Barbar Generation

Barbar Generation
Ice skating


__ADS_3

Sekian lama mencari semur jengkol yang diinginkan Asya, Aska menyerah mereka tetap tidak menemukannya.


Aska pun membelokkan mobil ke rumah makan ampera.


"Di sini kayaknya ada semur jengkol niii" Ujar Asyaa.


"Lu ngapazii pengen semur jengkol? Ngidam?"


"Ngidam matamuuu, gue tu pengen nyobain!" Jawab Asya kesal.


Aska dan Zia menggeleng, "waktu hamil mereka berdua kamu gak ngidam aneh-aneh kan sayang?? Kenapa anak kita beginii?" tanya Aska berbisik.


"Gak tau, kan kamu yang buatt!"


"Aishh.. kami bedua dengarlaaa" Protes Azril.


"Kami tu bukan aneh tapi ajaib daddy, kan perpaduan mommy sama daddy. Sama-sama ajaib," Azril menahan tawa mendengarnya.


"Daddy sih nggak, tapi kalau mommy kalian mah emangg ajaib, ajaib level tinggi!" Aska langsung keluar dari mobil.


"Suami siapa sii?" Tanya Zia kesal.


"Ya suaminya mommy lahh," Asya dan Azril ikut keluar mobil mengejar daddy nya.


Zia di dalam mobil mengelus dada sambil beristighfar kemudian menghampiri mereka.


"Jangan banting meja nya ya, momm. Ntar rugii," ujar Azril cengengesan.


"Mau potong uang jajannn?"


"Astaghfirullahalazim.."


"Hahahahaa, mesakno koee!!" Asya tertawa ngakak.


"Dah dahh, mau pake lauk apa?" tanya Aska.


"Asyaa mauuuu... ikan nila bakarr!"


"Azril jugaa."


"Kamu apa?" tanya Zia pada Aska.


"Ayam gulai ajaa," Zia pun memesan makanan untuk mereka setelah itu kembali lagi ke meja yang sama.


Beberapa menit setelah nya makanan tiba, mereka makan dengan tenang. Berbeda dengan Aska yang terus memperhatikan Azril.


"Liat apa kamu? Makan tu makan duluu, liat hpnya nanti-nantiii" Omel Aska.


"Hehe, maaf daddy." Azril meletakkan ponselnya ke atas meja lalu kembali makan dengan tenang.


"Momm, minta uang." Pinta Asya setelah selesai makan.


"Untuk apaa?" tanya Zia.


"Beli jajan di supermarket sebelahh, di mobil gak ada cemilannn." Zia langsung memberikan kartu kreditnya.


"Zrilll, temeninnn." Azril berdiri dari duduk nya, mereka berdua pun pergi ke supermarket di sebelah.


Asya menoleh kebelakang, "kenapa??" tanya Azril.


"Kayak ada yang ikutin!" Bisik Asya pelan.


"Bodyguard paling, udah buruan masuk." Mereka berdua masuk ke supermarket bersamaan.


Asya masih kurang yakin kalau itu bodyguard, dia terus mengintip.


"Syaa, buruan. Ntar mommy daddy nungguinn!"


"Iyaaa. Lu beli ap-- gila emangg, udah ngambil banyakkk sekali andaaa, tuan Azrill!" Azril cengengesan.


"Di mobil daddy tu gak ada jajann, suntuk bangett guee."


"Iyasiii," Asya mengambil cemilan yang sama seperti Azril. Oh iya, tidak lupa susu favorit mereka berdua.


"Ayo bayarr," Ajak Azril.


"Bentarr, gue pengen es krim."


"Ehh gue sekalian!!" Asya mengambilnya lalu kembali ke Azril. Mereka berdua membayar semua belanjaan kemudian kembali ke ampera.


"Zril.. gue gak yakin itu bodyguard Asz."


"Positif thinking, udaaah ayo buruann" Mereka mempercepat langkah.


"Kenapa keliatan panik?" tanya Aska heran.


"Tadi.. berasa diikutinn, tapi keliatan jelas kalau bukan bodyguard nya daddy."


Aska melihat ke belakang, begitupun dengan Zia. Aska mengambil ponselnya lalu menjauh sedikit. Ia menelepon ketua tim yang bertugas.


