
06.37, Kamis.
Tiga hari setelah Asya dan Azril holiday sederhana bersama kedua orang tuanya, kini mereka sudah kembali ke rumah abu-abu.
Asya dan Azril hanya berduaan sejak tadi malem, Racksa tidak tau kalau mereka berdua sudah pulang.
Pagi ini, mereka bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Mereka sarapan pagi dengan sereal yang semalam di belikan Aska dan Zia.
"Zrill, sesekali ke sekolah naik motor kek."
"Lu kan pake r--"
"Gue pake celana. Celana pramuka, hehe." Asya berdiri dan menunjukkannya.
"Emang boleh cewek pake celana??" Tanya Azril heran.
"Boleh si, kayaknya. Yang penting kan gak ketatttt."
"Kena kasus gimana lu?"
"Nggak bakall, setau gue banyak kok siswi SMA pake celana pramuka."
"Yainn. Yaudahh ambil helm, kan dua-duanya di kamar lu." Asya pergi mengambilnya kemudian memberikan pada Azril.
"Gue yang nyetirrr." Pinta Asya.
"Betingkahh! Gue aja," Azril mengambil kuncinya lalu mengajak Asya pergi.
Sembari menunggu Azril memanaskan motor sportnya, Asya mengunci pintu. Kemudian mereka pergi menuju sekolah.
❀❀
Asya dan Azril yang baru tiba di sekolah jadi sorotan banyak orang. Banyak yang memuji mereka apalagi ketika keduanya membuka helm.
Bukan hanya pujian, cacian juga banyak yang terdengar. But, Asya dan Azril tidak perduli.
Setelah selesai merapikan rambut mereka berdua hendak berjalan menuju kelas. Tapi tiba-tiba ada mobil yang lewat begitu saja. Keliatan seperti mobil baru.
Asya dan Azril bersiap-siap untuk mengumpat. Pemilik mobil keluar dan ternyata dia adalah..
"Si Arsen, bangsattt emang." Arsen cengengesan.
"Wahhhh!! Akhirnya lu bedua sekolah lagiiiii!"
Arsen mendorong Azril untung memeluk Asya kemudian Arsen ikut memeluk Asya tetapi dari belakang Azril.
"W-woilahh ngapain anjjk?!" Tanya Azril heran.
Arsen melepas pelukan kemudian tertawa. "Mau peluk Asya kan bukan muhrim, jadi melalui lu!"
Asya terbengong mendengarnya, seperti ada yang berubah dari sikap Arsen.
"Malahh keliatan ngegay asuuu," cibir Azril kesal. Azril cengengesan, ia menatap Asya.
"Apa kabar, cantikku?"
'Ahhh anjirrr, gue baper!' batin Asya menahan teriakannya.
"I'm fine," jawab Asya sambil tersenyum.
Arsen terus menatap matanya, Asya salah tingkah dibuatnya. "A-apaansi? Gue aneh?"
"Nggak, gue rindu aja gitu sama lu."
'Aaaaaaasu!'
Asya menahan mukanya agar tidak memerah, "bacot." Ia langsung pergi dari parkiran.
Azril menatap heran Arsen, "apaaa mata lu? Gak sorrrr?!" Tanya Arsen ngegas.
"Easuu, sama Asya kalem sama gue ngegas." Arsen tertawa.
"Kerasukan ape lu? Kejedut dimanee?"
"Apaan? Kita kenal?"
"Oogitu, gue pecat lu jadi calon abang ipar."
"Eee anjirrr, canda doang adek iparrr."
"Tetep gue blacklist, geli gue punya abang ipar agak heng gini." Ujar Azril santai.
"Anak ngennnn--"
"Dorss!" Azril tertawa melihat tatapan sinis Arsen.
"WOIII SAMPE KAPAN MOJOK DISITU?!" Teriak Asya.
"Mojok matamuuuu!" Asya cengengesan, mereka berdua pun menyusul Asya menuju kelas.
