
Ting tong...
"Dinoo" suara Azril memanggil Dino untuk kesekian kalinya. Azril memaklumi, Dino ganteng tapi budeg pake g.
"Gue lagi tidurr, lu bedua mo apaa?" tanya Dino.
"Yodah gajadi deh" Azril langsung pergi.
"Ehhh, Dora!"
Azril menatap Asya, Asya menatap Azril. "Mungkin dia masih mimpi" ujar mereka bersamaan.
"Ck. Lu bedua kayak dora! Gak jelas" Dino menutup pintu apartemennya.
"Suka serem liat temen kek gini" ceplos Azril.
"Dia ngapain di sini ya? Tante Tania gak nyariin apa?" tanya Asya.
"Tante Tania capek punya anak model dinosaurus" kata Azril.
"Woii gue dengerrr!!" Mereka berdua tertawa.
Arah kaki Azril dan Asya berputar. Mereka menghampiri apartemen Fauzi dan Tara.
Azril memencet bel, Asya yang memanggil. "Taraa"
Ceklek
"Asya, Azril"
"Eh, hai, kak Fauzi"
"Mau jenguk Tara?" Asya dan Azril mengangguk.
"Yok masuk"
"Oh ya ini buah untuk Tara kak" Asya menyerahkan parcel buah pada Fauzi.
"Waduh ngerepotin"
"Hehe, nggak kok kak"
"Itu Tara nya di kamar" kata Fauzi menunjuk kamar Tara.
"Asya masuk gapapa ni?"
"Masuk aja" jawab Fauzi. Asya pun masuk ke kamar Tara. Sedangkan Azril memilih diluar.
"Tara sakit apa pak?" tanya Azril.
"Demam.."
"Kalian mau minum apa?" tanya Fauzi.
"Ah.. gak usah repot-repot pak. Cuma sebentar kok"
〰〰〰
"Assalamu'alaikum"
Asya dan Azril tiba di big home Hitler.
"Tumben gak teriak. Asyaa datangg" komen Zai.
"Oke oke, Asya ulang ya ongkel" Asya keluar lagi.
"Ehem... ASYA DATANG!!"
"Gimana ongkel?"
"Gak sekuat biasanya" jawab Zai.
"Udah gak usah teriak!" protes Zia dari ruang keluarga.
"Nuna?" "Eonni?" mereka berdua langsung lari kedalam.
"Nuna? Eonni? Kak anak lo stress" cibir Zai yang baru masuk ke ruang keluarga.
"Udah lama" jawab Zia santai.
"Em.. mantep sekali bun" ujar Azril. Sekeluarga tertawa.
"Hyung mana nuna?" tanya Azril.
"Iya eonni, oppa mana?"
"Kebingungan tu nantii. Panggil samchon Aska oppa, manggil opa Zeco kan juga opa"
Seorang pria berperawakan tinggi berkulit lumayan putih datang manyahuti pertanyaan Azril dan Asya.
"Bang Zafran?" tanya keduanya kompak
"Halo Azril"
__ADS_1
"Hai Asya? Masih mau dipanggil ganteng?" tanya Zafran. Asya tertawa.
"Masih bang" jawab Asya sambil cengengesan.
"Hahahah"
"Makin ganteng aja bang japran" puji Azril.
"Zafran"
"Iyakan japran"
"Semerdeka mu lah, Zril" Azril terkekeh di sahut yang lainnya.
"Abang tadi bilang takut kebingungan kan?" Zafran mengangguk.
"Kita ganti panggilan. Manggil oma halmoni manggil opa harabojii, manggil ongkel Zean ahjussi, manggil onty Febby imo"
"Terus manggil ongkel Zai apa ya? Ongkel aja deh netep, panggil onty Kinan juga netep" sahut Azril.
"Ampun dahhh, ponakan gua kok beginii?!" Asya cengengesan.
"Kenapa panggilan gue nampak tua banget sii?" tanya Zean kesal.
"Pa, papa kan emang udah tua" sahut Frizy.
"Bagosssss anak durjanaa"
"Bercanda, pa hehe. Jangan potong uang jajan yaa"
"Hahahaha"
〰〰〰
17.15
Semua masih berkumpul di big home, tepatnya berada di taman belakang. Semuanya ngumpul seolah-olah sedang piknik.
"Bang Aska, kalau lo di suruh milih antara harta, tahta, Zia. Lo pilih apa?"
"Zia" jawab Aska sedetik setelah pertanyaan Zai selesai.
"Kenapa?"
"Harta dan tahta. Gue bisa hidup kalau gak ada itu, tapi, gue gak bisa hidup kalau gak ada Zia" jawab Aska sambil menatap Zia. Zia yang mendengar itu tersipu malu.
"Ahhhh baperrr" kata Frizy alay.
"Sewot ajaa si ongkell" kata Frizy kesal menatap pamannya. Zai tertawa.
"Kalau disuruh milih mommy atau kami berdua, daddy pilih siapa?" tanya Asya.
"Pertanyaannya berat. Kalau disuruh milih, ya tetep milih mommy kamu"
"Kok gitu?" tanya Azril.
"Anakkan bisa di bikin, kalo nyari bini modelan emak lu itu susah"
Tetiba Aska di tampol istrinya. "Kenapa nampol, sayang?"
"Nggak... Kayaknya kamu salah minum obat?"
