
19.32, rumah istana Aska.
"Ahh, alhamdulillah. Asya ketemu jugaa."
Aska membanting tubuhnya di kasur.
"Capek?"
"Capekan Arsen sih keknya."
Zia tertawa, "mereka berdua true love gak sii?"
"Hmm, sama kek aku ke kamu."
"Alah bacrit!" Zia melemparkan jaketnya ke muka Aska lalu masuk ke kamar mandi.
Aska menatapnya heran dari tempat tidur. Ia bangkit dan menghampiri Zia me kamar mandi.
"Hehhh! Aku mau mandiii!"
"Yo barengan."
"Dih ngaco. Udah tua loh!"
"Masih dua puluh tahun."
Zia tertawa, "ngawur bangett. Udah ah, geser! Ini jam tujuh malem, ayyy."
"Salah siapa mandi malem? Ngapain aja dari tadi?"
"Refreshing bentarrr. Kamu aja tidur tadii!"
"Capekk."
"Yaudah keluar, ntar aku pijitin."
Aska tersenyum misterius, "pijet plus-plus?"
"Ngaco!!!" Aska tertawa.
Bukannya keluar kamar mandi, Aska malah menghidupkan shower. Tapi keduanya masih pakai baju yang utuh.
"Alhamdulillah bangett, Asya bangun cepet." Kata Aska sambil menggeserkan rambut kecil Zia.
Zia mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Aska. "Alhamdulillah, udah aku bilang juga kan? Asya gak bakal tidur lama kek aku dulu. Dia lebih kuat dari aku."
Aska tersenyum, ia memegang pinggang Zia.
"Mommy nya juga kuat siii. Kuat banget sekarang mah."
"Asya Azril juga kuat karena campuran mommy daddy nya, di mix, jadi kuat banget gituu."
"Perpaduan yang sempurna."
Keduanya tertawa.
Hening....
Cup!
Zia mengecup pipi Aska.
"Masih ngerasa bersalah, ya."
"Nggakk."
"Tatapan kamu bilang iya."
Aska cengengesan.
"Gak boleh gituuu. Nanti banyak orang yang nyalahin dirinya. Termasuk aku."
"Aku gak nyalahin diri kok. Nggak, nggak jadi. Kamu gak boleh nyalahin diri kamu."
Zia tertawa, "ampuh ternyata."
"Udah ahhh, dingin tau. Keluar gih! Aku mau mandiiii."
"Barengan. Aku juga udah basahh."
"Nyari kesempatan banget. Gak mauu!!!"
Zia mendorong Aska keluar kamar mandi.
"Dah diem disitu aje, byee."
Aska berkacak pinggang sambil menatap kesal pintu yang sudah tertutup. "Untung aku sayang." Aska berbalik hadap.
Alangkah terkejutnya Aska ketika melihat mamanya berada di dalam kamar.
"Mami ngapainn??"
"Mami yang harusnya nanya, kamu ngapain basah-basah?" Aska terpaku. Ia cengengesan lalu masuk kembali ke kamar mandi.
"ASTAGHFIRULLAHALAZIM, ASK—"
"Ssttt. Ada mami di luar," bisik Aska.
"Mama?" Aska mengangguk.
"Ngapain?" Aska menggeleng tanda tak tau.
"Modus ya kamu? KELUAR!"
"Astaghfirullah, beneran inii tuu ada mamii. Lagian ngapain kamu malu-malu gitu? Kek perawan aja."
Zia menatap garang suaminya.
"Minta di cabein itu mulut?!"
"Di ciumin ajaa, sayang."
"Dih, ogah. Udah sana keluarrr!"
"Ntar kalau kamu di gibahin sama mama gimana? Masa suaminya di biarin keluar basah-basah." Keluh Aska manja.
"Itukan ada pintuuu, arahnya ke walk in closet. Masuk ke sono. Ini handuknya!"
Aska menerimanya dengan senyuman.
Cup!!
"Makasih, sayang." Aska langsung pergi menuju walk in closet.
"Demen amat nyosor!!"
◕◕◕
07.39
"Sen.. Arsenn."
"Hm?"
Arsen membuka mata. "Kenapa, Zril?"