"Jangan nganeh ya, nuna. Jangan sampe lu kayang gara-gara make celana." Azril hendak masuk ke kelasnya.
"Gak segila itu guee!"
"Tapi tidak menutup kemungkinan anda kayang atau mungkin anda akan meroda karena pakai celana." Sahut Haikal yang di depan pintu.
"Aihhh, mati aje sana lu di paret." Asya langsung pergi. Haikal, Dino, Azril dan Arsen tertawa melihatnya.
Arsen pun menyusul Asya, "mana oleh-oleh?" Tagih Asya.
"Lu yang liburan gue yang di tagih?"
Asya berhenti, dia menghadap ke Arsen. "Kan lu jugaa liburann, keluar pulau punnn."
Arsen mendekati Asya, "itu bisnisss. Bukan liburannn," jawab Arsen sambil mencubit hidung Asya.
"Aahh pelit luu!" Asya pergi, Arsen mengejarnya sampai ke depan pintu kelas.
"Wait a minute, gitu aja ngambekkk." Arsen membuka tas dan memberikan dua coklat untuk Asya.
"Aaa thank youuu, gak pelit rupanya." Asya cengengesan.
"Udah dapet baru di baik-baikin, dasar!!"
"Sakittt!" Asya memukul pelan Arsen karena pipi gemoy nya di cubit.
__ADS_1
"Heh suu, lu bedua gak tau tempat?" Cibir Arif. Mereka berdua menoleh, dari tadi mereka tidak sadar kalau sedang di tatap satu kelas.
"Wahh.. udah jadian lu bedua??" Tanya Bayu.
Asya mengedipkan matanya dua kali, terlihat seperti orang dongo.
"Jadian matamu!" Asya terkoneksi. Mereka tertawa melihat pipi merah Asya.
Asya langsung menuju tempat duduknya, "Racksa manaaa?"
"Sakitt kepala katanya, di uks." Jawab Irgi.
"Ahaaa.. saya tau otak licik dia." Gumam Asya tersenyum smirk, yang di sekitar Asya geleng-geleng kepala.
"Btw, sen, coklat buat gue mana?" Tanya Rafy.
"Ada itu.."
"Manaaa?" Tanya Irgi gantian.
"Di supermarket." Arsen menuju tempat duduknya.
"Titisan Jin gini nih!" Arsen tertawa.
"Oiya, lu kapan pulang? Kemana aja?" Tanya Arif pada Asya.
"Liburan hehe, emang kenapa?"
"Gapapa, sepi kelas kagak ada lu sama Arsen."
Arsen memang pergi dari malam Senin dan kembali di malam Kamis, Racksa yang awalnya menginap bersama Arsen di suruh nginap di apartemen Aska.
"Apa apaa?? Sepi karena gak ada gue?? Oh ya jelasss! Terasa hampa, yekan?!"
"Nah kan, jadi narsis dia. Bagusan kagak lu jawab gitu tadi, rip." Cibir Irgi, Asya tertawa.
"Asya gak sekolah beberapa hari aja pada heboh. Giliran gue gak masuk sehari gak ada yang peduli." Ujar Meli iri, ia berbicara dengan pelan namun tetap kedengaran.
"Lagian lu ngapain di kelas? Sama aja kan, jadi beban."
Arsen dan Asya menutup mulut tidak percaya dengan jawaban sarkas Irgi, terkejut bro!
Meli diam tidak bisa berkutik, "lagi pula ada dan tidak nya lu gak berpengaruh sedikitpun di kelas ini. Kalau ada Asya ataupun Arsen, setidaknya kelas gak sepi kayak kemaren."
Arsen menatap Asya, Asya menatap Arsen. Mereka bertos ria.
"Lu iri ya? Apa gimana?" Tanya Arsen.
"Gak sih, b aja. Apa yang mau diiriin dari anak mami."
Wahh.. emosi Asya sedikit terpancing. Ia membalasnya dengan senyuman.
