
Sore hari sebelum malam tiba, Asya beserta bestie-bestie nya berkumpul di kafe bertingkat.
"Raa, kata Haikal lu gak mo pulang karena lagi belajar matematika sama Jerome Polin."
Ara menatap Haikal sekilas, "gak sama Jerome Polin. Sama Levi Ackerman."
"Lah goblokk!" Ara cengengesan.
"Eh njir, beneran dah. Gue tu bingung, hubungan Dino sama Kei tu gimanaa?" Tanya Alvin.
"Gue sama Kei gak ada hubungan apa-apaa, Kei tu gak mau sama guee."
"Gimana ceritanya gak mau? Perasaan gue mau lah anjirrr," sahut Haikal.
"Emang nyatanya tu nggak mauuu. Gue pernah ngajak dia pacaran pas mau ke London tapi dia bilang gak mau, tapi besoknya gue liat sg dia sama pacarnya. I don't know siapa, tapi gue yakin pacarnya."
"Fuckkk. Kesel banget gue," umpat Asya.
Arsen mengelus rambut Asya, menyuruhnya bersabar.
"Gue tu punya satu firasat buruk yang gue liat dari gelagatnya Kei," mereka menatap Ara. "Apa itu?"
"Kei..."
"Itu bukannya Keiji?"
Mereka menoleh ke arah yang di tuju Naina.
Benar saja, Keiji sedang jalan berdua dengan pria dan beberapa temannya.
"Liat lu pada? Kek ehmm, dia tu temenan ama lu cuma numpang tenar buat dapat temen sama dapat cowok." Ujar Ara yang mengarah ke Asya.
"Dan yang waktu itu, kejadian di kafe? Itu keliatan Kei ikut kerja sama. Om Rafael jelasinnya dengan muka yang agak gimana gituu woi. Gue gak tau bener nggaknya, tapi firasat gue begitu."
Mereka melihat gerak-gerik Keiji.
"Dia udah jarang banget gabung ke kita. Pas di RS setaun lalu dia jarang muncul kan?" Tanya Azril.
"True truee. Dia bilang tempat neneknya waktu itu, terus pas gue liat sg nya dia lagi di pantai bareng temennya. Tu cowok juga ada lah gue rasa," jawab Ara.
"Ihh sumpah anjritt? Dia numpang tenar doang?" Tanya Asya kesal.
"Berdasarkan analisa gue sih gitu."
Asya mengelus dada, "udahlah biarin aja, males gue."
"Btw, gimana London?" Tanya Asya.
"Enak di London, lu gak mau nyusull?"
Asya melihat ke arah Dino, "kalau gue nyusul, lu mau kasih apaa?"
"Apa aja dehh, ayok ke London ajaaa!"
"Gak usah, Sya, gak usah! Ntar yang ada lu di kasih anak sama Dino," ujar Azril.
"Matamu njirrr, lu kira gue suka kawin sebelum nikah?! Ngaco kadang!" Mereka tertawa.
"Cewek-cewek London gimana, Din??" Tanya Naina.
"Ceweknya cantik, temen kelas gue ada yang cantiknya MasyaAllah bangett. Mau gue pepet gak bisa karena beda agama."
"Gas kan ajalah anjirrr, sepertiga malam." Kata Alvin antusias.
"Maunya gitu tapi teringat kata-kata, kamu boleh mencintainya tapi jangan ambil dia dari Tuhan-nya."
"Njayyy, kerennn kerenn. Cari yang lain ajaa!"
"Seloo, di hp gue mah banyak kontak cewek London yang beuhhh gitu."
__ADS_1
"Anjirrr lu! Bagi gue satu!" Pinta Alvin.
"Lu kan sama Alex."
"ANJJ!" Mereka tertawa ngakak.
Usai ketawa tadi mereka menikmati makanan penutup dengan tenang. Tapi samar-samar mereka mendengar sesuatu....
"Deketin gue sama salah satu temennya Asya dong, Haikal atau Alvin gitu."
"Mending gak usahh, mereka berdua tu sok ganteng banget anjirrr! Padahal mukanya juga b aja. Terus suka sombong, pamer kekayaan, terutama Asya tu. Mereka juga sering mabok-mabokan, gak baik pokoknya. Mending gak usah!"
Asya dan yang lain emosi mendengarnya.
Begitukah Keiji kalau di belakang mereka??
Mereka masih mencoba bersabar.
Kei dan temannya itu tidak sadar kalau ada Asya di sana. Mereka belakang-belakangan.
"Dino atau Azril juga gitu??"
"Iya. Lu demen sama Dino? Hapus aja rasa demen lu tu. Dino tololll banget njirr, paling bodoh di circle."
Dino yang mendengar tersenyum remeh.
"Bodoh? Gue cuma pura-pura bodoh anjirr, kalau gak ada kebodohan gue gak bakal rame tongkrongan."
