
^^^"ASYA KAMU KENAPAA?!"^^^
📞 "Asy— DOR!"
^^^"Asya?! Asyaaaa?!"^^^
Panggilan terputus.
Aska gelisah sambil menatap sekeliling, mencari Asya. Tangannya juga berusaha menghubungi Asya terus-menerus.
"Lu kenapa? Asya kenapa?" Tanya Dimas.
"Ka, jawab begooo! Asya kenapa?!" Tanya Ivan gantian, Aska tetap diam.
"ASKA! ASYA KENAPAA?!" Jimmy emosi karena Aska tetap diam.
Aska menatap mereka sekilas lalu berlari ke mobil bodyguard, ia makin gelisah karena Asya tidak mengangkat teleponnya.
Tok tok!!
Kaca mobil terbuka, melihat Aska mereka keluar.
"Ada yang ngikutin nona muda tadi?"
"Ada, boss, dua orang mengikuti dan yang mengikuti anggota wanita. Kenapa, boss?"
"Nona muda hilang. Panggil seluruh tim bantu cari sekarang juga!"
"Baik, boss."
Aska kembali ke tempat awalnya tadi.
Ivan menarik kerah bajunya, "gue udah nanya dari tadi. Gak usah mancing emosi, sekarang jawab Asya kenapa?!"
Aska memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafas lalu membukanya kembali. "Asya telepon gue tadi, dia minta tolong. Tiba-tiba telepon ke putus gitu aja. Sebelum terputus, ada suara tembakan."
"KENAPA GAK BILANG DARI TADIII, TOLOOOLL?!" Dimas emosi.
"Begoo banget lu asli! Lu gak sendiri di sini!"
"Gue masih panik tadi!"
"Jadi sekarang lu gak panik lagi? Tololl di pelihara!"
"Mul—"
"Bukan waktunya debat anjng! Ayok cari sekarang!" Ajak Samuel.
"Tapi ntar lu..."
"Gue tunda sampe Asya ketemu."
"Kita menca—"
Belum pun siap rundingan tadi, Arsen sudah pergi duluan ke arah toilet d isusul Azril dan Racksa.
"Mencar mencar mencar!!"
Yang lain ikut berpencar mengelilingi bandara.
Tiba di dekat toilet.
Arsen, Azril dan Racksa menemukan dua bodyguard wanita Aska tergeletak di lantai sambil bersimbah darah.
"F*ckk! Berarti tadi mereka di sini." Umpat Arsen.
"Zrill, telepon bokap lu. Bilang kalau ada korban di sini." Suruh Racksa. Azril meraih ponselnya dan menelepon Aska.
"Tuan mudaa."
Mereka berbalik, bodyguard Aska yang lainnya datang.
"Om, bawa anggota om ke rumah sakitt." Titah Racksa. Bodyguard itu pun memapah temannya.
"Om, ada senjata?" Tanya Arsen.
Bodyguard diam.
"Saya tanya ya di jawab! Saya butuh jawaban!"
"Kami cuma punya pistol." Arsen mendekat, ia merampas pistol itu lalu pergi mencar sendirian.
"T-tapii, mas!!"
"Ada lagi??" Tanya Azril.
Bodyguard satunya menyembunyikan pistol dan pisau dari hadapan Racksa dan Azril. Walaupun begitu, mereka berdua tau.
Keduanya merampas benda tajam itu.
"Bawa bodyguardnya ya, om. Jangan khawatirkan kami." Racksa dan Azril pun langsung pergi mengejar Arsen.
Lumayan jauh dari tempat sebelumnya, mereka menemukan Arsen yang berhenti di jalan. "Kenapaa, Sen??"
Mata Arsen berkaca-kaca, "ini.. gelang yang kita beli tadi." Arsen menunjukkannya.
Gelang itu.. berlumuran darah.
Mata Azril ikut berkaca-kaca.
"Jangan mikir yang nggak-nggak. Bisa aja itu darah bodyguard yang tadi. Ayok cari lagi!"
Arsen dan Azril menenangkan diri perlahan lalu berlari lagi mencari Asya.
Gelangnya tadi di genggam Arsen.
"Asyaaa!! Asyaaaaa! Syaa, lu dimana woii!" Teriak Racksa.
