
"Siapa traktir sarapaann?" tanya Haikal setelah keluar dari mobil.
"Bapak Cakaa yetehaa" jawab Asya sambil menunjuk Shaka.
"Alhamdulillah bukann guee" mereka tertawa melihat Azril.
"Udah kuyy, gue laperrr"
Secara bersamaan, mereka ber-delapan masuk ke dalam lapak pedagang kaki lima untuk sarapan pagi.
"Lu pada beli apaa?" tanya Racksa.
"Em.. gue mau nasgorr" jawab Asya.
"Gue jugaa" sahut Arsen dan Azril bersamaan.
"Empat nasgorr"
"Gue pengen baksooo" ujar Alvin.
"Guee... gue mie ajaa, mie goreng" lanjut Dino.
"Mie teruss otak luu" protes Shaka, Dino cengengesan.
"Asya, Arsen, Azril, Shaka nasgor. Alvin bakso di sebelah, Dino mie goreng. Lu apa, call?" tanya Racksa lagi.
"Em.. gue mau bubur ayamm"
"Okeee, sya pesen sono. Lima nasgor, satu bakso, satu mie goreng, satunya bubur ayam"
"Lahh guaaaa?" Racksa mengangguk.
"Anjjj, gue kiraaa luu yang mau meseeenn" protes Asya kesal.
"Yang bilang gue mau pesenin siapa?" tanya Racksa dengan muka tanpa rasa bersalah.
"Istighfar Asya istighfar..." Asya menuju para pedagang dan memesan seluruh makanan.
"Ehhh syaa, bakso tanpa miee!!" Asya mengangkat jempolnya. Setelah memesan ia kembali, "gue pesen minumnya teh angett."
"Gak masalahhh, udah pass itu" jawab Haikal.
"Btw lu gapapa kan, sen? Makan di tempat kek ginii?" tanya Shaka pada Arsen.
"Gapapa lahh, santai aja. Makan dimana aja gue bisa" jawab Arsen sambil tersenyum.
"Makan sambil kayang pun bisa dia kurasa," sahut Haikal.
"Itu mah lu anjirrr, makan sambil kayang" balas Azril.
"That is true," mereka terkekeh.
"Si Arsen keliatan canggung deh, emang gitu apa gimana?" tanya Alvin.
"Hm??" Asya menoleh ke Arsen.
"Jaim doangg dia mahh, biasanya juga gak warass"
"Istighfar kamu, nak! Cepat sebelum terlambatttt" Asya cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
"Lu bedua semeja? Di kelass?" tanya Shaka.
"Asya sama Racksa, gue semeja sama temen gue" jawab Arsen, Shaka berohria.
"Oiyaa, ini kita kagak izin??"
"Ngapain izin?" tanya Azril balik.
"Terus bolos aja gitu??"
"Yaiyaalahh, kalau izin jadinya bohonggg" jawab Asya.
"Bohong darimanaaanya, buk??"
"Kalau bilangnya sakit kan bohong"
"Jawab aja urusan keluarga" ujar Dino.
"Emang lu udah berkeluarga?" tanya Arsen.
"Eh iyayaa, yaudah gak usah izin"
Perbincangan mereka terhenti ketika makanan yang di pesan tiba.
"Emm, liatnya aja gue laper" gumam Asya.
"Syaa, siniin kuning telur luu" pinta Azril. Asya memotong telur itu lalu memberikan kuning nya pada Azril. Azril memberikan Asya putih telur miliknya.
"Tukeran again"
"Hehe, tau sendirii gue eneg makan kuning telur" jawab Asya, mereka mulai menikmati makanan.
"Dinn, kagak bisa pake sumpit pake garpu aja deh buru. Gue yang emosii liatnyaa" protes Haikal.
"Diemm dulu, gue tu lagi berusahaaa" Dino masih mencoba memakan mie-nya dengan sumpit.
Ting..
Ting..