"Lu kecapekan??"
"Hah? Nggak, gue ketiduran. Lu butuh apa?"
"Masih aja nanyain gue. Gue gak butuh apa-apa. Nih sarapan buat lu, gue beli tadi di depan."
"Lah? Lu keluar?"
"Bareng sama anak-anak yang lain sih. Tapi tadi mereka pergi ke luar bentar. Nyari cemilan katanya buat nongkrong di sini."
"Mereka kemaren tidur disini juga?" Tanya Arsen sambil membuka bungkusan nasinya.
"Iyaa, mereka tidur di lantai. Yang cewek tidur di sofa." Arsen berohria lalu berdoa kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Lu gak mau pulang? Gak capek tidur di RS mulu?" Tanya Azril.
"Capek ya capekk. Tapi gue gak mau ninggalin Asya sendirian."
"Ada gue."
Arsen menatap Azril. "Lu juga masih sakit, Zril. Luka tembak lu belum sembuh total." Azril mengangguk paham.
"Iya juga si. Gue gak bisa lindungin Asya dalam kondisi begini."
"Udah, tenang aja. Ada gue disini. Gue bukan cuma lindungi Asya kok, gue juga ngelindungin lu dari bahaya."
"Aduhh, baper gue anjjemmm."
"Najiss. Diem lu!" Azril tertawa mendengarnya.
"Ehh, tapi lu juga luka begoo! Yang bekas kena gigitan itu gimana? Luka tembak lu?"
"Gigitan kecil doang, luka tembak apaan? Gue kan cuma di serempet sama peluru. Pelurunya takut sama guee."
"Bacott kalii. Yang betut tu lu-nya takut sama peluru." Arsen tertawa, "gak salah sih."
"Btw, Asya belum ada bangun?"
Azril menggeleng. "Mungkin dia kecapekan." Arsen berohria sambil melanjutkan makannya.
"Ahh.. jangannn... aaahhh! S-sakittt."
"G-gakk. Gue gak mauu! Lepasin guee!"
"MENJAUH! MENJAUH!!"
"Aaaaaaaaa!!!"
Arsen dan Azril langsung mendekati Asya.
"Asya?"
"Asyaa?"
"Heyy, bangun!!"
"ARSEN!" Asya terbangun. "A-Arsenn.."
Arsen mendekati Asya dan memeluknya erat.
"Arsen.. aku takuttt..." Rengek Asya sambil menangis.
Arsen semakin mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung Asya untuk menenangkan. "Tenang, yaa. Jangan takut, ada aku disinii."
Asya membalas pelukan Arsen tak kalah erat. Sangking eratnya, baju Arsen kusut karena remasan tangan Asya.
"Nuna, lu mimpi apaa?" Tanya Azril setelah beberapa menit berlalu.
Asya melepaskan pelukannya.
"Zril..."
"Iyaa. Ini gue, Azril. Lu mimpi apa hm?? Kenapa sampe ketakutan gituu?"
"Itu.. gue mimpi penculikan kemaren... gue takut, Zril. Gue takut," kata Asya terputus-putus.
"Gue sama Arsen disini. Lu gak perlu takut lagi, oke?? Udah, tenangg yaa."
Asya mengalihkan pandangannya ke Arsen. Arsen tersenyum kearahnya. "Kenapa natap aku gitu?"
Asya menggelengkan kepalanya. "Gapapaa." Asya memeluk Arsen lagi dan menyuruhnya duduk di brankar. Arsen menuruti permintaan Asya.
"Takuttt..."
"Hsstt.. udah dah. Jangan takut, aku disini." Asya mengangguk pelan.
"Assalamu'alaikum, weh apeni? Mengapa kalian begitu lengket?" Tanya Alvin heran.
__ADS_1
"Iyaa. Kenapa? Ada apa? Maling masukkah?" Tanya Haikal gantian.
"Wa'alaikumsalam. Gak kenapa-kenapa, Asya cuma mimpi buruk." Jawab Arsen yang sedang mengelusi kepala Asya yang berada di dadanya.
"Mimpi apaan? Kok gak meluk Azril?"
