Barbar Generation

Barbar Generation
Besok ijab kabul!!


__ADS_3

"Yang nyuruh gak ngehubungin siapaa?" Tanya Asya sok cuek.


Arsen mendekat, mencubit pelan pipinya.


"PAK RW!"


Mereka terkekeh.


"Jadi, kamu dikerjain sama mereka?" Tanya Febby. Arsen melepas cubitan lalu mundur beberapa langkah dari Asya.


"Iya, Tantee. Parah sihh, Arsen kira benerrann."


"Emang digimanainn?" Tanya Zai gantian, ia menahan tawanya.


"Kemaren kan Asya nemenin Arsen beli baju koko, terus ketemu Upi sama Kejaa. Abistuu, Upi bilangg kalau om Aska jodohin Asyaa sama diaaa."


"Kamu percayaa?" Tanya Hans sedikit terkekeh.


"Yyaa, gimana gak percayaa? Upi ngajakin beli cincinnn benerann."


"Kita semua pakeee." Zafran dan yang lain menunjukkannya sambil tertawa kecil.


"Itu cincin persepupuan HitSum."


"Ooouu, heheee." Arsen cengengesan.


"Teruss, kenapa lu gak mau chat atau telepon Asya lagi?" Tanya Racksa.


"Login game juga ngga diaa. Kek bener-bener depresott." Ledek Azril.


"Overthinking laaa. Udah mikir guee, ya jelas lah dijodohin gitu kan. Secaraa, Asya cantik pake bangett, yakaliii punya pasangann kea guee ginii." Jawab Arsen.


Jujur sejujur-jujurnya, ia merasa sangat insecure berada di tengah Hitler Kusuma Family.


"Insecure ceritanyaa?" Tanya Zia, Arsen cengengesan.


Zia berdiri menghampiri Arsen, "Arsen, kamu gak boleh insecure. Kamu tu punya segalanya, kamu ganteng, kamu good attitude, kamu bertanggungjawab."


"Om sama tante gak cari yang sempurna, tapi cari yang bisa bahagiain Asya dan bisa bertanggungjawab atas kelakuannya. Dan itu ada di kamuu," Kata Zia sambil tersenyum.


"ASYA CABOTT, BYE!"


"Hehh, sinii kamuuu! Gak abang beliin es krim mampusss." Asya pun balik mendengar kata ice cream dari bibir Zafran.


Mudahnya penyogokan...


"Bener kata tantemu, gak perlu yang wah bangett. Terpenting bisa bahagiain Asya dan bertanggungjawab. Jangan kea mantannya tante kamu itu, nabrak malah lari. Tololl!"


"Njirrrr! Masih inget lu, Bang?" Tanya Zai meledek.


"Dendam dia." Sahut Luis.


"Yaiyalahhh coyy, Zia tidur dua tahun gara-gara diaaa. Udah gitu gak di penjara pulaaa."


"Ehh iyaaa, gak di penjaraa! Kokkk baru ingatt?!" Tanya Zean kesal.


"Ayok masukin penjara!!" Ajak Zai.


"Percuma, ntar bisa keluar pake duit. Nanti gue masukkan ke penjara pribadii," ujar Aska.


"Kaa.. ga boleh gitu tau. Udah lama jugaa, masih ajaaa dendamm." Omel Alice.


"Auuu, padahal kan waktu itu udah damaiii." Sahut Hans.


"Ya kan teringat lagi jadi dendam lagi, maa, paa. Baru nyadar jugaa kalau dia gak di penjaraaa."


"Skip lah. Malah ngomongin masa laluu!" Protes Zia kesal.


"Memangnya, mas eks mommy siapa?"


"Syaaa."


"Mommy mu larang karena takut gak move on tu," ledek Aska. Zia menatap sinis Aska.


"Syaa, ayok temenin daddy kabur."


"Kem– eii daddyyy." Asya ditarik daddynya.


"Tolonggg, Asya diculikkk." Teriak Asya dari dapur.


Mereka tertawa mendengarnya.


Beberapa menit di dapur, Aska kembali sambil membawa lontong sayur.


"Bukannya tadi Bang Aska baru makan?" Tanya Zai heran.


"Biarin aja makan teruss, kan bisa babiii buntingg."


"Bini siapaaaa inii?!" Mereka terkekeh.


"Jadi, Sen, kamu jauhin Asya?" Tanya Aska lagi.


