
"I love you."
"I love you too."
Arsen yang tadinya sedang mengelus dan menciumi tangan Asya mendongak.
"A-Asya?"
"I-iyaa."
Asya meniru kegagapan Arsen lalu tertawa.
Arsen tersenyum melihat tawanya.
"Alhamdulillah. Kamu udah bangun," kata Arsen.
Tangannya masih mengelus tangan Asya. Asya sendiri diam di tempat, matanya terfokus pada Arsen.
"Kamu ada yang sakit? Perlu aku panggil dokter?" Asya menggeleng, "nggak usahh." Asya mencoba duduk.
"Ehh ehh, ngapainn?? Tiduran ajaa."
"Ngga maukk. Aku pengen dudukk." Arsen membiarkan Asya. Sedikit-sedikit juga membantunya.
Arsen dan Asya sama-sama diam dengan senyuman. Arsen tidak tau ingin bicara apa, ia masih teramat bahagia melihat Asya sadar.
Kebahagiaannya tidak bisa di utarakan dengan kata-kata. Bukan lebay. Tapi memang begitu nyatanya.
"Arsenn."
"Iya, sayang. Kenapaa?"
"Mau peluk... boleh?" Tanya Asya dengan wajah yang menggemaskan. Arsen mengangguk sambil tersenyum.
Arsen berdiri dan memeluk Asya.
Asya memeluk erat Arsen, benar-benar erat.
"Makasihh. Kamu udah rela nyelametin aku, udah jagain jugaa."
"Kewajiban aku. Maaf yaa, aku telat datang jemput kamu."
"Gak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu."
Asya melepas pelukannya.
"Tetep aja ini salah aku."
"Stop ish. Gak mau temen ah kalau gitu." Asya menjauhkan dirinya dari Arsen.
"Eh kok gituu?"
"Maunya gitu! Males aku mah, malesss."
"Yaudah nggak-nggak. Bukan salah aku, salahh Arsya ajaa." Asya tertawa karena kucingnya jadi tumbal.
"Kamu tau apa yang pengen banget aku lakuin sekarang?" Tanya Arsen menatap Asya.
"Apa?"
"Cium kamu."
"Iiiii mesumm. Tapi kan tadi juga kamu nyium kening akuu!"
Arsen terkejut.
"Kok tauu? Jadi tadi kamu denger aku ngomong apa aja?"
Asya mengangguk sambil cengengesan.
"And now, can u promise me?"
"About what?"
"Apa yang kamu bilang tadi."
"I'm promise u, baby. Sebelum janji sama kamu, itu janji untuk diri ku sendiri."
Asya tersenyum lalu merentangkan tangan.
"Mau peluk lagiii."
Arsen tertawa, ia pun memeluk Asya lagi sambil mengelus rambutnya.
"Dah ah lepas. Kamu belum mandi!"
Arsen cemberut.
"Aku udah mandi."
"Kapan? Semalam, ya?"
"Dua hari yang lalu kayaknya." Asya tertawa lalu mengalihkan pandangannya. "Azril??" Arsen ikut menoleh.
Ada Azril di belakang sedang bersandar pada dinding sambil tersenyum. "Udahh? Gantiann!"
"Sorry-sorry. Gue gak liat lu tadii."
"Haha, santai ajaa. Gue juga tau gimana perasaan lu."
"Dah sono lu, jauh ah!" Azril mendorong Arsen dengan kakinya.
Menyebalkan.
Tapi gapapaa, Arsen sabar.
Azril mendekati Asya yang sedang menatapnya.
"Ada yang sakit?" Asya menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.
"I'm sorryy, nunaa." Azril langsung memeluk Asya. "Gara-gara gue, lu kena tembak juga."
"Apasih?! Gak usah ngomong gitu dehh." Jawab Asya sambil mengelus punggung Azril.
Dua detik setelahnya, Azril melepas pelukan.
"Tangan lu banyak luka." Keluh Azril.
"Ah ini gampang. Ntar tinggal minta perawatan ke mommy daddy."
"Tangan lu gimana? Sakitt bangett?" Azril menggeleng, "gue rasa lebih sakit lu."
"Sama aja agaknya."
"Eh iya, mommy daddy mana?"
"I don't know." Mereka berdua menatap Arsen yang berada di sofa.
"Mereka keluar bentar. Nyari sarapan katanya." Arsen sedikit berbohong. Ia masih belum ingin membicarakan tentang orang-orang jahat itu.
