
Haii kalian <3
Gue cuma mau bilang, dimanapun kalian berada stay safe yaaww! Jangan lupa pake masker, cuci tangan, juga jauhin kerumunann. Mau virus pergi, kan? Patuhin prokesnyaa.
Udah gitu aja, thank u! ♡
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
"Yhaah, demi adek ipar, keluar malam-malam untuk jemput calon pacarnyaaa." Dumel Arsen sambil memakai seat belt.
"Ikhlas gak tuhh?"
"Ikhlas, sayangg. Ikhlas banget kok." Jawab Arsen sambil menatap Asya dengan senyuman.
Asya sendiri tertawa melihatnya.
"Pake seat beltnya, biar berangkat sekarangg."
Asya pun memasang seat belt.
"Tapi ada yang beda, ya??"
"Peka banget kamuu."
Asya menatap heran Arsen, "apa yang bedaa nii?"
"Seat beltnya doang."
"Bongakkk! Kamu beli mobil baruu?" Arsen menggeleng.
"Ini tu mobil lama, cuma jarang dipake ajaa." Asya berohria dengan santai. "Yasuda, mari berangkatt!"
"Bismillahirrahmanirrahim." Arsen mulai menyetir mobil. Mereka berdua hendak menuju rumah Naina.
"Sejauh mana ya hubungan Azril sama Naina?" Tanya Asya keheranan.
"Yaa, aku nggak tau. Kan aku sibuk sama hubungan kita," jawab Arsen nyantai.
"Tapi mereka cocok, yekan?"
"Mereka saling melengkapi, yaa menurutku emang cocok sihh."
"Aku shipper mereka, garis keras!!"
"Aku ikut shipper garis keras dehh."
"Hihh, kut ikutt. Kalau dipikir-pikirr Naina tu sabar banget. Keknya dia tercipta untuk jadi pelengkapnya Azril." Ujar Asya lagi.
"Iyaa. Kamu juga tercipta untuk jadi pelengkap ku."
"Alahh siaaa boyyy, modusss bangett!" Ledek Asya sambil tertawa kecil.
"Padahal aku seriusss. Btw, kamu dirumah Darren ngapain aja?"
"Nggak ngapa-ngapain sii. Lebih sering mainnya sama anak angkat Om Darren."
"Main apa??"
"Yaaa main-main pokoknya. Anaknya tu gemesin bangett taukk." Jawab Asya.
"Anak orang. Besok kita buat selusin. Yang jelas diroduksi oleh Arsen dan Asya."
Plak!
Asya menggeplak tangan Arsen.
"Mengada-ngada kalii!" Arsen cengengesan.
"Selama disana, ada inget ke aku nggak?"
"Nggak, ngapain nginget kamu?"
Arsen meminggirkan mobil lalu menatap Asya.
"Sakit betul lah ini. Betul gak boong. Bisa-bisanyaaa aku dilupakan."
Asya tertawa melihat ekspresinya. Tiba-tiba Asya mendekatkan wajahnya ke muka Arsen lalu mengecup pipi Arsen yang sebelumnya ia tutup dengan tangannya sendiri.
Yaa! Asya mencium punggung tangannya sendiri.
"Aku mikirin kamu, seriusss deh."
"Ahh, bullshit." Arsen melanjutkan perjalanan.
"Seriuss. Aku tu mikirnya, kamu nyariin nggak ya? Kamu khawatir nggak? Kamu makan nggak? Tidur nggak? Semuanyaaaa ku pikirin."
"Omong kosong, sayangg. Digombalin Darren dikit juga lupa sama ku." Cibir Arsen.
Asya cengengesan, "ada betulnya juga sii."
"Kan, kan.. pantang liat yang lebih ganteng. Langsung lah diembat."
"Nggak gituuu laaa, dari segi ganteng juga gantengan kamu pastii. Teruss, skillnya juga kuatan kamuu keknya."
"Skill apaa?"
"Skill usahaa."
Asya ngeles.
"Aku tau yang kamu pikirin, sayang." Asya tertawa kecil.
"Udah, jangan buat aku terbang jika nantinya bakal kamu jatuhkan sejatuh-jatuhnya."
Asya mengusap wajah Arsen, "dramatis bangett."
"Drimitis bingittz." Asya nyengir kuda.
"Pasti benerkan, digombalin Darren dikit langsung meleyot kamu? Iyalah, bapak anak satu gitu lohh. Kalau udah digombalin ya lupa lah samakuu."
