Barbar Generation

Barbar Generation
Nginepp


__ADS_3

"Saya sukanya kamu!" "Gue sukanya lu!"


Asya terpaku mendengarnya, satu bungkus cemilan di tangannya terjatuh. Mungkin ikut terkejut.


"Kalian berdua ngape si? Kagak waras??"


Arsen dan Fauzi menatap Asya sambil menggeleng, "saya waras, Asya."


"Gue yang waras, sya. Dia gila!"


"Hey manusiaa!! Deredeng deng deng deng!! Lihat jadi tontonannn"


Fauzi dan Arsen menoleh sekitar, benar saja mereka sedang di perhatikan. Bahkan banyak yang berbisik-bisik.


"Gini aja biar deal, kak Fauzi sama Arsen berdua.."


"Dih!!"


"Dah dih dah dih, dengarin dulu" Mereka berdua diam sambil berkacak pinggang.


"Kak Fauzi sama Arsen berdua, terus aku mau cari om om ganteng yang banyaaakkk duitnya, okeey? Byee!!" Asya pergi meninggalkan dua pria yang menatapnya heran.


"Heran gue, kenapa bisa suka sama tu anak"


"Kalau gak serius gak usah ngedeketin!! Anda buat Asya sakit hati, jangan harap nafas tenang!"


Di sisi lain, Asya mendorong trolinya santai masih mengelilingi tempat cemilan di mall.


Tanpa sengaja ia menabrak seorang pria di depannya. Asya mendekat, "sorry pak sorry. Maaf saya gak sengaja."


"Eh iya gak apa apa kok."


Asya menoleh, pria itu juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, mereka bertatapan dalam jangka waktu cukup panjang.


Sampai akhirnya Asya tersadar karena suara notifikasi ponselnya.


"Bole min--"


"Saya duluan pak, maaf sekali lagi" Asya langsung pergi tanpa mendengar ucapan pria itu lebih lengkap.


Asya menuju kasir, membayar semua cemilannya. Sebelum ke kasir, ia mengambil beberapa minuman kaleng dan susu untuk di rumah.


"Mbak, ini belanjaannya"


Asya ingin meraih belanjaan itu, namun Arsen datang. Ia mendorongnya pelan lalu mengambil alih belanjaan Asya.


"Berapa semuanya mbak?"


"Satu juta dua ratus dua puluh lima ribu lima ratus, mas."


Arsen mengambil kartu kredit di dalam dompetnya.


"Gue yang dapet challenge Arsen, biar gue ajaa"


"Gak ada yang tau juga kalau gue yang bayar"


"Gak usah buat gue kesel deh, biar gue aja yang bayar!!"


"Perlu saya yang bayar?" Pria yang di tabrak Asya tadi muncul.


"Gak perlu!" jawab keduanya kompak.


Asya langsung memberikan kartunya, Arsen terpaksa mengalah karena tak ingin Asya mengamuk.


"Mbak selebgram kan yaa? Minta foto bolehh?"


Asya terdiam, "saya lagi kayak gembel mbak. Ngajak fotonya pas saya lebih gembel aja ya" Mereka tertawa.


"Lu kalau mau ketawa gak usah di tahan ya, gembel!!" protes Asya ke Arsen. Arsen tertawa kecil.


"Emang kalau boleh tau kenapa, mbak? Kok mukanya cemong gitu??"


"Teman-teman saya mbak, serupa sama setan semua. Salah satunya ini nii" Asya menunjuk Arsen.


"Gapapa deh mbakk, masih cakep lohh"


"Oke deh, tapi jangan panggil saya mbak. Ketuaan gitu"


"Lu emang udah tua ya, jubaedah." ledek Arsen.


"Smackdown beserak otak lu!!" Arsen tertawa. Asya dan fansnya pun berfoto ria.


"Ini temennya kamu? Saya kira pacar" tanya fans Asya setelah berfoto.


"Pacar darimanaaa?! Masa iya saya pacaran sama buaya, kan gak betul"


"Sya gue udah tobat" sahut Arsen.


"Tobat ecek-ecek!!"


⚛⚛⚛


"Assalamu'alaikum, Asya kambek gaiseu!!"


"Dari mana??" tanya Aska.


"Beli jajan, daddy"

__ADS_1


"Mana jajannya??"