"Lu sendiri udah makan?" Tanya Azril.
"Udah. Makan angin."
"Mati sana lu, jingan!!"
"Nanti nangesss."
Asya tertawa melihat keduanya bertengkar.
Ceklek.
"Assalamu'alaikum... Asya Azrill?? Alhamdulillah, kalian udah bangun nakk."
Asya dan Azril tersenyum.
"Ada yang sakit, sayang? Perlu daddy panggil dokter??"
"Hihii, gak usah daddyy." Jawab keduanya kompak.
"Jagoan daddy, tangannya sakitt gak itu? Kok udah pindah tempat aja?" Azril tertawa kecil, "ini tadi di panggil Asya. Katanya minta di peluk."
"Heh! Gue gak ada minta yaaa! Lu aja noh yang meluk gueeee!"
"Dihh, bohong lu. Bilangnya sama mommy daddy gituu, padahal gak gitu. Dasar pembongak!"
"Allahu Akbar. Gue tendang juga ntar lu!!"
Mereka tertawa melihat anak kembar itu kembali adu bacot.
"Kata Arsen tadi, mommy daddy abis sarapan. Kok gak bawain Asya Azril??"
Aska dan Zia menatap Arsen. Arsen tersenyum dan mengode tipis-tipis.
"Daddy lupaa. Asya Azril mau makan apa?? Daddy beliin sekarang." Kata Aska bersemangat.
"Beneran nih, yaa??"
"Iyaa. Nanti daddy beliin, kalian mau apa? Bilang ajaa. Arsen juga sekalian."
Arsen tertawa, "gak perlu, tantee."
"Eitss, gak bisa gituuu. Lu jarang makan selama nyari."
Asya memperhatikan Arsen.
"Kamu kurusan dikittt, yaa?"
"Nggak lah. Emang gini badan akuu."
"Hm? Iya deng, gak jauh beda sama daddy. Ada rotinya." Jawab Asya.
"Gue juga punyaa." Protes Azril.
"Gue gak nanya." Azril menatap sinis Asya.
Asya cengengesan melihatnya.
"Mau makan apa jadinyaa? Biar daddy pergi beliin nih."
"Eum.. Asya gak pengen makann deh. Pengen es krim aja."
"Hehh! Kok yang nggak-nggak gituu? Kamu baru bangun, sayaangg. Masa maunya es krim sih?"
"Gak usah beliin Asya, mommy. Beliin Azril aja. Azril mau bobaa!"
"Ngaco ya dua-duaa. Makanan gituu lohh," omel Aska.
"Oke deh okee."
"Mau burger double cheese yang di McD." Pinta keduanya kompak.
Aska dan Zia saling tatap lalu menatap sinis kedua anaknya. "Kok malah junk food?!"
◕◕◕
13.43, masih di rumah sakit.
Arsen sedang menyelimuti Asya yang baru tertidur. Dari tadi pagi, Asya sibuk tertawa bersama keluarganya.
Teman-teman mereka belum datang karena Aska yang melarang untuk jangan datang dulu. Bukan apa-apa, Aska hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan yang kurang mengenakan nantinya.
"Senn." Arsen menoleh.
Ternyata Azril yang baru kembali dari luar.
Oh iya, di ruangan cuma ada Asya sama Arsen. Aska dan Zia tadi izin pulang sebentar untuk bersih-bersih. Arsen sendiri sudah bersih-bersih di rumah sakit.
"Kenapa cokk?" Tanya Arsen.
"Lu belum makan berat, kan? Nih makan. Gue udah bawa, gue gak mau di tolak."
"Ngerepotin anjritt. Thanks kalau gitu."
"Alah sok-sok makasih, kea sama siapa aja lu."
Arsen tertawa kecil.
Mereka berdua pun duduk di soda dan menatap Asya yang tertidur. Arsen sambil makan. "Lu gak istirahat?"
"Capek gue istirahat mulu."
__ADS_1
"Begoo begoo. Harusnya lu istirahat. Kan tadi udah gue bilang, tembakannya kena otot lu."
"Iya tau, ngerasa juga anjirt. Tapi gak terlalu sakit juga sii."
"Hm, akhirnya gue ngerasain gimana rasanya kena tembak."
"Apa rasanya?" Tanya Arsen.
"Not bad. Jadi pengen lagi gue."
"Tololll. Kalau gitu sini gue tembak!"
"Gue cowok dan homophobic. Mundur lu, gue jaga hatinya Naina!"