"Tangan gue kegencet ntarr, peaaa!"
Dino mengangguk seperti orang dongo, "bener juga si."
"Lu udah makan? Kita bawain makanan favorit lu nih." Ara dan Naina meletakkannya di dekat Asya.
"Apa itu?" Tanya Asya.
"Burger. Ada salad juga sama cemilan."
"Oooo, thank youuuu!"
"Alahhh, sok-sok-an thank you. Lu kalau mau apa-apa tinggal bilang, ntar gue beliin." Kata Shaka.
Asya tersenyum.
"Kalau gituuuu, gue maauu samyang."
"Gak usah yang aneh-aneh, masih pagi ini. Jangan sampe gue smackdown otak lu." Cibir Racksa kesal.
Asya mempout bibirnya. "Katanya mau apa-apa bilang, ntar dibeliin. Tapi giliran bilang mau apa gak dibeliin."
"Ya mintanya yang wajarrr. Masa iya kami kasih lu samyang di pagi-pagi macem ni." Kata Ara mewakili.
"Yaudah, gak jadi. Ntar aja mintanya."
"Karep lu. Btw, adem banget keknya nyandar di dadanya Arsen." Ledek Alex.
"Oh iya dong. Mau nyoba? Gak boleh! Ini punya gue."
Woi tolong! Arsen senyum-senyum sendiri setelah mendengar perkataan Asya. Ngefly dah ngefly!
"Syalnd syalnd, jadi pengen menggal kepala Asya." Gumam Ara iri. Mereka tertawa mendengarnya.
"Jangan iri jangan iri, jangan iri dengkii." Jawab Asya sambil meledek.
"Liat Arsen senyum-senyum macem orgil."
Asya mendongak, "ganteng banget si kalau senyum."
"Allahu Akbar. Ketularan buaya mana kamu, hm?" Asya tertawa kecil. Arsen mencubit pipinya gemas lalu mengecup punggung tangan Asya sekilas.
"Saya iri, saya bilang." Kata Ara.
"Sini, bahu gue kosong." Jawab Haikal semangat. Racksa langsung mendekat dan menyandar di bahu Haikal. "Kamu telat naks Ara, Haical punya saya."
"NAJISS! MINGGAT LU!"
Mereka tertawa ngakak melihat wajah Racksa yang pura-pura mo nangis.
"Tega kamu, mashh."
"Sama abang aja sini." Ajak Dino.
"Nggak deh, abang bau ketombe."
"NGAKAKK ANJEMMM."
Mereka terkekeh lagi.
"Skipp! Syaa, lu mimpi apaan tadi?" Tanya Alvin mengalihkan topik.
"Mimpii... tentang penculikan itu."
Semuanya auto melihat Asya. "Apa gue perlu cerita ke kalian biar gue legaan dikit? Tapi...."
"Gak usah kalau gak bisa. Jangan dipaksa kalau belum siap." Kata Shaka menengah.
"Bener kata Caka, gak ada yang maksa lu buat jelasin. So, gak usah cerita kalau gak mau."
"Keknya gue harus ceritaa, siapa tau gue gak bakal mimpiin penyiksaan itu lagi setelah cerita ke kalian."
Mereka menatap ke satu titik, ke Asya.
"Sok atuh kalau mau cerita."
Asya mendongak, menatap Arsen.
Arsen tersenyum, "kalau mau cerita ya cerita. Kalau nggak kuat berhenti aja, jangan di lanjut."
Asya mengangguk dengan senyuman. Ia mulai menghirup udara dan mengeluarkannya perlahan dari mulut.
"Udah udah gak usah, gue takut lu kenapa-kenapa. Nginget semua penyiksaannya pasti bikin sakit hati, dan gue gak mau liat lu sakit hati."
"Tapi gue mau cerita, Zrill. Kalian juga penasaran kan gue diapain aja."
"Syaa, kita emang penasaran lu diapain sama tu orang. Tapi kita bisa tahan kok rasa penasaran itu, kita gak bakal maksa juga lu harus cerita. Bener kata Azril tadi, nginget semua penyiksaannya pasti bikin sakit hati." Sahut Haikal.
