
"Gimana keadaan Asyaa??" tanya Aisyah khawatir, ia tiba di ruangan VIP Asya bersama dengan Zafran. "Asya masih belum sadar, bang," jawab Racksa mewakili.
"Aunty sama samchon kemana?" tanya Zafran gantian. "Mereka masih di perjalanan balik ke Indonesia. Yang tau ini cuma lu, bang, gue gak ngabarin yang lain karena takut ganggu mereka."
Zafran menghela nafas panjang, "kenapa harus terjadi lagi sih? Ini baru awal-awal tahun, kenapa harus tambah jahitan lagii?!!" Mereka tidak ada yang menjawab.
"Sekarang jelasin ke abang gimana kronologinya. Kenapa ini bisa terjadi tengah malamm?"
"Ceritanya panjang, bang. Intinya Arsen ketahuan selingkuh ter—"
Bugh!!
"BANG ZAP!!"
"Anjingg lu."
"Bang, bang, lu salah paham. Dengerin gue duluuu aailahh," kata Azril sedikit panik.
Zafran yang sudah terlihat emosi di tarik dan di suruh duduk. Aisyah dengan sengaja duduk diatas pangkuannya agar Zafran tidak langsung menyerang lagi nanti.
"Duduk di samping aku kan bisa, Aiss," protes Zafran dengan ekspresi datar. "Gak mau! Ntar kamu ulang lagi mukul mukanya Arsen."
Zafran mendengus kesal lalu membiarkan Aisyah duduk dipangkuannya. "Lanjutt ceritaa."
"Arsen tu ketahuan selingkuh, tapi itu cuma salah paham doang, Arsen gak selingkuh sama sekali. Terus kan Arsen ada bilang kalau dia selingkuh dia rela di tembak mati. Nah, karena Asya keburu emosi banget sama Arsen, jadi dia suruh Arsen lakuin apa yang dia bilang."
"Arsen mau bunuh diri gitu?" tanya Aisyah.
"Iya, kak. Di gudang tempat Arsen mau di tembak matii tu tiba-tiba Asya datang...."
—· Flashback on
"ASYAAAA?!!"
"Asya... Asyaaa? LEPAS PASUNG GUE SEKARANG! BURUANNN!!!" Mereka langsung buru-buru melepasnya.
Dua tembakan tadi... bukan mengenai Arsen, bukan juga tembakan yang berasal dari Asya. Tetapi tembakan yang mengenai Asya, ia menghalangi tubuh Arsen dengan tubuhnya.
"Asyaa? Sayangg? Sayaangg??"
"A-Arsenn..."
"Panggil ambulance sekarang!! Cepattt!" teriak Arsen memerintah. Semua auto panik. Suruhannya pun segera menelepon ambulance.
"Sen, daripada nunggu ambulance, mending kita aja yang bawa Asya ke rumah sakit," usul Dino yang ikutan panik.
"Yaudah ayok. Gue yang bawa Asya," Arsen menggendong Asya lalu berlari bersama dengan temannya yang lain.
"A-Arsenn..."
"Iya, cantik? Sabar sebentar yaaa, kita ke rumah sakit duluu."
"Arsenn, a-aku minta maaf karena udah g-gak percaya s-sama ka-mu.... m-maafin akuu..."
"Sstt. Kamu diem, jangan banyak bicara, nanti darahnya keluar semakin banyak. Kamu bertahan ya, sayang," Arsen bergegas masuk ke mobil Haikal, mobil pun melaju kencang menuju rumah sakit.
"Aku mohon bertahan ya, sayang. Sebentar lagi kita sampe di rumah sakit," kata Arsen sembari menyingkirkan rambut-rambut Asya yang menganggu. Asya sendiri diam menahan sakitnya.
"LAJU LAGI, KALL!!! BURUANN!!!!"
"Ini udah laju, Sen. Kalau mau lebih laju gue takut. Kan gak lucu kalau nanti kita kecelakaan bareng-barengg!" Arsen menghela nafas kesal dan kembali diam tidak protes lagi.
"A-Arsen.. a-aku gak k-kuat..."
