Barbar Generation

Barbar Generation
Diusir?


__ADS_3

Arsen membawa Asya ke kamar mereka. Ia duduk di ayunan yang ada dekat balkon bersama dengan Asya yang duduk dipangkuannya.


"Udahan dong nangisnya, sayangg. Azril cuma bercanda kok ituu," kata Arsen halus sembari mengelus rambut Asya. "I-iyaa tapi dia jahatt..."


"Iyaa, jahat emang mereka jahat. Nanti kita balas yaa? Udah udah, jangan nangis lagii, sudah cukup sedihnya." Asya menganggukkan kepalanya yang berada di dada Arsen.


Arsen diam lagi, ia membiarkan Asya tenang terlebih dahulu sambil mengelus rambut Asya penuh kasih sayang. "Aku bersyukur banget punya kamu, sayang. Gak perduli mau gimana kamu, selagi itu kamu, aku tetep maunya cuma sama kamu."


"Gak bakal aku berpaling dari kamu. Jadi gak perlu mikir yang aneh-aneh ya kamunya. Aku ndak mau biby kenapa-napa gara-gara momnya banyak pikiran. Okayy?"


Tidak ada respon sama sekali. Ternyata Asya ketiduran. Arsen tersenyum meledek. "Lucu bangett emang istriku inii. Sempat-sempatnya boboo."


Arsen diam sekitar sepuluh menit, setelahnya ia berdiri sambil membawa Asya untuk diletakkan di kasur. Asya benar-benar tertidur. Arsen menyelimuti Asya, mengecup keningnya penuh kasih sayang lalu keluar menghampiri yang lain.


"Azrill, sini lo."


Mendengar suara Arsen yang terdengar tegas dan menantang cukup membuat bulu kuduk Azril meremang. "Ampun, bang. Gue gak bermaksud...."


"Lu ngapain ngomong begituu, peaaa? Gak tau apa bumil tu sensitif?!" tanya Arsen kesal. "Yaa emang gak tau, belum punya bini gue."


"Gue sepak beserak otak lu. Minta maaf lu nanti," titah Arsen tegas. "Iya, siap, pak."


"Anjayy anjaayy. Kenapa nurut banget si curut ini sama Arsen?" tanya Alvin kepo. "Yaaa gimana enggakk, Arsen kan mentornyaaa. Ngelawan mentor makin payah nikahh," sahut Racksa.


"Hahahaha! Kasiann."


"Berisikkk!"


"Btw, Asya mana jadinya?" tanya Naina gantian. "Tidur diaa. Gak tau tuh tiba-tiba merem."


"Masih pagi, Sen. Gak bagus tidur pagi-pagi, apalagi abis nangis dia," ujar Ara was-was. "Mau gimanaa lagi? Gak enak juga dibanguninnyaa. Biar tenang aja dulu, biar bangun nanti bagus moodnya."


"Lu jangan betingkah lagii tar kalau dia bangun," dumel Arsen ke arah Azril. "Iyaa iyaa, gak lagi. Kapok juga guee, bisa-bisa diomelin sama bokap nyokap karena gangguin si bumil terus."


"Bentar deh. Ini gue masih gak percaya dengan apa yang terjadi. Asya beneran hamil? Anaknya Arsen?" tanya Shaka curiga. "Yaiyaa anjirr, jadii anak siapa kalau bukan anak guee?"


"Iyasih. Tapi kenapa cepet banget coookkk? Lu main gak pake pengamann?" tanya Shaka lagi. "Kagak, Asya yang gak mau. Gue sendiri ya agak bingung jugaa kenapa jadinya cepet, tapi yaudahlah. Rezeki dari Allah, gak mungkin gue tolak."


"Wahh, sumpah sih. Ini dia nyolong start banget cokk. Udah nikah duluan, punya baby duluan. Licik bangett gue liat-liat."


"Shaka iri dekk??"


"Y."


