
07.45
"Arsenn, ntar remed bagi tau guaaa"
"Remed apaaa?" tanya Asya berbalik.
"Matematika, katanya mau ada remedial" jawab Irgi.
"Nama yang remed udah pada tau?" tanya Racksa.
"Belomm, tapi tadi pas gue sama Arif lewat depan ruang dewan guru. Bu killer bilang bakal ngadain remedd" Racksa berohria.
Asya langsung menatap heran Racksa, "sok cool banget lu di sekolah." Racksa diam.
"Racksa kan emang ketua dingin, sya" sahut Arif.
"Dingin?? Ahahahaah!! Jaim doangg woiii sumpahhh, dirumah dia tu g--"
"Jangan buka aib" bisik Racksa sambil menutup mulut Asya.
"Naksss asuhh" Racksa tersenyum smirk, ia melepas bekapannya lalu duduk kembali.
"Lu bedua serumahh?" tanya Rafy.
"Nggak bedua, betiga sama Azril"
"Loh? Ortu luu?"
"Beda rumahh"
"Oh iyaaa, orang kayaaaa broooo. Rumahnya beserakkk" kata Irgi antusias.
"Gue mah gak kaya, emak bapak gue doang yang kaya" jawab Asya santai.
"Iya juga"
"Syaa, kalau lu diajak pergi jalan sama cowok terus diajak makan di ampera pinggir jalan mau?"
Asya mengangguk, "why not? Yang penting kenyang"
"Wahhh, kalau diajak susah mau?"
"Nggak. Bokap gue susah payah senengin gue yakali gue mau diajak susahh"
"Kusuka kejujuran mu nakk" puji Irgi. Asya cengengesan.
"Janggall, Arsen ngape diem ajee?" Asya melihat ke arah Arsen.
"Sen?"
"Ha??"
"Lu kenapa dahh?" tanya Irgi.
"Gue gapapa, nyimak aja secara aesthetic"
"Gue tebak, lu sariawan kan?" tanya Rafy. Arsen mengangguk.
"Lu kok tauuu?" tanya Arif heran.
"Hapal gue mah. Ada dua alasan Arsen diem, pertama dia marah atau ngambek dan males bicara. Yang kedua dia lagi sariawan" Arsen nyengir mendengar itu.
"Lu mau gue ambilin lasegar?" tanya Asya.
"Gak usahh, liat lu juga sembuh ntar"
"Modus" Arsen tertawa.
"Assalamu'alaikum anak-anakk" guru mereka masuk.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh buu" jawab mereka serentak.
"Remednya ibu tunda, ternyata soal ulhar kemaren ada beberapa soal yang belom ibu jelaskan. Kita masuk ke materi yaa" Guru pun mulai menjelaskan.
"Alhamdulillah kagak jadi remeddd!!"
"Seneng banget gua, kea dapet daging lima ton" bisik Irgi.
"Alay lu padaaa" sahut Arsen.
"Hesianjirr"
"Bodoo kuy mabarr"
"Tololll, itu ntar ngamuk gimana?!"
"Santai ada Arsen"
"Lah annjinggg kok jadi guaa?!"
Brukk!!
"Arsen!! Kamu ribut doang di belakang. Maju sini, kerjakan!"
"Buk, bukan say--"
"Jangan membantahh!!"
"Astaghfirullah.. Lu bedua yang ribut, gue yang kenaa" kedua teman Arsen cengengesan.
Dengan muka sengaknya, Arsen berjalan menuju guru matematika di depannya.
"Yang mana bu?"
"Ini! Kamu cari X"
"Gitu doang, buk??" bu guru mengangguk.
"Inii mah gampang"
"Liatlah betapa songongnya manusia ini" cibir Asya. Arsen melihat ke Asya sekilas sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Najis" Arsen tertawa.
"Cepat kerjakan!"
Arsen menghadap papan tulis. Dia melingkarkan huruf X yang ada di papan tulis.
"Cari X kan buk? Itu X"
"Bukan gitu konsepnya oon" cibir Arif.
Arsen tertawa. "Ajarin dong"
"Nah, Arif, ajarin Arsen" pinta guru matematika.
"Lahh saya buk?? Asya aja nih bu, auto ngejreng Arsen-nya"
"Guee pulaaa yang kenaaa" gumam Asya kesal.
"Asya majuu, ajarin Arsen."
"Saya buk? Racksa aja buk, saya diajarin Racksa"
"Gue dari tadi diem, Sya. Kagak ada ngajarin lu. Mending lu maju noh, ajarin"
"Selaknat laknatnya si laknat, lebih laknat lu ya sepupu laknat" Racksa tertawa pelan.
__ADS_1
"Maju, sya. Ajarin tuh playboy kurang belaian"
"Tandai lo, gi!"
Satu kelas tertawa melihat muka kesal Arsen.
"Maju sya, time is monyet"
"Time is money pe'ak! Kenapa jadi monyet?" tanya Racksa sinis.
