
Party terus berlanjut. Semua bersenang-senang dengan senang. Makin malam makin hot. Tepat pukul 11.30 mereka dj-an bersama. Berjoget ria sesuka hati menikmati party.
"Jangan ikut-ikutan," kata Arsen berbisik. Ia berdiam diri dan tidak ikut berjoget demi menemani istrinya. "Ya kan aku diem aja ini, sayanggg."
"Nice." Arsen mengecup kening istrinya, mengelus dan menyandarkannya di pundak. "Mang gak boleh kah? Bumil harus banyak gerak juga lohh??"
"Gak dugem jugakan maksudnyaa." Asya yang tadinya menjauh kembali menyandarkan kepalanya di pundak Arsen. "Hehe."
Saat mereka berdua sedang berbincang hal yang lain sekaligus menceritakan teman Shaka, tiba-tiba Azril datang. "Woii, Nai. Sini duduk dahh, kecapean ntar lu!" teriak Azril kencang. Naina menoleh sekilas lalu menghampiri Azril.
Melihat Naina ngos-ngosan dan keringatan, Azril mengambil tissue dan mengelapkan keringat Naina. "Sangatt seruu, Zrill. Wedding party kita besok gini yaaa?" Azril tertawa lalu mengangguk.
"Kata gua mah, mending jangan halu," sahut Arsen dengan santai. "Kalau kata gua minimal usaha." Azril auto menatap pasutri sinis sambil mengacungkan jari tengah. "Bacott bacott."
Asya dan Arsen cengengesan. "Ini lu berdua udahan, kan? Temenin istri gue dulu nih," kata Arsen. "Lu mau kemana ngab?"
"Nemuin tu orang, kebetulan kenal."
"Baiklah. Minggat sana lu!" ujar Azril penuh dendam. Arsen menatap Asya, "Aku tinggal sebentar ya, sayang." Asya mengangguk, Arsen mengecup keningnya lagi lalu pergi.
Setelahnya Asya bergeser, bersandar pada Azril. "Nai, pinjem bentar." Naina mengangguk, "Ambik aja. Gue sebagai calon aunty akan berbagi."
"Hahaha."
"Lu kalau ngidam sesuatu terus gak diizinin Arsen bilang gue aja, Sya. Gue sebagai uncle akan melakukan apapun buat si dede."
"Sip, amann. Gue gak ada ngidam apa-apa sih sebenernya, tapi tiba-tiba pengen liat lu minum americano delapan shoot."
"Ngadi-ngadii lu monyettt!" Asya tersenyum merayu menatap Azril, "Katanya mau melakukan apapun..."
"Tapi gak gitu jugaaa... Besok gue coba deh yaaa, tar beli di strubuk." Asya sumringah, "Okayy!!"
"Ada-ada ajaa bumil," ledek Naina tertawa. Asya menyender ke arah Naina lalu berbisik, "Ngerjain doang inituu."
"Hahaha. Sudah kudugonggg, tercium aromanyaa, bukk." Asya nyengir kesenangan. "Kalau dia lupa gak bakal gue ingetin. Kasian ntar belioo."
"Pinterr, Asya anak baik," kata Naina menepuk-nepuk pelan kepala Asya. "Monyet luu, Naii!" Naina cengengesan, "Dipuji padahal."
"Eh btw, Sya, liat lakik lu. Kok keknya dia minum dehh??" tanya Azril baru kembali mengambil air untuk Asya.
Asya langsung menoleh. "Air putih ituu kayaknya," jawab Asya masih berpositif thinking. "Bisa jadii si, bisa jadii. Pinter, masih positif thinking lu nya."
'Dalam hati kagak siee broo,' batin Asya kesal. 'Kalau sampe minum beneran, gue pecat jadi kepala keluarga lu, Sen!!'
"Sya, keknya itu bukan air putih deh..." Asya tersenyum kaku, "Diam kau." Azril auto terdiam melihat Asya agak garang. Ia melipat tangan di dada sambil memperhatikan sang suami.
"Waduh waduhh, kacau siee. Zrill, samperin sonoo!" titah Naina was-was. "Gak, gak usah! Liat sejauh mana dia inget perkataan gue." Azril kembali diam di tempat.
"Kata gue air putih sih itu," ujar Azril tiba-tiba. Asya menatapnya sinis, "Kata gue mending lu diem."
