
"Waaddduhh, apaan ini?! Harus langsung dinikahin gak sih cocoknyaaa?" Asya yang tersadar langsung melepas pelukan dan menjauh dari Arsen.
"Haraboji... Om Aska... Om Zean... Om Zai..." lirih Arsen sedikit panik. Aska tertawa melihat ekspresi Arsen. "Langsung kita nikahkan aja nanti malam gimana, Ka?" tanya Zean menggoda.
"Boleh tuh, bang. Daripada ntar makin-makin kan," jawab Aska. Arsen dan Asya diam tidak tau harus berkata apa.
"Hahahaha! Yang kemarin-kemarin ngebet nikah malah pucet mukanya dengar mau dinikahin mendadak," ledek Zai.
"Yyaa gimana gak panik, om. Tiba-tiba datang langsung suruh nikah." Mereka tertawa mendengar jawaban Arsen. "Jadi mau dinikahkan beneran gak ntar malam?"
"NGGAAAAAAA. Ngaco banget astaghfirullah. Asya belum sembuh, kata daddy tunggu sembuhh."
"Ohh, Asya belum sembuh ya? Padahal tadi daddy udah beliin showroom CRF. Apa dijual aja lagi ya?" Asya auto nyengir, "Nggak usah. Asya udah sembuh kok ini, ayo ke showroom."
"Kalau udah ngomongin CRF langsung sembuh yaa, Asyaa?" Asya cengengesan, "Tapi Asya udah sembuh beneran, haraboji."
"Nahh udah sembuh tuh. Bisa dong nikah nanti malem?" Asya kembali merebahkan tubuhnya di kasur, "Asya masih sakit, ongkell." Mereka tertawa bersama melihat ekspresi Asya.
Disaat yang lainnya asik bersenda gurau, Arsen malah terlihat agak canggung karena terciduk pelukan mesra tadi. Zean menyadari itu, ia mendekat dan menepuk pundak Arsen pelan. "Santai aja, Arsen, kami juga pernah muda kok."
"Kepikiran bangett keknya diaa. Takut dinikahin nanti malam yaaa?" Arsen cengengesan. "Gak usah dipikirkan kali, Sen. Gak betulan kok tadi."
"Betulan juga gapapa kok, om, hehehe."
"Ngaco! Btw haraboji sama ongkel kok baru datang? Pasti malas datang karena dah gak sayang Asya lagii," ujar Asya mengubah topik.
"Nggak gitu. Kamu lupa yaa? Ongkel mu ini kan orang tersibuk sejagat raya. Istrinya aja dianggurin sanking sibuknya," sahut haraboji. "Berarti haraboji juga dongg?"
"Oh yaa tidak. Haraboji sekarang tinggal tunggu transferan aja gitu dari anak sama mantu. Jadi dirumah kelonan terus sama halmoni kamu."
"Astaghfirullah!! Ingat umur, paaaaa!" Haraboji tertawa sekilas. "Besok Arsen jangan kayak Zai sama Zean ya, masa istrinya sering banget di tinggal, dianggurin pula."
Arsen nyengir. "Tenang aja, haraboji. Mana bisa Arsen anggurin cewek secantik Asyaa," jawab Arsen berusaha santai. "Mantapp nih mantapp. Jadi kapan mau nikah?"
"Ni napaaa pada ngebett banget sichhh? Kan yang mo nikah," kara Asya greget. "Kami mau makan rendang."
"Ck ck. Beli, ongkelll, belii. Jangan kek orang susah dehh!"
"Hahahaha!! Mantap anakku!!" Aska dan Asya bertosria sambil tertawa. "Bapak anak sama aja emang."
"Dah dah. Back to topik, kali ini kita serius. Arsen sama Asya masih mau nunda nikah lagi atau mau dipercepat?" tanya haraboji. Asya dan Arsen saling tatap.
"Arsen maunya dipercepat sih, haraboji. Nggak tau kalau Asya maunya gimana," Semua pandangan beralih menatap Asya.
"Kalau Asyaa... Terserah daddy aja kapan."
...◕◕◕^ω^◕◕◕...
