Barbar Generation

Barbar Generation
Misterii


__ADS_3

Pagi kembali menyapa Asya.


Ia bangun dari tidurnya lalu meregangkan otot.


Skorsing day kedua.


Asya masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah itu, keluar dari kamar dan membangunkan yang lain.


Ohh, mereka sudah terbangun dan mengopi santai. Asya kesiangan??


"Morning, kak Asyaaa."


"Too, Ara mana?"


"Kak Ara pulangg tadi, bokapnya baru pulang dinas." Asya berohria.


"Lu udah bangun daritadi??"


"Nggak kak, barusan jugaa. Gue ke ruang keluarga duluan ya, kak." Asya mengangguk, Yuna menuju ruang keluarga.


Asya sendiri duduk di kursi, mengambil satu apel dan mengunyahnya.


"Nihh, susu buat lu." Arsen datang dan duduk tepat di depan Asya.


"Ini susu lu?" Arsen menatapnya datar, Asya terkekeh.


"Timekasiii."


"Ntar gue gabisa ikut bolos lagii."


"Whyy??"


"Gue mau keluar kota sama Om Mikko." Asya mengangguk paham.


"Berapa lamaa??"


"Besok sore gue balik."


"Mau berangkat jam berapa?? Gak mau sarapan dulu?"


"Bentar lagi di jemput, gue udah bilang juga sama yang lain. Sarapan? Boleh?"


"Mau sarapan apa??"


Arsen mendekatkan wajahnya ke wajah Asya kemudian mengecup lama keningnya. Setelah di lepas, Asya membuka mata.


"Barusan sarapan guee."


"Ishh, curi kesempatan!!" Arsen tertawa. Mukanya masih belum terlalu jauh dengan Asya.


Arsen mengelus lembut pipinya, "kalau ada apa-apa hubungi gue yaa!"


Asya mengangguk, "lu juga. Kalau kenapa-kenapa hubungin gue."


"Pastii."


"Eeehmm!"


Arsen memutar kepalanya, "ahh elu, Din! Ganggu bae!!"


Dino terkekeh, "dosa dosaaa! Bagus gue gangguu. Kalian bedua ni... duhhh tolong lah yaa, masih pagi ini!"


"Bacot banget si sedboii!" Mereka berpindah ke ruang keluarga.


"Gue di tinggal anjj!" Dino menyusul setelah mengambil buah.


"Lu jadi pergi, Sen?" Tanya Haikal, Arsen mengangguk.


"Gue juga dipanggil bokap buat pulangg bentarr."


"Kenapa gue gak di panggil, ya?" Tanya Dino.


"Bonyok lu sibuk buat adek!" Jawab Racksa.


"Ngacooo lu anyiingg!" Racksa cengengesan.


Arsen mengambil ponselnya ketika berdering, omnya sudah menjemput ternyataa.


"Mobil gue disini dulu yaa, besok sore gue ambil. Om Mikko udah jemputt." Mereka mengangguk.


"Kalau mau pake mobil gue pake aja, kuncinya di tempat gantungan kunci. Dah yaa gue pergi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Arsen lari menuju pintu. Sedikit lagi mendekati pintu, Arsen berbalik.


Cup!


Arsen mengecup pipi Asya tiba-tiba.


"Nanti gue telepon, love you. Bye!" Arsen benar-benar pergi kali ini.


Asya sendiri sedang terdiam membisu mendapat kecupan mendadak. Sudah dua kali pemirsaa.


"Waaahhh, terkejott sayaa!"


"Emejing!"


"Sarapan pagii ya, Syaaa?" Ledek Dino.


"Berisik!"


"Ueehh, ngamukkk." Mereka tertawa kecil.


"Assalamu'alaikum gaissss!"


"Lahh, balik lagii? Gue kira bakal lama di rumahh," ujar Dino.


"Sarapan bareng doang tadii. Bokap udah pergi lagii, ntah kemanaa." Jawab Ara santai.


"Bokap lu kerja apaan?" Tanya Racksa.


"Pelautt."