"Tapi untungnya tu Arsen kaya gitu kan, banyak duit. Jadi dia gak perlu pusing tar mikirin biaya susu anak yang mahal, popok anak mahall," sahut Ara. "Jangan salah, gue mikirin itu juga—"


"Yaa dipikirin tapi kan gak mikir dapet uangnya darimana. Ahilahh, ngerti maksud gue gak sih lu?!" Arsen cengengesan, "Paham-paham."


"Jadi, gimana rasanyaa, calon papa muda?" tanya Alvin mengganti topik. "Jangan tanya dah, campur aduk benerann. Kalian jangan sampe jauhin Asya yaa?"


"Gila ae lu. Gak bakal juga lahh. Atas dasar apa mau jauhin bocil satu itu. Diliat-liat tu lucuu juga, bocil otw punya bocill," sahut Shaka. "Arsen yang bakal pening, ngurus dua bayii."


"Arsen pun bayi itu we kalau sama Asya."


"Bongak. Ini Dino kemana?" tanya Arsen mengalihkan perbincangan lagi. "Itulah gak tau, kata dia ada urusan tadii. Buru-buru pergi abis bangun."


"Dia sekarang mayan sibuk jugaa gara-gara jadi owner kafee." Tatapan mereka serentak beralih ke arah Haikal. "Sejak kapan anjayy??"


"Udah lumayan lamaa. Yakali lu ga tauu, Ka?"


"Sumpah dah anjirr. Lu pada, mentang-mentang gue jauh gak ada dikasih kabar sama sekali. Asya hamil gue gak tau, Dino buka kafe gue gak tau. Apalagi yang gue gak tau nih sekarang??"


"Gak taukan lu, bentar lagi gue sama Nai nikah."


"Kalau yang ini gue gak percaya."


"Sialan lu, Ka!!" Tawa mereka menggelegar, memenuhi ruangan. Mereka lanjut berbincang, ngobrol-ngobrol random tentang banyak hal.


"Asya lama banget tidurnya. Gak tenang gue abis bikin dia nangis tadi. Gue check ke kamarnya bentar dah," kata Azril beranjak pergi. "Gak usah, gue gak mau ngomong sama lu!"


Mereka melihat ke arah tangga. Terlihat Asya yang baru bangun turun sambil mengikat rambutnya. "Ehh, udah bangun, tuan putrii?" Asya tersenyum, ia datang mendekat lalu duduk dipangkuan Arsen.


"Lovee youu," kata Asya sedikit mengeratkan pelukannya. "Love you moree, momm," jawab Arsen berbisik sambil mengelus punggung Asya.


"Dunia punya lu berdua dah iyaa."


"Yang lain ngontrak."


"Asya ayo normal pliss, ini sofa bapak lu masih gede," kata Alvin gemas melihat Asya manja. "Mang napasii? Gak boleh?? Gak senangg???"


"Asyaa.. Gak boleh gitu, sayang. Kasar," sahut Arsen lembut sembari mengelus rambut Asya. "Ya abisnya dia sewot ajaaa!"


"Dia cuma menyarankan, sayang. Dahh dahh, duduk di sebelah aku sini. Pelukannya nanti lagi, sekalian gak pake baju juga gakpapaa tapi nanti di kamar."


Bugh!!


Kepala Arsen dipukul Racksa dengan bantal sofa yang ada di tangannya. Bukannya marah, Arsen malah tertawa. "Gak tau sikon lu monyett!!"


Asya beranjak dari pangkuan, ia duduk di sebelah Ara dan Naina. "Makin cakep aja dah lu gue liat-liat," puji Ara berniat menaikan mood Asya. "Anjayyy. Thank you, bestiee. Lu juga makin cakepp ajaa gue liatt."


"Oiya jelas! Ara bahagia sama gue, makanya makin cakep," sahut Haikal bangga. "Bullshit banget sih kata gue."


"Lu bagusnya diem aja emang, Racksasa."