...Ketua timB...


^^^"Halo, assalamualaikum ketua."^^^


πŸ“ž "Wa'alaikumsalam bos, ada apa boss?"


^^^"Anak-anak tadi berasa diikutin pas ke supermarket. Coba check, kalau emang ada tahan di bagasi mobil kalian. Jangan lupa di kasih udara."^^^


πŸ“ž "Oke boss, maaf atas kelalaian kami."


^^^"Iya gapapa, oiyaa, kalian pada laper gak? Kalau laper masuk ke ampera. Nanti saya traktir, saya tunggu juga sampe selesai makan baru berangkat lagi."^^^


πŸ“ž "Gak perlu bos, ngerepotin. Yaudah kalau gituu kami selidiki dulu ya boss!"


^^^"Oke, hati-hatii! Kalau ada apa-apa hubungi saya."^^^


πŸ“ž "Iyaa siap bos! Assalamu'alaikum"


^^^"Wa'alaikumsalam."^^^


Aska mematikan panggilannya, ia kembali ke meja.


"Siapaa?" tanya Zia.


"Masih di selidiki, udah tenang aja ya. Tau kan tadi bodyguard dua mobil."


"Semoga aja gak ada masalah. Malesss tauu, harusnya kan kita liburann" Omel Zia kesal.


"Tenang ya sayang, nanti aku beresin. Jangan di pikirinn." Aska melihat kedua anaknya yang kini anteng sambil memakan ice cream yang dibeli.


"Dari kecil sampe sekarang kalau dapet es krim langsung anteng ya kalian berduaa," ujar Aska sambil tersenyum menatap kedua anaknya.

__ADS_1


"Nggak es krim doang, ay, di sogok makanan apapun langsung anteng mereka berdua." Sahut Zia. Azril dan Asya cengengesan melihatnya.


"Mommy daddy mauu??" Tanya Asya.


"Makan lahh, nanti kurang beli lagi."


"Nggak, satu aja cukup. Kalau Azril kemanisan kan di kerubungi cewek, nanti jadi nya ribett." Ujar Azril santai.


"Pede amat luu!" Ledek Asya, Azril tertawa kecil.


"Mana kartu mommy?"


"Oh iyaa, ini mom." Azril memberikan kartu kredit Zia.


"Abis ini kemana, daddy??"


"Mall. Mall di daerah sini aja yaa," Asya dan Azril mengangguk.


"Kemana pun asal sama mommy daddy kami mauu!" Ujar keduanya kompak. Aska dan Zia tersenyum senang mendengarnya.


"Udah kan makannya? Biar daddy bayarr," tanya Aska.


"Aku aja yang bayarr," sahut Zia.


"Kamu udah beliin jajan anak-anakk, aku ajaa."


"Yaudahh pake duit kamu tapi aku yang bayar ke kasirnyaa," Aska berohria. Ia mengeluarkan dompetnya kemudian memberikannya pada Zia.


Zia pergi membayar.


"Kenapa harus mommy?" tanya Azril.


"Di kasirnya tante tante lipstik tebel, alis ulat bulu." Jawab Asya.


Aska dan Azril menoleh, "astaghfirullahalazim Asyaa!"


"Apa salah Asya??"


"Kamu ngatain orang padahal ini masih di tempatnyaaa." Ujar Aska gereget, Asya cengengesan.


"Kan Azril tanya tadi, ya Asya jawab."


"Kenapaa kaliann?" tanya Zia.


"Gak tau ni mom, masa Asya gak ada salah malah di salahinn."


"Lahh emang kenapaa?"


"Udah di bayar kan, sayang? Kita lanjut bicara di mobil aja, bahayaaa." Aska mengajak Zia keluar dari ampera.


Asya terkekeh melihat ekspresi daddy nya. Azril dan Asya pun ikut Aska menuju mobil.


Tok.. Tok..


"Boss," Aska membuka kaca jendelanya.


"Penguntit sudah di tangkapp."


"Siapa orangnyaa, pak?" tanya Zia.


"Identitas nya masih belum jelas, nyonya bos. Sekarang pelakunya pingsan gara-gara tadi di pukul pake balok kayu."


"Wahh.. bodyguard Asz sudah keliatan ganasnyaaa," sahut Azril takjub.