"Bukan gitu maksud guee jamalll!" Azril terkekeh melihat calon iparnya geram.
"Keknya kalau gue gak nantangin buat nembak, Asya gak bakal kena tembak."
Arsen menatap Azril. Muka-muka rasa bersalah mendominasi. "Zrill, Asya tadi udah bilang. Ini bukan salah lu. Lu selalu bilang sama gue buat gak nyalahin diri sendiri, kenapa sekarang lu nyalahin diri lu sendirii?!"
"Jangan ngomong macem-macem. Kalau lu nyalahin diri lu sendiri, gue ataupun Om Aska bakal lebih ngerasa bersalah dari lu."
"Gue yakin, siapapun bakal ngerasa bersalah. Termasuk Om Samuel dan yang lainnya." Kata Azril.
"Iya, i know. But, gak ada yang perlu disalahkan dari kejadian ini karena kita gak tau masalah kek gini bakal terjadi."
Azril menatap Arsen bertepatan dengan Arsen yang juga menatap Azril.
"Gue demen ama lu deh, Sen."
"Najisss bgsatt!" Azril tertawa.
"YAHUUU, ASSALAMU'ALAIKUM!"
"Fuckk u, Haikal." Umpat Arsen.
Mereka membangunkan Asya yang baru saja tertidur.
"Dih galakk. Kurang open bo sih kamoee."
"Astaghfirullahalazim. Ni anak makan apa sihh?"
"Semur jengkol sama ikan asin dipanggang aja tadii. Ikan asin panggangnya enak pake q."
"Fuckkk!"
Mereka terkekeh.
"Mosii bingits Abangg Arsen."
Arsen mau muntah dengarnya.
"Lu lagi tidur ya tadi, Sya?" Tanya Shaka.
"Lagi dagang cilorr. Udah tau nanyaa, gue slebew juga ntar pala lu."
"Allahu Akbar, si Arsen kenapa sii? Kurang ngepet pasti." Arsen mengelus dada melihat teman-temannya macem setan.
Dari tadi ngajak gelut.
"Syaa? Apa kabar, bestiee?" Tanya Ara menghampiri Asya.
"I'm finee. Kenapa baru datang??"
"Nunggu Haikal boker sekalian nunggu Dino beli pesawat."
Asya menatap heran Ara.
"Terus, Dino udah beli pesawat?"
"Alhamdulillah udah, dalam mimpinya." Asya tertawa.
"Kamu mau duduk apa gimana?" Tanya Arsen. Ia meletakkan nasinya lalu mendekati Asya. Asya kelihatan kurang nyaman.
"Mauu duduk di sofa."
"Ck, jangan. Udah duduk disini ajaa."
Arsen membantu Asya.
Cup!
"Thank you." Kata Asya setelah mengecup pipi Arsen.
Arsen senyum-senyum.
"Kanan doang ni? Kiri nggak?"
Sret..
Shaka langsung menarik kerah bajunya.
"Dasar buayaa." Arsen menggeram. "Masih gue pantau ya, Ka. Belum sampe gue smackdown lu!"
Shaka tersenyum menantang.
"Gue tunggu lu di lapangan basket."
"Gak main di lapangan basket. Lapangan futsal ayok!"
"Sianjyng. Kenapa gelut sih ah?! Gak tau tempat." Cibir Alex kesal.
"Kan bukan disini."
"Bacot. Geser!" Alex mendorong keduanya lalu mendekati Asya.
Alex memberikannya coklat. "Cepet sembuh, yaa? Gue minta maaf."
"Minta maaf untuk apa?" Tanya Asya bingung.
"Gue baru balik, gak bisa bantu cari lu kemarin-kemarin."
"Alah, Lexxx. Gak perlu minta maaf kaleehh. Mereka aja ada tapi gak guna."
Seketika semua orang menatap sinis Azril.
"Ngapee mata lu semuaa?!"
"Bacottt. Nanti nangessss."
"Oasuuu. Ngajak tempur."
Azril tertawa ngakak.
"Pusing pala gue denger mulut-mulut lemes lu pada. Gak bisa diam!" Cibir Arsen emosi.
"Serius nanya, Arsen abis kerasukan setan bagian mana? Emosi kali ku tengokk."
"Sebenernya dia gak kerasukan setan," Haikal menjeda ucapannya. "Jadi apa tu?"
"Cuma kerasukan jin."
"PAKYU!"
Mereka terkekeh.