"Iy--yaa gitu, Om." Arsen cengengesan.


"Kenapa ngejauhin?" Tanya Frizy.


"Sadar diri, Bangg."


"Mundurr gitu ceritanya?" Tanya Zafran sedikit meledek.


"Nggakk, bukannn mundur. Tapi cari strategi lain biar bisa masuk tengah."


"Mantap!" Arsen tertawa kecil.


"Asya uring-uringannn di tinggal Arsen."


"Iyakahh?" Upi meledek Asya.


"No no. Hoax ituu!"


"Ceilahh. Semalem aja kea kehilangan gituu kokkk." Sahut Racksa.


"Hshshss, gabisa diam!" Mereka tertawa lagi, pipi Asya memerah karena digodain.


"Cieeee.."


"Diem, Jaa! Gue tendang mauu lu?!" Keja nyengir kuda.


"Punya cucu perempuan cuma satuuu, tapi gak kek perempuan." Keluh Zeco.


"Benerr!! Lihatlahh, eraya tu pake gamis kek atau rok rok gitu. Dia nggak, malah pake jeanss sama hoodie warna favoritnya ituu."


Asya nyengir, "hoodie is mai laiipp."


"Om Aska, Azril sama tante Zia bajunya couple-an. Kok dia sendiri yang beda?" Tanya Arsen.


"Udah ganti duluan, panas katanyaa." Jawab Zia.


"Panasss is, benerrann. Gerah pake gamisnya mommy ituuu, ribet lagii."


"Keknya salah gender ni anak!"


"Ahahaha."


"Kelinci Asya belum mati kannn?"


"Hehh, jangan mengadi-ngadii! Kelinci gue kok lu ngaku ngakuu!" Omel Keja.


"Dih dihhh, kelinci gue ituu! Namanya loh Asya dua!"


"Diam lah kalian berdua. Gue yang punya aja santaii," kata Frizy sambil memakan kue kacang.


"Mengadi-ngadii juga anda!" Keja dan Asya kompak.


"Aihh, udahlah. Udah beranak pinak itu kelincinya, ambil satu satu gak usah ribut lagii!"


"Anaknya berapa, Halmonn??"


"Gak tauu, lupaa. Liat aja, ada yang warna abu-abu gitu."


"Abu-abu punya Asya!"


"No, siapa cepat dia dapatt!" Upi dan Keja lari duluan ke belakang.


"HEHHHH!" Asya menyusulnya, terjadilah kejar-kejaran. Yang lain menyusul mereka bertiga ke halaman belakang.


Apa yang terjadi?


Upi dan Keja malah tergeletak di rerumputan. Tenang, rerumputan disana bersih, tidak ada taii kucing atau taii ayam yang bertebaran.


"Upi, Keja, kalian kenapaaa?" Tanya Hans curiga.


Mereka berdua menunjuk Asya yang sedang memberikan wortel pada kelincinya.


"Asyaa ngehajar kamiii."


"HEHH, SU'UDZON BANGETT. Mana ada Asya hajarr, mereka aja yang jalan gak pake mataa."


"Jalan kan pake kakii," ujar Racksa.


"Ishh! Maksudnya tu.. dahlahh, susah jelasin sama anak agak agak!"


"Hya!!" Asya cengengesan.

__ADS_1


"Haii, Asya tiga. Kalem yaa, jangan kea mereka. Recok!"


"Astaghfirullahalazim!!" Asya nyengir.


"Dahh makann mereka, dah dapat thr. Bang Zap, ayo beli es krim!!"


"Masih pagi, jangan yang nggak-nggak, Asyaa!" Omel Zia.


"Bukan yang nggak nggak ini, Mommyyy. Yang iya iyaaa," Jawab Asya yakin.


"Yaudah, yok. Tapi dengan satu syarat!" Asya menatap serius Zafran.


"Ganti baju mu sama yang tadi, gamis tadi."


"Bang Zaaaapp!"


"Buruan, mau es krim nggakk?" Tanya Zafran menggoda.


"Bangg, ni Asya kasih tau. Asya kan cewek sendiri ntarrr, jadii biar gak di cibirin orang bagus Asya kea gini ajaaa biar di kira cowokk. Kan jadinya sama rata cowok semuaaa." Jelas Asya.


"Kalau jelasin mah jelasin ajaa tapi matanya gak usah mau keluar gituu." Ledek Keja.