"Kita gak mau liat lu cerita sambil ngeluarin air mata. Jadi lebih baik, lu gak usah cerita."
"Aaaa pengen nangissss, kalian baik bangetttt." Kata Asya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak usah nangiss wehlah ah, gue juga pengen nangesss kalau begini."
Asya malah tertawa meskipun matanya masih berkaca-kaca. Ia melihat ke arah Arsen, "semua orang disini sayang sama kamu, termasuk aku."
"Aku tauu." Asya tersenyum.
Cup!
Asya mengecup pipi Arsen. "I love you."
"Aku jauh lebih cinta sama kamu." Bisik Arsen tanpa di dengar yang lain. Asya tertawa lagi, "modusss!"
"HEH, CUKUP!! HARGAI SAYA SEBAGAI UKE GEMOI." Teriak Racksa emosi.
"Uke gemoi pala kau kotak! Gue lempar sofa ini mampuss lu!" Omel Haikal dengan unsur candaan.
"Kuy gas ngengg."
"Anjng. Astaghfirullahalazim. BAKAAAA!"
Asya, Azril, Arsen dan yang lain tertawa.
"Gegara lu ngomong baka, gue jadi pengen beli bakwan." Ujar Dino.
"Plisss, baka sama bakwan jauh banget. Lu ngidam?"
"Iyaa. Anak ke dua satu." Jawab Dino genit.
"Allahu Akbar.. ini temen gue kenapa kagak waras semuaa?!" Keluh Shaka mengundang gelak tawa.
"Gue juga pengen bakwan tau. Beli yuk." Ajak Asya.
"Lu gak usah ikut, kami ajaa. Lu mau apalagi? Azril juga mau apa? Lu pada mau apa?" Tanya Racksa.
"Gado-gado. Gue pengen gado-gado," jawab Azril.
"Oke, ntar sekalian dibeliin gelut-gelutnya. Lu mau apa, Sya?"
"Eum... mauu gorengan ajaa."
"Yowkee. Gue sama Dino pergi dulu." Kata Racksa.
"Hati-hati. Jangan nyimpang ke hutan!"
"Gak level main di hutan. Kami ni kelas hotel," jawab Dino sombong.
"Kelas hotel bagian ngepel."
"That's right. Dah ah, bye." Racksa dan Dino pergi meninggalkan ruangan.
"Btw, dari tadi mereka teriak kamar sebelah gak merasa ribut?" Tanya Naina heran.
"Woi woi, Naii! Ini kamar orang kayaa, kamar specialll. U know lah," kata Haikal.
"Bacot lu, Kal!" Haikal cengengesan.
"Rumah sakitnya aja milik keluarga anjrrt."
Drttt.. drt...
Ponsel Arsen berbunyi diatas meja.
Alex meraihnya.
"Om Mikko."
"Bentar ya, sayang." Arsen menjauh dari Asya dan mengangkat panggilannya.
📞 "Assalamu'alaikum, Arsen dimana?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Di rs, kenapa om?"^^^
📞 "Kita harus terbang ke luar negerii buat nemuin client."
^^^"Ndehh. Sekarang?"^^^
📞 "Ntar siang berangkat, bisa?"
Arsen berbalik menatap Asya yang sedang tertawa bersama dengan yang lain.
Arsen bingung harus jawab apaaaaa.
📞 "Sen?"
^^^"Eh iya, om."^^^
📞 "Bisa nggak?"
^^^"Dii tunda gak bisa, om? Arsen berat ninggalin Asya,^^^
^^^takut dia kenapa-kenapa lagi."^^^
📞 "Tunggu, sekretaris datang."
Arsen menunggu Mikko.
📞 "Oke. Sen?"
^^^"Hm?"^^^
📞 "Mereka yang kesinii, kamu ke tempat yang ditentukan aja ya buat diskusi."
^^^"Siapp! Kapan, om?"^^^
📞 "Besok. Eh, sekarang ke kantor bisa??"
^^^"Ngapain?"^^^
📞 "Ada yang mau om bicarain tentang proyek."
^^^"Bentar lagi Arsen kesana."^^^
📞 "Yaudah, salam buat Asya."
