
Dorr!!
Dorr!!
"Arsen!"
Teriak Asya shock.
"Dari tadi gue suruh lu buat diem. Kenapa lu malah ngomong sekarang?! HAH?!"
"Lepass! LEPASIN GUEEE! LEPASIN GUEEE ANJ!!"
"Diem atau gue tembak lu sekarang!" Asya terpaksa diam.
Dari dalam mobil, ia melihat Arsen yang sedang kesakitan karena lengannya terkena peluru.
Iya, dua tembakan tadi berasal dari lawan. Salah satunya menyerempet lengan Arsen dan yang satunya meleset, mengenai tong sampah.
Arsen menahan sakit dan mencoba kembali bangkit. Luka goresan peluru bukan hal besar baginya.
"Huh. Keluar lu sekarang!" Titah Arsen mengganas.
"Yakin mau nantangin? Beberapa peluru bakal bersarang di tubuh lu kalau lu sok nantangin gini."
"I don't care."
Bruk!!
Arsen menendang pintu mobil.
"Sini lu anjngg!"
"Beneran nantangin?"
"SINI KELUAR, GAK USAH BACOT!" Bentak Arsen.
Salah satu dari mereka ingin keluar. Tapi bos nya masuk, "bocah ingusan gak usah di ladeni. Ayok check-in."
"Otak lu bajingann!!"
Dor!
Arsen menembakkan peluru ke dalam mobil dan mengenai pahanya.
Semua terfokus pada pria yang terkena peluru. Arsen kembali menembakkan ke setiap orang. Tembakannya selalu mengenai paha tapi ada yang mengenai tangan.
Mereka kesakitan sambil memegangi luka. Arsen tidak peduli, ia menatap Asya yang sedang berusaha membuka ikatannya.
"Sya, tenang, jangan terlalu panik. Buka ikatannya pelan baru buka pintu." Asya mengangguk, ia mencoba melepas ikatan.
Cukup lama, sampai akhirnya terlepas.
Asya berhasil keluar dari mobil.
"Arsen.. hiks hikss...."
Arsen memeluk Asya erat-erat.
"Tenang, yaa. Aku disini. Maafin aku telatt." Asya menangis sejadi-jadinya di pelukan Arsen.
Tapi pelukan itu tidak berlangsung lama karena pasukan penculik yang lain bermunculan ntah dari mana.
Asya melepas pelukan, tangannya meremas baju Arsen. Ia takut Arsen pergi dan takut Arsen terluka lagi.
"Kamu tau mobil aku tadi, kan? Masuk ke sana. Kunci pintunya, oke?"
"Ayok barengan."
"Gak bisa, sayang. Kamu duluan, nanti aku nyusul."
"Tangan kamu gimanaa?"
"Sya. Jangan pedulikan aku dulu, aku gapapa. Kamu masuk sekarang." Asya pun pergi ke mobil Arsen.
Setelah melihat Asya duduk tenang di dalam, Arsen menyiapkan kemampuannya. Ia merobek baju untuk menutupi luka tembak yang sebelumnya.
"By one aja yuklah sama gue." Salah satu pria yang Arsen yakini ketua geng, menantangnya.
"Bacot by one. Orang kea lu endingnya pasti nyerang barengan."
Pria itu tersenyum misterius. Ia dan anak buahnya mulai sikap kuda-kuda.
Ketika Arsen hendak menghajarnya, mereka malah berlari ke mobil Arsen. Memecahkan kaca dan masuk paksa kemudian membawa pergi Asya lagi bersama dengan mobilnya.
"FUCKK!!"
Arsen frustasi.
Arsen merasa bodoh luar biasa karena berhasil tertipu.
Kini Arsen berjanji dalam hatinya, ia akan membunuh orang-orang tadi dengan tangannya sendiri.
Meskipun semakin menjauh, sampai sekarang Arsen masih mengejar mobil itu dengan kakinya. Melelahkan tapi Arsen berusaha untuk terus mengejar.
Tin tin!!
"Arsenn."
Arsen menoleh ke belakang, "Zrill." Arsen berhenti dan masuk ke dalam mobil Arsen.
"Tuker tempat!"
Arsen menyetir dengan kelajuan melebihi rata-rata. Kali ini benar-benar laju.
"Lengan lu berdarah."
"Kalau lu bisa, bantuin perban sekarang!"