"Wadidaw. Tadi masih nyantai dan berpositif thingking lah belio ini. Mengapa tiba-tiba menjadi garangg?" tanya Azril dengan suara pelan. "Kamu yang mancing yee," bisik Naina yang mendengar.
"Iya sihh, hum.. iya jugaa."
"Udahh. Calm, Sya, calm... Arsen kuat alkohol kok tuu, amann," sahut Haikal nongol. "Bukan kuat enggaknya, sholat dia bakal kena banned!"
"Itu air putih kok, percaya dah sama guee," tambah Ara menenangkan. "Berisik beh lu pada. Jelas-jelas alkohol. Emang ada tu orang-orang style formal asal luar cuma minum air putih? That's impossible broo!!"
"Tap—"
"Sssttt! Jangan banyak cakap."
"Oke, diem. Nona muda marah. Nasib Arsen kedepannya agak memprihatinkan sekarang...."
...◕◕◕...
Dan benar memprihatinkan. Arsen beneran meneguk alkohol membuat Asya marah. Padahal hanya sedikit katanya, hanya satu botol.
"Sayangg, jangan ngambek dong. Aku cuma di tantang sama mereka tadii gak enak mau nolaknya," bujuk Arsen mendekati Asya. Asya menatapnya sinis, "Kalau kamu mau aku pindah mobil, mepet aja terus."
Arsen kembali bergeser. "Gak enak nolak tapi enak ingkar janji," cibir Asya kesal. "Tidur di luar apartemen atau mau di luar kamar?"
"Sayaangg, jaangan dong. Gak bakal bisa tidurr akunyaaa," kata Arsen merengek. "Udah aku bilang konsekuensinya dari awal. Kamu tidur di luar!"
"Yaudah. Luar kamar gakpapa deh, tapi jangan luar apart yaa??" bujuk Arsen lagi. "Oke. Gak bakal ada juga kfc sebulan."
"Kalau itu gak bisaa, sayanggg. Masa gak boleh kiss? Gak boleh cuddle?? Boleh doongg, aku kan gak mabok ayy..."
"Sama aja kamu ingkar janji! Gak suka aku tuh kamu mabok-mabokan, males!!"
Arsen kembali mendekat, tangannya menggenggam tangan Asya. "Sayang, aku tau aku salah, yang aku lakuin emang gak bisa dibenarkan. Aku minta maaf ya, aku minta maaf juga udah ingkar janji sama kamu. Maafin aku ya sayangg yaa... Janji gak ulangi lagi."
"Males. Janji cowok gak bisa dipegang!" Arsen mengulangi perkataannya sambil berbicara pada tangannya, kemudian menggenggam tangan Asya. "Ini kan pegang tangan aku, jadi pegang aja janji aku, okayy?"
"Memang agak laen."
"Gak jadi bobo luar kan yaangg?? Masih bisa kfc kann?" Asya menggeleng santai. "Ya Allah, sayaangggg... Lemes suamimu inii."
"Alayy."
"Sa—"
"Pak udah sampe apartemen." Arsen melihat sekeliling, ternyata benar. Mereka di basement. Arsen langsung membuka pintu lalu membukakan pintu Asya dan menggendongnya. "Tolong, pak."
Supir menutupkan pintunya. "Makasih, pak." Arsen membawa masuk Asya. Asya diam digendongan sambil memegang leher Arsen. "Jangan kira gegara kamu gendong aku maafin ya."
"Gak masalah, yang penting istriku gak capek dan anakku tetap baik-baik saja." Asya menatap wajah Arsen yang sedang serius berjalan. Tampan. Suaminya benar-benar tampan.
Sampai akhirnya tiba di dalam kamar, Arsen meletakkan Asya di kasur. Setelahnya ia mencari baju di lemari dan langsung mandi.
"Agak laeen emang agak laenn. Mandi kok malem-malemm?!" dumel Asya kesal. Ia menyusul ke pintu, "Gak usah mandi beneran! Badanmu belum fit totall!"
"Tolong ambilin handuk kecil di lemari, yangg." Dengan berbaik hati, Asya mengambilkannya lalu diantar kembali ke depan pintu.
Pintu terbuka memperlihatkan tangan Arsen, Asya memberikan handuknya tepat ditangan Arsen, tapi jahilnya Arsen, ia membawa Asya masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirullahalazim. Aneh banget kamuu bawa aku masukk!! Pake bajuuu," titah Asya garang sambil berbalik badan. "Pakein yaang..."
