Barbar Generation

Barbar Generation
Pasar tradisional 2


__ADS_3

Asya dan Arsen pergi.


"Malu yaaa lu, salting yaaa"


"Apaan siii, diem lu, biawak"


"Hahaha"


"Abis ini mau kemana??"


"Kita ke lantai atas"


"Berapa lantai coyyy??"


"Tiga ntah empat, tapi di lantai tiga sama empat itu bukan pasar sih. Kek kafe gituu"


"Ada pulak buka kafe area sini, siapa yang tau?"


"Lah gue tau"


"Maksud gue yang lainn, kan belum tentu tau"


"Di depan kan ada spanduk nya goblocckk"


"Gue gak ngeliat"


"Begoo s-- ihh kyuttt" Asya menarik Arsen ke area pernak-pernik.


Asya mengambil bendo bermotif bunga-bunga lalu meletakkannya ke kepala Arsen.


Dia terkekeh, "Arsennn lu kiyutttttt bangett hahahahah"


"Wah parah, di nistain guee" Arsen pura-pura marah, di lubuk hatinya dia merasa bahagia melihat Asya tertawa.


Arsen mengambil kacamata berwarna merah, dia memakaikan nya ke Asya.


"Anjirrrr ngakakkk" Arsen gantian tertawa.


Asya mengambil ponselnya untuk berkaca, bukannya marah dia malah tertawa melihat kacamata itu.


"Kalian bedua cocok bangett ya, sama sama ganteng, sama sama cantik" puji ibu penjualnya yang sedari tadi memperhatikan mereka.


'Fakk!! Udah dua kalii' batin Asya.


Asya tersenyum kikuk, "Dia bukan manusia buk" jawab Asya pura-pura berbisik.


"Jadi apa, mbak??"


"Dia buayaaa" Ibu penjual tertawa, Asya juga ikut tertawa kecil.


"Syirik banget emangg"


"Sebenernya ya buk, dia juga bukan manusia"


"Jadi apa dong??"


"Singa betina, beuhh beneran kea singa buk"


"Pakyuuu Arsen" Arsen gantian tertawa bersama ibu penjualnya.


"Kalian masih lama pilih-pilihnya??" tanya ibu penjual.


"Kenapa, buk?"


"Saya mau ke kamar mandii, kebelet bangett. Jagain bentar bisa kan, ya??"


Asya mengangkat jempolnya, "Santai buk. Ada Arsen disini"


"Lah guaa" Asya mengangguk sambil tersenyum.


"Yaya sudah saya ke kamar mandi dulu" Ibu itu pergi. Asya kembali melihat ke pernak-pernik yang ibu itu jual.


"Sen, coba pake inii" Asya memberikan cepit rambut motif bunga bunga juga.


"Mana bisaa" Asya mendekat memasangkan ke rambut Arsen. Bendo tadi masih tetap di atas kepalanya.


Asya mengambil kacamata yang sama lalu memakaikan nya pada Arsen.


"Subhanallah!! Arsen cakep bangetttt. Hahahaha" Asya terkekeh lagi.


"Dzolim sekali kamu, nakk" Asya tetap terkekeh.


"Gantiannn"


Arsen mengambil bendo serupa lalu memasangkan ke Asya.


"Gue gak boong, lu imutttt bangett" Asya berkaca di ponselnya.


"Uwaww, gue jadi feminim dalam satu malamm" Arsen tersenyum, dia menarik ponsel Asya lalu mengambil beberapa foto tanpa melepas pernak-pernik tadi.


Mereka berfoto dengan gaya konyol, lagi-lagi Asya terkekeh melihat hasilnya.


"Kirim ke whatsapp gue ntar" Asya mengangguk.


Dia memilah satu foto paling kocak kemudian memasukkannya dalam snapgram dengan caption banci kaleng.


"Gada udel nya emangg" Cibir Arsen yang mengintip.


"Lu ganteng kok, sen, tetep ganteng"


"Gue ganteng emang. Orang ganteng digimanain pun tetap ganteng" ujar Arsen dengan pedenya.