Tanpa sepatah kata lagi, Mikko mematikan panggilan.
Arsen kembali mendekat.
"Kenapa??" Tanya Azril.
"Gapapaa. Gue ada urusan ke kantor bentarr." Jawab Arsen sambil mendekati Asya.
"Terus ini mau pergi?" Asya mellow.
"Bentar ya, nanti aku balik lagi. Pengen apa biar aku beliin?" Tanya Arsen sambil mengelus pipi Asya.
__ADS_1
"Gak adaa. Bawain hamster aku ajaa, gapapa??"
"Iya nanti aku bawain. Aku pergi dulu"
Arsen mengecup kening Asya. "Jangan lama-lamaaa."
"Iya, sayang."
"Kalian disini aja yaa."
"Iya tauu. Santai aja luu!" Arsen tersenyum sekilas lalu pergi.
"Ntar balik lagi, Sya. Jangan gitu natapnya." Kata Ara meledek.
"Emm, perasaan gue gak enak anjirtt."
◕◕◕
10.19, Asz Group.
"Ka."
Aska membalikkan kursinya, "kenapa, Rap?"
"Lu yang kenapa? Kenapa panggil gue?"
Aska berfikir, "Jepan udah mati kan?"
"Udahh. Lu sendiri yang nembak. Kenapa?"
"Firasat gue masih hidup. Anaknya dimana?" Tanya Aska lagi.
"Gak ada yang tau dimana keluarganya. Dia kan pake ilmu black, mungkin lagi gentayangan."
"Omongan lu bajingaan!!!" Rafael tertawa ngakak.
Bruk!
"ASKAAAA!!"
"Astaghfirullahalazim, kenapa mama papa datang ngamuk beginii?" Tanya Aska panik.
"Gak usah sok gak tau! Kenapa gak bilang kalau cucu kami di RS?!"
Aska menelan ludah, "s-siapa yang bilang?"
"ASTAGHFIRULLAH ASKA!! KAMU TU YA BENER-BENERRR! KENAPA GAK NGASIH TAU KELUARGA SIHH?! KENAPA DIEM-DIEM AJAAA?! KAMU GAK ANGGEP KAMI KELUARGAA?!"
Aska auto congean:v
"Bukan maksud gak mau kasih tau, maa. Cuma ya gini, takutnya pada heboh. Aska niat ngasih tau kok, tapi gak sekarang."
"Jadi kapan?!" Tanya Papa Aska sinis.
"Kalau Asya sembuh."
"Jek suii! Cangkemmu emang minta di geplak!"
Aska cengengesan.
"Mama papa tercinta duduk dulu, kita minum dulu, jangan emosi."
"Ah ogah! Ayok ketemu Asya!"
"Masih rame, maa. Anak-anak disana semua."
"Bodoamat, ayok!"
"Oke okee, ayokk." Aska mulai memakai jasnya. "Rap, lu handle dulu." Rafael mengangguk sambil menahan tawa, agak lawak melihat bos kena omel.
"Lu ketawa potong gaji."
"CEPAT ASKA!"
"Iyaa bentar. Gak sabar banget emak gue."
"Gue pergi dulu."
Aska pergi mengejar kedua orang tuanya.
"Mama papa tau dari siapa?"
"Diem! Jangan banyak tanya!" Aska auto mingkem.
Sampai di dalam mobil juga Aska tetap menutup rapat mulutnya.
"Ceritain! Cucu papa kenapa?"
"Panjang ceritanya, pa. Nanti dari a bisa ke c lanjut ke f nyasar ke y balik lagi ke a."
"Jangan sampe papa tapok mulut kamu."
'Ini kenapa gue salah mulu dari tadi pagi?!' Batin Aska.
"Panjang beneran, pa. Aska mulai dari a dulu." Aska menceritakan segala yang ia ketahui dan ia alami.
Benar-benar panjang, Aska sampe menghabiskan sebotol air mineral yang isinya setengah.
"Gitu ceritanya."
"Terus pelaku?"
"Dah mati."
"Mati gitu aja?" Aska mengangguk.
"Kenapa gak di kasih mati pelan-pelannn?!" Tanya Papa Aska sinis.