"No, no, no. Cantiknya Arsen pasti kuat. Pasti. Pasti kuatt. Sebentar lagi, sebentar lagi kita sampe yaaa."
Perlahan tapi pasti, Asya menutupkan matanya. Belum-belum, ia belum meninggal. Hanya saja sedang memasrahkan diri kepada Tuhan.
"Sampeee!"
"Bukain pintu anjigg, buruan!" Haikal langsung turun. Arsen pun ikut turun, ia menggendong Asya sambil berlari kencang masuk ke rumah sakit. Asya langsung di bawa ke IGD untuk perawatan intensif.
Flashback off ·—
"Kurang lebih seperti itu," ujar Azril selesai menjelaskan. Zafran menghela nafasnya lagi lalu menatap Arsen yang terdiam, "i'm sorry, Sen."
"No problem, bang. Gue bisa ngerti kokk," Zafran tersenyum tipis. Suasana hening saat ini, semua menatap Asya. Berharap Asya akan membuka matanya.
"Setelah dipikir-pikir ini salah lu, Sen," keheningan tersingkir sejenak karena ucapan Haikal. "Seandainya lu lebih milih cari bukti dari pada langsung minta di tembak mati, pasti gak bakal gini jadinya."
"Kok jadi nyalahin Arsen? Arsen gak salah woii! Arsen langsung milih di tembak mati karena dia udah putus asa bangett, dan Asya juga nyuruh dia buat mati kan makanya dia pilih itu. Lagian, lu kira gampang milih keputusan buat mati?" tanya Dino kesal.
"Ya kalau susah kenapa gak milih cari bukti duluuu?!"
"Udah gue bilang kan, Kal. Percumaa! Percuma kalau gue punya bukti tapi Asya gak mau ketemu gue," sahut Arsen.
"Lu bisa minta kita yang jelasin ke dia, Sen. Emang dasar lu nya aja yang gak mau berusaha buat cari bukti. Sekarang gue jadi curiga lu beneran selingkuh," Arsen terdiam.
Arsen berpikir, jika dirinya berbicara, situasi akan semakin runyam dan yang pasti emosinya tidak dapat terkendali. Itu sebabnya Arsen memilih untuk menutup rapat mulutnya.
"Sen, dengerin gue ya. Kalau sampe Asya mening—"
"Lu doain Asya meninggal?" tanya Racksa langsung memotong ucapannya. "Kan gue bilang kalau, tololl!"
"Gak ada kalau-kalau. Lu sama aja doain Asya mati ya, njing!" umpat Racksa emosi. "Buk—"
"Sampe Asya beneran meninggal, lu adalah orang yang paling gue salahin karena lu yang udah doain Asya meninggal!" Kini gantian Haikal yang terdiam.
"Haikal, Racksa, keluar dari ruangan ini sekarang."
Mereka auto terpaku mendengar suara tegasnya Zafran. Semua menunduk, tak berani bersuara.
"Kaliam berdua gak dengar? Abang bilang KELUAR DARI RUANGAN INI SEKARANG!!"
"Tap—"
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapi, keluar sekarang! Orang di sini pada khawatir, cemas, dan berdoa biar Asya gak kenapa-kenapa tapi kalian malah berantem ngomongin hal yang gak jelas, pake bahasa yang kasar pula. Udah mending sekarang keluar sebelum abang tendang kalian keluar!"
Racksa dan Haikal berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Keduanya sama-sama diam tak berani membantah.
"Dengar ya, kalau nanti di luar kalian bertengkar lagi, abang gak bakal izinin kalian ketemu sama Asya! Renungin kesalahan kalian, berbaikan satu sama lain. Paham?!"
"Paham, bang," keduanya pun benar pergi dan menunggu di depan ruangan.
Di dalam ruangan itu sendiri kembali dipenuhi keheningan. Mereka diam, menatap Asya yang masih tergeletak di kasurnya.
Arsen yang sedang duduk di samping Zafran perlahan-lahan meneteskan air matanya. Namun karena takut tangisannya didengar atau dilihat yang lain, Arsen langsung menghapus jejak air mata dan berusaha untuk santai.
