
"Sayanggg, udah atuh ah jangan ngambek teruss," bujuk Arsen sedang dalam perjalanan. Asya yang kesal tidak berbicara sepatah katapun padahal Arsen sudah membujuknya daritadi.
Itu semua karena mereka gagal ke Sydney. Baru hendak berangkat tadi, mendadak Asya mual. Asya bilang dirinya hanya masuk angin dan tetap ingin pergi ke Sydney.
Tapi ternyata Allah memang belum mengizinkan. Ada masalah lagi yang cukup ribet dan harus melibatkan Arsen di kantor, mau tidak mau harus diselesaikan hari ini juga. Dan yaa, itu sebabnya mereka gagal ke Sydney.
"Sayang."
Hening. Arsen menghela nafas melihat tingkah istrinya. "Asya." Kini Asya menoleh, hanya sekedar menoleh tanpa bersuara. Arsen menghela nafas. Lagi. "Kamu punya mulut?"
"Aku tanya sekali lagi, kamu punya mulut gak?" Asya mengangguk sebagai jawaban. "Jawab pake mulut gak bisa?" Aneh tapi nyata, mata Asya malah berkaca-kaca seolah ingin menangis.
"Heyy? Asyaaa. Kenapa sih kamu tuh?" tanya Arsen kebingungan. Sambil sedikit sesenggukan Asya menjawab, "Kamu jahat! Aku mau ke Sydney kenapa harus dibatalin?! Katanya boleh holiday."
"Iya kan aku gak ada bilang gak boleh, cuma sekarang waktunya gak tepat, sayang. Kamu juga lagi mual tadii," jawab Arsen dengan nada rendah. "Tapikan aku udah bilang aku gakpapa."
"Oke, sekarang kamu bilang gakpapa, nanti kalau ada apa-apa gimana? Gak usah bilang aku doain kita kenapa-kenapa, aku cuma gak mau hal yang gak kita inginkan terjadi. Nurut sekali bisa?"
"Aku selalu nurut sa—"
"Katanya nurut tapi barusan ngebantah gitu?" Asya memanyunkan bibirnya, merajuk. "Demi kebaikan kita, sayang, nurut ya? Gak usah ngambek lagi. Aku janji kita bakal ke Sydney setelah semuanya beres."
"Yaudah iya. Janji tapi?!"
"Iyaa, i promise you, babe. Sekarang bilang ke aku, kamu maunya kemana biar aku anterin. Tapi nanti aku tinggal buat ngurus kantor. Mau aku anter ke rumah Ara atau yang lain gitu?"
Melihat Asya sedikit kesulitan bernafas, Arsen menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia mengambil tissue lalu membantu Asya mengeluarkan ingus. "Kenapa harus nangis sih, yang. Kan bisa diskusi dulu tadi daripada kamunya nangis."
Asya tidak merespon. Ia malah berpindah duduk ke pangkuan Arsen. Itu sudah biasa~ dan Arsen mulai terbiasa dengan tingkah istrinya ini. "Kamunya sih jahat."
"Ampun dahh. Terus mau kemana jadinya?" tanya Arsen lagi sambil mengelus punggung Asya. "Aku ikut kamu ke kantor, gak mau kemana-mana maunya sama kamu aja."
"Yaudah, oke. Tapi jangan ngeluh bosen ya nanti." Asya mengangguk kemudian meletakkan kepalanya di pundak Arsen. Arsen sendiri kembali mengemudi. Dalam hatinya bernyanyi, 'begitu syulitt~"
Di tengah keheningan yang tercipta. Arsen mengira Asya sedang tidur. Satu tangannya terlepas untuk mengelus punggung Asya lagi, tapi tiba-tiba Asya menjauhkan kepalanya dari pundak Arsen.
Asya tidak tidur. Kini dirinya menatap Arsen sambil tersenyum menggoda. "Ganteng banget suami aku," goda Asya mengelus rahang Arsen. "Mau apa?"
"Es krim!"
"Hadehhh."
....・゜゜・╥﹏╥.・゜゜・...
Menjelang malam hari. Arsen dan Asya sampai di kantor setelah membeli ice cream. Arsen langsung mengurus masalahnya sedangkan Asya masuk ke ruang pribadi Arsen masih membawa ice creamnya.
Arsen ingin melarang, tapi tidak sempat keburu pintu tertutup. Arsen pun terpaksa membiarkan Asya membawa ice creamnya lalu memulai pekerjaan.
Hanya ada beberapa karyawan yang tersisa di kantor, mereka orang-orang penting yang dibutuhkan Arsen dan harus lembur hari ini. Tapi tenang saja, meskipun harus lembur, gajinya +++++.
