Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 88


__ADS_3

"Oh tidak lagi..."


"Selamat datang nona.. Senang bisa bertemu lagi.." Stev tersenyum misterius di depan Cessa.


"Ka.. Kamu.. Aku di mana..?" Mungkin pertanyaan itu tidak akan di jawab Stev tapi hanya itu yang bisa Cessa katakan.


***


"Bagaiaman bisa...?" Karen berdiri dan tanpa mengunggu lama ia berlari menuju kamar Cessa.


Zino dan yang lainnya juga mengikuti Karen. Dan benar saja yang di kataka penjaga itu. Tidak ada Cessa di kamarnya, penjaga yang harusnya berjaga di depan kamar Cessa juga akhirnya di temukan sudah di bunuh dan di buang ke danau yang ada di sekitaran rumah itu. Bahkan bukan hanya penjaga yang ada di depan kamar Cessa, ada beberapa penjaga lainnya yang juga terbunuh dan di buang ke danau itu.


"Ini sudah menjadi kebiasan grup hiu putih. Musuhnya akan di buang ke dalam air.." Ucap Zino melihat darah yang memerah dan mayat mayat yang terapung di permukaan air.


Karen tak mengatakan apa pun tapi matanya memerah dan tangannya mengenggam kuat.


"Pasti di dalam tim kita ada penghianatnya... Penjagaan ketat tapi mereka masih bisa masuk bahkan membunuh. Cari orang itu... Dan sisanya bersiap. Kita akan berangkat..." Karen memberi intruksi dan sebisa mungkin tetap tenang.


***


"Aku mohon bebaskan aku.." Pinta Cessa.


"Aku tak sebaik Karen atau pun Zino. Yang mudah kamu rayu atau pun bujuk aku akam melakukan apa yang aku anggap benar..." Stev mengambil pisau catter yang ada di atas nakasnya.


Cessa mulai panik melihat Stev membawa pisau itu menuju dirinya. Mau apa laki laki misterius ini.


"Aku ingin bersenang senang dulu... Dan aku perlu kamu untuk bersenang senang.." Cessa membulatkan matanya.


Krekkkk... Krekkk.. Kreekk..


Stev memotong tali pengikat Cessa dari kursi itu dan hanya menyisakan tali yang mengikat tangan dan kaki Cessa. Kali ini benar benar penyekapan dan tidak ada lagi kelembutan di dalamnya.


Mata coklat itu terus memandangi Cessa dengan seramnya. Seolah dari sorot mata saja kita bisa melihat orang itu benar benar menakutkan.


***


"Tuan kami menemukan penghianat anda.." Anak buah Karen memberi kabar dalam waktu 1 jam ini.


"Bawa ke sini..!" Titahnya dengan wajah yang sudah tak bersahabat.


"Aaaahwww.." Ringis Lilen di dorong hingga jatuh oleh anak buah Karen.


"Ini dia tuan. Dan ini buktinya..." Mereka memberikan Smartwach hitam pada Karen.

__ADS_1


"Oo'hhoo.. Begitu.. Hebat dik..." Sindir Karen.


Karen menggulung lengan bajunya yang kiri dan yang kanan, meregangkan urat di lehernya dangan menghentaknya ke kiri dan kanan.


"Kak aku bisa jelaskan.. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku kak.." Pinta Lilen mundur dengan mengesot ngesot di lantai.


Zino juga ada di tempat itu tapi ia juga tak berniat membantu Lilen. Lilen terus memohon pada Karen tapi sayangnya Karen tak menghiraukannya dan tangannya yang berbicara.


"Beraninya kamu menghianati kakakmu ini.. Apa salah Cessa padamu Lilen..?" Setelah beberapa pukulan di daratkan tepat di wajah Lilen Karen berhenti dan bertanya.


"Aku.. Aku.. Gak berniat.. Tapi Aku gak bisa berbuat apa apa.." Ucapan itu semakin membuat Karen marah saja.


"Jangan berbelit belit atau aku yang belit kamu di leher..." Karen berteriak.


"Aku benar benar gak bisa... Aku sudab berusaha tapi gak bisa..."


Flashback on


Cessa berjalan ke kamar Lilen dengan segara. Lilen membuka kamarnya sebelum Cessa sampai di depan pintu kamarnya. Dengan ketakutan juga Lilen menghampiri Cessa.


"Aku harus melakukannya... Kak Karen dan Zino bisa menghadapinya, kalau aku menolak maka bisa bisa Cessa.." Ini keputusan Lilen.


"Lilen kamu... Ahk.." Seseorang menutup mata Cessa dan Lilen langsung menyuntikan obat agar Cessa tak sadarkan diri.


"Sesuai perjanjian.. Matikan...!" Ucap Lilen dengan gemetar.


Laki laki itu menaikan alisnya. Lalu menyungging senyum, ia mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Lilen.


"Matikan sendiri.." Laki laki itu berlalu dan membawa Cessa bersamanya.


"Astaga waktunya sebentar lagi.." Dengan terburu buru Lilen mencari tahu cara mematikan benda yang ada di dalam tubuhnya.


Dengan susah payah benda itu mati dan tidak akan menyebabkan ledakan.


Flashback lebih jauh...


Semua ini berawal dari kedatangan awal Stev ke rumah ini. Ia tak sengaja bertemu dengan Lilen yang di sembunyikan Jake di garasi. Dari situ Stev mendapat ide dan langsung saja menangkap Lilen.


"Lepaskan aku.. Eeeemmm ah aha.. Apa itu..?" Lilen merasa ia menelam sesuatu sebesar pil.


