
Cessa merasa pernah melihat sapu tangan seperti itu.
"Sapu tangan tulip?" Gumam Cessa ketika melihat sapu tangan yang di pegang Karen.
"Ya ini adalah sapu tangan Zina" Barulah Cessa mengingat dengan jelas, itua sama dengan sapu tangan Zino yang pernah Zino perlihatkan padanya saat di rumah Zino waktu itu.
"Ini... Jadi ini sapu tangan yang Zino cari cari.." ucap Cessa mengingat kisah kehidupan Zino.
"Iya.. Zina memberikannya padaku saat aku menangis untuk menghapus air mataku dan sampai sekarang sapu tangan ini bersamaku." Ucap Karen.
"Oohhh begitu, kata Zino dia sudah mencari kemana mana sapu tangan saudara kembarnya itu tapi dia gak ketemu" Kata Cessa lagi menimpali.
"Ya dan aku ingin kamu simpankan dulu sapu tangan ini, suatu saat nanti mungkin Zino memerlukannya, dan satu lagi." Karen mengeluarkan lagi satu sapu tangan.
Sapu tangan dengan gambar elang dengan bunga tulip di paruhnya yang di sulam juga dengan sangat rapi. Cessa sangat senang melihat gambar itu.
"Karen sapu tangan ini sangat bagus tapi kenapa bunga tulipnya berwarna hitam?" Cessa menanyakan keanehan di gambar sapu tangan itu.
"Lambang kelompok Zino itu bunga tulip hitam, dan lambang kelompokku elang. Jadi kalau di gabungkan beginilah rupanya.
"Oohh apa kamu akan menggabungkan kelompokmu dengan kelompok Zino?" Cessa mengambil sapu tangan itu dan terus memperhatikannya.
"Rencananya begitu kalau dia menerima aku sabagai kakaknya maka akan aku serahkan semua kepemilikkanku dan segalanya di dunia mafia untuknya, tapi jika ia tidak mau maka mau tak mau Lorentlah yang akan menjadi penggantiku. Tapi kata Lorent lagi ia juga akan berhenti jika aku berhenti, dan dia akan kembali menjadi pelatih anjing." Tutur Karen.
"Oohh Lorent pelatih anjing?"
__ADS_1
"Iya Lorent itu pelatih anjing profesional, tapi karna dia sibuk dengan berkerja denganku makanya di berhenti dulu dan adik perempuannya yang menggantikan dirinya sementara." Kisah sekilas tentang Lorent.
"Wow... Tak aku sangka semua mafia punya kepribadin ganda. Disisis lain baik di sisi lain cute." Cessa tertawa mengingat daftar daftar mafia yang ia ketahui, Zino dengan bakat memasaknya, Karen dengan bakat menyanyinya, ada lagi Lorent dengan menjadi pelatih anjing, itu sangatlah imut bukan?
"Apa kamu mengkhayal Lorent? Karen sangat sensitif sepertinya.
"Hahh?"
"Kamu ketawa ketawa gitu mikirin Lorent gitu.." Masih tak terima Karen dengan Cessa yang nampak senang sengan tahu profesi Lorent yang sebenarnya.
"Gaklah... Iihh apa sih.. Orang cuma ketawa aja gak boleh gitu, ya udah aku diam." Cessa tak mau lagi tertawa apa lagi menghadap Karen.
"Jangan gitu.. Aku cuma cemburu kamu mikirin Lorent dari pada aku." Karen menarik lagi tubuh Cessa masuk dalam tubuhnya. "Aku gak mau kamu mikir mikir pria lain." Karen mengelus punggung Cess dengan lembut. Cessa hanya berdecak dan tak peduli dengan ocehan Karen Cessa anggap hanyalah rayuan belaka.
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" Cessa sungguh bingung. kenapa setiap bersama para mafia ini Cessa tidak dapat mengerti apapun, mungkin pemikirannya yang tak sampai ke situ.
tersenyum pada Cessa, "Cessa, aku Karendan Zino itu musuh bebuyutan, kami sama sama kubu yang kuat, jika kami bertemu maka hal yang paling pertama ingin Zino lakukan adalah mengalahkan aku. Dan itu tidak dapat di hindari. Zino pasti berpikir kalau aku ini ingin melukaimu." Tutur Karen dengan kemungkinan yang akan terjadi jika ia dan Zino bertemu di Amerika nanti.
"Karen.. Apa kamu tidak langsung jelaskan saja pada Zino, aku yakin dengan barang barang yang kamu miliki ini Zino pasti percaya Karen.." Ucap Cessa lagi menengahi semua ini.
