Barbar Generation

Barbar Generation
Mansionn


__ADS_3

Author POV.


"Tumben rame rame datang. Ada apa ini? Kenapa rame rame??" Tanya Aska sambil menuruni tangga.


"Eh, Asya mana?" Tanya Zia gantian.


"Om, tantee, maaffin Arsen... Arsen yang salah."


"Senn, ini bukan salah lu doang! Kita juga salah disiniii. Jadi, berhenti merasa bersalahh!"


"Maksud kalian ini apaa??" Tanya Zia kebingungan.


"Maaf? Maaf untuk apaa?"


"Merasa bersalah kenapaa?"


"Asya..."


"Asya... hilang, om, tante."


"APAA?" Mereka semua langsung menunduk.


"M-maaf, om." Shaka perwakilan dari mereka.


"Kami udah cari keliling juga gak ketemu sama Asya, om. Kami minta maaf, kami tau, kami salah." Alvin melanjutkannya.


Aska menghela nafas panjang.


"Bodyguard Asz mana? Didepan?" Mereka mengangguk.


"Zia, tunggu disini sama anak-anak."


Zia tidak bisa membantah ketika Aska sudah memanggil namanya, Aska sedang menahan emosi sekarang.


"KETUA TIM!"


"S-saya, boss."


Plak!


Plak!


Beberapa bodyguard yang berjaga tidak ada yang berani melawan, bahkan semuanya menunduk sama seperti The Bacot Squad.


Oh ayolahh, jika sesuatu terjadi menyangkut anak istrinya, Aska tidak akan pernah tenang dan emosinya jadi tidak stabil.


Maafkan Aska yang kasar.


"Saya gaji kalian buat kerja. Kalian ngapain ajaaa?! KENAPA ANAK SAYA BISA HILANGG?!!"


"M-maaf, boss. Kami tau ini kesalahan kami...."


Aska tidak bisa berkata-kata lagi. Disatu sisi, Aska tau bodyguardnya bukan orang yang leha-leha di jam kerja.


Disisi lainnya, Aska super emosi karena bisa kecolongan seperti sekarang. Ia merasa bersalah pada dirinya dan pada orang yang ia lampiaskan.


"Huhh."


"Cari Asya sekarang. Lacak keberadaan Asya, check semua cctv yang adaa dijalanan. Sebelum dua puluh empat jam, Asya harus ketemu. Jika tidak? Siap siap masuk ke dalam ruang bawah tanah."


Mereka menelan ludah.


Ruang bawah tanah, bukan tempat yang bagus untuk cuci mata. Melainkan tempat yang bagus untuk penyiksaan.


"Tunggu apalagi? Mau masuk sekarang?"


"Ng-nggak, boss. Kami pamit, assalamu'alaikum." Secara bersamaan mereka pergi dari sana.


Aska menuju garasi, ia masuk ke dalam mobil. Aska pun pergi tanpa izin dari Zia.


Diwaktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Seorang wanita menunggu seorang pria yang paling bisa ia andalkan sekarang.


"... ngapain ngajak ketemu kalau cuma main hp?"


Ternyata pria itu sudah datang.


"Om kemana ajaaa?! Lama bangett!"


"Saya ada urusan. Kamu mau apa? Cepat, saya gak bisa lama-lama."


"Kenapa emangg? Om mau ngapain?"


"Urusan pribadi. Ingat perjanjian." Wanita itu terdiam.


"Om gak mau minum?"


"Langsung ke inti, Gebby. Saya udah bilang, waktu saya cuma dikit."


"Iya iyaaa! Gebby pengen om balas dendam ke Asyaa!"


"Kenapa? Ada masalah apa?"


"Om gak liat video yang viral itu?"


"Apa? Video kita berdua main kuda?"


"Om Darren ngomong apa sih, astagaaa!"


Darren buang muka, tidak ingin tertawa ataupun sejenisnya. "Video apa?"


"Video yang dimana Asya mempermalukan Gebbyy sampe Gebbyy jual jam mahal!!"


"Ooo, ituu."


"Om tau?"


"Iyaa, saya tau. But, apa urusannya sama saya?"


"Omm, balasin dendam Gebbyy. Kali ini aja, plisss."


Darren menatap Gebby sinis. "Nggak."