Azril meraih P3K.
"Lu ketemu Asya??"
"Hmm. Begonya gue, Asya malah ke bawa lagi sama mereka." Keluh Arsen.
"Alah boy boyy. Gak usah gituu, gak ada yang nyalahin lu juga kok!"
Arsen diam, ia kembali fokus menyetir.
"Allahu Akbar. Ini muter-muter dari tadii."
Azril pun baru sadar, "lu ngantuk? Kenapa nyasar?"
"Gue gak ngantuk. Sorry-sorryy," Arsen berputar arah.
Dan mereka kehilangan jejak.
"Aghh! Arsen begooo!! KENAPA TOLOLL BANGET SIHHH AH!!" Umpat Arsen pada dirinya sendiri.
"Yayaya. Terus salahin diri lu sampe lu gila sendiri. Mau berapa kali punn gue bilang bukan salah lu, lu pasti tetep bilang ini salah lu."
Arsen memejamkan mata, ia juga menahan air matanya keluar. Dalam hatinya sedang beristighfar dan berdoa agar Asya baik-baik saja.
"Bokap nyokap lu mana?"
"Tadi di belakang, gue duluan."
Arsen menghela nafas, ia kembali mengemudi lagi.
Perlahan-lahan sambil menoleh sekeliling.
"Sen, mundurr."
"Maksud lu?"
"Mobilnya mundur!"
Arsen menuruti perkataan Azril.
"Kenapa?"
"Dari tadi muter, gue curiganya sama ini gedung kosong."
Azril dan Arsen saling tatap lalu keluar dari mobil.
"Siapin pistol lu!"
Azril mengangguk.
Mereka berdua berjalan masuk ke gedung bertingkat itu. Ponsel Azril berbunyi mengagetkan. Azril mengangkat panggilan dari daddy nya dan bilang kalau mereka berada di gedung kosong itu.
"Kita gak bisa berdua aja, Sen. Bodyguard daddy kemana semua sih?!" Tanya Azril kesal.
"Lu bilang sama Om Aska kan tadi? Bentar lagi otewe kesini pasti. Sekarang, kita mencar."
"Kalau misalnya gak ada disini?"
"Coba lu mikir, kalau misalnya ada disini? Udah, gak usah bacot. Ayok cari!" Mereka berpencar.
Baru beberapa jauh jarak keduanya, mereka mendengar...
"AAAAAAA!"
"Asya??!"
Itu seperti suara teriakan Asya.
Bersamaan, keduanya lari menuju sumber suara.
Pegal rasanya karena mereka harus menaiki tangga, tapi mereka berdua tidak pantang menyerah dan terus berlari.
Bruk!
Arsen langsung menendang pintu yang ia rasa ada suara tangisan dan teriakan Asya.
Benar ternyata. Asya di sana, sedang di lecehkan.
Arsen langsung mengeluarkan pistolnya dan menembaki mereka satu persatu.
Azril juga melakukan hal yang sama, tangannya sedikit tremor karena baru pertama kali membunuh orang dengan pistol.
Semua tertembak, semua berdarah, semua melemah.
Ini saatnya Arsen dan Azril mendekati Asya.
Azril melepas jaketnya dan memberikan ke tubuh Asya. Asya memakainya dan menutupi badannya yang terekspos.
"Nuna..."
__ADS_1
Asya tidak menjawab, ia masih menangis di pelukan Arsen.
"Maafin kita telatt." Ujar Azril sambil mengelus rambut Asya.
"Udah ya. Nanti lagi pelukannya. Kamu tenangin diri, kita harus pergi dari sini." Asya mengangguk.
Arsen yang tau Asya lemah berusaha menggendongnya, gendongan belakang. Pistol yang tadi Arsen pegang, ia letakkan di saku.
Mereka bertiga keluar dari ruangan, meninggalkan orang-orang yang kesakitan itu.
"STOP!!"
Arsen dan Azril tidak berhenti.
"WOI, STOP!!"
"Heyy, berhenti di situ atau kami tembak sekarang?!!"
Arsen dan Asril terpaksa berhenti.
Mereka berbalik.
"Pak Jepan?"
"Yes. It's me!"
"Saha?" Tanya Azril berbisik.
"Musuh daddy lu yang blaster Jepang."
Azril berohria.
"Lepasin wanita itu, kalian berdua aman."