"Lama lama gue buang juga ni bakso" ujar Alvin menahan amarah, ia berusaha membelah bakso hanya menggunakan sendok.
Ting..
"Pakeee garpuuu samsudinnn, dari tadi ribet amaatt" Alvin pura-pura tidak mendengarnya.
Ting..
Ting..
"Swiss ada bakso gasiii?" tanya Azril kesal.
"Ada maybe, ga tau, ga pernah makaaann bakso Swiss" jawab Alvin masih berkonsentrasi dengan baksonya.
__ADS_1
Ting..
Ting..
Mereka menoleh Alvin dan Dino yang masih berusaha makan dengan cara mereka.
"Gue ramall, bentar lagi tu bakso sama mie tumpah" kata Racksa.
"Kita udah abisss ntar, mereka berdua belum makann" ujar Arsen.
"Tinggal aja, gak usah peduliin" balas Haikal.
"Ssttt, diemm napa. Ganggu konsentrasi" omel Dino.
"Aaa auahh, kesell sendiriii gueee jadinyaa!"
❀❀
09.01
"Uwwwaahh, ini luar biasaa! Beneran basecamp jeell??" tanya Alvin antusias.
Azril dan Haikal berdehem.
"Seriuss?? Kapan buatnya??" tanya Arsen.
"Ini tu basecamp warisann gengnya om Aska, om Dimas sama bokap gue" jawab Haikal.
"Pantesannn gue baru tauu, bokap gue kagak masuk gengg" ujar Shaka.
"Belum terlalu akrab maybee, om Jimmy sama om Sam kan cenderung kalem"
"Kalem matamuuuu, sejak kapan bapakk gue kalem" protes Alvin, Asya tertawa.
"Sebenernya gue juga kalem, tapi karena ketemu kaliann jadinya gini" kata Dino santai.
"Lu yang nularin virus gila yee, gob!" Dino cengengesan.
"Dahhh yok masukkk" Haikal memimpin jalan, ia tau dimana letak kunci basecamp Triple Badboy yang sekarang menjadi basecamp Jidat Lebar Squad.
"Uwwwahhh.. gue rasanya gak mau balik ke Paris setelah liat ini!"
"Gue juga ka, gue gak pengen lagi balik ke Swiss"
"Peakk sii, salah siapa pengen kesana" cibir Asya.
"Nyak babe gue disono goblokss" balas Alvin sinis.
"Lengkappp bangett ini weii" puji Shaka antusias.
"Kurang dapur doangg"
"Aaaahh.." Alvin merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Ada banyak dvd, nonton disini bisa berartii" ujar Haikal.
"Coba cari, ada plus plus gak?" tanya Racksa.
"Plus plus maksud gue ituu bukan gitu-gituuu, tapi..."
"Tapi apaa?"
"Plus-pluss matematika, penjumlahan" jawab Racksa santai.
"Ngelesss banget anjjirrr" mereka tertawa kecil, yang di tertawakan malah pura-pura tidak mendengar.
"Lu pada mau disini ajaa kah??" tanya Haikal.
"Lah lu mo kemana??" tanya Arsen gantian.
"Belakang, ada air terjun"
"Iwawww, ayooo kesono!" Mereka sama sama keluar menuju air terjun yang ada di belakang basecamp.
Mereka menikmati air terjun bersama.
"Suasanaa nya nikmat banget" gumam Asya.
"Tapi disini dingin" Arsen memberikan jaket yang ada di bahunya pada Asya.
"Emangg lumayan dingin.. lu ngasih jaket ke gue tapi lu sendiri cuma pake kaos putih doang. Ntar lu kedinginan"
"Gak masalahhh, yang penting lu nya gak kedinginan" jawab Arsen sambil tersenyum menatap Asya.
"Modusss"
"Woii yang beduaan, plislaaa kami semua jombloo!!" teriak Dino.