"Wezzz, mantep. Gue besok mo jadi pelaut aja laa." Kata Azril sambil login game.


"Gue saranin mending gak usahh."


"Kenapaa?" Tanya Asya.


"Ntar anak lu kagak dapat kasih sayang papanya. Sama kea guee, bokap jarangg banget pulangg."


"Iyasiii. Yaudah nyari profesi lain aja deh gue."


"Jadi kang ngamen aja kamu!!" Asya menyahuti dengan senyuman yang merekah.


"Cangkemmu, berdosa banget jadi nunaaa!" Asya cengengesan.


Kringgg.. Kringgg..


Telepon rumah berbunyi, Asya mengangkatnya.


πŸ“ž "Halo nona, selamat pagii."


^^^"Iya, Pak. Selamat pagi. Dengan siapa dimana?"^^^


πŸ“ž "Saya bodyguard di depann, ini ada temen nona yang mau masuk. Katanya penting."


^^^"Namanya siapa, Pak?"^^^


πŸ“ž "Tara, Non."


❀❀❀


"Morning, Gebby."


"Morning, Daddy."


"Nakal banget jadi cewekk!"


"Hahaha, om mau kemana udah rapi?"


"Kantorr. Oh iyaa, anggota kita yang nyamar gimana?"


"Kemaren nguping terus bilang ke Gebby, Asya pengen pelihara kucing. Gimana kalau...?"


"Hahaha. Kamu terlalu ganas, Gebby. Padahal Asya dan yang lain temen kamuu."


Dilain tempat.


Arsen baru saja memasuki Asz group.


"Assalamu'alaikum, Om." Arsen menyalami tangan Aska.


"Wa'alaikumussalam. Tumben kesini? Ada apa, Sen?"


"Arsen cuma mau bilang sama om, Arsen mau keluar kota bareng Om Mikko. Untuk beberapa jam kedepan, Arsen gak bisa jagain Asya."


Aska mengedipkan mata dua kali mendengar pernyataan Arsen.


"Kenapa gak chat om aja, Senn??"


"Hihii, Arsen rasa kurang sopan izin dari wa."


"Hhm. Kamu pulang kapann?"


"Besok sore kayaknya, Om."


"Okelah kalau gituu. Hati-hati, yaaa."


"Iya, Om. Arsen pulang ya, Om."


"Cuma izin? Gak mauu minum dulu??"


"Hehe, nggak om makasi tawarannya. Arsen pulang, Om, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Arsen menyalami tangan Aska lagi lalu pergi.

__ADS_1


'Perasaan gue gak enakk. Kenapa inii?!' batin Arsen sambil memegangi dadanya.


Ia berlari menuju mobil Mikko.


"Udahh?"


"Udah, Om." Mikko menyuruh supirnya untuk kembali mengemudi.


"Om, Arsen nanya doang nih yaa. Kalau Arsen gak ikut kenapa??"


"Eum.. om ngajak kamu biar kamu tau mana orang-orang penting di AM. Gak ikut juga gapapa sebenernya, emang kenapaa?"


"Nggakk. Gapapa kok, Om."


"Oh iya, kamu maukan ke Kairo?"


Arsen diam tidak menjawab.


"Om bakal kasih waktu lagi kok. Pikirkan dulu baik-baik." Arsen mengangguk sambil tersenyum.


Ia meraih ponselnya karena terus bergetar. Itu karena Asya memposting foto di instagram dan menandai dirinya. Arsen tertawa kecil melihat video di akhir.


Arsen beralih ke whatsapp.


singa cantikku β™‘


last seen today at 07.30


^^^wooiii^^^


^^^rinduu!^^^


Arsen menunggu balasan.


Ting..


singa cantikku β™‘


online


you know bacott?!


^^^kekwkwk^^^


uda dimanaa?


^^^masih dijalannn, ada Dinda gak disana??^^^


kenapa tanya Dinda?


