Barbar Generation

Barbar Generation
Pencarian 3


__ADS_3

"Permisi, boss. Maaf mengganggu waktunya."


Bodyguard Aska datang.


"Ada berita apa?" Tanya Aska.


"Tim kami berhasil menggerebek rumah yang ada di tengah hutan itu. Dan ternyataa... tidak ada apapun di sana."


Aska menghela nafas panjang.


Yang lain juga melakukan hal yang sama.


"Yaudah kalau begitu, silahkan cari lagi."


"Baik, boss." Bodyguard Aska pergi.


"Ehh ehh, om tunggu."


Arsen mengejar.


"Kenapa, mas?"


"Saya mau ikut cari." Jawab Arsen sambil merapikan bajunya.


"Hey hey!! Gak usah bertingkah. Kamu udah nyari dari kemaren! Waktunya istirahat." Omel Zia.


"Arsen gak bisa diem aja, tantee. Sampe sekarang aja tanda-tanda keberadaan Asya belum adaa."


"Kita pikirkan strategi lain buat nyari, Sen. Mending lu istirahat dulu dehh."


"Lu pada aja yang mikir strategi. Gue gak bisa duduk diem lama-lama kalau belum tau kabar Asya."


"Ayok, om."


Arsen dan bodyguard Aska pergi.


Mereka yang berada di sana hanya terpelongo melihat kegigihan Arsen. Benar-benar luar biasa.


"Gue juga gak bisa diem. Gue nyusul Arsen."


"Azril!!!"


◕◕◕


"Lu kenapa nyusul??"


"Suka-suka gua. Kok lu menyibuk?"


Arsen menatap sinis Azril.


"Apaa? Gak sorrr? Gue pecat lu jadi abang ipar!"


"Wtf." Azril tertawa melihatnya.


"Gue mau bantu lu ngabb, biar lu gak sendirian."


"Yang lain?"


"Ntah, mereka juga sibuk nyari. Bedanyaa, mereka nyari dari rumah." Arsen berohria.


"Satu mobil aja lah, ya??"


"Naik mobil gue. Masuk lu!" Azril memasuki mobil Arsen.


Arsen mulai berkendara menuju kawasan hutan tadi. "Lu kemaren nyari kemana aja?" Tanya Azril.


"Kemana-mana. Lu liat belakang, gue nemu beberapa barang Asya yang jatoh. Makanya gue bisa ikuti jejaknya."


Azril berbalik.


"Lu nemu ini semua?? Gimana bisa???"


"Gue rasa Asya yang jatuhin, buat tanda jejak. Kemaren jejaknya hilang tapi gue berhasil nemuin salah satu orang yang mencurigakan. Gue yakin sih itu penculiknya."


"Teruss gimana??"


"Gue kejerrr pake mobil. Dan yaaa, berhenti di area hutan itu."


Azril berohria sambil mengangguk paham.


"Udah hampir dua puluh empat jam, gue takut Asya kenapa-kenapa. Beneran dehh."


"Bukan cuma lu. Gue juga." Azril menghela nafas.


"Kenapa makin laju aja anjirrr?!"


"Biar cepet sampee."


Walaupun sering bawa mobil layaknya orang kesetanan, tapi Azril mendadak takut mati ketika merasakan Arsen semakin laju.


"Sen, gue belum nikah."


"Ya sama."


"Jangan laju kali anjngg. Gue takut!"


"Alah lemah."


"Arsen bngst!!"


Pengemudi itu tertawa kecil.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di hutan.


"Njirr. Se-horror ini dan lu tadi mau sendirii?"


"Halah. Ini mah gak ada apa-apanya. Udah, ayok!"


Setelah mengantongi pistol, Arsen berjalan ke area hutan itu. Azril pun mengikutinya, ia juga memegang pistol.


"Asya baik-baik aja kan, ya?" Tanya Azril tiba-tiba.