"Yahhh, ommm. Masa gak mauuu? Kan om juga ada dendam sama papanya Asyaaa. Gara-gara dia kan, saham om anjlok?"


"Saya gak suka kamu tau tentang dunia pekerjaan saya, jadi gak usah ikut campur untuk itu!"


"Bukann maksud ikut campur. Tapi kan betul, ommm. Emang om mau diem aja? Kalau sampe om bangkrut gimana?"


Darren terdiam.


Dirinya mencoba untuk berfikir dewasa. Masalah saham bukan hanya salah Aska, bisa dikatakan dia sendiri juga salah disini.


"Kamu mau om ngapain Asya? Balas dendam yang gimana?"


"Om culik aja Asyaa, terus siksa diaa. Buat dia sekarat dirumah sakitt!"


Darren mengangguk paham.


"Terus?"


"Terus apaa? Ya pokoknya om siksa diaaa sampee sekarattt! Haruss!"


Darren hanya berdehem.


"Om, om berubah bangett! Om bukan kea yang Gebby kenal!"


"Emang saya gimana? Saya gini gini aja."


"Tapi om keliatan cuek sama Gebby! Bilang dong om, om kenapa?"


"Saya bosan sama kamu! Percuma saya punya baby sugar tapi gak bisa diapa-apain."


"Makβ€”"


Drrtt.. Drtt..


Darren meraih ponselnya, ia menjauh dari Gabby. Beberapa menit kemudian, Darren kembali.


"Saya pergi dulu!"


Tidak menunggu jawaban dari Gebby, Darren langsung pergi.


"Pak, jembatan yang menuju mansion roboh." Ujar supir Darren.


"Iya, saya tau. Makanya buru-buru pulang. Saya takut Asya kenapa-kenapa."


"Lalu, bagaimana dengan suby anda, pak?"


"Saya gak perduli. Kamu yang nyetir atau saya yang nyetir?" Supir Darren menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana.


"Ke toko baju dulu setelahnya ke supermarket, Daveen pengen susu."


"Baik, pak."


Darren pun tidak merespon lagi.


Tangannya sibuk dengan ponsel.


πŸ“ž "Ne, hyungnim?"


^^^"Udah sampe mansion?"^^^


πŸ“ž "Udah, hyungnim. Udah daritadi."


^^^"Baguslah kalau gitu."^^^


πŸ“ž "Hyungnim dimana? Nanti pulang gimana? Saya dengar jembatannya runtuhh."


^^^"Nanti gampang, lewat jalan potong di hutan."^^^


πŸ“ž "Tapi, hyungnim... itukan jauh nantinya."


^^^"Yang penting saya bisa balik. Udah. Jaga-jaga disana, jangan kekang Asya. Biarin apa yang mau dia lakuin."^^^


πŸ“ž "Ne, hyungnim."


Tanpa sepatah kata lagi, Darren mematikan panggilan.


"Ada hubungan apa bapak dengan nona Asya? Kenapa bapak berminat menolongnya dari penculik tadi?"


Darren mengingatnya lagi...


β€” Flashback on


"Sstt, jangan berisik. Nanti ketauan."


"Om.. Darren?"


"Saya pikir kamu lupa." Darren tersenyum tipis melihat Asya yang linglung.


"CARII CEPAT CARII!"


"CARI DIBALIK GEDUNG!"


Darren terkesiap mendengarnya. Ia langsung memeluk Asya untuk membohongi pria yang datang.


"Maaf mas, saya mau nanya, ada nampak wanita cantik lewat sini nggak?" Darren berbalik, ia masih memeluk Asya dan menyembunyikan Asya dibalik dada bidangnya.


"Nggak nampak, mass."


"Tapi tadi lewat sini, mass. Beneran nggak nampak?" Pria itu menatap curiga wanita yang di peluk Darren.


"Tidak, tidak ada."


"Wanita yang Anda peluk..."


Tanpa aba-aba Darren menendang pria itu, ia membogemnya sekali, menginjak perutnya lalu berlari sambil menggenggam tangan Asya.


Asya diam, ia tidak melawan sama sekali.


Darren membawa Asya menuju mobilnya.


"Asya, masuk."


"Tapiβ€”"


"Jangan tapi-tapian. Gak ada pilihan lain selain ini. Saya juga gak mau kamu diculik." Asya tidak menjawab lagi, ia masuk ke mobil Darren.