"Ehmm! Ais, pulang duluan gih. Kamu besok ada kelas pagi," perintah Zafran. "Ya ntaran aja pulangnyaa, Zaff. Aku belum tenang, adik aku belum sadar."
"Kamu gak punya adek btw."
"Asya adik aku wle!"
"Huhh... gak usah gemess-gemess deh kalau di sini. Aku susah mau nerkam kamu," kata Zafran agak kesal. Aisyah dan yang lain auto menatap heran Zafran.
"Keknya bang Zap ganas banget dehh, gue pengen rasain juga."
"Abang tabok ya kamu, Din!" Akhirnya suasana sedikit mencair karena suara tawa mereka mulai terdengar.
"Em... Arsen, are you okay?" tanya Aisyah mengalihkan topik. Arsen menunduk sekilas, "Okay but not okay."
"Sabarr. Sebentar lagi Asya pasti sadar," ujar Zafran menepuk pundak Arsen.
Arsen menoleh ke sampingnya, "Bang, kalau keluarga besar tau ntar gimana yaa?" tanya Arsen khawatir.
"Ehmm, nggak tau juga abang gimana, mereka jelas bakal tau masalah ini. Mau ditutupi gimana pun juga akan tetap ketahuan. Saran abang persiapkan diri, bisa aja nanti kamu di interogasi panjang lebar."
Arsen menghela nafas panjang. "Arsen takut pernikahannya disuruh batal sama keluarga besar," keluh Arsen kembali menunduk.
"Abang yakin gak bakal dibatalkan. Udah, jangan mikir yang aneh-aneh, kita berdoa aja supaya Asya cepat sadar."
"Aamiin..."
"Bang, setelah Arsen pikir-pikir, keknya Haikal bener dehh. Gara-gara Arsen kan Asya jadi kek gini sekarang."
Zafran gantian menghela nafas panjang, "abang usir keluar dan gak abang bolehin ketemu Asya lagi mau kamu?" Arsen menggelengkan kepala.
"Ya udah, jangan ngomong yang nggak-nggak. Ini takdir, Sen, takdir Tuhan yang tidak bisa kita hindari. Gak ada satu orang pun yang salah di sinii," kata Zafran.
"Bener kata Zafran, gak ada yang salah di sini. Jadi, Arsen atau siapapun diantara kalian jangan merasa bersalah ya," sahut Aisyah menenangkan.
"InsyaAllah, kak."
"Kalian ada kelas besok? Pulang aja gih, setidaknya bisa istirahat bentar kan. Asya nanti abang yang jaga," perintah Zafran.
"Azril gak mau pulang."
"Arsen juga."
"Jangan bandel dibilangin, nanti pada kecapean malah gantian sakittt. Pulang ya, sekalian anterin bu Ais kalau ada yang kosong."
"Gak mau pulang, Zafran. Jangan paksa dehh!" dumel Aisyah kesal. "Pulangg sekarang, Ais. Kamu butuh istirahat," jawab Zafran tak ingin dibantah.
"Orang gak mau pulang juga diusir mulu. Aku suruh tidur diluar ya kalau bawel lagi!!" Zafran menatap Aisyah kesal, "aku terkam kamu nanti baru minta ampun."
"Terkam, terkam muluu? Eh, aku polos, aku diam."
"Iyain ajaa biar senang hatinya," Dino tertawa cengengesan. Hening kembali menghampiri. Tidak ada yang pulang, mereka malah begadang dan mabar di ruangan, termasuk Zafran.
Sampai akhirnya jam empat pagi.
Zafran meletakkan ponselnya dan melihat ke arah sangat istri yang tidur dibahunya. "Aiss, Aiss, pegel badan kamu kalau tidur gini. Disuruh pulang gak mau sih, ngeyel banget dibilangin suami."
"Yaa ngapain juga aku pulang kalau kamu disini?!" Zafran menggelengkan kepala mendengar jawaban istrinya.
"Tidur ecek-ecek yaa, bu Aiss."
"Tidur benerann. Cuma tadi gegara bang Zafran ngoceh jadi kebangun."
"Udah ayo aku anterin pulang, lanjut tidur di rumah. Kelasnya kamu tunda jadi siang."
