
"Syukurlah, gue lega dengernya"
"Saya cemburu"
Banyak spekulasi yang tercipta di otak Asya karena dua kalimat itu. Asya tak ingin kegeeran, tapi kalau keduanya memang benar seperti yang ia duga. Mungkin, Asya akan memilih.....
"Heh lu ngapa bengong?!" tanya Viona yang datang tiba tiba.
"Ngagetin lu njirrr"
"Lu nya bengong. Ada masalah hidup apaa?"
"Nggak ada, bukan apa-apa. Tetiba teringat sesuatu yang terlintas" jawab Asya.
"Apaan?"
"Pria"
"Tumben? Kenapa?"
"Pria itu emang selalu suka gombal?"
"Cewek juga bisa gombal sih menurut gue"
"Cowok suka bikin bingung kann?"
"Cewek lebih sering bikin bingung" Asya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lu kenapa sih taiii?" tanya Viona heran. Asya tertawa, "Gapapa"
"Nipu lu sattt"
"Hehe.. gue tu bingung, gue jadi mikir"
"Mikir apa emang?"
"Mikiirr... mikir apa aja la" jawab Asya.
"Dihh, mikirr apaaaa??"
"Mikirrin kedepannya kalau gue jodoh sama Cha Eunwoo"
"Najiss haluuu!!!" Asya senyum menampakkan gigi putihnya.
"Btw, lu tumben sendirian?" tanya Viona.
"Azril, Dino, Racksa, sama Haikal lagi main futsal"
"Sepagi inii??"
"Udah jam sepuluh"
"Ya tapi masih rada pagi. Apa nggak bau tuh baju?"
"Iya juga sih, double kaos mungkin" Viona menganggukkan kepalanya. "Mungkin. Si Tara mana??"
"Di kelas, katanya gak laper"
"Lu kemana ajaaa?" tanya Asya gantian.
"Gue sibuk coy, sumpah sibuk banget. Pas rapat gajenya Arsen kan kita ketinggalan banyak materi. Nah kemaren-kemaren gue kejer semuanya"
"Tumben lu rajin"
"Ada yang bantuuu"
"Siapa??"
"Asyaaa, Vio!!"
"Yang tengah, kak Jodi"
"Wahhh, udah jadiann?"
"Sssttt"
"Asya apa kabar?" tanya Vernon.
"Alhamdulillah baik, kak Vernon apa kabar? Sibuk yaa?" tanya Asya, Vernon tersenyum.
"Sibuk banget dia, sibuk mikirin lu" sahut Anton. Asya tertawa.
"Kak Anton bisa aja ngelawaknya"
"Gue gak ngelawak padahal"
"Lu jangan buka aibb!" bisik Vernon.
Asya yang mendengar itu tersenyum kikuk, 'Nambah pikiran'
"Kak Jodi sama Viona jadian yaa??" Viona langsung mencubit Asya.
Asya meringis kesakitan. "Anjiirr lu bangkeee, kaga bisa diemmm" Asya tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
"Masih proses, sya" jawab Jodi.
"Ciee" ledek Anton dan Asya barengan.
"A-apaan sih" Mereka tertawa.
"Gak nyangka, ada juga yang mau sama lu Vi"
"Jangan bikin malu lu kak" cibir Viona kesal, Vernon terkekeh.
"Kakak kakak gak makan?" tanya Asya.
"Bentar lagi baksonya datang" jawab Vernon.
"Ini baksonya"
"Kamu dari tadi cuma nyemilin jajan. Diett?" Tanya Vernon.
"Eiyyy, Asya mah gak ada diet-dietann. Kalau mau makan ya makan, gak ada namanya diett di kamus" jawab Asya.
__ADS_1
"Serius lu?? Terus kok bisa bisanya body lu body goals gini, resepnya apaa?"
"Makan makanan yang dibuat nyokap terus olahraga"
"Anjirrr resepnya palsuuu" Asya cengengesan.
"Ini satenya, Asya"
"Ini mi ayamnya, Viona"
"Makasih mbak" Mbak kantin mengangguk lalu pergi.
"Selamat makan, Asya"
"Hehe iya, selamat makan kak Vernon" Mereka sama-sama tersenyum.
"Apa gue sendiri yang jomblo disini?" tanya Anton kesal. Asya, Viona, Vernon dan Jodi menahan tawanya.
"Malah ketawaa!"
"Lu nya sih kek ngenes bangett" ledek Jodi.
