Barbar Generation

Barbar Generation
Persidangan wkk


__ADS_3

"Azril, Racksa, Dino, Haikal, Arsen!! Ruangan pak kepala sekolah bukan taman bermain!!"


"Ya emang bukan, Pak. Kan kami bukan mau mainn," jawab Dino santai.


"Ck, pergiii jauh!!"


"Ya Allah, Pak, kami ini punya jiwa solidaritas yang tinggi. Jadi kalau satu dari kami kena masalah, ya kami juga." Ujar Azril.


"Bodoh itu namanya!"


"Oh ya jelas bukan lah, Pak. Gak ngerti bapak ini. Biarin kami masuk dong, Pak." Rengek Arsen.


"No!"


"Sudahh! Diem disini dan jangan mengetok pintu! Sekali lagi kalian ngetok pintu.. saya gak izinin pihak kantin kasih kalian makanan untuk istirahat!" Mereka terdiam.


Jika berurusan dengan makanan, mereka tidak bisa berkata-kata. Dengan sangat terpaksa mereka diam dan menunggu di luar.


Pak Jarwo yang merasa berhasil mengancam mereka langsung masuk ke ruangan kepala sekolah. Di dalam sudah ada Aska, Zia, Asya, Bu Rifa dan Pak Andre.


Asya sendiri sedang menunduk karena sedang di tatap kedua orang tuanya.


Zia menatap Asya dengan tatapan terheran-heran. 'Kenapa Asya bar-bar banget yaa, padahal aku nggak sebar-bar itu. Tapi gapapa sii, keren.' Batin Zia.


Hm. Ayo nobatkan Zia sebagai ahlinya pura-pura lupa dan nobatkan dia sebagai manusia terabsurd sejagat keluarga Hitler.


Skip.


Jika Zia menatap Asya dengan tatapan heran, lain halnya dengan Aska. Ia menatap tajam Asya, tatapan penuh mengintimidasi.


Padahal sebenarnya Aska sedang menahan tawa karena ekspresi Asya yang super duper melas.


Ia sengaja menatap Asya agar dia bisa intropeksi diri dan menyadari kesalahannya.


Asya mendongak sekilas kemudian kembali menunduk.


"Ekhmm."


"Ekhmm." Asya mengikutinya, ia mendongak.


"Daddy, jangan natap Asya gituu napaa." Rengek Asya, seketika Zia melihat ke arah Aska.


'Siyyall, aku hampir tertawa!' Batin Zia.


Merasa di tatap, Aska pura-pura batuk. "Apa yang terjadi Asya?"


"Asya gak salah kok, Daddy."


"Gak salah darimana? Kamu ngancurin mobil guru, Asya."


"Itu salah Bu Rifa sendiri, Daddy. Beliau fitnah Asyaa."


"Fitnah apa?" Tanya Zia.


"Tadi pagi pas Asya baru dateng di tatapin sinis sama siswa-siswi lainnya. Terus, Asya rampas hape adek kelas buat ngeliat ada apaa. Ehh taunya ada fitnah Asya lagi ciuman sama Arsen di belakang." Asya menjeda ucapannya, menunggu respon.


"Terus?"


"Dalangnya Bu Rifa!"


"Hah? Nggak, Pak Aska. Bukan saya," Bu Rifa menjawab.


"Ibu masih bisa ngeles sekarang?! Eeghhh! Pengen banget saya jambak rambut ibu!"


"Asya~" Asya terdiam mendengar suara bernada daddynya.


"Apa yang kamu lakuin selain mecahin kaca sama ngancurin mobil gurumu?"


"Asya jailin pake mercon, numpahin lem dikursi nya terus mecahin kaca mobil Bu Rifa."


"Eemm.. MANTAP!"


Tuhkan, Zia memang yang paling beda.


Mendengar kalimat pujian Zia, Aska menatapnya sinis. "Makin mengadi-ngadi nanti kelakuan anak kita kalau salah kamu puji." Zia cengengesan.


"Kamu tau darimana kalau Bu Rifa dalangnya?" Tanya Pak Andre.


"Jun, Pak. Jun yang kasih tauu, karena pertamanya Jun yang nyebarin."


"Nggak, Pak. Semuanya bohong, saya gak ada nyuruh Ju—"


"Panggil siswa bernama Jun itu!" Zia memotong ucapan Bu Rifa. Pak Jarwo pun keluar.


"Udah siap pak sidangnya?" Tanya Haikal.


"Belomm. Jun udah pulang?"


"Biar Arsen cari Jun." Arsen langsung pergi.


"Liatlah manusia bucin itu, gercep sekali dia." Kata Dino sambil menatapi kepergian Arsen.


