
Asya memasukkan kembali ke dalam plastik. Ia menatap Arsen bingung karena melihat dua plastik lain berisi cemilan. "Kok banyak banget ini?"
"Buat kamu sama Cindul. Yang ada pororo punya Cindul yaa." Asya mendongak, "Emang apa bedanya?"
"Cindul gak boleh makan cokelat banyak-banyak. Nanti sakit gigi, kasian masih muda." Asya berohria lalu meletakkan plastik punya Cilla di meja dapur. "Yaudah aku mo ke kamar, mo ganti bajuu." Asya pergi diikuti Arsen.
Arsen merasa sangat pusing setibanya di rumah tadi, tapi ia diam tidak ingin mengeluh. Sampai di kamar, Arsen langsung membanting diri ke kasur dalam posisi telungkup.
Asya membiarkannya, mungkin Arsen kelelahan, pikir Asya santai. Selesai bersiap-siap segala macam, Asya menghampiri Arsen yang masih telungkup. "Sayang? Kamu gak mandi, atau gak mau ganti baju?"
"Hm? Iyaa nanti sayang, aku nyusul aja nanti." Asya terlihat tak tega melihat Arsen, betul-betul terlihat sangat kelelahan. Ia mengelus rambut Arsen.
Baru sekali mengelus, Asya merasa ada sesuatu di tangannya. Asya auto terkejut ketika melihat ada darah di tangan. Asya panik, "Sayang. Kepala kamu kenapa?"
"Kenapa? Kenapa apanya?"
"Jujur sama aku, kamu abis ngapain? Kepala kamu berdarah ishh. Kamu tuu kenapa gak hati-hatiii," Asya mengambil tisu untuk mengelap tangannya dan mengelap darah di kepala Arsen.
Arsen merasa ragu, ia merabanya sendiri. 'Sial, kenapa gak ada yang bilang kalau ini berdarah tadi' batin Arsen kesal. Ia benar-benar baru menyadari hal itu. Sepertinya tadi Arsen terkena paku yang ada di balok untuk pukulan Stevan padanya.
"Ih, banyak darahnyaa... Sakit gak, sayang? Kok bisa sih? Kamu abis ngapainn sihh?!" Mendengar suara Asya agak gemetar, Arsen berbalik pandang. "Kenapa nangis?"
"Ya gimana nggakk?! Ini... ah kamu mahh. Tunggu sini biar aku ambil P3K." Arsen menggeleng, "Nanti kan juga kering, cuma luka sedikit, sayang. Kamu lanjut ikut acara ajaa."
"Diem. Gak usah bawel. Kunci mobil di mana?" Belum lagi sempat Arsen menjawab, Asya yang melihat kunci di meja langsung mengambilnya dan beranjak pergi. Arsen diam, kembali memejamkan mata.
Asya pergi ke garasi dari pintu belakang. Di tengah jalan, Asya bertemu Alex. "Kenapa lu panik? Arsen udah balik, kan?"
"Udah, tapi ntah kenapa itu kepalanya berdarah. Gue mau ambil P3K, lu bantu bunda dulu ya?" Alex mengangguk, ia malah pergi ke kamar Arsen, dan Asya sendiri melanjutkan perjalanan menuju mobil sambil berlari.
"Lu kenapa, bro?" tanya Alex sedikit khawatir. "Luka kecil doang, gak usah khawatir. Bantu bunda aja sana lu." Alex tidak mengindahkan perkataan Arsen, ia mendekat dan meraba kepalanya.
"Bangkee kau. Dikit darimana? Ini banyak. Lu kena paku di mana? Kok strong, gak pingsan?"
"Berisik." Alex terdiam. Sepersekian detik berikutnya, Asya datang masih ngos-ngosan. Ia membuka kotak P3K dan mendekati Arsen berusaha mengobati.
Terlihat agak sulit karena posisi Arsen yang telungkup. Ya kali dirinya duduk di menimpa badan Arsen. "Hadeh ini gimanaa caranyaaa?"
"Sini gue aja," tawar Alex langsung ditolak Asya. "No. Lu bantu bunda aja, Alex. Biar Arsen jadi urusan gue." Asya lanjut berusaha mencari posisi yang tepat. Hal paling menyebalkannya, Arsen tidak berkutik sama sekali.
"Sini gue aja, Asya. Lu aja bantuin mama, nanti gantian. Kalau udah selesai gue keluar." Asya menggeleng, "Gue aja, Lex. Sana lu minggatt."
