
Maap lama upnyaaa, author sibuk di dunia nyata ╥﹏╥
______________________________
"Ntar lu aja yang edit ya" suruh Asya saat turun dari motor Arsen.
18.47, Asya baru tiba di rumahnya. Sedikit terlambat karena mereka berhenti terlebih dahulu untuk sholat di masjid terdekat.
"Kok gue? Lu aja lah"
"Gak ahli"
"Banyak bacot dih"
"Kalian kok baru balik?" Racksa muncul di depan pintu bersama dengan Azril.
"Loh??"
"Apa?" tanya Asya.
"Racksa? Kok di sini?"
"Gue emang tinggal disini" jawab Racksa santai.
"Lu mau mampir dulu kagak?" tanya Azril.
"Zrill gak usah ngaco, ini udah mal---"
"Kebetulan gue haus sih, tadi gak sempet mampir ke supermarket karena ngejer waktu"
"Yaudah sini masuk" ajak Racksa dan Azril kompak.
Arsen turun dari motornya, melepas helm lalu ikut bersama Azril dan Racksa masuk ke dalam, mereka mengabaikan Asya.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Otewe jadi babu lagi" Asya pun berjalan masuk ke rumah abu-abu nya.
"Wahh, lu pada cuma betiga di sini?" Azril mengangguk.
"Si Asya betina sendiri? Gak ada pembantu??"
"Kagak, beresin rumah rame-rame" jawab Racksa.
"Masak? Nyuci? Dan lain lainn??" tanya Arsen.
"Tugas Asya kalau masak sama nyuci"
"Singa betina warbiasa, gak nyangka gue"
Asya hanya menatap Arsen malas lalu pergi menuju kamarnya.
"Lu mau minum apa?" tanya Azril.
"Apa aja terserah, gue gak mau jadi tamu yang menyebalkan"
"ALHAMDULILLAH SADAR DIRI"
"Kagak usah teriak-teriak maymunahhhh!"
"Lu kan teriak barusan" Azril menatap sinis Racksa.
Arsen terkekeh melihat keduanya. "Mineral water ajalah ya, sen?"
Arsen mengedipkan matanya dua kali seperti orang cengo'. "Serah"
Azril tersenyum smirk, ia pergi ke dapur mengambil minuman kaleng untuk mereka bertiga.
"Gue gak mau ribet, minum aja ini"
"Oke, thank you" Arsen meminum minumannya.
"Lu kok bisa disini, sa? Kalian triplets?" tanya Arsen.
"Gue sepupu mereka berdua" Arsen berohria.
"Kenapa tinggal disini??"
"Bokap nyokap gue di Amerika, gue udah capek disono pengen sekolah di Indonesia. Dikabulin dan ya ini tinggal sama mereka berdua"
"Bokap nyokap lu mane, zril?"
"Kagak disini" sahut Asya yang keluar dengan baju tidur lengan panjang dan rambut yang sudah di gulung.
Asya masih cukup waras untuk tidak memakai pakaian seksi di rumah, lagipula dia tidak memiliki pakaian seksi. Maksudnya yang terlalu seksi gitu.
Dia hanya punya hotpants dan baju lengan pendek yang lumayan ketat, Asya pakai itu hanya di kamarnya.
Kalau ada mengetuk pintu kamar, sesegera mungkin Asya mengganti baju atau mendouble bajunya.
"Jadi dimana, surga?"
"Heee anak babiii" Yesha membekap Arsen dengan bantal sofa. Azril dan Racksa hanya tertawa.
"Pengap peak woi ahilahh"
"Asbun si lu anjirrr"
Arsen cengengesan, "Jadi dimana??"
__ADS_1
"Mereka punya rumah sendiri, ini rumah cuma tiga taun kami yang pake"
"Rumah sewa?"
"Rumah bersertifikat atas nama bokap gue" jawab Asya ketus.
"Ohh, ya santai aja kalii"
"Whatever" Asya pergi menuju dapur.
"Jangan ketus-ketus sama pangeran lo, sya" ledek Azril.
"Pangeran matamu picekk!!" tawa Racksa dan Azril menggelegar.
"Liat lu kek gitu, gue jadi pengen nikah" ujar Arsen.
"Nikah sama siapa, sen. Laila?"
"Kenapa jadi Laila?"
"Laila kan pacar lu"
"Kagak berkelas. Gue maunya nikah sama Asya"
"Lu bacottt gue siram air panas!!!" teriak Asya dari dapur.
Azril dan Racksa terkekeh, "Gak peka lu emang"
"Ga peduliii" jawab Asya.
"Lu masak apa woi??" tanya Racksa.
"Mie"
"Ehh sekalian dong njirrr" teriak Azril.
"Ogah-ogah"
"Astaghfirullah, sya. Kejam lu, gue laper laahh. Masakin kekk sekalian. Kalau gak mau gue laporin ke mommy lu, jadi kakak perhitungan"
"Iyaaa iyaaaa gue masakinn!! Bawel amatt"
"Syaaa sekaliannn" ujar Racksa.
"Lu mau gak, sen? Belum makan kan? Oke sekalian. Arsennn juga niihh"
Asya yang di dapur mengelus dadanya, "sudah kuduga bakal jadi babu"
Mereka terkekeh melihat muka Asya yang menahan amarah.
'calon istri idaman gue' batin Arsen.
"Duluan lahir Asya, dia kakak-an. Harusnya dipanggil nuna"
"Nuna gundullmuu! Beda tujuh menit gak usah bacott" Azril cengengesan.
"Gue kira lu duluan lahir"
"Mungkin harusnya gue dulu, tapi dia ngebet jadi keluar duluan" jawab Azril ngasal.