"Gak perduliii guaaa" balas Arsen sedikit terkekeh.
"Yeee kagak ada akhlakk lu mahh!!"
▪▪
"Pantai pantaiiii" gumam Asya kegirangan. Mereka keluar dari basecamp pukul tiga kurang sepuluh menit.
Asya langsung mengganti kostum dengan kaos ketika tau mereka ingin menuju pantai.
"Villa bokap gue deket pantai, disitu aja ya biar gak muter-muter" usul Dino.
"Yang penting ke pantaiii, ayoo!!" Asya masuk ke mobil dengan penuh semangat. Yang lain pun ikut masuk ke mobil.
Dino yang jadi supir mereka melajukan mobilnya menuju pantai. Suasana hening? Oh ya jelas tidak.
Selama ada Asya tidak pernah ada keheningan kecuali Asya nya lagi tidur. Di dalam mobil Asya konser sambil teriak-teriak, Alvin juga ikut bernyanyi.
Bedanya, suara Alvin bagus sedangkan suara Asya bisa memecahkan gendang telinga.
"Tersolimi saya"
"Wkwk.. ehh, ituu ada bakso bakar. Mauu kagakk?" tanya Alvin.
"Mau mau mau" Dino membelokkan mobilnya menuju tukang bakso bakar.
__ADS_1
"Bakso bakarnya lima puluh ribu jadikan dua mbak" ujar Arsen memesan.
"Padahal gue yang mau mesenn, tapi apa gak kebanyakan sen?" tanya Alvin.
"Yang di belakang sekalian, biar gue aja yang bayar" Arsen keluar dari mobil, ia menunggu pesanan sendirian. Asya pun menyusulnya keluar.
"Cowok.. sendiri aja niich. Akuh boleh temenin kamuh nggach" Arsen tertawa.
"Ngapa jadi gituu ngomongnya munaroh?!"
"Nggak tauu" jawab Asya cengengesan. Asya melihat sekeliling, ternyata ramai.
"Salah sendiri keluar, sini" Asya menatap heran Arsen.
"Gue pangku"
"Nggak usahh, gue berdiri aja gapapa" Arsen pun menarik Asya. Asya terjatuh di pangkuan Arsen.
Tau apa yang Asya rasakan sekarang??
Jantungnya yang berdetak kencang tidak karuan. Oemjiii, Asya benar-benar deg-degan!!
"Mas, ini bakso nya" Arsen mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribu lalu membayarkannya.
"Makasih mas" Arsen mengangguk.
"Mau duduk di sini sampe kapan?" bisik Arsen, Asya tersadar ia langsung berdiri dan masuk ke mobil.
Arsen tersenyum manis melihat ekspresi Asya, sebelum masuk mobil ia menuju mobil belakang.
"Nahhh, bakso"
"Thank you broo!"
❀❀
Sekitar pukul lima kurang mereka tiba di pantai. Asya langsung keluar dari mobil setelah melihat pantai di depan matanya.
"Uwah.. i like it" gumam Asya sumringah.
"Langsung yaa sumringahhh" cibir Shaka, Asya cengengesan.
Setelah mereka--kecuali Asya--mengganti baju dengan kaos, mereka berjalan bersama menuju pantai itu.
"Syaa"
Asya menoleh ke Azril, Azril langsung menyirami Asya air.
"Kampreettt" Azril tertawa, "rasakan pembalasann guee!!" mereka berdua saling bermain air satu sama lain.
Asya bahkan di serang oleh Dino, Azril dan Racksa. Hanya Haikal yang berada di pihaknya. Arsen, Alvin dan Shaka hanya diam di pinggiran melihat mereka.
"Sebahagia itu si Asya" gumam Alvin.
"Cara buat dia bahagia itu sederhana" sahut Shaka.