"Gue—"
"Berisik. Gue gakpapa, bantu bunda aja lu berdua, gak usah berisik di sini." Asya dan Alex terdiam. Pulaknya orang pusing mereka recok. Alex mengalah, ia keluar dari kamar.
"Aku bakal bantu bunda setelah obatin kamu." Arsen menoleh ke arah Asya yang duduk di kursi dekat meja rias.
"Sini kamu biar aku obatin." Arsen bangun, ia menghampiri Asya sempoyongan kemudian Arsen duduk di atas pangkuan dan menghadap istrinya.
Kepala Arsen berada tepat di bahu Asya, mengarah ke leher Asya. Asya menghela nafas panjang, "Ini gimana aku obatin kalau posisinya beginiiii?" tanya Asya bingung. "Gak usah di obatin, cuma luka kecil."
"Ck. Belum di cek."
Semenit setelahnya, Alex datang lagi. "Allahuakbar, apa-apaan nech? Menodai mataku." Asya meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan untuk diam. "Pas pula lu datang, bantuin gue, Lex."
"Payah ya? Bayi lu gede banget sih." Alex membantu mengobati Arsen. Arsen terlihat tenang, tidak berkutik, bahkan tidak bergerak sama sekali.
"Oke, selesai."
"Jelek kali."
"Gak usah protes. Ini kenapa dia diem aja? Pingsan?" Asya panik lagi. "Arsen? Sayangg? Kamu pingsan?"
"Sayangg? Arsen... Bangun heyy?" Arsen bergerak sedikit. "Aku gak pingsan, sayang. Kepala aku pusing," kata Arsen dengan suara berat khas orang lemas.
"Pusing banget kamu?"
"Gak terlalu. Kamu lanjut bantu bunda aja ya, segan kalau dua-dua di kamar," Arsen mengecup pipi Asya sekilas lalu kembali tidur telungkup di kasur. Asya dilema.
"Oh iya, Syaa, lu tadi dipanggil bundaa." Asya menghela nafas lagi kemudian mendekati Arsen. "Kalau kenapa-napa panggil aku, okee?" Arsen berdehem. Usai mengecup pipi Arsen, Asya pergi bersama Alex.
Terlihat belum di mulai pengajiannya karena belum ada tamu yang datang. Asya menuju ke dapur, menghampiri mama mertua. "Kenapa, bunda?"
"Bunda yang harusnya tanya begitu, nak. Kamu kenapa tadi lari-lari kek orang panik? Ada masalah?" tanya bunda. "Itu tadi mau ngobatin Arsen, bun. Kepalanya berdarah, tapi nggak tau kenapa, dia belum cerita."
"Udah di obatin berarti?" tanya papanya gantian. Asya mengangguk, "Udah, pa. Tadi di bantu Alex juga." Kedua mertua Asya berohria.
"Acara jam berapa, bunda? Boleh gak kalau Asya gak ikut aja? Kalau ditanya-tanya gitu ntar bunda bilang aja lagi ada urusan makanya gak bisa datang. Ini Asya gak tega ninggalin Arsen sendiri di kamar, lemes banget diaa."
Bunda tersenyum melihat ekspresi Asya yang beneran panik. "Iya gakpapaa kok, nak. Masih ada Alex. Kamu temani Arsen aja gakpapa."
"Beneran gakpapa kan, bun? Tadi tu sebenernya kan Asya udah siap-siap, tapi liat kepala Arsen berdarah jadi panik bangett."
__ADS_1
"Emang Arsen kenapa, nak?" tanya papa mertua Asya bersuara lagi. "Belum tau nih, pa. Arsen belum ada cerita. Ngomong aja mager dia, pusing kali kepalanya."
"Yaudah kalau gitu, balik ke kamar gih. Siapa tau Arsen nunggu," Asya merasa tidak enak. "Maaf ya, bunda."
"Apaan maaf maaf. Santai aja, sayang." Asya tersenyum lalu pergi ke kamar setelah berpamitan. Asya mengganti bajunya dengan baju one set rumahan.
"Sayang..." Arsen membuka mata, tampak istrinya sedang tiduran di sebelahnya. "Kok gak bantu bunda?"
"Gak bisa aku ninggalin kamu kek gini. Masih pusing kepalanya? Ke rumah sakit aja ayo?" Arsen menggeleng. "Gak mau. Pelukan sama kamu keknya bisa sembuh," kata Arsen modus.
