
"Hmhh..." Asya mengerjapkan matanya perlahan. Yang ia lihat pertama kali adalah sinar matahari yang masuk ke dalam kamar. Asya tersenyum tipis lalu duduk di kasur, sebagaimana yang biasa Asya lakukan.
Saat menoleh ke cermin, Asya baru sadar, ia hanya memakai dalaman. Arsen benar-benar menghukum Asya semalam di apartemen, dan sialnya Asya menikmati hukuman itu.
Asya segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu celingak-celinguk mencari Arsen. Tapi Arsen tidak terlihat di sudut mana pun. Asya penasaran, kemana hilangnya si pemangsa itu.
"Arsenn?" Tidak ada jawaban sama sekali. Seketika itu juga, Asya yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut berjalan keluar kamar.
"Aihh. Kemana hilangnya manusia satu itu? Abis mangsa orang kabur gitu ajaa?" dumel Asya kesal setelah tiba di dapur. Dirinya sedikit keheranan melihat dapurnya seperti habis terpakai.
"Arseenn??"
Suara pintu kamar mandi terbuka. Arsen muncul dengan senyuman. Ia hanya mengenakan celana pendek, dan tidak menggunakan baju sama sekali.
"Udah bangun, sayangkuu? Kenapa gak pake baju? Mau lagi part dua?" tanya Arsen sambil senyum menggoda. "Diem dehh. Ini kamu abis pake dapur? Bikin apaaa?"
"Sarapan, itu udah siap di meja tinggal makan. Kamu mau mandi dulu apa sarapan dulu? Tapi paling gak pake baju dulu deh daripada aku mangsa lagi."
"Ganas betul manusia satu ini. Btw, kenapa gak bangunin aku aja kamunyaaa?"
"Kamu pasti kecapean. Lagian aku pengen masak, biar abis sarapan nanti kita lanjut part dua supaya cepet jadi Arsen juniornya."
"Dih idihh. En—"
"Nolak suami dosa."
"Nyiksa istri lebih dosaa!"
"Emang kamu tersiksa? Tadi malem juga kamu teriak enak, menikmati banget lagi."
"Sen, diem atau aku gampar kamu!?"
"Aku sih milih gempur kamu aja."
"Arsennn!"
Arsen tertawa melihat Asya malu-malu. Dengan jahilnya, Arsen menghampiri Asya. Asya sedikit was-was, ia jalan mundur-mundur sampai akhirnya mentok di dinding.
"Sen, cukup atuh ah."
"Tapi aku pengen lagi, gimana dong?"
"Ku tendang aja ya itumu? Baperan amat dia, gak sopan!!" Arsen tertawa lagi. Ia memegangi kedua pipi Asya, mengecup keningnya lalu mencium bibirnya sekilas.
"Morning kisss. Kamu mandi dulu sana, aku tunggu. Nanti kita sarapan bareng." Asya sedikit berjinjit untuk membalas kecupan Arsen di bibir. "Okay, tunggu ya, sayangku."
Arsen senyum-senyum sendiri melihat Asya langsung berlari ke kamar. "Bini gue lucu bangettt. Makan apa ya dia sampe selucu itu??"
...◕◕◕...
Siang harinya. Kedua pasutri itu sedang asik berduaan di kamar, menonton drama bareng ditemani banyak cemilan. Keduanya memilih untuk free dalam kegiatan berat apapun hari ini dikarenakan mager.
"Senn." Arsen berdehem tanpa menoleh, dirinya sedang bermain game di ponsel. "Sayangg!"
"Iyaa. Apa, sayangku?" Barulah Arsen menatap mata Asya dan mengabaikan gamenya. "Aku pengen seblakk."
"Mau keluar? Hickeyy kamu mau digimanain?" tanya Arsen kembali bermain. "Ah iya, yaudah gak jadi." Arsen melihat, mata Asya nampak sedikit kecewa.
"Beneran pengen seblak? Ini siang tau, emang ada yang jual?" Asya hanya mengangguk, "Pengen. Tapi gak tau deh jualan apa nggak."
"Yaudah bentar deh, aku mintol Alvin."