Keiji menoleh kebelakang, Asya geng menatapnya dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Gue pinter, otak Albert Einstein sebelas dua belas sama gue. Kalau gue bodoh, gue gak bakal keterima di London. Lu pikir gue main nyogok kuliah di sana? Ya nggak lah."
"K-kalian?"
Asya berdiri dari duduknya, ia meregangkan otot.
"Ternyata gini kelakuan lu di belakang? Jelek-jelekan kami? Oke pertama, sok ganteng? Temen-temen gue emang ganteng anjirr, lu bilang jelek, mata lu katarak!"
"Ketiga, mabok-mabokan? Hahaha, cuma dua kali kami gitu terus lu bilang sering? Mau gue tampar kanan apa kiri lu, HAH?!"
Keiji diam.
"Jadi gini kelakuan lu ya? Muka lu aja keliatan baik tapi otak lu busuk. Lu cuma numpang tenar doang kan di kami?!" Tanya Ara kesal.
"Ahh ilahh, gue makan juga ntar lu!"
Keiji pun berdiri dan menghampiri Asya.
"Ya, gue emang cuma numpang tenar. Dari dulu gak ada yang mau temenan sama gue, tapi semenjak gue deket sama lu pada, temen gue jadi banyak!"
"Sebenernya, gue muak temenan sama lu pada. Gue yang terkecil sering kalian sepelekan."
Mereka tertawa remeh.
Asya langsung menarik kerah baju Keiji.
"Kapan kami nyepelein lu? Hm? Kapan? Lu gak sopan ke kita juga kita b aja, Kei, gak usah makin jelek-jelekkan gitu dong. Tapi karena udah di jelek-jelekin gini, sekalian buktiin juga gak salah yakan?"
Asya tersenyum smirk.
Plak!
Bugh!
Asya menamparnya lu meninju perut Keiji.
Keiji meringis kesakitan.
"Aahh, lembek."
__ADS_1
"Sya, tenang dulu. Santai!"
"Santai matamu cokk! Udah di giniin lu nyuruh gue santai? Ya gak bisa lah anjirrr!"
Melihat Asya lengah, Keiji langsung mendorong Asya menggunakan kakinya.
"ASYAAA!!"
Posisi mereka di samping jendela di pinggir gedung, Asya yang tertendang keras memecahkan kaca dan sekarang bergelantungan menahan badan.
Asya diam, ia menahan dirinya dan menguatkan pegangan agar tidak terjatuh. Langsung dapat gelar almarhumah kalau sampe jatuh.
Mereka mendorong Keiji hingga terjatuh.
"Syaa, pegang tangan gue!" Kata Haikal sambil menjulurkan tangan.
"Gak bisaa, sekali gue lepas bakal jatoh."
Asya melihat ke bawah, sedikit gemetar karena itu terlalu jauh.
"Jangan liat ke bawah!!" Omel Alvin.
"Aghhh, tangan gue gak kuattt! Gue jatohin aja kali ye?" Tanya Asya.
"Gak usah ngaco lu, jabingan!!" Kata Ara kesal.
"Terus gimanaa?"
"Arsen mana Arsen? Kok dia ngilang?"
Mereka menoleh kebelakang dan tidak menemukan Arsen sama sekali. Keiji dan temannya juga hilang.
"Gue gak kuat beneran. Gue pergi dulu deh, yaa. Ntar kalau gue mati, bilang sama Arsen jangan ngelakuin hal aneh-aneh, suruh lupain gue terus jangan lupa jaga kesehatan. Lu pada jugaa, jag—"
"Lu ngomong apa sih?! Jangan buat gue emosi deh! Pegang tangan gue sekarang!"
"Gak bisaaaaa! Udah ya, assalamu'alaikum."
"ASYAAAA!"
Asya melepaskan tangannya.
"A-Arsenn?"
Alhamdulillah, Asya tidak terbanting!
Arsen yang tadi berada di lantai bawah langsung ikut lompat dan menggendong Asya. Agak keberatan tapi Arsen bisa menahannya.
Bermodalkan tali yang disangkutkan ke tiang, Arsen bisa menggendong dan menyelamatkan Asya. Mereka berdua berhasil mendarat sempurna dan menginjak tanah tanpa luka.
Usai mendarat Arsen memeluk Asya.
"Kamu gapapa kan???" Tanya Arsen setelah melepas pelukan.
"Gapapa kok, kamu gapapaa?" Arsen tersenyum sekilas lalu mengelus rambut Asya. Asya sendiri kembali memeluk Arsen dengan erat.
Teman-teman mereka yang tadinya di atas langsung berlari menghampiri keduanya.
"Lu berdua ada lukaa?" Tanya Naina dan Azril bersamaan.
"Gue sama Asya gapapa."
"Alhamdulillah."
"Si Keiji mana?"
Asya mencari-cari.
"Kenapa lu malah mikir diaa, toloolll!!"
__ADS_1
"Lu tu hampir aja mati tadi!!"