Barbar Generation

Barbar Generation
Main jengaaa


__ADS_3

"Kan jadi jugaaa, berbakat banget guee."


"Ara yang buat lu yang ngaku-ngaku. Suka mengadi-ngadi emang!" Asya cengengesan.


"Arsen manaa?"


"Ketiduran di sofaa," jawab Azril sambil mengunyah bolu buatan Ara.


"Gue bangunin yee." Asya menuju ruang keluarga.


Arsen benar-benar tertidur di sofa. Terlihat sangat-sangat kalem.


Sampai saat ini Asya masih terkagum-kagum. Arsen bisa bertahan hidup tanpa belok, meskipun dalam kondisi brokenhome.


Asya terus memperhatikan wajahnya, kalau boleh Asya jujur Arsen memang sangat tampan.


"Arsenn."


"Senn, bangunnn." Perlahan tapi pasti Arsen membuka mata.


"Ehh, kenapaa?"


"Bangunn, kuenya udah jadii. Buruan makan ntar diabisin makhluk punahh." Arsen bangkit dari tidurnya.


"Kecapekan lu??"


"Nggakk, ngantuk doangg."


"Btw, lu ngomong apa tadi sama daddy?"


"Emm? Katanya suruh jagain calon istrii."


"Diih, bongak betull." Arsen cengengesan.


Drtt.. Drtt..


"Angkat tuh telepon, gue ke dapur duluan." Asya pergi menuju dapur.


Arsen mengambil ponselnya, tertera nama Om Mikko disana. Baru mau diangkat, Mikko mematikan panggilannya.


Ting.. Ting...


Om Mikkoo


online


Senn, kamu dimana? Om check dua kali ke apartemen kok gak ada?


Om mau bicara penting.


^^^Arsen di rumah Asya om, main sama yang lainn.^^^


^^^om mau bicara apaa? harus ketemuu??^^^


Dari wa juga bisa sii wkwk


^^^emang apaan om??^^^


Besokk sama lusa ikut om ke luar kotaaa.


^^^eii? ngapainn?^^^


You knowlahh. Besok om jempuutt


Arsen hanya membaca chat terakhir omnya. Bagaimana menjaga Asya jika dia harus pergi??


"Arseeennnnn."


"Iyaa byy iyaa, bentarr." Arsen jalan menuju dapur.


"Ba by ba by, kek gak ada panggilan bagus aja." Cibir Racksa.


"Norak banget emang si Racksa. Kek udah om om!" Ledek Arsen.


"Maklum, pms." Ledek Asya gantian.


"The couple meresahkan!" Mereka tertawa kecil.


"Lu ngapain lama amatt kemari?" Tanya Ara.


"Tadi ada chat dari om guee."


Asya menatapnya, Arsen menatap balik.


Kontak mata terjadi hanya dua menit karena Azril mengacaukannya.


"Abis ini ngapain, ya? Pada mau tidur siang?" Tanya Racksa.


"Bosen tidurr gue," jawab Dino.


"Main jenga kuyy!" Ajak Asya.


[ps : jenga sama kea uno stacko bedanya jenga terbuat dari kayu dengan aturan main yang lebih sederhana. Hanya perlu menarik, menyusun, dan memastikan tumpukan kayu yang sedang dimainkan itu tidak jatuh. Cmiiw.]


"Punya jenga lu?"


"Punyaaa. Gue, Racksa sama Azril sering main buat nentuin siapa yang bandar makan."


"Biar adil yaa." Ujar Ara.


"Tapi nggak ada keadilannya sama sekalii, gue mulu yang bayarr." Keluh Azril.


"Itu mah lu nya aja yang pe'a. Kagak bisa mainn," ledek Haikal.


"Woop, nantanginnn. Ambil jenganya, Sya. Biar gue lawan dulu Icalcot ni." Haikal tersenyum songong.