"Gak usah Alvinnn, Azril ajaa. Eh aku aja yang mintol dehh, tapi pake hp kamu, boleh?"
Arsen langsung keluar dari game, memberikan hpnya pada Asya, kemudian memeluk Asya dari samping dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Asya. Asya membiarkan Arsen, selagi tidak aneh-aneh.
"Udah aku chat. Tadinya dia gak mau, tapi aku sogok pake diamond game. Gakpapa, kan?"
"Heemm, gakpapa kok," kata Arsen dengan suara sedikit lebih berat dari sebelumnya. "Lanjut main game aja nih kamu."
"Nggak deh, enakan cuddle."
"Aku engapp. Kamu meluk inituh, niat dan tujuannya mau bunuh aku apa gimanaaaa?" Arsen melepasnya sambil cengengesan. "Lagian kamu enak banget dipeluk, gemes akunya."
"Y."
"Jadi pengen lagi."
"Kan ngaco, kann. Udah dong ayaaangg," rengek Asya dengan puppy eyesnya. Arsen tertawa lalu memeluk Asya lagi. "Gemess!"
"Diem, jangan ngadi-ngadi lagi luu!!"
"Iya, iyaa."
Asya kembali menonton dramanya dan Arsen diam-diam hampir tertidur dipelukan Asya. Tapi tiba-tiba dirinya terganggu karena mendengar Asya menangis.
Arsen melepas pelukannya, ia duduk dan menatap heran Asya. "Kamu kenapa nangiss, sayang?? Aku meluknya kekencengan???" Asya menggeleng lalu kembali menangis.
Dirinya ikut duduk lalu merentangkan tangan. Arsen yang peka langsung memeluknya kemudian membawa Asya kepangkuannya. "Kenapa nangis?" tanya Arsen lagi mengelus punggung istrinya.
"Itu... pemerannya mati... kasiann..." jawab Asya terbata-bata. Arsen menghela nafas panjang, dan tetap mengelus punggung Asya. "Kirain apaa. Udah gakpapa, sayang. Gak boleh nangis gitu ihh, itu cuma film."
"Ya tapi kasiaaannn... mana matinya gak keren lagi," Arsen sedikit tertawa. Perlahan-lahan dirinya mundur agar bisa bersandar di headboard, sedangkan Asya masih menangis dipundak Arsen.
"Cup cup cup, sayang. Udah ya, jangan nangis lagi. Kamu nangis juga dia gak bakal hidup lagi tauu."
"Iya tapi aku sedih bangett..."
"Yaudahh, kalau gitu puasin dulu deh nangisnya, tapi abistu gak boleh nangis lagi. Deal?" Asya mengangguk. Arsen menenangkan Asya sembari bernyanyi lagu kanak-kanak dengan nada santai.
Anehnya, Asya malah tertidur.
__ADS_1
"Encok kamu kalau tidur begini, tapi kalau dipindahin nanti malah bangun," gumam Arsen sangat pelan. Arsen pun memilih membiarkan Asya tertidur dan mulai memejamkan matanya kembali.
Ting tong!!
Suara bell yang tidak mereka dengar. Keduanya sudah sama-sama tertidur. Suara bell apartemen terganti dengan suara panggilan dari ponsel Arsen. Kini keduanya terbangun.
"Siapa, sayang?"
"Azril. Tidur aja lagi kamu."
"Nggak deh, kayanya dia udah sampee. Angkat coba, feeling aku dia bakal ngomel." Arsen menggeser icon warna hijau kesamping, panggilan tersambung.
📞 "Halo, assalamu'alaikum.... Ehem... GUA DI DEPAN UDAH BUNYIKAN BELL BERKALI-KALI GAK ADA YANG NYAUT, LU BERDUA DIMANA?"
^^^"Anj- astaghfirullah, Azril. Ngamuk tetangga apart gue denger suara lu, santai aja kenapa dah?"^^^
📞 "Gak bisa. Gue kemal, kesal maksimal. Udah deh buruan ini seblaknyaaa!!"
