
"Wahhh, aku nggak mau kita ke pantai karena ini. Kamu jadi pusat perhatian banyak orang"
Asya menggoda lawan bicaranya, "Jadi ceritanya kamu cemburu ya sayang?"
"Sangat sangat sangat sangat sangat cemburu" Asya tertawa.
"Harusnya kamu bangga dong, calon istri kamu yang cantik ini jadi pusat perhatian"
"Gak gak gakk, aku gak bisa berbagi"
"Bisain dong, bisa yaa aku mau pedekate tuh sama bule ganteng"
"Jangan macem-macem!!" Asya tertawa keras.
Dia menjauh, "Jangan macem-macem sayang heh!!"
Asya tidak mendengarnya dan terus berjalan mundur sambil tersenyum. "Asyaaa!"
Pria yang bersama Asya tadi berkacak pinggang sambil melihat Asya. "Awas kamu ya kalau ketangkep aku makan hidup-hidup"
"Nggakk dengerrrrr" teriak Asya.
"Terima hukuman kamuuu kalau aku tangkap nanti!!"
"Tessss"
Pria itu pun berlari mengejar Asya, mereka berlarian di pantai.
"Nah kan dapettt kamuu"
Asya dipeluk dari belakang. "Mau hukuman apa kamu sayang?"
"Nggak mau hukuman apaapuunnn"
"Gak acikk dong"
"Isshh"
"Yaudah aku kasi hukuman ini aja"
Pria itu mengecupi pipi Asya terus menerus, "Hihi gelii sayangg"
◌◌
"Geli sayang geli sayang, gue juga geli dengernya munaroh!!"
"Woi bangunnnn"
"Gada pilihan lain Zrill, ayo siram"
Byurr
"Haaah" Asya terbangun.
"Kamprettt kaliann!"
"Ckckckck, dibangunin bukannya berterimakasih. LIAT JAM BEGOOO! JAM BERAPA INI?!"
Asya langsung melihat arah jam. "Jam tujuh?? Aaaaishhh, kenapa gak bangunin dari tadiii" Asya lompat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
"Gak bangunin apaaa? Kita udah ndoak-ndoak ya jingann" jawab Racksa.
"Yoda yaaa maapp WEKAWEKA"
"Buruan dah lu ahhh, kita sarapan apa ini?!!"
"Makan di kantin ajaaaa"
"Gak usah sok banyak duit dehh!!"
"Gue yang bayar ntar. Dah buruan"
"Lu debes saaa, lop lop dehhh"
"NAJISS"
"HAHAHAHAHAHA"
▪▪▪▪▪
Azril menuju kelasnya sendirian setelah sarapan dikantin tadi, "Woy handsome boy" Viona menghampiri Azril.
"Darimana lu?"
"Abis ketemu pak Jarwo, tadi dipanggil"
"Dipanggil kenapa?"
"Biasala, nanyain Arsen"
"Nanya gimana? Nanya lu kapan pacaran sama Arsen gitu?"
"Ehhh lo tau darimana?? Asya cerita?"
"Lah bener? Sumpah demi apapun gue cuma nebak"
"Azril fakk" Azril tertawa melihat muka Viona malu-malu.
__ADS_1
"Serius, Vi?? Yang bener lu? Lu pacaran sama Arsen?"
"Diamm"
"Wahhh cucok meong"
"Azril!!!"
"Hahaha"
Dari kejauhan Adinda melihat interaksi mereka berdua, melihat Azril tertawa karena berbincang dengan Viona. "Cowok model Azril cuma bisa bacot doang, gak ada isinya. Gue yakin sih dia cuma manfaatin lu"
"Gue yakin Azril gak gitu orangnya"
"Dah la ayok ke kelas"
Adinda dan Jessi --teman Adinda-- pergi menuju kelas.
Mereka tiba di kelas bertepatan dengan datangnya guru.
"Selamat.. pagi anak anak"
"Pagi bu-- eh bu Ica?" tanya Haikal.
"Kok balek lagi buk??" tanya Dino.
"Saya tau, ibuk rindu saya kan?" sahut Azril.
"Kalian bertiga, bener bener pengen ditampol ya?" Ketiganya tertawa.
Haikal terheran-heran kenapa emaknya disini? Padahal projek sebulan mengajarnya sudah lewat.
"Kalian apa kabar? Baik-baik aja pasti. Kalian harus baik-baik aja meskipun terlihat rapuh, oke?"
"Oke bu" jawab mereka serentak kecuali tiga charming.
"Ibu kejedut dimana ya??" tanya Azril.
"Kita dikacangin. Jawab dong bu, kenapa ibu balek lagi?" tanya Dino.
"Karna gak ada wali kelas yang secantik saya, dan gak ada wali kelas sesabar saya. Jadi, jangan protes"
"Buka buku, kita masuk materi berikutnya"
"Oh ayolahh, jadi anak kalem lagi dong gue kalau gini?!!" keluh Haikal pelan namun terdengar oleh Azril.
"Malang nasib mu nak"
"Lu pikir lu bisa leluasa kalau ada emak gue? Kagak woi!"
"Bukk, Haikal sama Azril gibahin ibu"
"Fikss, Dino laknat kebangetan" Dino mengedipkan sebelah matanya lalu cengengesan.