Tawa satu keluarga pecah. "Salut sih mami sama kamu, Aska tu emang perlu di geplak sesekali" sahut mertua Zia yang memang ada di sana. Zia gantian tertawa.
Aska menatap semua keluarga yang tertawa sambil mengisyaratkan kata diam.
Aska mendekatkan bibirnya ke telinga Zia. "Kali ini, hukumannya berat ya"
"Coba aja kalau berani" bisik Zia balik.
"Mommy daddy pliss!! Asya masih kecil gatau apa apaaa jangan di racuni dong!!" keluh Asya.
"Kecil apaan, udah bongsor gitu" sindir Azril.
"Lu mau mati ya??" Azril menggeleng santai.
"Gantian deh. Sekarang giliran lu, Zi" Zean bersuara.
"Gantian apa?"
"Harta tahta Aska?"
"Eh kok pas sih?" tanya Frizy.
"Pas apa?" tanya Zafran.
"Itu tadi yang pertama, harta tahta Zia. Yang kedua, harta tahta Aska" jawab Frizy.
"Harta tahta Asya juga cocok" sahut Asya.
"Daddy, mengapa Azril berbeda??"
"Hahahahahahahahahahaha"
__ADS_1
"Puas banget ketawanya ya pak buk" Azril menyindir Asya dan para sepupu.
"Gue muk tanya sama bang Ze"
"Jangan susah, gue capek mikir"
"Idih idihh" Zean tersenyum miring.
"Papa sok ganteng ya?" tanya Frizy dengan muka polos.
"Anak hamba gini amat ya Allah" Zean mendramatisir suasana.
"Bang gak usah alay, najizz liatnyaa" Zean menatap sinis Zia. Zia terkekeh.
"Jadi pertanyaannya apa?" tanya Zafran.
"Gak dianggap istri atau nggak dianggap anak?" tanya Zai.
"Kenapa giliran gua susah nya naudzubillah?!" Zai mengangkat bahunya acuh.
"Gue lempar pertanyaan ke Aska"
"Parah emang" ledek Febby.
"Otak ku isinya penuh memory kenangan kita, jadi gak bisa jawab pertanyaan begituan"
"Acaahhh, ngegombal si gembel" ledek Zia. Mereka ketawa lagi.
"Apa jawaban lo, Ka?" tanya Zean setelah tawa mereda.
"Nggak dianggap istri"
"Kenpaaa?"
"Kan gue suami, bukan istri"
"Eh ajg pertanyaan nya gak begitu begooo!" protes Zean. Aska tertawa puas karena mengerjai abang iparnya.
×××
19.12
"Astaghfirullah. Kalian tega sekali tidak membangunkan Asyaaa" keluh Asya yang baru bangun, dia ketiduran setelah sholat maghrib.
"Eh kampret. Kita udah bangunin lu, lu nya aja kayak kebo" jawab Frizy.
"Bedosanyaaa!!!"
"Laper gak?" Zafran muncul dari belakang.
Asya mutar balik lalu mengangguk. "Yaudah ikut abang yok. Abang juga belum makan. Makanannya diabisin Azril sama Frizy. Rakus mereka"
"Kan kan, anak ganteng yang kenaaa" keluh Azril. Zafran cengengesan.
"Abang mo kemana?" tanya Asya.
"Ada reunian sama temen geng sma, ya sekalian makan"
"Boleh gak, mom, dad?"
"Of course, sayang" jawab keduanya. Asya tersenyum lebar.
"Tapi, Asya pake baju ginian doang. Abang udah ganteng gak ikut ah" Asya duduk lagi.
"Sok sok insecure. Ikut aja sono, nyesel nanti gak jadi ketemu cogan temen bang Zap" ledek Azril.
"Lagian kamu cantik, kamu juga cucu satu-satunya tercantik. Nggak usah insecure, anggap kamu beruntung karena bisa bernafas" ceramah Zafran.
"Cieee... anak gua udah gedeeee"
※※
Asya dan Zafran tiba di satu kafe bernuansa klasik. Mereka berdua turun secara bersamaan dari mobil sport pribadi Zafran.
"Asya malu bang suer, abang malu gak bawa Asya?" tanya Asya.
"Kamu cantik Asya. Nggak usah insecure ah. Ayok" Ajak Zafran.
Bisa dikatakan Zafran yang tertampan di jajaran cucu Hitler. Dia juga paling sopan karna gaya bicaranya aku-kamu. Tapi, jika bersama temannya Zafran berbicara lo-gue.
Dunia berputar memang, Zafran kecil orang yang bawel, namun Zafran yang besar cenderung pendiem. Sikapnya sekarang berbanding terbalik dengan bapaknya yang doyan bacot dari kecil sampe punya anak dua:*
"Eeeeih, udah datang bro. Bawa gandengan dongg" seru teman Zafran.
"Sepupu" jawab Zafran singkat.
"Sepupu.. cantik gini cuma sepupu lu, Zaf? Mending buat gue, bisa gue jadiin gebetan" ujar teman Zafran sambil merapikan rambutnya. Asya dari tadi cuek, dan memilih melihat ponsel karena banyak notif masuk.
"Halo cantik. Kenalan dong"
"Ampunnn bangettt deh lo, Za"
Mendengar suara ini, Asya merasa pernah mendengarnya. Dia mendongak, "Kak Fauzi?"
__ADS_1