Barbar Generation

Barbar Generation
Jemputan mendadak


__ADS_3

Di jam yang sama, tempat Fauzi kerja.


"Woi ji, lu balik kapan??"


"Kalau bisa besok malem, adek gue kasian sendiri"


"Bacott bacott, kan ada temen adek lu yang cakep itu"


"Bilang aja lu gak sabar ketemu sama temen adek lu"


"Sahaaaa si, yud??"


"Nohh, temennya adek Fauzi. Cakep si cakep cuma gak kek cewek"


"Mending buat gue deh, itu idaman guee"


Fauzi menatap temannya sinis, "Seenak jidat lu aja. Kagak bolehh"


"Noh noh, cemburu noh. Bisa cemburu juga jik??"


"Bisa jatuh cinta juganya jikk?"


"Lu kira gue apa ga bisa jatuh cintaa"


"Astaga, berarti rumor ga bener tuh" Fauzi mengerutkan dahinya.


"Rumor?"


"Banyak polwan ngira lu gaayyy, karena ga demen satupun sama polwan"


"Astaghfirullah!!! Gue normal woila"


"Kaget si gue, untunglah. Gue juga ngira lu gay"


"Pada minta di tembakk pistol?"


"Kagaa lah hahaha"


"Baduwe in baswe, temennya adek lu siapa emang?"


"Lu ngapa kepo bangett, Bimaa?!" Fauzi mulai kesal dengan tingkah teman kerjanya, Bima.


"Yeee kan gue cuma tanyaaa"


"Bentar bim, gue inget dulu. Sya sya gitu namanya" jawab Yuda.


"Tasya?"


"Atau emang Syasya??"


"Bukan.. Marsya apa?"


"Asyaa" sahut Fauzi.


"Nah ituuu diaa, Asya!!"


"Cakep bim, sumpah cakep. Tapi kelakuannya gak kek cewek"


"Ya mending gitu si menurut gue, gak manja, pasti dia mandiri. Paket komplit deh keanya, gak manja, mandiri, cantik. Fiks, idaman gue"


"Bim tiati lu, liat muka si Fauzi ni" Yuda dan Bima tertawa.


"Asya kan? Kek nya gue tau dehh, bentarr" Bima mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi Instagram.


"Ini bukann??" Fauzi dan Yuda melihat ponsel Bima.


"Nah iya ituuu, lo kok tau nama instagramnya?"


"Adek kelas gue dulu ini mahh, cakep banget emang. Jago tengkar, berwibawa, tegas lagi. Dan yang paling gue suka dia kagak ngartis"


"Kagak ngartis gimana??"


"Gue pernah dm dia, minta follback. Eh dia bales dan di follback, sampe sekarang masih di follback kayaknyaa"


"Gue coba deh" Fauzi menatap sengit Yuda, Yuda pura-pura tidak melihatnya, dia membuka ponsel dan mencari instagramnya Asya.


"Ini kan??" Bima mengangguk.


"Asyzshk, ribet banget namanyaa suw"


"Kalau kembarannya, ini"


"Azrkshk, ini kenapa bikin nama susah susah sii??"


[ ps: bukan nama betull woii, jangan di cari :) ]

__ADS_1


"Ntahh" Bima terkekeh.


"Cakepp sumpahh, gue sebenernya terpesona tapi dia bukan tipe gue"


"Tipe lu kan cewek-cewek manjaa yang taunya ngabisin duit"


"Anjirrr lu jik" Fauzi tertawa.


"Eh ini snapgram nya foto sama siapa? Banci kaleng?" Fauzi langsung melihat ponsel Yuda.


"Kembarannya nggak? Si Azril"


"Gue rasa bukan lah" jawab Yuda.


"Yah yah Fauzi, kalah langkah si loo" ledek Bima.


"Ahhh sstt"


"Ini dia bikin qna, gue mau tanya la" Bima mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Tanyaaa apaa lu, bim? Jangan sangkut pautkan sama gue yaa!"


"Dihh, geeer lu"


"Buat sg lagi nihh, video"


"Woppp pertanyaan gue pertama"


“Kamu jomblo?? - Saya single kak. Single dan jomblo bedaaaa”


"Bedanya apaaa??" tanya Bima.


"Bedanya?? Ya gak ada si menurut gue. Sama sama solooo" jawab Yuda sambil tertawa kecil.


"Sabar Bima, jangan ngumpat" Yuda terkekeh.


"Gue gantian mau tanya" sahut Yuda. Fauzi yang di berada dekat mereka hanya diam, dia memikirkan siapa pria yang di post Asya.


Foto yang di post Asya sangat konyol alhasil Fauzi tidak bisa menebak itu siapa.


"Jik jik, liat ini" Fauzi langsung menghampiri Bima.


“Wooii, ketemu lagi yuk gue rindu!! - Dihh gelii gue bacanyaa, rindu rindu bullshit luu banci kalenggg”


"Jik, woi??"