Arsen pergi menuju belakang sekolah untuk menemui Jun. Dan benar saja, Jun ada di sana sembari menghisap sebatang rokok di tangan.


Arsen langsung menariknya.


"Astagaa, Arsen. Apalagiii? Apa salah guee?"


"Lu di panggil Pak Jarwo!"


"Hah? Ngapain? Ogah."


"Ikut atau gue patahin kaki lu, gue patahin tangan lu, gue bakar muka lu pake api rokok itu. Mau?" Jun menelan ludah mendengarnya.


"A-ayo." Arsen menarik Jun menuju ruang kepsek.


"Erereee, cepet bangettt." Ujar Racksa ketika melihat Arsen dan Jun.


"Cemana nggak, udah hapal si Arsen keberadaan makhluk makhluk pribumi di SMA." Sahut Haikal.


Arsen tertawa kecil mendengarnya, "masuk lu!"


Jun mengetuk pintu lalu masuk.


"Jun?"


"Iya, Pak. Saya Jun, Jun Artamana."


"Asya bilang, kamu di suruh sama Bu Rifa buat fitnah dia. Bener?" Jun mengangguk.


"Kenapa mau?" Tanya Pak Andre lagi.


"Karena saya suka sama Asya, Pak." Asya menatapnya kesal, hampir saja jari tengahnya keluar.


Aska dan Zia yang mendengar itu langsung menatap Jun, melihat Jun dari atas sampai bawah.


"Kamu suka anak saya??" Jun terkejut kemudian mengangguk.


"Kamu habis merokok? Kalau kamu bilang nggak, kamu bohong." Jun terdiam.


"Jangan berharap lebih, kamu sudah saya blacklist dari daftar calon mantu!" Ujar Zia blak-blakan.


Asya mengangkat jempolnya dari bawah, 'mantap!' Batin Asya bangga.


Jun hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Kamu bilang Bu Rifa yang suruh? Ada buktinya?" Tanya Pak Jarwo.


"Oh ya jelas ada, Pak. Di hape sayaa," Jun mengeluarkan ponselnya.


"Letak ponsel kamu dan keluar darisini!" Jun mengedipkan mata dia kali mendengar ucapan Aska.


"Tunggu apalagi? Keluar." Suruh Pak Andre, Jun meletakkan ponsel itu lalu keluar.


"Oiya buktinya di rekaman, Pak." Jun menutup pintu.


"Bukti kongkrit?" Tanya Azril.

__ADS_1


"Iya jelas, suaranya Bu Rifa kedengaran. Btw, kenapa gak bilang ada bonyok lu disono?!" Jun esmoni.


"Lupa!" Azril tersenyum santai.


"Btw, bonyok lu kok bisa disini ya, Zril? Teruss kenapa tadi Bu Rifa kek panik gitu?" Tanya Haikal heran.


"I don't know."


Kembali ke dalam ruangan. Aska dan Zia menatap tajam Bu Rifa setelah mendengar bukti rekamannya.


"Saya gak nyangka anda mempekerjakan guru seperti ini di sekolah, Pak Andre."


"M-maaf, Pak. Saya gak tau," Pak Andre gugup. Asya terheran-heran jadinya.


Aska menghela nafas, "apa hukuman yang pantas untuk mereka berdua? Asya skorsing atau drop out?"


Zia langsung menatap heran Aska, "kasian Asya ntar kalau di drop out. Tanggunggg, tinggal beberapa minggu. Ntar kalau dia ngulang lagi gimana? Temen-temen nya kuliah masa iya dia SMA?!"


"Bener kata Bu Zia, Pak. Sebaiknya jangan di drop out."


"Saya sudah suruh anda untuk drop out Asya dari dulu, kenapa tidak di lakukan?"


Asya terkejut, 'ohmyy. Daddy terganteng kuuu benar-benar manusia edisi terbatas. Bisa-bisanya anak sendiri minta di d.o' batin Asya.


"Asya siswi yang berani memberantas pembullyan, ketidakadilan dan sebagainya meskipun dia tau akan masuk ke dalam catatan kasus. Asya juga siswi terpintar, jadi sangat disayangkan apabila Asya di drop out." Aska berohria.


Asya mengelus dada, 'mantap!'


"Asya anak baik, Daddy."


"Baik gundulmu!" Protes Zia, Asya cengengesan.


"Jadi? Harus di apakan mereka berdua?"


"Asya gak salah, kenapa Asya juga di hukum?"


"Gak salah? Kamu ngancurin mobil guru, itu gak salah?"


"I-itu salah Bu Rifa, Daddyy." Asya menunduk.


