
"Dudududududu~"
"Mau kemana??" Adinda terpaku.
Sejak kapan Alex berada di kamarnyaaa?!
"Ehm, mau main."
"Main kemana??"
"Ehm.."
"Di diamin melunjak, ya?? Main bareng Asya, Azril. Kamu tau kan aku gak suka sama mereka berdua."
"Iya kan kamu yang gak suka, Lex. Bukan akuu," jawab Adinda sambil menunduk.
"Pake baju kamu dulu, kita bahas setelahnya. Aku gak mau kamu masuk angin."
"Y-ya keluarrr."
"Nggaklah, ngapain. Toh juga ntar kalau--"
"Alexxx!!" Alex tertawa kecil melihatnya lalu keluar dari kamar Adinda.
Secepat mungkin Adinda memakai baju nya kemudian keluar.
"Kamu dari kapan di kamar??"
"Pas kamu nyanyi tadi." Adinda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa sedikit malu.
"Jadi mau kemana??"
"Makan-makan sama Asyaa."
"Kenapa sama mereka?"
"Lex, aku butuh temen jugaa."
"Nggak perlu. Gak semua temen bisa tulus," jawab Alex kesal.
"Alexxx.." Adinda merengek.
"Aku juga butuh hiburann, butuh temennn. Aku bosen di apartemen muluu, bosen liatin tv mulu. Kamu gak kasian?" Tanya Adinda.
Alex menatap lekat mata Adinda, "nggak."
"Astaghfirullah, sayaanggg."
"Plissss yaa, ijinin mainnnn kali ini ajaaa?"
"Kamu udah sering main sama mereka."
Adinda terkejut, "kamu pikir aku gak tau? Aku tau semuanya, Adinda."
"Ishh, jadi gak boleh??" Alex menggeleng.
"Kamu main kan aku biarin terus, Lexx."
"Aku main sama sejenis, kamu nggak."
"Kamu main ranjang sama cewek lain juga aku biarin."
Alex gantian terkejut.
"Kamu pikir aku gak tau? Kamu main ranjang kan sama mantan kamu."
"Kamu tau darimanaaa?"
"Aku liat sendiri waktu ke apartemen kamu."
"Aku minta maaf sayang, aku khilaf. Dia godain aku duluan, kan aku cowok normall jadi nya tergodaa."
Adinda diam tidak merespon.
"Jadi yang waktu itu kamu ke rumah Asya gara-gara liat aku?" Adinda mengangguk.
"Aku juga gak mau ganggu makanya gak ada chat kamu."
"Siapa yang anter kamu ke tempat Asya?"
"Arsen."
"Tu anak lagi nyari ributt."
"Dia nemuin aku di jalan sendiriann! Dia anterin aku ke rumah Asya terus pergi ke apartemen kamu."
"Tapi gak ada."
"Asya tahan dia buat gak ngehajar kamu. Asya Azril itu baikk, Lex. Kalau bukan karena mereka kamu tidur di rs karena kena hajar Arsen."
"Puji aja terus orang lain."
"Terserah kamu dehhh. Tetep gak ijinin?" Alex menggeleng.
"Em.. gimana ya kira-kira reaksi pak Andre kalau tau kamu main ranjang sama mantan?"
"Dindaaa!"
"Aku nanyaa, Alexxx."
Alex menghela nafas. "Yaudah yaudahhhh, kalau mau main ya main sanaaa."
"Yess!! Aku nginep, ya?"
"Kok jadi ngelunjak?"
"Ish, jauh tauuu."
"Yauda iya terserah."
"Aaaa thank you sayaang."
Alex tersenyum.
Sebenarnya ia tipe pria romantis tapi sifatnya lebih mendominasi ke arah antagonis.
"Oiya, aku kesini mau kasih tau kalau besok aku keluar kota. Pulangnya rabu."
"Lama bangett!"
"Bentar doangg. Jangan macem-macem loh ya, jangan sampe bertindak yang nggak-nggak!" Adinda mengangguk.
Ia mendekat ke Alex lalu memeluknya, "tiati. Jangan lupa oleh oleh."
Alex mengangguk sambil membalas pelukan, "kamu pulang minggu! Jangan lewatt!"
Adinda melepas pelukan, "iya bawel! Jangan selingkuhh!"
Cup!
Adinda mengecup pipi Alex tiba-tiba. Seketika Alex terpaku karena terkejut.
Adinda tertawa melihatnya kemudian berlari ke arah luar. Alex mengejarnya lalu menarik kembali ke dalam.
"I want to kiss you."