"Zia yang langsung ngebunuh tanpa aba-aba. Yaa mau gimana lagi?"
Papa mama Aska menghela nafas panjang.
"Si twins mau kuliah kan? Gimana kalau ke Jerman aja mereka. Lumayan aman juga kalau disana." Kata Papa Aska.
"Not bad sih ke Jerman, tapi nanti ketemu Ragil gimana?"
OOT THOR!
Astaghfirullah, maaf.
"Emang mereka mau ke Jerman? Aska rasa nggak."
"Kalau nggak ke Jerman, ke Turki. Barengan sama anaknya Luis." Usul Mama Aska.
"Aska gak yakin mereka mau."
"Bicara dari hati ke jantung lalu ke empedu." Jawab Papa Aska.
"Anak bapak sama aja, sama-sama gak beres."
Aska dan Hans --Papa Aska-- tertawa mendengarnya.
Tanpa terasa mereka tiba di RS. Ketiganya langsung menuju kamar Asya dan Azril.
"Haloo."
"Aaa! Omaaa, opaaa." Sapa Asya girang.
"Haiii cucu omaa. Sakit nak kena tembak?"
Asya malah tertawa kecil.
"Racksa disini?"
"Hadir bosss." Racksa angkat tangan.
"Kamu gak kenapa-kenapa?"
"Yang di culik Asya, yang nyelametin Azril sama Arsen."
"Terus kamu ngapain?" Tanya Hans.
"Dagang cilok di perempatan."
"Ngacoo astaghfirullah!!!" Racksa cengengesan.
"Azril gimana nak?"
"Azril gapapa, omaa. Cuma kena tembak dikit," jawab Azril.
"Pasti sakit."
"Gapapa sakit, opaa. Yang penting keren bisa ketembak."
"Allahu Akbar. Ini cucu ku kenapa modelnya begini semua?"
Aska dan yang lain tertawa.
"Cucu limited edition nihh."
"Arsen mana??"
"Tadi ke kantor, ada urusan katanya."
Mereka berohria.
"Arsen itu paket komplit yakan?"
"Iya, omaa. Dia humoris, terbukti karena sering ngelawak. Dia pekerja keras, terbukti kemaren nyari Asya tanpa henti. Dia pinter, cerdas, kaya, terbukti karena masih muda aja perusahaannya ada beberapa." Kata Shaka.
"Gue tambahin. Dia dermawan plus royall, buktinya dia traktir kita makanan tanpa minta imbalan, kadang berbagi apapun itu dia lebih banyak ngeluarin uang. Dia ganteng dan manis di waktu yang bersamaan. Dia mandiri, terbukti dari sepeninggal nyokapnya." Sahut Haikal.
"Dia juga bisa romantis dengan caranya sendirii."
"Selain itu, dia rajin banget sholat. Sholat apapun itu gak pernah bolong, bahkan selalu sholat di masjid. Dan yang lebih hebatnya lagi, dia selalu sholat sunnah dua raka'at sebelum subuh." Azril ikut menambahi.
"Arsen perfect woi!! Gak ada celah keknyaa."
"Gue jadi pengen punya doi macem Arsen..." Gumam Ara.
"Gue malah pengen jadi Arsennya." Ujar Alvin.
"Dimana ada cowok macem Arsen lagi?"
"Populasinya langka atau mungkin cuma ada di dunia fiksi."
"Mau cowok kea Arsen? That impossible."
"Nothing is impossible when Allah said 'Kun Fayakun'."
"Asoyyy. Kenapa jadi curcol?" Tanya Aska heran.
Mereka malah tertawa.
Drt... drtt..
Ponsel Aska berbunyi.
"Siapa, Ka?" Tanya Hans.
"Mikko, omnya Arsen. Bentar ya, mo angkat telepon." Mereka mengangguk.
📞 "A-Assalamu'alaikum, Pak Aska."
^^^"Wa'alaikumsalam.^^^
^^^Kenapa Pak Mikko kok gagapp??"^^^
📞 "I-ini, t-tolong bantu A-Arsen."
^^^"Arsen? Arsen kenapaa?"^^^
📞 "Arsen..."
__ADS_1