Barbar Generation

Barbar Generation
Negosiasii


__ADS_3

Asya tersenyum, "tapi menurut gue.. bodohan lu sih. Lu bodoh karena mau berurusan sama gue."


Asya melayangkan tendangannya. Tara terjatuh karena satu tendangan Asya.


Oh iya, seragam Asya sudah tidak berbentuk sekarang. Rok celananya juga sudah robek dan kotor.


Bagaimana Tara dan timnya? Mereka menggunakan baju olahraga, jadi mereka lebih mudah menghajar Asya.


"Bangun lu! Lembek banget kea nutrijel!" Penuh amarah Tara berdiri dan mulai meninju Asya. Benar-benar diluar dugaan, Tara bisa bela diri.


Para pria yang di luar lapangan menatap was-was Asya. Ingin rasanya membantu, tapi mereka gak bisa masuk sama sekali.


Dan sampe sekarang, belum ada guru yang datang karena tidak ada yang mau melapor.


Dengan dua alasan, yang pertama menikmati pertengkaran dan yang kedua mereka takut kena amukannya Asya juga.


Saat ini Asya dan Tara sama-sama kewalahan. Sudut bibir dan pelipis Asya berdarah karena Tara. Tara juga begitu.


"Duhh, ini tuh salahh! Harusnya jam pulang sekolah aja kalau mau gelut. Kalau sekarang sayang bangettt, baju Asya jadi kotorrr!" Keluh Azril.


"Si dongooo! Malah mikirin bajunyaa, liat tu Asya udah gimana bentuknyaaa!"


"Lu kek gak tau Asyaa aja. Dari tadi dia mengalah, bukan kalah. Sekali bantingan patah tulangnya Tara." Jawab Azril santai.


Seakan mendengar perkataan Azril, Asya membanting Tara. Ternyata belum selesai. Ketiga temannya kembali berdiri.


Asya menendang perut, kaki dan juga wajah mereka. Mereka pun jatuh dan tidak sanggup berdiri lagi.


"Wahhaa, gak nyangka. Kuat juga gue," Asya menyombongkan diri dalam hati.


"Gimana? Enakk? Lu makan tu tendangan guee!"


"Mau lagii?"


Bugh!


Asya memukul wajah yang menabraknya tadi.


"Bodoh banget si lu pada! Kok mau lawan sama gue? Bu Rifa aja diusirr, lu berempat juga mau diusirr?" Tanya Asya sambil menetralkan nafas.


"Bacot lo!"


"Hahaha, apaan siii? Udah kalahh, gapunya malu pula. Ewwh!" Asya pergi keluar lapangan mengambil air mineral dari beberapa adik kelas.


"Zril, gantiin dulu pake duit lu." Asya kembali masuk dan menyiramkan air pada mereka.


"Harusnya bensin yang gue siram, bukan air. Tapi karena cuma ada air jadi gue siram air. Next time jangan cari ributt, bisa aja yang gue siram racun tikus."


Asya membanting botolnya lalu pergi dari lapangan meninggalkan mereka. Arsen mengejar Asya.


"Syaa." Arsen memegang bahunya, Asya berbalik.


"Dasar singaa!" Arsen memasangkan Asya jaket miliknya kemudian menggendong ala bridal style.


"Sennn!! Ih, Arsennn!!" Protes Asya geram.


"Berisik dihhh, sakit telinga gueee. Diem yaa, diemmm!" Asya menatap kesal Arsen lalu diam di gendongannya.


"Mau lu kemanain?" Tanya Azril mengejar mereka.


"Kandang. Dia harus balik ke habitatnyaa, bahaya kalau keliaran sembarangan."


"Sennn!" Arsen tertawa. Ia berbelok, masuk ke UKS.


"Duduk, diem!" Asya benar-benar diamm, ia tidak membantah sama sekali.


"Aaaw.."


"Perihh? Maaf, yaaa. Gue usahain pelan kokk." Ujar Arsen sambil mengobati Asya.