Arsen pun masuk sambil membawa cemilan yang di beli Asya.


"Astaghfirullah, Asya!! Kamu kenapa nyuruh Arsenn?"


"Astaghfirullah, mommyy. Asya gak nyuruh, Arsen yang nawarin diri."


"Maklum mommy, sebagai calon suami yang baik harusnya gitu. Dia tidak membiarkan wanitanya membawa beban berat" sahut Azril yang turun dari tangga.


"Gue bogem lu ya, gak usah ngacooo!!" Azril tertawa.


"Sini gue bawa ke atass" Arsen memberikan cemilannya ke Azril, Azril langsung menuju lantai atas.


"Saya ke atas dulu tuan, nona."


"Masih aja ngeyel kamu. Kamu mau saya panggil tuan juga??" tanya Aska.


"Hah?? Nggak tuan."


"Ya saya juga gak mau, panggil om aja atau abang biar keliatan muda"


"Daddy sok muda bangettttt, herannnn"


"Daddy masih muda, Asya!"


"Iyain aja sya, daddy mu maunya muda terus." Asya terkekeh.


"Asya ke atas duluu"


"Jangan sampe baku hantam!!"


"Baku tumbuk mungkin momm" jawab Asya sambil berlari menaiki tangga.


"Untung anak gua" Zia tertawaa.


"Em.. om, maaf sebelumnya kalau terkesan lancang. Saya mau tanya, om sama pak Andre dan om Mikko ngomongin apa aja, ya??" tanya Arsen.


Aska tampak berfikir, "ngomongin tentang kamu, ibu kamu dan kebegoan pak Andre."


"Saya udah tau cerita tentang kamu dan keluarga kamu, saya juga tau nona Maria. Saya dan istri saya cukup akrab dengan beliau, jadi sebaiknya kamu jangan canggung gitu atau merasa gak enak sama saya atau istri saya."


Arsen tersenyum sambil menunduk kemudian mendongak lagi, "makasih om, tante. Makasih banyakkk"


"Gak perlu sungkan, Arsen. Nona Maria dulu sering bantu saya, dan sekarang saya harus membalas kebaikan beliau." Sahut Zia.


Aska berdiri, mendekat ke Arsen, "kamu bisa anggap saya ayah, om, atau mungkin abang kalau kamu mau."


Arsen memejamkan matanya menahan air mata. Ia terharu atas apa yang dikatakan Aska dan Zia sedari tadi.


"Terimakasih om, tante" Aska mengangguk, ia makin dekat kemudian memeluk Arsen. Arsen membalas pelukan Aska.


"ARSENNNN, LU DIMANAA SAMSUDINN?!"


Aska melepas pelukan, ia menggelengkan kepalanya, "rumah rasa hutan ini mah."


Zia dan Arsen tertawa, "saya harap kamu maklum sama kelakuannya Asya ya. Emang gak bisa feminim dia, emaknya pun gitu. Ditambah lagi dari bocil semua temennya cowok, ya jadinya gituu"


Zia menatap sinis Aska, "buka aib bener ya pak?"


"Hehe, jangan ngambek dong sayang. Kan emang gituu nyatanya"


Mata Arsen yang tadinya berkaca-kaca jadi tertawa melihat Zia dan Aska.


"Arsen udah di cariin sama mereka, Arsen keatas dulu om, tante." Aska dan Zia mengangguk.


"Ay, marah kamu?"


"I don't careeee!"


"Mati guaa!!"


Zia terkekeh, "dah ah mau masak makan malam. Jarang-jarang tu mereka tidur disini, jadi aku mo masak. Bye!!"


"Gak mo kiss dulu??"


"Gak! Minta kiss aja sono sama tembok!!"


▫▫▪▫▫


"Darimane lu?!"


"Ada urusan bentar tadii"


"Pengusaha muda mah beda brooo!" sahut Haikal.


"Asoyyy"


"Pengusaha muda apanyaa?!" sahut Arsen kesal, mereka tertawa.


"Keburu abis ni jajan lu makanin mulu, mending kita masuk ke ruangan."


"Nonton apaa dulu nii??"


"Film biru aja" sahut Azril.


