
Karen memajukan wajah sontak Cessa memundurkan wajahnya juga. Tangan yang tadinya di bibir Cessa kini berpindah ke tengkuk Cessa dengan cepat dan menarik tengkuk Cessa dan Karen langsung saja mencium rakus bibir Cessa.
Karen melepaskan pengutannya dan manatap Cessa begitu pula dengan Cessa. "Seperti lagu itu, aku akan daki semua gunung dan menyelam semua lautan untuk kamu seorang.." Karen mengecup lagi bibir Cessa sekilas dan memasukan Cessa dalam dekapannya.
"Ka.. Karen.. Ba.. Bagaimana dengan anak bayi yang kemarin?" Cessa berusah mengalihkan pembicaraan dan mencari topik lain. Karna Cessa benar benar canggung dalam posisi seperti ini.
"Bayi?" Karen melepas peluknya dan menatap Cessa seperti sedang mengingat ingat.
"Iya.. Bayi yang katanya anakmu itu.." Terang Cessa lagi.
"Oohh.. Ya.. Mereka sudah melakukan tes pencocokan DNA aku dan bayi itu. Setelah itu barulah Kita tahu apakah itu anakku atau bukan." Ucap Karen sambil mengelus elus tangan Cessa.
"Oohh... Lalu.. Yang satunya lagi belum tahu kapan melahirkannya?" Tanya Cessa lagi.
"Em.. Entah, katanya kemarin masih tujuh bulan, berarti masih beberapa bulan aja lagi kok. Sabar ya.." Karen mengelus puncak kepala Cessa dan membuat rambut Cessa berantakan.
"Cih.. Kenapa bdaku yang harus sabar" Cessa memperbaiki rambutnya dengan tangannya sendiri.
"Karna aku lihat sepertinya kamu sudah tak sabar memiliki anak.. Maukah?" Mata Karen berbinar penuh arti.
"Iihh.. Bukannya gitu.. Kamu.. Ck.. ah.." Cessa melipat tangannya di dadanya.
"Lohhh salahkah? Tapi yang aku lihat begitu kok..." Ucap Karen meneliti wajah Cessa.
Wajah Cessa merona entah kenapa Cessa pun tak tahu. "Karen..." Cessa bingung harus menganti topik dengan apa lagi. Semakin Cessa bingung semakin Karen mendekati Cessa.
"Apa kabar yang buat kamu sampai gak mau aku bawa makan tadi, kamu sudah janji mau cerita sama aku, gak akan ada lagi yang bakal kamu sembunyikan dari aku." Akhirnya Cessa mendapat topik baru.
Karen tersenyum lucu melihat Cessa yang sangat imut jika sedang bingung mencari topik pembicaraan mereka, apa Karen terlalu mengintimidasi Cessa.
__ADS_1
"Baiklah. Itu tadi tentang Zino. Seperti yang aku bilang kemarin, Stev Paul juga mengincar aku dan Zino. Tapi yang buat aku pusing sekarang adalah Zino. Dia pergi ke Amerika dan anak buahku tidak dapat menemukan jejak Zino dan sekarang Aku tidk Tahu di mana Zino berada. Yang aku takutkan Stev lebih dahulu menemukan Zino, dan aku takutnya Stev akan melukai Zino di sana." Karen mengungkapkan kegelisahannya.
"Bukankah Zino juga memiliki penjagaan ketat dari anak buahnya. Dan Zini juga pasti tahukan kalau ada bahaya lain yang mengikutinya selain kamu...." Ucap Cessa ada benarnya.
"Heh.. Aku gak berbahaya ya buat Zino, aku juga mau lindungi Zino dari Stev." Ralat realita Karen.
"Iya itu menurutmu, tapi menurut Zino pasti kamu dan Stev itu sama sama musuhnya." Karen hanya terdiam.
"Kamu benar juga Cessa. Mungin sebaiknya segera aku harus mengakhiri petak umpet ini. Dengan begitu Zino tak perlu pergi jauh" Ucap Karen merenungi ucapan Cessa.
"Memangnya untuk apa Zino ke Amerika?" Cessa masih sedikit bingung dan butuh penjelasan lebih.
"Zino ke Amerika untuk menculik adikku Lilen." Cessa sangat terkejut dengan ucapan Karen.
"Tapi apa Zino tidak akan menyakiti Lilen kan?" Tanya Cessa khawatir.
"Itu aku juga gak tahu, tergantung Zinonya." Ucap Karen dan Cessa berdecih.
"Cessa... Kita berangkat ke Amerika sekarang.." Karen mengenggam tangan Cessa dan mengerti ketakutan Cessa tak ada salahnya dan Karen juga takut hal itu akan terjadi.