"Katanya gak boleh emosiann, ini apa hm? Sampe berdarahh ginii. Ganass bangettt siii!"


"Yaaa bodoamat, yang penting puasss." Arsen geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Takut khilaf benerann."


"Eum? Maksudnya?" Asya bingung.


"Sudut bibir lu yang lukaa, pengen gue obatin pake bibir gue sendiriii."


"Cari kesempatan dalam kesempitan, parahh Arsen!" Arsen menoleh ke belakang, ternyata yang lain sedang menonton mereka berdua.


"Nggak gituu broww, gue cumaaa gemess liatnyaa."


"Keknya bahaya kalau mereka ditinggal berduaan." Ujar Azril.


"Jangan sampe beduaan." Mereka tertawa kecil.


Tingg...


Mereka mengambil ponsel masing-masing.


Pak Jarwoo


online


Wahh sekalii kaliann! Hebat betulll yaa...


Tingg...


Pak Jarwoo


online


KERUANGAN SAYA SEKARANG!!


"Sidang againn." Ujar Racksa santai.


"No sidang no lifee." Jawab Asya cengengesan.


"Lu sama Azril sama yaa! Sama samaa suka sidanggg." Asya dan Azril tertawa kecil.


"Kan di buat dalam satu projekkk. Jadi ya samaa," jawab Azril.


"Udah ayok buruann! Ngamuk ntar temennya Sopo." Mereka pun kembali pergi menuju ruangan Pak Jarwo.


Tapi sebelum itu, Arsen melepas baju putihnya dan memakaikan pada Asya.


"Luu gimana?? Yakalii pake itu doangg." Arsen menggunakan kaos putih polos. Lengan putih yang juga berotot terekspos.


"Sstt, gak usah bawell. Dah ayokk!" Arsen menggandeng tangan Asya.


"Capek banget Yuna liat mereka berduaa, gandengan mulukkk." Keluh Yunaa.


"Tangan abang nganggur nihh." Dino menengadahkan tangannya, Yuna meletakkan tangannya di atas tangan Dino. Dino pun menggenggamnya.


"Anjirr syekalii."


"Sepertinya mereka ingin go public." Sahut Asya, mereka tertawa kecil mendengarnya.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di ruangan Pak Jarwo.


"Assalamu'alaikum, Pakkk." Azril dan Racksa masuk disusul yang lain.


"Wa'alaikumsalam!" Pak Jarwo ketus bangett gaiss.


"Ada apa nih, Pak?" Tanya Arsen mewakili.


"Ada apa ada apaa. Rusuh terus kerjaaan!" Mereka cengengesan.

__ADS_1


"Kalau gak rusuh, buku kasus bapak gak ada isinyaa. Mending kami isiinn," jawab Racksa.


"Yaiyaa, tapi saya juga pening liat kalian. Gak habis-habis tingkahnya, adaaaaa ajaa!" Mereka kembali cengengesan.


Tok tok..


"Assalamu'alaikum.." Bu guru seni budaya masuk.


"Wa'alaikumsalam. Wah apeni? Pak Jarwo ehemmm." Ledek Ara.


"Jangan ngaco kaliann!"


Pak Jarwo menghampiri guru tadi.


"Kenapa, Bu?"


"Mau ngasih yang bapak minta, Pak." Pak Jarwo menerimanya.


"Estetik kali nerimanya." Ledek Haikal.


"Estetik estetik apaan?! Emang kamu tau estetik apa?" Tanya guru senbudd.


"Tau lah, Buu." Mereka kompak.


"Apaa?"


"Ess di tambah teh di tambah suara hujan. Es--te--tik."


"Astaghfirullah.. hampir prustasi saya. Daripada makin gila saya pergi ya, Pak." Bu guru senbudd langsung pergi.


Bacot squad tertawa mendengar perkataannya tadi.


"Sudah sudahhh! Puas sekali kalian buat guru pusing." Mereka auto diam.


