
"Panas itu, sayang. Pelan-pelan makannya," omel Arsen melihat Asya makan. "Hwahhh! Panasss," keluh Asya masih mengunyah.
"Udah aku bilang pelan-pelan, ngeyel sih. Minum dulu minumm," Arsen memberikan minumannya pada Asya. Dengan santai Asya meminumnya sampai habis.
"Kamu pesen minumnya lagi yaa. Minum kamu aku abisin," ujar Asya cengengesan. Arsen mengacak pucuk rambut Asya.
"Maaaff..."
"Gapapaa, nanti aku pesen minum lagi."
"WOI! PLISLAH!! Kami cuma pajangan disini?!" tanya Dino esmoni.
Asya dan Arsen pun menoleh.
"Oh, hai."
"Respon macam apa ini?! Ngajak geger geden ya lu bedua!!" Bukannya menjawab, Asya dan Arsen malah tertawa.
"Gue gak iri, tapi tolong ya, jangan di depan gue!" kata Alex kesal.
"Sebenernya iri kan?" tanya Arsen menggoda.
"Jangan ampe gue pelet ntar tu Asya ya, biar dia menjauh dari lu!" ancam Alex sinis.
"Gue masukkan ke dalam tanah mampusss lu!"
"Bac—"
"Lu bedua minggat sana! Ini lagi makann, jangan berantem sekarang ga bisa?!" Asya bersuara mewakili yang lain.
"Bukan salah gue, Syaa."
"Mo salah lu kek, mo salah mantan lu kek, gue gak peduli. Mending diem, gue mau menikmati makanan!"
"Iya iyaa. Cerewet."
Asya auto menatap sinis Alex.
"Sen... bantu gue," bisik Alex.
"Ga ikut gue mah. Salah lu sendiri bangunin singa," jawab Arsen santai.
"Ah! Gak bespren lu."
"Astaghfirullah, masih nyocot muluu. Gue lempar sumpit ya lu bedua?!" ujar Ara ikut marah.
"Jangan atuh. Lempar hati lu aja ntar gue tangkep," goda Alex.
"Lex.."
"Mampuss lu, pawangnyaaa turun tangan!" ledek Dino. Mereka tertawa melihat ekspresi Alex.
"Udah udahh, diem lu pada! Kita lagi makan ini," kata Shaka menengah.
Semua melanjutkan makan dengan santai sambil sesekali saling menyuapi pasangannya. Agak kasian si sama Racksa, Dino, Alvin, dan Alex. Keempatnya tidak ada partner buat romantisan.
Mengsedih.
"Pin, lu kagak capek liat di mana-mana ada bucin?" tanya Dino seusai makan.
"Capek banget anjirr. Rasanya pengen gue jungkirbalikkan aja ni bumi."
Mereka tertawa mendengar jawaban Alvin.
"Dari pada lu jungkirbalikkan bumi, mending lu cari partner bucin," saran Azril.
"Gak ada yang mau sama gue broo!"
"Bacott lu, Pin, sumpah deh!" cibir Ara langsung.
"Apa pula bacot? Bener lah, gak ada yang mau sama guee."
"Bukan gak ada yang mau sama lu, tapi lu nya yang pilih-pilih muluu!" jawab Haikal. "Nahh betul itu!" Ara dan Haikal bertos ria.
"Nggak gitu njirr. Memang ga ada yang demen sama gueee."
"Kenapa pula gak ada yang mau sama lu? Lu kan cakep," ujar Naina.
"Sekarang gue tanya, lu mau gak sama gue?" tanya Alvin menjebak. Tanpa pikir panjang Naina langsung menjawab, "ya jelas nggak lah. Gue punya Azril!"
Azril tersipu malu jadinya.
"Nah kan. Ini membuktikan kalau gak ada yang mau sama guee!"
"Ckk. Lu nanya ke orang yang udah punya gebetan. Coba lu nanya ke yang ga punya gebetan deh," suruh Glacia.
"Sama aja, Ciaa. Gue tu terlalu tampan, jadi gak ada yang mauu sama gue karena minder di deket gue."
"Dih?"
"Najiss."
"Geli gue dengernya."
"Jadi pengen ngesterilin telinga dah gue."