"Insya Allah, baik-baik aja." Jawab Arsen.


"Gue gak tau kenapa, firasat gue bener-bener gak enakk. Dada gue mendadak sesek banget." Arsen berhenti lalu menatap Azril.


"Bukan maksud apa-apa. Tapi beneran, dada gue sesek."


"Huhh.. Bismillah, gapapa."


Arsen masih berusaha positif thinking sebisanya, tidak ingin berfikir yang nggak-nggak.


Mereka kembali berjalan.


"Om, om!!"


Bodyguard Aska berbalik, "loh tuan muda?"


"Dimana lokasi rumah yang tadi di laporkan?" Tanya Arsen.


"Ikuti saya."


Arsen dan Azril pun mengikuti bodyguard Aska itu.


Cukup menakutkan rumahnya, letaknya juga jauh dari jalan pintas. Azril yang memang dasarnya penakut, semakin ketakutan.


"Dari luar nya sih udah keliatan gak ada siapa-siapa. Masih mau masuk?" Tanya Azril.


Arsen geleng-geleng kepala. Ia meraih ponselnya dan menghidupkan flashlight. "Lu disini aja kalau takut, gue masuk dulu."


"Aaa ikut-ikut!" Mereka berdua pun masuk bersama. Di dalam juga masih ada bodyguard yang berkeliling.


Rumah itu tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sama seperti rumah abu-abu. Perabotan di dalamnya utuh dan banyak debu.


"Siapa yang tinggal disini dulu?" Tanya Arsen keheranan.


"Kurang tau juga sih, mass. Tapi keliatannya, rumah ini udah lama banget gak di tempatin."


"Keliatannya begitu."


Arsen terus menusuri rumah, ia masuk ke salah satu kamar. Arsen di kagetkan dengan adanya boneka yang duduk di atas kasur.


Azril sendiri hampir menjerit melihatnya.


"Bener-bener lu yee. Penakut banget!" Cibir Arsen.


"Diem deh ahh. Bukan gue yang penakut, lu nya aja yang punya keberanian tinggi!" Arsen tertawa kecil. Ia menuju lemari pakaian.


"Aaa!"


Azril melompat dan berlari keluar kamar ketika melihat boneka lainnya berdarah.


Karena ulahnya para bodyguard datang.


"Ada apa, tuan muda??"


"Hah? Ituu, boneka serem."


Para bodyguard masuk ke kamar. Mereka melihat Arsen sedang memegang boneka itu dan menelitinya lebih jelas.


Perlahan tapi pasti, Azril masuk lagi.


"Sen, kagak takut luu?!" Arsen menggeleng.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Arsen membacakannya ayat kursi.


"Lu ngeruqyah boneka apa gimana si, peakk?!"


Mereka tertawa melihat ekspresi kesal Azril.


"Kalian tadi beneran udah keliling?" Tanya Arsen.


"Udah, mas. Tapi untuk buka-buka lemari, kami gak berani. Takutnya ada barang yang hilang atau sejenisnya."


Arsen berohria. Dari tadi ia santai, tak takut sidik jari menempel karena memakai sarung tangan.


"Ehh ehh..." Azril mendekat, melihat boneka yang dipegang Arsen.


"Ini tombol apa?"


Mereka menatap heran tombol itu.


"Gue pencet ya?" Azril langsung memencetnya.


"Open the door."


Dan yeah! Azril terkejut lagi.


Kali ini ia tidak melompat dan lari, tapi diam sambil mencari pintu mana yang terbuka.


Semua orang juga mencari-cari, tapi tak kunjung menemukannya.


"Pintu apa sih yang kebukaa?" Tanya Azril heran.


Arsen memberikan bonekanya pada Azril lalu mencari pintu itu sampai nungging-nungging.


Arsen menemukannya!


Bisa di katakan ruang rahasia. Pintu itu berada tepat di bawah kasur yang ada di kamar.


