"Hehh nggaaa!"


"Let's test." Asya berusaha bangkit.


"Hehhh, lu bedua mau gelut apa ginanaa?" Tanya Ara.


"Mereka adu kekuatan. Si Asya udah lupa yang di ajarin sama bokapnya, jadii yaa gitulah." Jelas Racksa.


"Udah gue bilang gue gak lupaa!"


"Gak lupa tapi tadi jempalikan." Ledek Shaka.


Asya menatap kesal mereka.


Dengan gerakan tiba tiba Asya salto dan tendangannya mengenai Azril.


Azril mundur karena tendangannya mengenai dada.


Terjadilah perbakutumbukan antar mereka berdua. Keduanya sama sama tidak mau mengalah. Sampai akhirnya, Asya kalah dari Azril.


Asya lelah dan rebahan santai di rerumputan sembari mengatur pernafasan.


"Yah kalah diaaa." Cibir Azril sambil tertawa, Asya diam masih mengatur nafas.


"Dah lupa betul kanjeng ratuuu." Ledek Dino.


"Bukan lupaaa. Gue laper karena belum sarapaannn."


"Gayaamuuu lah laahh. Coba lawan Arsen," Asya langsung bangun.


"Kuy!"


"Gak mauu. Besok aja kalau dah nikah, gelut di ranjang."


Plakk!


Sepatu Asya mengenai jidatnya. "Istighfar brader!" Arsen cengengesan.


"Padahal udah gue bilangg, gue lebih gantengg." Sahut Alex.


"Nyeh, mimpi sana lu. Jelas banget gantengan gue."


"Dihh. Gelut kita?" Tantang Alex.


"Ayok!!"


"Heh hehh! Gue lempar pake galon ntar lu bedua." Omel Haikal.


"Gantengan siapa, Kal? Gue atau Alex?"


"Gue."


"Bangsatt." Haikal nyengir.


"Tanya Asya aja deh. Gantengan gue atau Arsen, Sya?"


"Gantengan... om sunda!" Bodyguard Aska langsung menoleh, melihat Asya yang tersenyum.


Seketika Arsen mendekat dan menutupi muka Asya dengan baju kaos yang ia lepas lalu pergi.


Asya membukanya kemudian menatap Arsen yang berjalan menuju rumah.


"Ngapa tu anak?" Tanya Naina bingung.


"Berdosa banget dia, sumpah. Bisa bisanya ngelepas bajuu, untung mata gue gak liat yang aneh aneh kann." Kata Ara sambil mengelus dada.


"Apa maksud? Roti sobek??" Tanya Haikal, Ara mengangguk pelan.


Haikal mengangkat bajunya, "gue ada enam pack."


"ASTAGHFIRULLAHALAZIM, MASIH PAGIII!"


◕◕◕


15.36


"Cennn, pinjem hapee." Pinta Asya.


"Mau buat apaa, Cill?"


"Cari cogan lahh." Arsen menatap Asya kesal. Meskipun begitu, ia tetap memberikan ponselnya.


"Mau ngapaiinn?"


"Ga ngapa ngapainnn." Jawab Asya sambil memainkan ponsel Arsen. Beberapa diantara mereka sedang pergi ntah kemana. Hanya tersisa Asya, Arsen, Azril, Naina, Racksa dan Alex.


Asya dan Arsen yang sudah bangun dari tidur siang. Mereka bedua berada di bawah pohon sekarang.


"Masih ngecek hp?" Asya menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arsen. Arsen mengelus lalu mengecup lembut rambut Asya.


"Wangi sampoo lepboi." Asya tertawa.


"Kan kalian yang make ituuu."


"Kamu ngga?" Asya menggeleng.


"Liat apaan sih??"


"Gaadaa. Cuma pengen liat ajaa." Arsen membiarkan Asya.


"Mana hp mu?"


Asya mengeluarkannya dari saku celana, "nihh."


Mereka berdua saling bertukar hp, Asya bermain pou di ponsel Arsen. Arsen bermain game game gak jelas di hp Asya.


"Panas di tendaa." Jawab Asya.


"Nyebur enak nii, sekalian mandi sore kannn."


"Nanti ajaa. Masih siang inii," larang Shaka. Mereka mengangguk setuju.