Di ruangan pribadi Arsen, Asya sedang asik menonton video tiktok tentunya sambil menikmati ice cream. Fyi, Arsen tadi tidak hanya membelikan Asya ice cream, ia membelikan banyak jajan agar Asya tidak bosan.
"Suntuk banget fyp gueee, kagak ada cogan Korea gituu? Ehh, ngedrakor enak juga nih." Asya berjalan mendekati pintu kemudian memunculkan kepalanya di pintu. "Sayang."
Arsen yang tadinya sedang berbicara di telepon menoleh, mengangkat satu alisnya dengan maksud bertanya ada apa. "Kamu ada laptop?" Arsen menggeleng, "Mau diambilin ke rumah?" tanya Arsen tanpa suara.
Asya gantian menggeleng. "Pass wifi apaa? Aku mau drakoran." Arsen menyuruh Asya menunggu sebentar, karena penelepon Arsen sedikit tidak sabaran.
Setelah panggilan terputus, Arsen bergerak menghampiri Asya yang masih tetap di posisinya. Arsen mengecup kening Asya sekilas. "Kenapaa?"
"Mau nonton drakor. Karena gak ada laptop, aku mau nonton di HP. Pass wifi kamu apaa?" tanya Asya dengan tatapan bocil. Arsen gemas!
"Password wifinya... cium aku dulu." Asya membuka pintu, ia mendekati Arsen lalu mengecup pipi kanan dan kiri serta bibirnya.
Arsen tersenyum senang, "Passwordnya nama perusahaan ditambah ujungnya tanggal pernikahan kita." Asya mencoba menghubungkan, ternyata berhasil. "Bisaa!"
__ADS_1
"Kamu mau mandi dulu gak? Udah jam segini," tawar Arsen sebelum Asya masuk ke kamar. "Nggak ah, kamu juga belum siap. Aku males di apartemen sendirian."
"Yaudah. Jangan berserakan makanannya di dalem. Kamu kalau butuh apa-apa bilang ke aku aja ya?" Asya mengangguk. Ia keluar lalu mengecup bibir Arsen lagi. "Dah yaa, aku mau nonton. Kamu semangat, sayang."
"Tunggu." Arsen menarik Asya keluar, ia memegang tengkuk Asya, menariknya lalu mulai mencium bibir Asya. Tidak hanya sekedar ciuman, tapi lebih dari itu.
Asya sendiri tidak memberontak, dirinya malah melingkarkan tangan dipinggang Arsen. Was-was masalahnya tidak terselesaikan karena ini, Arsen pun melepas ciumannya dan berakhir mengecup kening Asya.
"Dah sana nonton." Asya tersenyum senang, ia mengecup bibir Arsen sekali lagi lalu masuk.
Setelah pintu tertutup, Arsen mendekati dinding dan meletakkan kepalanya di sana, "Padahal udah enak tadi bisa ke Sydney. Kenapa masalahnya muncul sekarang sih ah?!"
Tok tok! Arsen yang lesu berbalik. Melihat sekretarisnya yang muncul, Arsen menyuruhnya masuk. "Bapak panggil saya?"
"Bisa kita rapat sekarang, Dam?" tanya Arsen mencoba serius. "Sekarang, pak? Maghrib tapi."
"Kelar maghrib aja kalau gitu. Istirahat atau sholat dulu ya bagi yang mau sholat."
"Iya, pak. Tapi ini anggota kita gak terlalu lengkap, tetep mau rapat, pak?" Arsen mengangguk. "Biar yang ada aja yang tau. Oh iya, tanyain aja nanti mereka mau makan apa. Biar abis maghrib pada makan malam."
"Baik, pak." Sekretaris Arsen pun pergi. Arsen sendiri kembali ke kursinya, duduk memutar kursi untuk berpikir.
Begitu Adzan Maghrib terdengar di telinganya, Arsen keluar ruangan dan pergi menuju mushola yang masih ada di area kantornya. Arsen merasa dirinya tidak bau karena tidak terlalu berkeringat juga, jadi Arsen memilih langsung melaksanakan sholat.
Seusai sholat dan berdzikir di mushola, Arsen pergi berjalan kaki untuk mencari makanan yang mungkin Asya sukai. Arsen teringat tadi Asya menginginkan makanan rasa strawberry. Melihat ada toko kue, Arsen masuk dan mencari apa yang diinginkan Asya.
Kembali ke Asya. Ia masih menonton drama dengan santai. Sampai akhirnya tiba di scene yang cukup mengharukan. Karena tidak ingin menangis, Asya menyudahi nonton drama dan kembali melihat video tiktok.
