Barbar Generation

Barbar Generation
Pesta perpisahan~


__ADS_3

Seminggu berlalu, semua kembali normal. Walaupun perban masih berada dileher Asya, itu tidak menghentikan kebiasaannya membacot.


Keiji tetap bergabung dengan mereka, mereka sepakat untuk melupakan kejadian dihari itu.


Soal Adinda, Aska tidak memenggal kepalanya. Aska masih waras. Aska tau istrinya wanita dan anaknya juga seorang wanita, jadi ia tidak menggunakan kekerasan pada Adinda.


Aska hanya melaporkannya ke polisi sebagai kasus pembunuhan berencana. Tentu saja dengan penyogokan agar tidak ada satupun manusia bisa membebaskan Adinda.


"Syaa, gimana jadi anak orang kaya?" Tanya Ara.


"Huhh.. edaannn!"


Mereka tertawa.


"Enak banget jadi dia, beneran dah. Tukar posisi mau kagak?" Tanya Alvin.


"Nggak. Lagian Om Jimmy sama Tante Alya kan juga baik, gak bersyukur lu?" Sahut Azril.


"Ahh, lu gak bakal ngerti."


"Bacot!"


"Dih an—"


"Anak-anak, makan siang duluu."


Mereka memutar kepala, "otewe tanteee."


Serentak, mereka bangun dari tidur lalu pergi menghampiri Aska dan Zia.


Aska selalu pulang di jam makan siang, jaraknya memang jauh, tapi Aska tidak perduli.


Seberapa pun jauhnya jarak pasti tertempuh demi orang yang dicintai.


"Keknya ya, kalau kita disini mulu bakal kasian ke om sama tantee." Ujar Shaka.


"Kenapa pulaa?"


"Yaa buat makan siang ajaa banyak duit yang keluarrr." Jawab Haikal.


Aska dan Zia tertawa, "biayanya gak seberapa. Yang penting Azril Asya bisa ketawa bahagia sama temennya."


"Asekkk!!"


"Ya Allah, sisain satu cowok kek Om Aska." Doa Ara.


"Dua Ya Allah, Naina juga mauu."


"Tiga Ya Allah, Keiji juga mauu."


Mereka tertawa mendengarnya.


"Sya, gak lanjut?" Tanya Zia.


"Nggak, mommy. Asya udah dapat anak tunggal kaya raya, baik, rajin, tegas, perhatian pula." Jawab Asya sambil mengacak rambut Arsen.


Arsen tertawa dengan penuh kesaltingan lalu mencubit pipi Asya karena gemas.


"Sakit!!" Arsen cengengesan.


"Kalau lu anak tinggal kaya raya, gue nyari duda kaya raya ajalah. Enak keknya nihh." Gumam Ara yang di dengar Haikal.


"Nyari duda?" Tanya Haikal, Ara mengangguk.


"Naii, ayok nikah. Abistu besoknya cere," ujar Haikal menatap Naina.


"Matamu cokk, tak gaplok ntar!"


Mereka tertawa lagi.


"Udah udahh, ayok makan dulu."


Masing-masing diantara mereka menyiapkan nasi sendiri dan makan juga dengan tangan sendiri.


Di meja makan hening, Asya tidak bicara karena Aska sudah membiasakannya untuk tidak bicara saat makan.


Ngetiknya tengah malem, aing jadi laper karena bahas makanannn:v


"Sya, kamu kan kemaren minta ganti marmut sama hanster. Nahh itu nanti datang, sekalian sama ikan hias." Kata Aska setelah selesai makan.


"Seriusss?" Aska mengangguk.


"Finalyyy!"


Aska tersenyum melihat Asya senang.


"Ehh, daddy, gimana kalau yang buat ikan hiasnya setengah aja??"


"Setengah?" Azril mengangguk.


"Sisanya buat renang."


"Kenapa gak bilang sekalian? Itu kolamnya cetekk." Jawab Zia.


"Gak bilang dari awal siihh. Lagipula di lantai atas kan ada kolam renang." Sahut Aska.


"Payah naiknyaa."


"Kalau dari luar, kan di bawah ke atas ada tangga."


"Nah itu yang buat capek. Lagi pula tangganya ntar buat naik terus lompat langsung masuk ke kolamm."


"Enakk begeee, bisa lompat sambil nari balet." Sahut Dino.


"Makhluk punah otaknya udah punah juga, ya?" Dino cengengesan.