"Sebenernya bukan ngelupain kamu, tapi gak keinget kamu."
"Sama ajaaa, munaraohhh. Emangnya bener digombalin?"
Asya mengangguk, "jadi giniii."
"Beberapa kali tuu Davee minta Asya manggil papanya papaa, bukan om."
"Terus?"
"Yaa, aku panggil papa dongg. Ehh, om Darren balas manggil bundaa. Example, papa minta maaf sama Dave! Om Darren jawab, iya bunda. Gituu."
"Abistu? Kamu baper gitu?" Asya mengangguk santai.
"Apaan gitu doang baper. Kek anak alay tau gaaa. Papa bundaan diwwh. Jamet kelas ikan teri, alay kelas ikan pari."
"Julid banget, astaghfirullah. Lemesss amattt!"
"Ya maaff, kesel aku tuu!" Asya cengengesan.
"Sebenernya, iyaaa sii. Tapi kok aku baper kemaren?"
"Karena yang manggil Darren. Om om anak satu."
Asya tertawa, "kamu tu kalau cemburu lucu kebangetan, yaa?"
"Buaya betina keluar ni, keluar."
Asya tertawa lagi.
"Udaahh, jangan ngambek muluu. Nanti beli seblak." Goda Asya.
"Kan abis makan seblakk."
"Lah iyaaa." Asya cengengesan.
"Ada dikasarin nggak kamu? Sama penculiknya."
"Kaki aku sakitt, kena sandung batu." Jawab Asya.
"Mana liat."
Asya melepas sepatunya lalu menunjukkan pada Arsen. "Nanti aku obatin."
"Tapi udah diobatin sama Om Darren."
"Nanti aku obatin lagi, lagi, lagi. Terus luka lainnya?"
"Eumm, gada keknya."
Arsen berohria lalu terdiam. Ia memikirkan sesuatu.
"Kamu jangan baik baik kali sama Darren, nanti dia berharap ke kamuu." Ceramah Arsen.
"Aku baik cuma karena balas budiii."
"Daddy pernah bilang, kalau ada orang jahat balas jahat, kalau ada orang baik balas baik. Tapi kalau yang mommy bilang, kalau ada orang baik balas baik, kalau ada orang jahat harus tetap balas baik."
"Teruss, prinsip mu sendiri gimana?"
"Gimana anda ya gitu saya."
Arsen mengangguk paham, "prinsip Om Aska."
"Kurang lebih seperti ituu."
"Yaudah, pokoknya besok-besok jangan terlalu dekat sama Darren. Jangan dekat sama Dave. Aku gak sukaa, nanti Dave yang deketin kamu sama papanya. Minta kamu jadi bundanya, kan kacau."
"Iya iyaa, bawell. Lagipula Dave jarang keluar dari mansion karena dilarang Om Darren. Kamu mau liat foto Dave?" Tanya Asya.
"Mana?"
Asya mengambil ponsel dan menunjukkannya.
"Nihh."
"Ini?"
Asya mengangguk, "kenapa?"
"Lebih ganteng aku."
"Pede bangettt." Ledek Asya sambil tertawa.
"Besok kita buat selusin. Kalau kurang dua lusin."
"Ku tendang keluar mobil kamu, ya?!"
Arsen cengengesan dengan wajah sok polosnya.
Tanpa terasa, mereka tiba.
"Ayok." Ajak Arsen, mereka berdua pun turun.
"Assalamu'alaikum, Nainaa.." Asya yang panggil.
"Wa'alaikumussalam, loh, Asya?"
"Iyaa."
"Kenapa?"
"Lu bisa nginep dirumah gue malam ini? Azril lagi sakit."
"Hah? Sakit apa?" Naina sedikit panik.
"I don't know, masih diperiksa tadi. Dan dia pengen lu, kalau lu bersedia ikut gue bakal izin ke orang rumah lu."
Naina menoleh kedalam lalu kembali melihat Asya. "Nenek gue ditempat bibi, gue dirumah sama abang."
"Kalau gitu, gue aja yang izin." Kata Arsen, Naina mengangguk pelan. Mereka bertiga masuk bersama.
"Assalamu'alaikum, bang."
"Ehh, wa'alaikumussalam. Kawannya Hira?" Asya dan Arsen mengangguk.
"Ada apa ni? Malem-malem datang?"
