Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter seventy one


__ADS_3

06.03


Arsen bersiul-siul sembari keluar dari kamar mandi. Sekolah jadi hal menarik baginya setelah bertemu Asya.


Arsen yang masih memakai bathrobe mengambil ponselnya untuk menghubungi sang moodbooster.


...singa cantikku β™‘...


^^^"Assalamu'alaikum, cantikkk."^^^


πŸ“ž "Waalaikumsalam, pak biawak. Tumben telpon? Mo boloss?"


^^^"Nggak lah, yakali gue bolos."^^^


Arsen beranjak mengambil pakaiannya, baju muslim.


πŸ“ž "Terus kenapaa?"


^^^"Ya gapapa siii, cuma^^^


^^^mo denger suara bidadari aja."^^^


πŸ“ž "Nyeh!! Mandi sana lu ah, ntar telatt!"


^^^"Cie perhatiannn."^^^


πŸ“ž "Astaghfirullah, gue matiin ni yaaa!"


^^^"Eh jangan-jangannn, tar dulu ishh.^^^


^^^Gue mo nanyaa, lu mau di jemput kagak??"^^^


πŸ“ž "Nggakk, gue bareng Ajil sama bubuk micin aja. Dari pada jemput gue, mending dari apartemen lu langsung ke sekolah. Kalau jemput gue lagi kelamaan, yang ada lu telat."


^^^"Oke dehh, jangan lupa sarapann."^^^


πŸ“ž "Iyaaa, lu juga."


^^^"Tersipu gue dengernyaaa,^^^


^^^jadi gak sabar mo ketemu di sekolahhh!"^^^


πŸ“ž "Bacott, biawak!"


Asya langsung mematikan panggilannya, Arsen terkekeh.


Drttt... drtt...


...singa cantikku β™‘...


^^^"Kenapa?"^^^


πŸ“ž "Lupa salam, assalamu'alaikum!"


^^^Arsen tertawa,^^^


^^^"iya iyaa waalaikumsalam."^^^


Panggilan di matikan lagi, Arsen geleng-geleng kepala melihatnya. Ia mengambil peci hitam di atas meja, kunci mobil, tas dan sepatu lalu membawanya keluar.


"Sibuk ngebucinn aja ya, Arsen?!"


"Astaghfirullahalazim, om Mikkoo! Kenapa tiba-tiba nongolllll." Keluh Arsen kesal, Mikko nyengir kuda.


"Om bawa sarapan, makan dulu baru berangkat!"


"Lah tumbenn," Arsen tersenyum mengejek lalu menuju meja makan. Ia memakan sarapan yang di bawa oomnya.


"Makan yang banyakk, biar gak tulang semua kamu!"


"Arsen.. Arsen udwah gem--"


"Telen baru ngomong, kebiasan banget!" Arsen cengengesan. Ia meminum air putih setelah menelannya.


"Arsen tu udah gemukan omm, berat badan Arsen nambah satu ons."


"Kamu mau om geplak gak?!" Arsen tertawa.


"Pak Andre kemaren ke rumah om." Arsen menghentikan makannya kemudian menatap Mikko.


"Ngapain?"


"Silaturahmi katanya, dia juga minta alamat tempat pemakaman mama kamu."


Arsen kembali meminum air putih nya, "terus? Om kasih tau?" Mikko menggeleng.


"Om takut nya ntar di apa-apain, jadi gak om bilang."


"Top! Om Mikko best uncle." Arsen kembali makan.


"Setelah bertahun-tahun baru nanya, sok sikap manis pula. Bukannya seneng malah ilfil Arsen liatnya!"


Mikko tertawa, "om kira kamu seneng di gituin."


"Oh tidak om, itu cuma di mimpi om!" Keduanya tertawa.


"Udah gak terlalu emosian kamu? Biasanya bahas tentang mama atau pak Andre langsung auto ngamuk."


Arsen tersenyum, "Asya bilang gak boleh emosian, gak boleh bertindak gegabah, gak boleh kasar. Arsen renungin tadi malem, setelah di pikir-pikir kalau Arsen tetep jadi orang kek gitu, bakal gimana kedepannya?"


"Satu hal yang pasti, Arsen kehilangan Asya."


Mikko tertawa, "bucin banget kamu ya! Om aja gak pernah bucin gini!"


Arsen ikut tertawa, "om Mikko bucin sembunyi sembunyi! Arsen tauu laahhh!"


"Haha sotoy kamu. Eh iya, sebenarnya om kesini mau bilang sesuatu yang cukup penting jugaa."


"Apa itu, om?"


❀❀


Asya dan kedua bodyguard nya tiba di sekolah, suatu kebetulan, Arsen juga tiba di sana.


"Morning, babyy!" Sapa Arsen.