"Kalau yang gak bisa berenang, lompat dari situ langsung pindah alam keknya."


Mereka tertawa mendengar perkataan Alvin.


"Asyaa, kalau kelinci kamu keluar dari pekarangan atau dari kandangnya jangan kejar sendiri. Panggil bodyguard aja, biar mereka yang ngejer. Mommy daddy gak mau sampe kamu hilang lagi."


"Oke siap, boss!"


Aska tersenyum.


Ia berdiri dari duduknya, mengacak lalu mengecup pucuk rambut Asya. Lalu kembali memakai jasnya.


"Om kerja duluu, kalian enjoy aja disini yaa."


"Oke, omm. Selo selooo, berjam-jam disini juga enjoy kamiii." Jawab Haikal santai.


"Lu enjoy, kantong gak enjoy." Cibir Alvin.


"Berisik lu gorila!"


Mereka tertawa.


"Azrill, jangan ngegame mulu!"


Azril mengangguk sambil meminum susunya.


Cup!


Aska mengecup pipi Zia.


"Jaga anak-anak." Zia tersenyum.


"Bapak anak meresahkan." Cibir Alvin lagi.


"Emang manusia satu ini, makin hilang akhlaknya!" Alvin nyengir kuda.


"Kalau ada apa-apa telepon, yaa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Aska tersenyum lalu pergi.


"Kami kee playground dulu ya, tantee." Pamit Shaka.


Fyi, playground panggilan buat area main Asya Azril sama temennya yang lain. Intinya di tanah yang Aska beli.


"Hati-hatiii, yaa. Jangan keluarr!"


Mereka tersenyum kemudian pergi satu persatu. Terkecuali para wanita yang bantu meletakkan bekas makan ke wastafel.


Walaupun bukan mereka yang nyuci tapi setidaknya mereka membantu membereskan meja.


"Asya, inget yang dibilang daddy tadi. Jangan asal ngejar!"


"Iya, mommyy sayaangg. Asya tinggal dulu yaa," Zia mengangguk.


"Bye bye, love uu."


"Love u too princess."


Asya bersama ketiga teman wanitanya pergi keluar rumah.


"Kita ngapain nii?" Tanya Naina.


"Nobar drakor, deall?" Usul Ara.


"Drakor apa dulu niii? Dracin aja gimanaa?" Sahut Asya.


"Yaudah dracinnn, yang manaa?"


"Yangg pemainnya Mas Lin Yiiii!" Sahut Asya.


"Ahh yang lovee apa ituu ajaa!" Kata Keiji.


"Bentar bentar, search gugell."


"Love scenery?"


"Nahh etaaaa."


"Okeeyy, dealll!"


◕◕◕


Asz Group.


Tok tok!


"Permisi, pak."


"Masuk."


"Pak, ada paket."


Aska memutar balik kursinya.


Fyi lagi, Aska sudah tiba di kantor sejam yang lalu.


"Paket dari siapa??"


"Nggak tau, pak. Nama pengirimnya kurang jelas."


Aska menerima paket itu, ia menatap lama kotaknya.


"Yaudah, makasihh."


Karyawati Aska membungkuk kemudian pergi.


"Apa tuu?"


Rafael tiba-tiba muncul.


"Paket. Rap, coba buka!"


"Lahh, kenapa nyuruh gue annj?!"


"Karena lu baik, coba buka cepat!"


Rafael menghela nafas, ia mengambil kotak itu lalu membukanya perlahan.


"Suratt."


"Surat?" Beo Aska heran.


"Iyaa, suratt. Surat sama ada beberapa coklat."


Aska mendekat.


"Gila kali ada yang ngasi gue coklat."

__ADS_1


"Gue rasa bukan buat lu. Mending lu baca dah suratnyaa!"


Aska meraih suratnya dan membaca dalam hati.


"Apaa isinya?" Tanya Rafael yang tidak ikut membaca.


"Ini dari Darren. Dia minta izin, si Dave pengen banget ketemu Asyaa." Jawab Aska detail.


"Lahh? Perasaan gue baru sekali meet."


"U know anak gue macem mana ramahnya, apalagi sama bocill." Rafael menganggukkan kepala, "iya juga sii."


"Teruss, ini mau lu izinin?" Tanya Rafael.


"Gak tau jugaa. Gue kan lagi karantinain Asyaa."