"Mulai, mulai."
__ADS_1
Arsen memakai bathrobe lalu memeluk Asya dari belakang. "Aku beneran minta maaf udah ingkarin janji gak minum alkohol. Bukan alasan, tapi aku beneran ditantang dan gak enak mau nolak. Sesuai konsekuensi awal, aku bakal tidur di luar. Maafin aku yaa, sayangg, aku janji gak bakal ngulangin lagi."
Arsen mengecup pipi Asya sebagai penutup kemudian Arsen keluar dan memakai bajunya di ruangan sebelah. Setelah itu Arsen merebahkan tubuhnya di sofa luar.
Asya yang baru keluar kamar mandi langsung mencari di mana keberadaan Arsen. Asya mengganti bajunya dengan baju lengan pendek seperti biasa dan celana di atas lutut.
Asya keluar sambil membawa selimut di badan. Ia datang dan langsung menimpa Arsen. "Bobo di kamar aja yaaa. Nanti kamu sakit pinggang bobo di sini," kata Asya baik mengelus pipi Arsen. "Tadi gak boleh??"
"Sekarang boleh. Biby gak mau jauh dari papa katanyaa." Arsen tersenyum senang, "Jadi ini maunya biby, bukan kemauan momnyaa?"
"Mau momnya jugaa, mom pengen cuddlee agar bisa boboo." Arsen tersenyum senang, ia langsung membawa Asya ke kamar. Arsen tidur di sebelahnya.
Karena merasa tidak akan mendapat pelukan, Asya berinisiatif sendiri untuk memulai pelukan. Ia kembali naik ke atas tubuh Arsen dan memeluknya.
"Kebiasaaann." Arsen diam mengelus punggung Asya, Asya juga perlahan memejamkan mata karena punggungnya di elus lembut. "Sayang Arsen banyak-banyak!!"
Arsen tersenyum sambil memejamkan mata, ia masih mencoba untuk tenang, karena sejujurnya ia sulit untuk tenang. "Bismillah nyenyak..."
...◕◕◕...
Pagi harinya. Asya terbangun duluan dalam posisi dipeluk Arsen. Ia tersenyum melihat wajah suaminya, tampan, Asya sangat suka pria tampan.
Gemas melihat bibir Arsen, Asya mengecupnya beberapa kali membuat Arsen terbangun. "Kenapaa, sayangg?" tanya Arsen dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ndapapaaa, I love youu."
"I love you moree, momm," jawab Arsen santai kembali terpejam, tangannya mengelus punggung Asya lembut.
Asya masih tersenyum, ia juga masih menatap suaminya. "Kalau kamu masih mau bobo, bobo aja gakpapaa, tapi lepas dulu pelukannya."
"Kamu mau kemanaa?" tanya Arsen kembali membuka mata. "Ke dapur, beberes, masak sarapan juga sekalian."
"Udah gak usah, biar aku aja. Sekalian penebusan dosa ingkar janji." Asya menyipitkan mata, "Sehari doang?"
"Sebulan aku jabanin."
"Oke sebulan."
Arsen mengangguk-angguk, "Bobo aja lagi. Nanti beberesnyaa, gak usah dipikirin biar jadi urusanku."
"Kamu gak kerja? Gak kuliah?"
"Gak ada kelas kuliah mah, kalau kerja nanti siang juga bisa. Gak ada meeting akunya." Asya terdiam tidak merespon, Arsen sendiri malah lanjut masuk alam mimpi.
"Mas, tiba-tiba pengen ke rumah mommy. Mau lihat kelincii," kata Asya kembali membangunkan Arsen.
"Sekarang?"
"Huum, sekarangg. Ayo sekalian mainn, kamu kan gak sibuk jugaa," jawab Asya santai. "Bolehh deh. Mau siap-siap sekarang? Kalau iya cium akuu."
Asya langsung mencium Arsen. Niatnya ingin sebentar, tapi karena ditahan Arsen jadi cukup lama. Sepersekian detik berikutnya, Arsen melepas ciuman. "Lovee youuu."
"Wofyuumolll." Arsen tersenyum senang, ia mengecup kening Asya lalu melepas pelukan. Asya sendiri langsung mempersiapkan dirinya, sedangkan Arsen melihat schedulenya terlebih dahulu.