Adinda menatap Alex yang perlahan makin mendekat, ia pura-pura memejamkan matanya. Ketika beberapa centimeter lagi sampai, Adinda mendorong kuat Alex lalu lari.
"Sorry baby!! I love you!"
Alex tertawa, "love you too!"
❀❀❀
20.00
"Finally!! Gue punya temen cewekkkk!" Asya girang.
"Gue jadi prihatin cuy, sumpah." Ujar Racksa.
"Gue jugaa, takutnya kan si Alya yang awalnya malu malu jadi gak punya malu kea dia." Sahut Haikal.
__ADS_1
"Emang berdosa kali! Ini keknya penyebab gue gak punya temen cewek."
"Bukan ini, geb. Lu nya aja yang jarang deket sama cewek!" Jawab Azril.
"Btw, Alya siapa?? Emaknya Apin?" Tanya Dino.
"Bukannn, pinter!! Inii Alyaa," Haikal menunjuk Arallya.
"Kenapaaa jadi Alyaaa, Samsudinnn?!" Tanya Adinda keheranan.
"Arallya, Alya."
Mereka mengelus dada, "kudu banyak bersabar. Oke, sabar."
"Kan dia suruh panggil Ara atau nggak Icha, kenapa jadi Alya wahai makhluk bumiii?!" Tanya Arsen masih menahan emosi.
"Manggil Icha ga mungkin, jatohnya manggil emak gue ndiri. Kan ga sopan. Kalau manggil Ara nanti sama kea kalyan, ga enak."
"Oh jadii mau panggil panggilan spesial ya, bang Kal?" Tanya Yuna. Haikal tidak menjawab, ia hanya menatap kesal Aryuna.
"Aiguu.."
"Ckk!"
"Tapi ya, Cal, kalau lu panggil Alya ntar jadinya manggil emaknya Apinn." Ujar Dino.
"Opo yo tak pikerr!"
"Astaghfirullahalazim. AYO RUQYAH HAIKALLL!" Ajak Asya mulai emosi, mereka terkekeh melihatnya.
"Panggil apa ya yang enak?"
"Diem we diem, biarkan aja otaknya kerjaa." Sahut Racksa.
"Udah kerja otak guee, dapet gaji kemaren."
"Kerja apa?" Tanya Arallya.
"Kerja sama untuk mencintaimu."
"WAHH, gila si Ical. Udah menjelma jadi pucekboyy." Cibir Adinda.
"Dia udah lama jadi pucekboyy, baru ketauan sekarang." Sahut Azril.
"Su'udzon astaghfirullah! Bodo ahh. Arallya, gue panggil lu apa, ya??"
"Ara ajaa."
"Sayang aja gimanaa?"
"Gak kuat, Asya gak kuat. Mau ke dapur dulu, ambil panci buat ngeheadsot." Asya pergi, Haikal terkekeh.
"Cemburu apa gimana lu?"
"CEMBURU DARIMANAA?! GAK USAH NGACO DEH LU, GUE HEADSHOT BENERAN NTAR!" Teriak Asya dari dapur, Haikal terkekeh lagi.
"Araa.. biasain diri ya, jangan depresott." Ara mengangguk sambil tertawa kecil.
"Siapa yang ngajarin lu jadi pucekboyy, Ical marpuah?"
"Ya jelas lu lah. Lu, Dino, Racksa, oh iya Arsen juga."
"Gue udah tobat, di bawa bawaa. Cabut dah guaa," Arsen pergi menyusul Asya.
"Bacritt!! Bilang aja pengen deket Asyaa." Ledek Racksa.
"Ya toybaa~ emang iya sii."
"Sepertinya dia sudah positif terinfeksi bucin!" Gumam Azril melihat keduanya di dapur.
Mereka berada di halaman samping, dapur kelihatan dari sana. Oh iya, acara manggang-manggangnya jadiii. Mereka sedang menunggu rebusan ayamnya.
"Terinfeksi pala lu layang-layang. Sejak kapan ada infeksi bucin." Ledek Racksa, Azril cengengesan.
Di dapur, Asya sibuk melihat rebusannya sambil menyeruput susu. Arsen yang menyusul, mengambil satu susu di kulkas kemudian menghampiri Asya.
"Kok ikut?"
"Kagak boleh beduaan yang bukan mahramm, ntar ketiganya setann."
"Oohh, jadi mau di mahramin?"
Asya berhenti menyeruput susunya kemudian menatap Arsen, "suka asbun memang."
Arsen tertawa kecil melihat Asya salah tingkah. Ia bersandar di samping Asya.