"Besok pagii datang cepat. Kalian semua kecuali Aryuna masuk ke ruang mulmed!"


"Ngapain, Pak?" Tanya Dino.


"Ujian!"


"HAHHH?!"


"Kok kagett? Daripada di drop out mending mana?? Lagian ujian tu seminggu lagi, tapi biar kalian gak meresahkan jadi khusus kalian di percepat."


"Mampuss gue!" Dino auto melesu.


"Pelajarannya apa, Pak?"


"Semua pelajaran dalam satu harii. Satu mapell dua jam, lima belas kali duaa tiga puluh, okee dibagi duaa. Jadinya besok sama lusa. Satu hari tujuh atau delapan mapel."


"Astaghfirullahalazim, bengekkkk!! Pakkk, yang lain aja deh pakk. Denda atau apa gituuuuu," pinta Azril.


"Gak, gak bisa. Kalian di denda tiap hari di hukum tiap hari juga sama ajaaa."


"Pakk, ini ujian gak main-main pakk. Bapak mau kami gak luluss? Makin stress ntar guru-guru, Pakkk." Kata Racksa mencari pembelaan.


"Belum tentu. Lagipula ini saran dari pemilik sekolah." Pak Jarwo melirik Asya dan Azril.


Mereka berdua ternganga.


"Mampuss gua mampusss. Kagak main-main ini mahh." Keluh twins kompak.


"Di geprek ntar gue kalau nilai anjlokkk." Haikal ikut mengeluh.


"Gue takutnya di drop out dari kartu keluarga," sahut Dino merenungi nasib.


"Sudahh! Besok di ruang mulmed, jam delapan. Telat? Gak ikut ujian dan gak ada susulan. Silahkan keluar, itu pintunya."


"YA TOYBAAAAA."


◕◕◕


Masih di jam sekolah, Arsen baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Alex berjalan menuju rooftop sendirian, Arsen mengikutinya.


"Minum amer teruss, ya?" Alex menoleh sekilas.


"Mau apaa lagi lu? Mau buat gue masuk buku kasusnya pak Jarwo?" Tanya Alex, suaranya terdengar seperti orang kelelahan.


Arsen yang mendengar itu menepuk pundak Alex pelan, "nggakk. Mending lu minum susu daripada amer," jawab Arsen.


"Hhaha, kenapa jadi sok deket gini lu?" Arsen tersenyum tipis menatap Alex lalu berbalik, bersandar pada pembatas rooftop.


"Mau coba amer? Lu belum pernah minum, kan?" Arsen menggeleng.


"Gak pernah dan gak mau coba."


"Why?"


"Ntar Asya marah kalau gue mabuk-mabukan."


"Hhaha, bucin ternyataa." Arsen melihat Alex yang sedang menatap awan.


"Jauhi virus gak baik yang ada di sekeliling lu, jangan bertahan kalau lu tau cuma dijadiin sumber uang." Alex mengerutkan dahi.


"Lu..?"


Drrtt.. Drtd..


Arsen meraih ponsel di sakunya, Asya yang meminta dibeliin susu ternyata sudah tidak sabar.


"Asya miskol, gue udah di tungguin. Ahyaa, gue cuma mau bilangg, enak rasanya ketemu cewek yang bener bener bisa buat lu ngerasain indahnya kehidupan ditengah kejamnya dunia."


"Cari cewek yang kayak gituu, gue yakin lu juga bakal bucin sebucin gue."


"Cobain nih susu, jangan amer muluu." Arsen memberikan susu ke tangan Alex.


"Ehh, btw, emosii cuma bisa memperburuk keadaann. Gue duluan ya, bye!!" Arsen melambaikan tangannya lalu pergi sambil berlari.


Alex sendiri sedang terheran-heran dengan perkataan Arsen tadi. "Arsen denger pembicaraan gue kemaren??"


Di sisi lainn. Begitu turun dari rooftop, Arsen langsung menemukan Asya.


"Nyariin guee?"


Plakk!


