Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 167


__ADS_3

Asya dan Arsen masih bermain dengan Cilla, bersambung hingga malam hari. Keduanya gak jadi tidur, demi bermain dengan sang adek. Mereka berdua tidak mempermasalahkan hal itu, lagipula kan juga jarang bertemu.


"Cillaa, bobo ayok? Kak Asya sama abang capek itu kamu ajak main teruss," ajak bundanya Arsen. Cilla yang tadinya lagi asik langsung pergi menghampiri bundanya tanpa protes sedikitpun. "Kakak Asyaa, Cilla bobo dulu yaaa?"


Asya mengangguk sambil tersenyum. "Jangan lupa baca do'a bobo ya, Cillaa." Bocil itu mengangguk dengan senyuman merekah. "Papa kemana, bun?" tanya Arsen sebelum bundanya beranjak.


"Di ruang kerjanya, Sen. Gak tau bahas apa itu sama Alex." Arsen berohria santai. "Oiya, besok bantu-bantu bunda boleh? Ada pengajian di rumah, jadi mau buat kue. Kalian ada kelas nggak?"


"Arsen harus ke kantor dulu, bunda. Ada rapat katanya. Tapi kalau Asya bisa kok bantu, gak ada kelas besok," jawab Asya mewakili. "Alhamdulillah. Bantu bunda ya, nak." Asya mengangguk sambil tersenyum.


"Yaudah kalau gitu, bunda sama Cilla mau bobo dulu yaaa. Kalian jangan bobo kemalaman," kata bunda menggoda. "Siapp. Aman, bun." Bundanya tersenyum lalu pergi sambil menggendong Cilla.


Arsen menatap Asya, "Ke kamar?" Asya menggeleng, "Mau nonton."


"Di kamar aku kan juga ada. Ke kamar aja ayok, nonton sambil rebahan." Tanpa persetujuan Asya, Arsen menggendongnya dan pergi ke kamar. "Sok kuat banget ya, gendong aku melewati tangga."


"Aku emang kuat, sayang." Asya mengabaikan Arsen, dirinya sudah merebahkan tubuh di atas kasur sembari melihat Arsen menyalakan televisi. "Mau nonton apaa?"


"Film barat. Biasanya jam segini adaa." Arsen pun menuruti kemauan sang istri, membuka kanal tv yang menampilkan film barat. Keduanya sama-sama menonton tanpa bicara.


"Btw, aku baru inget mo nanya. Kamu kenapa tiba-tiba ngajakin tempat papa? Something wrong?" Arsen menggeleng. "Cuma mau main, kan weekend."


Asya menatap Arsen. "Aku ngerasa kek ada sesuatu yang kamu tutupi dari aku. Ada apa, sayang? Jujur deh."


Arsen kini memfokuskan matanya pada mata Asya. "Ada penguntit pas aku buang sampah tadi. Tapi tu nanti biar aku aja yang urus, gak usah kamu pikirin, oke?" Asya memeluk Arsen. "Takut lagii."


"Gak usah takut. Suamimu ini Arsen."


"Iyaa iyaa, Mas Arsenn." Arsen tersenyum lalu mengelus rambut Asya. "Oh iyaa, besok katanya di rumah kan pengajian. Masa aku gak ikut?"


"Jadi maksudnya?"


"Baju gamis aku gak ada, sayangg." Arsen berohria santai, "Besok aku belikan pulang kantor. Mau aku belikan aja atau bareng?"


"Kamu aja."


"Okee, besok aku belikan couple sama aku." Asya mengangguk setuju. Kini keduanya lanjut menonton televisi. Asya sempat keluar kamar mencari makanan, setelah dapat, ia kembali.


Posisi mereka sekarang, Arsen yang sedang duduk memakan cemilan dan Asya yang tidur di paha Arsen masih sambil menonton. Sesekali juga Arsen menyuapi Asya cemilan yang di makan.


"Sayang." Arsen berdehem tanpa menoleh. "Kalau kita childfree gimana?"


"Gimana apanya? Terserah kamu aja, sayang," Asya menatap suaminya. "Kenapa terserah?"