"Gini bang, saya mauu pinjem Naina satu malam ini aja..."
◕◕◕
"Lu gak keberatan kan, Nai?" Tanya Asya meyakinkan.
"Nggak, santai ajaa."
"Udah sejauh mana hubungan kalian? Bucin diem-diem pasti." Ledek Arsen sambil mengemudi.
"Apaan sii? Nggakk!"
Naina malu-malu.
"Ceilehh, tadi aja pas gue bilang Azril sakit langsung masang muka panikk." Ledek Asya gantian.
"Reflek."
"Yehh, kalau reflek juga gak mau ikut ngurus Azril." Sahut Arsen.
"Lu bedua cocok banget ternyata, COUPLE TERNGESELIN!" Asya dan Arsen terkekeh.
"Udah terngeselin, terbucin pulaa."
__ADS_1
"Gue tu tauu, sebenernya lu pada juga bucin. Cuma diem-diemm, yekann?!" Tanya Asya meledek.
"Bener tu bener. Mereka diem-diem menghanyutkan."
"Suka kelenn."
Asya dan Arsen tertawa mengejek.
"Btw, lu kemana aja si? Ngilang kemana?"
"Dia asik sama om om anak satu, Nai. Asik kali sampe lupa pulang."
Asya menatap sinis Arsen, "mana pulaaa! Nggak gitu, yaa!"
"Alah tebongak." Jawab Arsen.
"Om om siapa, astaghfirullah. Kenapa malah gelut anjj?!"
"Arsen ngeselin banget anjirrr. Dari tadi minta dijejelin kaos kakii!" Arsen cengengesan.
"Back to my question, lu kemanaa?"
"Alam baka."
"Mati aja lu sana!" Asya cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
"Oke nyampe. Cepet ughaa."
Asya turun duluan lalu disusul Naina dan Arsen.
"Gue baru ingett, ternyata Naina ada lagunya." Kata Asya tiba-tiba, mereka sudah didalam rumah.
"Apa?"
"Nai Nai Nai Nai Nai Nai panggil aku Naina~"
"Itu jablayy bodooo, jablayy. Ku tendang juga kau nanti!" Racksa emosi melihatnya, Asya sendiri tertawa cekikikan.
"Jadi pengen bawa dia ke rsj dehh." Kata Naina.
"Nggak usah ke rsj, bawa aja kerumah berhantu auto normal dia."
"Sianj!!" Racksa dan yang lain tertawa.
"Btw, ada film hantu terbaruuu!"
"Gak usah sok berani." Ledek Arsen.
"Emang takut sih, tapi pengen liat."
"Dah, simpen dulu. Sembuhin dulu si jablayy."
"Laporin Azril enak ni."
"Lapor apa?" Tanya Asya.
"Laporan kalau Arsen ngejek Azril jablayy. Pasti baku hantamnya asik."
"Liatlah, makin lama makin abis otaknya."
"Anjir lu!"
Mereka tertawa.
Tibalah di kamar Azril.
"Assalamu'alaikum, halo jablayy." Sapa Arsen santai.
"Wa'alaikumussalam. Jablayy jablayy matamu. Gak usah aneh-aneh begoo!" Arsen cengengesan.
"Lu sakit apa?"
Seketika Azril membuka mata mendengar suara ini.
"Loh, Nai? Lu ngapain disini?"
"Lu pada manggil Naina?!" Tanya Azril pada Arsen, Racksa dan Asya.
"Bukannya lu tadi yang mau?" Tanya Racksa gantian.
"Hah?"
"Kan ditanya mau apa, lu jawab maunya Naina. Ya kita bawain Naina-nya."
"Anj! Maks–"
"Udah dehh. Diem. Lagi sakit kan?" Tanya Naina kalem. Ia menghampiri Azril lalu mengecek suhu badannya.
"Sya, temenin gue kebawah yok. Ngambil baskom sama kain buat ngompres Azril."
"Ambil aje ndirii." Asya keluar dengan santai meninggalkan Naina, Arsen dan Racksa juga membuntutinya.
"Anjirrr betull. Untung gue sabarrr." Azril tertawa kecil mendengarnya.
"Malah ketawa lu. Lu udah makan?" Azril menggeleng.
"Sakit apa?"
"Kecapekann doang kata Onty Febby. Karena ujan-ujanan juga si kemaren."
"Ish. Tulah, betingkah. Bukannya neduh malah nerobos ujan. Kan udah gue bilang, kalau ujan tu neduhh!"