Stev dengan kasar memasukannya ke dalam mulut Lilen.


"Dengarkan aku.. Aku akan kembali lagi ke sini, ini hanya kunjungan awalku. Dan kamu mau tahu apa yang baru saja kamu telan... Itu adalah bom, bom itu bisa meledak kapan saja yang aku inginkan. Dan bom itu di rancang khusus, tidak akan tercerna di perutmu tapi ia akan menelpel di ususmu di dalamnya juga ada penyadap aku bisa tahu kalau kamu menceritakan apa yang kamu alami ini atau mungkin targetku sedang bersamamu dan bisa saja aku langsung aktifkannya tanpa persetujuan kamu.. Aku yang memegang kendalinya. Aku akan memerlukan bantuanmu nanti, jaga jaga saja.. Takutnya aku meledakan kamu dan semua yang ada di dekat kamu.." Stev meninggalkan Lilen yang mematung di tempat.

__ADS_1


Mulai dari situ Lilen mejauhi orango orang. Kadang ia juga merasa sakit di bagian perutnya seperti ada yang mencubit dari dalam. Rasa takut dengan apa yang di ucapkan Stev hari itu terngiang ngiang di ingatan Lilen.


"Jangan sampai ada yang dekat denganku.. Apa Lagi Cessa.. Gak boleh karna bisa saja bom ini meledak. Jika ada yang di dekatku maka akan ikut hancur denganku. Kalau yang ia inginkan adalah Cessa maka biarlah di dapatkan, dan aku yakin dengan cinta yang kak Karen punya ia dan Zino bisa menyelamatkan Cessa dari pada mendapat kenyataan Cessa hancur bersamaku. Ini mungkin jalan terbaiknya, aku dari dulu yakin dan selalu yakin dengan kak Karen dan kali ini aku juga yakin kalau kak Karen bisa hadapi laki laki itu. Yah.. Pasti bisa.." Lilen hanya bisa bicara dalam hatinya dan menyusun rencana sendiri demi melindungi semuanya.


Stev kembali lagi dalam waktu 2 minggu dari waktu kedatangannya kemarin. Selama itu juga Lilen harus menanggung rasa sakit di dalam tubuhnya.


"Baiklah.. Aku tadi dengar Zino dan Karen sedang berada di kamar Cessa sepertinya membicarakan dirimu yang patut mendapat tanggung jawab Zino. Aku yakin sebentar lagi ada yang akan datang ke kamarmu. Bantu aku, kamu kan seorang medis..." Stev melempar botol obat bius.


"Kamu tahu itu untuk apa.. Aku hanya ingin melihat apa kamu berani menghianati aku dan membunuh yang ada di dekatmu.. Jika kamu patuh maka aku akan mematiknnya dan tidak ada yang akan terluka di sini, tapi jika kamu tak patuh maka, siapkan peti yang banyak.." Stev pergi dari kamar Lilen dengan santainya seperti ini adalah rumahnya.


"Tidak tidak Boleh.." Lilen mondar mandir di kamarnya, ia sempat menuliskan surat agar seseorang hanya membacanya jadi ia tidak perlu berbicara dan di rekam alat penyadap itu.


Sayangnya saat Lilen keluar dari kamarmya ia sudah melihat Cessa ingin menghampirinya dan dari belakangnya sudah ada Stev yang berjalan mengandap endap.


Habislah Rencana Lilen yang sudah pasti gagal total.


"Lilen.. Kamu Aaahhkk.." Stev menutup mata Cessa dan Lilen langsung menyuntikan biusnya.


Flashback off


"Dan setelah itu aku mematikan semua bom yang ada di sekitar kita, bahkan ada bom yang di pasang di kamar Lorent dan istrinya.. Tepat di sepatu wanita itu... Tapi sekarang semuanya sudah mati dan tidak akan meledak.." Lilen menceritakan semuanya.


Lorent langsung mengambil sepatu Rindu yang juga sudah ada di tempat itu dan sedari tadi mendengarkan cerita Lilen. Dan benar saja, ada bom yang sangat kecil dan menelpel di sepatu Rindu. Tapi bom itu sudah mati dan tak berfungsi.


"Yang lainnya aku gak tahu.. Aku matikan saja dari Smartwach itu. Dan aku liat gak ada lagi.." Zino mengecek sepatunya karna khawatir melihat apa yang di alami Rindu dan ternyata memang ada juga di sepatu Zino.


Karen membelalak matanya dan memerikasa sepatunya juga. Karen meremukan bom yang ia dapatkan di alas sepatunya.


"Stev Paul....!!" Gumamnya dan barang itu remuk.


Lilen menangis bukan hanya sakit yang ia rasakan tapi rasa haru yang ia rasakan karna berhasil melindungi orang orang itu. Besar sekali pengorbanan yang Lilen berikan untuk melindungi mereka, setiap hari ia harus menahan rasa sakit di perutnya akibat bom itu demi melindungi Karen dan yang lainnya.


Karen melihat Lilen menangis tersedu sedu pun merasa bersalah karna suda main hakim dan bahkan menyakiti Lilen. Karen duduk bersama Lilen dan menarik Lilen dalam peluknya.


"Maafkan aku Lilen.. Maaf.." Tangis Lilen semakin pecah karna permintaan maaf Karen.


***


Byurrr...


Kolam renang bergelombang karna ada yang di buang ke dalamnya


Senyum puas di bibir seseorang menambah suasana mencekam di sana..

__ADS_1


Off guys... Likenya donk.. Seru nihh.. Lanjut...?


__ADS_2