"Jangan galak-galak, Sen. Gak ada yang sama lu ntar."
"Ada Asyaa."
"Dih, gue gak bakal restuin lu sih."
"Gue gak butuh restu lu, njnggg!" Omel Arsen sambil nyolot ke arah Shaka.
"Liat aja ntar. Gue hasut Om Aska sama Tante Zia biar gak ngerestuin lu." Arsen menatap sinis Shaka.
"Lu bedua kenapa sih? Gak usah banyak bacott, lu mau gue bantai?"
Keduanya auto terdiam melihat Alvin yang baru bersuara. Agak serem kalau Alvin ngamuk:')
"Huh hah huh hah."
"Cosplay jadi monyett, ngab?" Tanya Racksa dengan muka sok polos.
"Bang—"
"Bang Toyib, Bang Toyib, kenapa gak pulang-pulangg~"
"Anakmuu.. anakmu.. manggil-manggil namamuu."
"Asoy geboyy, kiw kiwww!"
"Tarekk mangg!!"
"Aku tak menangisimuu... hu hu hu! Ku masih bisa tertawa ha ha ha."
"Walau kau telah lukai akuu, nenek bilang kuat-kuaaattt!!"
"Asekk aaww."
"Aku tak mau bicara sebelum kau cerita semuaaaa. Apa maumuuuu? Siapa dirinyaaa?! Tak betah bila ada yang laeen!!!!"
"Jangan hubungi ku lagii, ini bisa jadi yang terakhir. Aku ngerti kamu, kau tak ngerti akuu. Sekarang atau tak selamanyaaaaaa~~"
"EEEEEEEEEEE AAA."
"EE EE EE EE AAA!!!"
Asya terkekeh melihat teman-temannya konser dadakan. "Lagunya lari-lari goblokkk!" Cibir Ara kesal sedikit tertawa.
"Emang gitu, biar variasiii."
"Hahahaa. Kocak bangett aslii!"
Mereka tersenyum lebar melihat Asya dan Azril tertawa.
"Berhasil woi! Ahh mantap." Mereka bertos ria dengan senyuman.
Asya Azril terheran-heran melihatnya.
"Senang rasanya bisa liat kalian ketawa lagi."
"Aah anjirrr. Terharu gue kalau udah beginii," keluh Azril.
"Alah siia boyy! Gak usah nangis lu, lembek kali kek cendoll!" Azril jadi tertawa.
"Jadi pengen cendol gue. Beli yuk!" Ajak Naina.
"Sama gue aja yuk, Nai." Sahut Shaka mencari kesempatan.
"Jangan sampe gue banting lu!" Shaka cengengesan karena Azril sedikit mengamuk.
"Dahlah, bucinersss."
Mereka duduk disofa bersamaan.
"Tangan lu sakit gak, Zril? Kalau gue getok gimana?"
"Lu gue tendang."
"O-owgheyy."
"Kalau gue ajak mabar gimana, Zril?" Tanya Alvin.
"Ha itu, kuyy gass!"
Pletak!
"Si gobloug betingkah bangettt!!" Azril nyengir setelah mendapat pukulan kecil dari Naina. Agak ngefly karena Naina perhatian.
"Eh iya, lu pada udah makan? Mau gue pesenin makan?" Tanya Arsen.
"Nggak usah anjritt. Kan tadi gue bilang udah makan. Pake apa tadi woii?"
"Semur jengkol sama ikan asin panggangg."
"Nah etaaa. Enak."
Haikal heboh.
"Emang ada ikan asin panggang? Mengadi-ngadi anjirrr!" Cibir Azril.
__ADS_1
"Ya nggak di panggang sih, di rebuss."
"Di goreng bolott!!"
"Nah iya, di goreng."
"Mengcape. Gak ada yang betol!"
Haikal cengengesan.
"Gue baru tau anaknya Om Ipan mau makan ikan asinn." Ledek Arsen.
"Anjaiii. Gak tau aja luu, taii kucing aja di rebus sama dia. Ntar jadinya churros."
"Gobloug!!"
Mereka terkekeh.
"Btw, Sya, lu masih... ting-ting?"
Asya menatap Dino heran, "maksud lu?"
"Arsen sama Azril cerita ke kami, katanya lu mau di perkos– aahhh!" Yang terakhir, itu Dino sedang kesakitan.
Kakinya diinjak dengan sengaja oleh Shaka dan Alvin. Mereka berdua menginjak secara bersamaan.