Tiba tiba notif masuk dihp Asya.


"Ngapain ngirim foto Alex??" Tanya Arsen sinis.


"Em? Terkirim berarti, bukan mau ngirim yang itu tadiii."


"Halahh, banyak bongaknyaa." Arsen menghapus foto Alex.


Dengan kesengajaan, Asya mengirimkannya lagi.


"Cilll." Asya cengengesan.


"Apaan dah? Kenapaa?"


"Asya ngirim foto Alexx."


"Dia suka sama gueee ituu. Udah gue bilang dari tadii juga."


"Mimpi aje lu sonooo! Kagak ada yang demen sama lu geblekkk."


"Astaghfirullah.. truee!" Mereka tertawa.


"Adinda kan adaa." Ledek Ara.


"Ssstttt, diam. Dia babu."


"Anjirrr."


"Dendam si dendam, Lex. Tapi jangan sampe lu ngelakuin hal hal yang seharusnya gak lu lakuin. Contoh? Ngilangin mahkotanya."


"Gak pernah, Kaa. Seriuss. Bisa aja udah jebol sii, kan dia punya sugar daddyy."


"Ihh, gila betul punya sugar daddyy." Cibir Naina geli.


"Lu punya?" Tanya Azril.


"Kagak."


"Good girll." Azril mengelus rambutnya.


"Cemana cara dapat sugar daddy?" Tanya Asya.


"Nah iya, cemana?" Tanya Yuna ikut ikutan.


"Lu bedua butuh sugar daddy?" Alvin sinis.


"Yaa nggaaa, bang. Cuma pengen tau aja dapet darimanaa?"


"Benerrrr." Sahut Asya.


"Alahh, bilang aja pengen nyari sugar daddy." Cibir Arsen.


"Fiks, kamu cenayang!" Arsen menatap datar Asya yang sedang cengengesan.


"Ngomongin Dinda, lu bakal bales dendam gimana?" Dino menatap Asya.


"Masih gue pikirin. Bales tipis tipis aja duluu, kalau dia makin kurang ajar baru gue buat mampusss tu anakk."


"Lu sendiri, Lex? Gak ada niatan buat mutus hubungan?"


"Gila kali gak mauu. Gue nunggu waktu yang pass, biar dia terpuruk sekalian."


"Eh baru inget guee! Waktu itu, yang lu selingkuh ituu. Kami ada kasih metode buat jatuhin luuu." Ujar Azril.


"Gue tauu, udah gue tanganin itu. Jadi aman."


"Kereennn! Mantep juga lu, Lexx." Asya mengangkat jempolnya sambil melihat Alex.


Alex membalas jempol Asya dengan jempolnya. Semacam tos jempol.


"Hadehh! Sabar, Sen, sabar." Asya cengengesan.


"Foto foto yokk? Gue bawa kameranya nyokap," ajak Shaka.


"Belum mandi peak. Ntar ajaaa."


"Yauda kalau maunya ntarrr."


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Asya masih memegang ponsel Arsen sambil menyandarkan kepala di paha Arsen.


"Aaaaaaaa!" Asya melempar ponselnya.


"Dih, anjirr kenapaa?" Tanya Haikal.


"Hantuu anjirrr. Ih gilak, jump scareee!" Asya duduk. Bayang bayang hantu tadi masih terngiang-ngiang di otaknya.


"Tenang tenanggg." Arsen mengelus punggungnya. Asya langsung berbalik memeluk Arsen.


"Ehhh, btw, hpnya Arsen kemana?" Tanya Alvin yang tersadar.


"Lah iyaaa kem– NYEMPLUNG BEGOOKK."


Asya melepas pelukan, "seriuss??" Mereka mengangguk.


Asya pun menuju pinggiran untuk melompat ke dalam.


"Hehh heh!! Mau ngapainn??" Tanya Arsen.

__ADS_1


"Nyemplung, ngambil hp." Arsen menghampirinya.


"Kamu di sini ajaa, biar aku yang ambil."


"Tapi–"


"Biar aku aja."


Asya auto mundur. Arsen melepas kaosnya menyisakan singlet lalu menjatuhkan diri ke air.


Asya melihatnya, ia merasa bersalah karena asal melempar ponsel Arsen.