"Yaudahh, mending suruh Dave aja yang kerumah luu. Darren gak usah." Usul Rafael.


"Kalau gitu, lu telpon aja aspri nyaa. Teruss bilang yang lu bilang tadii."


Rafael mengambil ponsel kerjanya, baru hendak mengetikkan nomor Rafael tersadar.


"Ntar, kalau tu anak ketergantungan sama Asya gimana?"


"Ketergantungan apa anying? Lu kata anak gue merkurii?" Rafael terkekeh. "Ngga gitu jugaa."


"Nggak nggakk, gak bakall ketergantungan."


"Iyaa dah iyaaa, gue telpon nii."


Rafael pun menelepon asisten pribadi Darren. Sedangkan Aska mengabari anaknya.


"Liatla, chatan sama anak kek sama selingkuhan." Cibir Rafael.


"Selingkuhan matamui cokk!" Rafael cengengesan.


"Gimanaa?"


"Udah otewe."


"Gercep bangett. Udah lu bilang kan, Dave aja?"


Rafael mengangguk. "Darren bilang dia mau ke Asz. Udah deket sinii, katanya sih tadi karena mau diemin Dave yang rewel banget pengen ketemu Asya."


Aska berohria.


"Yaudahlah, biarin aja. Gue juga masih hutang budi sama dia, sekalian mau bahas tentang Dinda."


"Btw, lu ngapain disini?"


"Aiya sampe lupaa. Lu ingett sama bodyguard yang lu siksaa?"


Aska berdehem, "kenapaa?"


"Nahh, mereka berdua selalu mohon-mohon minta buat tetep kerja disinii."


Aska berfikir, "menurut lu gimana?"


"Menurut gue sih mending iyain. Kasian gue liatnyaa, mereka punya anak istri yang perlu dibiayai."


"Setelah gue pikir-pikir, gue kejam banget ya sampe buat mereka gitu?" Tanya Aska.


"Dibilang kejam si iya, tapikan konsekuensinya kan emang begituu. Toh jugaa lu bayarin RS mereka pake black card."


"Keputusan ada di lu, gue gak maksa lu untuk nyuruh tu bodyguard balik lagi. Gue juga agak kurang yakin liatnya."


Aska memikirkannya. "Besok kalau udah sehat suruh temuin gue." Rafael mengangguk.


Tok tok.


"Masukk."


"Maaf mengganggu, pak. Ada Pak Darren Kim dari perus—“


"Saya tau, suruh masuk."


"Baik, pak." Karyawati Aska keluar dan tak lama kemudian Darren beserta anaknya masuk.


"Welcome, Pak Darren." Sapa Rafael sok ramah.


Darren menanggapi dengan senyuman.


Ia bersalaman dengan Aska dan Rafael masih tetap menggendong Dave. Dave benar-benar tidak ingin dilepas.


"Lengket banget ya, pak." Kata Aska.


Darren tersenyum canggung, "gak tau nih kenapaa. Maaf kalau agak menyusahkan."


"Gapapa, anak-anak mah biasa." Jawab Aska santai.


"Dave, turun yaa. Salam duluu nihh," bujuk Darren.


"Gak maukk. Tadi papa bilang mau ketemu kakak cantikk!"


"Minta izin dulu sama papanyaa. Ini papanya Kak Asya lohh." Dave menghadap belakang.


"Turunin Dave papaa!"


Darren pun menurunkan Dave.


Dave menghampiri Aska dengan senyuman.


"Ahjussii, boleh nggak kalau Dave ketemu sama kakak cantik?" Tanya Dave sedikit merayu.


"Dave cengeng gak?"


"Nggakk, ahjusssiii. Dave baik kok, gak cengeng."


"Serius nii?" Dave mengangguk antusias.


Aska tertawa gemas, ia menyamaratakan tingginya dengan Dave. "Kakak cantik dirumah, nanti minta tolong anterin supirnya papa kamu untuk kesana."


Dave tersenyum, "terimakasih, ahjussi." Aska tersenyum sambil mengelusi pipi Dave.


Aska menatap Darren.


"Supir sama sekre bapak ikut?" Tanya Aska.


Darren menggeleng, "saya takut ntar Dave rewel. Jadi mereka sama Dave aja." Aska mengangguk paham.


"Papayyy papaaa!" Dave melambaikan tangan dengan semangat. Darren menggelengkan kepala melihatnya.