"Udah gue bilang jangan ngomong yang nggak-nggak. Masih ajaa. Jangan mancing emosi gue lu jamall." Omel Alvin berbisik.
Dino tersadar. "Sorry-sorryyy, gue khilaff. Lu gak usah jawab, Sya. Skip ajaa."
Asya tertawa kecil, "gue... guee.. emm.. gue gapapa kok. Masihh ting-ting jugaa." Kata Asya sambil tersenyum.
Gugup? Iya, Asya sedikit gugup. Dirinya agak trauma jika mengingat apa yang terjadi dua hari terakhir.
"Beneran gapapa kan? Lu belum di sentuh?" Tanya Haikal gantian.
"Ga.. gapapaa. Emang bel—"
"Nanya sama gue aja sini! Jangan buat cewek gua inget sama kejadian super parah itu!"
Mereka langsung menelan ludah melihat Arsen tegas.
"Asya cuma hampir di lecehkan. Baru di buka bajunya doang, gak sejauh pemikiran kalian." Kata Arsen.
"Senn, jangan marah-marah gitu. Mereka kan cuma nanyaa." Ujar Asya mengingatkan.
Arsen tersenyum, "iyaa aku tau. Tapi kan—"
"Aku gapapa benerann." Arsen tidak bisa berkata-kata lagi.
It's okay, terserah Asya.
"Kalau gitu lu bisa dong ceritain?"
"DINOO!"
Dino mengedipkan mata, "salah lagi gue. Skip oke, skippp."
"Jangan sampe gue tendang ya lu, Din!" Omel Naina kesal, Dino nyengir sedikit merasa bersalah.
"Udah. Gak usah nanya yang nggak-nggak sekarang." Kata Azril menengah. Mereka pun mengangkat jempol.
"Gue bawa buah nih. Lupa ngasih ke lu."
Alvin memberikan buahnya.
"Kupasin donggg. Masa iya gue makan sekalian sama kulitnyaa." Keluh Asya.
"Wihh, manjaa. Yaudah bentar, gue kupasin buat lu. Gue cuci dulu nih." Alvin membawa salah satu buah ke kamar mandi. Ia mencucinya lalu kembali keluar dan duduk di sebelah brankar Asya.
Alvin mengupas buah, sekalian memotongnya.
"Nih, makan."
"Iiiii, baik banget Abang Apinnn. Maaciww!"
Alvin tertawa gemas melihat Asya seperti ini.
Asya menoleh ke arah Dino.
"Dindinnn, gak usah rasa bersalah gituuu. Ntar lu pc gue aja kalau mau."
"Okee. Gue pc ntarr."
"Pc apaan? Hp lu aja gak ada." Cibir Azril.
Asya tersadar. "Lah iyaaa! Allahu Akbar. Kesekian kalinya gue kehilangan handphone."
"Ceilehh, santaiii ajee. Bapak lu banyak duit anjrottt, tinggal request langsung datang." Kata Dino.
"Iya juga sii. Beli hp apa yang kecee?" Tanya Asya minta pendapat.
"Apple kroak terbaru bagus tauu, Sya. Yang sama kea member seventeen boygroup kpopp." Usul Ara.
"Aaaa.. tiga belas?" Ara mengangguk.
"Baguss Sumsang sih menurut gue." Kata Racksa si pecinta Samsung.
"Tapi menurut gue bagus yang kalau di pencet tengah bunyinya ayayayaaa~" Mereka tertawa lagi.
"Itu hp apaa cokk?!" Tanya Dino.
"Gak tau merknya. Setau gue warna pink, cantik lahh. Cucok buat Asya."
"Matane!" Shaka cengengesan.
"Bagus hp nokiaa udah, deal!"
"Ndasmoeee. Ishh, gue jadi bingung ni."
"Mantepnya, besok ke toko hp dan kamu langsung milih sendiri." Kata Arsen.
"Nah itu lebih baguss. Pake duit Arsen aja, Sya. Pilih yang mahal, ngamuk gak dia."
"Alah boyy boyy. Mau beli yang seratus juta juga gue jabaninn," jawab Arsen santai.
"Kece nehh kecehh!" Arsen mengsongong.
"Aku jadi penasaran. Kalau misalnya aku udah gak ting-ting, kamu masih kek gitu gak ya ke aku? Teruss, lu pada juga masih sebaik ini gak ya sama gue?" Tanya Asya tiba-tiba.
Semua tatapan langsung mengarah padanya.