"Gak jumpa hayolahh." Alvin menakut-nakutinya. Asya pun menatap sinis Alvin.


"Tuman bangett asal lemparr."


"Diemm lu padaa! Ntar gantian gue ngelempar lu pada!" Mereka auto terdiam.


Dua menit kemudian Arsen naik sambil membawa handphonenya. Tidak ada yang rusak bahkan ponselnya tidak mati sama sekali.


"Jauhh di dalem jatohnya?" Arsen menggeleng.


"Untung aja airnya jernih."


"Hp mahal mah beda yaaa. Nyemplung lama padahal, masih aja idupp tuh." Arsen mengsmirk mendengarnya, ia menoleh ke Asya.


"Sorrryy."


Arsen tertawa melihat ekspresi Asya, "no problem, Cill."


Asya mendongakkan kepalanya.


Tangan Asya mendorong Arsen keras. Arsen pun jatuh ke dalam air.


"Anak begooo!" Cibur Alvin sambil lompat dengan sendirinya. Beberapa diantara mereka nyusul nyebur kecuali para betina.


"Ayok masukk!" Ajak Arsen.


"Gak mauuukk!" Arsen berusaha naik, ia mendekatkan diri ke Asya.


"Kenapa? Apaa?" Arsen tersenyum, ia menggeleng.


Tiba tiba saja, Arsen menarik pinggang Asya. Asya yang terkejut, terus menatap matanya.


Arsen tersenyum smirk kemudian menjatuhkan tubuh kebelakang bersamaan dengan Asya. Mereka nyebur bersama.


"Ashhh! Arseeeeeenn!" Arsen tertawa mendengarnya. Ia menggendong Asya dari dalam air.


"Seger kan?"


"B aja!"


Arsen membawa Asya kepinggir dan mendudukkannya disana. Arsen menyingkirkan rambut rambut yang menutupi kecantikan Asya.


"Apaan mandang muluu?"


"Lu cantik! Kebangetan cantiknya." Asya tertawa.


"Modus bangetttt siii." Jawab Asya sambil mendorong muka Arsen. Arsen tertawa lalu menggenggam tangan Asya.


"Istighfar lu bedua. Gue tenggelemin ntar!" Kan, bapak Caka mengamok.


Arsen pun menjauh. "Ampun deh, Pakk!"


Yang lain tertawa melihat Arsen.


Asya yang malu mencoba untuk berdiri, but, dia malah terjatuh. Mereka tertawa melihatnya.


Asya yang kesal pun mencoba untuk berakting.


"Syaa?" Mereka menghampiri Asya.


"Astaghfirullah. Kok mati dia?"


"Cangkemmu jancoo!" Asya langsung sadar mendengar perkataan Dino. Mereka tertawa lagi.


"Kayu buat ntar malem abiss tauuu." Yuna turun sambil membawa cemilan.


"Mauuu," rengek Dino. Yuna mendekat dan menyuapinya.


"Berasa ngenes banget gue disini." Keluh Racksa, mereka terkekeh.


Bruk brukk..


Mereka menoleh. Beberapa kayu sudah tersedia di sana. Para bodyguard yang membawanya.


"Daebakk!"


"Makasiii, om bodyyy!!" Bodyguard membalas dengan senyuman lalu pergi.


"Kalau udah siap mandi, naik. Ntar masuk angin," kata Naina sambil melirik tipis Azril.


"Iyaa sayaang." Jawab Azril.


"Hmm.. pengen banting mata." Azril tertawa.


Secara bersamaan mereka naik.


Arsen yang paling awal bangun mendekati Asya dan menutup mata Asya dengan kaos bajunya.


"Lah?"


"Cill ga boleh liat enam kotak cowok kecuali gue!"


◕◕◕


"Gue mau mandiii." Asya pergi kerumah sambil membawa perlengkapan. Di dalam, ia menemukan semacam darah palsu. Terlintas lah ide jahil di otaknya.


'Prank prank prankkk~'


Di sisi lain..


"Gue mau ambil minum." Ara masuk kerumah.


"AAAAAAAAAAA!" Dengan sigap mereka menghampiri Ara.


"Kenap– ASYAA?!"