"Anterin ke mansion!" Titah Darren pada sekretarisnya.


"Loh, om gak ikutt?" Tanya Asya.


"Nanti saya nyusul."


"Naik apa, hyungnim?"


"Bawa mobil cadangan yang diperusahaan. Supir juga masih disana. Udah. Jangan banyak bicara, cepat berangkat!"


Sekretaris Darren memakai seat beltnya.


"Hati-hati, jangan sampe kenapa-kenapa!"

__ADS_1


"Ne, hyungnim. Saya duluan, hyungnim."


Darren mengangguk, mobil itu pun pergi.


Bugh!


Darren dipukul dari belakang.


Darah keluar darisana karena tusukan pakunya.


"Ahh, I want to kill people right now."


Darren berbalik, ia menendang perut pria itu. Ketika pria itu terjatuh, Darren menginjak dadanya lalu menunduk untuk meninju mukanya.


Darah juga bercucuran dari wajah pria itu.


"Shit, I'm losing control again." Darren menjauhkan diri dari pria itu kemudian pergi menuju perusahaannya.


Dor!!


"Fuckk."


Tembakannya nyaris mengenai lengan Darren.


Darren terpaksa mengeluarkan pistolnya dan menembak balik pria lainnya.


Tepat sasaran, peluru itu mengenai paha yang sedikit lagi mengenai masa depan pria tadi.


Darren tersenyum smirk.


Ia malas membereskan semuanya nanti, Darren pun memilih lari dari sana.


Dua puluh lima menit berlari, Darren tiba di perusahaannya.


"Loh, pak, kenapa berlari? Mobil bapak mana??"


"Panjang ceritanya. Cepat ambil mobil yang lain!"


Mobil datang, Darren langsung masuk.


"Mau kemana, Pak?"


"Saya ada janji sama Gebby, dikafe biasa."


"Baik, Pak."


Flashback off β€”


"Gak ada hubungan apapun, apa salahnya balas budi." Jawab Darren sambil menyandarkan punggungnya.


"Balas budi? Oooo.. yang waktu dua tahun lalu di gang ituu ya, pak?" Darren mengangguk.


"Waktu itu kok bapak gak ngelawan?"


"Bukan gak ngelawan, cuma lagi nahan aja biar gak lost control. Gak taunya Asya datang bantu sayaa."


"Iyayaa, saya baru ingat. Setelah nona Asya pergi bapak cari lagi orangnya terus bapak hajar habis-habisan."


"Hmm. Gimana gak saya hajar balik, bibir Asya luka waktu itu karena nolong saya."


"Ehh, itu leher bapak berdarahh, pakk."


Darren merabanya, ternyata benar berdarah.


"Ini tissue, pak. Bapak mau ke rumah sakit dulu??"


"Nggak. Cuma luka kecil doang." Darren mengelap darahnya dengan tissue.


"Dari tadi berdarah, ya?? Kok suby bapak biasa ajaa?"


"Jangan bahas dia, saya udah eneg banget dengernya." Supir Darren terdiam.


Tak lama mereka tiba di toko baju.


Darren membeli beberapa hoodie dan celana cargo beserta keperluan lain yang pastinya untuk Asya.


Setelah selesai, Darren langsung menyebrang karena disana ada supermarket.


Darren membeli beberapa susu, coklat dan cemilan lainnya.


"Makasih, mass."


Tanpa menjawab, Darren kembali ke mobil.


"Kemana, Pak?"


"Pulang."


β—•β—•β—•


"PAPAAAA!!"


"Astaghfirullah, Daveen. Kenapa teriak-teriakk?" Tanya Darren sambil tertawa kecil.


"Gapapaaa. Makasiih ya, papaa!" Dave memeluk Darren.


"Makasih untuk apa?"


Darren kebingungan di pelukan Dave.


"Makasih udah bawa kakak cantik kesiniii. Dave suka ada kakakk cantikk."


"Oooo, jadi gara-gara itu?" Dave mengangguk sambil cengengesan.


"Terus, kakak cantiknya kemana?"


"Itu di dapurrr sama bibiii."


"Ayok, samperin kakak cantikk!" Darren menggendong Dave lalu mengajaknya ke dapur.


Barang yang dibawa Darren tadi sudah dibawakan sekretarisnya.


"Kakak cantikk, ada papaaa." Asya berbalik, ia tersenyum tipis melihat Darren.