"Skip dah skip. Lu ada yang dipengenin gak, Sya? Biar gue yang beliin ntar," ujar Shaka tiba-tiba. Asya menggeleng. "Gak ada, gue maunya Azril enyah aja sih."


"Sialund, kok guee lagii yang kenaaa?! Gue diem padahall," keluh Azril sok dramatis. "Perbanyak istighfar ya, Jril. Dosa lu numpuk banget keknya."


"Ye bacot."


"Btw, sekarang gue paham kenapa Asya hamil," kata Alvin menggantung ucapannya. "Karena ada suaminya lah, yekann?"


Alvin menggelengkan kepalanya. "Karena itu tuh liat, adiknya Arsen gedeee. Subur dan makmur."


"Alvin setan!" Arsen mengambil bantal sofa untuk memukul Alvin lalu menutupi asetnya. "Bisaaa pulak lu fokus kesituu, Alpiiinnnn? Gilee luu."

__ADS_1


"Gak sengaja keliataannn. Menonjol banget tadi gara-gara Asya abis dari situuu."


"Wah, kacau."


"Apin hornyyy ya abis liat adiknya Arsenn??"


"Heh anjrottt!! Gue normal cokkk!!!"


...◕◕◕...


Kini malam menyapa kediaman Aska. Rumah besar itu kembali sepi karena teman-teman Asya dan Azril sudah kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Asya dan suaminya, mereka juga pulang.


Di rumah itu hanya tersisa Azril dan Naina. Keduanya sedang asik menonton televisi di ruang keluarga sekarang. "Kamu tadi udah jadi minta maaf kan sama Asya?" tanya Naina membuka topik.


"Udah, tadikan Asya udah mau ngomong sama aku juga. Perjuangan bangett bujuknyaa, pas aku sogok beliin martabak baru mau maafin."


"Ya lagian ngada-ngada. Bisa-bisa dia kepikiran sampe overthinking tau gara-gara ucapan kamu tadi. Bumil lagi sensitif malah diganggu, ada-ada aja."


Azril nyengir. "Mauu iseng doangg tadinya, eh malah dianggep serius sama belio."


"Yang penting jangan kamu ulangin lagi dah. Kasian kalau Asya kepikiran sampe stress."


Azril mengangguk. "Gak bakal aku ulangi." Azril menggeserkan tangan Naina dari paha, lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi kepala di paha Naina.


"Kita cuma berdua di rumah, jangan macem-macem!"


"Gak macem-macem. Kapan lagi aku bisa gini sama kamuu kalau gak sekarang. Kita juga gak cuma berdua btw, ada ART."


"Karepmu, Zril."


Hening sejenak, mereka lanjut menonton.


"Ngeliat kehidupan Asya after marriage tu kek bahagia banget gak sih, yang? Aku ngerasa Asya makin happy, makin gembul gituu."


"Gimana enggak, Arsen sebegitu baik dan sabarnya ngadepin Asya. Ngetreat Asya bener-bener like a queen. Di samping itu juga Arsen banyak uangnya, mau ini itu Asya gak perlu mikir mahal enggak. Bahagia laa dia."


"Plus, pupuk Asya juga cocok." Naina yang tadinya mengelus rambut Azril berhenti dan menutup matanya. "Azril mesumm!"


Azril menarik tangan Naina sambil cengengesan. "Kamu gak mau nikah juga sama aku? Biar happy kea Asyaa?"


"Belum tentu aku bisa happy kea Asyaa, kamu be idak punya duitt." Azril menatap datar Naina. "Bener sih, gak salah. Agak nyesek juga abis kamu bilang begitu."


"But i still proud of you karena kamu sudah berusaha sampai sejauh ini," kata Naina senyum. Azril ikut tersenyum, ia kembali duduk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Naina. "I love you, Nainaa."


"I lovee you too."


"Gak moree???"