Cessa menganggukan kepalannya dan Karen menghubungi Lorent untuk menyiapkan tiketnya dan tiket untuk Cessa. Mereka berdua akan lepas landas sore nanti.
***
Jake dan Zino berada di ruang perkumpulannya di rumah yang Zino sewa. Zino mendapat kabar Karen akan segera tiba di Amerika malam nanti mengutip dari informasi dari agen agen dalam Zino.
"Jake.. Kita percepat rencana. Siang ini atar pertemuanku dengan Lilen. Kita selesaikan hari ini juga kalau bisa sebelum Karen tiba." Titah Zino yang langsung di iya kan Jake. Karna keadaannya semakin genting maka mau tak mau menggunakan cara cepat.
"Tapi sebelum itu Jake putuskan dulu sambungan Lilen dan Karen. Agar Karen tidak dapat menghubungi Lilen 24 jam ke depan." Jake dengan gawainya berkerja dan mengirim sinyal yang dapat memutuskan sambungan Karen dan Lilen, sambungan ini akan membuat Lilen tidak dapat menghubungi Karen dalam kurun waktu 24 jam, Jika Lilen menghubingi Karen maka di telpon Lilen akan mengatakan nomer ponsel Karen tidak dapat di hubungi. Dan begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
Zino terpaksa melakukannya karna pasti Karen akan menghubungi Lilen sebelum Zino mendapatkan Lilen sebagai tawanannya.
***
Hari ini Lilen seperti biasa akan bersiap siap di salah satu rumah sakit tempatnya berpartisipasi menangani pasien pasien yang berbagai macam penyakitnya. Dengan hatinya yang penuh kesabaran dan ikhlas membantu sasamanya Lilen sering di puji karna hasil kerjanya yang memuaskan.
Tit.. tit.
Ponsel Lilen berbunyui, Lilen melihatnya ternyata ada satu pesan masuk tapi nomer yang tak Lilen kenal mengatkana 'Hai'. Lilen tak menghiraukannya dan tetap berangkat ke rumah sakitnya.
Saat sampai di rumah sakitnya masuk lagi satu pesan. 'Ini Aku Zino.. Apa kamu sibuk?' Wajah Lilen langsung sumringah menbaca pesan dari Zino itu.
'Tidak juga aku baru saja tiba di rumah sakit tempat aku magang.. Kenapa? Apa ada masalah?' Pesan balasan Lilen pada Pesan Zino.
'Ooohh tidak ada kok... Aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti. Apa boleh?" tanya Zino dari pesan itu. Lilen tersenyum bahagia membacanya.
'Iya bisa kok.. Bisa.. Dimana?'
'Nanti aku kirimkan lokasinya.. Baiklah seharusnya aku tidak mengganggu jam magangmu. Sampai jumpa makan siang nanti Nona Lilen.' Pesan di akhiri janji Zino dan Lilen.
"Dapat kau Lilen..." ucap Zino ketika mengirimkan pesannya itu.
"Tuan yang saya lihat nona Lilen benar benar menyukai anda, bagaimana nanti jika.." Zino menatap Jake dengan tajam.
"Aku tidak akan gegabah Jake, di hatiki hanya ada Cessaku seorang. Lagi pula kita akan membiusnya saja nanti." Inilah rencana Zino. Saat makan siang Zino akan membius Lilen dengan makanan dan minuman di depannya. Mungkin Lilen tidak akan percaya makanan itu memiliki bius. Dan jika Lilen curiga maka Zino akan memakan makanan yang ada biusnya itu, dan setelah itu Lilen juga akan memakannya tapi tentunya Zino memiliki Penawarnya. Jadi Zino bisa tetap sadar.
Off dulu kawan..
Next bab : Zino membuka baju yang di kenakan Lilen, awalnya ini hanya rencana untuk mengecoh Karen tapi Zino malah tergoda dengan keindahan tubuh Lilen di depannya. Dan...
__ADS_1
Sementara itu Karen dan Cessa mendapat laporan kalau Zino dan Lilen sedang berada di dalam satu kamar di salah satu hotel dan di tambah lagi bunyi bunyian dari dalam kamar hotel Zino meyakinkan Zino dan Lilen sedang melakukannya. Karen yang emosi pun melampiaskannya pada Cessa dengan hal yang sama Zino lakukan pada Lilen di dalam kamar tersebut. Cessa tidak dapat menolaknya karna yang ia lihat Karen benar benar emosi dan Cessa hanya bisa pasrah dengan keadaannya.
Aw.. aw.. sabar ya.. Nanti malam lanjut..