"Kalau kamu maunya gitu yaaa aku gak masalah, selagi masih sama kamu. Kamu sendiri kenapa tiba-tiba pengen childfree?"


"Aku takut gagal. Jadi ibu itu harus ekstra sabar, sedangkan aku gak begitu sabar banget. Takut kalau nanti anak aku nakal malah aku main tangan. Terus masih banyak ketakutan-ketakutan aku yang lain."


Arsen mengerti, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu yang bawa baby kemana-mana selama sembilan bulan, kamu yang ngerasa sakit melahirkan, kamu yang bakal nyusui babynya, dan lain-lain. Menurut aku ya terserah kamu mau gimana."


"Punya alhamdulillah, gak mau punya juga gak masalah. Toh ada kamu juga udah lebih dari cukup." Asya terdiam mendengar jawaban Arsen. Tangannya terulur mengelus pipi Arsen.


"Gak jadi deh, kasian tuan Arsen Shafwan William nanti gak punya penerus." Arsen tertawa. "Tapi nanti kalau kita beneran punya, jagainnya barengan, kan? Tegur aku kalau cara didik aku buruk yaa?"


Arsen gantian mengelus pipi Asya lalu mengecupnya sekilas. "Of course, babe. Aku bakal selalu ada di samping kamu kok, gimana pun keadaannya. Nanti kita sama-sama belajar jadi orangtua yang baik, okay?" Asya tersenyum.


"Btw, kamu kenapa bahas tentang anak terus, sayang?" Asya terdiam cukup lama membuat Arsen menunggu jawaban. "Aku telat tau."


"Really? Kalau iya, kenapa tadi bahas childfree?" Asya nyengir. "Cuma ngetes kamuu. Aku telat, tapi gak berani cek. Kalau nggak gimana?"


"Kalau nggak ya nice try. Nanti coba lagi. Besok kita cek ke dokter ya?" Asya menggeleng. "Aku gak siap, takut kecewa."


...◕◕✤◕◕...


Pagi hari yang cerah, Arsen berangkat pergi ke kantor. Asya mengantarkannya sampai depan pintu sekalian untuk bersalaman. "Kalau capek istirahat, aku gak mau kamu sakit karena kecapekan ya."


Asya tersenyum lalu mendekat, mengecup pipi Arsen. "Kamu juga jangan kecapekan, jangan jelalatan, hati-hati juga, okeeii?" Arsen mengangguk, ia membalas kecupan di kening Asya. "Aku berangkat."


Arsen pun pergi meninggalkan halaman rumah papanya. Ke kantor? Itu kedok semata. Arsen ingin menemui tahanannya yang sempat tertunda. Para anak buah Arsen, membawa penguntit kemarin ke gudang. Sekarang, Arsen menuju ke sana.


"Wehh, boss," sapa anggota Arsen setibanya Arsen di lokasi. Arsen membalas senyuman tipis, "Gue masih dendam sama lu."


Pria yang merupakan salah satu tangan kanan Arsen memang dekat dengannya, itu sebabnya Arsen berbicara dengan santai. Pria itu tertawa karena perkataan Arsen tadi. "Ampun dah, dendaman."


"Lu aja lama ni tetep kita tungguin. Ngapain di rumah lama-lama, bang? Bini rewel?" lanjutnya.


"Ya lu kan gue gaji samsudin. Gak lu tunggu ya gue pecattt. Btw, yang rewel gue bukan bini gue. Udah, mana tu mangsa?" Pria itu menunjuk ke dalam salah satu ruangan. "Keknya turu."


"Anjay, enak bener." Arsen mengambil balok kayu lalu membuka pintu dengan teramat sangat kasar membuat kaget 'mangsanya'.

__ADS_1


"Gimana tidurnya, enak?" tanya Arsen dengan senyuman sambil duduk di atas meja yang ada di dekatnya. "Capek gue di iket."


Arsen kesal mendengar jawaban blio. Dirinya langsung menampar keras pria itu. "Sopan dikit atuh, udah dikasih nafas kok gak sopan. Mau dikasarin apa dilembutin?"


"Dikasarin gimana, mas? Boleh tuh." Arsen tertawa remeh. Tanpa aba-aba, Arsen menendang kursi pria itu hingga terjengkang.