"Bismillah, headshot!!"


Keja menghindar dari tendangan Asya.


"Nggak kenaaa, wlee!"


"Sabar, Asyaaa. Sabarr!" Keja tertawa melihatnya.


"Jadi beli apa nggak sih?" Tanya Azril sinis.


"Berisik lu anak kuda! Mending main game aja sanaa!"


"Kamu ngejek daddy kuda?"


"Hah?"


"Tadi kamu bilang Azril anak kuda, berarti daddy kuda?"


"Ahuahh!" Asya merebahkan tubuhnya di rerumputan.


"Dahlahh.. Asya nceng jadi manusia!"


◕◕◕


"Pelan-pelann." Ujar Arsen sambil menunggu Asya turun dari motornya.


Setelah banyak drama yang dimainkan, mereka pun ke supermarket untuk membeli ice cream yang Asya mau. Asya tetap memakai pakaiannya yang tadi tanpa mengganti.


Arsen ikut turun setelah melihat Asya turun, ia juga membantu melepaskan helm yang dipakai Asya.


Mereka berdua mengendarai motor, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil.


"Thank uuu." Arsen tersenyum, ia membantu Asya merapikan rambutnya.


"Selama ngilang, lu kemana aja?" Tanya Asya malu-malu.


"Nggak kemana-mana. Sebisa mungkin gue sibukin diri biar lupa sama lu, tapi nyatanya gak bisaa. Lu terus ada di otak dan hati gue."


Asya tertawa meledek, "teruss, kan lu tau tuhh kalau gue dijodohin. Kenapa mau terima undangannya daddy?"


"Eeeemm, because, gue pengen mastiin bener apa nggaknya. Gue jugaa pengen liat luu, gue rinduuuuu bangettt sama lu!"


Asya blushing!


"Ehm. Mereka manaa? Lama banget sampenyaa." Keluh Asya mengalihkan topik.


"Syaa," Asya berdehem.


"Mo peluk... boleh?" Asya mengangguk pelan, sangat sangat pelan.


Meskipun begitu, Arsen bisa melihatnya. Arsen pun memeluk erat Asya. Asya membalas pelukan Arsen.


"Kenapa lu mau sama guee sih, Senn? Kenapaa?"


"Ntah keberapa kali pertanyaan ini lu tanyain ke gue. Jawaban gue bakal tetap samaa.."


"Cinta gak butuh alasan. Tapi kalau lu mau alasan, gue cuma bisa jawab karena lu Asya, bukan yang lain."


Arsen melepas pelukannya, ia tersenyum sambil mengelus pipi Asya.


"Tau tempat lah begoooo! Bucinnya naudzubillah!" Omel Racksa.


"Eh? Kapan kalian disinii?" Tanya Arsen sedikit malu.


"Dua jam yang laluu," jawab Upi.


"Hah?" Mereka terkekeh melihat keduanya malu malu.


"Cuma mau beli es krimmm?" Tanya Zafran.


"Nggak lahhh, masa cuma es krimm." Jawab Azril.


"Yaudah terserah. Ambil es krim nya belakangan aja ntarr."


"Okeeee!"


"Bang Zap yang bayar??" Tanya Arsen, Zafran mengangguk.


"Bang Zap banyak moneyy, jadi selo aja. Mari kita kosongkan isi kartu kreditnya harini!" Asya mengambil troli dan mendorongnya dengan santai.


Yang lain mengikuti Asya di belakang sambil ikut memilih jajanan.


"Syaa, lu naik coba. Ntar gue dorong," suruh Azril.


"Ogahh. Kalau gue jatuh gimanaa?"


"Gak bakal jatuh lahh! Bisa di geprek sama Bang Zap guee kalau sampe lu nya jatohh." Zafran tertawa kecil mendengarnya.


"Bener ya?!"


"Iyaaa." Asya pun mencoba naik ke atas troli.


Azril mendorongnya pelan namun lama kelamaan sedikit melaju. Tiba-tiba Azril melepaskannya.


"Yayayayayayaaaaa! Azrilll!! Ishh, kampretttttt. Aaaaaaa," mereka tertawa melihat Asya menjauh.


Frizy mengejar Asya lalu mendorongnya lebih jauh lagi.


"Aaaaihshhh! Jahat betul bahh. Woiilaaahh!" Mereka makin terkekeh karena ekspresi Asya.