Alvin terkekeh puas karena reaksi teman-temannya. "Gue tu bener anjrittt. Gak ada yang mau sama gue karena gue kegantengan."
"Iyain aja deh ya, iyain. Kasian ntar ngamuk gaada pawangnya."
"Kampret lu, Sen. Sementang ada pawang jadi bagak banget yaa!" Arsen gantian terkekeh.
"Lu pada tu banyak bacooottt banget sumpah dah. Kita tu lagi makan woi, makaaan." Mereka menoleh ke arah Asya.
"Wah.. lu.. lu bener-bener ye, Syaa. Ini kenapa abis semua anjrittt?!"
"Laper gue."
"Parah sih parahh! Nyisain dikit gitu kekk," cibir Alvin kesal.
"Itu udah gue sisain dikit!"
"Seuprit doang kalau ini. Sanggup lu yee makan sebanyak itu?" tanya Glacia terheran-heran.
"Kagak sendirii jugaaaa. Alex sama Racksa ikutan ngembattt," jawab Asya ngegas sambil menunjuk dua manusia itu. Keduanya terlihat belepotan.
"Sebenernya, gue udah gak mau. Tapi di paksa Asya habisin," ujar Alex pembelaan diri.
"Cangkemmu! Lu sendiri yang mauu yaa, Bulexxx!"
"Udah lah, jangan di ributin. Mau pesen lagi ya tinggal pesen, ntar gue yang bayar semua." Mereka auto menatap Arsen.
"Seriuss lu?" tanya Haikal heran.
"Iyaa," kata Arsen santai.
"Ngerii ngerii."
"Syaa, Arsen buat gue aja deh ya?" tawar Alvin dengan senyuman.
"Koe lanang lho, mas."
"Hahahaha!"
◕◕◕
"Om, nanti yang datang ke pesta bang Zap rame banget ga sii?" tanya Arsen sembari membantu Aska dan Zean di ruang keluarga big home Hitler.
"Kemungkinan besar sii begituuu. Temen-temennya Zap banyak, temen istrinya Zap, temen-temen dan client om juga banyak."
"Emang semua abang undang?" tanya Aska.
"Ngga sih, tapi yaa lumayan banyak juga yang diundang," jawab Zean.
"Abang bagi-bagi waktunya ngga sih?"
"Bagusnya gimana?"
"Kalau menurut Arsen gak usah, tapi kalau ngga di bagi bisa meledak tu gedung kebanyakan orang. Dan yang jelas pasti bakal pengap bangett," sahut Arsen memberi saran.
"Nahh betul, Sen. Kita emang cocok jadi mertua dan mantu, selalu sepemikiran."
"Bacrit daddy!" cibir Asya baru keluar kamar. Aska dan yang lain cengengesan. "Udah bangun tuan putri?" tanya Arsen dengan senyuman.
"Udah, hehee."
"Gimana ntar bojo kalau gini kamunya? Tidur mulu kerjaannya. Masa nanti Arsen pulang makan siang ngeliat kamu tidur doang," ceramah Aska.
"Beda cerita itu nanti, daddyy."
"Emang gimana kalau lu udah nikah?" Azril datang dengan santai sambil membawa ice cream. "Bagii es krim nya!!" pinta Asya nyolot.
__ADS_1
"Ambil ndiri noh di dapur banyakkk. Tante Febby beli banyak biar ga rebutan."
"Ambilin kekk elahhh. Gue magerrr, Jillll," rengek Asya manja. "Ambil ndiri anjrott, lu punya kaki di pakeee dahh."
"Tandai lu yee. Awas aja lu! Kalau lu mintol ga bakal gue tolongin!" ujar Asya berjalan ke dapur. "Dendaman amatt tu anakk. Anak siapa sii?" kata Azril kesal.
"Anak daddyy."
"Oiyaa," Azril cengengesan menatap daddy nya. "Tadi Azril dengar pembicaraan daddy, ongkel sama Arsen tentang bagi-bagi tamu undangan. Iyakan?"
"Iyaa. Bagusnya gimana menurut kamu?" tanya Zean meminta pendapat.