"Dasar manusia songong," cibir Racksa lalu berpindah ke ruang keluarga.


Asya dan yang lain tertawa melihat ekspresi kesal Haikal.


"Main di ruang keluarga, kan? Gue ambil dulu jenganya." Asya menuju kamar mengambil jenga, sedangkan yang lain di ruang keluarga menunggu.


"Hai gengsss."


"Waawww."


"Ntarr kalo jatuhin gimana, kak?" Tanya Aryuna.


"Yang jatuhin ntar traktir seblak sama salad buah."


"Emang gak ada kenyangnya si Asya. Oke, gue setuju!"


"Deal!"


Mereka menyusun baloknya.


"Mainnya ala-ala kita sendiri ajaa."


"Owghey."


"Ambil cuma pake satu tangan, yaa!" Tantang Arsen.


"Pas narik sambil jawab pertanyaan. Nanti yang nanya orang yang main selanjutnya."


"Asiaapp." Mereka mulai menentukan pemain.


Berawal dari Arsen di sambung Azril, Asya, Racksa, Haikal, Ara, Yuna, dan yang terakhir Dino.


"Keehh, Arsen muleee."


"Gue yang nanya, kan?" Tanya Azril, mereka mengangguk.


"Sen, berapa banyak mantan lu?"


"Eemm.. gue lupa, gak ngitung. Mungkin sekitarrr lima belas orang."


"Keknya dia koleksi cewek dehh," cibir Ara. Mereka tertawa.


"Paling sayang sama siapa??"


"Asya." Arsen sudah meletakkannya diatas.


"Padahal Asya bukan mantannya." Arsen cengengesan.


"Oke, gantian gue." Azril bersiap-siap.


"Zrill, berapa banyak gebetan lu?"


"Kagak punyaa. Gebetan gue di game."


"Menipu dia, jangan percaya." Ledek Haikal, Azril menatapnya kesal membuat mereka tertawa kecil.


"EHHH, GEBETANNYA DI GAME BERARTI ADINDAAA?!" Dino baru ngeh.


"Astaghfirullah." Azril mengelus dada, mereka tertawa kecil.


"Akhir-akhir ini, lu suka sama siapa? Sebut nama lengkap, kudu jujur woii."


"Sesat si Asya."


"Gue suka sama Adindaa. Adinda Geb... hehh duh untung, Callista." Azril berhasil meskipun sedikit goyang.


"EHH BENERR! Cieeeee. Ah sayangnya gak ada Dindaa." Ledek Dino.


"Diemm deh lu pada. Udah nggak lagii, sadar diri saya." Mereka cengengesan.


Asya gantian main.


"Okee, gue nanya ni gais. Syaa, hal terbodoh apa yang pernah lu lakuin?"


"Hal terbodoh? Ohh gak ada, gue pinter jadi gak ada hal bodoh yang gue lakuin." Asya finish, dia tercepat.


"Agaknya si Asya pro," ujar Arsen. Asya tersenyum songong.


Racksa lanjutt.


"Gue nanya apaan, ya?? Emm, Saa, berapa kali lu nonton porno sehari?"


Racksa yang tadinya fokus langsung menatap sinis Haikal.


"Gila kurasa si Haikal. Yakali gue nonton porno tiap hariii!"


"Kali ajee." Racksa kembali fokus.


"Gue nonton sebulan sekali tiap tanggal lima belas."

__ADS_1


"Anjirrr, terjadwal bund." Mereka terkekeh.


"Becanda doang cokkk. Gue gak pernah lagi nonton gituann, dampaknya bisa bahayaa buat sekeliling."


Haikal ambil posisi.


"Gue yang nanya, kan??" Mereka mengangguk.


"Kall, lu pernah merokok?"


Haikal fokus, "hng? Nggakk, gak pernah samsek. Bisa di hantam emak gue ntar kalau sampe ngerusak paru-paru."


"Kalau mabok?"