Video tiktok yang sedih malah muncul di fyp Asya. Melihat itu air mata Asya menetes. "Anjirr apa-apaan kok gue nangiss muluu?! Kek bukan Asya banget," kata Asya menghapus air matanya, dan kembali menonton drama.
Sedang asik melanjutkan drama, ketika ada salah satu pemeran yang meninggal, air mata Asya malah mengalir deras. "Aaaa, kasihan.... Apasih gak seru bangett...."
"Kok mati sih... Aaaa...."
Merasa butuh pelukan Arsen, Asya keluar dari ruangan dengan mukanya yang kusut. Air matanya masih mengalir, hidungnya memerah, ah pokoknya benar-benar kusut.
Asya terkejut. Melihat Arsen tidak ada di kursinya, Asya keluar tanpa pikir panjang gimana komuknya. "Arsen... Huaaa..." Asya menangis lagi.
Sekretaris Arsen yang mendengar tangisan Asya keluar dengan terburu-buru. Panik. "Kenapa, bu? Ada apaa?"
"Arsen?"
"Bapak sholat, buu. Bentar lagi balik mungkin. Sabar ya, bu, tenang. Ibu kenapa tiba-tiba nangis?" Bukannya menjawab Asya malah berlari ke depan karena melihat Arsen muncul.
Asya langsung memeluknya. Terlihat Asya sedang menangis, Arsen melepas pelukan dan menatap istrinya serius. "Kamu nangis kenapa lagi sampe sesenggukan, sayangg?" Asya tidak menjawab.
"Dam. Woi, Adam! Bini saya ini kenapaa?!" tanya Arsen tegas. "Saya juga gak tau, pak. Tiba-tiba keluar sambil nangis kek gituu."
Arsen memberikan barang yang ada ditangannya pada Adam. "Tolong masukkan ke ruangan saya." Adam mengambilnya dan melakukan sesuai perintah.
"Udah nangisnya?" Terasa Asya menggeleng di dada Arsen. "Kamu nangisnya kenapa? Ke ruangan aku aja ayok?" Asya kini melepas pelukan dan merentangkan tangan, bermaksud minta di gendong.
Arsen pun menggendongnya di depan, seperti menggendong koala. "Aigoo... bayyiikkk." Arsen duduk di kursinya dan Asya duduk di pangkuan sembari menyembunyikan kepalanya di dada bidang Arsen.
"Pak, saya lanjut kerja ya? Uwuphobia saya liat bapak sama ibuk." Arsen tertawa, "Lanjutlah. Jangan lupa tanyain karyawan yang saya suruh tadi ya, Dam."
"Siap, pak." Adam, si sekretaris Arsen pun pergi. Kini tinggal mereka berdua di ruangan. "Kamu kenapa nangis? Gara-gara aku gak di ruangan atau apa? Coba cerita dulu sini."
Asya melepas dan menatap mata Arsen. "Tadi aku nonton kan, sedih, abistu aku ganti nonton video tiktok. Terus aku ketemu video sedih lagi, itu content creatornya ditinggal meninggal. Karena aku gak mau sedih kan jadi aku ganti, aku nonton lagi. Ehhh, tiba-tiba pemainnya matii," jawab Asya sedikit sesenggukan.
"Lagii? Mati lagi? Kemarin udah mati, berarti dia idup terus mati lagi?" Asya cemberut, "Gak gituu! Kan beda dramaaa."
"Kenapa milih drama sad end terus kamunya. Nangis mulu gitu pas mereka mati masih tetep pilih yang jadi mayat."
"Ya kan aku gak tau mereka matiii."
__ADS_1
"Yaudah besok-besok gak usah nonton drama lagi." Asya mengerutkan alisnya. "Kenapa gak bolehh?!"
"Aku gak suka kamu nangis. Nanti dikira orang juga kamu nangis gara-gara aku. Kalau mau nonton cari dulu sinopsisnya gimana, endingnya gimana, jangan asal nonton."
"Jadi sebenarnya boleh atau nggaa?"
"Terserah kamu yang penting gak nangis," Arsen mengelap air mata Asya. "Kemaren kamu bilang pengen cake strawberry, itu aku ada beliin tadi."
"Dak mau cake, maunya kiss." Arsen menatap Asya dengan mata yang disipitkan, "Mancing-mancing?"
"Hehhe. Yaudah mana cakenyaa?" Asya berdiri dari pangkuan sebentar lalu duduk lagi dipangkuan Arsen menghadap ke meja. Ia memotong kuenya dan memakannya sendiri. "Emm, enakk. Tapi lebih enak yang dibuat mbak deket apartement."