Arsen mendekatkan diri dengan sang istri lalu memeluk dari samping. Kepala Arsen berada di ceruk leher Asya. Asya berusaha mencari posisinya. Ia tidak bisa bergeser lagi karena sudah terkunci oleh Arsen. Asya diam, membiarkan Arsen di posisinya.
Dua menit baru berlalu, tiba-tiba Arsen berbalik membelakangi Asya. "Hey, kenapa?" tanya Asya bingung. Asya bangun dari tidurnya dan mendekat ke arah Arsen. "Kenapaa balik badan? Kok aku di punggungi?"
"Badan aku panas, nafas aku juga. Aku gak mau kamu ikutan. Sama bunda aja gih, bantu bunda." Asya menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Gak mau. Balik sekarang, peluk aku."
Arsen diam.
"Sayang, gak denger aku bilang apa?" Arsen masih tetap diam. "Gak mau? Oke. Gak ada lagi pelukan atau skinsh—" Arsen berbalik dan memeluk Asya lagi.
Asya tersenyum senang. Mode ancaman memang selalu berhasil. Asya dapat bergerak kali ini, ia membalas pelukan Arsen. "Bayii."
"Kamu bayii," sahut Arsen.
"Kamu yang bayi. Mau minum obat ya?"
"Gak perlu. Keknya bisa langsung sembuh kalau main kuda-kudaan." Asya menatap Arsen sinis. "Kamu sakit juga tetep mesum, heran banget liatnya."
Arsen tertawa pelan. "Cuma sama kamu mesumnya."
"Ya kalau sama orang lain gitu aku tokok kepalamu. Udah ah, istirahat biar cepet sembuh. Get well soon daddy." Arsen auto melek menatap Asya. "What? You're my sugar daddyyy."
Arsen tertawa. "Sugar oppa aku, bukan sugar daddy."
....・。.・゜✭・...
Asya terbangun tepat saat mendengar adzan maghrib. Asya ikut ketiduran karena menemani Arsen di kamar seharian. Melihat Arsen meringkuk dan sudah melepas pelukan, Asya berusaha turun tanpa membangunkan sang suami.
Asya mandi, sholat, dan melakukan hal yang sempat ia lakukan sebelum Arsen kembali rewel. Setelahnya, Asya keluar kamar. Acara di rumah bundanya telah selesai. Di jalan menuju dapur, Asya bertemu Alex lagi.
"Boleh mintol brok?"
"Apatuh?"
"Nggak usah deh. Gue takut salah obat, jadi lu panggilkan dokter yang biasa ke rumah tu, tau gak?" Alex mengangguk. "Bawa kemari?"
"Ya iyaa. Nah ini lu belikan martabak mesir kesukaan Arsen sama roti canai yaa. Roti canainya gak usah pake susu," pesan Asya panjang. Alex mendengarkan tanpa suara. "Itu aja?"
"Iyaa. Lu beli apa yang lu mau deh, terserah lu apa. Oiya, beliin Cilla martabak manis. Cilla suka, kan?" Alex mengangguk lagi. "Ini pake kartu lu btw, gak masalah?"
"Habis nanti minta suami. Udah sana minggat lu. Udah sholat, kan?" tanya Asya sebelum pergi. "Udah kok, santai. Gue berangkat dulu kalau gitu."
"Iyaa, dokternya bilang gue yang panggil yaaa!"
"Iyooo." Alex pergi meninggalkan rumah seorang diri. Asya sendiri lanjut ke dapur. Ternyata mertua Asya berada di sana. "Eh ada papa sama bunda."
"Ada Cilla jugaa, kakk!" sapa Cilla senang. Asya tersenyum, "Iyaa. Ada Cilla yang gumushh."
"Arsen gimana, Sya?" tanya papanya. "Ya gitu, pa. Meringkuk dia di atas kasur. Gegara itu Asya suruh Alex panggil dokter. Takutnya parah."
"Iyaa, betul. Kamu makan dulu kalau gitu. Bunda masak barusan," Asya menggeleng. Ia mendekat ke lemari pendingin mencari bahan makanan. "Arsen belum makan, bun. Jadi Asya juga gak enak mau makan."