"Ya maaff. Tanggung kemaren tu makanya ditrabas ajaa."
"Bongak kali. Tunggu sini, biar aku eh maksudnya biar gue ambil makan."
"Iyaa, aku tunggu." Jawab Azril dengan senyuman, Naina jadi salting mendengarnya. Ia pun keluar dari kamar dan mendapati ketiga temannya sedang berdiri santai didepan pintu kamar.
Naina terkejut.
"CIEEE, SO SWEET BANGETT."
"Piuittt, kiw kiwww."
"Bangs—"
◕◕◕
Dua hari setelahnya...
16.47
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, sayang."
Ara menatap sinis Haikal, "dasar biawak generasi kedua!" Haikal tertawa kecil.
"Lahhh, ngevlogg?" Tanya Ara.
"Yess. Biar ada kerjaan."
Ara berohria. Haikal mulai mengendarai mobil.
"Ngevlog apaan bapak?" Tanya Ara sambil bergaya dikaca. Haikal langsung menutup muka Ara.
Ara menyingkirkan tangan Haikal. "Apaan heh?!"
"Gak usah sok cantik depan kamera! Sok cantiknya di depan gue ajaa!"
'Agh! Jangan baperr, Ra!' batin Ara ngefly.
"Emang lu siapaa? Kenapa gue sok cantiknya harus didepan lu?!"
"Kan gue calon laki lu. Gimana sii?"
'Bangkeeeeee. Makin terbangg.' batin Ara lagi.
"Dahlahh, biawak susah dilawan." Kata Ara sambil berusaha untuk tidak salting.
"Btw, nama channel yutub lu apaa?"
"Haikal Jung."
[ps; tidak asli ya yeorobun.]
"Widi widiii, pake marga Jung segala anjirrr."
"Iyalah, biar kecee. Lu gak tau kan, gue tu adek sepupunya Jung Jaehyun."
"MIMPIII!" Haikal tertawa.
"Seriuss, ni vlog apaann?!"
"Ini tu sebenernya mau ngechallenge kamu."
"Dih dihh, kamu kamu-an."
"Biar sweet. Kiw kiw."
Ara terkekeh.
"Kek om-om genit, begok!" Haikal ikut tertawa.
"Mau nge-celengg apa?"
"Challenge pinter! Kenapa jadi celengg?!"
"Kan sebelas duabelas."
Haikal menatap sinis Ara. Ara tertawa lagi karena tatapannya Haikal.
"Kampret emang anaknya Pak Zafar!"
Ara cengengesan. "Tau darimana weh?! Cenayang kah?"
"Bukanlah."
"Terus tau darimana?"
"Ya masa gue gak tauu nama camer sendiri. Kan gak lucuu."
"Bacottt bangettt, Kall, bacot!!"
Haikal nyengir kuda, "cie salting." Ara membuang muka karena pipinya merona.
"Gemoy kali kan gaysss, gue gemesss bangett liatnya. Pengen unyel-unyelin tuh pipi, tapi bukan mahram. Dilema sekali bukan?"
"Diemm bacott!" Haikal tertawa.
"Tenang, Ara, tenang. Mau ngechallenge apaa?"
"Gue tantang lu buat ngeprank Asya, Naina atauu Keiji, terserah lu siapa."
"Ngeprank apa?" Tanya Ara.
"Lu pura-pura suka sama mereka lebih dari seorang teman."
"Maksud lu? Gue kospley jadi lesbii?"
"Yess."
"Gilakk kali luu?! Gak gakk!! Gue warassss!"
"Ya gue pun tau lu waras. Kan challenge."
"Ishh. Kalau gue berhasil?"
"Gue traktir apa aja," jawab Haikal santai.
"Kalau gagal?"
"Gue datang kerumah lu buat lamaran."
"Sianjirrr! Yang benerr!"
"Hehe, kalau gagal gue tetep traktir apapun yang lu mau. Gimana?"
"Bentar gue mikir duluu."
"Gue turutin deh apa yang lu mauu."
"Oke, deal!"
Mereka tiba dirumah abu-abu.
Ara masih ragu dengan challenge ini. "Ya Allah, cuma challenge. Kalau berdosa, salahin Haikal Ya Allah. Aamiin." Haikal langsung menatap sinis Ara.
Ara menatap balik Haikal, "apaa?! Kan betol!" Ujar Ara sambil tersenyum, Haikal masih diam.