"Ternyata ada ya, guru yang fitnah anak murid cuma karena dia suka sama murid yang sering deket sama murid yang kena fitnah." Ujar Zia santai, Aska menatapnya.


"Kenapa?"


"Ngomong kenapa di belit-belit sih?" Zia nyengir kuda.


"Tetapkan keputusan, Pak Andre! Apa hukuman untuk mereka berdua?"


"Asya skorsing tiga hari dan Bu Rifa di pindah tugaskan ke sekolah lain."


"Skorsing seminggu, deal!"


"Daddyyyy." Rengek Asya.


"Maaf, Pak Aska. Seminggu terlalu lam—"


"Jangan karena Asya anak saya hukuman yang seharusnya banyak Anda kurangi. Tidak ada pengecualian di sekolah ini."


"Tidak Pak, bukan begitu. Tapi seminggu memang terlalu lama dan terlalu berlebihan menurut saya. Tiga hari sudah lebih dari cukup," Pak Jarwo meluruskan.


'Lopyu pak Jarwoooh!'


"Okee, terserah pihak sekolah."


Asya sendiri masih terheran-heran, 'apa maksud ucapan daddy tadi? Karena Asya anak saya? Berarti, daddy orang berpengaruh??'


"Emm.. Daddyyyy, daddy kenapa disini?"


"Mantau."


"Asya belum tau ya, Pak?" Tanya Pak Andre. Aska menggeleng.


"Tau apa, Pak?"


"Papa kamu pemilik SMA Super."


"HAHHH?!" Itu suara mereka yang mengintip dan menguping. Karena keceplosan mereka langsung keluar dan menutup pintu.


Aska pura-pura berfikir lalu menatap Asya yang bingung, "no coment."


Aska menoleh ke arah Bu Rifa yang menunduk dan menangis, ia tau hukumannya tidak hanya itu.


"Bu Rifa.." Ia menghapus air mata kemudian mendongak.


Aska mengeluarkan kartu namanya, "hubungi saya kalau kurang uang untuk membenahi mobil anda." Bu Rifa menerimanya.


Aska berdiri, "saya pamit duluan dan urus sisanya."


Aska menatap Asya yang masih terkejut, "Asya.."


"Pulang ke rumah utama!"


'Mati gue, di sidang lagi.'


❀❀❀


"Asyaaa?" Asya menatap Arsen dan bertanya melalui isyarat mata.


"Kenapa lu?" Tanya Dino.


"Sepertinya dia wedi di sidang lagi." Ledek Haikal.


"Kegeeran sih bakal di sidang lagi," sahut Aska turun dari tangga.


"Emangnya enggak, om??" Tanya Dino, Aska menggeleng.


"Serius, Daddy??" Aska berdehem.


"Daddy mu ngajak ke rumah utama tu buat ngajakin makan siang bareng, mumpung dia belum pergi."


"Pergi?? Daddy mau kemanaaa?! Kapannn?" Tanya Azril dan Asya kompak.


"Udah gedee, di tinggal pergi juga masih gini kalian berduaa." Asya merengut.


"Daddy mau kemana?? Kapan?? Mommy ikut??" Tanya Azril, mereka berdua mengangguk.


"Mommy daddy mau ke Jerman. Perginya lusa, disana sekitar dua minggu atau bisa molor sampe sebulan."


"Ebusett lama amattt, ngapain om?" Tanya Haikal.


"Bantu ngurus masalah di sanaa." Mereka berohria.


"Ish, lama bangettt tauu sebulan."


"Biasanya lebih, Sya. Kenapa kamu jadi gitu?"


"Gak tauuu. Asya ngerasa gimanaaa gituuu."


Aska dan Zia saling tatap kemudian menghela nafas.


"Do'ain aja gak bakal terjadi apa-apaa."


"Aamiin."


"Arsen, selama om pergi jagain anak cantik om, ya."


Arsen tersenyum, "iya om. Pasti."


"Lah di titip ke Arsen?" Tanya Azril kebingungan.


"Kalian kan wajib jagain ratu!" Sahut Asya bangga.


"Tapi kan lu babu bukan ratu." Dino bicara dengan muka polosnya.


"Anjj—"


"Asyaa, jangan mengumpat!"

__ADS_1


"Astaghfirullah. Maaf, Daddy."


"Btw, Asya tadi di skorsing kan?" Tanya Haikal.


"Iya kenapa??"


"Gue muk boloss ahh."


"Astaghfirullah, mantep!"


"Mantep mantep palamu peang. Gak gak, kalian gak boleh boloss!" Ujar Aska.


"Alahh, boleh ya Daddyy? Boleh dongg. Bolehlah masa nggak."