"Morning too, babii." Azril dan Racksa terkekeh mendengarnya.


Mereka berempat pun menuju ke kelas, tapi tiba-tiba terhenti karena..


"Asyaaa!" Ada yang manggil.


"Loh, om Raprapp?"


"Ini.. Aryuna, kan?" Tanya Racksa.


"Anak om?" Tanya Azril gantian.


"Iyaa, Aryuna anak om. Aryuna Keiji Pangestu. Bantu om jagain dia di sekolah boleh, ya?" Ujar Rafael pada mereka berempat.


"Alhamdulillahh, akhirnyaaaa Asya punya temen cewek lagiii. Siapp om, tenang aja nanti Asya jagain."


"Iya om, tenang aja. Kami jagain kokk hehe." Sahut Azril.


Rafael tersenyum senang, "makasih banyak yaaa."


"Iya om, santaiii."


"Yaudah kalau gitu om pergi dulu, ada rapat." Mereka serentak mengangguk.


Aryuna menyalami tangan papa nya, "jangan nyusahin kak Asya, ngerti?"


"Siap, bos!" Aryuna tersenyum senang.


"Hati-hati, omm." Rafael mengangguk sambil tersenyum, ia pun pergi meninggalkan sekolah.


"Kelas berapa?" Tanya Azril.


"Kelas sepuluh IPA 2, kak." Jawab Aryuna.


"Ayo kita anterin," Mereka berjalan bersama menuju kelas IPA 2 di lantai atas.


"Lu kenapa pindah sekolah?" Tanya Racksa.


"Di bully?" Tanya Asya gantian.


"Hah? Em.. yaa gitu kak, hehe."

__ADS_1


Asya menoleh ke samping, "kalau lu korban bully disini bilang sama gue."


"Mau lu hajar?" Tanya Azril.


"Nggak, kan ntar lu pada yang ngehajar."


"Asss-- astaghfirullah." Asya dan Aryuna tertawa.


"Sebagai cewek imutt, Asya harus kalem."


"Pretttt!!" Asya cengengesan.


"Woiii," mereka menoleh.


"Helloo kembarrr!" Sapa Arsen.


"Kembar matamuii! Sejak kapan gue jadi kembarannya dinosaurus?!"


"Sejak barusan," Arsen nyengir.


"Ehh, ini bukannya yang di kafe kemaren?" Tanya Dino.


"Iyaa, pindah ke siniii."


"Wahh.. seneng dong lu, sya. Akhirnya dapet temen normal." Asya tersenyum songong.


"Tapi gue takut, dia nyebarin virus gak normal. Kan kasian si Aryunaa." Sahut Azril.


"Diam kau takjil!" Mereka terkekeh.


"Ini udah sampe kelas nya." Ujar Racksa menyadarkan.


"Ah iya.. makasih kakak kakak udah anterin Yuna."


"Santai ajaa, ntar ke kantin bareng kalau mau." Yuna mengangguk setuju.


"Yaudah, kita ke atas dulu."


"Kalau di bully bilang!"


"Hehee, iya kakkk." Mereka berenam menuju lantai bawah.


"Cakep ya, Yuna." Puji Dino.


"Kan cewek," sahut Racksa.


"Semogaaa aja dia gak ketularan gila nya Asyaa! Kasian masi mudaaa."


Asya langsung menatap sinis Haikal, "pukul berapa?" Haikal diam sambil cengengesan.


Asya menoleh ke arah samping, Arsen terlihat diam saja tanpa suara.


"Mikirin apaaan?" Tanya Asya sembari menyenggol lengan Arsen.


"Nggak.. gak mikir apa-apa."


Asya berhenti lalu menahan tangan Arsen, Arsen pun juga berhenti diikuti yang lain.


Asya sedikit berjinjit untuk mengancingkan baju Arsen yang paling atas.


"Lu marah, kah? Tentang tadi pagi?"


Arsen menggeleng, "terlalu sepele buat di ambekin. Lagi pula gue gak bisa ngambek sama lu."


"Hm. Kalau ada masalah bilang, samsudin! Lagian lu pendem gimana pun juga gue tau lu bongak."


"Dip--" Mereka langsung membungkam mulut Dino.


Arsen tersenyum senang melihatnya. "Gue gak ada masalah apa-apa, seriusss." Asya langsung menatap nya sinis.


"Oke dehh, gapapa." Ia menoleh ke arah temannya yang lain, mereka berempat sedang adu mulut sambil berbisik.


"Lu pada ngapain?"


"Baca doa makan."


"Baca doa tidur."


"Baca pikiran."


Asya dan Arsen terkekeh, "goblokkkk!"


"Oii!"


"Ehh Dinda!!" Sapa Asya senang.


"Sama siapa? Sendirian lu?" Adinda mengangguk kecil.