"Duduk, Pak Darren."


"Terimakasih, Pak Aska."


Darren duduk di sofa, tepat sebelah Rafael.


"Kok bisa deket banget Asya sama Dave?" Tanya Rafael.


"Saya juga nggak tau kenapa deket banget gitu. Dave sampe ngambek sama saya karena gak saya turuti kemauannya." Aska tertawa kecil.


"InsyaAllah kedepannya gak akan terjadi lagi, saya gak mau menyusahkan Asya ataupun Pak Aska."


"Gak apa-apa kok, pak. Oiyaa, bapak tau kan kalau saya memenjarakan Adinda?" Tanya Aska.


"Iya saya tauu, jujur saya puas. Adinda tu bener-bener licik orangnya." Kata Darren blak-blakan.


"Agak kurang mantap ghibah pake bahasa formal, biasa aja gimanaa?" Tanya Rafael mencairkan suasana.


"Bisa tuh, tapi karena lebih duluan lahir Pak Aska sama Pak Rafael, saya panggil hyung yaa."


Aska tersenyum tipis, "senyamannya ajaa."


"Btw, lu kagak mau lepasin Adinda kan?" Tanya Rafael pada Darren.


"Kagak. Buang duit banget bebasin penjahat." Jawab Darren santai.


"Dia deket sama siapa aja?" Tanya Aska gantian.


"Nggak terlalu banyak cowok yang di dekati, cuma beberapa ajaa."


"Lu kok bisa jadi sugar daddynya?"


"Ntahlahh, jujur bingung bangett. Mungkin khilaf dulu," jawab Darren dengan muka mengilfeel.


"Oiya, lu mau minum apaan?"


"Apa aja hyung."


"Okee, air kobokan mantep agaknya."


Di sisi lain.


Asya dan temannya yang lain berada di mini zoo yang dibuat Aska.


"Nunu nanaaaaaaaa. Gemoy banget hamster gueeee!!!" Asya histeris melihat keimutan hamsternya.


"Semua peliharaan lu gemoi anjirr." Sahut Naina.


"Syaa, yang kucing buat guee." Pinta Ara.


"Ngga-ngga! Dia terfavorit!"


Arsen senyum-senyum sendiri.


Ia menghampiri Asya lalu mencubit pipi Asya sambil memeluk dari belakang.


"Love u."


"Hate u. Awas!!"


Arsen mundur sambil tertawa. Arsen tidak memperdulikan ucapan Asya, karena ia tau Asya mencintainya.


Asya memang jarang mengatakan hal itu, tapi Asya menunjukkannya dengan perbuatan. Begitupun juga dengan Arsen.


"Oiyaa, Ka, lusa lu jadi ke Amerika?" Tanya Haikal.


Mereka langsung menatap Shaka.


Shaka mengangguk pelan dengan senyuman.


"Seriously lusaa?" Shaka mengangguk lagi, ia menghampiri Asya. "Amerika doangg, kan ntar bisa pulangg."


"Iya tapikan lamaaa, nggak sejam perjalanannn." Lawan Asya. Shaka tertawa kecil melihat Asya protes.


Ia memeluk Asya sambil mengacak rambutnya, "kan udah biasa juga gue tinggal. Di Paris kemaren juga gapapaa."


"Itu terpaksa gapapaa."


"Yaudah, sekarang paksain aja gapapa."


"Ah lu mah jahatt! Gak ngasih tau gue duluann." Omel Asya lagi.


"Maappp deh maapp." Shaka cengengesan, ia sudah melepas pelukannya.


"Yowess, tapi ntar malem sampe besok kagak ada yang boleh balik! Gue gak mau tau pokoknya ntar malem kita bikin tenda di halaman rumah utama!" Kata Azril ngegas.


"Setuju guee!" Sahut Alvin.


"Okeee, gue jabanin!"


"Teruss, lu sama Dino kapan ke London?" Tanya Racksa.


"Eum.. mingdep?"


"Siapa lagi yang bakal pigii?! Lu jugaa?" Tanya Asya sambil menatap Alvin.


"Kagakk! Gue sama Haikal tukeran job, gue yang bakal jagain lu ntar di kampuss."


"Asekkk icikiwiirrr."


Alvin tertawa melihat tingkah random Asya.


"Azril, Arsen, Racksa dimana?" Tanya Naina.


"Indonesia. Paling sekampus sama Asya." Jawab Azril mewakili.


