
Cessa manatap keduanya satu persatu.
"Apa bayi kita maksudmu?" Ucap Karen dengan apa yang ia pikirkan, Zino mendelik mendengarnya.
"Bukan Karen.. Maksud Cessa kita berdua ini bayi.. Kok gak paham Paham Sih.." Zino sewot dengan Karen yang bicara asal asalan saja.
"Betulkah yang di bilang Zino.. Atau yang aku bilang...?" Karen masih tidak yakin dan berharap penuh.
"Yang Zino katakan yang benar.... Kalian berdua seperti bayi yang harus aku urus, makanya Aku minta tolong Lilen dan Jake untuk membantuku mengurus kalian berdua..." Cessa menjelaskan maksud ucapannya.
"Ooohhh... Aku kira kamu..." Karen melirik perut Cessa.
"Iissshh" Cessa mencubit Lengan Karen dengan sekuatnya.
"Eeemm lalu hari ini kita akan melakukan apa? Aku tidak ingin berlama lama denganmu..." Ucap Zino tiba tiba.
Karen menatap Zino, benar juga yang di katakan Zino. Apa yang harus mereka lakukan hari ini. Belum ada kepastian untuk rencana selanjutnya.
"Itu aku juga sedang berpikir. Stev, pasti sudah menrencanakan ini semua dengan matang matang. Itu yang masih aki dan Lorent pikirkan." Karen berubah menjadi serius tiba tiba.
"Hemmmm... Benar.." Sambung Zino juga.
"Tapi kamu tenang saja, nikmati saja dan anggaplah kamu tamu di rumah ini..." Ucap Karen dengan senyum yang begitu lebar.
"Ciihh... Kamu pikir aku gak ada gunanya gitu... Terus cuma jadi penonton aja.. Sorry ya.. Zino bukan begitu orangnya." Ucap Zino dengan bangga diri.
"Eeeelleeehh... Emangnya kamu mau bantuin aku gitu...?" Pancing Karen.
" Tentu saja, aku juga bukan hanya membantumu tapi juga menjaga Cessaku.." Ucap Zino lagi mengedipkan matanya pada Cessa di sampingnya.
"Iisss Cessaku jangan kamu bawa bawa..." Ucap Karen juga tak terima.
"Aku sudah selesai makan..." Cessa bangkit dan tak lama kemudian Jake pun bangkit dan Lilen pun bangkit meninggalkan Karen dan Zino di meja makan.
Ketiganya sudah selesai sarapannya karna sedari tadi Karen dan Zino hanya terus berdebat dan lupa tujuan mereka berada di meja makan.
__ADS_1
"Ehhh lupa lagi makan toohh tadi ya...?" Ucap Zino dan mulai menyuapi sendok dalam mulutnya.
"Iya... Lupa aku..." Karen juga kini melanjutkan makannya tanpa ada gangguan perkeliahian di antara keduanya.
Tapi kadang, Zino mencuri pandang pada Karen dan sebaliknyaj juga Karen juga mencuri pandang Zino. Ada rasa yang aneh ketika duanya menikmati sarapan bersama. Walaupun tak ada penghangat ruangan atau pun yang lainnya, Zino maupun Karen merasa hangat ketika sedang makan bersama seperti ini.
Cessa kembali ke kamarnya dan memilih untuk membersihkan tubuhnya. Cessa masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya.
Air mengaliri tubuhnya dan merupakan kenikmatan tersendiri untuk Cessa.
Setelah selesai dengan aktivitanya di kamar mandi kini Cessa sedang memilih baju yang cocok untuk ia kenakan hari ini. Tanpa Cessa sadari sudah ada yang menunggunya.
Karen melipat tanganya dan bersandar di dinding pintu kamar mandi sehingga saat Cessa membuka pintu kamar mandi ia tidak melihat Karen.
Senyum nakal Karen pastinya timbul melihat wanita cantiknya itu baru selesai mandi dan tampak sangat segar di matanya.
"Mana ya... yang bagusnya ini apa ini...?" Gumam Cessa seorang diri di depan lemarinya.
Di tangan Cessa sekarang ada dua pasang baju yang Cessa sedang pikir pikir untuk pilih yang mana. Satunya berwarna pink dan satunya lagi berwanra jingga. Kedua baju itu atasannya baju berkerah biasa, dan bawahannya rok spam selutut.