"Bukan nguping daddyyyyy, kan kita punya telinga. Ya bisa denger laaa," ujar Asya.


"Oiya."


"Yaudah, selidiki lebih lanjut ya."


"Oke siap boss, hati-hati di jalan bos." Aska mengangguk, ia pun kembali melajukan mobilnya.


"Terus tadi apa? Asya di salahin kenapa??"


"Aa itu momm, daddy liatin bu kasir yang alisnya kayak ulat bulu nemplok."


Zia langsung menatap Aska, "nggak kok sayang. Cuma liat sekilas gara-gara Asya."


"Tuh kan momm, Asya juga yang di salahin."


"Ya emang lu yang salahhh. Lu ngatain orang pas masih di ampera nyaaa, oonnn!" Geram Azril, Asya tertawa kecil.


Zia menggelengkan kepala melihatnya, "tadi daddy liatin juga?"


"Iya mommy, di liatin dari atas sampe bawah." Sahut Azril.


"Astaghfirullahalazim, gak ada sayaang. Azril bohongg! Daddy potong uang jajan kamu yaaa!"


"Dapet dari mommy bisa, daddy. Santai ajee," jawab Azril santai sambil memakan cemilan. Asya tertawa lagi mendengar jawaban Azril.


"Gagaga, mari kita skip. Mommy sama daddy sering ke panti asuhan yang tadii??" Tanya Asya.


"Nggak sering, cuma kadang sebulan sekali kesanaa."


"Ngapain??" Tanya Azril gantian.


"Bagi-bagi rezeki lah. Kadang traktir makan, kasih anak-anakk panti uang saku. Kalau bagi-bagi hadiah baru tadi, karena ngajak kalian" Jawab Aska.


"Kalian tu juga harus berbagiii."


"Jangan taunya jajaannn aja. Pulang sekolah mampir ke supermarket, nongkrong di sana sambil jajan. Seratus ribu abisss."


"Alangkah baiknya, uang kalian juga di pergunakan untuk bagi-bagi sesama. Harta yang kita punya sekarang itu bersifat sementara, bisa ilang kapan aja. Jadi selagi bisa, berbagilah."


"Itung-itung tambah amall, karena kita gak tau amal mana nanti yang bakal bawa kita ke surga nya Allah."


Azril dan Asya tertegun, "iya momm, daddd. Besok-besok kami bedua bakal berbagi kok," kata Azril.


"Daddy mommy tau kok, kalian juga sering berbagi. Di lanjutkan yaa, jangan setengah-setengah. Jangan pernah pelit sama orang."


"Oke siappp!"


❀❀


"Daddy daddyyy!!"


"Kenapaa, sayang??" Tanya Aska berbalik.


"Coba daddy main itu, capit boneka. Ambil dua boneka buat Asya sama mommy!" Pinta Asya. Mereka sudah tiba di mall dan berada di arena permainan.


"Kalau daddy bisa, Asya kasih apa??"

__ADS_1


Asya berfikir, "kasih Azril ni. Biar gak nyemakk!"


"Heh kamprett!!" Mereka terkekeh.


"Em... Asyaa kasih mommy!!"


"Mommy udah punya daddy. Kasih apa, hm??"


"Asya kasih es krim!!"


"Okee, daddy coba."


"Lah di sogok es krim mauu," ledek Azril. Aska dan Zia tertawa kecil, mereka pun mendekat ke arah mesin capit boneka.


"Berapa kali percobaan nih, sya??"


"Empat kali! Kalau daddy gak bisa, gimana??" Tanya Asya menantang.


"Kalau daddy gak bisa, daddy beli mesinnya."


"Heh ngawurrr!" Protes Zia, Aska tertawa kecil.


"Kalau daddy gak bisa.. daddy beliin donat dua kotak buat kamu."


"Okeeee, deal!!" Asya bersemangat. Begitupun dengan Aska yang bersiap-siap.


Azril dan Zia tertawa melihat kedua nya, "kalian tu taruhan gasii?" Tanya Zia.


"Nggak sayang, ini namanya tantangan, hukuman dan hadiah. Gitu," Aska fokus mencapit boneka.


Ia berhasil mengambil satu boneka, ia menggeser nya perlahan namun sayang boneka itu terjatuh lagi.