"Gue beda sendiri masa?" Ara mellow.


"Lu dimanaa?"


"Di kampus swasta di luar kota."


"Gapapa gapapaa, yang penting satu negaraa." Balas Naina senang.

__ADS_1


"Naina ntar sekampus sama aku aja, yaa. Jangan sama Azril," Alvin kumat menggoda.


"Jebulee saingannee koncok dewee~"


Mereka terkekeh.


"Ntarrr kalau Ical sama Dino kee London, Ara Keiji gimana?" Tanya Asya dengan unsur meledek.


"Tenang ajee, Ara Keiji ntar sama gue." Alvin yang menjawabnya.


"Dih sianjinggg. The real buaya ni anak!" Cibir Haikal emosi.


"Banyak istri banyak rejekii."


"Matamui njingg!" Alvin tertawa ngakak.


"Panass panasss, si Ical panas. Mandi kolam aja yuuu," ajak Alvin dengan senyuman menggodanya.


Apin genit!  ̄へ  ̄


"Senyuman lu jangan begitu annjjj, kek orang cab*ll!" Alvin cengengesan.


"Ayok lahhh, gue juga pengen mandiii. Ntar siap mandi sholat dzuhur." Ajak Shaka.


"Oke, deal!!"


Mereka berjalan keluar mini zoo.


Tin tin!!


Mereka menoleh kearah pagar.


"Kakak cantiikkkkk!"


"Davee? Aaaaa haiiii!!" Asya berlari mengejar Dave, begitupun dengan Dave. Keduanya berpelukan tepat di depan gerbang.


"Dave rindu kakak cantikk."


"Kakak jugaa rindu kamuuu." Jawab Asya sambil tersenyum. "Dave sama siapa kesini?"


Dave menunjuk asisten pribadi Darren.


"A-annyeonghaseyo, Daniel Park imnida."


"Ohh, ne. Annyeonghaseyo, Asya imnida."


Balas Asya dengan senyuman.


'Kagak sia-sia gue drakoran wakakakkk!' batin Asya.


"Ini sahaa?" Tanya Ara keheranan.


"Dave, anaknya Om Darren." Mereka berohria.


"Oiya, Dave. Papa mana?"


"Heh, ngapain nanya papanyaa?" Arsen mengsinis.


"Nanya doanggg, sensi amatt!"


Arsen mendengus kesal.


"Papa lagi sama papanya kakak cantik di kantor papanya kakak cantikk." Asya berohria.


"Agak ribet, yaaa." Protes Dino.


"Otak lu pasti gak nyampe pahaminnya."


Dino langsung menatap sinis Alvin yang cengengesan.


"Davee, ini temen-temen kakak."


Asya memperkenalkan mereka satu persatu.


"Annyeonghaseyo, aku Daveen Kim." Ujar Dave sambil membungkuk.


"Gemoii bangettt! Karung mana karung?!"


Asya tertawa kecil mendengar perkataan Shaka.


"Dave, Dave mau ikut kakak mandi-mandi?"


Dave menoleh ke belakang. "Uncle, boleh nggak?"


"Dave gak bawa bajuu gantii."


"Dave beneran mau ikut mandi-mandi?" Dave mengangguk.


"Yaudah, nanti uncle beliin baju."


"Yess!" Dave tersenyum senang.


"Ayokk kita main airr." Asya mencoba untuk menggendong Dave yang mungil.


Asya kuat. Asya bisa mengangkatnya.


Tapi karena keposesifan Arsen, Arsen gantian menggendong Dave.


"Davee, Papa Dave udah punya pacar belum?" Tanya Arsen di jalan.


"Belumm, papa bilangg gak boleh pacaran."


"Kenapa?"


"Dosaa!"


Mereka tertawa gemas melihatnya.


"Papa suka sama kakak cantik nggak?" Tanya Arsen lagi.


"Nggak tauuu, kayaknya enggak. Abang suka sama kakak cantik?" Tanya Dave gantian sambil menatap Arsen.


Arsen mendekatkan bibirnya ke telinga Dave, "suka bangett. Nantiii, bilang sama papa yaa. Papa gak boleh suka sama kakak cantik karena kakak cantik punya abang ganteng. Oke?"


"Okaayyy!"


Arsen tersenyum senang.


"Ngomongin apa dua manusia ini?"


◕◕◕


19.21, rumah utama.