"Bye bye!"


"Tandai satu persatu kalyann!" Mereka menghilang dari pandangan Asya. Asya menunggu trolinya nabrak kemudian turun perlahan.


Untungnya bisa turun.


Asya menarik troli lalu mencari para sepupu laknatnya. Mereka perlu di headshot biar bahagia.


Bruk..


Asya di tabrak anak kecil.


"M-maaf, Tantee."


"Tante?" Beo Asya sedikit kesal.


Apakah wajah Asya terlihat tua? Oh tidak, anak kecil itu asal bicara karena ia sedang menunduk.


Asya mensejajarkan diri dengan anak laki-laki itu, "iya gapapa. Panggil kakak ya, jangan tantee."


Anak itu mendongak perlahan, "m-maaf ya, Kak." Asya tersenyum sambil mengelus pelan rambutnya.


"Nama kamu siapa?"


"Daveen, Kak. Biasa dipanggil Dave, kakak cantik namanya siapaa?" Anak laki-laki itu tampak lebih ramah dari sebelumnya.


"Nama kakak Asya. Dave kenapa lari sendirian??"


"Hehe, itu tadi kejar-kejaran sama papa. Tadi papa mau beliin hot wheels tapi kalau Dave berhasil sembunyi dari papa."


"Teruss, kalau Dave ketahuan gimanaa?"


"Dave traktir papa es krimm. Kakak cantik diem aja ya kalau ketemu papaa."


Asya tersenyum mendengarnya, Dave sangat sangat menggemaskan. Asya sampai lupa kekesalannya pada para sepupu.


"Daveen. Davee!"


"Hah? Papa??" Dave berlari ke belakang tubuh Asya.


"Derrr! Ketemu kamuuu." Papa Dave muncul dari belakang tubuh Asya, Dave langsung ketahuan.


"Yaahhh, papa licikk!"


"Licik darimana? Kamu ketahuan lohh, beliin papa es krimm."


"Iyaa iyaa, nanti Dave beli pake uang papa." Papa nya Dave tertawa.


"Di belakang kamu siapa?"


"Eh? Ini kakak cantik, Pa. Dia baikk, tadi Dave tabrak kakaknya gak marah."

__ADS_1


"Iyakah?" Dave mengangguk.


"Kakak cantikk, ini papa nya Dave."


Asya berdiri dan berbalik perlahan.


"Om Darren Kim?" "Asya?"


"Eii? Papa kenal?"


Darren mendekati Dave juga Asya. Melihat Darren maju, Asya pun mundur.


"Papa kenall, em.. ini calon bunda kamu."


"WHATT?!" Asya menutup mulutnya, suara yang ia keluarkan terlalu besar.


"Anda jangan asal bicaraa. Nanti Dave salah tangkap!"


"Nyatanya emang begituu, kamu ditakdirkan bersama saya."


"Mimpi aja sanaa!" Asya menarik trolinya kemudian pergi menjauh dari Dave.


Dua lorong sebelahnya, Asya bertemu para sepupu.


"Asyaaaa!" Asya menoleh ke belakang, ternyata Darren mengejarnya.


Arsen yang tau itu Darren langsung menarik Asya ke belakang tubuhnya.


"Anda kenapa bisa disini?" Tanya Arsen sinis.


"Ini tempat umum, siapapun bisa kesini." Jawab Darren santai.


"Siapa, Sen?" Tanya Frizy curiga.


"Pengganggu. Bisa dikatakan, sasaeng fans."


"Buk–"


"Pergilahh, jangan ganggu tunangan saya!" Titah Zafran ganas.


"Tunangan?" Tanya Darren terheran-heran.


"Iya! Dia tunangan saya." Darren melirik jari Asya lalu menghela nafas.


"Fine. See you next time, Asya." Darren langsung pergi.


"Crazy people!"


"Lu gapapa?" Tanya Azril khawatir.


"Gapapaa, sansss. Lu pada kenapaaa tega banget ninggalin gue?! Kagak nyariin pula!" Omel Asya.


"Ya kami kira lu bisa cari kami sendiriii." Jawab Racksa.


"Kamu beneran gapapa kan, Dek?" Tanya Zafran.


"Gapapa kokk, Bang." Asya tersenyum.


"Yodah yok, lanjut cari jajann. Abistu pulang," ajak Arsen. Mereka pun kembali berkeliling.