"Ngapain disini?" Tanya Darren lembut.


"Bantuin bibi, om."


"Udah saya bilang, saya belum terlalu tua. Panggil mas atau apa gituu."


"Apa gitu."


"Maksud saya bukan gitu, Asyaa." Asya cengengesan mendengarnya, begitupun dengan bibi dan Dave.


"Om, Asya mau pulang."


"Ini udah mau malem. Jembatan rusak dan jalan alternatifnya dari hutan, bahaya Asyaa. Saya gak mau ambil resiko."


"Asya takut mereka kecariann, omm. Handphone Asya hilang, Asya juga gak inget nomor mereka. Gimana mau ngabarinnya?"


"Besok pagi aja pulangnya. Nanti saya yang jelaskan ke merekaa."


"Kakak cantikk pulang besok pagi aja, yaa? Dave masih mau main sama kakak cantiiikkk." Asya tersenyum mendengar Dave yang meminta.


"Yaudah, besok pagi dehh."


"Yeayyy! Nanti malam Dave mau main sama kakak cantikk."


"Gak main sama papa??"


"Nggakk. Papa licik!" Mereka tertawa mendengarnya.


"Asya, kamu mandi dulu sana. Saya udah beliin baju buat kamu."


"Nggak deh, om."


"Nggak apa? Saya gak beli gaun, saya beliin hoodie sama baju tidurr. Sana gantii, saya tau badan kamu lengket."


"Kakak cantik mandii atau nanti Dave yang mandiin?!" Asya tertawa.


"Emang Dave bisa mandiin kakak?"


"Nggakk sii, tapi nanti Dave suruh papa yang mandiin!"


Pipi Asya memerah mendengarnya, apa maksud anda Daveeeee?! Batin Asya.


"Anak siapa inii.. demen amat bikin salting." Gumam Darren, bibi dan Dave tertawa kecil.


"Cepetan mandii kakak cantikk, abistu kita mainn."


"Yaudah iyaa, kakak mandii nihh."


"Dibujuk Dave baru mau, yaa?" Asya cengengesan.


"Eiyaa, papa bawa apa tadii?"


"Susuu buat Dave."


"Dave minum susu sama bibi sini yok, biar papa anterin Kak Asya." Ajak bibi, Dave berpindah haluan dan langsung pergi mengambil susunya.


"Ayok saya antar ke kamar."


"Tunggu tunggu.. kamar siapaa?"


"Kamar sayaa. Kenapa emang?" Tanya Darren.


"Nooo! Asya gak mauuu. Nanti kalau ada cctv di sana gimanaa?"


"Astaghfirullah, Asyaaa. Saya gak semesum ituuu. Lagipula kamar mandinya saya sendiri yang pake, jadi ngapain taro cctv disituu?"


Asya mengangguk setuju, "iya juga si. Tapi saya tetep gak mauuu mandi di kamar om!"


"Jadi mau dimana? Kamar lainnya pake cctv, kecuali kamar saya." Asya menatap kesal Darren.


"Yoda anterinnn."


"Nah gitu dongg." Darren mengantarkan Asya ke kamarnya.


"Jangan ke walk in closet kalau belum pake bajuu, disitu ada cctv juga."


"Tungguu." Asya masuk ke kamar mandi Darren dan mengecheck sekitar.


Ternyata benar, tidak ada cctv sekalipun ditempat terpencil.


"Aman, kan?"


Asya nyengir kuda.


"Mandi gihh."


"Om mandi dimana?"


"Kamar Dave."


"Kenapa gak Asya aja yang di kamar Dave?"


"Nanti Dave tiba-tiba masuk terus liat kamu mandi gimana? Masa Dave duluu, harusnya saya duluu."


"Katanya gak mesuman, minta ditamparrr apa gimana??" Darren cengengesan.


"Udah buruan mandi sanaa." Asya masuk ke kamar mandi dan mulai mandi.


Darren pun sama, setelah mengambil baju ia pergi ke kamar Dave untuk mandi.


Beberapa menit kemudian, Asya selesai mandi. Ia mengenakan baju tidur yang dibelikan Darren.


Jujur, Asya malu karena Darren juga membeli dalaman Asya. Tau darimana dia? Kok bisa pass? Peramal kah? Tapi sepertinya bukan.