Asya sudah keluar dari rumah sakit. Kondisinya juga sudah membaik dari sebelumnya. Asya sudah bisa petakilan seperti biasanya.
Setelah pertemuan yang membahas tentang pernikahan waktu itu, mereka sepakat untuk dipercepat. Minggu depan, mereka berdua menikah.
Dan pagi ini, Asya hendak pergi bersama Arsen untuk mengambil gaun beserta cincin yang sudah dipesan kemarin. "Abis nikah mau tinggal dimanaa? Rumah daddy, rumah aku, atau buat rumah baru?" tanya Arsen membuka topik.
"Abis nikah kita gak langsung.... gitukan?"
"Maksud kamu?" Arsen kebingungan.
"Ihh. Masa gak ngerti? Gak langsung ituuu kann, ituuuuuu."
"Itu apa maksudnya, sayang? Bicara yang jelas coba, akunya bingung kalau kamu ngode gitu," kata Arsen sambil sesekali menatap Asya.
"Huh.. nganu. Gak langsung nganu-nganu kan?"
"Nganu-nganu ki opo meneh? Maksud kamu bikin babyy?" Asya menjentikkan jarinya, "Itu maksud aku."
"Tinggal bilang begitu ae susah, yang. Aku gak tau pasti sih mau langsung apa nggak, karenaa yaa bisa ajaa akunya lagi ngebet terus khilaf gitukan liat kamu...."
Asya menatap Arsen datar, "Keknya aku baru sadar kalau kamu mesuman banget. Sebelum nikah, kamu dirukiyah dulu gimana?"
Arsen cengengesan. "Harusnya bangga lhoh kamu, berarti aku normal, masih suka nga—"
"Cukuppp. Gak usah lanjottkan!"
Arsen terkekeh melihat pipi Asya memerah. "Nggak langsung kok nggak. Lagian aku nikahin kamu juga bukan untuk puasin nafsu doang, sayang. Kalau kamu gak setuju ya gak bakal main kita. Emang kenapa tanya gitu?"
"Semisal nggak dulu kan kita bisa tinggal di apartement ajaa. Lebih enak, gak gede banget, kita juga bisa berduaan tanpa sewa pembantu."
"Ya terus kamu yang kerjain pekerjaan rumah?" Asya mengangguk santai dengan senyuman. "Mau ditaro di mana muka aku kalau kamu yang kerjain pekerjaan rumah?"
"Lahh, emang kenapaa? Aku juga bisa tauu."
"Bukan masalah bisa atau nggaknya, sayang. Dari dulu, dari kamu kecil juga kamu kan gak kerjain itu sendiri. Masa abis nikah sama aku malah kamu yang kerjain. Kamu bakal jadi istri aku btw, bukan pembantu."
"Ihh ya tapikan kalau pakee art jadinya gak seruu. Ku masi mo berduaan sama kamu tauu. Aku pengennya kamu ngerasain masakan ku sendiri, kea mommy yang selalu masakin daddy," kata Asya sambil manyun.
"Kemaren pun kamu izinin kita tanpa pembantu. Kok sekarang malah berubah ginii?!"
__ADS_1
"Aku ngerti ngerti mau kamu apa. Iyaa dulu aku izinin asal kita kerja sama, tapi aku berubah pikiran. Karena kalau dipikir-pikir, gimana nanti reaksi keluarga kalau tau kamu yang beresin rumah? Bisa digorok leherku."
"Gini aja kalau nggak. Kita tetap pake pembantu, tapi pembantunya gak nginep di rumah. Tugasnya nyuci, setrika, dan lain-lain kecuali masak. Deal?"
Asya diam dan berpikir. "Bolee jugaaa sii, di apartement kan? Yang masak aku kan?"
"Iya, sayangku. Kita tinggal di apartement, dan yang masak juga kamuu. Setuju?" Asya mengangguk antusias dan tersenyum senang.
"Kalau mau yang gitu, berarti kita harus cari art yang muda. Lebih gesit gitu. Kalau yang tua kasian ntar kalau disuruh bulak-balik."
"Alasan. Bilang ajaa mo cari yang muda, yang seksi gituuu biar bisaa cuci mata sekalian!" Arsen tertawa sembari menyubit pipi Asya. "Kamu itu bisa gak berpikiran positif sama calon suami kamu ini, hm?"