Di sepanjang jalan, Asya memikirkan Darren dan Dave. Tadi Dave bilang, Darren papanya. Berartii, Darren punya istrii?


"Sya, lu mikirin apaan? Darren tadi?"


"Hah? Oh, nggakk."


"Bagus lu happy happy kea gue. Mari kita habiskan uangnya Bang Zapp!!" Azril berjalan mundur sambil memasukkan beberapa jajanan ke troli.


Tiba tiba...


Bugh!


"Eehh... Eehh!!"


Bruk!


Azril menabrak dan kehilangan keseimbangan, yang di tabraknya pun juga sama. Mereka sama sama kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dengan posisi Azril berada diatasnya.


"Naina..?"


"A-Azril."


Dug dug!!


Dug dug!!


Detak jantung siapaa yang maraton tuuu?!


"Uhuk uhukk!" Azril tersadar dan langsung berdiri, ia juga membantu Naina berdiri.


"Ehm.. so-sorry, Nai."


"Hah? Eh, gapapa kok. Ak– gue juga salah tadi." Keduanya sama sama canggung sekarang.


Muka muka jahil pun muncul, Asya menatap Keja dan Upi. Dengan sengaja mereka mendorong Azril untuk mendekat ke Naina.


Yeahhh, berhasil! Hanya tersisa beberapa sentimeter menghalangi bibir mereka bersatu.


"Hoii!" Zafran mengamok.


Azril auto mundur.


"S-sorry lagi, Nai."


"I-iya gapapa kokk."


Asya, Upi dan Keja tertawa melihat muka Azril. Wahhh, Asya tidak menyangka kembarannya punya malu. Asya mengode Zafran untuk meninggalkan mereka berdua.


"Bang Zapp ambilin jajan itu yaa, nanti susul Asya di lorong sebelah!" Asya, Upi dan Keja pergi duluan.


Racksa, Arsen, Frizy dan Zafran pergi dari sisi lain.


"Lah.. pada pergii?"


"Merekaa.. siapa lu? Temen lu?" Tanya Naina.


"Bukan. Mereka sepupu gue," Naina berohria.


"Lu beli apa? Mau gue bantu?"


"Aahh, iya thank you." Azril mendorong troli Naina.


"Keknya kita jodoh deh."


"Eum? Kenapa gitu?" Tanya Naina menatap Azril.


"Udah berapa kali ketemu tanpa sengaja? Empat kan, ya? Wahhh, lebih dari tiga."


"Hahaha, iyaa juga yaa. Bisa jadii sihh," jawab Naina malu-malu.


"Eh, btw gue minta nomor lu boleh?" Naina mengangguk kaku, Azril memberikan ponselnya. Naina pun mengetikkan nomor kemudian memberikan kembali ponsel Azril.


"Thank you."


"Iyaa, sama samaa."


"Lu disini sama siapa?"


"Sama–"


"Hira, udah belum belanjanyaa??" Mereka mendongak.


"O-ohhh, lu sama pacar lu? Y-yaudah, gue tinggal." Azril langsung berlari menghampiri saudaranya tadi.


"Aihhh, lupaa gue kalau Naina punya pacarrr!" Keluh Azril sambil menggaruk kepalanya.


"Kenapa, Pak? Banyak kutunya, yaa?" Tanya Upi meledek.


"Gue tampol auto peang pala lu!" Upi tertawa.


"Ehh, itu yang tadi malem gak sih?" Tanya Frizy gantian.


"Iya, Bang Prij. Itu yang tadi malem di kafeee."


"Nah kan, benerr."


"Kenapa lu balik lagii?" Tanya Keja curiga.


"Ketemu cowoknyaaa bege!"


Mereka terkekeh.


"Lupaaa gue lupaa!" Azril malu mengingatnya.


"But, belum tentu itu pacarnya." Ujar Zafran.


"Bukan pacarnya? Yakali tiap hari dekettt."


"Iq jongkokk, yaa? Gue tiap hari deket sama Racksa, kan gak pacarannn!" Sahut Asya.


"Iya sihh."


"Asya deket mulu sama Arsen juga gak ada kepastian." Ledek Racksa.

__ADS_1


"Oasuuu. Besok ijab kabul!!"


Asya menatap sinis Arsen, "mengadi-ngadi manusia satu nii!"


__ADS_2