"Ya ga bisa gitu dongg, seenaknya banget jadi dosen. Mending tidurnya abis ngajarr," ujar Aisyah. "Yaudah kalau gitu ayok pulangg, Aiss."
"Masih jam empat mas Zafrannnn."
"Melihat bang Zafran diam, sepertinya dia sedang salting karena dipanggil mas," goda Azril iseng. "Kalau udah tau diem aja, Azril," mereka tertawa mendengarnya.
Arsen yang sedari tadi diam berdiri untuk meregangkan otot, ia mengabaikan yang lain lalu berjalan mendekati brangkar Asya.
"Buruan bangun, sayaangg. Kalau kamu bangun ntar aku beliin es krim sama coklat yang banyak. Aku beli CRF juga deh gak jadi CR-V. Apapun gapapa, yang penting kamu bangunn. Ayoo bangun, sayangg," ujar Arsen sambil mengelus rambut Asya dan mengecup keningnya.
"Beli CRF kan? Janji ya?"
"Iya janji."
"Hah? Loh???" Arsen melihat Asya yang membuka matanya dengan senyuman. "Janji lhohh? Es krim banyak, coklat banyak, plus CRF."
"Cara siumanmu sungguh menbagongkan, nunaa," Asya nyengir. Ia melambaikan tangannya, "haiii, hehee. Maaciiw banyakk yaa, udah jagain Asya semalaman."
"Wahhh, ini mengejutkan! Asya udah gapapa, dekk?" tanya Zafran menghampiri Asya. Asya menggeleng masih dengan senyuman, "Asya udah baik-baik aja, abang.
"Ada yang sakitt?" Asya menggeleng lagi.
"Alhamdulillah..."
"Walaupun cara siuman lu membagongkan, kami tetap senang melihatnya. Terimakasih sudah bangun kembali ya, manusia prikk."
"Kampret luu, Dinoo! Btw, Haikal sama Racksa mana?"
"Dibuang. Udah gak usah banyak tanya, istirahat aja lagi kamuu," suruh Arsen sedikit jealous.
__ADS_1
"Iyaa-iyaa. CRF-nya jadi kann?"
"Isi otak lu apa si, Sya? Gue pengen banget bedel otak luu sekarang."
...◕◕◕ ᐠ( ᐛ )ᐟ ◕◕◕...
Satu hari sudah terlewati, kini malam kembali menyapa. Asya masih di rumah sakit bersama dengan kekasihnya. Iya, hanya berdua dengan kekasihnya karena yang lain sudah kembali karena ada urusan.
"Arsenn, jadi CRF kann?"
"Astaghfirullahalazim, sayaangg. Kamu udah berapa kali sih nanya itu hari ini? Fokus sembuh dulu kamu, baru tanya CRF," omel Arsen.
Asya mempout bibirnya, "aku cuma memastikan aja padahalll. Kalau gak jadi berarti kamu ingkar janji."
Arsen gemas! Ia pun mengecup bibir Asya, "aku gak ingkar janji. Kamu sembuh nanti kita beli CRF, kalau perlu sekalian sama showroom nya."
"Aku udah sembuh, ayok ke showroom beli CRF."
"Sembuh apanya? Gerak aja masih sakitt, sok-sokan bilang udah sembuh."
"Iyyaudah. Ntar kalau aku sembuh kita beli showroom CRF yaa!"
"Beli CRF atau showroom, sayangg?"
"Dua-duanya laa."
"Pilih salah satu. Kalau dua-dua ntar kita nikah ditunda lagii," jawab Arsen sembari mengupas buah untuk Asya. "Emang kita kapan nikahnya?"
"Mungkin seminggu setelah kamu sembuh?"
"Ngadi-ngadii! Sebulan setelah aku sembuh gimana?"
"Nggak, nggak. Sepuluh hari setelah kamu sembuh?"
"Mend—"
"Mending Asya beneran sembuh dulu baru diomongin kapan nikahnya." Arsen langsung berdiri melihat kedua orang tua Asya datang.
Dirinya memang sudah di interogasi panjang tadi, namun sampai saat ini masih merasa tidak enak pada Aska dan Zia.