"Syaa."
"Hm??"
"Fauzi.. masih sering hubungi lu?" Asya menggeleng.
"Jangankan kak Fauzi, Tara aja jarang contact gue sekarang."
"Serius??"
Asya mengangguk, "gak percaya cek wa gue. Handphone nya di meja."
"Boleh?"
"Nggakk."
"Tapi tadi—"
"Kan tadi gue suruh cek. Berarti boleh dong, gantengg." Arsen cengengesan, ia menuju meja untuk mengambil ponsel Asya.
"Wahh.. ini bukannya bayangan kita berdua waktu di pantai itu?? Di jadiin homescreen ternyataa."
"Hah masa iya? Salah foto guee." Asya ngeles.
"Kalau salah foto udah di ganti lahh, yakali lu gak pernah liat homescreen."
"Bawell dihh."
"Biwill dihh," Asya tertawa kecil.
Arsen pun mulai mencari aplikasi whatsapp dan membukanya.
"Lama bangett ternyataaa, yang terakhirrr waktu lu sparing." Asya mengangguk.
"Ada masalah apa ya?? Tara juga jarang keliatan tauu."
"Sstt.. gak usah bahas lagi, focus on me."
"Why?"
"Because, i love you!"
"Bugiardo~"
"Bohong dari manaanyaa?" Asya mengedikkan bahu sambil cengengesan.
Melihat ayam nya sudah lembut, Asya ingin membawanya keluar.
"Ah panas.." Arsen meletakkan ponsel kemudian mendekat ke Asya.
"Ck, kenapa gak pelan pelan sih??" Arsen mengambil air dingin kemudian menyiramkan ke jari Asya.
"P3K dimana?"
"Ruang tamu." Arsen berlari ke arah sana untuk mengambil kotak P3K setelah itu kembali dan mengobati tangan Asya.
Asya hanya melihat apa yang di lakukan Arsen. No no, bukan melihat lukanya tetapi melihat Arsen nya.
Sekarang ia bingung, kenapa pria tampan yang 'playboy' ini bisa tobat karena ada dirinya? Benarkan pria ini tobat?? Dan masih banyak pertanyaan yang terlintas di otak Asya.
Cup~
Arsen mengecup luka yang sudah di balut kemudian mengelusnya.
"Cepet sembuhh, yaaa." Arsen berbicara pada jari Asya.
__ADS_1
Arsen mendongak melihat Asya lalu mencubit hidungnya, "next time hati-hatiii. Kalau gak bisa, mintol ke guee. Paham?" Asya mengangguk pelan.
"Bawa handphone lu sama punya gue, biar gue bawa ayamnya kesana." Asya menuruti Arsen, Arsen membawa rebusan itu keluar.
Mereka membaluri ayam dengan bumbu yang di buat. Mereka tidak melihat google ataupun youtube, mereka hanya memakai insting untuk membuatnya.
Enak gak enak, urusan belakangan.
"Tangan lu kenapaa?" Tanya Ara.
"Kena air panas tadii," jawab Asya.
Azril menatap Arsen, "ceroboh lagi tu anak?" Arsen mengangguk.
"Ceroboh people!" Asya cengengesan. Mereka mulai memanggang ketika sudah di campur dengan bumbu.
"Gue mau manggangnyaaa."
"Gak usah, Asya. Lu ceroboh, gue ajaa." Asya memanyunkan bibir mendengar jawaban Arsen.
"Lihatlah, Asya sudah menjadi ratu sedangkan gue masih jadi kentang berharga seribu."
"Ratu matamuu, babu iyaaa." Jawab Asya, Haikal dan yang lain tertawa.
"Btw lu kagak punya doi, Ra?"
"Abis di ghostinggg lewat virtual."
"Kenapaa?" Tanya Adinda.
"Kan gak good looking."
"Insecure people." Cibir Azril.
"Gue pernah baca kata-kata begini, virtual itu tangannya aja gak bisa di pegang apalagi omongannya."
"Anyingg."
"Xixii, karena lu korban ghosting gue cuma mau bilang satu hal."
"Apaan?"
"MAMPUSSS LU!"
"Astaghfirullah, Asyaa.. toxic sekali dia ya." Racksa menggelengkan kepalanya. "Tapi ya, satu kata dari gue sama kok."
"Pengen getok Racksaa!" Racksa nyengir kuda.
"Kak Ara pindah kenapa? Kan udah kelas dua belas tuh, sayang gak sihh kalau tinggal tamat malah pindah?" Tanya Aryuna.