"Enggaak, maless." Azril mempout bibirnya kesal. Tapi hanya sebentar, setelahnya ia malah mengecup bibir Naina. Yeahh, bibir!


"Azril!!"


"Aww, khilafff..." Naina yang kesal ingin memukul Azril, tapi Azril sendiri langsung menghindar setelah melihat pergerakan Naina. Ujung-ujungnya saling kejar-kejaran sampai ke dapur.


"Yahh, Nai cemen gak bisa tangkep akuuu," ledek Azril dari seberang meja. Naina berkacak pinggang menatapnya kesal, "Licik kamu kaburr."


"Gak seruu ahh."


"Capeek, maless."


"Kamu capek sama aku ta?"


Naina menatap datar Azril. "Asal bunyiii aja mulutmu berbicara, Azril. Gak lah." Azril terdiam di tempat, memperhatikan gerak-gerik Naina sambil memikirkan hal lain.


Sepersekian detik berikutnya, Azril mendekati Naina. Menariknya lalu mendudukkan Naina di wastafel dapur. Azril berdiri di depannya. "Azril!!?" Azril diam, menatap Naina terus-terusan.


"Ngapainn sihh kamu?? Awass deh, aku pengen makan nugget," kata Naina sambil menggeserkan Azril. Tapi Azril tidak bergerak sama sekali. "Nai, coba jujur, kamu sayang gak sih sama aku?"


"Banget. Sayang banget."


"Buktinya?"


Naina mengkerutkan dahi. "Harus pake bukti? Kamu kalau sayang aku juga buktinya apa?" Azril mengecup bibir Naina lagi. "Aku gak suka sembarang cium orang kecuali ke orang yang bener-bener aku sayang."


"Serem kamu kek gini, geser ah." Azril masih di tempat, kedua tangannya masih berada di sisi kanan dan kirinya Naina. "Aku sayang banget sama kamu, Nai."


Naina tidak menjawab, ia memperhatikan Azril dengan teliti. Melihat ekspresi Naina membuat Azril gemas. Ntah setan dari mana, Azril malah mendekatkan bibirnya ke arah bibir Naina.


Tinggal sedikit lagi, tapi tiba-tiba....


"Jadi gini kelakuannya selama mommy daddy tinggal?" Azril berbalik. Ia sangat shock melihat mommy daddynya menatap dengan tatapan menyeramkan.


"Mom, dadd, ini salah paham...."


"Masuk ruangan sekarang!" perintah Aska tegas lalu pergi. Azril deg-degan. "Mom, gimanaa inii??"


"Baca basmallah. Cepet masuk ruangan, Naina juga ikut aja." Zia pergi menyusul suaminya.


Naina langsung mendorong Azril dan meminum air putih. "Kamu sih!! Ngapain cobaa daritadi kek gituu?!" dumel Naina kesal. "Khilaf, Nai."


"Kamu di sini aja deh ya, biar aku aja yang kena marah," kata Azril lalu pergi. Naina mengikutinya, "Aku juga disuruh tante, gak mungkin gak ikut."


Azril terdiam, memikirkan alasan apa yang cocok nantinya. Setelah mengatur nafas, ia mengetuk pintu. Setelah di suruh masuk, keduanya pun masuk.


"Azril jelasin dulu ya, daddy—"


"Gak, enggak. Gak butuh alasan. Kalau daddy gak pulang pasti kamu lebih macem-macem dari ini. Naina, jujur sama om, seberapa sering anak ini kurang ajar sama kamu?" Naina membisu.


"Naina jujur aja, sayang," sahut Zia lembut. "Azril gak pernah macem-macem kok, om, tante. Tadi juga cuma salah paham..."


"Naina gak perlu bohong, om sama tante gak suka dibohongin. Salah paham jenis apa tadi, udah jelas-jelas anak ini mau cium kamu di dapur." Naina menunduk, jujur dirinya sangat takut.


"Naina?"