Lengan Arsen dipukul.


"Sakittt ishh. Parahh kamu mahh," keluh Arsen. Bukan lebayyy, tapi Asya mukul emang pake tenaga dalem.


"Salah sendirii ngagetinnn. Kemana ajaa coba? Lamaa banget," Asya kesal.


"Tadinya ke toilettt, nih susunyaaa."


Asya menerimanya sambil tersenyum senang. Benar-benar seperti bocahh yang baru dapat permen. Arsen sendiri gemas melihatnya.


Arsen berpindah ke depan Asya, "mau naik punggung gue?"


"Gue pakee rokkk."


"Yaudah, ayo ke kelas. Ntar aja minumnya sambil duduk." Arsen menarik tangan Asya menuju kelas.


Setibanya dikelas. Ada Azril, Ara, Dino dan Haikal sedang merenung bahagia.


Merenung.. bahagiaa.


Hanya ada mereka ditambah Rafy dan Irgi di kelas, karena yang lain sedang mencar ntah kemana.


"Guyss, apakah setelah ini kalian akan tobat?" Tanya Irgi.

__ADS_1


"Oh tentu tidak!" Jawab mereka kompak, Irgi dan Rafy terkekeh.


"Malah makin jadi kalau gini mahhh!" Sahut Arsen.


"Tapi jujur gue gak yakin sihh, kalau delapan pelajaran sehari dalam waktu dua jam.. bisa sampe malem kita di sekolah." Ujar Haikal.


"Gue malah mikir kagak bakal sampe dua jam tuh ujiann," jawab Dino.


"But, it's okay lah gaiss. Kita tamat duluann," Azril mulai ngejreng.


"Tamat duluan? Kalau tamat." Ceplos Arsen.


Auto merenung lagi kann.


"Ini ujian akhir lohh, pusing pala gue mikirnyaa." Keluh Ara.


"Impossible ini pasti, impossible!" Sahut Asya.


Mereka menoleh ke arah Racksa yang terdiam, "saaa? Masih nafass?" Tanya Rafy.


"Hampir mati." Mereka terkekeh.


"Ya Allah... apa kata emakku ntarrr kalau nilai anjlokk?! Mana bumil sensitifff, salah dikit mampuss gue!"


◕◕◕


Asz group.


"Helowww, selamat siang tuan Askaa." Aska menoleh pintu, ia tersenyum.


"Sendirian, sayang?"


"Berdua sama mobil." Aska tertawa, ia menarik Zia kepangkuannya.


"Kebiasaan bangettt! Ini tu di kantor!!"


"Kan kantor akuu," jawab Aska cengengesan.


"Dasarr songong! Oiyaaa, kasus Asya Azril kemaren gimana? Yang mecahin kacaa."


"Udahhh di tanganinnn, paling auto kalem jadinyaa."


"Beneran mau di dulukan ujiannyaa?"


"Ya nggak lahh, gak adil ntar kalau mereka didahulukan." Zia berohria.


"Kemaren mereka keluar dana untuk beliin kado temennyaaa."


"Terus, kenapa?" Tanya Aska.


"Yaaa.. ya gimanaa gituuu. Mereka kebaikannn tauu, kalau di hianatin lagi gimanaa?"


"Sayangg, gak boleh su'udzon gituu. Dosa. Kan belum tentuu yang di surprise kemaren sama kea si fake nerddd."


"Nggak mau su'udzon, ayy. Tapi takut ajaa, sekali penghianatan masih bisa lah diterima. Kalau udah berkali-kali? Kenaa mental anak-anakk gimanaa?" Tanya Zia.


"Kita pantau teruss, jangan sampe kecolongan lagii. Dah ya, gak boleh su'udzon. Masih mending Asya punya temen cewekk, kalau temennya terus-terusan cowok semua gimanaa?"


"Sekarang pandangan masyarakat liat cewek di tengah cowok udah pasti dijelek-jelekin. Agak lebih mending kalau ada beberapa temen cewek yang lainn."