"Di drop out karena kasus, mau gimana lagi?"
"Tapi lu bilang lu pendiem, Ra. Kasus apaan?" Tanya Dino.
"Panjang ceritanyaa, singkat aja. Jadi tu gue cewek terjago di ekskul volly ball, banyak yang iri terus ngefitnah gue yang nggak-nggak. Gue di drop out karena yang fitnah gue anak kepsek sama anak komite sekolah. Bisa apa gue?"
Mereka mengangguk paham.
"Gue jadi lu nabokin satu persatu sebelum pergi." Asya meminum pino eskap yang ada di luar.
"Gak heran lu mahh!" Asya cengengesan.
"Bokap nyokap lu, reaksinya gimana?" Tanya Azril.
"Bokap nyokap nyuruh diem aja, biarin aja waktu kena fitnah. Dan pas di drop out, gue di ajak pindah rumah sekalian."
"Lu jadi bagian circle gue tenang ajaaa, gak bakal adaa ntar yang mau bully lu. Kalau ada, mereka yang lawan." Asya menunjuk Dino dan yang lain.
"Always nunjuk orang, gue totol juga ntar muke lu pake arang!" Asya tertawa kecil.
"Lu ngelanjut ke mana, Ra?" Tanya Adinda.
"Ke SMA Super. Kalian sekolah dimana?"
"Satu sekolah sama luuu," Haikal girang.
"Eh iyaa, lu bilang tadi cewek terjago di ekskul volly?" Tanya Azril, Adinda mengangguk.
"Kenalin, cewek terbarbar di ekskul volly." Azril menunjuk Asya.
Dengan bangganya Asya tersenyum lebar.
"Gile, creepy liat dia senyum gitu!" Mereka terkekeh.
"Besok kalau mau berangkat bareng ke rumah aja, Ra." Ujar Racksa.
"Gak usah curi start kauu!" Haikal ngambek.
"Hobi baru si Ical mempitnahh." Cibir Adinda.
"Yak betul syekalii!" Sahut Racksa, Haikal malah tersenyum sama seperti Asya.
"Kan seremm," mereka tertawa lagi.
"Lu kok bisa keluar, Din?" Tanya Dino.
"Ngebujukk Alex sekaligus ancem tentang main ranjang. Toh juga dia mau ke luar kota."
"Tu anak gak sekolah lagi?" Tanya Azril gantian.
"I don't know."
"Bang Arsen kenapa diem aja?" Tanya Aryuna.
"Mau ngomong apaan? Gak kebagian dialog gue."
"Hahaha, sang tokoh utama kehilangan dialog."
"Tokoh utama ini sedang berbagi dialog pada orang yang jarang berdialog." Jawab Arsen.
"Iyain aja iya udah iyain!!" Arsen cengengesan.
Mereka bersembilan terus memanggang sampe akhirnya semua ayam matang.
Karena sudah matang mereka makan bersama pakai daun pisang. Seusai makan, mereka kembali bergibah ria sambil bercanda tawa.
Tak terasa jam berlalu begitu cepat, Asya yang ngantuk ketiduran tepat di paha Arsen.
Arsen gemas melihatnya, ia mencubit pipi Asya. Asya merasa terusik, tapi ia enggan untuk bangun.
"Bucin bangett lu, yaa?!" Adinda mengejek.
"Gatau dah gue, kenapa bisa bucin banget sama ni anakk." Arsen mengelus lembut rambut Asya.
"Sepertinya dia kena pelet."
"Asya pake pelet?" Tanya Ara.
"Pelet kuda," jawab Dino. Mereka terkekeh melihat ekspresi kesal Ara.
"Ara, lu mau balik atau nginep?" Tanya Racksa.
"Balik aja. Udah jam segini juga, gue balik yaa."
"Jangan sendirii. Cal, anterin." Haikal mengangguk.
Haikal mengantarkan Ara sampai ia masuk ke rumah kemudian kembali ke rumah abu-abu.
Semua sudah masuk begitu pun dengan Asya yang berada di gendongan Arsen.
"Lu pada nginepp?" Tanya Azril.
"Males balik, Zril. Jauh jugaa."
"Oke, kalau gitu.. Aryuna tidur di kamar Racksa. Dinda, lu tidur di kamar gue." Mereka berdua mengangguk.
"Gue anterin Asya ke kamarnya dulu." Arsen pergi membawa Asya ke kamarnya.
Ia meletakkan Asya perlahan-lahan lalu mendekat untuk mengecup kening Asya.
"Good night, baby."
__ADS_1