"Ngaco mulu, gue siram air panas bener nii" Asya sudah datang membawa dua mangkok berisi indomie.
"Yee galak amat" ujar Azril sambil mengambil satu mangkok.
Asya kembali ke dapur membawa dua mangkok lagi lalu memberikannya pada Arsen. Mereka menikmati indomie bersama sambil menonton dangdut Indosiar.
"Lu kagak mau nginep, sen??" tanya Racksa.
Asya tersedak, matanya memerah.
"Pelan-pelan begoo" ujar Arsen sambil memberikan minumnya.
"Racksa gak ngotak emang" Racksa tidak merespon.
"Ada kamar lagi emang? Lu sama Azril tidur bedua atau Asya Azril tidur berdua?"
"Tidur sendiri-sendiri semua ogeb"
"Lu nawarin gue emang ada kamar??"
"Ada dua lagi"
"Serius?" Racksa dan Azril mengangguk.
"Keliatan kecil kan? Tapi ni rumah kamarnya lima, setiap kamar ada toiletnya. Ada dapur, ada ruang keluarga, kamar mandi diluar kamar juga ada tuh deket dapur"
"Anjirrr, kerenn. Gue nginep sini dong"
"GAK"
"Lah kenapaa??" tanya Azril.
"Heh begoo, ntar digosipin tetangga gimana? Kan gak lucu kalau gue digibahin karena dikira punya tiga suami"
"Omongan tetangga gausah dengerin, boleh yaa?"
"Gak!"
__ADS_1
☸☸☸
06.55
Seperti biasa mereka bertiga --Asya, Azril, Racksa-- pergi bersama dalam satu mobil menuju ke sekolah.
Sebelum pergi, tak lupa mereka singgah di supermarket untuk membeli susu, ntahlah, Asya dan Azril merasa pagi mereka kurang cerah tanpa minum susu dari supermarket.
Oh iya tentang Arsen, ia tidak jadi menginap semalam. Sekitar pukul setengah sebelas Arsen baru kembali ke rumahnya.
Mereka tiba di parkiran sekolah, masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum bel berbunyi.
"Belajar yang bener lu, sya. Jangan mikirin guee" ujar Azril.
"Najiss, ngapain juga gue mikirin lu" Azril tertawa, ia pergi menuju kelasnya.
"Pagi Azril"
"Oohaii.. pagi juga, Fir"
"Lu udah sarapan? Gue bawa sandwich buat lu" Fira --teman sekelas Azril-- memberikan sekotak Tupperware berisi sandwich.
"Acara apa nih?"
"Gak ada" jawab Fira sambil senyum.
"Makasih deh, tapi gue udah sarapan, masih kenyang juga. Ntar siang deh gue makan ya" Fira mengangguk.
"Gue.. ke meja dulu" Azril mengangguk. Fira pergi ke tempat duduknya.
"Timing yang aneh" bisik Dino dari balik jendela.
"Gak usah jadi makhluk halus, muka lu udah nyeremin" protes Haikal dari belakangnya.
"Bajingann lu cal, gue ganteng gini mirip Cha Eunwoo"
"Najiss halu"
"Dari pada lu bedua bacot mending masukk" titah Azril.
Mereka berdua pun berjalan santai masuk ke kelas. "Kantin la yuk"
"Dua menit lagi masuk begooo" jawab Haikal gemas.
"Gue laper bang"
"Noh, sandwich nya buat lu" Azril memberikan sandwich dari Fira.
"Leh njirr, itu kan buat lu"
"Ya daripada lu kelaperan, gue baik din"
"Gak ahh, ntar ada jampi-jampinya" jawab Dino.
"Otak kau din din, negatif ajaa!" Dino cengengesan.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!"
"Waalaikumsalam, selamat siang buk" Azril, Dino, dan Haikal menjawab bersamaan dengan suara lantang.
"Ah kalian lagi, saya stress kalau balas kalian. Yaudah, daripada banyak bacot mending pada buka buku. Kita lanjut kan materi"
Ica pun mulai mengajar, dia cukup ahli dalam beberapa pelajaran. Contohnya bahasa Indonesia, bahasa Inggris, kimia, dan fisika. Pagi ini dia mengajar Kimia.
Jarum jam berputar, tak terasa mereka sudah melewati jam pertama dan kedua. Jam berikutnya adalah jam istirahat.
"Paham gak paham kalian harus paham. Karena saya yakin kalian paham saya kasih tugas, di kerjakan bagus bagus. Gak ngerjain, saya sleding kepalanya"
"Kal ini emak lu?" tanya Sean berbisik. Haikal mengangguk sambil sedikit tertawa.
"Emak lu best emang"
"Yang di belakang jangan gosip" mereka terdiam.
"Matanya ada banyak pasti" gumam Haikal.
"Ada pertanyaan?" Adinda mengangkat tangannya.
"Iya, Dinda?"
"Bukan pertanyaan tapi permintaan buk, saya mau pindah tim bahasa Indonesia"
Azril langsung melihat Adinda heran, 'gue ada buat salah?' Pikir Azril heran.
"Kenapa?"
"Saya.. saya maunya sama Alex buk"
Ica menghela nafas. "Okelah, saya tau kalian berdua sepasang kekasih yang mungkin gak bisa terpisah. Jadi, saya bakal rombak lagi timnya"
"Adinda Alex, Reva Haikal, Viona Azril"
"Deal ya! Saya gak mau di rombak lagi"
"Saya kan baik baik aja buk, kok diubah?" protes Haikal.
"Suka-suka saya lah, kan saya gurunya"
__ADS_1
"Savage!! Untung aku sayang emak"