^^^gapapa, tanya ajaa. cemburu kamu?^^^


gausa sok kamu kamuuu, gelayy biawakk!❀


^^^ehh emoji lopppp^^^


HEHH WOI KEPENCET


^^^ni gue kasih banyakk^^^


^^^❀❀❀❀❀❀❀❀❀❀^^^


ishh, kepencetttt


^^^iya tau, lopyu tu^^^


dih dihhh


Arsen beralih menelepon Asya.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum."


^^^"Emm, wa'alaikumsalam. Rame amatt keknya."^^^


πŸ“ž "Mereka kan kalau ngomong harus ndoak-ndoak, jadi ya gitu."


^^^"Hahaha."^^^


πŸ“ž "Taraa tolong ambilin hp gueee. Asya budek karena ngebucinn!"


πŸ“ž "Mengadi-ngadiiii!"


Terdengar suara ketawa Haikal.


^^^"Ada Tara?"^^^


πŸ“ž "Iyaa."


^^^"Fauzi?"^^^


πŸ“ž "Gak adaaa."


^^^"Baguslahh."^^^


πŸ“ž "Ehhh, ada paket." – Ara.


πŸ“ž "Dari siapaa?" – Azril.


πŸ“ž "Gue gak mesen apapun tauu." – Asya.


πŸ“ž "Unboxing sekarang, Sya." – Dino.


πŸ“ž "AAAAAA!"


^^^"Sya, Asyaa? Kenapaa?? Heyy??"^^^


"Om berhenti!" Supir Mikko berhenti.


"Om, ada yang gak beress. Pertemuan di tunda aja bisaa?"


"Gak beres maksud kamuu??"


"Asyaa, Asya dalam bahayaa."


"Pakk! Puter balik arah ke rumah tempat jemput Arsen, ngebut!!" Supirnya Mikko pun melajukan mobil sesuai perintah atasannya.


Arsen sendiri masih panik.


^^^"Halo?? Asyaaa?"^^^


πŸ“ž "Sen? Arsenn?"


^^^"Iyaa ni guee. Ada apa, Zrill?"^^^


πŸ“ž "Asya dapat paket barusann."


^^^"Terus isinyaa?"^^^


πŸ“ž "Isiinya... Kucing yang berdarah-darah dengan kepala terpisah."


^^^"HAHH?? Terus Asya gimanaaaa?"^^^


πŸ“ž "Asya cuma shock. Lu tenang ajaa, lanjut perjalanan."


^^^"Gak bisa la gilaa! Gue otw kesanaa."^^^


Arsen mematikan panggilan.


"Pak, tukeran sama saya dong nyetirnya." Supirnya berhenti, Arsen langsung maju kedepan dan mengemudi dengan kecepatan sangat tinggi.


"Astaghfirullah, Sen. Om belum nikah lagiii, jangan ngajak mati duluu." Arsen cengengesan mendengarnya.


"Om tenang aja. Arsen gak bakal ngajakin matii kok, Arsen belum dapat ponakan gemoyy."


"Hehh, astaghfirullah!!" Arsen cengengesan.


Mikko menghubungi kliennya untuk menunda pertemuan.


"Senn."


"Iya, Om?"


"Kliennya gak bisa bundaa, gimana dong?"


"Eemm.. kalau gitu Arsen berhenti disini aja, Om. Nanti cari taksi."


❀❀


Di Rumah abu-abu.


"Tenang, Sya. Tenangg."


"Udah tenang gue. Tadi cuma kaget doang kokk," jawab Asya. "Arsen tadi gimana, Zrill?"


"Balek lah apalagii? Udah otw kesini gue rasa."


"Anyayy, sayang banget ya dia sama lu." Ujar Dino.


"Bener-bener tobatt."


"Btw, siapa yang nganterin paket gak jelas itu tadii?!" Tanya Haikal.


"Bodyguard depan yang ngasihh. Katanya dari kang pakeett dan emang buat Asyaa."


"Gilaa sii, selera makan gue ilang liat itu!" Ara kesal.


"Cabut yok? Kee kedai jus depan aja, nongkrong bentar." Ajak Haikal.


"Yoklah. Sekalian ngesejukin Asya jugakaann," sahut Dino.