"Azril sepemikiran sama Arsen. Biar nggak pengapnya, ongkel cari aja gedung yang lantainya ada dua gitu. Jadi tamu penting di atas lah. Tapiii yang di lantai dua itu kudu bisa liat di bawah, jadi tu kekk ada bolongan di tengah buat liat ke lantai dasar."
Mereka berpikir.
"Bagus juga ide Azril. But, nyari gedungnya itu yang susah," sahut Zean.
"Di cari pasti dapat kok, bang. Ntar Aska bantu cari kalau emang maunya gitu."
"Okeee, nanti tanya ke Zap dulu." Mereka mengangguk setuju. "By the way, Arsen sama Asya udah agak jelas hubungannya, kamu sama Nai gimana?" tanya Zean pada Azril.
"Yaa gitu, ongkell. Azril tu mau seriusin Nai kek Arsen ke Asya tapi Azril masih ga pande bisnis, belum bisa dewasa juga, sering banget Azril tu berantam sama Naina. Tapi ya berantem ringan abistu baikan lagi," cerocos Azril.
"Loh iyanya? Gue kira adem ayem lu bedua," sahut Arsen heran. "Adem ayem kadang doang. Lebih sering adu argumen gue sama Nai."
"Ongkel ajarin nih ya. Jadi yang harus kamu lakuin pertama ituu belajar bisnis, biar punya penghasilan. Yang kedua, coba ngalah sesekali. Kalau kamu gak mau ngalah kasih pengertian betul-betul ke Nai. Yang ketiga..."
"Yang ketiga apa?" Aska penasaran.
"Yang ketiga ya nikah laaa!"
"Tapi kecepatan ga sih kalau misalnya Azril, Asya atau Arsen gitu nikah sekarang?" tanya Azril.
"Nggak juga. Daripada kelamaan berdua ga ada hubungan apapun, bagus nikah aja kan?" kata Zean berpendapat.
"Yaa bener juga sii."
"Ada baiknya tu di matengin aja dulu. Karena nikah gak segampang yang kalian pikir," ujar Aska ikut bicara.
"Memang gak segampang yang kalian pikir, tapi seenak yang kalian bayangkan. Nikah itu enaknya cuma lima persen, sembilan puluh lima persennya lagi enak bangetttt!"
"Om udah, om. Nanti Arsen makin ngebet nikah ini," keluh Arsen membuat mereka tertawa.
"Lu masih enak, Sen. Mo nikah minggu depan juga bisa karena udah mapan, udah beduit. Lah guaa apa kabarr?" Mereka tertawa lagi.
"Makanya belajar cari duit jugaa. Bapak kamu tu pengusaha hebat padahal, masa gak ada ngajarin dia?" tanya Zean.
"Adaaa ngajakk aku, bang. Anaknya aja tu yang susah di ajarin, pengen bucin sama Nai muluu. Untung bapaknya sabar bangett nih." Azril cengengesan.
"Bahas apaan?" Asya datang lagi sambil membawa piring berisi kue. "Bahas nikah, belajar dari para suhu."
"Hahaha! Kita kembali ke topik sebelumnya. Nikah tu enak bangett! Tiap tidur di temenin, tiap hari bisa pelukan, tiap makan di siapin, mo manja-manja juga lebih enakk. Ahh pokoknya enak banget kalau udah halall."
"Om Zean parah banget aslii!" Aska dan Zean tertawa. "Jangan gitu kek, ommm. Nanti abis bang Zap nikah Arsen langsung minta nikah ni ya?"
"Nikah sama siapa?"
"Asya laa, siapa lagii? Ga ada satupun cewe yang ada di hati Arsen selain Asya."
"YAAAAAA MODUSSS!!"
"Lah modus? Selama bertahun-tahun ini aku sama kamu terus masih aja di katain modus," keluh Arsen. "Kamu itu mantan buaya, jadi agak susah buat percayaa."
"Terserah kamu, sayang, mo percaya apa nggak. Jelasnya, apa yang aku katakan tadi bener no fake-fake."
"Iyain."
"Jadi kapan nikah?" tanya Aska mendadak.
"Minggu depan boleh, om?"
"Kasih dulu om mobil sport yang terbaru itu. Itu cuma ada dua di Indonesia," tantang Aska.
"Kalau bisa boleh minggu depan?"
"Abis kasih mobil langsung akad pun om izinin."
