
Asya yang berada di sana dan menjadi topik perdebatan memegangi kepalanya, "aku benci keributan."
Mereka menoleh ke Asya, Asya masih menunduk sambil memegangi kepalanya. Sebenernya dia suka keributan tapi dia tidak suka di jadikan 'topik' untuk ribut.
"Sya..."
Asya mendongak, "bukan.. maksudnya.."
Asya tidak memperdulikan mereka, tatapannya menuju Haikal yang berada di atas motor sportnya sambil menawarkan helm dua.
Asya tersenyum sekilas, lalu pergi menuju Haikal. Yang lain pasrah walaupun masih tetap memperhatikan Asya.
"Enak jadi bahan rebutan?" bisik Haikal sambil memasangkan helm Asya.
Asya menyipitkan matanya, "nggak sama sekali." Haikal tertawa.
"Kuy cabuttt" Asya tersenyum, ia naik ke motor Haikal. Mereka pun pergi dari parkiran sekolah.
"Gak ada yang menang beneran, Zril. Gue punya firasat ending dari semua ini, Asya bakal sama salah Squad JL."
Fauzi dan Arsen menatap Racksa, "a-apa?" tanya Racksa gugup.
"It's IMPOSSIBLE!"
Di sisi lain, Asya sedang menikmati udara segar diatas motor Haikal.
Tiba-tiba Haikal mengegas motor membuat Asya langsung memeluk tubuhnya. Haikal tertawa di balik helm, Asya yang sadar di kerjai langsung melepas pelukan lalu menggetok helm Haikal.
"Marah aja gemesin lu" Ledek Haikal ketika melihat kaca spion.
Asya jelas mendengar itu karena Haikal membawa motornya pelan, "belajar gombal dimana om?!"
Haikal tertawa lagi, "gue pengen kebutannn"
"Betingkah, masih mau nafas kan?" Asya cengengesan.
"Pegangannn" Sontak Asya mengeratkan pelukannya, Haikal melajukan motornya sesuai keinginan Asya.
◗◖◖◗◗◖
16.45
"Thank you."
"Gue saranin lu buat milih salah satu diantara mereka, lu gak bisa mencintai dua orang dalam satu hati."
"Jones bacott" Haikal berancang-ancamg melempar helmnya.
Asya cengengesan, "buruan balik sono udah mau ujann."
"Lu bakal milih siapa??"
"Em.. tetep bakal cari papa gula!"
"Rasa ingin menjitak kepala lu. Bodo amat, pokoknya kalau lo sakit hati bilang sama gue! Tinju gue siap bunuh siapapun."
Asya tersenyum sambil mengangguk.
"Gue balik dulu." Haikal pun pergi meninggalkan Asya.
Asya beranjak menuju rumahnya.
"Darimane lu?"
"Dari hatimuueeeh"
"Anjinggg najisss." Asya tertawa kemudian pergi menuju kamarnya.
"Lu pada gak jadi futsal?" tanya Asya setelah keluar dengan baju tidurnya.
"Nggak, tadikan mendung."
"Oh, mo makan malam apaaa?"
"Cumi goreng"
"Ngaco lagi gue geplakk lu, sa!" Racksa cengengesan.
"Gue masak apa yang ada di kulkas ya."
"Masak kulkas aja gimana?"
"Minta di headshot" Asya langsung pergi ke dapur.
Ting.. Tong..
"Siapa yang datang ujan ujan gini?!" tanya Azril kesal.
"Mending lu buka dari pada ngedumel"
"Lu aja sono"
"Zril, ngalah. Gue lebih tua"
"Gak gak. Gue mager, saa!!"
"Yaudah suitt"
Azril mengangkat jempolnya, sedangkan Racksa jari telunjuk.
"Lu kalah, sono buka sono!!"
"Anjirrr banget emang si muda satu ini" Azril tertawa pelan. Mau tak mau Racksa berjalan membukakan pintu.
"Cari siapa, bang?"
"Eh ini bang, mau nganter paket atas nama Asya."
"Dianter ujan ujanan bang, gak mau mampir dulu?"
"Haha, baik banget abangnya. Gak usah deh bang, ini paketnya dan tanda tangan disini."
"Udah ni, bang. Makasih ya, hati hati." Abang kurir itu pun pergi.
Racksa kembali masuk dengan kotak berukuran sedang di tangannya.
"Siapa? Itu apa?"
"Paket untuk Asya katanya."
"Mesen apa tu anak?!" Racksa mengedikkan bahunya.
"ASYAAAA ADA PAKET BUAT LUUU!!"
Asya muncul dari dapur, "paket apaan? Gue gak mesen apapun."