Arsen tidak berbicara apapun kali ini. Sedikit heran melihat Asya yang moodnya bisa berubah dalam sepersekian detik. Ditambah lagi, Asya suka menangis karena hal sepele. Sangat membagongkan menurut Arsen.
"Sayang, kamu mau?" Arsen membuka mulutnya minta disuapin, Asya pun menyuapi sepotong kue itu untuk Arsen. "Kamu diem di sini aja, jangan bergerak biar aku lanjut kerja," perintah Arsen.
Dengan santainya Asya menyandarkan kepala di dada suaminya dan melihat apa yang suaminya kerjakan. Ia benar-benar diam, meskipun sambil mengunyah cake strawberry.
Tok tok! Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan sepasang kekasih itu. Ternyata ketua bodyguard yang merupakan tangan kanan Arsen datang.
"Permisi, bos. Maaf mengganggu, tapi saya mau ngabarin kalau tawanan kita kabur." Arsen menghela nafas kesal, mencoba untuk mengontrol emosi karena Asya berada di dekatnya. "Kenapa gak dijagain dengan bener?" tanya Arsen penuh penekanan.
"Kinerja kalian makin buruk ya saya liat. Kalian aja yang masuk ruang bawah tanah sana, gantiin Stevan. Saya udah bilang juga dari awal, kalau sampe Stevan kabur, kalian yang masuk. Jadi mau masuk beneran?"
Bodyguard Arsen berlutut. "Maaf, bos. Saya tau, saya salah. Jangan hukum saya...."
"Basi." Asya yang melihat merasa kasian, matanya sudah berkaca-kaca lagi. "Sayang, kasihan tauu..."
Lagi? Arsen benar-benar merasa heran dengan istrinya ini. "Kenapa kasian? Mereka yang kerjanya gak becus."
"Tapi kan juga kasihan."
"Kalau tawananku yang kabur ngelukain aku, kamu mau?" Asya langsung menggeleng cepat. "Yaudah gak jadi kasihan."
"Bos.."
"Apa?" tanya Arsen ketus. Maklum ya, efek capek menghadapi kerjaan. "Saya mau sekalian kasih tau kalau tawanan kita juga udah mati."
Alis Arsen berkerut. "Kalian tembak?"
Pria itu menggeleng, ia berdiri untuk menjelaskan. "Jadi waktu Stevan kabur, kami juga berhasil kejar dia, bos. Pas lari-larian, dia nabrak orang yang ternyata odgj. Karena odgj itu kesel, Stevan dilemparkan ke jalan. Bertepatan dengan itu, mobil lewat dengan kecepatan kencang jadi Stevan ketabrak dan berakhir meninggal dunia."
Mendengar hal itu, Asya malah tertawa. "Kocak. Kok bisa odgj yang jadinya bunuh dia. Harusnya kamu gak sih, sayang?"
"Kamu tu aneh hari ini, jadi takut aku. Tadi ngambek, nangis, seneng, nangis lagi, ini denger kabar orang mati malah ketawa." Asya cengengesan. "Tapikan bukan berarti aku gila."
"Aku gak bilang kamu gila. Tunggu, diem, jangan ngelawan." Arsen beralih ke bodyguardnya. "Urus sisanya, pastiin Stevan beneran meninggal. Kalau ternyata belum, masukin lagi ke ruangan."
"Siap, bos. Saya pergi dulu ya, bos." Arsen mengangguk, bodyguardnya pun pergi. Kini kembali tersisa Arsen dan Asya.
"Aku gak gila."
"Gak ada yang bilang kamu gila, sayangkuu." Asya nyengir, lalu berbalik badan lagi. Kini ia kembali menghadap Arsen. "Aku pengen cium."
"Kerjaan aku masih banyak."
"Jadi gak boleh?" tanya Asya merayu. "Bukan gak boleh, nanti kerjaanku gak selesai."
"Yaudah, minta cium Adam." Begitu Asya hendak bergerak, Arsen menarik tengkuknya dan memulai ciuman dengan brutal.
Arsen melepas sejenak untuk bernafas. "Berdosa banget minta ciuman sama cowok lain." Asya nyengir lagi, "Just kidding, babe. Abisnya kamu juga."
"Kamu tu...." Arsen tidak melanjutkan perkataannya. Ia menggendong Asya dan membawanya ke ruangan private. Arsen meletakkan Asya pelan-pelan lalu mulai mencium Asya sambil berusaha melepas bajunya.
Dan yaa, kegiatan mereka terus berlanjut. Pekerjaan Arsen terabaikan. Mereka tidak perduli yang lain dan sibuk berkeringat di ruangan ber-AC. Kalian jangan pada ngintip duluuu. Awkwkwk.
__ADS_1