"Sekali doang, yang waktu itu pestanya Apin." Haikal finish tanpa jatuh.


Gantian Ara.


"Kak Araa, berapa banyak yang khianatin lu?"


"Eemm.. banyakk, gue di satu circle yang isinya tujuh orang. Dann semuanya khianatin gue."


"Wtf, menyakitkan weii." Ara mengangguk, ia masih terfokus.


"Diantara cowok disini, kak Ara suka sama siapaa?" Ara menatap Yuna.


"Agak horor pertanyaan lu." Yuna cengengesan.


"Gregetan ni gue nunggu jawabann." Kata Asya.


"Gue demenn... Racksa."


"Yahaaaaa, Haikal sedboii!" Haikal mengacungkan jari manisnya, mereka tertawa kecil.


Ara finish. Yuna gantian mengambil posisi.


"Yun. Gue ganteng gakk?"


"Gantengg, mirip samaa Jaemin Nct."


Dino tersipu pemirsaa:v


"Gue nanya pertanyaan yang sama kea lu tadi, diantara cowok disini, lu suka sama siapa? Dan kenapa?"


"Eem.. bang Azril, karenaaa menurut gue bang Azril terpengertian."


"Mampusss luu, sedboii juga kann!!" Ledek Haikal balik, Dino mengelus dada.


Sekarang giliran Dino.


"Yang nanya siapa? Arsen?"


"Ho'oh."


"Ahay. Dinn, lu demen sama Yuna?"


"Skip pertanyaan boleh?"


"Mana bisaa!"


Dino diam sejenak, "iya."


"Uwuuuu."


"Cuma sebagai adek."


"Yaahh, penonton kecewaaa!" Keluh Asya.


Yuna juga merasakan sedikit... sakit hati.


Putaran pertama jenga masih belum jatuh. Sekarang, Arsen melanjutkan.


"Senn, kenapa lu mau sama Asya?"


"Cinta gak butuh alasan. Gue suka Asya karena itu Asya, bukan Adinda."


"Ezeeee, Asya malu-malu gaisss."


Arsen menoleh, ia tersenyum melihat Asya yang berbalik badan.


"Lanjut pe'a, liatin Asya muluu."


"Jealous si Icall," ledek Racksa.


"Muatamui." Mereka terkekeh, Arsen selesai.


"Okeeyy, Zrill, pilih gue atau Adinda?"


"Whatt? Lu rada-radaa keknya, gak ada pertanyaan lainn?" Asya menggeleng.


Azril fokus menarik balok, "pilih lu."


"Uwwww, jadi sayaangg."


"Gelay begoo!" Asya terkekeh.


"Racksaa silahkan bertanyaa."


"Syaa, kalau lu di kasih pilihan untuk melihara hewan. Lu milih apa?"


"Gilee benerr astagfirullah!"


Asya ikut terkekeh, "biar gue punya temen seiras."


"Sepertinya dia mengakui kalau dirinya singa," ledek Arsen. Asya tertawa lagi.


"Seriusss, apaa?"


"Kalau nggak kucing ya kelinci. Tapi guee mau sii kucing." Asya finish.


"Saaa, lu pernah suka sama cewek?"


"Pernah, mama gue."


"Bukan emak lu la begoo!" Arsen kesal.


Racksa cengengesan, "gue cowok normal. Jelas pernah sukaa."


"Suka sama siapa??"


"Natasha Wilona, Syifa Hadju, Lisa Blackpink, Yoona SNSD, Bae Suzy."


"Diem lu diem!!" Racksa terkekeh melihat mereka semua kesal, ia bergeser.


"Gilee ini posisinya hororr. Bismillah," Haikal terfokus.


"Kall, misalnya lu jadi cewek sehari lu bakal ngapain?"


"Bentarr, mikir duluu ini nariknya cemanaa."


"Okee gue tauu, lu nanya apa tadi? Kalo jadi cewek sehari bakal ngapain?? Gue pengen ngerasain pms sama hamill."