"No. Lepasin kami, lu bakal aman." Jawab Azril.
Jepan tersenyum smirk.
Ntah dari mana, laser merah muncul dan mengarah ke dada Azril.
"Go away. Tinggalin gadis itu disini."
"Bacot lu, sialan!!"
Dor!
Dor!!
Baku tembak pun terjadi lagi.
Bakat terpendam Arsen dan Azril muncul di sini. Dalam hitungan menit, mereka mampu menghabiskan beberapa orang dengan pistol itu.
Yang nanya peluru?
Mereka bawa.
"Bocah ingusan bisa main pistol juga ternyataa. Perlu saya turunkan perintah untuk menembak dada Anda dengan senapan?" Tanya Jepan menatap Azril.
"Suree."
"Noo."
Bruk!
Dor!!
Dor!!
"Aahhh..."
"Asyaa!! Azril!!!"
Arsen panik melihat mereka berdua melemas.
Asya yang tadinya berniat melindungi Azril terkena tembakan dan Azril juga terkena tembakan. Mereka berdua tergeletak di bawah.
Arsen murka!
Ia berbalik hadap, tangannya yang gemetaran menodongkan pistol ke arah Jepan.
"Lu bukan manusia, yaa?" Tanya Arsen penuh dendam.
"Gua monster."
DOR!
DOR!
Bukan bukan.
Bukan Arsen yang menembakkan itu.
"Om Aska, Tante Ziaa??"
"Ziaa.. kamuu?"
"Shut up!"
Aska menghela nafas. "Sen, bawa Asya sama Azril pergi sekarang, ini biar om sama tante yang urus." Di bantu bodyguard, Arsen membawa Asya dan Azril pergi.
Melihat mereka sudah pergi, Aska menghampirinya di ikuti Zia. "Dia mati? Alhamdulillah."
"Kenapa kamu ikutan nembak sihh? Dapat pistol dari manaaa?!"
"Bodyguard. Aku ikut nembak biar nanti kalau kamu di penjara, kamu gak sendirian. Karena aku juga ikut tembak, jadi aku ikut masuk penjara."
"Zia, kenapa harus...?!"
"Aku gak mau sendirian."
Di sisi lain.
Arsen langsung membawa Asya dan Azril ke rumah sakit.
Di sepanjang jalan mendorong brankar, Arsen menahan tangisannya. "Asya, bangunn! Zrill, bangun!!"
"Oh ayolah!!!" Air mata Arsen hampir keluar.
"Gue gak tidur kok." Jawab Azril yang terpejam dengan suara serak. "Gue cuma nahan sakit."
"Zrill..."
"Kalau gue kenapa-kenapa. Jaga Asya baik-baik, yaa."
"Gak usah ngacoo lu, ajg! Lu gak boleh kenapa-kenapa!!" Azril tertawa kecil sambil menahan sakitnya.
"Makasih udah perhatian."
Mereka berdua masuk ke ruang IGD.
Arsen menunggu di depan dengan keringat yang mengucur.
Rasanya Arsen ingin mati sekarang juga ketika melihat Asya berdarah-darah tadi. Arsen gak kuat. Arsen takut kehilangan Asya seperti ia kehilangan ibunya dulu.
Arsen takut. Teramat sangat takut.
"Ya Allah, hamba mohon... jangan untuk yang kedua kalinya."
◕◕◕
Pagi hari pun tiba, selama itu juga Arsen tidak tidur. Ia menunggu Asya di samping brankarnya. Dokter bilang gak ada yang parah dengan tembakan Asya, begitupun dengan Azril.
Tapi sampai jam tujuh pagi, keduanya belum sadar.
Tok tok!!
"Assalamu'alaikum. Senn, makan dulu gih." Zia datang membawakan nasi bungkus untuk Arsen.
Arsen tersenyum sekilas.
"Maaf ngerepotin, tantee."
"Gak ada yang repotin kamu. Malah om sama tante yang repotin kamu bantu cari Asya." Arsen membalas dengan senyuman tipis.
"Lengan kamu udah di obatin?"
"Udah kok, om."
"Itu kenapa?" Tanya Zia.
"Ini kena peluru, tantee. Arsen sendirian ngikutin Asya yang di bawa penculik, terus mereka berhenti di pom bensin dan Arsen samperin. Niat awal Arsen mau negosiasi aja pake duit, karena kan beberapa masalah bisa di selesaikan dengan duit. Tapi orang ini nggak, dia malah bicara yang nggak-nggak bikin Arsen emosi. Arsen greget pengen nembak, tapi sayangnya Arsen kalah cepat."