"Lah mana gue tauu siapaa" jawab Fauzi.


"Muka lu aneh, lo sakit ati?? Lu beneran suka sama ni cewek??" tanya Bima, Fauzi diam tidak menjawab.


"Gercep dah loo, kalau telatt ntar lu nyeselll"


▪▪▪


06.45


"Taa, lu udah siap belum? Ayok sarapann"


"Iya ini udah siap" Tara keluar kamar Asya. Melihat Tara tampil culun lagi, Asya menariknya masuk ke kamar.


"Kacamata lu kegedean, jadinya aneh. Lu si kemaren gue tawarin pake lensa gamau" omel Asya sambil me-make over Tara.


"Terlalu menyusahkan kamu nanti"


"Apaan si, lu kagak pernah nyusahin gue lah"


"Iya tapi akunya yang gak enak"


"Woi lu bedua ngapainn?!" Racksa muncul depan pintu.


"Bentar nii, duluan aja sono" suruh Asya.


"Makan barengan la, buruan" Racksa pergi.


"Oke udah, ayok" Asya menarik tangan Tara, mereka menuju meja makan.


"Kamu keren banget sih sya, cantik, rajin, jago masak juga"


"Kebetulan" jawab Asya sambil tetawa kecil.


"Pegangin telinganya, sa. Terbang tuh" sahut Azril.


"Apaaan si lu syirik amatt"


"Buruan makann woi, masi aja gelut. Udah jam berapa ini, ntar telattt"

__ADS_1


"Iya papa Racksa" Mereka mulai sarapan dengan keheningan.


Lima belas menit kemudian, semuanya selesai makan. "Pake mobil gue aja minggu ini" tawar Racksa.


"Serius lu? Kenapa gituu?"


"Kasian mobil gue ngangguur"


"Yaudah ayokk" Mereka keluar sambil menenteng tas.


Alangkah terkejutnya Asya dan yang lain ketika melihat Arsen sudah di depan mobilnya. Bersandar santai dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya.


"Lah, lo sejak kapan disini??" tanya Asya heran.


"Sejak semalam, kan gue bilang gue rindu sama lu"


"Najissssss pakboyyyyyy" Arsen terkekeh pelan.


"Sya, sama gue yuk?"


"Gak ah, ntar di gosipin. Gue sama mereka aja"


"Udah sono sama Arsen, peka dikit ngapa. Dia pengen deket sama lu tuh" suruh Azril.


"Lu pengen gue digosipin?"


"Di gosipin apaaan? Ya mungkin gosipnya bakal nyata. Udah sono, daripada nyemakkk di mobil Racksa"


"Anjiiiiiirr, bukan kembaran gue ini bukan!!"


Azril tertawa lalu masuk ke mobil Racksa diikuti Racksa dan Tara.


"Gue sama dia ni benerannn??"


"Iyeee udah sono, udah jam tujuh lewat iniii" jawab Racksa.


Asya melihat Arsen, Arsen langsung membukakan pintu untuk Asya. "Silahkan masukk"


"Wahh.. kerasukan lu pasti"


Arsen tertawa kecil lalu masuk ke mobil bagian kemudi. "Pake sabuk pengaman, jangan lupa"


"Iyeee"


"Bismillahirrahmanirrahim" Arsen mulai menjalankan mobilnya.


Lima menit setelah mobil melaju, "Sya, buka hp gue noh" Arsen memberikan ponselnya.


"Buat?? Mau ngapainnn??"


"Ada chat semalam dari Pak Jarwo, lu baca deh"


Asya mengambil ponsel Arsen lalu membukanya, ponsel Arsen tanpa kode apapun. "Ngefans banget lu ya sama gue, foto gue ikutan jadi wallpaper"


"Iyainn"


"Ini hape lu kenapa gak pake password apapunn??"


"Karena mau lu pake ini jadi gue lepas passwordnya" Asya berohria.


"Arsen seminggu lagi hari guru, osis gak ngadain acara apapun? lahh, masa iya? Ini tanggal berapaa??"


"Tujuh belas kalau gak salah"


"Hari guru?"


"Dua puluh lima, sayang"


"Apaan lu sayang sayang, geli ogeb"


"Ntar juga terbiasa kamu mah"


"Kesambet dimana, pak?"


"Payah emang godain singa betina"


"Memang payah, ingatt yang lu goda singa betina bukan buaya betina" Arsen tersenyum.


"Gue inget, gue tau yang gue goda singa, dan gue juga tau beratnya godain singa. Tapi, seberat apapun itu, gue bakal berusaha. Karena rasa cinta gue mentok di lu"


"Satu-satunya cewek yang berharga bagi gue setelah nyokap meninggal, only you"


"Uwwaaah, lu memang buaya jantan yang pantang menyerah" Arsen tersenyum lagi, ia menatap Asya sekilas.


"For you information. Gue gak bohong tentang apa yang gue bicarakan tadi"

__ADS_1


__ADS_2