"Lu bedua sejak kapan akur?" Tanya Haikal heran, mereka bingung harus jawab apa.


"Kan emang dekett," jawab Asya.


"No no, kemaren lu pada ngumpul ya?? Gak ngajak gue?!" Dino menyipitkan matanya.


"Gue juga gak di ajak, bro. Udah gak di anggep kita," Haikal merangkul Dino lalu jalan duluan.


"Astaghfirullah.. liat lah mereka berdua, udah tua tapi gak ingat umur!" Mereka tertawa.


"Woi tungguu elahh," Serentak mengejar keduanya.


"Apaaa?!"


"Ketemu dadakan doang kemarenn!" Arsen yang menjawab.


Haikal dan Dino berohria, "ya deh."


"Gampang amat baikannyaa!"


"Ribut itu ga boleh lebih dari tiga hari, jadi kami lebih sering ribut terus semenit kemudian baikann." Ujar Haikal.


"Sakkarepmu wae, mas!" Mereka terkekeh lagi kemudian berjalan menuju kelas.


"Lu makin cakep eyy pake peci item!" Puji Adinda pada Arsen.


"Thank you, lu juga cakep." Seketika Azril dan Asya menekuk wajahnya, terlihat kesal.


"Sya.." Asya menatap Azril.


Obrolan melalui kode mata pun terjadi.


'Panas gak?'


'Panas gak?'


'Panas gak?'


'Ya panas lah masa nggak!'


❀❀


15.32, rumah abu-abu.


"Eeebusett, apaan nii?? Kenapa halaman depan di giniin?"


"Mirip lapangan bola voli, anjritt!" Sahut Azril.


"Misi, pak. Ini mau buat apa, ya?" Tanya Haikal.


"Oh, inii, tadi di suruh sama pak Aska buat lapangan voli, mas." Asya menutup mulut tak percaya.


"Omaygat!"


"Mommy daddy dimana, pak?" Tanya Azril.


"Di dalem, mas." Asya dan Azril berlari ke dalam rumah abu-abu.


"Dah ku duga bakal begini kelakuannya!" Asya dan Azril cengengesan lalu menyalami tangan orang tuanya.


"Ni buat Asya!" Zia memberikannya satu kotak cukup besar.


"Ini untuk Azril!" Aska gantian memberikan satu kotak yang sama.


Asya dan Azril saling tatap, "buka gak nih?"


"Gak usah, jil. Simpen aja, jadiin pajangann!" Mereka tertawa melihatnya.


"Oh, ada tamu juga rupanya. Mo minum apa anak-anak?" Tanya Zia.

__ADS_1


"Eh, gak usah repot-repot tantee." Adinda mewakili.


"Wahh, ini siapa? Daddy baru liat."


"Saya Adinda, om. Temennya Azril," Aska dan Zia saling tatap.


"Temen apa temen?" Goda keduanya.


"Gak usah ngaco, daddy! Udah punya pacar diaa." Aska dan Zia tertawa.


"Bilang aja nunggu putus!"


"Yahh ketahuan kedoknya, om!" Sahut Dino, mereka tertawa.


"Dahh ssstt, diam. Menegangkan inii, mau buka hadiah." Ujar Asya sambil tarik nafas.


"Itungan ke tiga buka ya, jil?!" Azril mengangguk.


"Satu.. dua.." Azril membukanya.


"Waaahhhh, i like it. Thank you mommy, daddyy!" Aska dan Zia tersenyum. Azril mengeluarkan bola futsal dan dua sepatu futsal pemberian orang tuanya.


Asya yang geram memukul lengan Azril, "itungan masi sampe dua ya pinter! Buat emosi aja lu!"


Azril tertawa, "excited saya. Buka punya lu, sya!"


Asya pun membukanya, "emejing! It's so beautiful!!" Isinya sama, dua sepatu dan satu bola. Tapi Asya punya bola voli.


"Thank you mommyy, daddy!!"


Aska dan Zia mengangguk, "lapangan voli di depan ya. Lapangan futsal di belakang."


"Emang muat ya, om?"


"Ettss, jangan salah. Rumah iya keliatan kecil, tapi halamannyaa kan gedeee."


"Kerrreenn!" Puji mereka bersamaan.


"Eh iyaa, tadi di dapur ada brownies. Bentar ya, tante ambilin." Zia pergi mengambilnya.


"Nanti di ambil sendiri bisa kokk, tan. Gak perlu repot-repott," ujar Haikal.


"Helehh, repot apanyaa." Zia memotong brownies itu lalu membawanya ke ruang keluarga.


"Daddd, ini bola voli asli?" Aska mengangguk.


"Terus ini sepatunya?? Bukan buatan lokal, kan? Ketebak dahh."