"Kesel gue liat muka lu doang. Jawab yang bener, mau pake kekerasan atau bicara baik-baik?" tanya Arsen lagi meletakkan kakinya di atas dada pria itu.


"B- bicara baik... A-ampun, bang. A-anak s-saya ada t-tigaa..." Arsen menarik kakinya. Ia melonggarkan dasi dan melepas satu kancing kemudian jongkok di sebelah pria itu. "Udah punya anak tiga malah betingkah."


"Sekarang jujur. Lu di suruh siapa?" Pria itu mendadak bisu, tidak ingin menjawab. Arsen berdiri lagi, berancang-ancang mengijakkan kaki di dadanya.


"Jraiden!!" Terhenti. Arsen mengernyitkan dahi, kebingungan. Siapa Jraiden? Arsen menatap luar, melihat tangan kanannya tadi.


"Cari Jraiden sampe ke silsilah keluarganya. Gak pake lama." Salah satu di antara mereka langsung pergi.


"Udah berapa kali lu disuruh?"


"Udah sering, bang. Bayarannya mahal, makanya gue mau. Lumayan buat anak istri." Arsen tertawa remeh lagi, "Uang haram untuk anak istri, kacau kali. Mana HP lu? Di tarok di mana?"


"Ini boss." Arsen menerima dari tangan kanannya. Ia membuka hp dan mengecek kontak. "Oh ini ya? Jraiden." Pria itu mengangguk ragu.


"Ikutin intruksi gue. Nanti gue bakal telpon si Jraiden ini, lu pancing dia juga biar bisa kesini. Gue capek diikuti penguntit, gue mau selesaikan semuanya sekarang. Mau ikutin intruksi gue gak lu?" Pria itu diam, masih tampak ragu.


"Oke, lu ikuti arahan gue dan setelahnya gue bakal bebasin lu sekaligus ngasih lu imbalan uang." Seketika dirinya mengangguk setuju. "Kalau duit aja cepat kau. Inget, gak sesuai rencana nanti, lu langsung gue bunuh. Paham, kan?"


"Iyaa." Arsen pun menelepon pengguna WhatsApp yang ada di ponsel si penguntit. Panggilan tersambung.


^^^"Halo, bang," kata penguntit menyapa.^^^


"Kenapa? Lu kok lama banget gak ngabarin gue? Mereka berdua ngapain aja?"


Arsen menggertakkan bibirnya. 'Damnn. Ternyata bener ini lu Stevan,' batin Arsen menahan kesal.


^^^"Gue ada urusan ini, bang. Gue butuh duit juga, lu bisa kasih gue duit gak sekarang?"^^^


"Gue kirim pake m-banking."


^^^"Nggak bisa, bang. M-banking gue bermasalah. Lu anterin aja gimana? Gue tunggu di sini."^^^


"Di sini tu di mana? Lu butuh berapa?"


"Yaudah iyaa, shareloc sekarang."


Panggilan terputus begitu saja. Arsen yang merasa kesal membanting ponsel pria itu. "Sialan."


"Woyaailah, bos. Itu hp gue masih kredit, ngapa lu banting sih?" tanyanya melas. "Bacot. Lu tau alasan dia apa? Kenapa selama ini buntutin gue?"


"Katanya balas dendam."


"Balas dendam?"


"Iyaa, bos. Balas dendam karena kematian bapaknya." Arsen diam dan mulai berpikir. Arsen bingung, siapa yang pernah dibunuhnya dan siapa yang terbunuh.


"Bos." Arsen menoleh ke arah anak buahnya. Mereka menyodorkan iPad pada Arsen. Arsen membaca semua biodata Stevan sampai selesai.


Betapa terkejutnya Arsen setelah sadar siapa bapaknya Stevan. Arsen mengusap kasar wajahnya. "Ternyata bapak lu pak Jepan ya, Stev."


Remember Jepan? Beliau musuh daddy Asya yang dulu pernah menculik Asya dan berakhir meninggal karena terkena tembakan Aska dan Zia. (Eps 115).


"Rupanya ini alasan kenapa lu bilang mau balas dendam waktu itu. Gue gak mau ini berlanjut, siap-siap buat mati ya, Stevan J Raiden."