"Lu mau nyari ribut lagi ya kayaknya," ujar Arsen agak emosi. Asya menahan nya agar tidak ngamuk.
"Itutu true! Gue kan emang ANAK MOMMY yang lahirnya dari rahim mommy, beda lah sama anak pungut."
"Uaaahh ter-skak!!" Asya tersenyum smirk. Ia berjalan mendekati meja Meli.
"Kok diem?"
❀❀❀
10.01, kantin sekolah.
"Zril..."
"Hm?" Azril mengunyah sambil menatap Asya.
Asya menelan bakso yang sudah ia kunyah, "keknya gue capek deh jadi baik. Sisaaa beberapa bulan lagi, bandel yok?"
"Sesat kali ah manusia satu ini!" Cibir Racksa, Asya cengengesan.
"Kek gak ada cerita nya gue kalau kalem kalem ajaa."
"Kalem? Lu kalem? Sungai Nil gue kuras!" Asya tertawa mendengar protesannya Rafy.
"Dia terbukti kalem karena mecahin kaca sekolah waktu kelas sepuluh, matahin dua kursi juga di kelas sepuluh, ngebelah papan tulis yang emang udah encok di kelas sebelas, terus apalagi ya? Oh iyaa, ngeberantakin semua buku di perpus waktu kelas sebelas, terus ngejahilin guru-guru di kelas sebelas pake permen karet."
"Sebut terossss!" Sahut Arsen.
"Coret coret mobil pak killer di kelas dua belas, ngerusak pintu kamar mandi kelas dua belas, ngejegal pak Jarwo waktu lagi jalan di kelas dua belas. Sering boloss, di suruh lari lapangan malah rebahan di bawah pohon. Masih banyak lagi sebenarnya, cuma kalau di sebutin kagak bakal abis-abissss!" Ujar Haikal.
"Haa gitu di bilang kalem?" Tanya Dino.
Asya terkekeh mengingatnya, "masa iya sebanyak itu? Ngadi-ngadi luu!"
"Ngadi-ngadi matamuuuu!" Omel Haikal.
"Kok lu inget anjirrr?!" Tanya Asya heran.
"Cemana gak ingett, gue juga kena imbasnyaa."
"Oiyaaa!" Asya cengengesan.
"Kenapa kepsek gak mau drop out anak ni?" Tanya Azril heran.
"Nanti gak ada lagi anak secantik dirikuu!" Jawab Asya sambil menopang dagu.
"Gak usah senyum, geli gue." Asya langsung menyentil jidat Azril.
"Itu orang tua lu kagak ngamuk, sya?" Tanya Irgi.
"Tanya Azril."
Irgi dan Rafy menatap Azril. "Diomelin anjirr, lama banget pulaa. Tapi abistu udah biasa aja, karena dulu mak gua lebih parah."
"Parah nya??" Tanya Rafy.
"Tiap tahun pindah sekolah pas sma."
"Pantesan anaknya ginii, turunan ternyata." Asya tertawa.
"Yang kalem tu cuma gue." Ujar Azril dengan pedenya.
"Easuu, mau di sebutin lagi? Lu bedua kagak ada bedanyaaa anjrottt!" Azril cengengesan.
__ADS_1
"Kenyatannya, yang ada di meja ini kagak ada satupun yang beres." Mereka langsung menatap Racksa.
Racksa pun menoleh ke arah Asya, Azril, Dino, Haikal, Arsen, Rafy, dan Irgi secara bergantian.
"Kenapa? Gue bener, kan?"
"IYA BENERR!"
"Anjirrr ngegasss," Racksa mengelus dada.
"This is geng gak beres."
"Tapi emang true sih, kagak ada satupun yang beres kecuali gue." Ujar Arsen.
"Lu yang paling gak beres, suu!" Arsen cengengesan.
"Skip yang gak beres. Gue punya satu pertanyaan." Mereka menoleh ke arah Dino.
"Apa?" Tanya Irgi.