"Kagak usah Azrill, kamu ngikutin nuna mu tu ntar bakal sesat." Asya cengengesan.


"Tapi om, capek jugaa sekolah tiap harii. Kan mau ujian juga, sabi lahhh bolosss."


"Gak naik baru tau rasaa." Cibir Zia.


"Kan ada om Aska, tan. Nanti om Aska yang lulusin, om Aska kan pemilik sekolah." Jawab Dino.


"Ehhh, benerr! Lulus lewat orang dalemm." Sahut Racksa.


"Jangan mengadi-ngadi kalian." Mereka tertawa.


"Kalau emng mo bolos, izin ke ortuu." Mereka mengangguk bersamaan.


"Kita kemana ya kira-kira? Luar kota?" Tanya Azril.


"No no! Bolos sekalipun harus tetap di rumah abu-abu! Kalau mau pergi telepon daddy, biar nanti daddy telepon bodyguard buat ngikutin kalian!"


"Harus seketat itu, Om?" Tanya Haikal.


"Iya. Bukan apa-apa, Kal. Om takut terjadi hal yang gak di inginkan. Bukan cuma takut ke Asya, Azril sama Racksa doang tapi ke kalian jugaa."


Mereka mengangguk paham, "Om Aska pengertian weh!" Aska jadi songong gais:v


"Asyaa.." Ia menatap Aska.


"Kamu, ngelempar uang tabungan. Gimana sekarang tabungannya? Sehat?"


"Jelas sehat lah, Daddy. Kan ada tabungan Azril, nanti di pindah."


"Pala kauu seperempat! Gak gakk." Asya tersenyum merayu.


"Tidakk!"


"Aihh, pelit!"


"Uda nanti daddy aja yang isi lagiii."


"Aw, lopyu daddy!"


"Kamu tadi mecahin kaca mobil guru syalan mu itu pake apa?" Tanya Zia.


"Pake tongkat baseball, Mom."


"Punya siapa??"


"Gak tauu, ambil di rumah abu-abu."


"Punya gue bangkk! Lu bawa balikkan?" Tanya Racksa.


"Nggak keknya."


"Syaa~" Bernada gais:v


Asya tertawa, "gue bawa kok. Di mobil, sans ajaaa."


"Oiya, Racksa sering dapat telepon dari papa?" Racksa mengangguk.


"Kemaren video call-an, kenapa uncle?"


"Tau berita dong berartii?" Racksa mengangguk lagi.


"Seneng?"


"Nggak juga, aun. Tapi yaaa gimana lagi." Aska dan Zia tertawa melihatnya.


"Emang berita apaaan, Om?" Tanya Arsen.


"Racksa mau punya adekk."


"Aaahayyy, abang abang!" Ledek Arsen.


"Abang Racksaahhhh~" Sahut Dino.


"Cewek apa cowok, Sa?"


"Kan belum lahir dodol!" Haikal tertawa.


"Uwuuwwww, cie yang muk jadi abanggg." Twins kompak!


"Asya Azril mau punya adek?"


Seketika ekspresi mereka berdua berubah, "nggak."


"Lho kenapaa?"


"No no. Kalau adek cowok ntar ngeselin kea Azril, kalau adek cewek ntar Asya gak di sayang lagi!"


Aska dan Zia tertawa, "problem anak pertama."


❀❀


"Om Darrennnn!"


"Astaga, Gebby! Kenapa teriak sih, sayang??"


"Ya abisnyaa, om ngeselin sih!! Kenapa jemput Gebby ke sekolah?"


"Kenapa emang? Takut kalau ketauan sama pacar kamu yang posesif itu?"


"Nggak juga sii, hehee."


"Tadi di sekolah kenapaa?"


"Ituu, Asya bikin ulahh."


"Asya??"


"Iyaa, Asya yang om suka ituu! Pembuat onarrr."


"Haha, tapi dia cantik, om suka."


"Halahh, dasar om Darren playboy!!"


"Kamu cemburu, sayang?"


"Gakk."


"Hahaha, ekspresi kamu gak bisa boong."


"Oiya, om tadi ngeliat Aska."


"Aska? Musuh om itu??"


"Ho'oh."


"Gebby baru inget om! Ternyata anaknya Aska musuh om itu Asya sama Azril."


"Hah?? Serius kamu?"


"Iyaa, Gebby seriusss. Om tau gak? Taxa juga suka sama Asyaa! Tapi udah menjauh sih keknya."


"Taxa maksud kamu? Ponakan angkat om?"

__ADS_1


"Iyaaa, Om."


Darren tersenyum smirk, "balas dendam semakin menarik."


__ADS_2