"Keseleo dikit" Rafy cengengesan.
Guru matematika mereka hanya menggelengkan kepala karena keheranan. "Asya ayo maju, ajarin anak degil satu ini"
Asya menghela nafas lalu berdiri menghampiri papan tulis. Asya menjelaskan sama seperti yang diajarkan guru matematikanya.
Arsen hanya beberapa kali mengarahkan pandangan nya ke papan tulis. Kebanyakan pandangannya menuju ke arah wajah Asya yang sedang menjelaskan.
"Arsen paham?" Arsen baru sadar, penjelasan telah selesai.
"Hah? Sedikit buk" Arsen memang paham, dia mengerti matematika. Dia jago matematika, namun tidak ada yang mengetahui itu.
Arsen cukup pintar sebenarnya, namun dia berpura-pura menjadi bodoh, menjadi playboy, menjadi fakboy, untuk kesenangan diri.
Ia merasa tak ada yang perlu dibanggakan ketika ia menjadi pintar. Dan Arsen lebih suka pura-pura bodoh.
"Coba ulangi penjelasan Asya tadi" Arsen terdiam.
"Jangan sampe gue ngulang lagi yaa!" ujar Asya garang. Arsen tersenyum, "saya kurang paham buk. Sekali lagi"
"Rasa ingin meng-headshot kepala Arsennn" lirih Asya kesal. Mereka tertawa.
"Saya paham kok, buk" Arsen mengulang penjelasan Asya.
"Nahh, bagus! Next time jangan gibahin saya di belakang"
"Pedean ibu ya? Saya gibahin Asya" Asya mengepalkan tangannya tepat di depan mata Arsen. Arsen cengengesan.
"Kalian pacaran tidak tau tempat, yaudah sana balik ke tempat" Asya dan Arsen kembali ke tempat duduk. "Yang pacaran juga siapa.." gumam Asya.
Arsen mendekat ke Asya. "Lo cantik banget, gue terpanah" bisiknya.
Asya tersenyum receh. "Buaya atau komodo lu?"
▪▪▪
"Ehhem ehhem" Arsen mulai memetik gitarnya.
"Terpesonaa, akuuu...."
"Bukanlaahhh ahliii surgaaa" Arsen menampol jidat Irgi.
"Kenapa nyasarr tolill?!" Irgi nyengir dengan wajah tanpa dosa.
"Diemm lu diemm!!"
"Ehemmm"
"Terpesonaa.. aku terpesonaa.. menatap (menatap) wajahmu yang manis"
"Aseeequee, yang lagi jatuh cintaaa" ledek Rafy menyindir Arsen yang bernyanyi sambil menatap Asya yang sedang bermain voly.
"Bacott"
"Sampe mana perjuangan bos?? Makin dekat??"
Arsen menghela nafas, "cemana mau dekat. Saingan gue bertambah"
"Nambah lagii? Siapa? Vernon??"
"Bukan. Ada om om yang pernah di tolongin Asya, sekarang jadi suka juga dia sama Asya"
"But, is okay. Gue Arsen, pantang menyerah!" Arsen memberikan gitarnya pada Irgi kemudian menghampiri Asya yang duduk santai.
Ia menawarkan air mineral untuk Asya, "thank you" Arsen tersenyum. Awalnya ia kira Asya akan menolak, ternyata tidak.
"Lu keknya manusia gak pernah capek yaa, gerak mulu perasaan guee?" Asya cengengesan.
"Bukan gak pernah capek, gue tu malah lebih gampang capek kalau diem ajaa"
"Ooo, kalau gitu mau dong nemenin gue ntarr"
"Hm? Kemanaa?"
"Latihan fisik, nge-gym, dan sejenisnya"
"Deall!" Arsen tersenyum.
"Cieee yang beduaaann, cocok bangett uyy" ledek Azril yang baru tiba dengan susu di tangannya.
"Kamu tidak bisa diam samsull?!" tanya Asya kesal. Azril cengengesan.
"Gue mauuuuu!! Lu beli cuma satuuu???" Azril mengangguk santai.
"Pelit banget emang, bukan manusia lu ya!!"
"Beli lagi sonoo" jawab Azril.
"Jauuh ah maleess, mintaaa sini"
"Ogahh"
"Masih ku pantau, belom mu tabok" Azril tertawa kecil.
"Sa, jaim banget lu ya di sekolah?!"
"Orang ganteng itu kalem"
"Najissss"
"Iri bilang babu-ku"
"Ya Allah, kenapa hamba punya dua sodara kagak berakhlakk" keluh Asya sok dramatis, mereka cengengesan.
"Dahlah, gue mo cari temen cewek aja. Capeeek temenan sama kalyan, manusia laknatt"
"Pertanyaan gue gini, yang mo temenan sama lu siapaaa buu?!" Asya berfikir.
"Oh iya, gak ada. Nasibb terlalu imutt"
Pletakkk
"Kesal saya kesall, kepedeannya minta ampyunnn" Asya tertawa.