"Asya mau masak makanan favoritnya Arsen bun, hehe. Kan biasany—"
"Bunda tau, nak. Jangan dijelasin atuh ah. Jatohnya kek orang lain kita ini." Asya menggaruk kepalanya, "Agak segan, bun. Asya tampak kayak gak sopan, darita—"
"Ssstt. Gak usah gituuu, bunda gak suka. Santai ajaa, okee? Kamu lanjut masak aja dulu, baru nanti makan bareng Arsen ya. Papa sama bunda mau ke rumah tetangga depan, ada acara ulang tahun." Asya mengangguk. Mereka pun pergi bersama.
Asya menyandarkan diri di dinding sambil memegangi dada. "Deg-degan kamprettt, takut dimarahin. Untung bunda baik."
Usai menstabilkan diri, Asya kembali mencari bahan makanan yang diperlukan dan mulai memasak makanan favorite Arsen disertai dengan sup krim ayam.
Asya sibuk di dapur, memasak dengan cepat agar waktu makan Arsen tidak terlambat. Walaupun cepat, Asya tetap mementingkan rasa dan kebersihan kok, santai. Tetap enak nantinya.
"Sya, gue mau anter dokternya balik dulu." Asya langsung berbalik. "Lah? Kok cepet banget? Kapan datangnyaa? Kapan diperiksanyaa?"
"Dah daritadii, lu sibuk masak sampe dipanggil juga gak dengarrr," Asya nyengir. "Arsen bangun? Obatnya gimana?"
"Ya ini sekalian. Tadi bangun sih di akhir, nyariin lu juga dia," kata Alex. "Arsen suruh banyakin istirahat ya, Asya. Imunnya lemah banget itu jadi mudah sakit." Asya menganggukkan kepala mendengar perkataan dokter. "Makasih ya, pakk."
"Santai aja. Semoga lekas sembuh yaa."
"Iyaa, aamiin." Dokter itu tersenyum lalu pergi. Alex diam membeku ditempat. "Napa lu?"
__ADS_1
"Arsen kurang jatah juga ituu. Eh, atau kebanyakan dapat jatah ya?" Asya auto mendorong Alex. "Anter dokternya daripada lu bacot muluuu! Pesanan gue juga tadi sekalian."
Alex tertawa. "Amann. Gue anterin dokternya dulu ya?" Asya berdehem, Alex pun pergi. Asya kembali melihat masakannya, alhamdulillah sudah matang. Ia mematikan kompor lalu menghampiri Arsen.
"Sayang?"
"Hm? Kamu darimana?" tanya Arsen masih lemas, tangannya memegangi tangan Asya. "Buat makanan, ayo makan."
Arsen menggeleng. "Aku ngga—"
"Gak usah nolak. Ayo mamm, biar lekas sembuh."
Arsen menggeleng lagi. "Gak enak sayang, gak selera akuu." Asya mulai menunjukkan wajah sedihnya untuk merayu. "Aku dah masak sendiri tadi, cepet-cepet juga demi kamu, eh malah gak mau makan."
Mendengar serta melihat Asya yang kelihatan sedih, Arsen merasa gak enak. Ia berusaha duduk di headboard. Asya mendekat untuk membantunya.
Arsen tersenyum karena kesiagaan Asya. Tangannya terjulur, mengelus pipi Asya. "Ayo mamm. Tapi aku maunya kamu suapin, boleh?"
"Of course. Dasar bayii! Tunggu bentar, aku ambil dulu yaaa," Asya mengecup pipi Arsen lalu pergi. Asya senang bujuk rayunya berhasil. Ia kembali membawa sepiring nasi beserta lauk dan ada sup krim ayam serta air mineral di atas nampan.
Arsen benar-benar tidak selera makan saat ini, tapi demi menghargai usaha istrinya, Arsen akan paksa menelan. Lagipula yang Asya masak adalah makanan favoritnya.
"Enak keliatannya, ayo suapin akuuu," kata Arsen membuka mulut. Asya pun mulai menyuapi Arsen. Arsen makan dan mengunyah cukup lama. Seperti mengunyah sesuai ajaran dokter, 33x.
"Kamu dah makan?" tanya Arsen sehabis kunyahan pertama. "Habis kamu makan, aku makan."
"Gak bisa gitu. Ayok makan bareng. Sini aku suapin gantian." Asya langsung menolak. "Gak enakkah masakan aku makanya mau kongsi?"
"Nggak gitu, sayangku. Aku susah nelennyaa, mau mik cucu aja bolee ndak?" kata Arsen menggoda. Asya yang paham menyipitkan mata menatap Arsen. "Lagi sakit bisa-bisanya ya?"