"Naina udah jujur kok, om, tante. Azril gak pernah macem-macem. Naina juga gak tau kenapa tadi tiba-tiba Azril kecup bibir Naina, bener-bener baru tadi doang dan cuma kecupan. Terus tadi juga yang di wastafel enggak ngapa-ngapain, om, tantee..."

__ADS_1


"Enggak ngapa-ngapain tapi kenapa posisinya begitu? Dia mau cium bibir kamu kan tadi?" Naina mengangguk perlahan. "Tapi gak kena kok, tantee."


"Iya, gak kena karena om sama tante datang. Kamu ngapain coba kek gitu? Ada mommy daddy ajarin kamu gitu, Azril? Udah diperingatkan, jangan betingkah kalau belum punya relationship yang sah, malah macem-macem sama anak gadis orang."


"Azril khilaf, mom..."


"Khilaf khilaf. Kamu ngelakuinnya sadar sok-sokan bilang khilaf!" dumel Zia lagi. Aska sedari tadi diam, menatap Azril penuh mengintimidasi. "Daddy kecewa berat sama kamu, Zril."


Azril mendongak. "Maaf, daddy. Azril minta maaf..."


"Daddy gak pernah ngajarin kamu bertingkah kurang ajar gitu ya, Azril." Azril berlutut. "Maafin Azril, daddy. Azril juga gak tau kenapa tadi bertindak hal bodoh... Azril minta maaf, daddy. Maafin Azril udah bikin daddy kecewa..."


Aska diam, menatap serius anaknya. "Bahaya kamu kalau harus di rumah terus. Mulai besok, pindah ke apartemenmu sendiri. Semua fasilitasmu daddy sita, kecuali motor satu. Daddy gak bakal transfer kamu duit, terserah kamu mau cari makan darimana."


"Serius kamu?" tanya Zia terkejut. Aska menganggukkan kepalanya. "Dia perlu hukuman."


"Sampe berapa lama? Nanti anak kita mati gimana?" tanya Zia lagi panik. "Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Gak bakal mati, kalau dia punya akal pikiran gak bakal pasrah aja gak punya duit."


"Kamu gak terima, Azril? Mau protes?" tanya Aska galak mendengar suara helaan nafas Azril. Azril mendongak, "Nggak. Naina gimana, daddy? Naina gak diapa-apain, kan? Ini sepenuhnya salah Azril kok, daddy."


"Ya emang salahmu gak bisa nahan nafsu. Orang belum sah udah nyosor-nyosor. Naina tetep di rumah, jadi anak mommy daddy."


"Jadi mantu."


"Apa masih mau Naina sama cowok cabul kek kamu?" Azril terdiam lagi. "Azril gak cabul, daddy.. Asli yang tadi cuma khilaf."


"Khilaf khilaf apa, kamu sadar ngelakuin itu. Gak perlu ngelak lagi. Kemasin barang-barangmu, besok abis sarapan pergi."


"Azril di usir?"


"Disuruh merenung. Udah sana keluar." Tanpa melawan lagi, Azril pergi. Naina pun ikut meski tidak di suruh, tapi begitu Azril keluar. Naina menutup pintu dan kembali menghadap Aska.


"Om..."


"Gak perlu khawatir, Naina. Ini juga salah satu cara biar dia bisa berprogres. Walaupun caranya sedikit salah."


"Naina masih boleh ketemu Azril, kan om?"


"Iya boleh, gak ada larangan. Tapi kamu masih mau sama dia? Udah kurang ajar gitu sama kamu? Kelakuannya gak bisa dimaklumi, bukan anak om itu kayaknya."


"Anakmu itu, kita buatnya bareng-bareng ya."


...◕◕◕...


Pagi hari di apartemen. Arsen sudah menyelesaikan semua pekerjaan, mulai dari nyapu, ngepel, dan lain sebagainya. Arsen melakukannya memang atas dasar kemauannya sendiri. Ia tidak ingin Asya kelelahan.