"Logikanya aja deh, ngapain aku nyari yang seksi buat cuci mata kalau kamu aja adaa? Trust me, baby, yang seksi kalah sama yang paket lengkap kek kamu."
"Paket lengkap maksudnya?"
"Kamu seksi, cantik, pinter, good attitude, good rekening juga, segala-galanya good. Apa nggak paket lengkap itu namanya? Kamu tu gak bisa dibandingkan sama siapapun, karena kamu udah yang paling sempurna dimata aku. Asik slebew!"
Asya salting! "Apaan sih kamu."
"Halahh. Sok-sokan bilang apa sih, padahal lagi salting berat sampe mo kayang." Asya menatap Arsen kesal, ketika ia ingin protes Arsen dengan cepat mengecup bibirnya.
"Gak ada yang bisa gantiin kamu dihati aku. Jadi stop berpikiran kalau aku bakal berpaling, karena itu gak akan pernah terjadi sampe rusa melahirkan kadal."
"Dah sampe nih kan, mobilnya dah berenti. Mari kita turun!" Asya langsung keluar dari mobil dan pergi duluan ke toko emas. Arsen mengikutinya sambil tersenyum melihat Asya yang lagi-lagi salting.
Di sini mereka hanya mengambil cincin saja, karena sebelumnya sudah dipesan online di ponsel. Toko emas ini adalah toko langganan keluarga besar Asya, jadi dapat lebih mudah dalam segala hal.
Seusai mengambil cincin, mereka kembali ke mobil. Kali ini tujuannya ke butik. Di sepanjang perjalanan Asya memikirkan banyak hal, termasuk bagaimana cara memasak agar Arsen betah makan dirumah.
"Mikirin apa?" tanya Arsen menyadarkan Asya. Asya menoleh sekilas. "Mikirin gimana caranya menjadi istri yang baik untuk pria sebaik kamu."
"Terus, udah dapat jawabannya?" Asya menggelengkan kepala sambil cengengesan.
"Aku saranin, lakukan apapun yang kamu mau tanpa terpaksa ya, sayang. Bahagia aku itu di kamu, jadi kamu harus bahagiaa terus biar aku juga bisa bahagia. For you information aja, kamu mah udah super duper terbaik buat aku."
...◕◕◕ (ू•ᴗ•ू❁) ◕◕◕...
Malam ini Arsen akan makan bersama dengan keluarga besar Asya. Makan malam kali ini lebih mengarah ke acara party tertutup karena acaranya non-formal.
"Jangan malu-maluin papa ya, Arsen!" tegur papanya. Arsen memang tidak sendirian ke sana, ia disuruh membawa keluarganya juga.
"Gak tebalik nih? Harusnya Arsen yang bilang begitu ke papa," jawab Arsen meledek. Papa Arsen tertawa sekilas. Tangannya menarik pundak Arsen untuk berbalik.
"Wahhh, anak gantengnya papa udah mau jadi suami orang yaa," kata papanya sambil merapikan baju kemeja yang dikenakan Arsen.
"Nak, ingat pesan papa ya. Jangan pernah ulangi apa yang papa lakukan dulu. Jangan pernah judi, mabok-mabokan ataupun main wanita, papa gak mau kamu ngerasain hal yang sama seperti yang papa rasakan."
Arsen tersenyum. "Tenang aja, bro. Anakmu yang tampan ini tidak sebodoh itu."
"Bagus. Kamu pinter, sama kayak mama kamu."
"Oh ya jelas. Papa Arsen dulu juga pinter milih istrinya, tapi gara-gara bodoh sesaat gitu kan nah jadinya gitu. Untung sekarang udah pinter lagi cari istri baru."
Papa Arsen tertawa lagi. "Nyindir di depan langsung yaa, brooo. Keren betul memang anaknya Andre."
"Bapak anak super gaul. Udahh-udahh, ayok berangkat!" Arsen beserta keluarga pun pergi bersama dalam satu mobil.