"Woii, lu gak kesambet kan?"
"Kall?"
"Sstt, coba senyum lagi." Ara tersenyum.
"Aduhh.. senyummu melemahkanku~"
"DIHHH, JAMETT!" Ara keluar duluan karena salting. Di dalam mobil, Haikal tertawa.
"Sumpahh yee, senyumnya si Ara tu.. beuhhh bikin susah tidurr cuyy. Manis bangettt, umpama gula dikasih nyawa. Senyumnya juga terngiang-ngiang diotak gueee, kebayang-bayang teross."
__ADS_1
"Woii!"
Haikal tersadar, ia keluar dari mobil sambil membawa kamera.
"Scene yang tadi bakal gue cut deh keknya, ntar diledekin sama mereka. Eh, tapi gapapaa. Kan jadinya mereka tau kalau gue dah kena peletnya Ara, pokoknya tau kalau Ara punya guee! Dan juga.. biarrr Alpin juga gak masuk tengah."
"Pin, kalau lu nikung awas aja. Tinggal pilih, dikuliti atau dibakar hidup-hidup. Huahahahahahaha—"
"Orgil kau?" Tanya Ara.
"Sianjirr, merusak momen!" Ara cengengesan.
"Ih, geregettt."
Kata Ara terpaku.
"Baca basmillah."
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
"Wehhh, dateng barengan ni couple agak mereng."
"Kamprett!" Dino nyengir.
"Erereee, ngapain lu bawa kamera?"
"Ngevlog biar dapat duiddd."
"Macemm betul kalii." Ledek Asya.
"Berisik lu!"
"Btw, Ra, lu kenapaa natap gue gitu?" Tanya Asya heran.
"Gini.. sebenernya gue mau jujur sama lu."
"Apaan? Kenapa?" Tanya Arsen kepo.
"Jad–"
"Oke lanjutt!"
Plak!
"Jangan potong ucapan gue!" Omel Ara kesal.
Alvin meringis kesakitan sambil cengengesan.
"Jadi? Apa?"
"Sebenernya ya.. gue suka sama lu, Sya. Suka lebih dari temen."
"WHAT THE PUCEK. ARE U CRAZYY?!" Ara menggeleng pelan.
"Wah.. ini horor sihh."
"Suatu plot twist."
"Lu lesbii?"
Ara diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng.
"Ra, gue normal begooo! Jangan gini ah anjirrr!" Kata Asya merinding.
"Ya gue tauu lu normal. Tapi gimana lagii, gue cuma ngungkapin doangg."
"Raaa?! Lu kerasukan jin dimanaaa?" Ara diam lagi, sedang menahan tawa.
"Gue beneran suka sama lu, Sya."
"ARAAAA! Lu kira lesbi kerenn?! Nggak anjirrr! Balik gak luu! Balikk!! Gue ruqiyah mauu luu, hahh?!"
"Gue tu trauma sama cowok, Syaa. Ngertiin gue kenapa."
"GUE LEMPAR PANCI NANTI LU, YA! ANJIRR BANGETT."
"Hahahaha, ngakak banget syalandddd." Kekeh Haikal dari tadi, ia menahan tawanya sekuat tenaga. Tapi akhirnya ia terkekeh karena tidak kuat.
"Dih anjirrr! Lu.. lu gak gilak kan, Call? Ini calonn lu gak normal begoo."
Haikal masih tertawa, "this just prank gaiss."
"ANJ— ASTAGHFIRULLAHALAZIM!! Gak boleh ngomong kasar tapi lu anjng."
Haikal dan Ara terkekeh melihat Asya ngamuk dan melihat ekspresi yang lainnya seperti orang kelimpungan.
"Mari nobatkan mereka sebagai couple terstresss."
"Oke, sah!"
"Astaghfirullah.. bersoda bangettt." Protes Haikal dan Ara sambil menahan tawa.
"Berhasil kan gue?" Haikal menggangguk. Mereka bertosria.
"Lu bedua.. astaghfirullah, capek bangett saya punya teman seperti mereka." Keluh Asya sambil lesehan di lantai.
"Patut dibuang."
"Btw, gais.." Mereka menoleh kearah Alex.
"Kenapa? Lu gayy?"
"Nggak anyingg! Gue sedang mencium aroma-aroma.. bau kentut." Ujar Alex.
"Ya Allah..."