^^^"Y."^^^
Arsen mematikan panggilannya. Asya dengan semangat melepaskan pelukan kemudian beranjak pergi membukakan pintu untuk Azril.
"Heyy. Ganti dulu bajunya, Asyaa."
Mendengar Arsen menyebut nama, Asya mundur dan bercermin. Ia baru sadar kalau sekarang hanya menggunakan baju ketat lengan pendek dan hotpants. Asya cengengesan, ia mengambil baju di lemari lalu berjalan ke kamar mandi.
"Btw, pak, peliharaannya diurusin dulu ya itu, menonjol sekali dia."
"Sayaanggg..."
"Becandaaa!" kata Asya tertawa lalu masuk kamar mandi. Arsen menggeleng-gelengkan kepala, "Masih untung gak ku mangsa tadi."
Arsen turun dari kasur, ia mengambil sarung untuk menutupi celana pendeknya kemudian pergi membukakan pintu.
"Lama amat siall. Lu gak produksi keponakan gue siang-siang kan?" omel Azril begitu pintu terbuka. "Ya nggak lah, gila lu. Lu sendirian? Mana seblaknya?"
"Ini seblaknya."
"Lah kok?? Banyakk???"
"Pasukan!!" Mereka yang bersembunyi dibalik pintu yang terbuka pun nongol satu persatu dengan senyuman. Azril membawa geng mereka.
"Ayok masuk kawan, anggep apartemen sendiri."
Arsen langsung terjepit saat mereka memaksa masuk. Terpaksa harus bersabar daripada rumit urusannya. Setelah mereka semua masuk, Arsen menutup pintu lalu menyusul mereka.
"Asya mana? Tadi dia yang minta seblak."
Knock! Pintu terbuka, Asya nongol dengan senyuman yang merekah. "Anjayy pasukan sekebonnn."
"Lu di apartemen emang pake baju panjang gitu, Sya? Gak panas??" tanya Ara heran, Asya malah tetap tersenyum.
"Asya pake baju panjang di rumah ya gak mungkin, jelas bisa jadi kek cacing kepanasan dia. Abis ganti baju itu dia. Btw, itu tato di leher tolong dikondisikan."
"Berisik lu monyett!" Mereka tertawa bersamaan.
"Gue baru sadar, ternyata di Arsen juga adaa. Tapi dia santai bangett busett," sahut Naina.
"Males ribet. Lagian, buatan istri gue nihh," kata Arsen malah pamer. "Iyaa, Sen, iyaa. Gak usah pamer gitu juga kali ahh!" Arsen cengengesan.
"Tiba-tiba gue penasaran, Asya jago?"
Bruk!!
Bantal dari kamar langsung tepat sasaran menuju kepala Azril. Untungnya tidak mengenai seblak.
"Kalau nanya yang benar-benar aja ya, jangan sampe gue smackdown lu di sini," Azril tersenyum mengejek pada Asya, "Kan cuma nanyaa."
"Eh, itu gak panas neng pake turtleneck?"
"Diyyyaaamm!!!"
"Aahahahahaha, lucu banget bocil otw punya bocil."
"Anj- astaghfirullahalazim."
...◕◕◕...
"Rusuh banget mereka, kesel aku!" dumel Asya di kamar karena menyiapkan baju untuk Arsen. Mereka sama-sama mau keluar sore ini, katanya pengen healing kayak dulu.
"Biarin ajaaa. Kan jarang, sayang."
"Ya iya sih, ta— kamu lebih bikin kesel. Ngapain buka baju di depan aku!!?" Arsen mengedipkan matanya keheranan. "Kan gak salah, kita udah nikah. Kamu juga udah liat jelas tadi mal—"
"Sen? Mau ku tapok beneran?"
Arsen tertawa kecil lalu mendekati Asya, ia memegangi kedua pundak Asya. "Kamu kenapa marah mulu, sayang? Pms? Tapi gak mungkin, ini belum tanggalnya. Gak mungkin kamu udah ha—"
"Sen, aku tampar beneran ya ini?" Arsen tersenyum lalu dengan cepat mencium bibir Asya dengan intens. Asya yang awalnya menolak sekarang malah menikmati.