"Kakakk cantikk bangettt. Xixiii." Asya tertawa.


"Dave ada maunya ni pastii?"


"Heheee, kok kakak tauu?"


"Ya tau dongg, Dave mau apa??"


"Mauu kakak cantik jadi bundanya Dave." Asya terpaku mendengarnya.


Siapapun, tolong Asyaaa!


"Dave, gak boleh gitu, ya? Kakak cantik masih sekolahh, sekolahnya masih jauhh." Darren tiba-tiba datang.


"Yaaa gapapaa, nanti Dave tunggu sampe sekolahnya deket." Darren dan Asya tertawa.


"Udahh, nanti kita bahas lagi. Ayok sholat."


"Kakak cantikk, ayoo sholatt."


Asya mengikuti keduanya.


"Nona Asya pake mukenah bibi aja, bibi nanti sholatnya. Belum mandii." Asya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


Mereka bertiga sholat, Darren sebagai imam.


Asya merasakan suasana yang tidak biasa. Seperti suasana berumah tangga?


Lima menit setelahnya, mereka selesai sholat.


"Dave mau makan atau mau ngaji dulu?" Tanya Darren.


"Mau ngaji sama kakak cantikk."


"Yaudah sinii, Dave ngaji sampe mana?"


Dave menghampiri Asya sambil membawa Iqro nya.


Di umur yang masih lima tahun, Dave sudah lumayan bisa mengaji karena selalu diajarkan Darren seusai sholat.


Suatu hal yang mengejutkan, bukan?


Dave dan Asya mengaji bersama, Darren hanya memperhatikan mereka berdua. Ia membayangkan kalau ia dan Asya sudah dalam ikatan rumah tangga.


Pasti luar biasa.


"Alhamdulillah, udah selesai ngajinyaa." Dave tersenyum sambil menatap Asya.


"Kakak cantik, ayo makann."


"Bentar ya, kakak lipat mukenahnya dulu." Dave mengangguk.


"Ayook." Ajak Asya.


"Papaaa, ayok!!!"


"Ayok kemana?"


"Papa mikir apa coba daritadii? Ayokk makann, Dave laperrr."


"Iya iya iyaa, ayokkk." Masih sambil memakai sarungnya, Darren bersama Asya dan Dave menuju meja makan.


Bermacam jenis makanan tersedia, hanya tinggal menghabiskannya sekarang.


"Dave mau makan pake apa?" Tanya Asya.


"Eumm, pakeee apa aja terserah kakakk." Asya memilihkannya lalu memberikan pada Dave.


"Kakak gak siapin makannya papa?"


Asya menatap Darren yang hanya diam dengan senyuman.


"Nggak, papa kamu bisa sendirii."


"Iyaa bisaa, tapi kenapa nggak kakak cantik siapinn sekaliann?" Darren menahan tawa kecilnya mendengar ucapan polos Dave.


"Iya-iya, kakak siapinn."


"Kakak panggil papa yaa jangan panggil om!"


"Kamu disuruh sama papa bilang gituu?" Tanya Asya curiga.


"Nggakk, kakk. Dave kasian sama papa, papa jadi tua kalau dipanggil om. Papa masih mudaaa tauukk." Darren tertawa.


Asya menatap Darren kesal.


"Yaudahh, ehm. Papa mau makan apaa?" Tanya Asya pada Darren.


"Apa aja. Terserah bundaa."


Asya blushing!!


'Asya tahan Asyaa, jangan baperr. Jangannnn!' Mantra Asya dalam hati.


"Kakak cantik kenapa pipinya merah? Kakak sakitt?"


"Hem? Nggakk kokk, cumaa haus aja makanya merah."


Darren tertawa mendengar alasan Asya.


'Gemesss bangett Asyaaa!' Pikir Darren.


Melihat Darren tertawa, Asya langsung menyiapkan makannya. "Nih, makann."


"Makasih, bundaa."


Asya menginjak kaki Darren lalu berpindah tempat duduk kesebelah Dave.


Darren tertawa lagi sambil menahan sakit.


"Davee, pimpin do'a makannya."


"Do'a makan yang mana, paa? Dave lupaa."


"Allahumma baarik lanaa..."


"Oiyaa. Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar. Artinya: Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka Aamiin."


"Aamiin."


Mereka pun mulai makan bersama.