"Apa salaaahh? Mau minta susuuu aja aku. Kamu mikirnya kemanaa?" Asya menggeleng-geleng. "Mam dulu nanti mik cucu."
"Sambil cuddle?"
"KANN??!" Arsen tertawa. Ia mulai mengunyah lagi setelah disuapi Asya. "Sekarang coba sambil cerita, kamu kenapa? Kemana? Kok bisa kepalanya gitu? Ceritain kronologinya, kalau nggak aku ngambek sebulan."
Arsen minum, ia pura-pura batuk lalu kembali bersuara. "Iya ini aku cerita, sayang. Jadi tadi pagi aku gak berangkat kerja, tapi mau nemuin tawanan aku. Orang yang nguntit kita. Aku interogasi dia sampe akhirnya tau dalang dibalik semuanya. Dalangnya tu ya beneran Stevan. Terus aku mancing Stevan lah biar datang juga."
"Udah datang dia, aku kurung terus aku pergi konsultasi ke papa mertua dulu gimana. Abis diskusi balik lagi lah ke gudang. Aku cekcok, adu mulut dikit, abistu dia bilang pikirin nasib bini aku gimana. Aku paniklah, makanya aku telepon lah kamu tu tadii, untungnya istriku ini di rumah, jadinya aman."
"Aku juga udah males banget keluar. Terus itu lanjutnya gimana?" tanya Asya malah menyuapi diri sendiri. Blio juga lapar.
"Pas aku mau balik setelah kelar nelepon, Stevan pukul aku pake balok kayu kenceng banget. Aku tu gak tau kalau ada pakunya, beneran deh. Gak kerasa juga kalau berdarah, anak buah aku juga gak ada bilang. Tapi kamu tau gak? Aku strong banget gak pingsan."
"Strong gak pingsan tapi sampe rumah lemes kek gak dikasih makan tujuh ribu abad masehi." Arsen terkekeh. "Gak gitu dong, sayangku."
"Terus, gimana dia? Daddy suruh apa? Dia ada dendam apa gimana sih sama kita? Kok jahat bangeettt?"
"Daddy suruh tarok ruang bawah tanah tanpa makan. Sekalian balas dendam juga karena kamu dulu di culik sama bokapnya." Asya yang tadinya minum hampir menyembur. "Maksud kamu.... yang Jepang itu??"
Arsen mengangguk. "Luar biasa kali, kan? Dia anaknya si pak Jepan. Dan ternyata aku kecelakaan dulu itu karena dia."
"Ih... Kok ada orang sejahat dia ya? Untung kamunya gakpapaaa. Aku takuttt." Arsen tersenyum, ia menarik tangan Asya dan mengelusnya. "Kata aku kan gak perlu takut, suamimu ini Arsen."
"Oke, iya shiapp. Lanjut mam lagii."
"Jadi mik cucu, kan? Boleh, kan?" tanya Arsen.
"Siap minum obat. Harus sembuh dulu baru bolehhh," Arsen manyun. Tampak merajuk. "Gak usah sok ngambek dehh, bayiiii."
"Iyaa, aku bayi, mau cucuu."
"Iyaaaaa. Nanti kalau sembuh," Arsen menghela nafas kesal, "Padahal itu obatnya."
"Yaudah iyaa, abis minum obatt!" Arsen senang, tersenyum misterius. "Senyumnya prikk banget, Arsenn! Makan dulu deh nih yang abis, kalau gak abis kamu yang aku abiskan."
"Di gen—"
"Tabok mauu?"
"Ciumm ajaa."
"Bayi kok minta cium. Bukan mahramm!"
"Aku bikin gak bisa jalan baru tau rasa ya. Bayi bayi mulu padahal kamu yang bayii." Asya tertawa. "Lucu banget bayi ngambekk!"
"Beneran gak bisa jalan nanti kamu, liat aja."
"Aww, atuttt."
"Wahhh! Nantangin nih bocil," kata Arsen sedikit kesal. Asya tetap tertawa. "Lucu banget bayiii!"
"I'm not a baby, honey!"
__ADS_1
"Halahhh. Tadi tidur ngerengek mulu minta peyukk, tidur meringkuk, terus ini tiba-tiba minta susu kek bayii." Arsen nyengir. "Itu mah beda ceritaaa. Btw, mau peyuk lagi dong."