Asya sendiri masih tidur dengan nyenyak. Arsen membiarkannya lalu masak sarapan. Pagi ini Arsen membuat omelette dan tumis sosis disertai sayuran. Arsen berkreasi berdasarkan apa yang ada di kulkas.


Selesai memasak, Arsen ke kamar. Ia menimpa tubuh Asya, mengecupi pipi dan bibirnya. "Sayaanggg ih!" dumel Asya kesal. "Wake up, honey. Ayok sarapann."


"Kamu masak sarapan?" tanya Asya membuka mata. Arsen mengangguk dengan senyuman sambil meminggirkan rambut yang menghalangi wajah Asya.


"Kamu ke kantor?"


"Iyapp, ini bentar lagi ada rapat."


"LAH YA KENAPA GAK BILANG KEMARENN??"


Arsen nyengir. "Akupun lupa, untungnya diingetin Adam. Yaudah ayok bangun, duduk dulu nanti baru ke dapur. Aku mau mandi sekalian siap-siap."


"Mas gak ke kantor dulu hari ini boleh gak??"


"Mau ngapain, sayang?"


"Pelukan seharian," jawab Asya santai. "Mana bisa gituu. Aku ada rapat harinii."


"Yaudahh deh. Tapi aku ikut kamu ke kantor yaaa?" tanya Asya lagi. "Kamu ada kelas hari ini, ayy. Kuliah dulu gih, nanti susul ke kantor."


"Gak mauuu, mau sama kamu ajaaa. Boleh yaa? Masa gak bolehh??" Arsen menghela nafas pelan, ia memeluk Asya. "Yang bilang gak boleh siapaa? Janji jangan rusuh yaa??"


"Janjii!"


Asya auto bersiap-siap, begitupula dengan Arsen. Keduanya mandi bersama. Hanya sekedar mandi, tidak lebih. Setelah selesai, mereka sarapan lalu pergi. Tidak banyak basa-basi karena Arsen harus mengejar waktu.


"Kamu di ruangan dalam aja ya nantii?" Asya mengangguk. Kini keduanya sudah berjalan menuju ruangan Arsen. "Pak Arsen, ada tamu di ruangan bapak."


"Pagi-pagi?" Penasaran dengan sang tamu, Arsen langsung masuk ruangannya. "Wehh, Azrill?"


"Ngapain lu di sini cokk?" tanya Asya terkejut. Azril juga sedikit terkejut. "Lu gak kuliah?"


"Gue ada urusan sama suami guee, lu sendiri??"


"Gue juga ada urusan sama suami lu. Lu ada urusan apa?" tanya Azril kepo. "Ranjang."


"Monyet! Enyah luuu!!" Asya tertawa melihat ekspresi kesal Azril. Arsen sendiri menggelengkan kepala melihat dua saudara itu bertengkar. "Lu ada urusan sama gue, Zril?"


"Yapp. Gue butuh lu, Sen."


"Nunggu mau? Gue harus rapat dulu pagi ini."


"Oke santai aja, gue gak ada kelas kok."


"Sipp, jaga di sini. Jaga bini gue."


"Aman!"


Arsen mengecup kening dan bibir Asya kemudian pergi. Tersisa anak kembar di ruangan Arsen.


"Duduk sini, Sya."


"Bagong, tamu nyuruh tuan rumah."


"Anjayy anjayy. Iya dah iyaaaa!" Asya cengengesan lalu duduk di sebelah Azril. "Zril, tiba-tiba gue males di sini. Anterin balik ke apart dong."


"Tau gitu ngapain ikuttt mongkeeyyy?"

__ADS_1


"Gak tau, pengen aja. Sekarang gue pengen kuliah, nantii anterin ke apart teruss anterin ke kampus yaaa??" pinta Asya dengan tatapan manja.


"Iyaaa, Asyaa. Izin lakik lu dulu, nanti gue anter."


__ADS_2