"Sedikit geli mendengarnya" Arsen langsung menatapnya sinis. Asya mengangkat kedua jarinya, "Peace hehe"


"Btw, gak lucu kalau cuma make doang tapi gak beli, lu mau beli yang mana??" tanya Arsen setelah melepas barangnya tadi.


"Gue pengen inii" Asya menunjuk gelang.

__ADS_1


"Couple kan ini, oke beli dua. Satu buat gue"


"Karepp muu"


"Terus lu mau yang mana??"


"Gue mau cincin inii, keknya kyut gitu kalo di pake" Arsen mengambil satu lalu mencoba di jarinya.


"Tuhkan, cakepp"


"Gue juga mauuu" pinta Asya.


"Cincin lo udah ada yang emas peakk" Asya menunjuk jari manisnya.


"Masih kosong"


"Lu ngode mau diajak nikah muda?"


"Kagakk la gilaaaa" Arsen tertawa, dia memilihkan cincin untuk Asya.


"Oke ini cobaa" Arsen mengangkat cincin dengan sedikit motif bunga.


Arsen mengambil tangan Asya lalu memasukkannya, "Pass"


"Lamarann yaa??" Ibu penjualnya datang.


"Eh nggak lah buk" jawab Asya.


"Hahaha salah tingkah mbaknya, jadi kalian mau beli yang mana??"


"Ini buk, cincin dua sama gelangnya dua. Berapa?" tanya Arsen.


"Dua puluh empat ribu ajaa"


Asya menahan gerakan tangan Arsen, "Lu udah bayar es tadi" Asya membayar ibunya dengan selembar uang dua puluh ribu dan uang sepuluh ribu.


"Sisanya buat ibu aja"


"Mbaknya baik bangett, makasih yaaa. Semoga cepat jadian kalian"


"Haha iya aamiin buk" jawab Arsen.


"Dasar biawak" cibir Asya pelan.


Ibu itu tertawa lagi.


"Kami pergi dulu buk, makasihh ya"


"Iya sama-sama, makasih juga sudah dijagainn" Asya tersenyum. Mereka berdua pergi dari tempat pernak-pernik.


"Kemana lagi tuan putri?" tanya Arsen.


"Tunggu, sebelumnya gue mau tanya" Arsen terpaku.


"Tanya apa?"


"Ini asik, ini gak ngebosenin. Gue sukaa"


"Seriuss luu, kalau gak suka jangan dipaksain. Kita pindah sekarang"


"Astaga, serius syaa. Gue suka kok, gue suka apalagi sama lu"


"Aihs, biawak" Asya mendahului Arsen, Arsen tersenyum lalu mengikuti Asya.


"Lu masih galau kagakk?" tanya Asya sambil melihat cincinnya.


"Kagakk, galau gue itu cuma sepuluh persen. Emmm, lima persen deng. Dan udah ilang berkat lu"


"Iyainnnnn"


"Woppp" Asya mundur.


"Jajanan tradisional, lu mau gakk?" tanya Asya.


"Lu belum kenyang??"


"Udah tadi, sekarang nggak" Asya cengengesan.


"Perut karet"


"Budee, saya beli dadar gulungnya dua, pastelnya lima, keleponnya dua bungkus, risolnya tiga, kue lapisnya satu, telor puyuh tusuknya dua. Berapa bude?"


"Lima belas ribu neng" Asya memberikan dua puluh ribu untuk bude yang jualan.


"Makasih budee" Asya pergi.


"Neng kembaliannyaa"


"Untuk bude ajaa" jawab Asya tersenyum, dia pun pergi menuju tangga meninggalkan Arsen.


"Mas nya beli apa?" Bude itu menyadarkan Arsen dari lamunannya.


"Nggak bude, udah itu tadi. Makasih bude" Budenya tersenyum, Arsen langsung mengejar Asya.


"Kaget guee liat luu mesen itu semua. Emang sanggup ngabisinn??"


"Sanggup lahhh"


"Yakinn?? Gue mauu"


"Kita ke kafe atas yaa, yang paling atas. Sekalian minumnya biar kagak seret" Arsen mengangguk.