"Kan ada orang namanya Jamal, punya sapi lima terus di jual tiga sama adeknyaa..."
"Tinggal dua." Sahut Haikal.
"Bukan itu pertanyaannya, goblokkk." Haikal cengengesan.
"Jadi apa pertanyaannya?" Tanya Azril.
"Nah, pertanyaannya siapa nama adeknya Jamal?"
"JAMIL!" Jawab Asya ngegas.
"Lah, Jamil?"
"Terus kalau bukan Jamil siapa?" Tanya Asya menahan emosi.
"Ya gue gak tau, makanya nanya."
"Sabar Haikal sabar.."
"Untung kesabaran gue tinggi," sahut Arsen.
"Tenang Azril tenang! Jangan di jual dulu otaknya, jangan."
Asya memegang kepalanya, "huh. Prustasi gue punya temen kek begini."
Dengan santainya Dino tertawa mendengar keluhan temannya.
"Asyaaa, kok lu jawabnya Jamil?" Tanya Irgi.
"Ya biar kompak aja, Jamal Jamil."
"Jamel cakep," sahut Rafy.
"Jamul gimana, Jamul?" Tanya Racksa.
"Jambul aja udahh!"
"Astaghfirullah, kan ngelus dada lagi..." Ujar Haikal. Mereka terkekeh.
"Lagian gue Herman sama Dino, ngapaa nanya adeknyaaa?! Kenapa gak sekalian kakek uyutnyaa?!" Tanya Asya kesal, Dino malah nyengir.
"Herman? Bapaknya Irgi tu," ujar Arsen.
"Masa iya?" Irgi berdehem.
Asya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum misterius, "kelas sebelah ada juga kan ya namanya Irgi. Jadi biar gak ketuker, kita panggil Irgi Herman."
Mereka tertawa lagi melihat ekspresi Irgi sekarang.
"Kalau ke terusan bisa susahh, syaa." Sahut Rafy.
"Susahnya??"
"Ntar keceplosan, mo teriak manggil Irgi yang keluar pak Herman." Jawab Haikal.
"Iya benerrr. Contohnya gini niii," Mereka memperhatikan Rafy.
"Assalamu'alaikum, Hermaaaaan!"
"Teruss yang keluar pak Herman nya sambil bawa golok."
"Belom nanya langsung kaburr," Sahut Azril, Rafy mengangguk. Asya dan yang lain tertawa ngakak mendengar perumpamaan absurd dari Rafy.
Mendengar yang di bully diam, mereka menoleh ke Irgi.
"Gak nangis kan, gi?"
"Uwaaasuuu."
"Hahahaha!"
"Btw, satupun dari kalian gak ada yang punya doi gitu? Gue lelah jadi betina sendiri disini, yakin manusia disini pada su'udzon sama gue."
"Cemana mau punya doi, cewek aja gak berani deket sama gue karena terlalu tampan."
"Terlalu menyeramkan, iya!" Cibir Azril.
"Astaghfirullah, kejujuran!" Rafy mengelus dada, mereka terkekeh.
"Ehh.. waitt, gue baru inget. Tara kemana?"
"Nggak tauu, dia masuk hari Senin doang. Itupun cuma setengah hari karena di jemput sama pak Fauzi." Jawab Racksa.
"Kayaknya sakit tu anak," Asya mengambil ponselnya hendak menghubungi Tara.
Arsen yang jealous menahan tangan Asya, "biarin aja."
"Hm? Emang kenapaaa?"
"Lu ngehubungin Tara otomatis lu ngobrol sama Fauzi." Jawab Arsen.
"Belum tentu." Arsen menatapnya sekilas kemudian kembali makan.
"Oke, umpamanya gue beneran ngomong sama kak Fauzi. Emangnya kenapa?"
__ADS_1
Arsen menatap lekat mata Asya, "meskipun gue tau, gue gak berhak untuk ngelarang lu dalam hal ini. Tapi jujur, gue cemburu."