"Bener kata Zia, bagusnya Asya bener-bener sembuh baru omongin kapan nikah. Tapi kalau saran om, mending tiga hari lagi aja," sahut Aska tersenyum.
"Gak usah ngaco! Anaknya kena dua tembakan itu."
"Kan cuma keserempet, momm. Belum kena benerann," kata Asya meluruskan. "Apa pula keserempet doang, yang satu masuk yaa."
"Ck, kamu ni kenapa dikasih tau jelas bangett sii?!" dumel Asya pada Arsen. "Ya kan emang begituu. Lagian ngapain coba mo boong-boongg?"
"Karena lebih cepat sembuh, lebih cepat juga naik CRF," jawab Asya girang. "CRF mulu, CRF mulu. Lama-lama daddy beliin beneran showroom CRF buat kamu."
"Asikk bangett dapat dua showroom CRF!! Kapan mo dibelii?"
"Zia, kamu dulu ngidam apa ya? Kok anak kita begini?" tanya Aska kesal. "Ngidam sate padang, masa gitu aja ga inget?"
"Ehh, salah ya! Bukan sate padang, tapi rujak yang kita makan di Bali."
"Kenapa jadi ngomongin makanan?? Asya jadi pengen sate padang," ceplos Asya sembari mengelus perutnya. "Kamu ngidam juga, Sya?"
"DADDY NGACO BENER YAA!" Aska dan Zia tertawa melihat muka marah anaknya. Walaupun terkena tembakan, Asya tetaplah Asya yang cerewet dan suka marah-marah.
"Kamu mau sate padang beneran? Mau aku beliin?" tawar Arsen. Asya auto sumringah, ia menganggukkan kepalanya.
"Gak usah, Arsen. Om Rafael katanya mau kesini jadi biar nitip dia aja. Sayang, telepon si Rap," suruh Zia menatap Aska.
"Siap laksanakan boss!" Aska mengambil ponselnya dan menghubungi Rafael. Zia, Asya dan Arsen hanya diam dan menunggu.
"Beli berapaa?" tanya Aska.
"Dua. Sekalian sama Arsen," jawab Zia.
"Mommy, daddy?"
"Udah makan tadii."
Asya berohria kemudian kembali diam sambil memakan buah yang dikupas Arsen.
"Hadehh... masih awal tahun padahal. Kok udah masuk rumah sakit aja kamu, Syaa," ujar Aska usai menelepon. Asya cengengesan, "enak kok rasanya."
"Enak-enak apa. Semua orang jadi khawatir sama kamu," dumel Zia.
"Hehehe. Btw mommy kok disini? Kenapa gak istirahat aja? Takutnya nanti kecapean. Oh iya, mommy sampe Indonesia jam berapa? Terus yang di Jerman gimana?"
"Yang di Jerman ya ditinggalkan dulu. Mommy yang baru banget sampe tempat grossvater sudah harus balik karena mendengar kabar kamu ketembak."
"Mommy mu super duper panik ampe nangis dijalan. Next time jangan gitu lagi ah, gak kerenn tau kalau banyak jahitan," sahut Aska santai.
Asya cemberut dan mengelus perutnya. "Arsen! Kamu masi mau sama aku kan, walaupun kulit aku gak muluss lagii?!"
"Nggak lah. Yakali."
Asya menatap Arsen heran. "Pa maksudd?!!" Arsen tertawa sembari mengacak rambut Asya. "Kalau gak mau sama kamu lagi, aku gak bakal disini sekarang, sayangg."
"Oiya bener jugaa, hehehe."
"Dasar bocil!" Asya kembali kesal mendengar ledekan itu. Oknum yang meledek baru saja masuk ruangan bersama dengan Rafael.
Bisa tebak siapa yang meledek?
"Bocil demen nethink."
"Alaahh! Berisik luu, om-om!!" Mereka tertawa.
Rafael mengabaikan oknum itu lalu berjalan menghampiri Asya, ia memberikan sate padang serta parsel buah untuk Asya. "Get well soon ya, anak baikk."
Asya tersenyum senang, "Matur tengkyuu, om Rap!"
__ADS_1