Mereka pun menuju kafe lantai atas melalui tangga, Arsen ngos-ngosan ketika tiba. Dia langsung duduk di satu kursi kafe.


"Kenapa gak naik lift si tadi, pegel guee" keluh Arsen.


"Alayyy" Ledek Asya cengengesan.

__ADS_1


"Lu minum apa?"


"Jus... jus jeruk"


"Penyuka jeruk" gumam Asya, Asya mengangkat tangannya memanggil pelayan.


"Pesen apa mbak, mas?"


"Jus jeruk satu, jus alpukat satu"


"Di tunggu ya mbakk" Pelayan itu pergi.


"Udara malam disini seger banget gak sih? Gue suka" Ujar Asya yang sudah berdiri dekat pembatas.


"Iya gue juga suka, apalagi nikmatinnya bedua sama lu"


"Biawakk lu biawakkk" ledek Asya.


"Gue udah tobat lahh"


"Gak yakinn"


"Ngeyell dihh"


Drrrtt... Drrtt..


"Bentar yaa" Arsen mengangguk.


📞 "Assalamu'alaikum sya lo dimana kalo balik jangan lupa beli minuman kaleng sama susu ya udah abis nih dirumah oh iya jangan lupa jemput Tara biar tidur disini kan kemaren lo bilang pak Fauzi pergi jadi ajak aja kemari yaudah gitu aja assalamu'alaikum"


Azril mematikan panggilannya. Asya melongo mendengar penuturan kembarannya itu.


"Ni anak gilaaa pastii"


Arsen menatapnya bingung, "Kenapa??"


"Si Azril ngomong ga pake titik koma. Nyerocos dalam satu tarikan nafas. Gila kannn?" Arsen malah tertawa.


"Ngomong apa aja?"


"Minta beliin minuman kaleng sama susu terus suruh gue jemput Tara"


"Jemput Tara? Kenapa?" tanya Arsen.


"Tara sendiri di apartemennya, kak Fauzi pergi dinas"


"Lo kok tau??"


"Kemaren dia izin kerumah"


Degg!!


Arsen sedikit... patah hati, dia cemburu.


"Mbak mas ini minumannya" Asya dan Arsen kembali duduk.


Asya menikmati jus nya di selingi dengan jajanan tradisional yang dibeli tadi.


"Lu beli lapisnya cuma satuu?? Gue kan mauu"


"Lu kagak bilang ya paijoo"


"Masih shock gue liat luu tadi, jadi gak sadar"


"Shock liat gue??"


"Hmm, kayak singa betina kelaparan"


"Alasannn loo, bilang aja shock liat gue karena gue terlalu cantik"


"Dihh pedenyaaaa, tapi emang bener sihh"


"Sungguh, kamu banyak bacott biawak"


✥✥✥


22.57


"Makasih udah di anterinn"


"Makasih juga udah nemenin gue, udah ngehibur gue" Asya tersenyum.


"Masuk gih" suruh Arsen, Asya mengangguk lalu masuk bersama dengan Tara.


Sebelum membuka pintu, dia berbalik. "Lo hati-hati, jangan ngebut"


Arsen mengangguk sebagai balasan. Asya pun masuk ke rumahnya. Melihat Asya sudah masuk, Arsen pun pergi.


"Nah akhirnya lo balik juga, mana susu guee?"


"Lu mana punya susu" sahut Racksa.


"Mati aja sono luu"


Racksa tertawa.


"Tara lu tidur kamar gue yaa" Tara mengangguk. Asya mengajak Tara menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dengan baju tidur. "Gimana sya ngedate nya? Lancarr?"


"Ngedate apa siii ngacooo" Azril cengengesan.


"Kamu tadi bedua sama Arsen kemana??"


"Bayar utangg" jawab Asya.


"Kalian bedua tu cocok tau, kalau jadian pasti jadi viral"

__ADS_1


'Anjirrrrrrrrrre udah tiga kaliiii!!'


__ADS_2