"Om, bantu saya geserin kasurnya." Mereka membantu Arsen, kini benar-benar terlihat jelas ruang rahasia itu.


"Mas mau masuk? Biar kami aja, yaa."


Arsen menggeleng, "saya ikut."


"Sen, gue begimanee?" Tanya Azril.


"Ya ayok masuk, kalau gak mau disini aja."


"Hmsuu." Mereka masuk ke ruang rahasia itu. Pintu otomatis tertutup membuat Azril terkejut lagi, ia mengelus dada untuk menenangkan diri.


"Terowongan apa ini?" Tanya bodyguard.

__ADS_1


"Keknya panjang sih ini." Sahut Arsen.


"Siapkan flashlight! Kita telusuri terowongannya."


Serentak, flashlight dihidupkan dan mereka mulai berjalan mengikuti jalur terowongan.


"Weh, demi apa ini serem. Gue gak kuat," keluh Azril.


"Ada pula calon imam begini takut sama hantu. Kasian Naina kalau jadi istri lu."


Azril langsung menatap sinis Arsen.


"Gue berani!!"


"Test. Maju duluan sana lu."


Azril langsung maju paling depan. Arsen tertawa melihat jalannya Azril yang ragu-ragu.


"Loh, ini apa?"


Mereka berhenti dan berbalik. Bodyguard Aska menemukan sesuatu.


"Ini... cincin tunangan Asya!"


Ujar Arsen terkejut.


"Hah?? Berarti Asya di sekitar sini??"


"Bisa jadi."


Arsen berjalan lebih cepat dari sebelumnya sambil memantau sekeliling. "Ada darah juga disini." Kata Arsen.


Deg!


Deg!


Detak jantung Azril tidak beraturan setelah mendengar perkataan Arsen.


Azril menyusul Arsen dam berjalan lebih cepat.


"Zrill, kenapa lu?"


"Darah... Gue takut, Asya—"


"Sstt! Jangan mikir yang nggak-nggak."


Azril mengatur nafasnya, "gue takut."


"Not only u."


"Inget pesan gue, jangan mikir yang nggak-nggak. Pikiran bisa mempengaruhi segalanya." Azril mengangguk.


"Ayok lanjut."


Mereka kembali berjalan.


Sesekali menemukan rambut palsu, potongan baju juga ada potongan jari. Sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluar terowongan.


Memang masih di area perhutanan, namun lain dengan hutan yang sebelumnya.


"Ehh, itu di depan sana macem rumah gak sih?" Tanya Azril.


"Iya. Rumahnya lebih kecil dari yang tadi." Jawab Arsen.


"Tuan muda sama Mas Arsen disini aja, biar kami yang check."


"Barengan lebih bagus, om."


Mereka menghampiri rumah itu.


Berbeda dengan bangunan yang sebelumnya, rumah ini terlihat berpenghuni.


Tok tok!!


"Permisi.."


Tok tok!!


"Assalamu'alaikum, permisi.."


Tok tok!!


"Permisi.."


"TIDUR!! GAK TAU INI MALEM YAA?! PERGI SANA! SUAMI SAYA GAK BAKAL NGERONDA DI LUAR!"


Mereka semua terkejut mendengar celoteh si pemilik rumah.


"Ngeronda di rumah ni yakin gue."


Ide jahil Azril muncul.


"Ini, buuu, mau promosiin alat pemuas nafsu. Alhamdulillah-nya nanti, suami puas istri tewas."


"Sylnd!"


Arsen dan para bodyguard menahan tertawa mendengarnya.


"BERAPA HARGA?!"


"Karena masih baru, khusus buat ibu kami gratisin."


"KHASIATNYA APA?!"


"Lancar sampe dua puluh empat jam, bu."


Ceklek..


"Gratis, kan?"


Bruk!!


Pintu langsung di tendang Arsen dan terbuka lebar.


"Apa ap—"


"Apwa swalwah swaywa."