"Eh eh.. Ini camerrnya matree woi!"
◕◕◕
"Ayang cari cincin yok?" ajak Arsen. Malam ini mereka berdua keluar mencari udara segar. Hanya berdua karena yang lain sedang sibuk.
"Cincin buat apaa?" tanya Asya menatap Arsen. "Ya buat kamu pake lah."
"Mo berapa banyak lagi coba kamu kasih aku cincin? Di rumah udah dua tau, yang mahal pulaaa."
"Masih dua, belum lima. Lagian beli cincin emas mah ga rugi juga, ntar bisa dijual lagii." Asya menepuk jidat, "resiko punya calon lakik rich boy."
"Mending uangnya kamu simpan aja tauuu, buat keperluan yang lainn."
Arsen diam sejenak. "Bener juga si. Nabung buat beliin mobil yang daddy kamu mau."
"Lah beneran mo di kasih? Gak usah deh. Daddy bisa beli sendiri itu tuuhh," larang Asya merasa gak enak. "I know, baby. But, aku rasa daddy kamu mau nguji aku baik atau nggak, aku royal atau nggak."
"Ya tapi ga sampe beliin mobil sport juga dongg. Bisa bangkrut kamunyaaa!"
"Nggak sayang, gak bakal," jawab Arsen santai. "Kamu bayar Angela kemaren aja susah loh, sayang. Gak usah deh ya, beneran dah, gak usaahh."
"Jadi ceritanya kamu raguin aku gituu? Aku gak bisa bayar Angela kan karena ga bis—"
"Ga bisa jual-jual barangkan? Terus kamu mau jual barang-barang juga demi beliin daddy mobil?"
"Em.. bisa jadi."
"Arsen, please... jangan bodoh."
"Aku gak bodoh, sayang. Aku cuma tunjukin ke kamu keseriusan akuu. Akhir-akhir ini juga kamu keliatan jarang banget percaya sama aku," Arsen menyela ucapan Asya.
"Arsen..."
"Lihat kamu makin ga percaya sama aku, berarti aku harus lebih tunjukkan keseriusan aku biar kamu percaya kan? Aku bakal tunjukkan ke kamu kalau aku benar-benar sayang sama kamu."
Asya menatap Arsen cukup lama kemudian mendekat untuk mengecup pipinya. "Aku percaya sama kamu dalam segi apapun. Dan tadi, aku gak bermaksud buat ngeraguin kamu. Tapi–"
"Aku ngerti, aku ngerti. Kita liat situasinya aja ya?" kata Arsen sembari mengelus punggung tangan Asya. Apalagi respon yang bisa Asya beri selain anggukan kepala.
"Janji ya jangan di paksain tentang mobil daddy tadi?"
"Iya, sayangg. Aku janji."
Arsen tersenyum.
"Yaudahh, skip topik."
Mereka berdua menghentikan perbincangan terlebih dahulu karena baru saja tiba di warung mie ayam kesukaan Asya.
Memang itu kemauan Asya dari awal.
Setelah memesan makanan dan mencari tempat yang nyaman, mereka melanjutkan perbincangan. "Kamu ada cerita nggak hari ini? Di kampus tadi gimana?" tanya Arsen sambil menatap Asya.
"Gak ada yang istimewa."
"Whyy?"
"Karena ndak ada kamuu!"
Arsen salting mendengarnya.
"Modus kamu!"
"Yeekkk. Ikut-ikut akuu," ledek Asya. "Ya kan kamu emang gitu tu kalau aku digituin. Demeeenn banget bilang modus," jawab Arsen.
"Aku bilang modus doang, padahal mah salting pengen guling-guling." Arsen terkekeh. "Kebongkar juga ni rahasianya."
Asya cengengesan.
"Kamu sendiri? Ada cerita apa hari ini?"
"Ada cerita di kantor, sayang. Jadi tadi tu kan aku gak bisa antar jemput kamu karena ada rapat di kantor, nah siap rapat itu aku sama om Mikko gibahin client dulu di ruangan aku."
"Mantep banget sampe gibah," ledek Asya. "Gak tau aja kamu om Mikko sekarang julidable." Asya tertawa mendengarnya.