"Buka cobaa, siapa tau bom."
__ADS_1
"Eh anjirrrr."
"Zril buka!"
"Lu ajaa, sa! Lu paling tua disini."
"Sepupu gue kok gini lah cobaa?!" Asya dan Azril cengengesan.
Racksa memberanikan diri membuka kotaknya, Azril dan Asya sudah sedikit menjauh darinya.
"Eh jajan??"
"Jajan??" Asya mendekat.
"Uwahhh anjirrr, coklatnya banyak bangett."
"Ini dari siapaaaa?" tanya Azril bingung, dia sudah mencomot satu susu vanilla. Racksa juga sudah mengambil salah satu jajan dari kotak.
"Ini ada kertas" Asya mengambilnya.
"Assalamu'alaikum, Asya. Saya minta maaf untuk kejadian tadi, saya gak bermaksud bikin kamu marah. Saya gak bisa susul kamu tadi karena saya harus dinas, jadi, makanan ringan ini sebagai penebus kesalahan saya. Saya gak tau kamu suka susu apa dan suka coklat yang mana, jadi saya beli semua jenis susu dan coklat untuk kamu. Semoga kamu suka, dan semoga kamu gak marah lagi sama saya"
"UWAWWWWW!! Pak Fauzi kan ini? Iyakann?!" tanya Azril terkejut.
"Iya jayy, ini pak Fauzi!!" mereka melihat ke Asya yang terdiam. "Sya?" mereka menatap Asya was-was.
"Sa, Zril"
"Kenapa??"
"GUE MELELEH!! Gila gila, padahal gue gak marah tadiii"
"Gak marah tapi muke lu kayak macan nahan emosi." jawab Racksa.
"Bacot lu!! Aaaahh, ini ahh aduh aaahh."
"Sweet banget ya bapak itu" ujar Racksa.
"Lu liat tulisan tangannya, zril, sa. Bagus bangetttt, mana ada cowok tulisannya serapi ini"
"Tulisan gue rapi"
"Rapi bangett sa, sampe juling mata gue liatnya" Racksa tertawa.
"Lu jadi rebutan lah, sya. Lo harus milih salah satu antara pak Fauzi sama Arsen"
"Kata Ilham, kalau bisa dua kenapa satu."
▪▪
19.08
Setelah makan malam, Asya membawa beberapa coklat dan susu menuju kamarnya.
"Syaa, ntar kamar lo besemut! Makan kok dikamar sii?!"
"Diemmm lu! Gue lagi drakorann"
"Tungguu woii" Asya menoleh.
"Gak jadi deh"
"Setan!!!" Azril terkekeh pelan.
Asya menoleh ke jendela, "hujan.."
"Udah dari tadi njirr"
"Namanya juga dia kerja, cari duidd biar bisa beli ududd"
"Anjayaniii!! Gue laporin ke om Aksa lu mau beli ududd"
"Astaghfirullah su'udzon!! Udah sana lo masuk ke kamar lu sana, drakoran aja sono!!" Asya tertawa lalu masuk ke kamarnya.
Racksa menoleh ke Azril yang terdiam ketika login game di ponsel nya. "Lu kenapa lagi?"
Azril menunjukkan ponsel nya.
"From Darkstarr, hai master exoticdevil. Ayok mabar lagii"
"Ada yang salah??" tanya Racksa.
"Dia Adinda. Lo tau, gue udah berusaha ngelupain tu anak, udah berusaha gak peduli lagi sama tu anak. Tapi waktu gue mau ngelupain, dia malah kek gini ke gue"
"Tadi juga pas di hukum, dia ngasih roti sama air mineral buat gue. Maksudnya apa? Gue sasaran gabut doang??"
"Gue malah yakinnya ini jebakan, bisa aja ini Alex."
Lain hal nya di kamar, Asya kembali menikmati drakornya sambil memakan coklat dari Fauzi.
Ting.. Ting..
Asya mengambil ponsel nya. Ada dua chat masuk.
Biawak
Sya, lu baik baik aja kan?
Kapojikk kerenn
Assalamu'alaikum asyaa, kamu masih marah sama saya?
Itu isi keduanya.
Asya mengabaikan chat Arsen, ia sedang membayangkan seperti apa ekspresi Fauzi saat ini. Tiga menit setelah berhalusinasi, Asya mengetikkan sesuatu yang menuju ke Fauzi.
^^^Asyaaa^^^
^^^Waalaikumsalam kapojikk, asya gak marah lah. Yang bilang asya marah siapa?^^^
Setelah membalas Fauzi, Asya membalas chat Arsen.