"Kan cuma sehari bodooo, bisa kau hamil cuma sehari?!" Tanya Dino kesal.


"Oiya, gabisa. Kalau gituu, guee mauu joget ting-ting aja." Mereka terkekeh, jawaban gila.


Haikal selamat, Ara main.


"Kak Araa, kalau kakak punya pacar kea Felix Straykids apa reaksinya?"


"B aja, karena itu cuma HALUSINASI." Mereka terkekeh.


"Bener si sebenernya, tapikan kalau MISALNYA pe'aaa." Ara cengengesan.


"Kalau disuruh milih antara Felix sama bang Haikal, kak Ara pilih mana?"


"Si Yuna bikin gue makin jadi sedboii." Keluh Haikal, Yuna nyengir.


"Apa jawabannya kak?"


"Milih Haikall. Felix cuma di dunia perhaluan."


"Weeewww, jimayuu!"


"Geli sumpahh liatnyaa." Mereka tertawa lagi.


Giliran Yuna.


"Wahhh, bakal jatoh kalau salah pilih."


"Cari dulu, ntar gue tanya."


"Oke udahh. Tanyalah, bang."


"My question adalah besok kalau udah nikah mau punya anak berapa?"


Yuna terkejodd! Hampir jatuh baloknya.


"Kenapa otak dia jauh banget si mikirnya?" Mereka geleng-geleng.


"Mo punya anakk duaa."


"Oke sama, kita jodoh!"


"Fikss, dinosaurus agak-agak!"


Dino mulai mencari balok untuk dipindah.


"Emm, Din, kasih satu quotes."


"Bebas kan quotesnya apa?" Arsen mengangguk.


"Jangan semangat, ayo putus asa!"


"Anak pe'a makin pe'a!" Dino terkekeh.


"Jangan berharap terlalu tinggi untuk sebuah ekspetasi yang belum tentu terjadi."


"Wezeeee." Dino tersenyum songong, jenga masih belum jatuh sampai sekarang.


Kembali ke Arsen.


"Senn, kalau nyatanya Asya bukan jodoh lu. Apa yang bakal lu lakuin?" Arsen menatap Asya yang juga menatapnya menunggu jawabann.


"Gue cuma bisa do'a sama Allah, kalau gue gak bisa jadi jodoh Asya izinkan gue bunuh jodohnya Asya. Kalau jodohnya Asya dibunuh, kan gue bisa nikung."

__ADS_1


"Gak beresss otaknya!!" Arsen cengengesan.


"Aaaaaa.. huhh, untung cuma goyangg."


Azril akan bermain, ia sudah punya feeling jenga akan jatuh.


"Zrill."


"Tunggu, gue cek situasi duluu."


"Sip, lanjuttt!!"


"Zrill, gimana cara cari duit tercepat?"


"Ada banyak cara. Contohnya nyolong uang di bank, jadi babii, tuyull, dan lain-lain."


"Gak beresss semua gak beresss!!" Azril cengengesan.


Brukk!


Yaaahh jatohhh!


"Gue lagi kannn, ni jenga dendam sama guee!" Keluh Azril, mereka terkekeh.


"Buruaann beli seblak sama saladd!!"


Azril mengambil kunci mobilnya.


"Jangan lupa beli soda."


"Sama eskrimm."


"Juga jajanann."


"Bangkrut gua anjj!!"


❀❀❀


"Mbak beli seblak delapann." "Mbak beli seblak dua."


Azril dan pembeli lainnya kompak.


"Yahh, seblaknya cuma tinggal tiga porsi."


"Saya dua mbakkk." "Saya dua mbakk."


Azril menatap pembeli lainnya, "gue mesen duluan."


"Guuee!"


"Gueee!"


"Astaghfirullah, ngalah napa sama cewekk."


"No no, saya yang dua mbak."