"Diem. Bantu kami investigasi, Insya Allah ibu gak bakal terluka." Kata Azril sinis, wanita itu langsung diam.


"Kami izin geledah bisa, bu?"


Wanita itu mengangguk.


Arsen dan Azril berkeliling di sekitar, mereka melihat suaminya sedang tidur.


"Tidur beneran ini? Istrinya abis ndoak-ndoak lah. Kok ndak kebangun?"


Arsen menyenggol lengan suami wanita itu, seketika tangannya terjatuh. Azril menarik selimut dan terpampang wajah pucatnya.


"Ini... udah gak hidup, Senn."


Arsen Azril saling tatap.


"Iyaa, dia gak idup. Ini mayat suami saya."


"Hah?"


"WHAAAA—"


Arsen langsung menutup mulut Azril.


Azril menatap Arsen heran, jujur saja, ia ingin kencing di celana sekarang karena ketakutan.


"Jangan teriak." Bisik Arsen sambil melepas tangannya. Azril pun diam dan menutup sendiri mulutnya.


Azril memperhatikan Arsen lekat-lekat. Yang di tatap sedang melihat mayat itu lalu menoleh ke arah wanita tadi.


"Kapan meninggalnya?" Tanya Arsen santai.


"Tadi sore."


Arsen menarik semua selimut. Ia jelas melihat banyak luka tusukan di tubuh suami wanita itu, terutama di leher.


"Ini kenapa?"


"Itu? Saya yang tusuk pakai pisau."


Azril makin merinding.


Sedari tadi dirinya kebelet kencing dan sekarang ia teringin muntah melihat darah itu.


"Senn, gue gak kuat!!"


"Keluar sana."


"Ayoklah anjjj. Lu kenapa berani bangettt sih ahh?!"


Arsen menatap sinis Azril sekilas lalu menarik tangan Azril dan mendorongnya ke di dinding.


"Kalau lu mau pulang, pulang duluan. Jangan ganggu konsentrasi gue!"


Azril menghela nafas, "gue juga takut lu kenapa-kenapa anjng!"


Arsen mendekatkan bibirnya ke telinga Azril.


"Gue ngerasa ada sesuatu disini. Lu liat tatapan ibu itu, dia ngomong santai tapi tatapannya ngerasa bersalah. Semacam.. ada dalang di balik semua ini."


Azril melihat wanita itu. Dan benar kata Arsen, tatapannya merasa bersalah.


"Lu ngerasa juga gak sih?"


"Apa?" Tanya Arsen.


"Suara yang teriak, beda sama suara ibu ini."


Arsen berfikir keras lalu berbalik.


"Ibu cuma berdua sama suami?"


"Iyaa."


"Anak?"


"Anak saya sudah mati."


"Kenapa ibu bunuh suami ibu?"


"K-karena.. karena... karena dia gak bisa kasih saya uang."


Arsen menghampiri ibu itu dan memegang pundaknya. Para bodyguard tadi sedikit menjauh dari dekat Arsen.


"Jujur sama saya, saya bisa bantu selesaikan."


Ibunya menunduk.


Sangat lama menunduk.


Tapi tiba-tiba...


"Aghh!!"


Di luar dugaan, ibu itu menggigit leher Arsen lalu pergi keluar rumah.


"Mas?? Mas nya gapapa??"


"KEJAR IBU ITU, JANGAN PEDULIIN SAYA!"


Bodyguard itu pergi.


Azril sendiri menghampiri Arsen.


"Njirr, macem vampire gigitannyaa. Sakit, Sen??"


"Lumayan. Gigi taring ibu itu tajem."

__ADS_1


"Terus sekarang gimana??"


Prang!!


Barang terjatuh di dapur.


"Sen?"


Arsen lari ke dapur di susul Azril.


Mereka menemukan suatu penemuan yang mengejutkan. Tak di sangka dan tidak terduga.


"Ternyata gue bener, lu disini... Dinda."