"Nanya apa sih lu?" Tanya Alvin kesal.
"Yaa, kan cuma nanyaa doangg."
"Mau gimana pun kamu, aku gak akan pergi. Karena sejak aku mutusin buat ke jenjang lebih serius sama kamu, apapun yang terjadi aku bakal tetep nerima kamu apa adanya. Aku terima semua kelebihan ataupun ke kurangan kamu. Jadi, gak usah mikir yang nggak-nggak." Jawab Arsen sambil menatap Asya.
"Walaupun udah gak vrgin?" Arsen mengangguk. "Satu kekurangan doang mah gak bikin aku goyahh."
"Kami juga sama kea Arsen kok, Syaa. Dalam keadaan apapun, kami bakal tetep temenan sama lu. Karena gak ada yang bisa ngalahin debesnya lu sebagai bestiee!" Kata Ara.
Asya tersenyum senang.
"Tersipuu awww."
Mereka malah tertawa melihat matanya menahan tangis. "Kalau lu sakit atau lu butuh teman cerita, lu bisa cerita ke kami. Kami siap dengerin kok!"
"Aaa huhuuu, mo nangisss."
"Lebayy. Gue tampol ntar jidat lu!" Asya cengengesan melihat Alvin.
"Dah ah. Ada yang bawa gitar gak?" Tanya Arsen.
"Gue bawa, tapi di mobil." Kata Dino.
"Ambil."
"Sekarang?"
"Tahun depannn, Dinosaurus!!!"
Dino tertawa kecil lalu pergi ke mobilnya.
"Tu anak minta di ruqyah, ya? Kok lu mau sama dia sih, Kei?" Tanya Alvin kesal.
"Gak ada lagi yang lain, bang."
"Fakkk. Mengsedih sekali Dino ajdi tempat terakhir."
"Hah? Eh, maksud Kei gak gituuuuuuu!"
"Hahaha. Panik dong paniikkk."
"Ishh, Bang Shaka parah sihh!"
"Eh, Pin, lu gak bawa anggur ijo?"
"Anggur merah aje mau kagak?" Tanya Alvin sinis.
"Nah ide bagusss! Mabok mantep niii."
"Mantep pala lu! Gak usah ngaco. Sok-sokan ngamer, minum sprite aja ngerasa kecut lu nyaa." Ledek Racksa.
"Dihw dihww. Bener sihh, tapi kan rasanya amer gak kek sprite."
"Gak usah nyoba-nyoba lu, nunaa. Lu coba gue grepek pala lu."
"Fikss, Azril Jung Ba-Reum dua!"
"Aww! Bukan Jung Ba-Reum gue mah, gue Jang Han-seok."
"Babooooo!"
Azril cengengesan.
"Korban drakor, zzzzzz."
"Assalamu'alaikum. Mass, yang mau beli gitar ada?"
"Gak usah bacot. Sini cepatt!"
Dino kena mental dari tadi diomelin. Ia masuk dan memberikan gitarnya.
Arsen mulai memetik gitarnya sambil tersenyum menatap Asya.
"Nyanyi apa lu?" Tanya Alex.
"Dih kepo. Gue nyanyi bukan buat lu."
"Sabar-sabarrr, Alex penyabar."
Arsen tertawa melihatnya.
"Ehm...."
"Teringat lagi hal yang buat hatikuu. Jatuh cinta dengan hebatnya padamu."
Arsen memulai.
Tangannya memetik gitar, mulutnya bernyanyi dan tatapannya menatap Asya.
"Ku temukan arti cintaa.. di waktu hidup denganmu yang tak terdugaaa. Seperti nadimu yang s'lalu denyutkan seeetiaaa. Aku bahagia menjadi pemiliknyaa~"
"Bagaimana bisa kau titipkan cintaaa, pada aku yang jauh dari sempurnaaa. Bila waktu izinkan kita menua bersamaaaa, di mataku indahmu tetaplah sama~"
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta? Berulang kali, berulang kali.. Berulang kali pada orang yang samaaa~~"
Di akhiri dengan senyuman yang menawan.
"Asyaa, i love uu."
Asya gak kuatt, helpp!!!
"Gue baper. Tolong ini gimana cara nanganinnya?" Tanya Ara heboh.
"IGD deket tau."
"Nggak gitu anjj! Diem lu ah."
"Asya gimanaa? Jantung amann??"
__ADS_1
"Alhamdulillah aman, cuma pengen kayang aja sekarang. Kayang yukk!!!"