
Cessa tak berani memberontak dan hanya menerimannya.
"Aku kira kamu pergi... Kamu kok gak bilang kalau mau mandi, aku punya handuk." Stev melihat tubuh Cessa basah semua.
"Kamu gak ada di sini tadi..." Cessa menjawab seadanya saja.
"Oh ya ampun, kamu basah semua sini ganti baju kamu.." Stev mengiring Cessa ke lemari dan mencari baju hangat dan cocok di pakai Cessa.
"Ini.." Stev memberikan satu kemejanya, dan juga, satu jas baru dan kering untuk Cessa.
"Pakai ya.. Dan setelah itu kita makan. Hari ini ada pekerjaan penting untuk kamu.." Stev mengambil lagi piring yang ia letakan sembarangan tadi.
"Pekerjaan?" Pikiran Cessa sudah buruk mendengarnya.
"Bukan kayak yang kamu pikirkan. Semalam aku mendapat kabar dari anak buah aku, kalau Zino dan Karen memungkinkan besar akan meyerang hari ini. Kamu harus bersiap siap.. Aku perlu sedikit bantuan kamu.." Stev meletakan piring itu di nakas dan menunggu Cessa menganti bajunya.
"Mereka datang menyerang..?!" Gumam Cessa dari tempat berganti pakaian.
"Zino.. Karen..." Rasa sedih yang Cessa rasa ketika mengingat kedua laki laki yang sangat mencintainya itu.
"Heiii kamu kok lama banget.. Mau aku bantu kah?" Stev sudah tak sabar menunggu Cessa karna ia menunggu Cessa untuk makan bersama.
"I.. Iya bentar.." Cessa dengan segera mengenakan baju yang Stev berikan tadi.
Tak lama kemudian barulah Cesaa keluar dari tempat ganti. Ia segera menuju Stev yang sudah menunggunya, dengan malu malu pula. Baju yang Stev berikan terlalu pendek di kenakan Cessa. Bagian pahanya terlalu terbuka, Cessa juga tak nyaman karna ia tidak mengenakan dalaman pula.
Tapi demi tak di ganggu oleh Stev maka Cessa menurutinya saja dan tak membantah apalagi meminta lebih dari Stev.
"Ayo makan..." Ajak Stev dengan lembut. Baru kali ini ia bersikap lembut.
__ADS_1
"Kamu nanti di bawa anak buah aku ya, gak usah banyak melawan maka kamu akan baik baik aja." Stev berbicara di sela makannya.
"Apa Zino dan Karen akan menemuimu..?" duga Cessa, sehingga Stev harus menyembunyikannya dulu.
"Ya.. Tapi bukan pertemuan seperti kawan lama, tapi sebagai musuh lama. Kami hanya akan bermain lempar lemparan granat, tembak tembakan.. Ya permainan laki laki..." ucap Stev sombong sudah seperti pemenang.
"Tembak tembakan..?" Ulang Cessa.
Stev hanya mengangguk. Lalu keduanya melanjutkan sarapannya. Sarapan kali ini lebih enak dari hari sebelumnya.
"Ini minummu.." Stev memberikan jus jeruk pada Cessa.
"Terimakasih.." Cessa menerimanya dan meminumnya.
"Kalau kamu patuh kamu makin cantik.." Stev tak henti memandang Cessa yang sedang minum jusnya.
Hampir saja Cessa tersedak karna ucapan Stev itu. "Apa..?" Cessa menatap Stev balik.
"Tunggu.. Tembak tembakan...? Maksudnya..?" Itu yang perlu Cessa pastikan.
"Mau tahu..?" Stev menaruk lagi piring kotornya dan berjalan ke nakasnya.
"Ini.. "Stev memperlihatkan Pistol Smith and Wesson model 29 Revolver,. 44 magnum.
Cessa beku di tempat melihat barang itu. "Apa kamu suka..?" Stev memutar mutar pistolnya.
"Jangan gitu aku takut..." Cessa menutup telinganya.
"Takut apa sayang... Coba pegang.." Stev memberikan pistol itu pada Cessa.
__ADS_1
"Heehhh eehh.." Cessa makin takut.
"Ssstttt.. Gak usah berisik." Stev menempelkan jari telunjuknya di bibir Cessa. Stev juga menaikan Cessa ke atas pangkuannya.
"Ini namannya Pistol Smith and Wesson model 29 Revolver,. 44 magnum. Pistol ysng paling mematikan, aku suka pistol yang ini. Aku juga baru coba ini, jadi tangan aku ini masih belum terbiasa..." Jelas Stev.
"Jadi??" Cessa masih ingin lebih tahu banyak.
"Aku akan singkirkan yang menghalangai aku untuk sama kamu.. Kalau mereka masih berkeliaran kayak sekarang, cepat atau lambat, kamu pasti di renggut mereka, aku gak maulah.. Kalau aku membasmi mereka, lancar semua keingiban aku.." Cessa membulatkan matanya mendengar ucapan Stev.
"Kenapa..? Kamu gak mau ikut rencana aku.." Stev mengambil lagi pistolnya dari tangan Cessa dan memainkannya.
"Gak gak.." Cessa mengeleng dengan cepat.
"Aku harap begitu seterusnya.." Stev bangkit lagi.
"Tunggu.." Stev berbalik lagi menatap Cessa.
"Apa lagi..?" Stev memegang pinggangnya dengan satu tangan.
"Aku mau turuti semua yang kamu mau, tapi jangan sakiti Zino sama Karen.." Cessa memberanikan diri untuk bangkit dan berbicara pada Stev.
"Oohh lalu....?" Stev tertarik mendengarnya.
"Jangan sakiti Zino dan Karen. Mereka gak salah apa apa, mereka juga baru ketemu, kasian mereka baru jadi kakak adik. Biar mereka pergi ya.. Maka aku akan tetap di sini. Bersama kamu... Kamu.." Ini pilihan Cessa ia ingin melindungi Zino dan Karen. Ia tak ingin Zino dan Karen terluka karna hanya ingin menyelamatkannya. Cessa tidak ingin itu terjadi.
"Oohhh ya.. Apa kamu siap aku sentuh lagi...? Apa kamu siap jika kamu hamil anakku, apa kamu siap jadi istriku, aku seorang Mafia? Aku bermain main sama wanita lain apa kamu gak apa apa, siap..?" Stev benar benar tertarik akan tawaran Cessa.
"Ya aku siap.." Cessa menjawabnya dengan sangat lantang.
__ADS_1
"Oke.." Stev menaruh piring kotor itu