Seusai melihat schedule, Arsen mulai bersih-bersih rumah. Ia mulai mencuci piring, karena sedikit jadi cepat selesai. Arsen lanjut menyapu, sekalian mengepel. Dan terakhir Arsen membuat nasi goreng simple ala-ala.
Bertepatan dengan Arsen selesai masak, Asya juga selesai beres-beres. "Wahh...."
"Kamu tu mau gimanapun jugaa tetep cantikk, kalaupun banyak yang lirik kan aku cuma mau sama kamuu," jawab Arsen dengan senyuman.
"Yaa walaupun?! Aku harus tetap cantik. Yakalii istri bapak Arsen bulukk." Arsen malah tertawa. "Iya deh iyaaa. Yaudah, kamu mau makan duluan?"
"Maunya sama kamu."
"Okeey, tunggu aku mandi dulu sebentar yaa. Lagian itu masih panas jugaa." Asya mengangkat jempolnya. Arsen pergi setelah mengecup kening Asya sekilas.
"Arseeenn!"
Arsen berbalik. "Kenapa, sayangg?"
"Kamu kelupaan sesuatuuu!"
"Apaanyaa yang lupaaa?" Asya mendekat lalu langsung mencium bibir Arsen. Arsen diam, membiarkan Asya mendominasi.
"Morning kiss. Sudahh, lanjut sanaa."
Arsen senyum-senyum salting. "Abis mandi aku mau lagi. Berbagi lipstik itu indah," katanya lalu masuk ke kamar. Asya geleng-geleng melihat suaminya itu.
Di dalam kamar mandi, Arsen masih salting dengan apa yang dilakukan Asya tadi. Gak tau kenapa, jadi salting banget si Arsen.
"Hadeehhh, bini gue lucu bangeeettt. Napa lucu bangeett si bumiill?!" gumam Arsen sambil memulai mandi. Arsen mandi dengan durasi yang cukup singkat. Yaaa cuma mandi doang ngapain lama, ya kan?
Arsen keluar, mengenakan baju yang Asya pilihkan, setelahnya ia datang ke meja makan. "Aku kira udah makan duluan kamu, sayang."
"Aku gak mau jadi istri durhakaa," kata Asya meletakkan nasi goreng ke piring Arsen. "Ada-ada ajaa. Yaudah ayo mulai mamm."
Pasutri itupun makan dengan tenang. Asya tampak gembira dengan apa yang dimakannya, masakan Arsen memang tidak perlu diragukan kenikmatannya.
"Enakk?"
"Bangettt. Aku rate 1jt miliarrrr!!" jawab Asya antusias. Arsen tersenyum senang.
"Alhamdulillah, kamu sukaa." Asya ikut tersenyum melihat senyuman Arsen. Keduanya kembali makan sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Setelah itu, Asya menggulung lengan bajunya, ia berniat mencuci piring sebelum pergi. Tapi Arsen menahan, "Mau ngapain??"
"Cuci piring, why?"
"Buat apaa? Gak usah, biar nanti aku aja pas pulang." Asya menggeleng, ia membelakangi Arsen. "Aku aja, cuma dikit jugaa."
"Mulai bandell."
"Cuma cuci piriiing. Kamu udah bebersih, udah masak juga tadii. Ini gantian aku, bentaran ajaa kokk." Arsen membiarkan Asya kali ini, ia bersandar di meja sambil memperhatikan Asya sampai selesai.
"Okayy, finish!" kata Asya mengelap tangannya. Arsen mendekat kemudian membantu Asya mengelap tangannya dengan tissue. "Udah, kan? Kita berangkat sekarang."
"Let's gooo!" Asya menggandeng tangan Arsen. Kini keduanya pun berangkat menuju rumah utama Aska.
Di saat Arsen sedang fokus mengemudi, Asya melihat ke arah luar. Matanya berkeliaran seperti mencari sesuatu. "ARSEN STOP!!"
__ADS_1
"Hah?"
"Ihh, ituuuu bubur ayamnya kelewaatttt!" dumel Asya kesal menatap Arsen. "Kamu belum kenyang??"
"Aku mau bubur ayamm!"
"Kamu baru beres makan, nanti kekenyangan malah muntah, sayangg," jawab Arsen lembut. "Aku pengen bubur ayamm. Ini bibyy yang mauu."