"Saya aja mbak yang dua, dia satu."


"Saya mbak yang dua, saya pesen delapan tadi."


"Ngalah ngapa siii!"


"Loh kokk ngamokkk."


"Ehh kok ngegass!"


"Aduhhh, pusing sayaa."


"Saya yang dua mbakk." "Saya yang dua mbak."


"Gak usah ikut-ikutt!" Protes wanita itu.


"Lu yang ikut-ikutt guee!"


"Eerr, ngalah sama gue ya. Itu buat nenek guee," rengek wanita tadi.


"Mana? Bawa sini nenek lu, baru gue kasih."


"Astaghfirullah, bener-bener kagak bisa ngalah luu?!"


"Gak!"


"Gue do'ain jombloo mampusss!"


"Gue emang jomblo," wanita itu terdiam.


"Gue sump—"


"Buat lu, buat lu. Lu dua deh gue satu!"


"Nah gitu dong! Mbak saya yang dua."


Mbaknya menatap Azril, "iyaa mbak. Dia aja yang dua."


"Oke, mas."


Azril dan wanita itu menunggu bersama.


"Beneran buat nenek lu?"


"Iyaa."


"Emang ada nenek-nenek makan seblak?"


"Ada, nenek guee." Azril diam.


"Btw, lu gapapa cuma satu? Kan tadi lu beli delapan."


"Gapapa."


"Emang buat siapa banyak banget?"


"Buat temen gue. Btw, nama lu siapa?"


"Naina. Naina Syahira Almayra."


"Nice name."


"Wkwk, thank you. Lu sendiri?"


"Gue Azril. Azril Kenzi Stevano."


"Cool nameee." Azril tertawa kecil mendengarnya.


"Lu kelas berapa??"


"Dua belas, sekolah di SMA Super."


"Samaaa, bedanya gue di sekolah biasa lu di sekolah elite."


"Elite apanya, b ajaa kok."


"Ini yang satu." Azril mengambil dan membayarnya.


"Gue duluan, Naii."


"Thanks udah ngalahh." Azril mengangguk sambil tersenyum.


Azril berpindah ke tempat penjual salad. Ia membeli di pedagang kaki lima.


"Salad buahnya delapan, bu."


"Tinggal dua tadi, mas. Udah di beli orang jugaa." Azril menghela nafas.


"Udah, mbak?"


"Udah ni, dee." Azril menoleh.


"Loh, Nai?"


"Eh, lu beli ini juga??"


"Iyaa, tadinya. Tapi abis, gak jadilahh."


"Ini ambil punya gue satu." Naina menyodorkan satu salad buahnya.


"Gapapa nii?"


"Iya gapapa kok, gue gak terlalu suka salad ntar bisa kongsi sama nenek."


"Thank you yaaa."


"Iyaa, sama-sama."


"Lu pulang naik apa?"


"Ojekk."


"Ayo, gue anterin." Tawar Azril.


"Eh??"


"Gak bakal gue ajak nyimpang kok," Naina tertawa mendengarnya.


"Yaudah, ayok." Naina mengikuti Azril kemobilnya. Azril mengemudi dengan santai di tengah keheningan dan kecanggungan.


"Rumah gue sebelah kirii."


"Cat putih?"


"Iyaa." Azril menghentikan mobilnya ketika tepat berada didepan.


"Itu nenek gue," Azril menganggukkan kepala. Naina tidak bohong rupanya.


"Salam buat nenek lu."


"Iyaa, thank you tumpangannya and thank you seblakknya."


"Sanss, makasih juga buat satu salad tadi." Naina tersenyum.


"Gue turun, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Naina turun dari mobil Azril.


Azril pergi setelah melihat Naina masuk pagar rumahnya, di jalan ia tersenyum mengingat senyum Naina.

__ADS_1


Aaahhh, bukannya Azril terlalu mudah menyukai seseorang?


__ADS_2