Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 30


__ADS_3

Rindu dan juga Jake sudah berangkat dan kini Zino sedang mebereskan piring piring di atas meja dan membawanya untuk ia cuci, sedang Cessa hanya melihatnya dari jauh, Cessa masih takut untuk dekat dekat dengan Zino.


Senandung kecil Zino bunyikan sambil mencuci piring piring kotor. Cessa yang tak sengaja mendengar senandung Zino ikut terkejut, ada laki laki yang melakukan semua ini? Cessa berpikir keras sambil mendengar Zino yang terus bersenandung.


"Apa yang sebenarnya aku lakukan, dia tidak akan memakanku?! Dia juga manusia biasa tidak ada yang aneh, tapi mungkin aneh jika ia menyukai warna pink. Seharusnya aku tidak seperti ini, harusnya aku berterima kasih padanya, kalau bukan dia aku akan tetap berada di tempat terkutuk itu. Kalau bukan dia aku tidak dapat membiayai diriku di rumah sakit, dia juga membantu Rindu membayar utang Rindu. Seharusnya aku menerima pertemanannya. Bukannya menjauhinya karna takut seperti ini." Sepertinya usaha Zino untuk tampil biasa membuat hati Cessa tergerak.


"Baiklah Cessa ayo kita berteman dengannya." Cessa kemudian berjalan ke arah Zino yang sedang asik mencuci piring.


"Ada yang bisa aku bantu Zino?" Ucap partama kalinya Cessa tanpa ragu.


"Ehh kamu, aahh sudahlah tidak usah, kamu kan tamu disini. Aku akan melayani kamu dengan baik yang mulia... Hehehe..." Zino mencoba menggodai Cessa. Tangan dan tubuhnya membungkuk memberikan perhormatan bak ratu pada Cessa.


"Kau ini..." Cessa hanya tersenyum lepas.


Cessa pun mengambil piring yang sudah di sabuni Zini dan membilasnya dengan air mengalir. Mereka berdua kini bersebelahan, Zino yang menyabuni dan Cessa yang membilas.


Sungguh waktu yang ingin Zino hentikan, waktu saat saat ia bersama dengan Cessa seperti ini.


"Hei aku sudah bilang, kamu tidak perlu melakukannya kamu kan ratunya..." Ucap Zino lagi sambil terus melakukan pekerjaannya.


"Makanya itu aku kan ratunya, berarti aku bebas melakukan apa saja. Dan kamu kan pelayannya, maka kamu patut mengikuti apa yang aku katakan.. Benar tidak??" Goda balik Cessa membuat hati Zino benar benar senang kali ini dan semakin membuat Zino percaya diri untuk terus berbicara dengan Cessa layaknya teman akrab.


Kini keduanya sudah selesai dengan cuci piringnya, kini Zino dan Cessa sedang berada di dalam Lift menuju kamar masing masing.


Keduanya masih mengobrol santai.

__ADS_1


"Zi.. Boleh aku besok melihat lihat kebun di belakang itu?" Cessa menunjuk kebun buah buahan yang ia lihat dari ketinggian lift yang sekarang ia naiki, tak juah dari pengelihatan Cessa ia melihat Kebun buah yang sempat Zini tawarakan untuk melihat lihatnya ketika sudah panen.


" Oooohhh tentu saja boleh.. Tapi besok aku tidak bisa menemani kamu melihat lihat, karna aku ada pekerjaan di salah satu restoran baruku, sebenarnya aku ingin membawamu tapi jika kamu ingin melihat kebun juga aku tidak masalah." Kata Zino menceritakan pekarjaannya besok.


"Ooohhh seperti itu... Tapi kalau aku ikut aku akan melakukan apa Zi... "


"Ya kamu temani akulah... Memangnya kamu ingin melakukan apa? Menjadi kokinya gitu..?" Kata Zino lagi.


"Haaahh... Bukan kan besok kamu akan ke Restoran baru berarti baru di buka kan?!" Tanya Cessa tak paham.