Arsen menghela nafas, tidak bisa menolak lagi karena Asya menyebut anaknya. Arsen pun memberhentikan mobil. Sudah cukup jauh sebenarnya, tapi daripada harus muter-muter, Arsen memilih jalan kaki.
"Kamu tunggu di mobil biar aku aja yang beli," kata Arsen sembari mengecek isi dompetnya. "Ternyata cash aku juga abis, jadi nanti sekalian ambil dulu bentar. Kamu jangan bandel di mobil."
"Okee bos!!" balas Asya tersenyum senang. Arsen mengecup kening istrinya lalu pergi membeli bubur ayam. Asya diam di mobil sambil memainkan ponselnya.
Terpantau mood Asya sedang bagus pagi ini.
Arsen masih menunggu antrian sekarang, ia merasa sedikit tidak tenang karena meninggalkan Asya sendiri di mobil. "Ehm, halo, mas... Sendirian?"
"Enggak, ini sama adek saya di sebelah," jawab Arsen asal. Cosplay jadi anak indigo. "Tapi di sebelah mas kosong, saya boleh duduk situ?"
"Enggak, jangan. Kasian adek saya."
"Tapi mas, itu di situ gak ada orangg."
"Ada adek saya," jawab Arsen tegas penuh penekanan. Wanita yang tadi ingin menggodanya terdiam kikuk, "Ganteng-ganteng indigo!"
Arsen tersenyum miring melihat wanita tadi pergi. "Beneran ada orang di sebelah masnya?" tanya bapak penjual bubur ayam ikut penasaran. Arsen menggeleng, "Gak ada, pak. Bergurau saja saya."
"Wahh, sayang banget mass. Itu tadi mbaknya cantik lohh?" kata bapaknya lagi. "Cantikkan istri saya lah, pak. Dan yang jelas gak gatel kek tadi."
Bapaknya mengangguk-angguk. "Masnya setia yaa, mantepp." Arsen tersenyum, "Dapetin istri saya aja udah susah, pak. Yakali pas udah dapat, udah saya jadiin istri, malah saya selingkuhi. Bodoh banget saya kalau begitu."
"Iyaa bener sih, mas. Ini mas buburnya udah siap." Arsen menerima lalu membayar dengan uang cash yang tadi sudah diambilnya. "Waduhh, kembali—"
"Kembaliannya untuk bapak ajaa. Makasih, pak, semangat jualannya ya." Arsen tersenyum, ia menepuk pundak bapaknya kemudian pergi menuju mobil.
"Assalamu'alaikum, sayangkuu," sapa Arsen begitu membuka mobil. Asya tersenyum, wajahnya terlihat gembira. "Wa'alaikumsalam, mas. Mana buburnya?"
Asya menerima bubur ayamnya dengan senang. "Hwiii, aku mam di mobil yaa."
"Tunggu dulu, aku beli air mineral." Arsen kembali menutup pintu lalu berlari ke seberang. Kebetulan ada indoapril di sana. Arsen membeli dua air mineral kemudian balik lagi ke mobil.
"Cian bangett papii, lari-lari terusss," kata Asya dengan nada anak kecil. "Demi mom sama bibyy mahh gapapaaa."
"Sini deh deket kamunyaa," pinta Asya sehabis Arsen masuk mobil. Arsen sedikit mendekat, Asya langsung mengecup bibir dan pipi Arsen. "Lovee youuu, babee."
"Love you moree. Makan gih kalau mau makan, aku nyetirnya pelan-pelan." Arsen mengelus rambut Asya, mengecup keningnya lalu mulai mengemudi lagi.
Asya diam sambil menikmati buburnya. Dalam porsi yang cukup banyak, Asya berhasil menghabiskan hampir setengahnya. "Sayang, kenyangg."
"Masih banyakk?" Asya mengangguk. "Yaudah taro dulu aja, nanti aku yang makan."
"Sini aku suapin sekarang." Mau gak mau Arsen membuka mulutnya, Asya menyuapi dengan telaten.
"Kalau gini terus bisa ikutan hamil aku," keluh Arsen membuat Asya tertawa. Ia mengelus perut Arsen. "Ini masih kerasa kok kotaknyaa."
"Gak lama lagi berubah jadi onepack."