"Arsen kena serempet peluru."
Aska menghela nafas.
"Kamu kena gigit dan juga kena peluru, perjuangan mu gak ada lawannya."
Arsen tertawa kecil. "Tentang ibu-ibu itu gimana, om? Adinda sama Pak Jepan?"
"Adinda belum di apa-apain, Jepan udah mati. Kalau ibu itu, dia sedikit gila karena selama ini juga korban dari Jepan. Jadi, om suruh bawa ke psikiater." Arsen berohria.
"Arsen jaga Asya Azril dulu, yaa? Tante mau ngasih pelajaran dulu ke Adinda."
"Hati-hati kena darah haram, tan."
Zia tertawa lalu pergi.
Aska langsung menyusulnya.
"Mau di apain?" Tanya Aska di dalam mobil.
"Penggal kepalanya.. potong jarinya... kulitin sekalian terus ntar organ-organnya kita jual aja. Wahh, ayy, kita auto kaya!!"
Aska geleng-geleng kepala, "kamu gak usah ikut deh."
"Ih apaan. Aku ikut!!"
"Jangan ganas-ganass."
"Bodo amatt. Laki ku kan juga ganas."
Aska tertawa kecil mendengarnya.
"Lakinya aja, bininya gak boleh."
"Oh tidak boleh begitu. Harus ada kesetaraan." Zia cengengesan, Aska sendiri menggelengkan kepala lagi melihat istrinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Asz dan langsung pergi ke ruang bawah tanah.
Bruk! Bruk!!
"Woii. Enak banget lu tidur," cibir Zia kesal.
Adinda dan temannya membuka mata.
"Loh, kok kalian masih hidup?" Tanya Adinda.
"Harusnya saya yang tanya gitu, kenapa Anda masih hidup?!" Kata Zia penuh emosi. "Kenapa Anda dendam banget sama anak saya?"
"Karena dia merebut segalanya dari gue!!!"
"Apa yang Asya rebut?" Tanya Aska sinis.
"Salah satunya Arsen."
Aska dan Zia mengerutkan dahi.
"Gue suka sama Arsen. Semenjak ada Asya, Arsen jadi jauh dari gue!"
"Terus? Anda dendam sama anak saya. Begitu?" Adinda mengangguk santai.
"Huh. Masalah pria sampe rela begini, murah banget Anda."
"Jaga om—"
"Di samping ada kaca. Coba ngaca, sesopan apa Anda sampai menyuruh saya jaga omongan." Adinda terdiam.
"Kita negosiasi aja. Saya kasi satu milyar, Anda pergi dari negeri ini dan jangan berurusan lagi dengan keluarga saya!"
Adinda berfikir.
"Din, iyain aja. Gue belum mau mati!" Bisik temannya di sebelah.
Adinda tersenyum smirk, "tiga milyar."
Zia tertawa sinis.
"Serakah dan gak tau diri. Satu milyar, gak ada penambahan."
"Gue gak akan pergi."
"Okeyy. Gak ada pilihan lain sih."
Zia mengarahkan tangannya ke saku celana belakang.
And yeah...
Dor!
Dor!
Zia tertawa puas dan mencampakkan pistolnya.
Aska sendiri menatap istrinya dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa diutarakan.
Antara mau marah, agak kecewa, merasa bersalah dan lain sebagainya. Ini di luar dugaannya.
"Zia.. gak seharusnya kamu yang lakuin."
"Aska, gak semuanya harus kamu yang lakuin."
Aska menghela nafas.
"Kamu ataupun aku, sama aja bakal mati kan?" Kata Zia dengan senyuman.
"Udah, ayok liat Asya." Zia keluar ruangan.
Aska terpaksa menyusulnya.
"Urus yang di dalam."
"Baik, boss."
Aska melanjutkan perjalanan ke mobilnya. Zia sudah menunggu dan duduk santai disana. Aska pun masuk tanpa suara.
Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan apapun.
"Kamu kenapa? Tumben diam."
Aska tidak menjawab.
"Marah karena tadi?"
Tetap tak menjawab.
"Askaa..?"
Aska menghela nafas lagi. "Harusnya kamu gak perlu megang pistol."