Mereka mendekati Asya yang tengah tiduran di lantai. Darah berserakan di area kepalanya.


"Syaa.. bangunn! ASYAA! PANGGIL AMBULANCE!!" Teriak Arsen panik. Dibandingkan dengan Azril, Arsen berkali-kali lipat paniknya.


"Syaa. Asyaa bangunn!! Asyaaaa!"


"Syaa, bangun dongg!" Rengek Alvin.


"Mana ambulancenyaaa?!" Tanya Azril kesal.


Shaka berusaha tenang. "Asya masih hidup, Asya masih hidup."


"Ehm ehm. Selamatt, kalian kena prank. Kameranya disanaaaa." Teriak Asya tiba tiba.


"Anjingg."


"Goblokk."


"Pea lu!!"


"Tololl."


Mengumpatlah semua orang disana karena ulah Asya. Asya duduk sambil cengengesan.


"I'm finee."


"Ini darah apaan begoo?!" Tanya Haikal sinis.


"Oh itu? Darah palsu."


"Kesal guee ah!" Protes Yuna.


"Anjir anjirr. Sayang air mata gue." Keluh Ara.


"Air mata gue masuk lagi nih," sahut Naina. Asya tertawa melihatnya.


Mendengar Arsen tanpa suara, Asya menoleh kearahnya.


Sinis, ngambek, kesal, emosi, panik, menyatu dalam tatapan Arsen. "Pranknya gak lucu!" Arsen pergi.


"Yah yahh.. ngambek yaahhh."


"Mampusss lu, dia ngambek bisa sampe bertahun-tahun." Cibir Alex.


"Berisik lu!!" Asya mengejar Arsen.


"Ceenn.. Jangan ngambek atuhh, kan pura-pura." Arsen benar-benar tidak merespon, bahkan menoleh saja tidak.


"Arseenn!" Asya menjegatnya didepan. Arsen terhenti dan kini menatap Asya.


"Maafff, xixixi." Arsen masih terus menatap. Puppy eyes Asya membuat Arsen tidak tahan untuk diam.


Arsen menarik tangan Asya, Asya pun jatuh ke pelukan Arsen. "Gak usah prank prank kek gitu! Aku panikkk!"


Asya membalas pelukan sambil cengengesan.


"Aku pikir kamu beneran kenapa kenapaa. Aku takut kamu pergi ninggalin akuuu." Asya terdiam kali ini.


Arsen melepas pelukan, Asya melihat mata Arsen yang benar benar kelihatan panik seperti tadi. Tangannya masih berada di pinggang Arsen, ia tidak berniat melepasnya.


"Kenapa natap?" Tanya Arsen.


Asya menggeleng lalu memeluk Arsen erat, "maaff."


"Jangan diulang!" Asya mengangguk pelan.


Satu menit kemudian..


"Oke, cut!" Asya dan Arsen menoleh.


"Oasuu, ganggu." Mereka tertawa.


Asya melepas pelukan, ia mendekati Ara dan yang lain. "Maap yeehh!"


Keempat wanita itu berpelukan layaknya teletubbies.


"Besok besok pranknya lebih ekstrim lagi! Prank jatoh dari genteng sekalian." Omel Shaka, Asya cengengesan mendengarnya.


Pelukan mereka terlepas, Asya berbalik. Ternyata bertepatan dengan Alex. Alex menatap mata Asya, begitupun sebaliknya.


Arsen kesal, ia masuk ke tenda untuk mengambil pena. Mencoretkan sesuatu ditelapak tangannya lalu kembali keluar.


Arsen menghampiri Asya dan menepuk jidat Asya. Tertulis dijidatnya, 'PUNYA ARSEN!'


Mereka tertawa melihat tulisan itu.


"Apaan weh?" Tanya Asya.


Karena tidak ada yang menjawab, Asya mengaca di ponselnya. Setelah tau, ia menoleh ke Arsen.


"Apa?"


"Apa apa. Ini apaan coba??"


"Ya apaa? Kan benerr, lu punya gue."

__ADS_1


"Teruss, maksudnya?"


"Maksud apalagi si, Cill?? Kan udah jelas, lu punya gue. Gak bisa ditawar lagi, pokoknya lu punya gue!"


__ADS_2