"Gue kasih bocoran sama lu, sen. Asya ituu pecinta pantai. Dia teramat sangat suka sama pantai"
"Benerr bangett. Dulu pas kami masih kecil, setiap wekeend pasti ke pantai demi nyenengin itu anak. Bukan dia doang sih, tapi kami semua" sahut Alvin.
"Woiii, lu betiga kagak mau ikutt?" tanya Asya yang kini sudah basah.
"Kagakk, lu aja dehh. Gue lagi alergi air" jawab Alvin.
"Alergi airr la kononnnn" Asya menyiram nya gantian. Mereka bersamaan menyerang Alvin.
"Waahhh parahh waahhh" Alvin pun gantian menyirami Asya dan yang lain.
"Lu liat, dia happy bangett kalau di pantai. Besok-besok sen, kalau seandainya lu beneran jadi suami dia ajakin aja ke pantai kalau lagi marahan. Pasti auto gembira" Arsen membalas dengan senyuman.
"Oh iya, lu serius kan sama dia? Maksud gue.. bukan cuma jadiin dia korban atau pelampiasan?"
Arsen menggeleng, "bukan. Dia bener bener calon ibu nya anak anak gue"
"Hahaha, sa ae. Gue yakin lu pernah mikir kalau gue, Alvin, Haikal atau Dino itu suka sama Asya."
"Em.. pernahh sih, bahkan kalau boleh jujur semalam gue ngerasa insecure karena liat lu bedua jauh lebih ganteng daripada gue."
"Gue jadi mikir gituu, lu pada lebih ganteng, punya ortu lengkap so pasti Asya bisa lebih bahagia dong dan bagi gue gak ada alesan gitu Asya gak suka sama salah satu diantara kalian"
Shaka tertawa kecil, "kalau lu mikir gitu sih salah. Asya gak pernah suka sama gue ataupun yang lain sebagai pria dan gue sama yang lain juga gak pernah suka sama Asya sebagai wanita"
"Mungkin banyak yang gak percaya, tapi bener kenyataannya kalau kami pure temenan doang atau bisa di bilang kami itu saudaraan. Semacam abang beradek?"
"Gak pernah ada yang mikir kalau mau pacaran sama Asya, karena bakal canggung kalau itu terjadi dan yang ada ngerusak pertemanan"
"True sih, kalau pacaran terus putus bisa aja canggung terus berubah jadi orang yang gak pernah kenal" ujar Arsen.
"Ternyata lu berpikiran cukup dewasa yaa"
Shaka tersenyum, "berpikiran dewasa itu gue. Yang ngomongnya pedes Alvin, yang boyfriend-able Haikal, yang goblokkk gak karuan itu Dino, yang ngegame akut Azril, kalau yang di jagain kayak ratu ya jelas Asya"
"Racksa??"
"Gue baru kenal Racksa, dia kecil di Amerika" Arsen mengangguk paham.
"Syaa, lu liatin apaann?" tanya Shaka berteriak.
"Nohhh, anak kecil lari sama anjinggnyaa. Besokk gue mauu bawa singaaa biar bisa lari-larian barenggg" teriak Asya.
"Kenapa gak yang lebih ekstrim gitu buk? Anaconda misalnya?!" tanya Alvin sinis, bukannya menjawab Asya malah cengengesan.
Ia jongkok bermain pasir, membuat bola tiruan lalu melemparnya ke arah Alvin dan Azril.
"Alhamdulillah.. headshott" pekik Asya kegirangan.
Yang di lempar menatap sinis Asya, "pin.."
"Hmm! Ayo serbuuu" Mereka berdua berlari mengejar Asya yang sudah lari duluan.
"Ketawa nya si Asya kek nular banget gasii" Arsen mengangguk sambil tertawa kecil, "mood banget ketawa nya dia"
"Heem, gue harap kagak ada orang yang ngilangin senyum dan ketawa nya dia. Kalaupun di masa depan ada yang ngilangin ituu, gue pastiin hidupnya gak bakal bahagia."
__ADS_1