Arsen berhenti sejenak, lalu memulainya lagi sambil berjalan. Tepat di samping kasur, Arsen mendorong Asya lalu menimpanya. "Jangan galak-galak, nanti gak ada temennya."
"Iya deh iyaa. Terus kenapa kamu gak ganti baju sekarang? Mau sampe kapan di atas ku??"
"Mau kamu sampe kapan? Berapa ronde?"
"Sayang..."
"Becanda, love." Arsen mengecup Asya sekali lagi lalu turun mengambil hoodie pilihan Asya tadi. Asya terdiam sambil menatapi Arsen.
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi minta terus?? Kemarin-kemarin nggak tuh. Abis nonton apasi kamu ampe semesum ini?" tanya Asya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Mana ada nonton apa-apaa. Kamu tu terlalu aduhai untuk dikacangin. Dan..." Asya menunggu kalimat selanjutnya. Ia menatap serius Arsen yang berjalan ke arahnya. "Dan apa?"
"Dan kamu buat aku jadi kecanduan." Asya auto menutupi muka Arsen dengan bantal yang tadi ditangannya. "Emang begini apa ya suami-suami diluar sana? Apa suami gue doang yang amit-amit."
"Btw, masih mau nunda, kan? Kalau gitu aku harus nyetok pengaman," kata Arsen lagi. "Heh dasar! Gak perlu nyetok juga gak masalah kayaknya. Belum tentu juga sekali langsung jadi."
"Bibit aku tuh bibit unggul limited edition, sekali aja juga bisa jadi. But, we never know," kata Arsen dengan senyuman menggoda. "Karepmuu. Tapi ini kamu emang masih mau nunda juga atau mau segera?"
"Aku tergantung maminya anakku."
"Wes, skip. Nanti liar lagi otakmu, bisa-bisa gak jadi kita keluar." Arsen tertawa mendengarnya. "Yaudah ayok keluar, nanti mereka ngebacot lagi tuh."
Keduanya pun keluar sambil bergandengan tangan. "Udah siap kan ini? Otewe kita?" tanya Azril memastikan. Arsen menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Azril.
"Gue, Naina, Alvin sama Ara satu mobil. Kalian berdua pisah sama kami deh ya?" Arsen mengangguk lagi.
"Tapi ini gak masalah? Nanti si jamal marah tuh Ara deket banget sama Alvin," goda Asya.
"Jamal siapa cok??"
"Haikal begoo."
"Ohh ahahahaa. Tadi gue udah izin juga sama dia, gak bakal marah dah ituu," ujar Ara santai. Asya dan yang lain berohria. Setelahnya mereka pergi bersamaan.
"Tujuan pertama kemana deh, sayang?" tanya Asya sudah berada di dalam mobil. "Aku juga bingung, sayang, aku cuma ngikutin mereka."
"Aku pengen ke mall. Pengen borong semua baju turtleneck biar aman menutupi perbuatanmu." Arsen malah tertawa mendengar perkataan Asya. "Kok kamu ketawaa?? Kenapa santai banget coba kamunyaa, padahal itu juga ada dilehermu."
"Buatan istriku, harus dipamerin."
"Gak gitu juga, bang, gak gituuuu!!"
"Kamu kalau mau beli turtleneck buat nutupin juga gak masalah, yang jelas aku gak mau. Selain gak suka karena panas, aku juga mau pamer biar satu dunia tau kalau ini buatan istriku."
"Kok tiba-tiba pengen bikin lagi ya? Langsung full seleher gitu enak kayanya, yakan?" goda Asya iseng. "Boleh. Ayok, gak masalah. Mau sekarang di hotel?"
"Aku bercanda, Arsen! Istighfar deh kamu ahh. Beneran ini isi otakmu kek gituan semua apa gimana??"
"Gara-gara kamu sih kemarin pake baju seksi gitu."
"Tapikan biasanya juga gitu, aku tidur juga kan pake baju lengan pendek, ketat pula. Itu kamu biasa aja tuhh."