"Iya.. Tapi bukan hanya itu, besok aku juga akan mencari koki dan para pelayan untuk di restoran itu. Jadi kamu ya temani aku donk untuk memilihnya. Besok itu para kokinya akan aku tantang memasak, kemudian kita cicipi makanannya, karna setiap Restoran baru yang aku buka pasti banyak yang ingin berkerja di restoranku itu. Oleh karna itu aku harus melakukan pengetesan seperti itu Sa.. Bagaimana maukan ikut denganku?" Zino masih mencoba mengajak Cessa untuk ikut dengannya.


"Eemm sepertinya menyenangkan.. Boleh juga ya... Oke deh aku ikut kamu Zi..." Keputusan akhir Cessa untuk ikut dengan Zino ke restoran barunya itu.


" Haha kan sama saja. Eehh sudah sampai kamarku.. Baiklah selamat malam Zino." Ucap Cess sebelum memutar knop pintu.


"Tunggu... " Ucap Zino tiba tiba.


"Apa?"


"Terima Kasih sudah mau menerima pertemananku. Aku sangat senang akan itu. Aku merasa aku mempunyai jalan hidup kini. Sekali lagi terima kasih Cessa." ucap Zino dengan sangat tulus di matanya.


Cessa yang melihat ketulusan yang Zino berikan membuat senyuman mengembang di bibirnya.


Cessa kembali berjalan ke arah Zino.

__ADS_1


Setelah sampai di depan Zini Cessa mengajak Zino untuk bersalaman.


"Mari kita mulai dari awal. Mulai dari sebuah pertemanan. Dan maaf beberapa hari ini aku terlalu jahat padamu, mungkin aku memakimu dengan tak sengaja karna terlalu emosi. Tapi aku baru saja sadar kalau itu tak seharusnya aku lakukan. Kalau bukan kamu maka aku tidak akan bisa keluar dari tempat Niky. Mungkin kini aku akan tetap di sana seperti orang bodoh. Aku yang harusnya berterimakasih." Senyum yang begitu tulus dan kata yang sangat berharga menurut Zini baru saja Cessa ucapkan padanya. Zino bangga akan hal itu.


"Sudahlah kita sama sama saling melengkapi dan itu harusnya kita lakukan bukan?? Aku senang aku sudah bisa berteman denganmu. Aku kira aku tidak akan mendapat teman sepertimu Cessa" Zino terharu dan menangis seperti anak kecil yang menutupi wajahnya dengan lengannya dan terus mengelap air matanya agar Cessa tak melihatnya.


"Zino.... " Hati Cessa Juga tersentuh melihat Zino menangis seperti itu.


"Aahhh kuatlah Zino bukan Saatnya menangis, kamu sudah mendapat teman sudah jangan menangis." Zino menepuk nepuk pipinya sendiri lalu tersenyum pada Cessa. Keduanya tertawa bersama melihat keadaan mereka sekarang.


"Baiklah Cessa sekarang hatiku benar benar tenang, aku merasa semua beban dalam pikiranku sudah hilang. Dan bukankah lebih baik kita tidur. Karna besok kita ada perjalan dan pekerjaan yang harus kita lakukan. Kamu harus banyak istirahat ya... " Ucap Zino penuh parhatian pada Cessa.


Keduanya berjalan ke arah pintu kamar masing masing dan Zino kemudian melambaikan tangannya pada Cessa.


"Kau ini kita hanya di pisahkan dinding aku tidak akan ke mana mana." Ucap Cessa melihat tingkah kekanak kanakan Zino.


Setelah Cessa masuk ke kamarnya barulah Zini masuk ke kamarnya dan langsung melompat lompat di atas kasurnya. Rasanya sungguh Zino ingin berteriak sekemcang kencangnya dan mengatakan dia sudah dekat dengan Cessa, tidak ada lagi dinding yang Cessa bangun untuk dirinya dan juga Zino.


TRING TRING..


Bunyi notifikasi di ponsel Zino berbunyi.


"Apa??? Tidak boleh besok tidak boleh begitu." ucap Zino setelah melihat pesan yang baru saja masuk di ponselnya.


Off.. kawan..

__ADS_1


__ADS_2