"Jangan di perjelass jugaa" Viona dan Asya tertawa.
"Makan aja deh lu buruan" Anton mulai memakan baksonya.
Hanya beberapa menit bagi Asya untuk menghabiskan satenya, begitupun dengan Vernon. Mereka berdua terlalu cepat makan atau yang lain terlalu lama??
Ntahlah, Asya tidak perduli.
"Asya, bibir kamu itu ada kuah satenya" Asya membersihkannya dengan tissue, tapi ia selalu salah tempat.
"Biar gue aja sini" Vernon mengambil tissue lalu mengelapnya. Mata mereka bertemu, mereka bertatapan.
"Asyaaaaaa"
Arsen merusak momen, Asya langsung mengalihkan pandangannya.
"Lu ngapa teriak-teriak si anjirr?!" tanya Asya kesal.
"Gapapa pengen teriak ajaa"
"Ikut gue yukkk" Ajak Arsen.
"Eyyyyh mau kemana si anjirrr"
"Sstt, ayok ikut ajaaa"
"Jadi hororr liat lu, sen" Arsen malah menatapnya datar.
Asya tertawa lalu berdiri, dia ingin membayar satenya. "Biar gue aja" Arsen maju membayar sate.
"Eehh gue bisaaa sendirii woi"
"Gue aja gapapa, lagi baik budi. Gue kan ganteng"
Asya tertawa kecil, "Pedean amat lu bangkeee" Arsen ikut tertawa.
"Udah gue bayar, ayok" Arsen menggenggam tangan Asya lalu menariknya pelan.
"Vioo"
Viona menatap Vernon.
"Mereka berdua punya hubungann??"
❇-❇-❇
Arsen POV
Gue cemburu banget tadi liat Asya tatap-tatapan sama Vernon. Bener-bener cemburu.
Gue gak tau sih kapan rasa gue tumbuh ke Asya. Tapi, sumpah gak boong gue kek gak rela banget Asya deket sama cowok lain.
"Sennn, lu ngapa narik guee??" Asya membuyarkan lamunan gue.
Gue ajak dia duduk berdua di kursi taman dekat lapangan basket.
"Gue mau nagih hadiah, ini udah sebulan"
"Hadiah???" Asya keheranan. Dia lupa apa pura-pura lupa?
"Gue gak berantem selama sebulann"
"Hah?? Serius?? Ini udah sebulann?" Gue ngangguk santai.
"Gak kerasa emang, berlalu begitu cepat"
Asya menghela nafas, keknya dia gugup deh. Takut gue minta yang aneh-aneh.
"Lu mau hadiah apa? Lu mau apa??"
"Gue ma--" Omongan gue terhenti seketika karena gak sengaja denger siswi nge-gosip.
Tuman emang!
"Ehh liat Asyaa, dia berduaan sama Arsen. Kak Laila putus karena dia ya??"
Gila sih, dia gosip pas gue sama Asya di dekatnya. Goblokk emang, salut banget karena kegobloklannya.
Gue ngeliat Asya, keningnya berkerut. Dia langsung natap gue kayak minta jawaban. Gue milih diem aja, gue yakin tu siswi gak cuma berenti disitu.
"Bukann woi, lu su'udzon. Arsen sama kak Laila putus karena kak Laila ketahuan selingkuh"
Nah kan betul!
Gue gemes liat Asya sekarang. Dia melotot kea terkejut gituu, matanya Asya keliatan lebih besar.
Keliatan imut dan serem berbarengan. "Woi, lu gosip orangnya disinii" cibir Asya kesal menatap siswi tadi.
"Ya maap!" Terdengar sangat tidak ikhlas. Asya berdiri mau tantang mereka, gue langsung tahan tangannya. Gue gak mau liat dia berantem.
Gue ngode siswi tadi untuk pergi, mereka berdua pun pergi dari taman.
__ADS_1
"Lu putus beneran?? Kok bisaa??"
"Mau gue ceritain??" Asya mengangguk antusias. "Tapi kalau gak mau juga gapapa kok"
Gue senyum sambil tatap Asya, "Gue ceritain"
- Flashback pagi tadi..
Gue emang ada niatan mau putus sama Laila, gue bosen. Dan kayaknya gue udah mau tobat.
Gue pengen fokus ke sekolah dan pengen ngedeketin Asya.