Mereka tertawa ngakak mendengarnya.
"Sabisanyaaa woilahhhhh." Alvin memegangi perutnya karena capek tertawa.
"Siapa kentuttt?!"
"Jujurrrr!" Omel Shaka masih dengan tawa kecil.
"Dino, jujur nak." Ujar Racksa.
"Matamuii, bukan gueee!"
"Fikss, Azril." Tuduh Alvin.
"Apaaa hehh?! Kenapa jadi gueee?!"
"Gue yakin, itu Alex. Karena cuma dia yang nyium woiii!" Kata Naina.
"Mana pulakkk. Lu pada gak nyium? Makanya mancung!"
"Anjirr lu!" Alex tersenyum songong.
"Siapaaa hehh?! Ngaku ceffattt!"
"Yaudah, gue ngaku. Itu Arsen."
"Astaghfirullahalazim, sayangg! Fitnah lebih kejam daripada difitnah."
"Mati saja sana, Sen!" Arsen cengengesan.
"Keiji yang kentutt ituu." Kata Alvin.
"Bang Alpin suujonn. Jelas jelas tadi abang yang kentut, Kei denger kok suaranya."
"Alpin kamprett!!" Mereka menggebuki Alvin dengan bantal sofa. Alvin tertawa kecil sambil berlindung dari pukulan mereka.
"Dia layak untuk dismekdon."
"Layak dibuang juga."
Alvin tertawa.
"Ahh, Kei gak bisa diajak kompromi."
"Loh, gak bilang mau kompromiann." Balas Kei tak mau kalah.
"Gak usah mau kompromiann sama Alvin, dia sesat." Cibir Dino.
"Lebih sesat lagi kauu, makhluk punah."
"Gue lempar es teh nanti lu!"
◕◕◕
20.38, restoran Jepang.
"Lama sekali, yaa?"
"Sabarr. Kan ramee," omel Shaka. Asya diam sambil menunggu, yang lain pun sama.
Kali ini mereka diam karena tempatnya tidak mendukung untuk ribut. Kebanyakan pria berdasi disini.
"Apaan sih?! Lepas!"
Mereka menoleh.
"Ehh, itu bukannya Adinda?"
"Hyahh, menakjubkan sekali pacar anda, Tuan Alex."
"Taiii!" Mereka tertawa.
"Dia ngapain anjirr?"
"Mungkin mencari mangsa." Ceplos Ara.
"Agaknya gitu."
"Ehh, jalan kesini anjirrr." Azril mengheboh.
"Gak usah diliat lagi, sok sibuk sekarang!" Titah Alex, mereka pun beralih ke ponsel.
"Alexx."
"Hm?"
"Minta duit."
Alex berdiri, ia mengeluarkan saku-sakunya yang tidak ada duit sama sekali.
"Dompet? Kartu kamu mana?"
"Aku jarang bawa uang main sama merekaa. Disini aku tersusah."
"Matamu suuu!" Alex menahan tawanya.
"Senn, pinjem duit dong."
"Sama pawang gue. Kalau berani, silahkan."
Bongak etaa:^
Adinda menghela nafas kasar.
"Azril, gue pinjem duit. Ntar gue balikin."
"Buat apa?" Tanya Azril.
"Buat bayar makan."
"Maksud gue, buat apa ngasih pinjem lu duitt? Ogah banget!"
Adinda menahan amarahnya.
"Mau minjem siapa lagi?" Tanya Haikal.
"Makanyaa, gak usah sok kalii. Gaya berkelas ekonomi ngepas. Lawak jadinya!" Ledek Dino.
"Malunya gak ada, yang penting sok berkelas yakann?" Mereka tertawa kecil.
"Ehm. Adinda, nama lu Adinda??" Tanya Alvin, Adinda mengangguk pelan.
"Lu mau minjemin duit?" Tanya Adinda.
"Gue mau gomball dikit, ntar gue kasih deh kalau minat." Balas Alvin, yang lain hanya memperhatikan keduanya.
"Mo gombal apa?"
"Nih nih. Apa bedanya lu sama pasta?"
"Gue manusia, pasta makanan." Jawab Adinda santai.
"Salah."
"Jadi apa??"
"Nyerah lu?" Adinda mengangguk.
"Bedanya.. pasta bermerek La Fonte. Tapi kalau lu mah lont—"
"Lontong satee maksudnyaa."
"HAHAHAHAHAA!"
__ADS_1