"Nanti Arsen gimana??"


"Suruh kesana jugaa."


Mereka pun bersiap untuk pergi. Tak perlu pakai kendaraan karena jaraknya dekat. Mereka memesan jus lalu meminumnya sembari bersantai.


"Siapa ya yang ngirimm?? Gue penasaran banget!" Ujar Asya.


"Kalau daddy tau hal inii, bakal gimana coba?" Asya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Takut gue tu orang kepalanya dipenggal sama daddy."


"Apa Laila, ya?" Tanya Racksa.


"Laila udah lama gak muncul. Dan terakhir kali dia juga bilang gak mau berurusan lagi sama Asya. Gue rasa bukan diaa, apa jangan-jangan Meli??"


"Segede itu apa nyalinya Meli??" Tanya Dino heran.


"Jun! Jun gakk?!"


"Gue rasa juga bukann, Jun pasti mikir lah. Kalau dia ngerecokin Asya dia bakal berurusan sama Arsen. Dia juga males berurusan sama Arsen." Jawab Racksa.


"Siapa lagi yang benci Asyaa?" Tanya Ara.


"Biasanya yang gak gutluking apa gak anak alay yang nulis gak k nya diganti pake x." Mereka tertawa.


"Gue juga bingung disini. Kenapaaa, kenapaa dia motong kepala kucing? Kenapa kucing? Gue yakin pelakunya orang dalem kitaa karena kemaren Asya bilang pengen melihara kucing." Kata Haikal yakin.


"Berhubung gue yang baru, mungkin lu pada curiga sama gue. Tapi ini bukan guee. Gue gak mau ngekhianati orang yang mau berteman baik sama guee, karena gue tau rasa sakitnya dikhianati."


"Juga bukan Yuna. Yakalii gue buat gituann, auto di drop out dari kk!" Sahut Yuna.


"Atau lu pada? Cowok-cowok?!" Tanya Ara.


"Kami temenan sama Asya dari dalam perutt. Kalau pun kami gak suka sama Asya, kami gak bakal mau bertemannn lagi. Jelas bukan kamii." Dino mewakili.


"Racksa?"


"Gila? Yang harus gue hadapi kalau nyakitin Asya adalah Uncle Aska, Aunty Zia, Jl Squad, para saudara Aunty Zia, sepupunya Asya Azril dan banyakk lagi. Gue nyakitin Asya? Ya sama aja nyari matii."


"Jadi siapaaaa?!"


Mereka menghela nafas sambil meminum jusnya.


"Ehh, Tara mana yaa?"


"Lah iyaaa!"


"Tara yang tadi, kan??" Tanya Ara. Mereka mengangguk.


"Gue liat dia bincang sama satu bodyguard terus pergi gitu aja."


"Wait, jangan jangan yang bocorin bodyguard."


"Dan bodyguard yang ngasih ituβ€”"


Mereka langsung berlari menuju rumahh abu-abu. Para bodyguard tidak di tempatnya saat ini.


Mereka masuk satu persatu dan mengecheck sekeliling. Asya yang terlambat baru hendak masuk merasa ada yang aneh di belakangnya.


Asya berbalik. Betapa terkejutnya ia melihat salah seorang pria sedang berancang-ancang menusuk tubuhnya.


Bruk!!


"Arseeenn."


"Mundur!!"


"Tapiβ€”"


"Syaa, mundurrr~!" Bernada tapi penuh penekanan.


Asya pun mundur dan bersandar di depan pagar, yang lain mulai bermunculan.


"Gimana di dalamm?"


"Bodyguard daddy pada pingsan, gak tau kenapaa."


Asya menghela nafas.


"Arsen??"


"Dia yang nyelamatin gue. Gue hampir ditusuk," Azril mendekat.


"Lu gapapakan, seriuss?!"


"Gue gapapa." Asya menoleh kearah Arsen. Mereka berkelahi di tengah jalan.


"Darah?"


"Arsen berdarahhh?!"


Tin! Tin!!


"Asyaaaa!"