"Iyaa siihh, kamu benerr."


"Btw kamu mau kemanaa? Emang mau ke kantor aku?" Zia menggeleng.


"Aku mau pergi sama Tania, bolehh?"


Aska mengangguk, "kalau ada apa-apa kabarin."


"Iya siapp. Aku cuma mau pamit doangg, awass! Udah di tungguuinn." Aska memanyunkan bibir, Zia mengecupnya sekilas. Aska pun melepaskan pelukan.


"Hati-hati, yaa. Jangan lupa bawa bodyguard!" Zia mengangguk lalu pergi.


Tok tok..


Rafael datang.


"Persiapannya udah cukupp, sini kesana sepuluh menit. Tu orang sampenya sekitar lima belas menit lagi."


"Yaudah, yok gass!" Aska memakai jas hitamnya lalu pergi diikutin Rafael.


Aska mengendarai mobil hitamnya yang di supir Rafael, Rafael membawa mobil Aska dalam keadaan super laju.


"Ntar lu di dalem ruangannya juga, yaa!"


"Sanss ajaa, mana bisa gue ninggalin lu sendirian disana." Aska tersenyum mendengarnya.


"Zia ngapain tadi? Dia tau nggak?"


"Izinnn mainn. Mana tau diaa, ntar malem bakal gue kasih tau." Rafael berohria.


Sembilan menit kemudian mereka tiba. Rafael langsung mengganti bajunya dan membawa Aska ke dalam.


Beberapa menit setelahnya, pemilik perusahaan itu tiba. Dengan gaya super songong, ia masuk ke ruangannya.


"Heloo, tuan Darren."


"T-tuan Askaa?"


Yaa! Aska berada di kandang lawan.


"Anda.... anda kenapa bisa disinii? Bukannya anda menjunjung tinggi kesopanan? Sopankah masuk tanpa izin?" Aska yang sedang rebahan di sofa tersenyum smirk.


"Anda juga tidak sopan memasukkan bodyguard asing. Udah saya bilang, bukan? Saya memperlakukan manusia sebagai mana manusia memperlakukan saya." Darren terdiam, dengan santainya ia menuju ke kursi kebanggaan.


"Mau manggil security? Udah saya putus kabelnya." Darren terkejut, ia menuju pintu untuk keluar ruangan.


"Pintunya juga udah saya kuncii."


Darren sedikit panik, "hah... mau apa bos besar datang kemari?"


"Emm.. i wanna kill you."


Darren tertawa remeh.


Aska bangkit dari rebahannya, dengan gerakan tiba-tiba Darren menodongkan pistol.


Disaat yang bersamaan, banyak laser merah mengenai tubuh Darren.


"Satu peluru anda tembakkan ke saya, banyak tembakan mengenai tubuh anda. Kalau gak sayang nyawa, silahkan tembak sayaa." Kata Aska sambil memakan cemilan yang dibawanya sendiri.


Darren menurunkan pistolnya, "anda mau apaa?!"


"Negosiasi.. nyawa?" Darren terdiam.


"Masalah kita antar kita, tuan Darren. Kenapa anda melibatkan keluarga sayaa?"


"Aahhh, karena kucing ya? Berarti kucing nyasar itu tepat sasaran."


Aska mengsmirk, "tepat sasaran sama seperti tembakan dari tujuh senapan."


Aska mengeluarkan pistol dari sakunya, ia mendekati Darren. Kemudian menodongkan pistolnya.


"Ini peringatan pertama dan terakhir. Jangan pernah ganggu keluarga saya lagi! Jika anda masih berulah.. akan banyak peluru bersarang ditubuh anda." Darren hanya diam, ia sedikit shock.


Melihat musuh ciut, Aska berjalan menuju pintu.


"Oiyaaa.." Tiba-tiba ia berbalik.


Dorr!

__ADS_1


Tembakan mengenai lengan Darren.


"Pembalasan dari kucing."


__ADS_2