Semenit setelahnya mobil Arsen berbelok. Mereka sudah tiba di tempat tujuan. Keduanya keluar secara bersamaan. Asya membuang bekas buburnya dulu baru mengajak Arsen masuk.
"As— loh kok rameeeee?? Ihh, apaan, pada nginep gak ngajak guee?!" dumel Asya melihat semua temannya berkumpul. "Salah siapa lu pulangnya marah-marah?"
"Salah Arsen!!"
Arsen yang tadinya diam menunjukkan wajah bingungnya. "Iya dah aku yang salah."
"HAHAHAHAHA!"
"Pasrah banget belio ini di salahkan. Aku yang salah kok sayang," kata Asya tersenyum. "Karepmu, yangg. Mommy daddy kemanaa ini?"
"Daddy di sinii. Kenapa nyari, nak?" tanya Aska nongol dari dapur. "Gak adaa, panggil aja, dad."
"Kebetulan kamu dateng, ada yang mau daddy obrolin. Ayok ke ruang kerjaa," Aska merangkul menantunya itu lalu pergi ke ruang kerja dan mengabaikan yang lainnya. "Jiwa pebisnis emang beda."
"Daripada lu berdiri kek orang cengoo, mending duduk sini," panggil Ara. Asya pun datang menghampiri mereka. "Gimana sisa party kemaren?"
"Seru lahh. Apalagi lu gak ada, gak rusuh jadinya," jawab Azril mewakili. Asya menatapnya sinis, "Gue gak setukang rusuh itu yaa."
"Lu rusuh yaa kakk. Orang Arsen lagi asik-asik ngobrol gitu menikmati party kemaren malah lu tarik. Parah banget," sahut Racksa sokab. "Au tuh. Kok mau Arsen sama lu ya, udah bawel, rese banget lagi."
"Udah gitu maunya bener teruss. Kasian Arsen dapet istri beginiii ini. Arsen deserve better si kata gue." Asya terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Azril barusan.
"Waduh... Zril, matanya berkaca-kaca. Ini gue gak ikut-ikutan yee..."
"Azril, ini salah Azril.."
"Anjirr? Lu gak mungkin nangis sih yekan? Yakali Asya cengeng?" Asya mulai sesenggukan.
"HUAAAAA!!"
"Mampusss dah! Mampusss lu, Jrill," ledek Alvin sambil menahan tawa. "Gak ikut-ikutan beneran gue ini mah. Gue diem aja coppp," sahut Haikal berusaha santai.
Azril dan Racksa tampak panik. "Sya? Jangan nangis donggg. Becanda doang, Sya, sumpah dah."
"Bacot lu!" Dengan mata yang sudah meneteskan air, Asya pergi ke ruang kerja daddynya. "Arsen....."
"Lohh? Ehh?? Sayang kenapaa???" tanya Arsen panik langsung mendekati Asya. "Azril jahatt... Racksa jugaaa... Masa tadi mereka bilang kamu deserve better, katanya... kasian kamu punya istri kek aku.. Terus masa mereka bilang aku jelek, gendutt..."
"FITNAH WOEIII, GUE GAK BILANG GITUU!!" sahut Azril yang nguping. "Azril!!" tegur daddynya tegas.
"Daddy, sumpahhh, Azril gak bilang gituuu. Ih kau nih nambah-nambahin ajaalaa, Asyaa!" dumel Azril kesal. Asya diam masih menangis di pelukan Arsen. Siapa sangka nangisnya benar-benar nangis.
"Udah, sayang. Jangan nangis lagi heyy. Yang mereka bilang kan gak benerr. Kita ke kamar dulu ya, ayok aku gendong." Asya tidak melepas pelukannya, dengan sekuat tenaga Arsen menggendong Asya dari bawah.
"Gue tandai lu, Zril." Azril terdiam, ia menatap Arsen dan Asya yang sedang berjalan ke kamar. "Ini keknya bukan gue doang yang salah, kenapa jadi cuma guee???"
"CUMA ELUU YEE MONYETTT!!"
"Ada-ada ajaa kamu tuuu. Asya lagi hamil, sensitif, malah digangguu," jawab Aska. "Azril gak nyangka ampe segitunyaaa."
__ADS_1
"Sama ajaa kamu kek Zai. Uncle kamu gitu dulu waktu mom hamil kalian," sahut Zia tiba-tiba nongol. "Hiss, terus ini nasib Azril gimanaa jadinyaa??"