"Eh tunggu-tungguu." Mereka menatap Azril.
"Ada bercak darahh. Mending kita ikutin ini aja!" Ujar Azril.
Mereka pun mengikuti jejak darah yang tertetes.
"Plis, gue lemes banget anjrr." Keluh Racksa.
Arsen dan Azril menatap Racksa.
"Bodyguard tadi di tinggal jauh di sana, kenapa ada jejak darah di sini? Suara tembakan yang di bilang Om Aska tadi? Gue.. gue takutt–"
Azril menenangkan Racksa.
"Lu yang bilang tadi, bisa aja darahh–"
"Tapi ini darahnya netesss, Zril!! Pasti ada salah satu lukaa di Asyaa," jawab Racksa.
Arsen memejamkan mata, menetralkan emosi.
"Lu bedua gabung sama yang lain sana. Ehh, sekalian lacak keberadaan Asya. Biar gue sendiri di sini." Titah Arsen.
"Lu yakin sendirian?" Arsen mengangguk.
"Kami tinggal dulu."
"Hati-hati."
"Lu juga hati-hati."
Racksa dan Azril pergi meninggalkan Arsen.
Arsen sendiri terus mengikuti bercak darah, tapi jejaknya hilang tepat di dekat parkiran.
"Ahh shït! Gue harus kemana lagi sekaraanggg?!!"
Di sisi lain, Azril dan Racksa baru berjumpa dengan Haikal dan Shaka.
"Gimana???" Tanya Shaka.
"Kami ketemu bodyguard yang berdarah-darah dan juga..."
"Apaa?!"
"Gelang yang jatuh penuh darah."
"Aghhh! Sialann! Siapa lagiii sekarangg?!" Tanya Haikal frustasi.
"Kalian nemu apa?"
Aska dan yang lainnya datang.
"Shaka sama Haikal gak nemu apapun, tapi Racksa bilang mereka ketemu gelang Asya yang penuh darah."
__ADS_1
Zia makin nangis mendengarnya. Ica beserta yang lain membantu menenangkan Zia.
"Kalian pulang aja dulu, yaa? Ini udah malam." Kata Aska.
"Nggak. Kami mau ikut cari Asya." Jawab Alya.
"Alyaa, gak usah bandel. Kami takut hal yang seharusnya gak terjadi pada akhirnya akan terjadii."
"Bener kata Samuel. Kalian ke rumah gue aja, sekalian sama anak-anak." Ujar Asya.
"Shaka gak mau."
"Alvin gak mau."
"Haikal–"
"Dino–"
"Racksa–"
"Azril juga gak mau."
"Tapi nanti.."
"Ouhh ayolah, paaa. Kami gak bisa diem ajaa!" Berontak Dino.
"Yaudah yaudah iya. Sisanya pulang," Mereka menurut.
Aska memanggil para bodyguard untuk mengantarkan sekaligus untuk berjaga-jaga. Kini tersisa para pria.
"Azril, kamu pistol dari mana?!"
"Oh ini tadi Azril rampas dari bodyguard. Arsen juga pegang pistol."
"Arsennya mana?" Tanya Ivan.
"Arsen pergi sendiri, om." Jawab Azril.
"Terus kenapa kalian malah balik nggak ngikutin?" Tanya Jimmy.
"Arsen suruh kami buat ngelacak."
"Oh iya! Ngelacak."
"Shaka bawa laptop kok."
Mereka berpindah mencari tempat yang pas untuk melacak.
"Yang bisa silahkan, sisanya ayok kita cari lagi!"
◕◕◕
Pagi hari tiba, tidak ada satupun yang menemukan keberadaan Asya. Pelacakan juga tidak menemukan apa-apa.
Sampai saat ini, di detik ini, Arsen pun belum menampakkan batang hidungnya.
"Kita harus cari kemana lagi??" Tanya Dimas, sekarang mereka kumpul di rumah Aska.
"Gue gak tau."
"Pertama, kita harus tau siapa pelakunya."
Aska memejamkan mata, otaknya tidak bisa berfikir sekarang.
"Alvin gak tau kenapa, tapi pikiran Alvin berkata ini ulah Adinda."
Mereka langsung menatap Alvin.
"Alex mana?" Tanya Shaka.