"Ka.. Karen.. Kamu? Kapan kamu masuk kok aku gk liat kamu tadi.?" tentu Saja Karen kan bersembunyi mana bisa Cessa melihatnya.
"Ya aku sedari tadi di sini kok kamu aja yang gak liat aku..." Ucap Karen santai dan mengambil baju baju yang di pegang Cessa.
"Eeemm ini yang cantik cocok ci kulit kamu.."Ucap Karen dan meberikan lagi baju untuk Cessa. Baju yang berwarna Pink muda yang Karen pilihkan.
"Ini?" Tanya ulang Cessa tak yakin.
"Iya... Itu yang cocok.. Kamu jadi kelihatan makin cantik dan makin cerah dengan itu" Ungkap Karen dan mencolek dagu Cessa.
Cessa terpikirkan sesuatu. "Karen..." Panggil Cessa Sedikit berbeda dengab biasanya memanggil Karen panggilan kali ini lebih lembut dan menginginkan sesuatu.
"Apa sayang..." Karen juga melembutkan panggilannya pada Cessa mendengar baru kali ini Cessa memanggilnya seperti itu.
"Aku mau sesuatu boleh...???" Cessa ******* ***** baju ybg tadi Karen berikan padanya.
__ADS_1
Melihat tingkah Cessa Otak Karen sudah travelling ke mana mana, Mungkinkah Cessa menginginkan sesuatu dari Karen. Itu yang kini membayangi Karen.
"Karen aku mau..." Cessa ragu ragu membicarakannya pada Karen semakin membuat Karen gemas.
"Iya sayang akan aku berikan semuanya padamu.. Ayo katakan..." Desak Karen juga tak sabar.
"Janji ya.. Kasih..?" Pinta Cessa.
"Iya janji.. Aku kasih semuanya.. Ayo bilang mau apa?" Ucap Karen dengan yakinnya.
"Aku mau... Ketemu Rindu..." Ucap Cessa akhirnya dengan harapan Karen mau membantunya.
"Oohhh...." Seketika Karen lemah dari bicaranya dan juga tubuhnya. Ternyata lain dari yang ia pikirkan.
"Kenapa... Gak boleh kah...?" Cessa juga memasang wajah Sedihnya.
"Karen... Rindu itu lagi hamil anak Lorent. Aku yakin Rindu pasti lagi butuh seorang teman untuk berbagi. Aku dulu juga gitu kok.. Rindu selalu ada untuk aku dia semangati aku, aku mohon Karen bantu aku bilang sama Lorent aku yakin Lorent gak bolehin aku ketemu sama Rindu padahal aku maupun Rindu pasti lagi butuh satu sama lain.." Ucap Cessa panjang lebar demi meyakinkan Karen.
"Oohh jadi wanita itu hamil ya...?" Tanya karen tampak biasa saja.
"Iya... Aku mau temani dia Karen.. Dan biar aku juga nyaman di sini... Kan kalau aku ada teman, aku gak bosan..." Ucap Cessa lagi.
"Ya kan ada aku... Kurang apa sih aku..?" Sepertinya Karen malah sedih.
"Iihhh kamu juga teman aku... Tapi Rindu juga lebih membutuhkan aku, dari pada kamu sibuk sama aku mending kamu sama Zino aja sana, biar hubungan kalian lebih baik. Aku lihat kalian dua itu kurang menghabiskan waktu bersama, kalau kalian sering bersama sama kalian pasti aku. Oohh ya.. Adikmu itu bagaimana...? Dia baik baik saja kan...?" Cessa baru mengingat Lilen yang juga berada di rumah ini.
"Dia aku lihat baik baik saja hanya mungkij sedikit Syok dengan yang terjadi dan bingung tentang hubunganku dengan Zino. Haaahhh... Ya sudah kalau kamu mau ketemu Rindu, nanti aku bantuin tapi malam ini aku tidur sama kamu oke... Gak ada bantahan, titik." Ucap Karen dan langsung keluar dari kamar itu.
"Lorent..." Panggil Karen pada Lorent.
Cessa mendengarkannya dengan jelas dan pasti Karen meminta pada Lorent untuk memertemukannya dengan Rindu. Cessa pun semangat tanpa memikirkan permintaan maaf Karen barusan.
Off dulu..
Like Favoritkan, komen apa pun yang ingin kalian sampaikan... Rate bintangnya juga ya.. Vote novelnya dan selalu beri dukungan.. Terima kasih.
__ADS_1