"Why? Ini asyik tau."
"Asyik apanya?! Aku gak mau kamu di cap pembunuh dan masuk penjara!!"
"Tapi kamu juga bunuh orangg. Aku gak mau kamu sendirian di penjara dan aku sendirian di rumah. Bukannya lebih baik kalau kita berdua di penjara?"
"Kalau kita dua-duanya di penjara, siapa yang ngurus anak-anak?"
Zia berfikir.
"Ehm, entahlah. Lagi pula kita gak bakal di penjara."
Aska mengusap kasar wajahnya.
"Suami dan ayah macam apa aku ini?! Membiarkan istri jadi pembunuh dan anak menjadi korban."
Zia menatap Aska.
"Ngomong apa sih?"
"Maaf.. Aku gagal jadi ayah buat anak kita."
"Aska, sayang, ngurus anak itu tanggung jawab kedua orang tua. Dan itu artinya kita berdua, bukan cuma kamu. So, kalau kamu salah aku juga salah."
Zia mendekat dan mengusap air mata Aska.
"Kamu itu ayah yang hebat. Anak-anak juga pasti bilang kamu ayah terhebat. Kejadian ini, bukan hal yang bisa kita dugaa. Stop nyalahin diri kamu sendirii, okee!"
"Aku janji kedepannya, aku bakal jadi suami dan ayah yang terbaik. Aku bakal jaga kamu dan anak-anak lebih baik dari sebelumnya." Kata Aska setelah mengusap air mata.
"Kemaren, sekarang ataupun besok, kamu tetep suami dan ayah yang terbaik bagi aku."
Zia memencet tombol otomatis lalu mencium bibir Aska. Aska membalasnya. OMG! Aska lebih ganas dari Zia.
Sadar akan kelakuannya, Zia mundur.
"Hehe."
Aska tersenyum.
"Sekarang, gak ada yang bisa ngacauin keluarga kita lagi. Kalau ada, aku siap nembaknya. Dor dor!"
"Gak usah. Biar aku aja," jawab Aska.
"Eitss, bagi duaa."
◕◕◕
"Senn, Asya gimana?"
Arsen mendongak. "Eh, lu? Kenapa bangun??"
"Gue gapapaa."
"Otot lu cedera, lu gak boleh gunain bahu untuk sementara."
"Gue gapapa, Sen."
Arsen berdiri dan membantu Azril kembali ke brankarnya yang di sebelah Asya. "Jangan bandell!"
"Lu nanya gimana Asya, kan? Asya belum bangun sampe sekarang. Tapi lu tenang aja, jangan dipikirin, Asya bentar lagi bangun kok."
Azril menatap lekat mata Arsen. Lingkaran mata berwarna hitam dan mata panda menghiasi mata Arsen.
"Lu belum tidur, ya?"
"Udah tadi."
"Yayaya. Bukan Arsen namanya kalau nggak bohong." Arsen tertawa kecil.
"Btw, gue kebelet ke kamar mandii. Bisa bantuu?"
"Of course. Sini gue bantu."
Arsen memapah Azril menuju kamar mandi di ruangan.
"Gue cuma minta anterin doang kok. Lu keluar aja," kata Azril.
"Yakin bisa?" Azril mengangguk.
"Lu pasti malu karena kecil."
"Hehh bngsatt!! Gedean juga gue dari pada lu!" Protes Azril.
"Halahh, kalah punya lu sama punya gue."
"Ayok adu ah, bacot lu!"
"Matamuuu!" Azril tertawa mendengarnya.
"Udah keluar sana."
"Iye-iyee. Ntar panggil gue," Azril mengangguk.
Arsen keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di samping brankar Asya.
Arsen menghela nafas.
"Kapan bangunnya sih kamu? Ayok bangunn, sayaangg."
Arsen mengelus dan mengecup punggung tangan Asya.
"It's okay. Kamu butuh istirahat juga karena capek banget ngadepin mereka. Jangan lama-lamaa, yaa."
"Tapi selama apapun ituu, aku bakal nunggu kamu sampe bangun kok. Aku gak bakal kemana-mana. Aku disini, jaga kamu. Aku gak bakal pergi ninggalin kamu sendirian."
__ADS_1
Arsen berdiri, ia mengecup kening Asya.
"Cepet bangun ya, sayang. I love you."