"DADDY!! AZRIL MAU NONTON FILM BIRUUUUUU"

__ADS_1


"Anjirrr, Asya gak ngotakkkkkk"


"Bodo amat, gak peduli, mampusss lu mampusss"


"Dendaman parah ni anak" Asya tertawa.


"Sya, gue mo nebak dulu."


Asya melihat ke Dino, "nebak apa?"


"Lu ketemu pak Fauzi kan tadi?"


"Cenayang lo?? Tau darimana??"


"Gue lupa tadi siapa, ada yang buat sg. Lu ngobrol sama pak Fauzi, terus Arsen datang jadinya adu mulut? True?"


"True. Siapa yang bikin snapp??"


"Gak tau, lupa" Asya menatapnya kesal lalu menyerobot ponsel Dino.


Ia membuka aplikasi whatsapp, Haikal yang di sebelah Asya ikut mengintip. "Modusnyaaa snapp, taunya dari doiiiii" ledek Haikal.


"Dino punya doii??" tanya Azril, ia ikut mengintip.


"Anjirrr, gak betul Dino. Rahasiaan, wahh. Gak prend!!"


Dino cengengesan, "jadian juga belom. Kan udah pernah gue bilang waktu itu."


"Kapannn?! Ngadi-ngadii!!"


"Ooo yang sama cewek waktu itu ya, din??" sahut Racksa.


"Lu tau, saa??"


"Nggak."


"Makan kulit jengkol aja sanaaaaaa" Racksa terkekeh.


"Anak-anak makan malamm" ajak Aska.


"Ehhh udah jam makan malam ternyata, Dino balik ya om."


"Betingkahh ya?" Aska, Asya dan Azril kompak.


"Gak usah pulang. Nginep disini aja, nanti om kabari orang tua kamu. Gak ada penolakan, cepat, semua ditunggu di bawah" Aska langsung kembali ke lantai satu.


'Pantes Asya baik, keluarganya juga sebaik ini' batin Arsen.


"No penolakan, skuyy!"


Mereka pun turun ke lantai satu.


"Kal, lu sama Dino emang deket banget sama om Aska?" bisik Arsen.


"Bokap gue bokap Dino sama bokap Asya itu sahabatan sejak SMA. Bahkan satu geng, jadi ya gituu"


Mereka tiba di meja makan.


"Asya mencium aroma masakan mommy, mommy yang masak kan??" Zia mengangguk.


"Jarang-jarang kalian dirumah, jadi mommy masak spesial malam ini."


"Lop sekebon mom"


Mereka menyiapkan makanan masing-masing, lalu memakan dengan keheningan.


"Daddy denger dari bodyguard, kamu di supermarket tadi jadi rebutan? Nggak cuma itu aja sih, sering jadi rebutan, iyakan?" tanya Aska di sela-sela makan malam.


Asya mengangguk perlahan, "bodyguard daddy manasi?? Liat mukanya juga cuma pas pindahannn. Sembunyi dimanaaa?"


"Bodyguard Asz gak main-main kalau jadi mata-mataa"


"Hilih, mana sini Asya ajak baku hantamm"


"Yakin lu mau ngajak baku hantam Asz BG? Bodyguard Asz itu gede badannya, bisepnya wahhh, roti sobeknya bukan enam kotak tapi dua belas kotak. Sanggupp?" tanya Azril.


"Kan lu yang lawan, di bantu ical sama dinding"


"Eeuyy siamah iyeu!!" Asya tertawa.


"Asya fokus belajar kok, mom, dad."


"Daddy gak ngelarang, yang penting gak ganggu belajar, jujur kasih tau daddy dan gak ngelewatin batas" Asya terdiam.


"Mau milih siapa dari semua pilihan?" tanya Zia dengan nada ejekan.


"Asya gak pernah serius kalau di tanya begitu, tantee" Ujar Haikal.


"Iya tan, pernah di tanya dia jawabnya mau cari sugar daddy" Sahut Dino.


Aska dan Zia tersedak lalu menoleh ke Asya, "just kidding hehe."


"Terus mana? Udah dapat sugar daddy nya??" tanya Zia.


"Belum sih mom, kenapaa?"


"Gapapa si, kalo nyari sekalian cari satu buat mommy."

__ADS_1


Aska tersedak lagii, ia menatap sinis Zia. "Kok betingkah??!"


__ADS_2