[ ps; correct me if I'm wrong. Aing cari artinya di gugelll, kalau salah mohon diluruskan <3 ]


"Ini tadi kamu yang masakk?" Tanya Darren sambil menoleh ke arah Asya.


"Iya, kenapa? Keasinannn??"


"Nggakk, bukan gitu."


"Jadiii??"


"Ini... ini rasa terbaik yang pernah saya makan."


β—•β—•β—•


20.57, Mansion Darren.


"Daveen."


"Iya, papaa?"


"Udah ngerjain tugas sekolah?"


"Udah, paa. Tadi ngerjain sama kakak cantikk."


Darren berohria, "yaudah istirahat sana. Udah jam berapa ini?"


"Tapi.. Dave masih mau mainnn."


"Kakak cantiknya juga mau istirahat, Davee. Istirahat ya, nakk. Besok dilanjut lagi."


Dave menganggukkan kepala.


"Bii, temenin Dave."


"Iya, Pak."


"Dave, jangan lupa cuci tangan sama kakinya. Jangan lupa sikat gigi, jangan lupa baca doa tidur. Okee?"


"Iya, papaaa."


Dave mendekati Darren untuk bersalaman.


Setelah bersalaman dengan Darren dan Asya, Dave masuk ke kamarnya bersama bibi.


Kini tinggal Asya dan Darren berdua di ruang keluarga. Darren berdiri mengambil kotak P3K lalu kembali mendekati Asya.


"E-ehh, om ngapainn?"


"Kaki kamu berdarah inii."


Asya diam. Padahal tadi ia sudah diobati.


"Kenapa gak minta Dave berhenti main?"


"Nggak kerasa sakittt. Lagian seru main sama Dave." Darren geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Davee sekolah juga ya, om?"


Darren diam.


"Omm?"


"Saya gak bakal respon kalau kamu masih panggil om."


"I-iyaudahh, wak."


"Wak?" Asya tertawa.


"Ahjussi?"


"Ketuaan, Asyaaa."


"Samchonn?"


"No."


"Darren Oppa?"


Darren tersenyum.


"Kenapa?"


"Hihh dasarr!" Darren cengengesan.


"Darren sekolah?"


"Saya kerja, Asya."


"Ehh maksudnyaa, Dave sekolah??" Darren tertawa melihat Asya gugup.


"Iyaa, Dave sekolah."


"Sekolah tatap muka?" Darren mengangguk.


"Kamu tumben baik ke saya?"


"Om baik ke Asya, Asya baik ke om."


"Kalau saya jahat?"


"Ya jahat juga lahh!" Darren tertawa kecil.


"Yang nyulik kamu tadi siapa??" Darren mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nggak tauu, katanya musuh daddy dari Jepang."


"Dari Jepang? Ohh, yang udah tua ituu?"


"Om kok tau?"


"Om lagi."


"O-oppa kok tauu?"


"Dia suka ngusik dan jadiin orang sebagai tumbal."


"Tumbal? Tumbal apaa?"


"Saya kurang tau juga, tapi dia pake ilmu hitam gitu buat bangun perusahaannya."


Asya merinding seketika. "Hiiihh!"


"Kenapaa?"


"Asya kira dia bercanda ngomongin tumballl. Tadi dia bilang Asya bakal jadi tumbalnyaa."


Darren terdiam, sepertinya ia akan ikut campur masalah ini. Darren mendekat dan memeluk Asya. Asya tidak membalas pelukan itu.


"Tenangg. Insya Allah gapapaa."


Asya mengangguk dipelukan Darren. Tanpa sadar Asya tertidur karena merasa nyaman dipelukan Darren.


Perlahan tapi pasti, Darren melepas pelukan memastikan keadaan Asya.


"Bisa bisanya tidurr." Ledek Darren sambil tertawa kecil.


Darren menidurkan Asya disofa lalu menggendongnya menuju kamar yang tadi.


Darren merebahkan tubuh Asya dikasur lalu menyelimuti Asya. Setelah itu, Darren menuju sofa yang ada dikamar. Ia tidur disofa malam ini.


Ditengah keheningan, tiba-tiba Darren mengingat tentang permintaan 'Gebby'.


Darren menatap Asya yang sedang tidur.

__ADS_1


"Gimanaa mau balas dendam kalau korbannya seimut Asyaaa??"


__ADS_2