——


Sebelum benar-benar menghabisi Stevan, Arsen memilih untuk sedikit mempermainkannya terlebih dahulu. Setelah Stevan berhasil tertangkap, Arsen menyuruh anak buahnya untuk mengurung Stevan di tempat yang sama dengan orang suruhannya.


Kini Arsen tidak berada di sana. Ia pergi ke kantor Aska untuk konsultasi terlebih dahulu, apakah cara yang akan dipilihnya tepat?


"Assalamu'alaikum, daddy," kata Arsen begitu masuk ruangan. "Wa'alaikumsalam. Duduk, Sen. Tumben dateng ke kantor. Ada apa?"


"Arsen gak mau buat mommy panik, jadi mau ngobrol sama daddy aja. Penguntit yang kemarin, daddy inget?" Aska mengangguk. "Itu Stevan. Stevan J Raiden, anaknya pak Jepan."


"Jepan? Ohh, Jepan yang dulu pernah culik Asya."


"Bingo. Dia mau balas dendam, gak terima atas kematian bapaknya." Aska mengangguk lagi, "Jadi rencana kamu selanjutnya apa?"


"Itu dia tujuan Arsen kesini, mau konsultasi. Dia udah ada di gudang, udah ke iket dan dijaga sama bodyguard Arsen. Arsen jelas gak mau dia lepas, takutnya malah berbuat macam-macam. Jadi Arsen punya dua rencana, yang pertama bunuh dia langsung, dan yang kedua tarok di ruang bawah tanah tanpa dikasih makan."


"Samaa aja ya endingnya meninggal."

__ADS_1


"Iyyaa... emang sih. Menurut daddy gimana?"


"Daddy kurang puas juga kemarin pas balas dendam ke Jepan yang sempat culik Asya karena mommy mertua kamu asal tembak aja sampe mati. Jadi balas dendamnya kita lanjut aja ke anaknya itu, kamu yang atur deh gimana balas dendamnya. Yang penting jangan biarin matinya enak."


Arsen sedikit takut dengan mertuanya ini. Benar-benar ganas rupanya. Salah dikit bisa wafat, pikir Arsen ketar-ketir.


"Okee kalau gitu terserah Arsen ya, daddy." Aska mengangguk. "Sisa jasadnya atau apa gitu nanti daddy aja yang urus."


"Baikk. Arsen pergi dulu ya, daddy, mau lanjut balas dendam." Aska mengajak Arsen bertosria, setelah itu Arsen pergi. "Gak salah pilih mantu ini mah, keren banget mantu gue."


——


Arsen kembali ke gudang. Terlihat Stevan sedang bercucuran keringat menatap Arsen penuh dendam. Arsen membalas dengan senyuman, "Apa kabar?" tanya Arsen setelah mencabut keras lakban di mulutnya.


"Gak usah sok asik bangstt!"


Arsen masih diam, tangannya mendarat di kepala Stevan lalu tanpa aba-aba Arsen menariknya kuat. "Gak usah songong, lu di sini tawanan gue. Gue emosi ntar lu bisa gue bunuh langsung loh."


"Hahaha. Gue gak takut." Arsen melepas tarikan rambut Stevan dan mengambil korek. Ia menghidupkannya tepat di muka Stevan, "Mau gue buat ni korek masuk ke mulut lu, Stevan?"


"Biadab!"


"Lu yang biadab!!"


"Gue gak gini kalau lu gak bunuh bokap guee, bangsatt!!" Arsen mengangguk-angguk. "Bokap lu juga gak mati konyol begitu kalau gak ganggu keluarga istri gue. Bokap lu yang cari ribut duluan, Stevan."


"Tapikan gak seharu—"


"Gak seharusnya di bunuh? Sedangkan bokap lu waktu itu mau bunuh istri gue dan kembarannya. Coba buka mata lu itu, Stevan. Buka mata lu, buka telinga lu, liat dan denger apa yang bener dan apa yang salah."


"Bacot." Arsen langsung menampar Stevan kuat. Ia bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba menedang kuat dada Stevan sampai terjatuh. "Gue sabarin daritadi ngelunjak ya lu!"