Asya memeluk Arsen dan mengajaknya berguling keseberang. Asya menyelamatkan Arsen yang hampir tertabrak.


Untungnya Arsen menahan kepala belakang Asya, jika tidak mungkin kepalanya akan terbentur batu barusan.


"Gue suruh mundur, kenapa malahh..?!"


"Gak usah ngomel, lu berdarah kann!" Arsen tidak menjawab, ia berusaha berdiri.


Arsen melihat sekeliling, mencari orang tadi.


"Wtf, ilangg!"


"Arsennn!"


Arsen menoleh. Tiba-tiba ia melemas, sebelumnya kaki Arsen di tendang dan pahanya tergores pisau.


Melihat Arsen seperti itu, Asya maju menghampirinya. Arsen langsung bersandar di bahu Asya.


"AJIIIILL, AMBIL MOBIL!"


❀❀❀


Beberapa jam setelahnya, Arsen baru saja membuka mata. Pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah ruangan serba putih dan disampingnya ada seorang wanita.


"Asyaa?"


Asya terbangun, "akhirnyaaa lu bangunnn!" Arsen membalas dengan senyuman.


Asya menatap mata Arsen, Arsen juga menatap mata Asya. "Eh ehh, kenapa jadi berkaca-kaca gituu??"


"Lu luka lagi gara-gara nolongin gueee." Ekspresi Asya sekarang sangat menggemaskan di mata Arsen.


"Udah kewajibann gue buat lindungi lu."


"Kewajiban?"


"Iyaa, kewajiban sebagai calon suami lu."


"Haishhh! Gue seriussslahhh!"


Arsen tertawa, ia berusaha duduk di bantu Asya.


"Gue gapapa yang penting lu baik-baik ajaa. Jangan merasa bersalah gitu ihh," omel Arsen.


"Ya tapikan–"


"Tapi apa?? Dahh, jangan merasa bersalaah."


Ceklek..


"Ehh? Lu udah sadar, Senn??" Arsen mengangguk. Haikal dan yang lain masuk.


"Assalamu'alaikum," Aska dan Zia datang.


"Wa'alaikumsalam."


"Arsenn, ada yang sakitt??"


Arsen menggeleng. "Arsen gapapa kok, tante."


Aska hanya menatap Arsen. Arsen hanya luka di bagian pahanya yang terkena gores pisau tadi, tapi itu cukup dalam.


Ntah pisau apa yang digunakan si penjahat, mereka tidak tau.


"Anak-anak, kalian bisa keluar sebentar? Om mau bicara empat mata sama Arsen."


Mereka menoleh kearah Aska, "bicara apa, Daddy?"


Aska tidak menjawab.


"Sepertinya hubungan menantu dan mertua ini semakin eratt." Zia mengajak mereka keluar bersamaan.


"Ada yang sakit?"


"Nggak, Om. Sans ajaa."


"Kamu nampak orangnya?"


Arsen menggeleng. "Gak jelas, Om."


"Bodyguard pada gak becus. Mereka gak ngeh kalau ada bodyguard yang nyamarr."


"Bodyguard nyamarrr?"


"Iyaa, dia nyamar dan ngasih kucing itu ke Asya."


"Pelakunya Dadar Kim?"


"Bisa jadi," jawab Aska.


"Berarti, Darren udah sadar kalau Asya anaknya omm." Aska mengangguk, "mungkin."


"Oiyaa.. tadi bodyguard bilangg, ada temen Asya yang datang. Tapi tiba-tiba dia ilang gitu aja pas kejadian."


"Siapa, Om? Tara?"


"Namanya Tara?"


Arsen mengangguk, "mungkin Tara, Om. Soalnya tadi pas Arsen telepon Asya ada Tara."


"Tapi.. masa iya Tara, Om?"


"Tara yang manaa?"

__ADS_1


"Yang pernah Asya tolongin dua tahun yang lalu. Arsen rasa bukan Tara. Om tau sendiri penampilannya kan? Culunn."


"Bisa aja fake nerd, Sen. Anak itu perlu untuk di curigai."


__ADS_2