Semua berangkat terkecuali Alex, ia tiba-tiba pergi barusan karena ada suatu hal yang perlu diselesaikan secepat mungkin. Katanya, nanti Alex akan menyusul sendiri.
"Bunda, sini Syila sama Arsen aja," pinta Arsen setibanya di dalam mobil. "Ati-ati kejedug," kata bunda Arsen sembari mengoper Syila ke kursi belakang.
Arsen menerimanya dengan senyuman. "Cantik kalii adek abanggg, sama ya kek abangnya gantenggg."
"Kok ke abangnya pula. Ke papanya lah, kan papanya yang buat."
"Kata Arsen sih ke bunda, bukan ke papa. Papa lhoh jelekk," ledek Arsen terang-terangan. Papanya mendengus kesal mendengar jawaban Arsen. "Kalau papa jelek kamu juga, Sen."
"Nggak lahh. Mama kan cantik, jadi Arsen nular dari mama."
"Gimana ceritanya dari cantik ke ganteng?" tanya papa Arsen menjebak. Arsen berpikir sejenak. "Gimana caranya juga dari ganteng ke cantik?"
"Arsen gak bisa ngalah sama papaaa?!"
"Tidak, tidak. Terima kekalahan ya, Pak Andre."
Bunda Arsen menggelengkan kepala melihat interaksi bapak-anak itu. "Eh iya, kamu udah ada ke makamnya mama?" tanya Bunda Arsen.
"Belom, bunda. Rencananya besok bareng Asya," Bunda Arsen dan papanya berohria. Tidak ada lagi pembicaraan. Papa Arsen sibuk menyetir dan bundanya sedang bermain ponsel.
Sedangkan Arsen sibuk bermain bersama Syila. "Eh, Sen, besok kalau kamu sama Asya udah nikah, sabi dong ya papa titip Syilanya sama kamu."
"Buset. Kenapa dititipin segala? Papa sama bunda mau ngapain emang?" Papa Arsen tersenyum menggoda. "Udah tua woi udah tuaaa! Ga inget umur emang ni orang tua. Kasian bunda Arsen," protes Arsen geram.
Papa Arsen terkekeh mendengarnya. "Dulu kamu dak suka banget sama bundamu, sekarang malah sayang ya sama bunda?" goda papanya. Arsen tersenyum tanpa menjawab perkataan papanya.
"Papa senang melihatnya."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah harabojinya Asya. Masih sambil membawa Syila, Arsen turun dari mobil. "Ayoo, bun, pa."
"Aduhh... papa jadi takut, Sen. Nanti kalau papa salah-salah bicara, bisa-bisa kamu batal nikah."
"Kalau gitu gak usah bicara," Arsen cengengesan lalu pergi duluan bersama Syila. Keluarga besar Asya sudah berkumpul di halaman depan yang super duper luas.
Arsen melambaikan tangannya dengan senyuman. Melihat Arsen datang bersama Syila, Asya berlari menghampiri keduanya. "Aaaaa Cilaaa. Annyeong, Cilaaa!" sapa Asya senang.
"Syila doang yang di sapa? Abangnya?"
"Males, bosen. Sini Syila sama aku aja!" Asya merebut Syila dan kembali ke perkumpulan yang lain. Arsen melongo di tempat. "Jiakhhh! Gak dianggep."
"Berisik lu, Upill!" Mereka tertawa melihat respon Arsen. "Papa sama bunda kamu mana?" tanya Zean. Arsen menunjuk ke belakang, "Katanya malu."
"Ngapain malu? Masuk aja siniii, Pak! Calon besan nih kita," teriak Zia. Papa dan Bunda Arsen masuk ke halaman sembari tersenyum canggung. "Santai aja, Pak. Anggep keluarga sendirii. Jangan tegang gituu hehehe."
"Ahh iya, Pak Aska."
"Apasiiii formal banget berdua."
"Gak usah berisik, Zai. Lu masih kecil."
"Ya Allah, kapan Zai dianggep gede. Udah punya anak pun masi di bilang kecil sama ni om-om," Zean menatap Zai sinis. "Om-om pala lu, sugar daddy nih gue."
"Prett! Duit sikit aja banyak gaya lu."