"Ehhh.. ntar lu pulang naik ojol ya? Gue sama Racksa main futsal"
"Okeee"
"Gak usah naik ojol, sama gue aja" ajak Arsen.
"Bukannya lu futsal jugaa?" tanya Asya.
"Iya emang, cuma gue gak mau lu pulang sendiri, takut di culik."
▪▪
"Nanti jam tiga gue jemput"
__ADS_1
"Lu kagak capeekk? Siap futsal pasti capek lahh"
"Nggak bakal, gue ketemu lu capeknya ilang."
"Bacottt, dahlahh" Asya beranjak masuk gerbang.
Mendengar suara motor Arsen berbunyi ia keluar mengintip, "hati-hati jangan ngebutt" Arsen mengangguk.
"Gue balikk" Ia pun pergi dari rumah Asya.
Asya yang takut ketemu sama om-om langsung berlari masuk ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum" Asya memasuki rumahnya.
"Bener ternyata kata Azril, gue penakut"
Perlahan Asya masuk ke kamarnya.
"AAAAAA MOMMYY!! ASYA TAKOOTTT" Asya buru-buru mengganti bajunya kemudian pergi ke dapur setelah itu lari ke halaman belakang.
"Tak mengertii, mengapa aku penakut"
Asya mengambil ponselnya di saku, ia duduk santai di ayunan belakang rumah yang bersebelahan dengan taman.
"Pengen nonton Sweet Home, tapi ntar rumah gue berasa Creepy Home" gumam Asya sambil memakan cemilan.
Ting...
...Biawak...
...online...
asyaaaaa
"Haruskah saya fast respon?" Asya mengetik sesuatu.
...Biawak...
...online...
^^^apee?? lu dimanee?^^^
kaga ape ape, gue rindu lu.
^^^biawakk betull ╥﹏╥^^^
lu dimana? berani sendirikan??
^^^heeemm^^^
kalau takutt, telepon guee. gue bakal tetep angkat meskipun sibukk
^^^lahh??^^^
pokoknya, kalau ada apa-apa langsung hubungin gue. om om ituu, kalau dia datang telpon gue!
^^^iyaaa baweell^^^
lv u
Asya langsung memegangi dadanya, "gak beres jantung gue, gitu doang langsung jedag jedug"
Brakkk!!
"What the.. apa ituuuuu anjiiiirrr?!" Asya memberanikan diri mendekat ke pintu belakang.
Perlahan, Asya membuka pintunya.
"Dorr!!"
"Anjjj bajingannnnnnn!! Aaaaaa!!!" Asya menggebuki Azril dan Racksa. Yang di gebukin malah tertawa ngakak.
"Udahh hehhhh"
"Huhasuuu, lu pada kan futsal"
"Gak jadii, lu takut mestikan?? Jelass"
"Diam!!" Asya langsung masuk ke rumah.
Beberapa jam setelah Asya ngamuk dan membanting pintu kamar. Azril pun bergerak menuju kamarnya.
"Hai cewekk, mau susu gakk?" Tidak ada respon.
"Mampusss lu, gimana nii?!" tanya Racksa.
"Heee gublukk, bantu bujuk laa!!"
"Ehem.. Asyaaa, ada om om di depan"
"Kenapa jadi om om tolollll?!" tanya Azril kesal. Racksa mengedikkan bahunya.
"Ceweekk, mau susu gaa??"
Ceklek..
"Susu lu?"
"GUE KAGA PUNYA SUSU GOBLOKK"
"Oh yaudah, gajadi" Asya masuk lagi.
"Astaghfirullah, dia kenapa sii? Jelasin tolongg" Keluh Azril sambil memegangi dadanya.
"Assalamu'alaikum"
Racksa menuju pintu, "ehh calon ipar. Silahkan masuk"
"Widiiiii, ganteng banget lu berkeringat gituu" puji Azril.
"Gue udah ganteng dari dulu" Jawab Arsen sambil menyeka keringatnya.
"Najjiss, nyesel mujinya" Arsen cengengesan.
"Asya mana?"
"Ngambek noh, gara-gara di kagetin"
"Lu buaya kan ya? Gimana cara bujuknya?" tanya Racksa.
"Gue jujur, kalau para mantan gue marah. Gue biarin, ntar juga chat gue sampe spam"
"Lahh?? Bisa gitu?"
"Maklum, orang ganteng mah beda"
"Di geplak enak nii" Arsen cengengesan.
Tok tok..
"Syaa, ayo main sepeda" Asya langsung keluar, Racksa dan Azril terkejut melihat Asya yang keluar karena satu kalimat dari Arsen.
"Ayoo"
"Syaa, lu... astaghfirullah"
"Iya, aku tau kok kamu ngefans pengen tanda tangan. Ntar pas pulang baju kamu aku tanda tangani. Udah ya, bye!" Asya menarik tangan Arsen keluar rumah.
__ADS_1
"Wahhh.. otak Asya makin korslet"