"Terus terus? Gibahin apa kamu sama om Mikko?"
"Gibahin client, sayang. Tadi clientnya tu agak ngehang gitu otaknya. Ngebug muluu," Asya tertawa lagi. "Julid banget yaaa!"
Arsen ikut tertawa. "Yaa emang gitu tauu. Ni aku lanjut cerita yaa, pas di sela-sela gibah tu om Mikko kebelet buang air kecil, pergi lah dia ke kamar mandi."
"Sendiri?"
__ADS_1
"Ya masa aku temenin, sayaangg. Kan di ruangan aku juga ada kamar mandi."
"Hehe. Abistu??"
"Waktu om Mikko ke kamar mandii, HP dia bunyii. Terus muncul notip chat namanya sayangku."
"Waaaaaaaawww. Berarti om Mikko punya doi dongg?" tanya Asya antusias. "Kemungkinan begituu, kan ngga mungkin itu Jisoo Blackpink."
Asya cengengesan. "Berarti om Mikko masih suka cewek kaaann!! Eh btw om Mikko tu punya rumah gak sih, sayang?" tanya Asya lagi.
"Belum adaa. Dia kan sering di rumah aku yang itu," jawab Arsen santai. "Terus ntar dia mo buat rumah?"
"Mungkin iya."
"Gimana kalau rumah kamu buat dia aja?" usul Asya. "Kok gitu? Terus ntar kita tinggal dimana?"
"Buat baru aja lagii, kamu kan calon arsitek pasti jago dong buatnya. Lagian aku juga mau ikut ngedesain rumah kita nantii."
"Pasti lama buatnya, sayaang. Makin lama pula kita serumahh."
"Ya kita nikah aja duluu, terus tinggalnya di apartment kamuu. Kita desainnya di apart bareng-bareng gituu," jawab Asya senang.
"Emang gapapa di apart setaunan?"
"Ya gapapa lahh. Mending di apart kecil setaun dulu biar aku bisa urusin rumah daripada langsung ke rumah yang gedee."
"Maksudnya?"
"Mau aku tuu, aku bisa ngurus rumah dulu tanpa pembantu. Jadi semuanya aku yang ngurus, ngurus rumah, ngurus kamu, pokoknya aku sendirii."
Arsen menatap serius Asya.
"Yang izinin kamu buat ngurus rumah siapa?"
"Emang kamu gak izinin?"
"Ya nggaklahh. Aku gak mau kamu kecapekan. Mending kita sewa pembantu aja," kata Arsen.
"Ih apaan gak asik. Aku mau mandiri duluu, sayang. Kalau aku bisa ngapain pake pembantu?"
"Aku gak mau kamu kecapeaan. Pasti nanti bakal ruwet banget kamunyaaa."
"Ihh gapapaaa. Kalau aku gak kuat ntar aku minta pembantu deh ke kamuu." Arsen menghela nafas kesal. Calon istrinya ini memang selalu ngeyel kalau dibilangin.
"Yaudah deh aku bolehin. Tapi aku juga harus ikut bantu kamu beberes rumah, kamunya gak boleh beresin sendiri kalau aku ada di rumah. Deal?"
"Yeayyy, deall!! Makasih, sayaangg."
"You're welcome, baby."
...凸凸凸凸凸...
Tanpa terasa ini hari di mana acara Zafran dan kekasihnya berlangsung. Mereka mengadakannya di gedung mewah berlantai, sesuai dengan usulan Azril beberapa waktu lalu.
Akad nikah sudah berlangsung tadi siang, dan malam ini adalah bagian resepsinya.
"MasyaAllah, Ara cantik banget wooiii malam ini!" ujar Alvin terpukau setelah melihat Ara dan Haikal datang.
"Ya jelas cantik, kan cewek guaa," jawab Haikal bangga. "Bacot lu ah. Gue pinjem dulu kek Aranya!"
"Cari Ara yang lain. Kalau Ara nya Haikal gak boleh!"
"Dasarr bucin lu!" cibir Dino. "Bacott setann. Bilang aja iriii," ledek Haikal.
"Anj— astaghfirullahalazim... sabar Dino, ini acara spesialnya bang Zap.." Mereka tertawa melihat Dino mengelus dada.