Melihat amarah bosnya membuncah, para anak buah Arsen langsung mencoba menahannya. Yaaa tujuannya biar Stevan gak mati duluan. "Gak usah banyak bacot beneran dah. Mending sekarang lu pikirin gimana nasib bini lu."


Arsen mendadak panik, ia menjauh kemudian mencoba menelepon Asya. Alhamdulillah, panggilan tersambung.


^^^"Sayang, di mana?"^^^


"Di rumah papa, kan bantuin bunda."


^^^"Oke, good girl. Jangan kemana-mana, jangan keluar, di luar bahaya."^^^


"Iyaa, sayang. Kamu hati-hati."


^^^"Iyaudah, aku matiin. Assalamu'alaikum, sayang."^^^


Panggilan terputus setelah jawaban salam Asya. Arsen sangat lega, ia berbalik melihat tawanan. Sialnya, begitu Arsen baru ingin berbalik, pukulan keras menghantam belakang kepalanya. Stevan memukul Arsen dengan balok kayu.


Entah bagaimana caranya Stevan bisa lepas, tidak ada yang tau karena bodyguard Arsen juga tidak melihat. Akibat pukulan keras tadi, Arsen merasa sedikit pusing. Disitulah kesempatan emas bagi Stevan untuk kabur.


Karena jumlah anggota Arsen sangat banyak, Stevan terkepung di antara dinding dan bodyguard. Dengan segala otak liciknya, Stevan merencanakan jalan keluar yang menantang maut. Benar, melompati jendela.


Begitu Stevan ingin melompat, tembakan peluru terlebih dahulu melayang mengenai lengannya. Arsen yang memegang, Arsen yang menembakkan. Melihat Stevan melemah, ia langsung berjalan dan memukul Stevan dengan bagian bawah pistol.


"Lu kira gue gak megang pistol daritadi? Kalau bukan karena balas dendam, lu daritadi udah mati, Stev. Emosi banget gue liat lu yang sok-sokan begini."


"Gue pernah bilang kan, lu bukan tandingan gue, Stevan. Jadi gak usah berlagak lu bisa nandingin gue." Stevan tidak menjawab, ia masih meringik kesakitan.


Arsen yang sudah merasa muak memilih untuk pergi. "Obatin lukanya Stevan dulu baru bawa ke ruang bawah tanah AM."


"Oke siap, bang."


"Kalau sampe dia bisa keluar, lu semua yang gue masukkan ke sana." Semua menunduk ketakutan sampai Arsen pergi meninggalkan lokasi.


Sambil meredakan amarahnya, Arsen menghidupkan lagu di mobil. Ia menuju ke toko butik langganan untuk mencarikan gamis tertutup yang cantik untuk istrinya sekaligus yang couple koko dengan Arsen.


Setelah selesai, Arsen pergi ke apotik untuk membeli testpack. Gimanapun juga Arsen penasaran dengan itu. Apapun hasilnya nanti, Arsen akan menerima dengan lapang dada.


Tempat yang Arsen tuju terakhir di supermarket. Arsen membeli jajan untuk Asya dan juga Cilla. Dua bayi favoritnya. Setelah selesai, Arsen baru kembali ke rumah papanya.


Arsen masuk dari halaman belakang dan langsung disambut Asya. "Ih lama banget kamunya, udah mau di mulaii acaranyaa."


Arsen tersenyum, ia mendekat dan memeluk Asya erat. Asya membalas meski dengan wajah kebingungan. "Something wrong, babe?"


"Seperti biasa, takut kehilangan kamu," jawab Arsen sambil ngedusel-dusel di leher Asya. Asya mengelus dan menepuk-nepuk punggung Arsen, "Gak usah takut. Aku loh strong. Btw, kamu bawa apa ajaa?"


Asya melepas pelukan dan membongkar isi plastik. Ia membeku sejenak setelah melihat testpack. Arsen menyadari hal itu. "Kita cek aja dulu ya? Gak usah takut, kita masih muda. Masih banyak waktu buat nyoba lagi kalau gagal."


Asya tersenyum setelah menghela nafas. "Okeei, besok pagi aku coba."

__ADS_1


__ADS_2