Azril mengambil ponsel menelpon Alex. Dan me-loud speaker panggilan.
^^^"Halo, assalamu'alaikum. Lex, lu dimana?"^^^
📞 "Wa'alaikumussalam, gue di Jepang. Kenapa??"
^^^"Lu ada bebasin Adinda?"^^^
📞 "Kuker banget gueee! Kagak adaaa, gue dari kemaren-kemaren fokus sama kerjaan. Kenapa? Ada apa?"
^^^"Asya hilang, di bandara."^^^
📞 "Hah? Sorryy, gue gak bisa bantuuu."
📞 "Coba lu telepon sugar daddy nya. Bisa aja dia yang bebasin."
"Oke-oke, thank u info."
Azril langsung mematikan panggilan lalu menatap Aska.
"Impossible itu Darren." Kata Aska.
"Tanya dulu, lebih bagus. Dari pada lu berspekulasi tanpa bukti." Jawab Samuel.
Aska mencoba menelepon Darren.
📞 "Kenapa, Pak Aska?"
^^^"Lu ada bebasin Adinda?"^^^
📞 "Jenguk aja nggak pernah, boro-boro bebasin."
Aska mematikan telepon.
"Jadi siapaaa?!!"
"Huftt.. belum tentu juga Adinda, kita gak bisa su'udzon." Kata Shaka berpositif thingking.
"Terus sekarang gimanaa?!"
"Kita tunggu kabar dari Arsen." Jawab Haikal.
"Nunggu doang gak bantu nyari?! Lacak Arsen, ayok kita ikuti dia." Ajak Alvin.
"Gue bakal ngecheck ke penjara." Aska meraih kunci mobilnya lalu pergi.
Drrtt... Drtt...
Haikal meraih ponselnya.
"Arsen, Arsen."
^^^"Assalamu'alaikum, lu dimana??"^^^
📞 "Wa'alaikumussalam. Gue di jalan, ngejer pelaku."
^^^"KETEMU?"^^^
📞 "Tadi ketemu, tapi sekarang hilang. Cobaa kerja sama dengan polisi, lacak mobilnya. Gue kirim ntar foto plat nomor yang sempat gue foto."
^^^"Okee."^^^
Arsen menutup panggilannya.
"Lu pada cari Arsen, biar gue cari mobil yang di bilang Arsen." Pamit Haikal.
"Gue ikut sama lu, Kal." Pinta Dino.
"Ayok."
Dino dan Haikal pun pergi.
Tersisa Azril, Alvin, Racksa, Shaka dan bapack-bapack terkecuali Aska.
"Kenapa selalu Asya yang jadi korban? Kenapa nggak guee?!" Tanya Azril kesal.
"Karena lu cowok."
Tin tin!
Darren datang.
"Pak Darren?"
"Pak Aska mana?" Tanya Darren.
"Aska ke polisi buat nanya keberadaan Adinda."
"Saya habis dari sana, ternyata Adinda di bebaskan dengan tebusan lebih besar dari pada sogokan Pak Aska."
"HAH?!"
__ADS_1
"Kann, bener guee. Gue benerrrr," kata Alvin heboh.
"Tapi, apa Adinda seberani itu nyelakain Asya?"
"Huh. Siapa yang bebasin Adinda?" Tanya Ivan.
"Pihak kepolisian nolak untuk memberi tau identitas orang itu."
Mereka menghela nafas panjang.
"Ada masalah apa sebenarnya??"
"Asya hilang di bandara ketika pergi ke toilet."
"Tunggu-tungguu.. Pak Aska pernah cerita tentang musuh blaster?" Mereka mengangguk.
"Bisa jadi–"
"Pak Darren tau rumah atau basecamp itu orang?" Tanya Ivan.
"Kurang lebih tau tentang rumahnya."
"Ayok kita kes—"
"Jangan."
Zia keluar dari kamar. Mata sembab serta kulit pucat menghiasi wajahnya.
"Jangan kenapa, tante??" Tanya Alvin.
"Jangan pergi sendiri, gue ikut."
"Ziaa.. gak usah betingkah. Lu diem di rumah!" Omel Ivan.
"Apaan sih?! Ini anak gue, lu gak berhak ngatur gue mau ikut atau nggak."