"Lu pada emang akhlaknya minus banget. Di mana-mana berantem, permasalahannya pasti tentang cewe dan perbucinan. Gak ada yang lain?" tanya Shaka sinis.
"Kalau gitu permasalahannya lu deh, Cak. Lu kenapa ganteng banget malam ini, hah?! Apa maksud lu?!" kata Dino sambil menyenggol bahu Shaka.
"Ngeriii ngerriii. Temen gue pada kenapa sih ini?!" Dino cengengesan.
"Btw, Asya sama Arsen kemana?" tanya Glacia.
"Gak tau dah. Mereka berdua tu orang sibuk gituu. Asya sibuk karena dia bagian dari acara, Arsen juga sibuk gitu. Bisa jadi juga dia sibuk nyapa para clientnya."
"Orang penting memang beda..."
"Woiii!"
"Eh itu dia. Gila sih, rame gini bisa-bisanya dia teriak."
"Lu kek gak tau Asya aja. Urat malunya kan udah putus," ledek Racksa. Mereka pun tertawa bersama.
"Hai, cantikk!" goda Dino.
"Haii, ganteng."
"Sial! Gue salting."
Asya cengengesan.
"MasyaAllah lu berdua kok cantik bangettt!!" puji Asya menatap Glacia dan Ara. "Alhamdulillah, aamiin. Makasih deh yang lebih cantikk!" Asya tersenyum.
"Sya, Arsen mana? Kok lu sendiri?" tanya Alex heran. "Dia di ajak ketemu sama clientnya daddy gue."
"Kan betul tebakan gue," kata Alvin songong.
"Orang penting memang bedaa..."
"Hahaha! Anyway selamat menikmati hidangan yaa."
"Tenangg. Itu ntar bagian guee, gue bakal ngabisin banyak makanan," ujar Haikal songong.
"Ngeri emang lakikk lu, Raa!"
"Jangan heran. Bentar lagi jadi bapak-bapak hamil dia kebanyakan makan."
Mereka terkekeh.
"Ehm ehm.. check check 123..." Secara bersamaan, mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Arsen?"
"Ngapain tu anak?" tanya Shaka penasaran.
"Keknya mo nyanyi deh soalnya dia bawa gitar."
"Keknya iya."
"Gue yang deg-degan njirrr."
"Ehm! Halo, selamat malam semuanya."
Suara Arsen mulai terdengar lagi.
"Jadii di sini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang saya persembahkan khusus buat tunangan saya. Nona Asya Zhafira Syuhaila."
Sejujurnya Asya ingin meleyot sekarang. Tapi dia harus jaga image kan?
Setelah berbasa-basi, Arsen mulai memetik gitarnya. Suara Arsen yang memang bagus di tambah dengan mukanya yang tampan membuat banyak orang terpukau.
"Hadirmu memberi warna. Hariku menjadi indah. Lepaskan semua luka. Membawa berjuta bahagia."
"Hanya kau yang mengerti, menyentuh relung hatiku."
"Ku yakin kau dikirim Tuhan untukku. Tuk bahagiakanku s'lamanya. Hanya ada kita yang saling menjaga. Cinta takkan pernah berakhir."
"Ku yakin kau dikirim Tuhan untukku. Tuk bahagiakanku s'lamanya. Hanya ada kita yang saling menjaga. Cinta takkan pernah berakhir."
"Ku yakin kita 'kan bahagia, ah, ah. Ah-ah, ah-ha."
Tepuk tangan terdengar sangat meriah setelah lagunya selesai Arsen nyanyikan. Arsen tidak memperhatikan mereka, ia menatap Asya sekarang.
"Ehm.. nona Asyaa, nikah yok?"
Penonton tertawa.
"Adaaa pulaa yaa orang ngajak nikah kek ngajak beli seblak," jawab Asya santai menggunakan mic.
Arsen tertawa kecil. "Yaudah deh, besok ngajak nikahnya sambil ngasih pulau yaa."
"Hahahahaha!!"
Arsen tersenyum melihat Asya ikut tertawa.
"Nona Asya?"
"Iya, tuan Arsen?"
"I love you."
__ADS_1
"I love you more."
"Ini acara nikah siapa si? Yang romantisan kok kalian beduaa?!"