"Biasa aja apaan. Kamu gak tau aja kali ya aku nahan nafsu mati-matian. Tapi karena kemarin emang kamu yang goda terus aku juga gak kuat nahan lagi, jadilah aku gas tanpa rem."
"Yain. Tapi janji sama aku bisa?"
Arsen menatap Asya sekilas. "Janji apa?"
"Janji gak ninggalin aku?"
"Sayang, kamu masih suka ragu sama aku apa gimana? Kita udah berapa tahun coba barengan terus? Kalau mau ninggalin kamu mah udah aku lakuin dari dulu."
"Ya bisa aja suatu saat kalau kamu bosen?"
"Gak. Gak ada itu gak ada, mana pernah aku bosen sama kamu. Semua tentang mu, aku gak pernah bosen."
"Ternyata bener. Aku pernah baca quotes, katanya orang yang tepat, gak akan pernah bosan dengan semua hal tentang mu. Dan kamu juga begitu, itu artinya aku gak salah milih suami."
"Yeah, memang gak salah. Kalau waktu itu kamu pilih Fauzi, udah jelas salah sih."
"LAH? Malah bahas Fauzi ini anak. Ku botakin nanti kamu yaa!" dumel Asya kesal. Arsen cengengesan, "Kalau kamu botakin ntar kamu gak bisa jambak pas—"
"Diam!"
"Lucunyaa istriku. Kisss dulu do—" Ponsel Arsen berdering tiba-tiba. "Aneh banget mereka, kok nelpon?" Arsen pun langsung mengangkat panggilan.
📞 "Mobil putih di belakang, kayak ngikutin lo. Bodyguard?"
^^^Arsen melihat dari kaca lalu menghela nafas karena kesal. "Bukan, bukan mobil bodyguard. Kayanya itu yang selama ini nguntit gue."^^^
📞 "Wait... anjirr tiba-tiba udah gak nampak?"
^^^"Sengaja maybe, tadi gue liatin. Kacanya tu gelap, tapi gue sempat liat matanya."^^^
📞 "Terus? Kenal gak?"
"Ngg—" Arsen teringat sesuatu dan langsung mengerem mendadak. Untung di belakangnya tidak ada orang.
Arsen kembali menoleh ke belakang mencari mobil itu, tapi tidak bertemu. "Kenapa, Sen??"
Arsen terdiam dan mengingat semuanya. Ia juga mengingat perkataan mertuanya waktu itu. Merasa pernah menatap mata penguntit tadi, Arsen mengingat-ingatnya dengan keras.
Asya yang merasa dirinya dikacangin hanya diam dan terus menatap serius Arsen. "Kamu kenapa sih? Ini bukan lapak parkir, sayang."
"Gak mungkin... buat apa?"
"Apanyaaa?" tanya Asya kesal. Arsen menatap intens Asya lalu tersenyum miring. "Asya, ada yang suka banget sama kamu nih."
"Apaan sih? Ngaco banget kamu. Manggil nama doang lagi ini, bikin takut tau gak?"
"Tapi ini aku serius, gak bercanda. Ada yang suka sama kamu sampe dia nguntit kita terus-terusan."
"Kalau boong tidur di luar ya?" Arsen mengangguk dan fokus pada mata Asya. "Siapa yang kamu maksud ini? Gak ada yang suka aku di kampus."
"Ada, sayang."
"Ng— maksud kamu...?"
"Iyaa, itu. Kemarin yang di kampus kan aku natap mata dia, dan itu persis banget sama yang tadi nguntit kita di belakang. Waktu itu daddy juga sempat bilang kalau ada yang ngikutin kita setiap hari, itu pasti juga orang yang sama."
Asya terdiam sejenak lalu berpindah ke pangkuan Arsen. Sedikit mengejutkan Arsen, tapi dirinya memilih diam dan mengamati gerak-gerik Asya. Kini Asya memeluknya. "Sen, aku takut. Takut kehilangan kamu."
__ADS_1
Arsen membalas pelukan sembari mengelus punggung Asya. "Gak bakal terjadi apa-apa, sayang. Tenang ya. Aku bakal beresin dia, sebelum dia bertindak macem-macem."