◕◕◕


01.23


Kalian tau dimana mereka sekarang? Yeah, ruang bawah tanah. Bersama dengan Adinda dan satu orang wanita lainnya.


Di dalam ruangan hanya ada Aska, Azril dan Arsen.


Aska tidak mengizinkan orang lain masuk termasuk istrinya.


Aska malah menyuruh istrinya dan yang lain pulang ke rumah masing-masing. Oh iya, luka gigitan Arsen telat diobati.


"Okee. Hukuman lu bakal ringan kalau lu jujur sekarang." Arsen mendekati Adinda, "dimana Asya?"


"Gue bilang tadi kan GUE GAK TAU!"


Azril berfikir. "Ternyata tadi yang teriak lu, ya? Kalau teriak beda ternyata. Persis anjingg menggonggong gitu."


Arsen dan Aska tertawa mendengarnya.


"Impossible lu gak tau apapun. Lu di area hutan itu dan pastinya lu lewat terowongan itu. Kenapa lu bisa disitu?"


"Gue kesesat."


"Impossible, babyy. Eh maksudnya, babii."


Aska mendekat, "siapa yang bebasin anda?" Adinda menunjuk teman sebelahnya.


Meragukan.


"Dia?" Adinda berdehem.


"Dapat uang dari mana dan sebanyak apa? Kok bisa bebasin dia?"


"Bukan urusan lu juga dari mana. Udah deh, lepasin!"


Ketiga pria itu tersenyum smirk.


"It's time, daddy?" Aska mengangguk lalu mundur lagi.


Plak!


Plak!


"Tadinya gak mau kasarr, tapi lu bedua yang minta di kasarin." Ujar Azril.


"Jujur bae dah. Asya man—"


Drrtt.. Drt..


Ponsel Adinda berbunyi.


"Siapa, daddyy?"


"Unknown."


📞 "Halo. Adinda, kalian baik-baik aja? Jangan sampai ketahuan."


📞 "Hiks hiks.. hiks hiks.. plak! Ahhh! Sakitt!"


Aska, Azril dan Arsen membelalakkan matanya.


Itu tadi suara Asya!


Tanpa ingin membuat kecurigaan, Aska mematikan panggilan.


Arsen sendiri pergi keluar ruangan untuk mengambil laptop dan melacak. Azril juga membantunya.


"Zrill, ini biar gue aja. Lu perlu ngasih pelajaran keknya sama mereka berdua."


Azril menatap Aska.


Aska menyuruhnya untuk diam.


"Bukan bagian kalian." Kata Aska.


Azril benar-benar terdiam melihat daddy nya yang jelas terlihat bukan seperti daddy nya.


"Huhh.. masih mending di ringankan cuma penjara. Kenapa masih betingkah jadi orang?"


Aska menuju lemari yang ada di ruangan. Ia memakai sarung tangan dan mengambil tongkat golf.


"Siap untuk mati?"


Azril, Arsen dan kedua wanita itu pun merinding. Melihat daddy nya berjalan mendekati Adinda, Azril menutup mata.


"NOOO!!"


Azril kembali membuka mata, ternyata itu mommy nya.


"Istri lu perempuan. Anak lu perempuan. Kenapa gegabah banget sih jadi orang?!" Tanya Zia sinis.


"Aku gak bakal gini kalau Asya juga gak di siksa."


"Maksud kamu?"


"Mereka sekongkol sama penculik Asya."


Zia terkejut. Kini tangannya mengambil alih tongkat Aska.


Zia mengayunkan tangannya....


"Om, tante, kita urus yang ini nanti dulu. Ayok jemput Asya! Arsen tau dia dimana sekarang."


Zia pergi, Aska beserta dua anak bujang mengikutinya. Aska sudah menyuruh bodyguard untuk menjaga dengan ketat ruangannya.


Mereka berempat langsung masuk ke mobil masing-masing. Ya! Empat orang, empat mobil.