"Tidak semudah itu Cessa, Zino orangnya penuh kayakinan dengan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Yang selama ini ia tahu adalah ayahku pembunuh saudara kembarnya itu dan membuangnya di hutan seperti itu. Padahal sebenarnya, Ayahku ingin melakukan penghormatan terakhir pada Zina tapi di ganggu oleh kelompok lain dan membawa Zina yang baru di dandam serapi mungkin, dan saat menyadari Zina sudah tiada maka mereka membuangnya sembarang tempat. Tapi kenyataan di Zino bukan seperti itu, Ayahku dan akulah pembunuh Zina. Jadi dengan atau tanpa penculikkan kamu ini maka kami berdua akan tetap berkelahi. Jika kamu melihat aku dan Zino berkelahi atau pun bertarung, mana yang akan kamu pilih?" Karen sungguh ingin mendengarkan jawaban dari Cessa.
"Kalau bisa, aku akan ambil air lalu aku sirami kalian berdua dan setelah itu kalau aku bisa juga akan aku ikat kalian berdua, kusuruh kalian berdia berciuman." Cessa sungguh kesal dengan pernyataan Karen.
"Lalu.." Karen tertawa mendengar penuturan Cessa.
__ADS_1
"Aku cubit kalian berdua satu persatu sampai nangis. Setelah kalian berdua nangis aku yakin kalian akan berhenti untuk saling membenci." Tawa Karen semakin keras.
"Oke silahkan kalau begitu. Kalau aku sih gak keberatan. Tapi jika aku dan Zino menyatakan cinta kami berdua masing masing mana yang akan kamu pilih, cintaku atau cinta Zino?" Lagi lagi pertanyaan yang tidam ada Artinya untuk Cessa.
"Karen sudah aku bilang, akj dan Zino tidak ada apa apa, dia hanya sedang menolongku karna sebelumnya aku hamil..." Karen menutup mulut Cessa hanya dengan satu jarinya saja.
"Ya dan apa kamu mau hamil anakku juga?" Karen berubah sangat serius menanyakan pertanyaan ini.
"Kar.. Karen.. Kamu.."
"Aku serius yang ini. Tolong.. Pertanyaan yang lain tentang aku dan Zino mungkin kamu tidak harus menjawabnya tapi pertanyaan yang ini, aku mau kamu menjawabnya karna ini tentang aku dan kamu." Cessa seperti di kunci mulutnya rapat rapat dan tidak dapat berkata apa apa.
Tatapan Keren penuh dengan ketulusan tapi Cessa tidak dapat yakin dengan Karen karna ketakutannya, mungkin sajakan Karen hanya berbohong padanya dan hanya mempermainkannya mengingat lagi Karen memiliki banyak wanita di sisinya. Apalah Cessay yang hanya wanita biasa di banding wanita wanita Karen lainnya.
"Karen.. Kenapa kamu memilihku...?" Rupanya kali ini Cessa balik bertanya pada Karen.
"Karna hanya kamu yang bisa mengambil hatiku dalam sekejap. Mungkin kamu berpikir, aku banyak wanita yang di sampingku, bisa saja aku mencari yang cantik atau pun seperti apakah... Tapi aku bukanlah laki laki payah seperti itu, ini ada yang hamil itu karna aku terjebak saja, Mereka dengan sengaja tidak memakai kontrasepsi dan akhirnya mereka hamil dan meminta pertanggung jawabanku agar mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Aku juga tak sebodoh itu Cessa aku juga tau jalan pikiran mereka, makanya aku memilih untuk melakukan Tes DNA terlebih dahulu. Aku juga tidak menutup memungkinan kalau itu memang anakku. Aku juga berharap itu memang anakku. Aku tak masalah jika anakku di lahirkan wanita penghibur seperti itu, selama anakku sehat sehat saja, itu sudah cukup. Dan kamu jangan menyamakan dirimu sendiri dengan mereka, karna kamu itu lebih dari mereka. Kamu itu sangat istimewa untukku.. Jadi jangan harap satu kukumu itu bisa menyentuh wanita seperti mereka. Camkan itu.." Karen sangat serius dalam setiap ucapannya menggambarkan isi hatinya.
Cessa..
Haii.. Udah 2 partnya Karen ya.. Satu lagi partnya Karen dan setelah itu kita beralih pada Zino dan Lilen.. Ayo dukung yang mana.. Silahkan..
Mampir ke novel Author lainnya ya.. Judulnya Aku Yang Di Simpan dan
MENGUBAH TAKDIR : DENDAM 100 KILOGRAM
__ADS_1