Ini gue di jalan, mau ke kelasnya si Laila. Kelas Laila di lantai bawah. Gue lupa si dia kelas sebelas atau dua belas. Keknya sebelas.
Bodo amat, kan ngelewatin.
Gue baru lewat dari kelas sebelas ipa dua. Gue ngeliat orang mirip sama Laila. Gue mundur perlahan.
Gue nunduk, ngintip dari kaca. Dan ternyata bener! Mata gue gak pernah salah. Gue liat si Laila beduaan sama ketua tim basket.
Cukup lama gue ngeliat mereka bedua, mereka ngobrol sambil sesekali si Laila ketawa gitu.
Sad?
Big no lah!
Gue terus liatin mereka sampe akhirnya mereka kea tatapan gitu. Di detik berikutnya, Ricky ngungkapin cintanya ke Laila.
Yang bikin gue kaget, Laila terima Ricky.
Omg, kita berdua masih pacarann!!
Gue nongolin kepala gue di kaca, gue ngeliat mereka berdua dan mereka berdua liat gue. Gue baru sadar, di kelas itu bukan cuma mereka berdua. Tapi rame, rame banget.
Mukanya Laila keliatan kaget pas gue muncul, "Gue lebih suka langsung ketemu fuckgirl daripada ketemu yang fake kayak lu"
"I-ini bukan seperti yang kamu bayangkan"
Gue masuk kelas, bersandar di satu meja. "Gue liat semuanya kok, tapi kurang sempurna. Belom ada kiss adegan. Silakan, gue gak bakal ganggu"
"Huftt... Oke sekarang gue jujur, gue eneg liat muka lu! Gue cuma cari sensasi pacaran sama lo! Puas?!"
Gue senyum smirk, dia gelagapan. "Makasih udah jujur, harusnya dari dulu. Asal lo tau, gue juga muak liat muka lu yang sok sok-an lembut itu"
"Lu pikir gue gak tau lo siapa? Gue kalau pacaran sama orang pasti tau seluk-beluk nya"
Gue ngeluarin hp, nunjukkin muka dia yang tidur di sofa bar sambil megang botol miras. Dia kaget bangett, "Gak nyangka ya. Muka cantik kelakuan minus"
"Dua kata spesial buat lu.."
"...kita putus!"
Gue langsung keluar dari kelasnya tanpa peduli omongan mereka.
Flashback selesai -
"Kasian bangett di duain"
Ni anak jadi ngeselin :)
"Gue gak nyangka si sebenernya. Asli gak nyangka, mukanya kak Laila tu gak kea sifatnya gituu. Mukanya muka kalem, tapi tingkahnya liarr banget"
"Gak ada beda nya sama lo"
"Gue gak liar bangsatt, gak pernah ke klub. Kalau sok sok-an mabuk minuman soda jalan ninjaku" Gue ketawa denger jawaban dia.
"Dia tadi bilang eneg liat lu ya??" Gue ngangguk. Tiba-tiba si Asya pegang muka gue.
Tanpa sengaja mata gue sama mata dia bertubrukan, jantung gue berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ya Allah, ini gue bener bener gugup.
"E-ekhem"
Dia langsung natap arah lain. Salting mukanya salting!!
"Ja- ekhemm.. jadi lo mau minta apa dari gue?"
"Gue cuma pengen lo kosongin waktu buat malam ini"
"Okee, gue kosongin. Terus apa lagi?"
Gue bingung coy, ini... "Berapa hadiah??"
"Terserah lo, ya gue harap gak banyak juga gak berat"
"Itu dulu dehh" Asya bernafas lega.
"Lo gak patahh hati, senn??"
"Sedikit"
"Ngakakk si inii, pakboy patah hatii" Asya ketawa. Gue suka semua dari Asya, termasuk ketawanya.
Arsenn!! Kenapa lo bucin?!!
Gue langsung pura-pura marah karena tadi.
"Gue juga manusia woi!! Bisa patah hatii, meskipun sering buat orang patah hatii"
"Keknya karma ya"
Lah iya bener!!
"Mungkin" Dia ketawa lagi, kali ini gue ikut ketawa karena ketawa dia nular bangett.
"Ntar malemm, lu gak bakal patah hati lagi. Gue jamin deh, ntar gue hibur lu" Dia ngomong itu sambil senyum.
Dan senyumnya bikin jantung gue gak sehatttt.
"Senyum lo manis banget sih,"
Astaghfirullah!!
__ADS_1
ARSEN!!
SADARRRR!!!