Asya memasang smirk nya, ia yakin sang daddy tidak bisa. Mereka terus memperhatikan Aska bermain.


"Yayayayayayaaaaaak!! Dapett satuuuu," ujar Azril bangga melihat daddy nya.


"Kan tadi bilang dua." Kata Asya mengingatkan, ia tidak menyangka daddy nya bisa dalam dua kali percobaan.


"Oke, ini buat kamu. Daddy ambil satu lagi yang sama biar kompakaan sama mommy." Aska kembali fokus pada mesin capit.


Dan yak! Dalam satu kali percobaan Aska berhasil mengeluarkan boneka yang sama.


"Apa-apaan nihh, kok bisaaa?!" Tanya Asya berkacak pinggang.


Aska, Zia dan Azril terkekeh melihatnya.


"Kek gini doang mah gampangg, sya! Lagian, apasiii yang daddy gak bisa?"


"Wah.. sombong bangett, parah daddy kalian ni!!" Aska tertawa.


"Sesuai hadiah, sya. Beliin daddy es krim!"


"Asyiappp, nanti Asya beliin tapi pake uang daddy kan??"


"Itu bukan beliin namanyaaa, anak cantik!!" Asya cengengesan.


"Iyaaa daddy, nanti Asya beliin."


"Gue juga!!"


"Lah lu siapa?" Tanya Asya menatap heran Azril.


"Ku tokok biar lupa ingatan betul baru tau rasa kau!!" Asya tertawa kecil.


"Dahh dahh, ayo main ice skating!" Ajak Zia. Mereka berjalan bersama menuju arena ice skating.


Aska menggandeng tangan Zia, sedangkan Azril mengapit kepala Asya. Azril takut kalau Asya nyasar atau nyimpang nantinya:v


Tapi Asya yang diapit kepalanya hanya diam, ada waktu yang tepat baginya untuk meng-headshot kepala Azril.


"Iiiii, momm, Azril gak bisa main inii."


"Kamu pikir mommy bisa?"


"Emang gak bisa??" Tanya Azril.


"Oh ya jelas nggak," Zia tersenyum bangga.


"Luar biasa betull keluarga ku ini." Mereka tertawa lagi.


Bersamaan, mereka berempat memakai baju hangat, sepatu skating dan perlengkapan lain seperti sarung tangan dan kaos kaki yang juga di sediakan.


"Momm, takut jatohhh!!" Keluh Asya.


"Pegangan sini, sama guee!" Azril menjulurkan tangannya.


"Lu aja ga bisa kamprett, yang ada jatoh bareng-bareng!!" Aska terkekeh melihat kedua anaknya.


Ia yang lumayan bisa bermain ice skating memegang sang istri agar tidak terjatuh. Mereka berdua berkelana meninggalkan twins bacot.


"Tebanting sakit gak, ya?" Tanya Asya. Ia dan Azril hanya diam di tempat saat ini.


"Tergantung, kalau kuat pasti gak sakit."


"Istighfar cepet! Ku headshot nanti pala kau!" Azril cengengesan.


"Mommy daddy sudah hilang. Liatlah mereka berduaan," ujar Asya dengan tampang pasrahnya.


"Gagaga, kalau nyoba pasti bisa. Ayo coba!!" Mereka berdua pegangan tangan.


"Stop stoppp, gak mauu takut jatohhh!"


"Lebay lu kamprett, lagian kan jatuhnya kebawah!" Protes Azril.


"Sejak kapan jatoh ke atas, oon?!"


"Udah zrill, diemm diemm di tempat, ish."


"Recok kali bahh, diem di tempat nanti mati kedinginan bodoo."


"Oiya, tapi gak sampe mati juga lah keknya."


Di arena yang sama, Aska dan Zia menikmati waktu berdua mereka bermain. Aska mengajari Zia perlahan-lahan.


"Dala, capek!" Keluh Zia.


Mereka berhenti kemudian menoleh ke anak-anak.


"Liat mukanya si Asya, penakut betull anak tuuu." Ledek Aska.


"Macam phobia es. Ayo kagetin!" Ajak Zia.

__ADS_1


"Gak usah jahil, teplanting mereka nanti jadii makin mereng otaknyaa."


"Iya pula, hahaha!!"


__ADS_2