"Gue berhak karena gue temen lu. Kalaupun ada Aska di sini, dia juga bakal larang lu buat ikut."
"Diem! Gue. Tetep. Mau. Ikut."
"Gue iket ntar lu ke pohon mangga," protes Jimmy.
"Serah lu. Gue mau ikut."
Zia pergi menuju garasinya.
"EH ZIAAA. TUNGGUIN ANJJ!" Qiara, Ica, Alya, dan Tania keluar.
"Ayok!"
Mereka masuk ke mobil Zia lalu pergi.
"Mampuss dahhh. Gak bakal baik-baik aja kalau begini jadinya."
◕◕◕
Aska POV.
Percuma gue sogok kalau nyatanya tawanan gue tetep lepas. Tau bakal gini, mending gue bunuh sekalian itu Adinda.
Kenapaa manusia macem dia harus hidup di dunia?! Kenapa obsession banget buat ngancurin Asya?!
Agh!!!
Otak gue buntu banget sekarang, gak tau mau apa gak tau mau kemana. Malu karena rasanya gak berguna banget jadi orang tua.
Tok tok!
Gue buka kaca mobil.
"Kenapa?"
"Boss, nyonya boss beserta temannya pergi cari nona Asya."
Gue gak ngerti lagi sama Zia.
Bebal banget di bilangin.
"Yaudahh, biarin aja. Kasih bodyguard buat jaga-jaga."
"Baik, boss." Bodyguard gue membungkuk dikit terus pergi.
Gue yang tadinya berhenti di jalan sepi, coba buat jalanin mobil lagi. Kali aja gue bisa ngelakuin sesuatu.
Lu pada mikir gue bodoh karena gak ngira kalau ini ulahnya blaster? Gue udah duga dari awal ini ulah dia. Gue gak bilang karena gak mau nambah pikiran mereka.
Sekarang gue gak tau mau ngapain lagi.
Gue udah ke rumahnya tadi sendirian, tapi nyatanya dia pindah rumah dan rumahnya itu di bakar habis-habisan.
Ke kantornya? Tutup.
Basecamp nya? Gue gak tau dimana.
Apa gue harus ke Jepang? Impossible.
Di tengah perjalanan, gue ngeliat orang lagi ngejer sesuatu ke arah hutan.
"Itu.. mirip Arsen."
Gue lajuin mobil buat mendekat, ternyata bener mobil Arsen. Gue ambil pistol dari kursi belakang terus keluar dari mobil nyusul Arsen.
"Arsennn!"
"Loh, om?"
Bener dugaan gue.
"Kamu ngapain?? Ngejar siapa?"
"Tadi Arsen liat salah satu anggota penculik, tapi sayang, lagi-lagi Arsen kehilangan jejak."
"Kamu udah nyari kemana aja?"
"Kemana-mana. Tapi dari tadi di sekitar sini, karena Arsen kehilangan jejak sebelumnya juga disini."
"Kamu ketemu Asya?"
"Ketemu. Sebenernya Arsen gak yakin itu Asya, tapii orang yang di dalam mobil itu beneran mirip sama Asya."
Gue tatap lekat Arsen.
Dia gigih banget nyariin Asya. Gue gak salah milih mantu!
"Kamu gak ada pulang?"
"Nggak."
"Makan?" Arsen menggeleng.
"Om udah makan?"
Gue juga gelengin kepala.
Yang lain udah makan tadi, tapi gue gak ikut karena beneran gak nafsu.
"Sen, kamu keluar aja dulu, cari makan. Biar om gantian di sini."
"Nggak, om. Nanti aja. Arsen gak selera makan karena belum liat Asya."
"Setidaknya makan sesuatuu. Om suruh bodyguard beliin roti aja, yaa."
"Nggak usah, om. Arsen gak laper kok."
Huhh!
Ternyata banyak manusia yang ngeyel banget kalau dibilangin.
Drtt.. drt...
Gue ambil hp dari saku, Ivan telepon gue.
📞 "Assalamu'alaikum. Lu dimanaaa?!"
^^^"Wa'alaikumussalam.^^^
^^^Gue di sini, kenapa? Ada masalah?"^^^
📞 "Itu, bini lu..."
^^^"Hah?! Kenapa? Zia kenapaaa?!"^^^
__ADS_1
📞 "Ziaa....."