Seperti permintaan Azril tadi, mereka semua menginap di tenda. Mereka juga bbq-an. Tentunya dengan izin Aska dan Zia.


Selain mereka, Aska, Zia, Ivan dan yang lain juga merayakan pesta perpisahan. Tapi di dalam rumah.


Oh iyaa, Dave udah pulang tadii sore.


"Woii, guee.. pengen minum amerr." Ujar Alvin tiba-tiba.


"Gila lu? Jangan mengadi-ngadii!"


"Tapi pengeenn!"


"Kita bikin variasinya ajaa. Patungan cepatt!" Titah Racksa.


"Patungan berapaa-berapaa?"


"Seribu sorang."


"Dua ribu lah anjj, kagak ada duit seribuu."


"Nah yaudahh." Mereka pun meletakkan uang di tengah-tengah.


Setelahnya, Racksa menuju gerbang.


"Om bodyguard."


"Eh, iyaa mas kenapa?"


"Cariin jasjus anggur dong, sama es.. nggak nggak, jasjus ajaa. Tapi yang rasa anggurr."


"Oh iya mass."


"Ini duitnyaa, sama ini.." Racksa mengeluarkan dompet dari sakunya. "Ini ongkos buat om." Racksa memberikan uang seratus ribu.


"Wahh, makasih banyak ya mas."


"Iya sama-sama. Titidijee, omm." Bodyguard itu mengangguk lalu pergi, Racksa kembali ke tongkrongan.


"Ngapain anj?"


"Ada dehh, ntar juga pada tauu."


"Kagak bener agaknya." Racksa nyengir, "bener kok. Kapan Racksa gak bener?"


"Tiap hari kaga bener lu nyett!" Racksa tertawa kecil.


"Agak sedihh pulaa mo pisahh, padahal juga sering pisah." Keluh Asya yang tidur di paha Arsen.


"Cuma bentarr, tiap semester juga balik." Jawab Arsen menenangkan Asya, ia mengelus pipi Asya.


"Lu pada jangan nyembunyiin apapun yaa! Awas ajaa sampe nyembunyiin sesuatuu, apalagi kalau Asya kenapa-kenapa. Gak ada yang boleh di sembunyikan!" Omel Haikal.


"Iye iye, lu betiga juga kagak boleh nyembunyiin apapun! Kalau ada cecan gitu sabi lahh kenalin ke guee." Jawab Alvin.


"Genit banget manusia satu ini. Pengen gue bejek-bejek mukanya!" Alvin cengengesan di depan Ara.


"Wohooiii, assalamu'alaikum!"


Mereka menoleh ke sumber suara, ternyata ada Keja.


"Ehh badut, dari mana dutt?"


"Badut pala lu peang! Shaka mana Shaka? Katanya mau ke Amerikaa." Kata Keja bersemangat.


"Tau darimana lu?"


"Nguping gosip bapak guee. Ikut dong masss, mau nyari cewek nich."


"Najis banget astaghfirullah!! Kok bisa sepupu gue beginii?!" Keja nyengir kuda sambil menatap Azril.


"Pesta perpisahan kagak ngajak gueee. Tega amatt!"


"Amat gak tega." Ceplos Keiji.


"Ke– nama kita sama ni, jangan-jangan jodoh."


"Jaa, daripada lu buat gue emosi.. PIGI LU PIGIII!"


Mereka terkekeh melihat Dino ngamuk.


"Hati-hati, dinosaurus ngamuk gak ada obat."


Keja cengengesan.


"Btw, lu ngapain kesinii?" Tanya Asya.


"Mau nantang Shaka balapan."


"Anjaa– ada gerangan apa sih kawann?"


"Hahayyy."


"Kalau gue menang gimana?" Tanya Shaka merasa tertantang.


"Kalau lu menang gue turuti mau luuu."


"Oke, kalau lu yang menang?" Shaka tanya lagi.


"Bagi gue nomor cewek atuuuu yang hobinya balapan juga."


"Deal!"


"Heh bodohh! Kenapa pada taruhan?!" Tanya Ara ngegas.


"Nggak taruhan, ini lombaa."


"Alah sia boyyy. Nomor cewek nya mau lu apain?" Alvin gantian tanya.


"Jadiin binikk. Juga diajak balapan."


"Menggilak si Kejaa, nyari jodoh sekalian diajak teman matii."

__ADS_1


__ADS_2