"Gibahin apa kalian??"
"Gak gibahin apa-apa kok buk, cuma ini tadi Haikal bilang ibu makin cantik makin baik terus katanya bu Ica gabakal pernah kasih kita tugas lagi, yakan cal ya?"
"Hah? Eh i-iya bu"
"Mampusss guaa" bisik Haikal. Dino yang berada di kejauhan tertawa.
"Saya makin cantik iya, makin baik tergantung gimana kamunya, kalau ga bakal kasih kalian tugas? Ahaha tidak terkabulkan"
"Sekarang saya kasih tugas, satu tim dua orang"
"Tugasnya melakukan pengamatan, terserah pengamatan nya apa tidak saya tentukan. Oh ya, jangan lupa buat laporan hasil observasi-nya"
"Untuk tim, saya yang pilih"
"Gak bisa milih sendirii tan-- eh buk??" tanya Dino.
"Gak bisa, kalian kalau tim nya milih sendiri jadi egois"
"Sudah, jangan protes lagi dan simak baik-baik"
◆◆
"Ma, mama dipecat jadi dokter?? Kenapa balik lagi jadi guru??" Haikal menemui Ica secara pribadi, di ruangannya.
"Lihatlah, betapa laknatnya anak ku"
"Dengar ya, ini perintah. Kamu gak ngerti jadi diem aja"
"Ma, mengertilah Haikal--"
"Mama jadi guru juga bukan mau mantau kamu kali, ini perintah langsung dari atasan di SMA Super"
"Dari siapa ma? Maksud Haikal namanyaa?"
"Ssstt, gaboleh kepo. Mending kamu ke kantin belikan mama bakso, mama tambahin uang jajan kamu"
"Mana duitnya?" tanya Haikal.
"Ya pake duit kamu"
Haikal menatap kesal mamanya, Ica hanya tertawa melihat anak nya kesal.
__ADS_1
Ica pun membuka laci meja lalu mengambil uang lima puluh ribu, "Cukup"
Haikal mengangguk.
"Jangan boros-boross"
"Iya mama. Makasihh ma, mama is debes"
Haikal keluar dari ruangan mamanya menuju kantin.
"Mbak saya booking bakso untuk bu Ica"
"Sekarang?"
"Ntaran siap saya makan, jangan dihabiskan. Saya pesen satenya makan disini" Penjual kantin mengangguk-angguk.
Haikal menghampiri meja teman-temannya.
"Apa kata tante Ica?" tanya Dino.
"Ini perintah langsung dari atasan. Ah ntahlah, lagian emak gue bilang dia ga mantau gue. Jadi gue hidup tenang"
"Terus kalau nyatanya mantau lu gimana?" tanya Racksa.
"Jangan buat gue mikir!" mereka menggelengkan kepala.
"Eh sya, lu mimpi apa si tadi pagi?" tanya Azril.
"Apa emang??"
"Ditanya malah nanya balik" Asya cengengesan.
"Lu tadi bilang, geli sayang"
"Aaaaa itu, gue juga bingung mimpi apa. Gue lagi di pantai sama cowok yang mukanya gak keliatan jelass. Tapi sumpah, di mimpi tu kek gue sayang banget gitu sama tu orang"
"Whaaa misteri"
"Cakep ga orangnya?" tanya Azril.
"Kaga nampak mukanye bangsull, astaghfirullah!"
Azril berohria, "Sumpah pengen nabok mukanya" Azril senyum pepsodent lalu melanjutkan makannya.
"Bisa jadi Arsen ituuu apa ngga pak Fauzi" ujar Haikal.
"Atau bisa aja gue" sahut Dino.
"Kalau lu bukannya jadi mimpi buruk?" tanya Racksa.
"Bangsatttt"
"Sudah kubilang sejak awal, dia duplikat Alvin!" Racksa tertawa.
"Btw, lu ada tugas di suruh kelompok gak? Bahasa Indonesia?" tanya Haikal pada Asya. Asya mengangguk lesu.
"Lu setim sama siapa?" tanya Dino.
"Arsen"
"Wahh.. pertanda jodoh di depan mata"
"Jodoh jodoh matamu" Dino cengengesan.
"Lu pada sama siapa?" tanya Racksa.
"Lu sendiri?" tanya Azril.
"Tara"
"Oiya si Tara mana??"
"Masih ada di kelas lagi puasa katanya" jawab Asya.
"Terus lu sama siapa Cal, Din??"
"Gue sama Viona" jawab Haikal.
"Gue sama Maudi" sahut Dino.
"Lu, Zril??"
"Adinda" Asya menjatuhkan garpunya.
"Serius?! Gak mau tau, lo kudu tukeran sama Haikal!!"
"Mana bisaa" jawab Dino.
"Aishh, terus si Alex??"
"Dia sama Reva" jawab Haikal.
"Aaa ga setujuuu, gue bukannya mau kekang lu deket sama cewek mana pun, gue cuma takut lu kenapa kenapaa kalau sama Adindaa. Tukeran dongg, yaa?"
"Gue tau kok lu cuman khawatir"
"Gak usah khawatir, gue bakal baik-baik ajaa, oke?"
__ADS_1