"Ya emang bukan buatan lokal, daddy ambil langsung dari toko. Ini baru balik."


"Hahh?!"


"Daddy mu ngajak langsung ke toko nyaa, padahal di luar negeri. Gak percaya? Liat di luar, mobil gak ada di sekitaran rumah abu-abu." Sahut Zia.


"Luar biasaaa, uncle Aska!!"


"Jangan di gituin, Racksaa. Ntar naik telinga nya, ribet, lupa jalan pulang!" Mereka terkekeh.


"Kok gak mampir momm?" Tanya Azril.


"Daddy mu gak mo mampirr, abis ambil barang langsung ngajak pulanggg."


"Biar cepet." Aska cengengesan.


"Oiyaa, kalian bertiga kalau main di sekitaran rumah aja, di sekitaran komplek!"


"Kenapa gitu, daddy?"


"Ada satu orang bahayaa, daddy takut nya dia celakain kalian bertiga. Dan karena itu, setuju atau tidak setujunya kalian, daddy tambah bodyguard buat di sekeliling rumah abu-abu."


"Seriously?!" Aska dan Zia mengangguk.


"Daddy juga bakal buat, akses masuk rumah abu-abu pake identifikasi sidik jari."


"Terus, nanti kami masuk gimana om?" Tanya Dino.


"Ya kalian nanti bisa pake sidik jarii jugaa." Jawab Aska.


"Wahh.. debes betul om Aska nii." Puji Haikal.


"Tiati papa mu cemburu ntar karena muji om." Haikal cengengesan.


"Dah sana, main bola nya tuh. Net-nya udah di pasang," suruh Zia.


"Ada tujuh orang, bagi dua tim, deal?!"


"Deal!!"


Terpilih lah dua tim.


Asya, Arsen dan Dino di tim satu sedangkan Adinda, Azril, Haikal dan Racksa di tim dua.


Selesai pembagian tim, mereka berdua menuju lapangan bola voli. Mereka bermain juga sambil tertawa ria karena melihat permainan Racksa.


Satu hal yang baru terungkap, ternyata Racksa tidak bisa main voli.


"Break bentar!!" Mereka ke teras rumah, air mineral pun sudah tersedia untuk di minum.


"Gue masuk dulu ye, mo ke kamar mandi." Pamit Arsen lalu pergi. Asya mengejarnya dengan alasan ingin mengambil susu.


Dari kejauhan ia melihat Arsen berbicara dengan Aska sebentar lalu Aska kembali ke sebelah Zia yang tertidur.


Arsen masuk ke kamar mandi dekat dapur, Asya pun mendekati dapur.


"Eh lu ngintip?" Tanya Arsen sedikit berbisik.


"Nggaklahh, gue ngambil susu doang."


"Mau satuu." Asya memberikannya satu pada Arsen, mereka meminumnya sambil duduk di kursi dekat meja makan.


"Gue perhatiin dari tadi. Lu kenapaa si? Beneran ada masalah?"


"Yang lain mana?" Arsen mengalihkan pembicaraan.


"Ya di luarrr. Dah dehh, gak usah alihkan pembicaraan! Lu kenapaa?"


Arsen menghela nafas, "gue gapapa kok."


"Gak seru ah, bye!" Asya beranjak pergi.


Arsen langsung mengejarnya, ia menarik Asya hingga berada di pelukannya.


"Om Mikko tadi pagi ke rumah, dia bilang akhir-akhir ini nyokap Alex usik dia lagi. Dan dia teruss cari gue," ujar Arsen masih sambil pelukan.


"Nyari lu buat apa?"


"Di musnahkann. Warisan pak Andre masih beratasnamakan gue."


"Sekarang nyokap Alex udah tau??"


Arsen menggeleng, "Alex juga gak tau sih tentang ini. Dia sibuk usaha juga sibuk enaenaaa."


"Teruss?? Lu kenapa daritadi??"


"Tamat SMA gue di suruh ke Kairo."


Asya melepas paksa pelukan, "gak usah ngaco!"


"Gue seriusss. Gue di suruh kuliah di sanaa, sekaligus bantu adek perempuan mama." Asya terdiam.


Melihat Asya hanya diam dan matanya sedikit berkaca-kaca, Arsen bingung harus berkata apa.


"Tapi, syaa.."


Asya menatap Arsen, "gue boong."


"Mati aja dah lu sana! Nyebelin tau gakk!!" Arsen tertawa.


Sebenarnya yang di katakan Arsen itu suatu kebenaran, akan tetapi Arsen tidak tega melihat mata Asya yang berkaca-kaca seperti tadi.


"Kalau beneran gimana??" Tanya Arsen.


Asya memeluk Arsen duluan, "gue gak mau temenan sama lu!!"


γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘


Hi, aku come back :^

__ADS_1


__ADS_2