Baru hendak jalan, Aska menghadang mereka.


"Kenapaa?!" Tanya Zia sinis.


Aska memberikan earpiece. Untuk Arsen dan Azril juga.


"Sen, kirim ke whatsapp om lokasinya." Arsen mengangguk. Ia mengirim ke Aska, Zia juga Azril.


"Zia, ini bahaya sebenernya. Tapi aku tau, kamu Zia yang susah banget buat di bilangin. So, hati-hati jangan sampe luka."


"Iyaa. Kamu juga."


Aska tersenyum.


"Let's go!"


Jalan teramat sangat sepi jam segini, tapi salah satu diantara mereka gak ada yang takut. Termasuk Azril. Keberaniannya muncul tiba-tiba.


Setengah jam perjalanan, mereka tiba di tempat yang sama.


"Disini kan?" Tanya Zia, Arsen mengangguk.


"Tapi ini kafee anjritt. Udah tutup pula," ujar Azril.


"Gue nemu tadi emang disini."


"Udah. Ayok masuk."


Keempatnya mencoba masuk dengan cara memecahkan kaca. Iya, mecahin kaca!


Mereka menggunakan kemampuan bela diri untuk memecahkannya. Dan ternyata berhasil. Mereka langsung masuk dan berpencar.


Siapa sangka kalau kafe ini lebar dan banyak ruang. Butuh waktu lama untuk berkeliling menemukan Asya.


Arsen yang mencari seorang diri ke belakang, menemukan Asya yang sedang di bawa masuk ke mobil hitam.


Seketika itu juga Arsen manjat dan keluar lewat kaca lalu mengejarnya. Sadar makin menjauh, Arsen kembali ke mobil dan mengejarnya menggunakan mobil.


Lain hal dengan ketiga orang lainnya.


Mereka menemukan banyak pecahan kaca dan darah di beberapa ruangan.


Mereka berkumpul di tengah-tengah.


"Asya gak ada, tapi jejak kekerasan banyak."


"Arsen mana??"


Drrtt.. Drrt...


Aska mengambil ponselnya.


📞 "Halo, assalamu'alaikum, om. Arsen share lokasi terbaru. Maaf telat, tadi Arsen lupa bilang."


^^^"Wa'alaikumussalam, kenapa? Kamu di mana?"^^^


📞 "Di jalan. Arsen ketemu Asya lagi di bawa ke mobil. Sekarang Arsen ikutin dari belakang."


^^^"Om sama yang lain nyusul."^^^


📞 "Oke, om. Arsen sharelock dulu."


Aska mematikan panggilannya.


"Ayok pergi. Arsen berhasil nemuin Asya tapi di bawa kabur lagi." Azril dan Zia mengikuti Aska.


"Bismillahirrahmanirrahim, ketemu."


◕◕◕


Arsen berhenti ketika melihat mobil itu berhenti di pom bensin. Ia terus mengamatinya di mobil.


Dari dalam mobil, seorang wanita berbalik. Dan yak! Matanya Arsen benar, itu Asya.


Arsen melihatnya.


Asya sedang menoleh dari dalam mobil dengan mata yang berkaca-kaca.


Pemilik mobil itu pergi ke toilet tadi.


Arsen bergegas keluar.


Setelah keluar, Arsen melihat Asya menangis sambil menggelengkan kepala. Arsen terheran-heran.


Asya terus menggelengkan dan berkata "jangan" tanpa suara. Arsen tidak perduli, ia tetap mendekat.


Tok tok!!


Kaca mobil terbuka.


Rupanya Asya tidak sendirian di dalam.


"Kenapa??" Tanya pria bermasker itu.


"You need money?"


"Hahaha, aku tidak butuh itu, aku hanya butuh tubuh wanitamu untuk dinikmati."


Arsen murka.


"Fuckk u."


Dorr!!

__ADS_1


Dorr!!


__ADS_2