^^^Asyaaa^^^
^^^Baikssekalii^^^
Asya meletakkan ponselnya, namun baru saja ingin memulai lagi drakornya tiga notifikasi kembali masuk.
Kapojikk kerenn
Serius kamu gak marah sama saya? Tadi saya liat kamu sedikit marah.
Jujur, saya tadi takut kamu kenapa-kenapa tadi sama cowok itu.
Biawak
Lu kemana aja sama Haikal?
__ADS_1
Asya membalas chat Arsen terlebih dahulu.
^^^Asyaaa^^^
^^^Ketempat penenangan jiwa.^^^
^^^Asyaaa^^^
^^^Asya gak marah kak, cuma kesel dikit doang.^^^
^^^Kenapa takut? Itu tadi temen Asya dari bocil.^^^
Tingg... Tingg...
Biawak
Lu bisa ngajak gue, gue siap temenin lu kalau mau tenangin diri. Gue juga siap nemenin lu kemanapun lu mau
Kapojikk kerenn
Ya takut aja, saya takut kamu suka ke dia dan saya takut kehilangan kamu
"HUAAAAAAA TOLONG AKU!"
Gubrakk!!
"Lu kenapa anjirrr?!" Azril dan Racksa panik.
"Baperrr" jawab Asya dengan puppy eyes-nya.
"Istighfar banyak-banyak gue liatnya. Gue kira kenapaa tadiiii!!"
"Hehe, ya maap. Nih salahin aja dua human yang membuat saya pusing tujuh keliling"
"Anjiirr bodo ah! Teriak lagi gue tabok mulut lu" Asya cengengesan. Racksa dan Azril keluar kamarnya.
"Asya alay bangsattt" gumam Asya kesal. Ia kembali melihat ponsel nya.
Kapojikk kerenn
Asyaa?
Biawak
Lu masih hidup?
"Anak manusia yang bukan manusia." Asya mengabaikan chat Arsen.
^^^Asyaaa^^^
^^^Mbb kak, itu tadi di panggil Azril.^^^
Kapojikk kerenn
Mau videocall gak?
Saya rindu sama kamu.
Asya menahan mulutnya untuk tidak menjerit lagi, "apaan si gitu doang baper. Eh tapi emang bikin baper, ahhhh alay!"
Asya kembali membalas chat Fauzi dan tetap mengabaikan Arsen.
^^^Asyaaa^^^
^^^Boleh dehh^^^
Drrrtt.. Drrtt..
Asya menggeser tombol hijau, terpampang muka tampan Fauzi. Dia sedang mengenakan seragamnya, sepertinya sedang bertugas.
📱 "Kamu beneran gak marah?"
^^^"Nggak laaah kakk"^^^
📱 "Kirain kamu marah sama saya"
📱 "By the way, yang tadi itu pacar kamu emang?"
^^^"Yang tadi berantem sama kakak?"^^^
Fauzi mengangguk.
^^^"Bukan lah"^^^
📱 "Syukurlah, artinya saya masih bisa berjuang"
Asya mengedipkan matanya masih mencerna ucapan Fauzi.
^^^"Oh iya kak. Makasih paketnya, Asya sukaa"^^^
📱 "Suka sama paket nya, isinya, atau sama saya-nya?"
^^^"Em.. suka samaa semuanya"^^^
📱 "Semuanya berarti saya jugakan?"
^^^"Em... mungkinn"^^^
📱 "Hahaha, imut banget kamu. Saya gemes liatnya"
^^^"Polisi bisa gombal ya ternyata"^^^
📱 "Saya sih gak bisa"
^^^"Loh yang tadi?"^^^
📱 "Saya ngomong sesuai kenyataannya, kamu imut. Banget malah, saya jadi jat--"
📱 "Iyakk Fauziii semakin didepan. Pepet teross pak, pepett!!"
Asya yakin itu rekan kerja Fauzi.
📱 "Gangguu sekali ya anda!!"
📱 "Gak bisa di ganggu emang. Mana ceweknya, gue mau ngomong ni"
📱 "Macem-macem gue getok kepala lu"
Asya tertawa mendengarnya, baru kali ini dia mendengar Fauzi berbicara non-formal.
📱 "Asya udah dulu, ini ada perusuh"
^^^"Hahaha, iyaa. Semangat bertugas ya, pak"^^^
📱 "Kamu jangan tidur kemaleman, jangan begadang ya. Assalamu'alaikum, selamat malam"
^^^"Waalaikumsalam, selamat malam kembaliii"^^^
__ADS_1
Fauzi mematikan panggilannya.
"Keknya kalau disuruh milih, gue bakal milih....."