"Keknya lebih asik nih kalau pala lu gue tebas, Zai. Sini deh biar gue tebass beneran pala lu."
"Tangkap gue dulu baru tebas kepala gue." Terjadilah lari-larian antar kedua bapak-bapak itu. Suara tawa ikut menjadi sound system keributan keduanya.
"Tidak ingat umur memang. Awas encok ya, Zean!" ledek Febby. Zean auto berhenti berlari lalu mendekat dan menatap sinis istrinya. "Ke kamar aja deh yuk?"
"JIAKHHH, BAPERAN."
"Bukan gitu, ini pembuktian aja kalau gue anti encok club."
"Hallahhh! Dasar orang tua."
"Gue tebas beneran ya pala lu?!!"
...◕◕◕ (ू>ᴗ<ू❁) ◕◕◕...
Asya, Azril, Arsen, Zafran, Upi dan Keja sedang berada di dalam satu mobil yang sama. Mereka hendak menuju supermarket, membeli persediaan makanan yang habis plus cemilan untuk anak-anak generasi muda.
"Abang."
Zafran berdehem sembari menatap Asya. "Kapan Asya dapat dedee baru?"
"Busett! Kok tiba-tiba amatt lu nanya begituannn?" tanya Keja heran. Asya nyengir, "just asking. Hehehe."
"Kalau gue jadi bang Zap si bakal jawab, 'ngapain tanya-tanya? Pengen? Buat sendiri dong!' pasti gitu."
"Dihhh, lu sok iye banget yaa kamprett! Untung bang Zap baik hati, tidak akan merespon dengan jawaban jahatt seperti ituu. Ya kan, bang Zap?" Zafran berdehem lagi, tangannya mengelus rambut Asya.
"Lu napa hm hm-an doang, bang?"
"Sakit gigi keknya. Dia kebanyakan makan daging," ledek Upi tertawa. "Rasa pengen abang tendang kamu, Pi!" Upi cengengesan. Tanpa terasa mereka tiba di supermarket.
"Mencar ya, berdua-dua. Asya sama Azril, abang sama Arsen, Upi sama Keja."
"Siapp laksanakan!" Mereka mulai berpencar mencari barang yang dibutuhkan.
Asya yang sudah lama tidak ke supermarket jadi maruk, ia mengambil semua jenis minuman dengan jumlah masing-masing satu. Niatnya bukan untuk dibagi-bagi, tapi untuk diselundupkan di kamarnya.
"Licik bener idup lu yaa nyett!" cibir Azril. Asya tertawa kecil, "Ini tu namanya memanfaatkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan."
"Helehh. Mentang-mentang dibayarin, songong amat lu!" Asya berkacak pinggang dan menatap sinis Azril.
"Gue beli pake duit ndiri juga bisa keles! Gak usah julid dehh jadi orang." Azril semakin ingin meledek Asya setelah melihat ekspresinya. "Ya udah, bayar dong pake duit ndiri."
"Okee. Finee!" Setelah mengambil semua jenis minuman yang diinginkan, Asya kembali mendorong trolinya sendirian menuju kasir. Azril tidak mengikuti karena asik memilih cemilan untuk ayang.
Di tengah perjalanan ke kasir, Asya masih sempat-sempatnya mengambil cemilan yang lain. Tentunya untuk diselundupkan lagi.
"Ehm.. Sendirian aja nih?" Asya tidak ingin meresponnya. Ia sedang sibuk memilih antara pocky yang semangka atau strawberry.
"Saya di kacangin nih ceritanya?"
Asya menghela nafas panjang. "Calon suami saya galak, sekali tonjok nyawamu iso melayang. Jadi, shut the **** up."
Pria itu tetap di sana dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Percampuran bahasa yang cukup bagus, kamu emang keren. Dulu kamu bilang bisa bahasa Jerman, ya kan? Wahhh, kok bisa kamu hafal banyak bahasa ya, Sya? "
Asya mengerutkan alisnya. Bingung, kenapa orang ini bisa tau hal itu? Asya bergeser ke samping tiga langkah, lalu menghadap pria tadi.
"Hi! Long time no see."
"Kakk..."
__ADS_1